Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 48


__ADS_3

ting....


πŸ“±aku merindukanmu


πŸ“±kapan pulang


πŸ“±kamu tidak merindukanku...?


πŸ“± Zidan


pesan masuk, terus berbunyi di handphone Zidan. pria tampan itu masih menikmati guyuran air di bawah shower.


cek lek


pintu kamar mandi dibukanya, dengan handuk di pinggangnya, ia melenggang mencari baju untuk berpakaian.


setelahnya ia meraih handphonenya dan membaca setiap pesan dari wanita yang berstatus sebagai kekasihnya itu.


ada getaran berbeda di hatinya. ia merasa, kini rindu untuk wanita itu telah hinggap di hatinya. bayangan wajahnya saat setelah mereka melakukan panggilan video bersama Pram dan yang lainnya tadi siang, tidak lepas dari ingatannya.


"aku ini kenapa sih. apa iya aku sudah mulai jatuh hati padanya"


"tidak mungkin. tidak ada perasaan itu sama sekali. itu hanya....hanya"


"aaaggghh....bisa gila aku kalau begini terus"


Zidan menghempaskan tubuhnya di kasur dan mengambil bantal untuk menutupi wajahnya. lama kelamaan rasa kantuk menghampirinya hingga akhirnya ia tertidur dengan dengkuran halus keluar dari mulutnya.


sementara ayah Adnan, pria baya itu tidur di rumah sakit menemani putranya. malam ini adalah malam terakhirnya berada di negara itu, karena besok pagi mereka akan pulang ke tanah air.


"ayah ingin sekali menemanimu setiap saat di sini, tapi ayah juga punya tanggung jawab yang lain. kedua adikmu menunggu kepulangan ayah" ayah Adnan membelai sayang rambut Dirga


"ketika kamu bangun nanti, ayah tidak akan pernah lagi untuk meninggalkan mu. kita akan berkumpul kembali. ada ayah, El, Alana dan juga ibu sambung yang sangat menyayangi kalian semua"


"berkelana lah di mimpi panjang mu, tapi ingat satu hal...kamu harus pulang dan bangun dari mimpimu karena banyak yang menunggu kamu bangun"


cup...


ciuman kasih sayang mendarat di kening Dirga. ayah Adnan beralih ke sofa dan mendaratkan tubuhnya untuk beristirahat sebelum mentari pagi menyapa.


"aku titip Dirga Ed, terus kabari aku setiap perkembangannya" ucap Zidan


"pasti, jangan khawatir. Dirga sudah ku anggap keponakanku sendiri. aku akan menjaganya dengan baik" jawab Edward


"aku percaya padamu" timpal ayah Adnan


"terimakasih telah memberikan aku kepercayaan" balas Edward dengan tersenyum


"kalau begitu kami pergi dulu"


ketiganya saling berpelukan sebelum akhirnya Zidan dan ayah Adnan melangkah menuju pesawat untuk mereka naiki.


setelah ayah Adnan dan Zidan tidak terlihat lagi, barulah Edward bergegas pulang meninggalkan bandara dan kembali ke rumah sakit.


"Zidan pulang hari ini kan...?" tanya Pram kepada Randi


mereka berdua berada di ruangan Zidan karena mereka menggantikan Zidan untuk mengurus semua pekerjaannya. sedangkan pekerjaan ayah Adnan, diserahkan kepada Helmi. meski pertama pria itu menolak namun akhirnya ia mau juga.


"iya, aku mendapatkan pesan tadi. katanya sedang dalam perjalanan menuju bandara" jawab Randi


"haah... syukurlah. otakku bisa pecah menangani semua pekerjaannya" Pram bersandar di kursinya


"aku lebih baik mengawasi keluarga pak Adnan berjam-jam daripada berkutat dengan kertas-kertas ini" lanjutnya


memang semua pekerjaan Zidan dia yang mengambil alih. untuk Randi, ia hanya membantu sebagian dari pekerjaan itu bahkan ia lebih banyak membantu Helmi perusahaan Sanjaya grup.


drrrrtttt.... drrrrtttt


πŸ“ž Randi


ya Hel, ada apa...?


πŸ“ž Helmi


cepat ke kantor, bantu aku


πŸ“ž Randi


baru juga aku sampai di kantor Zidan


πŸ“ž Helmi


tidak mau tau, pokoknya kamu harus datang. aku mau mengadakan meeting dan kamu harus menggantikan aku untuk menemui klien pak Adnan yang baru datang dari Jepang


πŸ“ž Randi


sekarang...?


