Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 114


__ADS_3

byuuuuuuuuur


"bangun" Randi mengguyur tubuh Aris. pria yang sedang tertidur pulas itu kaget dan membuka matanya


Aris sudah dibuat babak belur, keadaannya sekarang sungguh sangat mengenaskan. darah di bagian wajahnya mulai mengering dan bahkan tubuhnya penuh dengan bekas cambukan.


"masih tidak ingin bicara...?" Zidan mengangkat wajah Aris yang sedang tertunduk. mata dan bibirnya mulai bengkak karena bogem mentah dari para pengawal


"hahahaha" Aris tertawa


"meski aku mengatakan dan bicara jujur, kalian tidak akan semudah itu untuk menangkapnya" Aris tersenyum mengejek


"mau membunuh aku seperti mas Rudi...? silahkan, aku lebih baik mati daripada mengatakan dimana keberadaan ayah Baharuddin"


bughh


satu pukulan Zidan daratkan di perut Aris membuat pria itu terbatuk-batuk dan meringis menahan sakit namun meskipun begitu pria itu masih bisa tertawa lepas.


"kalian tidak akan pernah bisa menangkapnya. bahkan saat dia berada di depan mata, kalian tidak akan bisa untuk melihatnya. bersiap saja untuk menerima setiap teror yang akan dia kirimkan" Aris tersenyum menyeringai


"ayah Baharuddin bukanlah tandingan kalian" lanjut Aris


"dia manusia dan kami juga manusia, tidak mungkin kami tidak mengalahkannya jika kami bertemu dengannya" Pram menimpali ucapan Aris


"mungkin kalau kamu sudah merasakan suntikan ku ini, kamu akan bicara" Zidan memperlihatkan jarum suntik yang ia pegang


"kamu tau apa ini...? Zidan mendekati Aris yang mulai was was


"setelah cairan ini masuk ke dalam tubuh mu, perlahan-lahan kamu akan cacat seumur hidup. pertama, kamu akan merasakan tanganmu kebas. kedua, kamu akan sesak nafas dan sulit untuk menghirup udara. ketiga, suaramu perlahan akan menghilang. keempat, kakimu tidak akan bisa lagi kamu gerakkan begitu juga dengan anggota tubuh mu yang lain dan kelima......" Zidan mendekat ke telinga Aris


"kamu akan menjadi pria cacat yang menyedihkan" Zidan berbisik di telinga pria itu


deg..........


Aris mulai menelan salivanya dengan kasar. membayangkan dirinya menjadi lumpuh itu sudah sangat menakutkan baginya apalagi jika dirinya benar-benar lumpuh.


"kenapa...? takut....?" Zidan mundur satu langkah untuk melihat raut wajah khawatir dari Aris


"eksekusi saja Zidan, tanpa dia kita masih bisa menemukan Baharuddin sialan itu" ucap Randi


"selamat menjalani kehidupan yang baru" Zidan mendekati Aris bersiap untuk menyuntik pria itu


Aris memberontak bahkan dia berusaha menyerang Zidan namun sayang tangannya di rantai sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa. Zidan menancapkan suntikannya di paha Aris.


"aaaaggghhh" Aris berteriak kesakitan


"aku akan memberikanmu kesempatan. jika kamu berubah pikiran maka aku akan menyuntikkan penawar racunnya tapi jika tidak.......... yaa selamat menikmati masa lumpuhmu"


seperti yang dikatakan Zidan, hanya beberapa menit saja Aris sudah merasakan efek dari racun tersebut. tangannya mulai kebas, dari tangan kanan kemudian tangan kiri. setelahnya Aris mulai sesak nafas, bahkan dirinya seperti seseorang yang menghadapi sakaratul maut, ia tidak bisa menghirup udara. dia ingin berbicara namun suaranya sudah tidak keluar, suaranya telah hilang dan seketika tubuhnya lemas"


"bagaimana, mau terima tawaran ku...?" tanya Zidan


Aris mengangguk cepat, dadanya sudah sangat sakit bahkan tenggorokannya pun terasa perih. ia sama sekali sudah tidak bisa bergerak. kedua rantai di tangannya telah dilepaskan dan sekarang dirinya terbaring tidak berdaya di lantai.


