
"oh my god Le, gede banget oi" Vino berucap dengan mulut ternganga sambil geleng-geleng kepala
El dan Bara saling tatap kemudian melihat ke bawah pusar mereka.
"ekhem....apakah kalian butuh bantuan untuk memeriksanya...?" Adam yang jauh dari mereka tiba-tiba saja sudah berada di depan keduanya. hantu itu menaik turunkan alisnya
"nggak ya, enak aja" El dan Bara menggeleng dan memegang bagian sensitif mereka
"elu ngapain lepasin celana gue kampret" Leo terlihat kesal dan ia tetap melilit tubuhnya dengan selimut
"ya maaf, gue khilaf. lagian kan gue nggak sengaja" Vino membela diri. ia berdiri dengan tubuh yang sudah basah
"hihihihihihi.... aku mau lihat lagi si joni dong" Adam cekikikan
"enak aja, gue tusuk mata lu ya. ini itu hanya bisa dilihat oleh pendamping gue nanti" Leo mencebik
bukannya mendengar, Adam malah mendekat dan menarik selimut yang menutupi tubuh bagian bawah Leo. hantu itu memang sangat nakal.
"oi dam, lepasin nggak. gue tendang lu ya nanti" Leo tetap mempertahankan selimutnya
"aku mau lihat si joni, mau kenalan" Adam tetap menarik selimut Leo
Leo bangkit dan memegang selimutnya. keduanya berputar-putar di ruangan itu. Leo yang terus menghindar dan Adam yang jahil dan terus mengejarnya.
karena terus dikejar oleh Adam, Leo masuk ke dalam kamar mandi untuk menyelamatkan diri.
huuufftt... hampir aja jon elu diliat" Leo mengelus dadanya
"yah Leo mah nggak asik" Adam melayang dan duduk di meja belajar
"elu juga kak kayak nggak punya aja sampai mau liat punya orang" El-Syakir melangkah mengambil selimut yang basah dan memasukkannya ke dalam ember
"kalau Leo nggak mau, liat si joni kamu aja boleh...?" Adam mengedip-ngedipkan matanya
"hiiiiiiii..... ogah"
mereka semua membersihkan diri kemudian melaksanakan sholat subuh. setelah itu mereka bersiap dengan pakaian seragam masing-masing.
Adam yang juga tidak mau kalah style, sekarang memakai seragam sama seperti mereka. ia memakai baju Vino karena Vino mempunyai dua seragam sekolah.
"gantengnya diriku.... gantengnya diriku... tak jenuh jenuh aku dipandangi" Adam bernyanyi di depan cermin sambil bergoyang dan menyisir rambutnya
"wah aku seperti kembarannya Song Joongki" Adam terus menyisir rambutnya. entah sudah berapa gaya rambut yang ia ubah
"mata lu rabun ya, perlu kaca mata mines nggak...?" Leo mengejek
"nggak butuh, mata aku masih normal ya" jawab Adam ketus
mereka semua turun ke bawah dan menuju meja makan. Starla dan Nisda tersenyum-senyum saat melihat Leo. keduanya menahan tawa saat melihat sahabat mereka itu.
"kalian ngapain sih senyam senyum kayak gitu" Bara menatap mereka heran
"nggak kenapa-kenapa" jawab keduanya
"pasti lagi mikirin si joni ya, ngaku nggak kalian" kepala Adam sudah berada diantara keduanya
"si joni...?" keduanya mengernyitkan kening
"joni siapa Starla, Nisda...?" mama Nifa bertanya
ingin sekali rasanya Leo menenggelamkan dirinya di dasar laut. andai dirinya mempunyai ilmu menghilang, sudah sejak tadi dirinya akan menghilang dari tempat itu.
"mah, mau itu dong" Vino meminta sesuatu. ia sengaja agar mama Nifa lupa dengan pertanyaannya
"hihihihihihi...." Adam cekikikan. dirinya memang sangat nakal dan jahil
setelah sarapan, mereka berpamitan kepada kedua orang tua Vino dan kakaknya untuk ke sekolah.
