
entah sudah berapa kali Senggi mendapatkan serangan dari Sri Dewi membuat tubuh wanita itu bagai remuk karena ia menabrak batang pohon hingga jatuh terkulai ke tanah.
darah segar terus keluar dari mulutnya. energinya semakin melemah, kekuatan Sri Dewi saat lebih meningkat dari sebelumnya.
"MATI KAMU SENGGI"
Sri Dewi mengarahkan kedua telapak tangannya yang mengeluarkan cahaya berwarna merah ke arah Senggi. wanita itu bangkit dan memasang pagar pelindung sehingga sihir yang di kerahkan Sri Dewi tidak mengenai tubuhnya. meskipun begitu tubuh Senggi mundur perlahan-lahan karena tidak sanggup menahan serangan yang begitu kuat.
Senggi berputar mengumpulkan semua energinya ke telapak tangan. ia mendorong sihir dari Sri Dewi hingga cahaya merah itu berbalik menyerang tuannya. Sri Dewi yang melihat itu langsung menghindar namun siapa sangka ternyata Senggi bukan hanya mengembalikan sihir wanita itu melainkan dirinya melesatkan cahaya yang berwarna hijau ke arah Sri Dewi membuat wanita terpental terkena serangan dari Senggi. ia sampai jatuh tersungkur di tanah.
api yang masih menyala dengan nyalang membakar setiap dedaunan yang ia dapat. tempat itu sudah dipenuhi dengan asap yang membumbung tinggi ke angkasa.
Sri Dewi bangkit dan menatap Senggi dengan penuh amarah. sementara Senggi jatuh dengan keadaan lemas dan memegang dadanya. satu pukulan berhasil membuat dada kiri wanita itu terluka.
"kurang ajar, kamu akan benar-benar aku buat mampus jin sialan"
Sri Dewi bangkit dan mengumpulkan kekuatan penuh. aura kemarahan membuat dirinya diliputi asap hitam. telapak tangannya kembali terarah kepada Senggi. cahaya merah menyala kemudian berubah menjadi warna yang hitam pekat setelah itu berubah menjadi panah beracun, siap untuk menghunus jantung Senggi.
tepat saat itu hampir dimana panah itu menembus jantung Senggi yang tidak dapat lagi melawan, sebuah tongkat ke emasan memukul anak panah itu kemudian melenyapkan dengan cahaya hijau yang keluar dari kepala tongkat tersebut.
wanita cantik penguasa hutan timur, pemimpin kerajaan karing-karing dari bangsa jin, datang tepat waktu menolong abdinya. ratu Sundari berdiri tepat di depan Senggi dengan tongkat keemasan yang ia punya serta permata hijau yang berada di kepala tongkat miliknya.
"Sundari.... akhirnya kamu datang juga" Sri Dewi menyeringai melihat saudara kembarnya datang menyelamatkan Senggi
"mundur Senggi" ucap ratu Sundari, tatapannya tidak pernah lepas dari wanita yang begitu mirip dengannya
"hati-hati ratu, dia semakin sakti. kekuatannya bahkan dua kali lipat dari sebelumnya" Senggi mengingatkan sang ratu kemudian mundur perlahan dan bersandar di bawah pohon
kini dua orang wanita saling berhadapan dengan jarak hanya beberapa meter. senyuman seringai terpancar dari wajah Sri Dewi namun tidak dengan ratu Sundari. wanita itu memperlihatkan wajah datarnya dengan tatapan dingin kepada saudara yang ada di depannya.
"kamu datang untuk menyelamatkan laki-laki itu...? segitu cintanya ya kamu padanya sehingga dengan repot-repot datang ke tempatku"
"lepaskan dia, bukankah harusnya yang kamu hadapi itu aku bukan dia"
"hahaha"
Sri Dewi bertepuk tangan dengan ekspresi wajah yang menertawakan ratu Sundari namun detik berikutnya tawa itu terganti dengan tatapan tajam dan seringai iblis. ia mengikis jarak beberapa langkah hingga keduanya semakin dekat.
"aku tau tujuanmu bukan hanya menyelamatkan laki-laki itu tapi juga mencari tubuhmu. benarkah begitu...?" Sri Dewi mengangkat satu alisnya
ratu Sundari bergeming tidak mengindahkan ucapan Sri Dewi. dirinya hanya diam menatap lurus ke depan.