"bagus, pilihan yang bagus" Zidan tersenyum puas


Randi memberikan penawar racunnya kepada Zidan. pria itu kembali menyuntik Aris agar tubuhnya menetralisir racun dan Aris akan kembali pulih dalam jangka waktu beberapa jam lagi.


"cih, tadi sok-sok an nggak mau bicara sekarang sudah mau skarat baru ingin bicara" Pram mencibir


setelah menyuntik Aris dengan penawar racun, ketiganya meninggalkan tempat itu dan akan datang lagi setelah tubuh Aris sudah pulih kembali.


"bagaimana, apa dia mau bicara...?" ayah Adnan bertanya setelah melihat ketiga pria itu baru saja datang dari ruang bawah tanah


"kita tunggu beberapa jam lagi, aku pastikan dia akan bicara" Zidan menjawab


"semoga saja. Oh ya Randi, temani saya ke kantor" ucap ayah Adnan


"baik pak" Randi menjawab patuh


"bukannya mas sudah pulang tadi, kenapa harus pergi lagi...?" tanya Zidan


"Sisil menghubungi ku, ada berkas yang harus saya tanda tangani"


"memangnya tidak bisa besok...?"


"tidak bisa, berkas itu harus dipakai sekarang. kalau begitu saya pergi dulu" ayah Adnan meninggalkan mereka dan Randi mengikutinya


sementara Zidan, dirinya harus mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang ia kerjakan di rumah dan Pram selalu membantunya apapun yang ia butuhkan.


"Pram, tolong hubungi Mita. beritahu dia untuk mengirimkan hasil rapat kemarin di email ku" Zidan melangkah ke ruang kerjanya


"sekarang...?" Pram mengikuti langkah Zidan


"bukan, setelah lebaran. ya sekaranglah Pramudya Anggara" Zidan mendelik ke arah sahabatnya itu


"hehehehe... ok" Pram cengengesan


mereka telah tiba di ruang kerja milik Zidan. Pram mencari nomor kontak Mita dan menghubunginya.


📞Mita


halo sayang


📞Pram


kamu sedang ngapain...? bukan memberitahu perihal ucapan Zidan, Pram malah menanyakan kegiatan kekasihnya


📞Mita


biasalah kerja, apalagi. kamu dimana...?


📞Pram


di hatimu


📞Mita


kalau itu kamu tidak perlu tanyakan lagi. kamu tetap di hati sayang


📞Pram


sebentar sibuk nggak, pulang kerja kita jalan yuk


📞Mita


boleh. udah lama kan kita nggak kencan lagi. nanti jemput aku ya


📞Pram

__ADS_1


oke sayang. selamat bekerja, see you


📞Mita


see you to


klik.....


Pram mematikan pangggilannya. saat berbalik dirinya terlonjak kaget karena Zidan sudah berada di belakangnya dengan tatapan mendelik.


"ya ampun, kaget aku" Pram kaget dan mengelus dadanya


"sudah beritahu Mita...?" tanya Zidan


"tentang apa...?" Pram yang lupa bertanya kembali dengan wajah yang polos


"aaaaaa.... sakit sakit sakit" Pram meringis karena Zidan menarik telinganya


"belum tua sudah pikun saja kamu ini. hubungi kembali Mita atau aku potong gajimu"


"iya iya iya, tapi lepasin dulu telingaku"


Zidan melepas telinga Pram dan ia melangkah duduk di kursinya.


"sungguh kejam dirimu" cebik Pram memegang telinganya


"mau lagi...?" ancam Zidan


"nggak" Pram menggeleng cepat dan ia mengirim pesan kepada Mita sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Zidan


karena kejadian kerasukan Naya dan hampir memakan korban, semua siswa-siswi SMA xxx akhirnya dipulangkan lebih awal dari biasanya. El-Syakir yang masih lemah akan dibonceng oleh Vino sedang Starla dan Nisda membawa motor El-Syakir.


