
sejatinya manusia hanya memainkan perannya masing-masing karena alur ceritanya tetaplah sutradara yang mengatur (Tuhan) pemilik semesta alam
________________________________________________
"i-ini kan.....d-dia kan"
"Adam" ucap mereka serempak
"dunia memang sangat sempit. bahkan kita berputar-putar di kehidupannya, tanpa kita sadari kalau ternyata kita telah menemukan keluarganya" ucap Vino
"gue nggak menyangka, ini sungguh di luar dugaan" ucap Leo
"dia anak orang kaya" timpal starla
"tapi dilihat dari foto ini, dia tampan ya, beda dengan sekarang yang wajahnya pucat dan bibirnya biru kehitaman" ucap Vino memperhatikan foto anak laki-laki itu yang tak lain adalah Adam
"paman" ucapan Adam di rumah sakit tadi terlintas di kepala El
(pantas saja dia memanggilnya paman, rupanya mereka paman dan keponakan. tapi kenapa selama ini Adam tidak merespon saat dulu kami bertemu dengan paman Zidan, apakah karena dia baru mengingat itu sekarang...?) batin El
(apakah kalung ini juga milik Adam)
"bagaimana bisa kamu berada di sini...?"
"aku tidak tau"
"nggak mungkin kamu nggak tau. atau kamu mau maling ya, ngaku nggak"
"enak saja aku di bilang maling, lagipula apa yang bisa aku curi darimu"
"terus katakan bagaimana kamu ada di rumahku...?"
"aku juga tidak tau. sejak tadi siang tiba-tiba saja aku sudah berada di sini"
(sebelum aku menemukan kalung ini, Adam nggak ada dalam kehidupanku. tapi setelah aku menemukan kalung ini dia yang entah darimana datangnya langsung masuk dalam lingkup kehidupanku. namanya Dirga Sanjaya bukan Dirgantara. lalu mengapa Adam muncul begitu saja setelah aku menemukan kalung ini di kamar ini)
(tunggu... tunggu. saat aku mencari kalung ini lalu menemukannya kemudian menunjukkan kepadanya, ekspresi wajahnya jadi berubah. dan juga tanpa aku sangka dia malah bermandikan darah dan muntah darah. apakah memang kalung ini milik Adam dan yang aku lihat waktu itu adalah.....)
"boleh gue tau bagaimana kejadian elu mati...?"
dor....
"seperti itu"
(yang aku lihat waktu itu adalah bayangan peristiwa sebelum dia meninggal) mata El membulat sempurna
(dirgantara, Dirga Sanjaya. mungkinkah kedua nama ini adalah nama Adam...?)
"apakah kamu tidak mengenaliku...?"
"kamu sungguh tidak mengenaliku...?"
"El" Leo memegang bahu El membuatnya terkejut
"kenapa lu, melamun aja" tanya Leo
"gue hanya belum percaya saja kalau ternyata Adam itu adalah keponakan paman Zidan yang telah lama koma" jawab El
"iya, gue juga nggak nyangka. skenario Tuhan memang di luar dugaan" timpal starla
"tunggu tunggu, keponakan paman Zidan koma...?" ucap Vino
"iya, pan dia sudah pernah bilang saat kita pertama datang di rumah ini" jawab Leo
"kalau itu gue ingat" ucap Vino
"lah terus, ngapain nanya...? ucap Leo
"Adam kan keponakan paman Zidan, dan keponakannya itu sekarang dalam keadaan koma. itu berarti sekarang ini Adam belum meninggal hanya saja dia terlepas dari raganya, orang yang koma bisa sadar kembali, iya kan" Vino menatap serius teman-temannya
"elu benar. pantas saja dia bisa memegang apa saja yang kita bisa sentuh ternyata dia belum benar-benar mati" timpal starla
"gue penasaran apa yang membuat elu masih berada di dunia ini"
"aku juga nggak tau, tapi satu yang aku tau kenapa Tuhan masih membiarkanku gentayangan di muka bumi ini, alasannya adalah aku ingin menemukan siapa pembunuhku"
"apakah setelah menemukan siapa yang membunuhnya, dia akan kembali ke tubuhnya...?" gumam El
"hah, apa. apa yang elu bilang...?" tanya starla mendengar samar ucapan El
"dia ingin mencari siapa orang yang telah membunuhnya lebih tepatnya orang yang telah membuat dirinya koma" jawab El
"ingatannya sudah kembali...?" tanya Vino dan El mengangguk
"berarti dia juga sudah tau siapa keluarganya, lalu kenapa dia nggak memberitahu kita selama ini" lanjut Vino
"ingatannya pulih belum lama. sekarang tugas kita membantunya untuk mencari siapa orang yang telah membuatnya koma" timpal El
"mau cari bagaimana, orangnya saja kita nggak tau" ucap Leo
"ada petunjuk, dia mempunyai tato di tangan kanannya gambar ikan paus dan juga nggak memiliki dua jari di tangannya itu, jari manis dan jari kelingking"
"apa bisa hanya dengan itu kita bisa menemukannya, siapa tau pelakunya sudah pergi ke tempat yang jauh" ucap Vino
"seperti yang elu katakan, dunia ini sempit. nggak ada yang nggak mungkin jika kita berusaha" timpal El
"baiklah, sudah terjawab sudah siapa Adam sebenarnya. sekarang mari kita istrahat agar besok bisa melakukan aktivitas kembali. ngomong-ngomong tuh hantu perginya kemana pula sampai sekarang belum kembali" ucap Leo
"elu penggil El. kemarin-kemarin kan hanya dengan elu memanggilnya dia langsung muncul" ucap Vino
__ADS_1
"gue coba" jawab El
"Adam" panggil El namun hantu itu tidak ada ciri-ciri memunculkan diri
"nggak bisa" ucapnya melihat teman-temannya
"coba lagi. fokuskan pikiran elu hanya tertuju padanya seperti hati dan pikiran gue yang selalu tertuju pada bidadari di samping gue ini" Vino mulai edan
buukk
Leo menggeplak kepala Vino karena kesal bercampur gemas. ingin sekali rasanya ia tendang sahabatnya itu ke planet mars.