"jika kamu dapat mengalahkan aku, maka akan aku bebaskan laki-laki itu dan menunjukkan dimana tubuhmu, namun jika kamu kalah. bersiaplah menjadi budak ku, bagaimana...?"
Sri Dewi tersenyum tipis menanti jawaban dari saudara kembarnya. dirinya yakin ratu Sundari tidak peduli dengan tubuhnya namun yang ia utamakan adalah Adam. wanita itu akan melakukan apapun untuk membebaskan Adam.
"baiklah, aku terima tantanganmu. namun jika kamu yang kalah, maka kamu akan menerima segala hukuman yang akan aku berikan untukmu"
"hahaha" Sri Dewi tergelak dengan bahu yang bergetar
"kamu belum mengalahkanku tapi sudah menghayal untuk menghukum ku. ternyata keberanian mu begitu tinggi ya. baiklah, mari kita lihat siapa yang akan mengembuskan nafas terakhir. aku ralat keinginan ku tadi, bukan untuk menjadikanmu budak namun aku ingin menjadikanmu mayat" Sri Dewi menyeringai
Sri Dewi merentangkan kedua tangannya. seketika api kobaran api mendekati mereka hingga detik berikutnya keduanya sudah dikelilingi oleh api yang menyala-nyala. rupanya wanita itu menggunakan sihirnya untuk mengurung mereka berdua di dalam lingkaran kobaran api.
Senggi yang tidak tahan dengan panasnya api itu memilih menjauh. dengan sisa tenaganya, ia memadamkan api yang sejak tadi membakar pulau itu hingga kini hanya tersisa kepulan asap dari sisa-sisa pembakaran.
"waktunya bermain Sundari" Sri Dewi tersenyum, senyum yang begitu penuh makna
detik berikutnya keduanya sudah saling bertarung dengan menggunakan sihir masing-masing. sementara Senggi hanya dapat melihat dari luar pertarungan yang sengit antara sang ratu hutan timur dan ratu penguasa kegelapan.
Adam dan Deva yang masih berada di ruang bawah tanah mempercepat langkah menaiki anak tangga untuk keluar dari tempat itu. namun kemudian langkah mereka terhenti tatkala mendengar suara jeritan seseorang yang begitu menyayat hati. bahkan beberapa kali suara teriakan erangan kesakitan terdengar di telinga keduanya.
"ada orang selain kita kah...?" ucap Deva mengurungkan niat untuk naik ke atas dan kembali berjalan turun ke bawah
Adam mengikuti setiap langkah kaki Deva. keduanya berhenti di anak tangga terakhir mencoba sekali lagi mempertajam pendengaran untuk memastikan apakah benar ada seseorang yang sedang di siksa atau tidak.
aaaggghh
suara teriakan itu terdengar lagi. keduanya saling tatap dan detik berikutnya mereka berlari ke arah dimana suara itu berasal. mereka mengambil arah lorong ke kanan karena jika lurus maka itu adalah tempat dimana tadi mereka di sekap.
__ADS_1
terdapat tiga lorong di ruang bawah tanah itu, keduanya mengambil jalur kanan sesuai dengan arah suara yang terdengar.
saat keduanya tiba, seseorang yang mereka kenal sedang di siksa oleh dua makhluk gaib yang bertubuh besar dan mengerikan. tubuh laki-laki itu dicambuk dengan kerasnya hingga mengeluarkan suara jeritan yang begitu pilu.
"Zulfan, brengsek. beraninya kalian menyiksanya"
swing
swing
Adam melesatkan serangan ke arah dua makhluk yang sedang menyiksa Zulfan. keduanya terpental dan menabrak dinding lorong. sementara Deva berlari dan melepaskan ikatan Zulfan namun kemudian ia menarik tangannya karena kepanasan. rantai yang mengikat kedua tangan dan kaki Zulfan rupanya telah dimantrai agar arwah itu tidak dapat melarikan diri.
Deva hendak membebaskan kembali teman hantu mereka itu namun dirinya terkena pukulan dari tangan besar makhluk yang berwajah mengerikan dengan dua taring yang keluar. tubuh mereka berwarna hitam sementara kedua mata mereka merah menyala.