Alana akan ikut bersama Furqon dan Ardi untuk mengantar gadis itu pulang. meski awalnya Alana menolak namun karena El memberikan pengertian akhirnya adiknya itu mengikut juga.


"jangan katakan pada ayah dan ibu tentang kejadian yang kakak alami ya" ucap El sebelum Alana masuk ke dalam mobil


"setelah dari rumah kak Leo, kakak harus pulang ya" Alana berucap


"iya dek. masuk gih, ingat jangan cerita kepada ayah dan ibu"


"iya" Alana mengangguk


Alana memeluk El-Syakir sebentar kemudian gadis itu masuk ke dalam mobil.


"kami akan menyusul tuan muda setelah mengantar nona Alana" Ardi berucap


"iya kak, Hati-hati" jawab El


mobil kedua pengawal itu meninggalkan pekarangan sekolah.


"kak El" Seil datang menghampiri El-Syakir


"ada apa Seil...?" tanya El


"Alana tadi diantar sama siapa...?"


"emmm itu..... mereka jemputan Alana"


"jemputan...?" Seil mengangkat alisnya. jemputan tapi pakaian mereka memakai jas seperti seorang bos itu yang ada dipikirannya


"iya. kamu belum pulang...?" El mengalihkan pembicaraan


"ini mau pulang. kalau gitu gue duluan ya kak" Seil tersenyum dan meninggalkan El-Syakir karena seorang laki-laki tengah menunggunya di luar pagar sekolah


"kak Dirga belum datang"


"aku di sini" Adam tiba-tiba muncul


"jadi sekarang kita kemana...?" Nisda memandang wajah teman-temannya


"kita jemput Bayu, adik Melani" Adam menjawab


"alamatnya dimana...?" tanya El


"jalan salangga nomor 7" jawab Adam


"baiklah, kita berangkat sekarang" Vino memakai helmnya


Adam bonceng di motor Bara. mereka meninggalkan halaman sekolah dan membelah jalan raya. hari itu terik matahari tidak nampak dipermukaan karena awan hitam mulai terlihat jelas. mereka percepat laju motor masing-masing agar cepat sampai di tujuan mereka.


tepat di jalan salangga mereka mencari rumah nomor 7 dan berhasil menemukan alamat tersebut.


"sepi banget, ada orangnya nggak sih" El dan Vino turun dari motor begitu juga yang lain


tok... tok... tok


"assalamu'alaikum" Starla mengetuk pintu rumah itu


"assalamu'alaikum"


"dia sedang tidur" Adam yang baru saja memeriksa dari dalam memberitahu mereka


"terus kita harus nunggu dia sampai bangun gitu...?" Vino duduk di kursi yang ada di teras rumah


"yaaa mau bagaimana lagi" Adam mengangkat bahu


"huuuffft... ini sih menguji kesabaran" Vino bersandar di kursinya dan menghela nafas


tidak ada pilihan lain selain menunggu pemilik rumah bangun dari tidurnya karena mereka juga tidak bisa untuk meninggalkan rumah tersebut tanpa membawa Bayu.


dari jauh seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka, wajahnya menunjukkan rasa tidak bersahabat.


"sedang apa kalian di sini...?" tanyanya dengan nada tidak ramah


"kami mencari Bayu bu" jawab El-Syakir


"kalian ini siapa...?"