"El, siapa yang akan antar Alana ke sekolah...?" tanya Starla
"dia akan sama-sama dengan ayah nanti. ayah akan mengantarnya terlebih dahulu sebelum ke Kantor" jawab El
mereka segera berangkat. kendaraan roda dua mereka membelah jalan raya yang sudah ramai di padati oleh kendaraan lain. Adam bonceng di motor El-Syakir karena tidak ada adik mereka yang bonceng di motor El-Syakir.
Adam yang tadinya terus bersiul tiba-tiba tubuhnya menegang. matanya melihat ke sekelilingnya di mana hanya ada orang-orang yang berlalu lalang dengan kendaraan mereka.
ngiiiiiiiiiiing.....
telinganya berdengung pertanda ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi. semua teman-temannya termasuk El-Syakir, mereka masih fokus dengan jalanan yang sudah semakin ramai.
__ADS_1
ngiiiiiiiiiiing.....
"awas Leo...." Adam berteriak memanggil nama Leo yang yang berada jauh di depan mereka
El-Syakir terlonjak kaget karena teriakan Adam. mereka hampir jatuh karena keseimbangan mulai goyah. dengan cepat El merem mendadak motornya.
sementara Adam langsung menghilang dan tiba di motor Leo. ia segera menarik Leo dimana dirinya hampir saja di tabrak oleh sebuah mobil truk yang melaju kencang ke arahnya.
ciiiiit
braaaaaak....
tabrakan keras tidak bisa dihindari. mobil truk itu menghantam motor Leo dan menyeretnya sejauh satu meter dan bahkan mobil itu menabrak salah satu apotik di tempat itu. motor Leo hancur lebur begitu juga dengan bagian depan mobil truk. apotik yang ditabrak jelas mengalami kerusakan yang sangat parah. untung saja Leo telah diselamatkan oleh Adam, jika tidak sudah pasti dirinya akan ikut tertabrak oleh mobil besar itu.
akibat kecelakaan itu, semua orang memberhentikan kendaraan mereka untuk melihat kecelakaan itu. tim samudera memakirkan motor mereka di tepi jalan dan mendekati Leo yang masih berada di pelukan Adam. keduanya terbaring di pinggir jalan.
"Leo" Vino berlari cepat ke arah Leo dan Adam
keduanya bangun dari posisi mereka. Leo begitu shock dan bahkan sekarang dirinya seperti seseorang yang hilang akal. ia hanya diam tanpa bicara.
"Le, elu nggak apa-apa kan, elu nggak terluka kan...?" Vino memeluk sahabatnya itu
"Le, elu baik-baik saja kan...?" El-Syakir ikut memeluk Leo yang masih mengatur nafasnya karena kaget
"ya Allah, syukurlah Adam menyelamatkan Leo. kalau nggak gue benar-benar nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi" Nisda sudah mulai berkaca-kaca. ia memeluk sepupunya itu, jantungnya hampir melompat dari tempatnya saat mobil itu menabrak motor Leo. ia pikir Leo ditabrak oleh mobil besar itu
"nih, berikan kepada Leo untuk minum dulu" Bara memberikan air mineral yang ia beli di kios samping jalan
"minum Le" Nisda membantu Leo untuk minum. remaja itu meneguk air minum untuk menenangkannya
"kalian nggak apa-apa dek...?" beberapa orang datang menghampiri mereka
"teman kami shock pak" El menjawab
"kalau begitu bawa ke tempat saya dulu. kita tenangkan dia di sana" seorang pria berbaju putih memberikan usul
"baik pak, terimakasih" jawab Vino
Leo dipapah untuk berjalan ke sebuah toko pakaian yang tidak jauh dari tempat mereka. Adam mengikuti mereka namun langkahnya terhenti dan ia melihat sekelilingnya, sorot matanya tajam dan tangannya terkepal.
(beraninya...) batin Adam geram dengan gigi yang ia gertakkan
akibat kecelakaan itu jalanan mulai macet karena beberapa kendaraan yang terparkir di tengah jalan untuk melihat kejadian naas itu. sirine mobil ambulan mulai terdengar, sudah pasti mobil rumah sakit itu datang menjemput yang menjadi korban kecelakaan. polisi pun sudah berada di tempat beberapa menit yang lalu.