πŸ“ž Helmi


lebaran monyet. ya sekarang lah Ran. waktumu 30 menit dari sekarang. bye


tuuuuut


πŸ“ž Randi


eh...halo...halo.


"kebiasaan nih orang, main matiin aja"


"kenapa, ada masalah...?"


"aku harus ke kantor menemui klien pak Adnan dari Jepang. kamu udah nggak ada yang mau aku bantu kan...?"


"ada sih, tapi ya udah lah kamu pergi saja. biar aki minta bantu sama Mita"


"eh ngomong-ngomong akhir-akhir ini aku liat kamu dekat banget sama sekretaris Zidan itu. kalau di lihat-lihat ya, dia cantik juga loh Pram. cocok kayaknya sama kamu" Randi mencondongkan badannya ke depan


"ngomong apa sih kamu. ya jelas dekat lah. aku kan gantiin Zidan di sini, jelas aku harus sering komunikasi dengan dia. siapa yang mau bantu aku mengatur waktuku kalau bukan dia" Pram membuka tiap lembaran dokumen penting yang ada di depannya


"kamu benaran nggak ada perasaan srek sama dia" goda Randi


"ck...pulang sana" Pram mencebik


"ya ya ya, aku pulang. jangan lupa, sebentar temui aku dan Helmi di kantor Sanjaya grup"


Randi melangkah menuju pintu namun belum juga tangannya meraih gagang pintu, pintu itu sudah terbuka dan muncullah wanita yang mereka bicarakan tadi.


"pak Randi sudah mau pulang...?" tanya Mita sopan


"iya, mau ketemu Pram kan. silahkan masuk" Randi keluar dan Mita masuk ke dalam

__ADS_1


wanita itu mendekati meja kerja Pram dan meletakkan beberapa berkas di sana.


"apa ini...?" tanya Pram


"berkas yang harus bapak tanda tangani" jawab Mita


"simpan saja di situ"


"harus sekarang pak, karena ini dibutuhkan sekarang juga"


Pram menghela nafas panjang dan meregangkan otot-otot tubuhnya.


"kalau begitu, ambil kursi dan duduk di sini. bantu aku periksa dokumen-dokumen ini" ucap Pram menyuruh Mita untuk duduk di sampingnya


"tapi...."


"jangan buang-buang waktuku hanya karena kamu sungkan. saya tidak akan apa-apakan kamu" ucap Pram dengan sikap dinginnya


meski ragu, Mita mengambil kursi lain dan duduk di samping Pram. pria itu menggeser sedikit kursinya dan mulai menandatangani berkas yang lumayan banyak itu. sedangkan Mita, ia dengan sorot matanya memeriksa setiap dokumen penting itu.


di tempat lain Vania sedang bersantai di rumahnya. karena merasa tidak enak badan, ia tidak masuk ke kantornya dan lebih memilih untuk istrahat di rumah.


"kamu sudah baikan sayang...?" tanya wanita paruh baya yang masuk ke dalam kamar Vania


"sudah lebih baik mah" jawabnya


"makan yuk, mama sudah buatkan makanan kesukaan kamu"


"lidah aku pahit ma, aku nggak selera makan"


"baiklah. tapi kalau lapar, panggil mama ya" wanita itu membelai lembut kepala Vania


"iya mah"


setelah wanita itu keluar, Vania mengambil handphonenya. sejak tadi ia terus menunggu balasan pesan dari Zidan, namun sampai sekarang tidak ada pesan yang masuk dari pria itu.


"hah... sampai kapan kamu akan terus begini. apa aku menyerah saja" ucapnya yang sedang memperhatikan foto Zidan di layar handphonenya


"hari ini tanggal berapa ya" Vani memeriksa kalender di meja riasnya


"ya ampun aku sampai lupa. hari ini kan ulang tahun papa. aku harus mengunjungi papa"


segera Vania bersiap dan keluar kamar. ia berpamitan kepada mamanya. wanita baya itu ingin ikut berziarah di makam suaminya namun tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing sehingga hanya Vania yang pergi.


"Vania berangkat mah, mama istrahat saja di rumah"


"sampaikan salam rindu mama sama papa ya sayang"


"pasti mah"


Vania pamit pergi. di perjalanan ia berhenti membeli sebuah bunga kemudian melanjutkan perjalanannya.


