
1 tahun kemudian
tok...tok...tok
"masuk"
pintu dibuka oleh seseorang, ia melangkah masuk ke dalam dan menghempaskan tubuhnya di sofa. sementara laki-laki yang berada di kursinya hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"kakak sibuk...?" tanya Adam
"kenapa, kamu mau mengajak aku lagi keliling dunia gaib sampai nggak pulang satu minggu. lihat akibat kelakuanmu, pekerjaan ku menumpuk bagaikan gunung. kalau kamu hanya datang menggangguku, pulang sana kembali ke ruangan mu" Deva menjawab tanpa melihat ke arah Adam
"ck, nggak usah marah-marah juga kali kak...kayak emak-emak aja. santai aja kaya di pantai"
"santai gigi mu, kalau bukan karena kamu hari ini harusnya aku libur CEO Dirga Sanjaya yang terhormat" Deva melirik kesal ke arah Adam
"hhh" Adam menghela nafas sebelum akhirnya beranjak dan mengambil kursi yang ada di depan meja Deva kemudian membawanya di samping kakaknya
"sini aku bantu, mau dapat darimana lagi coba bos yang baik hati seperti aku ini" Adam mengambil pulpen dan berkas yang menumpuk itu
"bagaimana dengan pekerjaan mu...?"
"sudah selesai aku kerjakan dari rumah. tinggal meeting saja jam 1 siang nanti"
tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut keduanya. mereka begitu serius memeriksa setiap berkas yang ada. Deva sampai berkali-kali memijit pelipisnya menenangkan kepala yang terasa berat dan pusing.
hingga suara pintu terbuka menampakkan gadis cantik yang melangkah ke arah mereka.
"sayang" panggilnya dengan senyuman manis
"udah pulang kuliah, cepat banget"
"dosennya nggak masuk jadi aku ke sini aja. kamu sibuk ya"
"lumayan, malah pegal juga" Deva merenggangkan otot-ototnya
"aku pijitin mau...?"
"heh kalian nggak liat ada bos di sini, kalian ini emang kadang kadang ya" Adam menatap kesal ke arah dua sejoli itu
"ya sudah kalau gitu kamu pulang aja sana, balik ke ruanganmu. sana sana" Deva mengusir Adam namun sekuat tenaga CEO Sanjaya grup itu berpegangan di meja
"nggak mau, yang jadi bos siapa yang ngusir siapa"
"baiklah tuan Dirga Sanjaya, silahkan lanjutkan pekerjaan saya, saya mau mesra-mesraan dulu dengan kekasih hatiku. ayo sayang"
Deva mengulurkan tangan dan dengan senang hati Melati menyambut tangan Deva sementara Adam yang ingin ditinggalkan berlari ke arah pintu dan mengunci pintu tersebut.
"nggak ada yang boleh keluar dari ruangan ini ya. enak aja main tinggal saja, ajak kek" Adam cemberut
detik berikutnya Adam sudah berada di punggung Deva merengek ingin ikut dan tidak ingin ditinggalkan.
"astaga, kita seperti punya bayi besar sayang. heran banget setiap mau kencan selalu aja digangguin. kak Deva punya aku ya, minggir" Melati menarik paksa Adam yang ada di punggung Deva
bukannya ingin turun, Adam semakin mengeratkan pelukannya. hembusan nafas kasar keluar dari mulut Deva. akhirnya mereka pergi bertiga sementara Melati menggerutu sepanjang jalan karena acara kencannya diganggu oleh Adam.
(dasar bos somplak) kesal Melati dalam hati
tepat mereka keluar dari kantor, ponsel Adam berdering. ia kemudian melempar kunci mobil kepada Deva sementara dirinya berjalan masuk ke kabin tengah, sepasang kekasih itu berada di kabin depan.
(kenapa El...?)
(kakak dimana...?)
(mau jalan sama Melati dan kak Deva, kamu mau ikut)
(kamu lupa ya kalau kita mau jalan bareng, bentar malam kan mau kasih surprise buat ibu)
(yah aku lupa, kalau gitu kita ketemu saja di rumah. ayah sama ibu nggak ada di rumah kan..?)