Leo duduk di kursi yang di sediakan pemilik rumah. El dan Vino tidak sedikitpun jauh dari sahabat mereka itu.
"Le, elu dengar gue nggak...?" El bertanya sambil memegang tangan Leo
"g-gue takut" pertama kalinya Leo bicara semenjak tadi ia membisu
"udah elu tenang ya, elu aman sekarang" Vino mengusap punggung sahabatnya itu
"untung Allah masih melindungi adik, kalau nggak.... naudzubillah" bapak tadi dan beberapa orang duduk bersama mereka
"tapi tadi itu saya melihat dia ini terbang loh" salah satu pria yang memakai baju kemeja biru berucap dan menunjuk Leo
"ada-ada saja kamu ini. emangnya dia punya sayap sampai terbang segala" salah satunya menimpali
"benaran saya nggak bohong, aku melihat betul dia ini terbang dan mendarat kasar di tanah" ucapnya begitu yakin
tentu saja dirinya melihat Leo terbang karena Adam yang menarik temannya itu dan mereka mendarat dengan kasar di tanah sebab Adam tidak bisa menjaga keseimbangannya.
"sepertinya mas salah lihat. mana mungkin teman saya bisa terbang pak, dia bukan batman yang punya sayap di belakang bajunya" Bara melakukan penolakan kepercayaan
(masa iya sih saya salah lihat. jelas-jelas dia terbang kok, saya benar-benar melihatnya) batinnya menggaruk kepala
Furqon dan Ardi mencari tempat teraman untuk memikirkan mobil mereka kemudian keduanya menghampiri El dan yang lainnya.
"kamu tidak apa-apa...?" Ardi duduk di samping Leo. El dan Vino bergeser memberikan ruang
"Leo mengangguk pelan, perasaannya mulai tenang sekarang"
dua orang polisi menghampiri mereka, jelas saja keduanya ingin meminta keterangan dari Leo yang hampir saja menjadi korban tabrakan.
"perkenalkan, saya Syarif dan ini rekan saya Umar. boleh kami bertanya sedikit tentang kejadian tadi dik Leo Sebastian...?" pak Syarif berucap sambil melihat papan nama Leo yang tertera di baju sekolahnya
"boleh pak" jawab Leo mengangguk
dua orang polisi itu mulai menanyakan kejadian tadi dari sudut pandang Leo. Leo menjelaskan bahwa dirinya juga tidak tau kalau dari arah depan itu ada mobil truk yang melaju cepat. dirinya hanya fokus pada jalan raya yang ada di depannya.
__ADS_1
"lalu bagaimana kamu bisa menyelamatkan diri...?" tanya Umar
"dia terbang pak" seorang pria yang melihat Leo waktu itu menjawab
"terbang....?" Syarif dan Umar mengernyitkan kening. jawaban macam itu pikiran mereka
"saya melompat pak" Leo memberikan jawabannya. jelas mungkin dia tidak akan bilang kalau Adam menyelamatkannya. mereka pasti akan menanyakan siapa Adam
"mulutmu" seorang pria yang lain menyikut lengan pria yang mengatakan bahwa Leo terbang saat menyelamatkan diri
banyak pertanyaan yang diberikan oleh Leo dan Leo menjawab dengan apa yang dialaminya. setelah itu kedua polisi Syarif dan Umar langsung pamit untuk pergi.
beberapa polisi yang lain menyiapkan kantung mayat. seseorang yang pastinya sudah tidak bernyawa, jasadnya di masukkan ke dalam kantung mayat sedang dua orang di naikkan di atas tandu dan di masukkan ke dalam ambulan.
mobil polisi dan ambulan saling beriringan meninggalkan tempat itu. apotik yang ditabrak oleh mobil truk di pasangkan garis polisi agar tidak seorang pun yang bisa masuk ke dalamnya.