"assalamualaikum. apa kabar pah" Vania duduk di makam papanya


"Vania datang lagi. rindu nggak pah sama Vania...?"


"kalau Vania sangat rindu dengan papa. papa pasti sudah bahagia ya di sana" sudut matanya mulai berair


"selamat ulang tahun pah, Vania selalu mendoakan papa masuk di surganya Allah. tunggu Vania dan mama di sana ya" air bening itu tidak dapat ia tahan lagi


setelah merasa tenang, Vania berdiri dan berniat untuk pulang. namun siapa sangka, ia dikagetkan dengan seseorang yang tidak dikenalnya berdiri tepat berada di belakangnya.


"kamu siapa...?" Vania mulai was-was


seseorang itu tidak menjawab, ia semakin mendekat ke arah Vania membuat gadis itu mundur secara perlahan.


"mau apa kamu...?"


"bersenang-senang denganmu cantik" ia tersenyum menyeringai


"jangan macam-macam atau saya teriak"


"teriak lah sekerasnya, tidak akan ada yang bisa mendengarmu"


Vania berbalik dan melarikan diri. orang tersebut mengejarnya bahkan larinya lebih kencang dari wanita itu.


ia berhasil mengejar Vania dan menyeretnya untuk menuju mobilnya.


"lepaskan aku... lepaskan" teriak Vania memberontak namun tenaganya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan cengkraman pria tersebut


seorang gadis yang ada ditempat itu mendengar suara teriakan Vania. ia yang sedang berkunjung ke makam ibunya segera mengakhiri doanya untuk melihat siapa yang teriak meminta tolong.


"wah, perlu dibantuin tuh kakak"


ia mencari kayu disekitarnya kemudian melangkah pelan dan semakin dekat dan akhirnya


buuukkk


"aaaggghh...bangsat, siapa yang berani memukulku" cengkraman tangannya terlepas dari tangan Vania


"ayo lari kak" gadis itu memegang tangan Vania dan melarikan diri dari pria yang masih merintih kesakitan


namun sayangnya di depan sana sudah ada beberapa pria yang menghadang mereka sehingga langkah mereka terhenti.


"mau kemana gadis manis"


mereka berdua berbalik namun pria yang dipukul tadi sudah berdiri di belakang mereka dengan raut wajah penuh amarah.


"bereskan mereka" ucapnya


sedetik kemudian, mulut Vania dan gadis itu di bekap dengan sapu tangan hingga akhirnya mereka tidak sadarkan diri.


"eeuuggh...aw, kepala gue pusing banget" gadis itu sadar dari pingsannya


saat sadar, dirinya diikat dengan sebuah tali. tidak jauh darinya, wanita yang ia tolong tadi juga dalam keadaan terikat.


"euhghhhh" Vania sadar


"kepalaku pusing sekali" ucapnya


"kakak sudah sadar...?"


Vania melihat ke arah gadis itu, dirinya kaget karena mereka berada dalam sebuah ruangan dan dalam keadaan terikat.


"ini kenapa kita diikat seperti ini sih" Vania berusaha melepaskan ikatan itu


"percuma kak. tanpa benda tajam, tali ini tidak akan bisa kita buka" ucap gadis itu


"lalu kita harus bagaimana...?" Vania mulai menyerah


"aku juga nggak tau" jawabnya

__ADS_1


(seperti pernah lihat kakak ini, tapi dimana ya) batin gadis itu memperhatikan Vania


(astaga iya, aku ingat)


"kakak yang waktu itu kami tolong saat akan dicopet kan...?" tanya gadis itu


"dicopet...?" tanya Vania balik


"iya. ingat nggak ada beberapa anak sekolah yang menolong kakak dari tukang copet itu. waktu itu kakak baru saja membeli kue tart untuk hari spesial kakak"


"oh iya kakak ingat. jadi ada kamu di situ ya. maaf kakak lupa, soalnya udah lama juga kejadiannya. jadi nama kamu siapa...?"


"aku starla kak"


ya, gadis itu adalah starla. karena hari libur maka ia sempatkan untuk mengunjungi makam ibunya sebelum berangkat berkumpul bersama para sahabatnya.


starla adalah anak piatu tanpa seorang ibu. dari umurnya yang 10 tahun, ibunya sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya dan sampai sekarang papanya belum menikah lagi.


cek lek


pintu terbuka, dengan cepat Vania dan starla berpura-pura pingsan dan belum sadarkan diri.