"kami temannya Melani" jawab El lagi


"ooooh.... temannya anak sialan itu rupanya" ibu tersebut menatap tidak suka kepada El dan yang lainnya


"Melani tidak ada di rumah, sejak tadi dia belum pulang. katanya sih kerjanya entah benar atau tidak. dia dan adiknya anak pembawa sial" gerutunya dan mengomel


"nggak ada namanya anak pembawa sial bu. semua anak adalah rejeki yang dikirim Tuhan untuk kedua orang tuanya" Vino membalas ucapan ibu itu karena dirinya tidak suka dengan ucapan ibu tersebut


"saya bukan ibunya. orang tua mereka sudah mati. masih hidup orang tua bikin susah, sekarang mereka mati malah tambah bikin susah. nggak sekalian aja mereka ikut kedua orang tua mereka"


"astaghfirullahalazim, ibu kok tega ngomong kayak gitu. hati ibu terbuat dari apa sih, nggak punya hati banget" Nisda emosi dengan wanita paruh baya yang ada di depannya itu

__ADS_1


belum sempat ibu itu menjawab, pintu rumah terbuka. nampak seorang anak laki-laki yang berusia 6 tahun berdiri di depan pintu dan menatap bingung ke arah El-Syakir dan teman-temannya.


"anak nggak tau diri. sini kamu" ibu tersebut menarik tangan Bayu dengan kasar


"sakit tante" Bayu meringis


"kamu dan kakak kamu sudah bikin hidup tante susah. bagusnya saya jual saja kakakmu sama juragan Bono dan kamu saya suruh ngamen di jalanan"


"woi bu, jangan sembarangan menghardik anak kecil. ibu mau saya laporkan sama polisi atas rencana ibu tadi" Bara yang terlanjur emosi sudah tidak peduli dengan siapa dia berbicara. harusnya seorang ibu dimuliakan dan kita sebagai seorang anak berkata-kata yang lembut. namun melihat tingkah ibu tersebut, sama sekali tidak ada rasa hormat dalam hati Bara


"kalian tidak usah ikut campur, ini urusan saya" ibu tersebut membentak Bara dan menarik paksa tangan Bayu


"lepas tante. kami ke sini untuk menjemput Bayu" El menahan Bayu dengan memegang tangan kirinya


"siapa kalian yang mau menjemput anak sialan ini. lebih baik kalian pulang, saya tidak punya urusan dengan kalian semua"


ibu itu membawa paksa Bayu. Bayu melihat ke arah El-Syakir berharap El akan menolongnya. tatapan matanya sangat membuat siapapun yang melihatnya akan merasa teriris hatinya.


"lepasin tante, tangan Bayu sakit" Bayu mulai menangis


"diam kamu" bentak ibu tersebut


"kita ikuti mereka" Adam melayang mendahului. yang lain bergegas untuk mengikuti Bayu dan tantenya itu


keduanya berjalan melewati beberapa rumah dan sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang lebih besar daripada rumah-rumah yang lainnya.


seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan berpostur pendek sedang duduk di kursi sambil mengisap rokoknya. ibu tersebut mendekati pria itu dan duduk di kursi lain.


"ini anaknya juragan" ucapnya


"mana Melani...?" tanya juragan Bono. pria buncit itu berniat akan menikahi Melani


"masih kerja juragan, kalau dia pulang saya akan menjemputnya dan membawanya ke mari"


"bagus, bawa ke dalam" perintah juragan Bono


ibu itu membawa Bayu masuk namun Bayu menggigit tangan ibu tersebut dan kemudian berlari ke arah El-Syakir dan yang lainnya.


"anak kurangajar, awas kamu Bayu" teriak ibu tersebut


"kak, tolong Bayu" Bayu bersembunyi di belakang El-Syakir


"sini dek" Nisda dan Starla meraih tangan Bayu dan mereka membawanya ke tempat yang aman


"mau kalian bawa kemana anak itu, kembalikan" ibu tersebut meneriaki Nisda dan Starla


juragan Bono berdiri dan menghampiri El-Syakir, Vino dan Bara. pria itu menatap lekat ke arah ketiga remaja tersebut.