"sialan" umpat Deva
ia memegang perutnya yang mendapatkan pukulan keras tadi dari makhluk itu. saat makhluk hitam itu kembali menyerang, Deva melompat ke arah dinding menggunakan satu kakinya sebagai pijakan dan kemudian ia menghantam rahang makhluk itu dengan tinju miliknya yang penuh dengan kekuatannya.
satu pukulan itu mampu membuat makhluk itu terjungkir dan tersungkur di bawah kaki Zulfan.
Adam mengarahkan serangan bertubi-tubi ke arah makhluk itu yang belum sempat dapat menyerang karena Adam tidak memberikan kesempatan untuk makhluk itu menyerang.
"PERGILAH KE NERAKA"
Adam yang begitu emosi mengeluarkan kuku tajam miliknya. dirinya tidak berubah wujud seperti sebelumnya, ia hanya mengeluarkan kuku tajamnya dan menusuk perut makhluk besar yang hitam itu kemudian menarik semua isi perutnya hingga seketika makhluk itu mati di tangan Adam.
bersamaan dengan itu, Deva juga baru saja menghabisi lawannya. kedua makhluk itu menghilang seperti debut setelah dihabisi oleh dua anak muda itu.
"Zul" Adam mendekati Zulfan berniat memegang rantai yang mengikat laki-laki itu namun ditahan oleh Deva
"rantainya panas seperti bara api" ucap Deva
Adam berniat melumpuhkan rantai itu namun sangat sulit bahkan ia kewalahan.
"sihir apa yang mereka pakai sehingga sulit sekali melepaskan rantai ini" Adam mengusap wajahnya dengan kasar
"Zul" Adam memanggil lirih
mata Zulfan mengerjap pelan kemudian tersenyum saat melihat siapa yang ada di depannya.
"aku pikir kalian tidak akan datang" ucapnya dengan suara lemah
"maaf kami terlambat" Adam begitu menyesal dengan apa yang dialami oleh Zulfan
"sakit, rantai ini semakin menggerogoti jiwaku. aku tidak sanggup lagi"
"bertahanlah sebentar lagi, aku akan membebaskan mu"
Adam mundur beberapa langkah, Deva berdiri di sampingnya. sudah beberapa kali keduanya mengarahkan tenaga dan kemampuan namun rantai itu tidak bisa di hancurkan.
"aaaggghh brengsek" umpat Adam begitu kesal bercampur marah dan sedih
"baiklah, semoga saja ini berhasil" gumam Adam
Adam mengatur nafas dan menghembuskan dengan pelan. ia menghirup dengan rakus udara yang ada disekitarnya kemudian menghembuskannya kembali.
"kak, pukul aku dengan keras" perintah Adam
"hah...?"
Deva melongo seperti seseorang yang hilang arah mendengar ucapan Adam.
"pukul aku kak, keluarkan semua tenagamu untuk membuat aku marah. dengan begitu aku bisa berubah. jika tidak maka akan susah jika tidak ada kemarahan dalam diriku"
"ngomong apa sih kamu, aku nggak ngerti"
"kakak lihat kenapa tadi aku mengeluarkan kuku tajam, itu karena aku dalam keadaan marah dan emosi sehingga dapat menggunakan kekuatan yang ada dalam diriku dengan kemarahan yang aku punya"
yang dimaksud Adam adalah perubahan saat sebelum dirinya menjadi manusia kembali. saat akan marah, ia akan menjadi sosok yang menyeramkan. kuku panjang dan tajam, mata yang berubah menjadi warna merah, kemudian taring seperti vampir yang akan keluar. serta tanduk kecil yang akan muncul di kepalanya.
__ADS_1
hal itu beberapa kali ia alami sebelum dirinya menjadi manusia. saat dimana mereka akan menyelamatkan Vania dari penculikan yang dilakukan Rudi dan Thalita. Adam mengamuk mendengar suara tembakan hingga dapat memancing kemarahan dalam dirinya kemudian ia berubah wujud menyerang siapa saja yang ia lihat. saat dimana mereka menyematkan Andri dari pembunuh berantai, waktu itu Adam tidak berubah sepenuhnya. hanya matanya yang berubah warna menjadi merah menyala karena suara tembakan pistol yang berasal dari polisi menimbulkan emosi dalam diri Adam karena kilasan ingatan muncul dikepalanya.
masih ingat dengan peristiwa-peristiwa itu kan di episode sebelumnya...?
setelah menjadi manusia, Adam dan tidak pernah lagi menggunakan kekuatan itu. bukannya tidak bisa hanya saja dirinya harus begitu dalam keadaan amarah yang menguasai, meskipun dalam keadaan emosi yang menggebu-gebu, Adam tidak merubah wujud karena ia berpikir dapat menyelesaikan pekerjaannya tanpa harus berubah wujud. namun kali ini sepertinya ia harus melakukan itu, karena sudah tidak ada cara lagi untuk membebaskan Zulfan.