"main geplak aja lu, sakit tau. ayang, sakit" ringis Vino dengan suara manja
starla hanya geleng kepala sedangkan Leo memutar bola matanya dengan malas.
"Adam"
wuuusshh
bughhh
bughhh
sosok yang mereka cari mendarat kasar di lantai namun ia tidak sendirian melainkan bersama sosok yang lain.
"heh Maemunah, markonah sikonah konah. ini melati aku tau, lepasin nggak" bentak Adam kepada sosok yang datang bersamanya itu
rupanya mereka sedang memperebutkan melati yang di simpan di piring yang lain dari piring biasanya. bukan hanya melati namun bunga Kamboja dan juga bunga kantil ada di wadah itu serta daging mentah yang masih berdarah. sepertinya itu adalah sesajen yang disiapkan entah siapa orangnya.
grrrrrrrr
bukannya menjawab sosok yang bersama Adam itu malah menarik wadah yang mereka perebutkan dari tangan Adam. sehingga terjadilah aksi tarik menarik antara keduanya.
"melati aku"
grrrrrrrr
"melati aku"
grrrrrrrr
ke empat remaja yang berada di dalam kamar itu saling pandang dan kebingungan, siapa sosok yang dibawa pulang oleh teman hantu mereka itu, bahkan mereka saling memperebutkan melati.
"Adam" panggil El
"El, melati aku direbutnya" rengeknya seperti anak kecil
"grrrrrrrr" makhluk itu melihat ke arah ke empat remaja itu dan menggelengkan kepala pertanda ia tidak merebut
"berikan padanya, nanti gue belikan yang baru" ucap El
makhluk bersama Adam itu tersenyum senang dan mengangguk cepat menyetujui ucapan El.
"dam" panggil El lembut
"nggak mau, aku maunya ini" Adam manyun dan masih tidak ingin melepaskan pegangannya
"mau sekalian dengan tokonya nggak...?" rayu Leo membujuk
"benar dengan tokonya...?" tanya Adam melihat Leo
"iya" jawab Leo
"nggak bohong kan...?"
"nggak, nggak bohong"
"melatinya banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer...?" mata Adam mulai berbinar
"iya, sekalian elu mandi melati juga boleh" jawab Leo
"ya sudah, ambillah" Adam melepaskan satu kali tarikannya membuat sosok itu terjungkal ke belakang
"lah ngapain kamu salto segala...?" tanya Adam tanpa dosa
grrrrrrrr... makhluk itu menatap kesal ke arah Adam dan berdiri. Untungnya wadah yang dipegangnya tidak tertumpah isinya.
"sana pergi" usir Adam
secepat kilat makhluk itu menghilang dari pandangan mereka dan tinggal hantu itu yang ada di depan mereka.
"darimana saja elu...?" tanya El
"dari main" jawabnya santai
"cih, kayak anak kecil aja lu keluyuran main nggak ingat pulang" cibir Vino
"melati...?" Adam mengadahkan tangannya ke depan dan memasang wajah imutnya
"besok aja, udah malam" jawab El
"ck. ya udah aku pergi lagi"
"mau kemana lagi Dirga Sanjaya...?"
baru saja Adam akan bersiap menghilang, panggilan dari El membuat ia hanya mematung di tempatnya.
"aku Adam" ucapnya
__ADS_1
"kami udah tau siapa elu sebenarnya. Dirga Sanjaya adalah nama elu yang asli" ucap Vino
"aku lebih suka nama Adam" ucapnya tegas
"gue akan selalu memanggil elu dengan nama Adam. sekarang, tetap di sini dan jangan kemanapun" ucap El tak kalah tegasnya
"mau main" ucapnya lirih
"elu nggak kangen dengan kamarmu yang ini...?" ucap El lembut
"nggak, aku kangennya sama paman" timpalnya melayang duduk di lemari kecil samping ranjang
"tenang saja dam, kami akan membantumu untuk mencari siapa yang telah membuat elu koma" ucap starla
"koma...?" Adam mengernyitkan keningnya
"elu belum mati tapi elu hanya koma. itu yang kami dengar dari paman Zidan. mungkin setelah elu menemukan siapa yang telah melakukan kekejian itu elu akan kembali ke tubuhmu lagi" ucap Leo
"sungguh, aku belum mati...?" ada rasa secercah harapan di mata hantu itu
"iya" jawab El
Adam menangis tidak percaya. selama ini yang ia tau dirinya telah meninggal dan hanya berbentuk arwah namun rupanya ia masih mempunyai tubuh yang sedang terbaring koma.