(nggak, ayah ajak ibu jalan-jalan mungkin malam baru pulang. aku udah di rumah sama yang lain. buruan datang, cari hadiahnya nanti saja yang penting dekor rumah dulu)
(oke oke, kami meluncur ke sana)
"kenapa...?" Deva melihat Adam di kaca spion gantung
"bentar malam kan hari spesial ibu, masa kakak lupa"
__ADS_1
"huufffttt, saking banyaknya pekerjaan kantor sampai aku lupa hari lahir ibu Arini. ya sudah kita pulang saja"
"yang lain udah pada ngumpul di rumah kamu ya dam...?" tanya Melati
"ho'oh, sekarang mendingan kita singgah di minimarket deh beli cemilan banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer, freastea melati nggak boleh ketinggalan"
sebelum pulang ke rumah, mereka singgah di minimarket. Adam mengambil apa saja yang ia suka terlebih lagi minuman rasa melati, minuman itu tidak boleh habis stok di rumah. selalu tersedia di lemari pendingin.
"yuuuhuuu.... assalamualaikum epribadeee" Adam masuk ke dalam rumah
dengan gayanya yang tidak berdosa sama sekali sementara Deva dan Melati menjadi korban dari semua belanjaan miliknya, tangan keduanya dipenuhi dengan kantung plastik belanjaan.
semua orang telah berkumpul di ruang tengah. Adam yang melihat Galang sedang asik bermain dengan Alana, langsung sergap meraih bocah mungil itu dan menciumi seluruh wajahnya membuat Galang tertawa geli.
"tante Vania mana dek...?" tanya Adam kepada Alana
"lagi pergi sama paman Zidan, ada urusan katanya" jawab Alana
"Galang imut banget ya, nggak sabar pengen cepet-cepet punya keponakan" Bara mencium wajah Galang yang bulat dan berisi
"tante Mita lagi ngisi kan, kayaknya nggak lama lagi udah mau lahiran deh" ucap Starla
"iya, kalau nggak salah sih minggu depan" jawab Bara
semua orang kini mulai sibuk dengan pekerjaan mereka. menghiasi halaman di belakang rumah menjadi indah dan cantik. balon warna-warni telah menghiasi setiap sudut bahkan kolam renang pun sudah dipenuhi balon.
lampu kerlap kerlip mulai dipasang oleh Leo, sebagian lainnya menggunting kertas menjadi sebuah huruf. pekerjaan mereka selesai setelah bunyi sholat ashar. tadi setelah sholat dzuhur mereka kembali bekerja dan kini pekerjaan mereka telah selesai dengan hasil yang begitu memuaskan.
"ibu pasti senang" ucap Alana dengan mata yang berbinar. Leo merangkul gadis itu dan tersenyum manis.
El-Syakir yang kepanasan tiba-tiba sudah merasakan angin sejuk, rupanya ada seseorang yang mengipasi dirinya dengan kipas angin mini.
"terimakasih" El-Syakir tersenyum melihat siapa yang berada di dekatnya
"sama-sama" Seil tersenyum manis
"sholat yuk, setelah itu kita tinggal mencari kado" ucap Vino
mereka semua setuju dan akan masuk ke dalam rumah, saat itu mereka bertemu dengan Zidan dan Vania yang baru saja pulang.
"waaah cantik banget, kalian memang pintar mendekor ya" Vania takjub dengan hasil kerja tim samudera
sementara yang lain menyoraki dirinya dan melemparnya dengan kulit makanan.
saat ini El-Syakir, Adam, Deva dan Alana sedang dalam perjalanan ke tempat perbelanjaan untuk mencari hadiah. tim samudera yang lain telah pulang dan akan datang lagi setelah malam nanti. saat itu El-Syakir menghubungi ayahnya, menanyakan keberadaan orang tua mereka. rupanya ayah Adnan mengajak ibu Arini ke tempat yang romantis, alhasil El-Syakir tidak ingin mengganggu dan mematikan panggilan setelah mengetahui keberadaan orang tuanya.
selama perjalanan ke tempat perbelanjaan, Adam hanya diam dan terus melihat ke arah luar. El-Syakir berkali-kali mendengar kakaknya itu menghela nafas dan membuangnya dengan pelan. El-Syakir tau apa yang dirasakan kakaknya itu, pasti berat baginya namun bagaimana pun hidup harus tetap berlanjut.
mereka tiba di mall terbesar di kota itu. ketiga saudara itu mulai keluar sementara Deva mencari tempat parkir yang bagus untuk memikirkan mobilnya. kemudian ia keluar dan menghampiri saudaranya yang tidak sekandung namun rasanya sudah seperti saudara kandung.