"kita harus ke sekolah sekarang, waktu kita tinggal beberapa menit lagi" Bara melihat jam tangannya
"sepertinya adik ini tidak bisa ke sekolah. dia harus pulang untuk menenangkan diri rumah. kejadian tadi pasti membuat mentalnya terusik" pemilik rumah menunjuk ke arah Leo
"benar, Leo lebih baik pulang saja. biar kami yang mengantarnya, kalian bisa berangkat sekarang" Furqon setuju dengan pendapat bapak tadi
"nggak apa-apa kan Le, nanti besok saja baru elu masuk sekolah. hari ini elu pulang aja. nanti gue sampaikan kepada ibu Rina kalau elu sakit" El meminta persetujuan sahabatnya itu
"iya" jawab Leo mengangguk
selain Leo, tim samudera bergegas ke sekolah sementara Leo, ia akan diantar pulang oleh kedua pengawal El-Syakir.
(kak Dirga kemana ya) batin El, yang tidak melihat keberadaan Adam setelah kecelakaan tadi
"ayo El, nanti kita telat" Vino menepuk bahu El-Syakir sebelum ke motornya
jalan yang tadinya macet mulai kini berangsur normal. tim samudera meninggalkan tempat kecelakaan itu menuju sekolah mereka, sementara Leo ikut bersama Ardi dan Furqon.
di dalam mobil Leo hanya termenung, dirinya terus teringat dengan kejadian tadi. kalau tidak ada Adam, mungkin ia akan menjadi salah satu korban yang tewas atau yang dilarikan di rumah sakit.
(eh Adam mana ya) Leo teringat dengan teman hantunya itu
"kenapa Leo...?" tanya Furqon yang sedang menyetir
"nggak kak. aku hanya mencari Adam. setelah menyelamatkan ku tadi, dia tidak kelihatan lagi" Leo menjawab
"mungkin dia sedang mengurus sesuatu atau dia ikut bersama teman-teman mu yang lain" Furqon berpendapat
"mungkin juga" Leo mengangguk setuju
"kamu tidak terluka kan...?" kali ini Ardi bertanya
"nggak kak, aku hanya kaget saja tadi" jawab Leo
di tempat lain, Adam yang hendak ingin pergi, ia melihat seseorang yang sedang berdiri memandangi darah yang tergenang di lantai apotik yang ditabrak oleh mobil truk tadi. sudah tidak ada orang di tempat itu, hanya sebagian saja yang masih berdiri di depan apotik. sepertinya para wartawan yang sedang meliput untuk dijadikan berita terkini.
"hiks.... hiks" wanita itu menangis terduduk, Adam mendekat ke arahnya
"kenapa menangis...?" tanya Adam saat dirinya sudah berada di dekat wanita itu
wanita itu kaget dan langsung berdiri, ia menghapus air matanya dengan kasar dan melihat Adam.
"k-kamu bisa melihatku...?" tanya si wanita dengan suara bergetar
"iya" jawab Adam
"syukurlah ada yang bisa melihatku. sejak tadi aku terus meminta pertolongan kepada mereka, tapi mereka sama sekali tidak menghiraukan aku bahkan mendengarku saja tidak" wanita itu tersenyum lega saat Adam dapat melihat dirinya
"siapa namamu...?" tanya Adam
"Melani... aku bekerja di apotik ini. aku korban kecelakaan tadi" wanita yang bernama Melani itu menjawab
(untung namanya bukan Melati, kalau Melati sudah ku gigit dia. haduuuuh otak aku ini kenapa eror begini sih kalau soal melati. aish... aku jadi lapar kan) Adam mengusap perutnya
dasar si Adam, asal dengar melati otaknya langsung eror.
"tolong aku, tolong bawa aku ke rumah sakit. lihatlah aku berdarah, kepalaku berdarah. aku takut diriku kenapa-kenapa. tolong bawa aku ke rumah sakit" Melani mendekat ke arah Adam. wajahnya pucat tanpa aliran darah
"Melani, ada satu hal yang harus aku beritahu padamu" Adam menatap Melani dengan serius
"maksud kamu, satu hal apa...?" Melani penasaran
"sebenarnya.... kamu..... sudah mati"
__ADS_1
deg.....
"m-mati...?"