El mendekat dan memeluk hantu itu memberikan rasa nyaman sebagai seorang saudara.
mentari menyapa dari ufuk barat, pagi pun menjelang dengan sinar mentari yang masih belum menyengat kulit.
anak-anak remaja itu kini telah bersiap-siap untuk pulang. sebelum pergi mereka tentu sarapan terlebih dahulu.
"nanti main lagi ke rumah paman ya" ucap Zidan
"tentu paman" jawab Vino cepat
setelah kepergian anak-anak itu, Zidan dan ketiga pengawalnya bersiap pergi untuk melihat tawanan mereka. sedangkan Furqon dan Ardi kembali ke tugas mereka semula.
"apa kabar mas, aku rasa kamu sedang tidak baik-baik saja sekarang ya" ucap Zidan tersenyum smirk
kondisi Rudi sekarang sangat memprihatinkan begitu juga dengan Thalita. mereka berdua telah babak belur dan luka sayatan serta cambukan ada dimana-mana. meskipun begitu Rudi tidak memberitahu dimana ikan paus itu berada sekarang.
"kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku Zidan, lebih baik aku mati daripada menjadi penghianat" ucap Rudi
"hahahaha" tawa Zidan menggema di tahanan itu
"kamu tidak merasa menjadi penghianat rupanya ya. setelah mas Burhan menganggap kamu seperti saudaranya, lantas ini balasannya semua yang kamu berikan mas. menjadi penghianat dan bahkan membunuh kakakku"
"aku tidak membunuhnya"
"tapi kamu ikut andil" rahang Zidan mengeras
"sekarang, ucapkan selamat datang kepada malaikat maut"
Zidan mengarahkan pistolnya ke arah Rudi yang siap menerima tembakan dari pria itu.
dor
satu tembakan mendarat di kepala Rudi yang sekarang tergeletak tidak bernyawa lagi. Zidan berbalik dan melangkah mendekati sel tahanan Thalita.
"lepaskan aku, aku mohon" ucapnya dengan air mata
"harusnya kamu berpikir dulu sebelum bertindak terlalu jauh cantik. sayangnya maafmu tidak ada artinya lagi buatku" jawab Zidan
"aku mohon ampuni aku" Thalita bersimpuh
"mohon ampun kepada Tuhan, bukan kepadaku"
"lepaskan aku. aku berjanji akan melakukan apapun yang kamu suruh, bahkan menjadi budak sekalipun aku rela tapi tolong lepaskan aku"
baju wanita itu bahkan telah terkoyak-koyak, masih mempunyai rasa simpati, Zidan membuka jasnya dan melemparkan ke arah Thalita.
"pakai itu"
dengan cepat Thalita mengambil jas itu dan menutupi tubuhnya. Helmi, Randi dan Pram bahkan tidak melihat ke arah wanita itu karena tidak pantas untuk melihat wanita yang pakaiannya sudah tidak utuh lagi.
"kamu tau dimana ikan paus yang dimaksudkan oleh mas Rudi...?" tanya Zidan
"aku tidak tau karena selama ini aku hanya mengikuti perintah dari om Rudi"
"jangan bohong kamu" bentak Zidan membuat Thalita kaget dan menutup mata
"a-aku benar-benar tidak tau, a-aku bersumpah" jawabnya dengan tubuh gemetar
"baiklah. aku akan membebaskanmu kali ini"
"kamu yakin Zidan...?" tanya Pram tidak setuju sepertinya
"yakin. mulai sekarang dia akan menjadi anjing peliharaan ku. buktikan janjimu padaku kalau kamu akan mengikuti semua perintahku menjadi anjing peliharaan ku yang setia" ucap Zidan menatap Thalita dengan mata elangnya
"i-iya, aku janji"
"bebaskan dia, dan bawa dia ke rumah sakit, jangan lupa urus mayat mas Rudi" ucap Zidan melangkah pergi
"baik bos" jawab penjaga tahanan
Thalita di bebaskan namun baru saja keluar, tubuh wanita itu ambruk tidak sadarkan diri, untungnya Randi langsung menangkapnya.
"menyusahkan saja" gumamnya yang langsung menggendong tubuh wanita itu
di tempat lain, seorang pria tengah memberi makan ikan-ikan peliharaannya. terdengar langkah mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Rudi telah dihabisi bos. apa rencana kita selanjutnya...?"
"tentu menyusun rencana selanjutnya, ikan paus akan mulai naik ke daratan" jawabnya dengan suara dingin