"aku kok bingung ya mau belikan ibu apa" ucap Alana yang saat ini sedang menggandeng lengan Deva
putri Alana, tuan putri dari keluarga Sanjaya itu kini telah memiliki tiga seorang kakak laki-laki dimana ketiganya tentu saja memanjakannya. Deva begitu menyayangi Alana sama halnya dengan El-Syakir dan Adam yang menyayangi Zahra.
"berikan saja yang bermanfaat untuk ibu, meski sederhana namun bisa berguna" ucap El-Syakir
keempatnya mulai mencari-cari barang yang cocok untuk diberikan kepada ibu Arini. menjelang azan magrib, semuanya baru saja keluar dari mall yang paling mewah itu. tentunya mereka tidak ingin meninggalkan ibadah sehingga masjid yang berada di depan mall menjadi tempat mereka untuk ibadah sholat magrib.
"pulang sekarang ya" ucap Deva
"ayah sama ibu bagaimana...? tanya Adam
"tunggu aku hubungi ibu dulu" ucap El-Syakir
mereka semua masuk ke dalam mobil berniat untuk pulang ke rumah. El-Syakir sambil mengubungi ayah Adnan namun ponsel mantan pemimpin Sanjaya grup itu tidak bisa dihubungi.
"nggak aktif"
"lagi sholat mungkin atau nggak ingin diganggu. kita pulang ajalah, Lana capek banget"
"hoaaam...aku juga capek pengen tidur" Adam mulai memejamkan mata mencoba mencari posisi ternyaman untuk berlabuh ke alam mimpi
sayangnya belum juga terlelap dalam mimpinya, Adam terbangun dengan nafas yang memburu.
"*aku mencintaimu"
"TIDAAAAAAK*"
__ADS_1
"ratu" Adam tersentak kaget, bahkan bulir keringat mulai jatuh dari ke keningnya
semua orang kaget mendengar Adam memanggil wanita yang sudah pergi meninggalkan dirinya.
"kenapa kak...?" tanya Alana
"kakak bermimpi lagi...?" tanya El-Syakir
hanya helaan nafas yang terdengar kemudian keluar dari mulut Adam. ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya. kaca jendela mobil dibukanya agar angin yang dingin menerpa wajahnya yang kian berkeringat. sesak di dadanya tiada dapat diobati jika dirinya mengingat kejadian satu tahun lalu di pulau yang kini menjadi tempat wisata.
(aku rindu ratu, apakah kamu tidak kasihan padaku yang setiap hari menunggu. kamu mengatakan cinta namun ternyata kamu pergi begitu saja tanpa persetujuan ku, kamu jahat ratu...kamu benar-benar jahat) begitu sesak bahkan berkali-kali Adam menghela nafas panjang
mereka tiba dikediaman Sanjaya, sudah ada beberapa mobil yang terparkir di halaman rumah, pemiliknya adalah mereka tim samudera.
saat memasuki rumah, tawa semua orang berderai dan keempatnya semakin mempercepat langkah untuk segera sampai di tempat perkumpulan.
"kenapa lama sekali, aku pikir kalian membeli hadiahnya di planet lain" ujar Bara yang sedang bermain dengan Galang di karpet berbulu
Galang Pratama Sanjaya, putra dari Zidan Sanjaya dan Vania Larissa itu kini sedang dalam keadaan tengkurap dan mencoba untuk meraih mainan yang berada di depannya.
merasa lelah karena aksinya sia-sia, bayi gembul itupun menangis menatap Bara. mungkin ia mencoba memberitahu Bara bahwa dirinya ingin mainan yang ada di depannya. namun Bara malah semakin menjauhkan mainan itu dan menggodanya membuat Galang semakin histeris.
"astaga sayang, kamu apakan anak orang" Nisda datang dan mengambil Galang memangku bayi itu
"nggak aku apa-apakan loh yang, dia nangis sendiri" bara membela diri
"emang benar kakak nggak ada akhlak lu, bayi orang dikasih manggis eh nangis, malah nggak tanggung jawab" Leo menggeleng kepala
Galang semakin menangis dan sepertinya itu karena dirinya lapar. mendengar anaknya menangis, Vania yang sedang berkumpul bersama para istri-istri pengawal Sanjaya grup bangkit dan menghampiri tim samudera. sementara Zidan sedang berkumpul bersama para kelima pengawalnya.