"berani sekali kalian datang ke tempat ku dan membawa anak itu" ucap juragan Bono


"apa yang harus kami takutkan...? El menatap dingin ke arah juragan Bono


" kalian tidak tau sedang berhadapan dengan siapa. Anak-anak ingusan seperti kalian lebih baik pulang di rumah dan minum susu"


"kami tidak perlu tau bapak siapa. tapi yang pasti kami akan membawa Bayu dari dua orang iblis seperti kalian" Bara menunjuk juragan Bono dan ibu tadi


"kurang ajar, perlu diberi pelajaran rupanya kalian" juragan Bono mulai emosi


"El hubungi polisi, banyak anak-anak yang di sekap di dalam ruang bawah tanah rumah ini. aku sudah mengeceknya di dalam" Adam datang memberitahu


"nggak usah kasi pelajaran lah pak, kami bosan belajar mulu. mending kita main-main saja pak" Vino menimpali seakan tidak ada rasa takutnya


"baik, anak buahku akan bermain bersama kalian"


prok.... prok


juragan Bono bertepuk tangan dua kali dan lima orang pria berbadan besar datang menghampiri mereka.


"cih, pengecut" Bara meledek membuat juragan Bono semakin naik pitam


"hajar mereka" perintah pria buncit itu


bukannya menghajar lawan, kelima pria itu malah saling memukul sesama mereka. ulah siapa lagi kalau bukan ulah Adam.


"dasar bodoh. sedang apa kalian, hajar mereka bertiga bukannya malah saling bertarung sesama kalian" juragan Bono mengumpat anak buahnya


"hahahaha" El, Vino dan Bara menertawakan anak buah juragan Bono yang saling serang


ibu yang membawa Bayu tadi berniat menghampiri Starla dan Nisda namun seketika tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. untuk mengangkat kakinya saja sangat sulit rasanya.


mobil polisi terparkir di depan rumah juragan Bono. rupanya diam-diam El-Syakir menghubungi polisi dan melaporkan apa yang Adam lihat. wajah juragan Bono mulai tegang dan pucat saat tiga orang polisi menghampiri.


"pak, anak-anak yang di culik ada di ruangan bawah tanah" El memberitahu


"hei kamu, jangan fitnah saya ya" juragan Bono menunjuk El-Syakir. dirinya begitu geram karena kedoknya dibongkar oleh anak-anak itu


"boleh kami periksa ke dalam bapak Bono...?" salah satu polisi meminta izin


"tidak ada apa-apa di dalam pak"


"maka dari itu kami akan memeriksanya"


"tapi tidak ada apa-apa di dalam pak" juragan Bono menghalangi para polisi namun ketiga polisi itu tetap berusaha untuk masuk


ketiga polisi itu masuk ke dalam rumah juragan Bono. ketiga remaja itu ikut masuk dan Adam menunjukkan ruang bawah tanah kepada El-Syakir kemudian El-Syakir memberitahu para polisi itu. saat tingkap di dapur di buka, ada tangga menuju ke bawah. para polisi itu masuk ke dalam dan benar saja, puluhan anak berada di tempat itu.


dengan bukti yang ada juragan Bono ditangkap bersama para antek-anteknya. ibu yang membawa Bayu tadi ikut di tangkap karena berniat menjual Bayu kepada juragan Bono.


tim samudera yang tidak ingin terlibat akhirnya menghilang dari tempat itu. biarlah para polisi yang mengurus semuanya.


"sekarang kita kemana...?" tanya Starla


"kita ke rumah sakit. kita harus menjemput mayat Melani" jawab Adam


"kak, aku lapar" Bayu menarik ujung baju Starla.


"kamu lapar...?" tanya Starla dan bayu mengangguk


"ayo kita cari makan"


mereka semua meninggalkan tempat tersebut. Bayu bonceng bersama Starla dan Nisda sebelum ke rumah sakit, mereka akan singgah diwarung makan terlebih dahulu.


___________________________________________


catatan :


maaf ya kalau mungkin aku akan jarang update, bukan karena disengaja tapi memang signal ditempat aku kurang bagus dan sedang berkualitas buruk. maklumlah di pedalaman, jadi ya begitu.


terimakasih untuk kalian yang sudah terus membaca novel ini.

__ADS_1


sayang kalian banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer 😊🤗🥰🥰


mampir juga yuk ke novel ku yang lain 😊😊


__ADS_2