"belum sadar juga mereka"


"biarkan saja. cepat foto mereka dan kirimkan kepada kekasih wanita ini"


cekrek...


foto mereka telah diambil kemudian pintu di tutup kembali.


"sepertinya pacar kakak akan diporotin uangnya. dengarkan tadi kalau mereka akan mengirimkan foto kakak kepada pacar kakak" ucap starla


(mereka kenal Zidan. ya Allah, apa yang harus aku lakukan untuk menghubunginya) batin Vania dengan perasaan tidak nyaman


tidak ada yang bisa mereka lakukan karena tas dan handphone mereka disita oleh para penculik itu.


(El, Vino, Leo...tolong gue) batin starla yang ingin menangis namun ditahannya karena tidak ingin membuat keadaan mereka semakin panik


"starla lama banget ya" ucap Vino mengunyah kacangnya


"telpon gih, gue kok ngerasa nggak enak ya ini perasaan" ucap El yang sedang memakan puding buatan ibu Arini


"masih dijalan mungkin, tunggu saja sebentar lagi" timpal Alana yang ikut bergabung bersama mereka


"gue telpon aja deh"


El mengambil handphonenya dan mulai menekan nomor starla.


drrrrtttt.... drrrrtttt


handphone starla terus bergetar namun tidak diangkat. itu karena para penculik itu menyita kedua tas Vania dan starla dan menyimpannya di tong sampah agar mereka tidak bisa menghubungi siapapun.


"gimana...?" tanya Leo


"nggak diangkat" jawab El


"perasaan gue kok merasa nggak enak ya" ucap Vino


"sama, gue juga." timpal El


"telpon lagi" ucap Adam yang sedang memakan melatinya


"nggak diangkat juga" ucap El


"coba cek di handphone mu dimana posisinya sekarang. kalau handphonenya aktif, kita bisa mengecek dimana keadaannya" ucap Leo


"lu aja deh, elu kan paling jago yang begituan" ucap Vino


segera Leo mengambil handphonenya dan melakukan koneksi dengan handphone starla untuk mengetahui dimana posisi gadis itu sekarang.


"lah, ngapain dia ke sini" ucap Leo melihat titik tempat dimana starla berada


"emang kak starla dimana...?" Alana penasaran


"lihat deh, ini kan tempat jauh di sudut kota. ngapain starla ke tempat ini...?" Leo memperlihatkan penemuannya


"jangan-jangan" pikiran mereka mulai ke arah yang tidak baik


"kita susul kesana" ucap El


sementara itu, Zidan dan ayah Adnan baru saja mendarat dengan pesawat pribadi Sanjaya grup. keduanya turun dari pesawat dan melangkah ke mobil yang telah disediakan.


ting


satu pesan masuk di handphone Zidan. ia memeriksanya dan ternyata dari nomor yang tidak dikenalnya.


πŸ“±wanitamu ternyata cantik juga. kira-kira apakah kamu akan marah kalau aku bermain-main dengannya


foto Vania terlihat jelas dalam keadaan terikat dan tidak sadarkan diri.


"brengsek" teriak Zidan membuat ayah Adnan dan supir mereka kaget


"ada apa Zidan...?" tanya ayah Adnan


"ada yang ingin bermain-main denganku. Vania di culik" Zidan memperlihatkan pesan yang diterimanya


"aku yakin, ini pasti ulahnya mas Rudi. darimana dia tau kalau aku punya hubungan dengan Vania. manusia biadab. akan aku patahkan lehernya kalau dia ketemu" Zidan tidak dapat menyembunyikan amarahnya. ia segera menghubungi ketiga pengawalnya


πŸ“ž Zidan


halo, kalian dimana


πŸ“ž Randi


di kantor. apakah kamu sudah sampai...?


πŸ“ž Zidan


sudah. beritahu Helmi dan Pram untuk berkumpul ditempat biasa. ada yang harus kita lakukan


πŸ“ž Randi


ada apa, sepertinya itu sangat penting


πŸ“ž Zidan


lebih dari penting. ini masalah nyawa wanitaku. tunggu aku di tempat biasa


πŸ“ž Randi


baik

__ADS_1


klik... panggilan dimatikan


(bertahanlah, aku akan menyelamatkan mu) batin Zidan melihat foto Vania yang dikirimkan tadi


__ADS_2