"kok malah nangis" Vania mengambil anaknya
"Bara tuh, dia cubit Galang" Adam bersuara
"enak aja, main fitnah aja lu. nggak ya... nggak kok tante, Adam bohong" Bara membela diri sementara Adam hanya cengengesan
Vania membawa anaknya ke dalam kamar untuk menyusui Galang.
tepat jam 12 malam, ayah Adnan dan ibu Arini baru saja pulang. terlihat dari luar rumah itu nampak begitu sepi dan juga gelap. kening ibu Arini mengkerut melihat keadaan rumah besar itu seperti tidak berpenghuni bahkan terlihat sama persis seperti rumah yang ada di film horor.
"yah, kok gelap seperti ini... memangnya mati lampu kah...?"
"mungkin listriknya mati, ayo masuk. tunggu ayah nyalakan senter ponsel dulu"
ayah Adnan menyalakan senter ponselnya dan meraih pinggang ibu Arini. keduanya masuk ke dalam rumah yang nampak begitu gelap. ibu Arini merasa merinding, rumah sebesar itu tiba-tiba tidak memiliki cahaya lampu yang dapat membuat pikirannya melalang buana, menjadi takut dan ngeri.
"kok nggak ada orang yah" ibu Arini semakin erat memeluk pinggang ayah Adnan
"apa mereka keluar ya" ayah Adnan berpura-pura kebingungan
dari arah belakang muncul Vino dan Starla, keduanya dengan tergesa-gesa dan nafas yang dibuat ngos-ngosan berhenti tepat di depan suami istri itu.
"tante....tante, om itu...i-itu"
"kenapa nak Vino, ada apa...?" ibu Arini mulai panik takut terjadi sesuatu dengan anak-anaknya atau orang rumah
"El-Syakir.... El-Syakir jatuh dari lantai dua di halaman belakang rumah tante. ayo cepat lihat" Starla melompat-lompat membuat dirinya panik
"APA..? ya Allah anakku"
ibu Arini melesat begitu saja tanpa memanggil suaminya. dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana keadaan anaknya. namun tepat dirinya menginjakkan kaki di halaman belakang rumah, lampu seketika menyala, suara terompet menggema di tempat itu. lampu kerlap kerlip mulai menghiasi memperindah suasana. balon warna-warni berterbangan di setiap sudut. tulisan yang bertuliskan selamat ulang tahun ibu membuat ibu Arini tersentuh dan menangis haru.
"happy birthday ibu... happy birthday ibu... happy birthday ibu sayang, happy birthday ibu"
dari arah belakang, rupanya ayah Adnan telah bersiap setelah ibu Arini tadi berlari tergesa-gesa ke halaman belakang rumah. saat ini ayah Adnan memegang kue tart yang begitu cantik warnanya, Vino dan Starla berada di samping kanan kiri ayah Adnan.
ayah Adnan berdiri tepat di depan ibu Arini. senyumannya mengembang menatap lembut istrinya sementara ibu Arini sudah berlinang air mata.
semua orang menatap haru pasangan suami istri itu. mereka tidak ada yang bersuara. Zidan dan masing-masing pengawalnya yang sudah menikah merangkul istri masing-masing. Furqon dan Ardi tidak ketinggalan berkumpul bersama mereka.
"selamat ulang tahun bu" ucap ayah Adnan
tidak dapat berkata-kata, ibu Arini hanya bisa mengangguk haru. lilin yang ada di atas kue tart itu ditiup olehnya. semua orang bertepuk tangan, ketiga anaknya mendekat dan memeluk wanita yang bagi mereka adalah malaikat tanpa sayap.
semua orang mengucapkan kata selamat dan juga memberikan kado yang tentunya belum terlihat isinya. malam itu, mereka rayakan ulang tahun ibu Arini dengan begitu bahagia. semua orang nampak senang dan menikmati setiap hidangan yang ada.
karena merasa ingin ke toilet, Adam meninggalkan tempat yang ramai itu. namun langkahnya terhenti tatkala dirinya melihat seseorang yang begitu ia kenal.
__ADS_1
senyuman wajahnya membuat Adam terpaku di tempatnya, kemudian perlahan-lahan sosok itu menghilang seperti buih. Adam berlari mengejar namun tidak kesampaian, sosok itu telah menghilang.
lagi dan lagi Adam menelan kecewa, ia benturkan kepalanya di tembok berulang kali. helaan nafas panjang ia menghembuskan dengan kasar sebelum akhirnya kakinya melangkah ke tempat tujuan.