"masa iya aku yang mau pukul kamu. nanti kalau kamu berubah wujud terus kamu nyerang aku gimana...?"
"aku masih tau mana kawan mana lawan kak. masa iya saudara sendiri aku mau serang. ayo kak sebelum Zulfan semakin lemah"
Deva menarik nafas sebelum mengiyakan permintaan Adam. namun saat akan bersiap menghajar adiknya itu, tanah bergetar hebat seperti terjadi gempa. keduanya mencari pegangan agar tidak terjatuh.
"ada apa ini...?" Deva masih berpegangan di dinding lorong
perlahan getaran itu berhenti menyisakan debu yang beterbangan berasal dari langit-langit lorong.
"ayo kak"
"kamu yakin...?"
"memangnya kakak punya cara lain untuk membebaskan Zulfan...?"
"oke. bersiaplah, jangan melawan ya. ini semua adalah permintaan kamu"
Deva mengatur nafas kemudian mengambil ancang-ancang untuk menyerang Adam. tepat saat kepalan tinju Deva akan mendarat di perut Adam, sebuah keris melayang menghalau dan hampir saja Deva terluka jika ia tidak menghindar.
keris itu tertancap di dinding. Adam dan Deva saling pandang kemudian melihat ke arah pintu masuk.
"kalian mau saling membunuh di dalam sini...?" suara penuh penekanan terdengar di telinga keduanya
"El" panggil Adam dan Deva
El-Syakir datang bersama dengan Alana dan Melati.
"kak Dirga" Alana berlari dan memeluk Adam dengan erat
"kakak baik-baik saja kan, kakak nggak terluka kan...?"
Alana memutar tubuh Adam mencari-cari apakah kakaknya itu terluka atau tidak.
"nggak dek, kakak baik-baik saja" Adam memeluk Alana kembali
"kamu baik-baik saja...?" Melati datang menghampiri Deva, raut kecemasan tergambar di wajah gadis itu
"kamu mengkhawatirkan ku...?" Deva tersenyum manis
"tentu saja, siapa yang bisa tenang kalau kamu terluka" Melati menjawab ceplos
hal itu membuat Deva merasa senang, entahlah ia merasa begitu bahagia saat gadis itu mengkhawatirkan dirinya.
"apakah kamu bisa membebaskannya, kami sudah berusaha sekuat tenaga tapi tidak ada hasil. rantainya begitu kuat" Adam melihat El-Syakir
"akan aku coba" ucap El-Syakir
El-Syakir mencabut keris miliknya kemudian berputar dan menghantam keris itu dengan rantai yang mengikat tangan kanan Zulfan. saat itu juga rantai tersebut luruh ke lantai.
"berhasil" ucap Alana
"padahal kerismu kecil, tidak disangka kekuatannya begitu besar" ucap Deva
Zulfan telah di bebaskan berkat keris larangapati milik El-Syakir. mereka akan hendak kembali ke atas namun sekali lagi guncangan seperti gempa terjadi lagi membuat mereka saling berpegangan tangan. sementara Zulfan di gendong oleh Adam. arwah itu harus dibawa ke tempat yang aman.
"sebenarnya apa yang terjadi di atas. kenapa terjadi guncangan seperti gempa begini" ucap Deva
"kami pun tidak tau. bahkan pulau ini telah terbakar. kami datang ke sini setelah tau kalau kak Deva dan kak Dirga di sekap di sini. paman Zidan dan yang lainnya sedang bertarung dengan anak buah Baharuddin" jawab El-Syakir
"kita harus naik kembali ke atas membantu paman Zidan dan yang lain" ucap Melati
mereka semua setuju dan mulai melangkah untuk meninggalkan tempat yang gelap itu jika tidak ada obor sebagai cahaya penerangan.
__ADS_1