Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 217


__ADS_3

"ini benar kita akan berlibur...?" Alana dengan raut wajah berbinar mengguncang lengan Adam memastikan apakah kabar yang ia dapatkan benar atau tidak


"iya, memangnya kamu nggak mau...?" tanya Adam


"ya maulah, mau banget. kalau gitu Lana mau siap-siap dulu" dengan berlari Alana menuju kamarnya sementara ketiga kakaknya hanya geleng kepala


"coba kalau ada Zahra, dia pasti senang berlibur di pulau itu" ucap Deva


"pindahkan saja sekolahnya ke sini biar Alana punya teman" El-Syakir menimpali


"nanti deh aku pikir-pikir dulu bagaimana baiknya"


semuanya telah bersiap-siap bahkan semua barang-barang mereka telah di masukkan ke dalam mobil. tinggal menunggu kedatangan tim samudera yang lain.


saat ini mereka tengah berada di ruang keluarga bermain bersama Galang yang setiap harinya semakin aktif dan menggemaskan.


"kita kapan liburannya mas...?" Vania mendongak menatap suaminya


"kita kan rencananya mau berlibur ke LN sayang, pernikahan Edward dan Cecil tinggal menghitung hari" Zidan mengusap lembut kepala istrinya


"Mita, Thalita, sama Sisil ikut juga kan yang...?"


"aku juga belum tau. Mita kan lagi hamil besar, Thalita juga. kalau Sisil masih bisa diajak karena baru beberapa bulan"


"paman beritahu paman Edward datang di Indonesia bikin resepsi di sini juga. masa iya kami nggak bisa lihat dia menikah" Alana cemberut sebab sebenarnya dia ingin sekali menghadiri pernikahan dokter itu


"ya sudah kamu ikut saja sekalian" ucap Vania


"tapi Lana sekolah tante" Alana menjawab lesu


"berarti hanya ayah sama ibu yang pergi ya. wah asik tuh jalan-jalan ke LN" ibu Arini menggoda anak gadisnya itu


"ih ibu" Alana merengek


"nggak apa-apa, kakak juga kan nggak ikut jadi Alana masih punya teman di rumah. lagipula Zahra akan pindah ke sini jadi kamu nanti punya teman di rumah jika ketiga kakakmu ini nggak ada di rumah" El-Syakir merayu Alana


"Zahra benaran mau pindah ke sini kak Deva...?" mata bulat Alana beralih menatap Deva


Deva melotot ke arah El-Syakir. jawabannya tadi adalah dirinya akan memikirkan hal itu terlebih dahulu namun sekarang El-Syakir malah memberikan pengakuan lain kepada Alana.


"emmm itu...nanti kakak..."


"kalau Zahra pindah ke sini Alana bakalan senang banget. pokoknya Zahra harus pindah cepat ke sini ya kak, atau perlu kita jemput dia di desa Boneng"


Deva menghela nafas panjang. ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. bukan apa-apa, hanya saja ayah dan ibunya akan kesepian jika Zahra meninggalkan rumah. maka dari itu dirinya belum mengambil keputusan yang bulat.


"assalamu'alaikum"


"wa alaikumsalam"


tim samudera telah datang, Deva bernafas lega setidaknya ia terselamatkan dari pertanyaan Alana. mereka semua berpamitan kepada ayah Adnan, ibu Arini, Vania dan juga Zidan.


kalian menanyakan keberadaan Gibran...?


laki-laki itu lebih memilih untuk membangun usahanya sendiri. sebuah restoran yang kini telah berkembang pesat dan bahkan sudah mempunyai cabang di berbagai kota lain. tidak hanya di kota, di pulau milik Sanjaya pun restoran Gibran ada di sana. dirinya tinggal di sebuah apartemen dan tidak ingin tinggal bersama keluarga Sanjaya. bukannya masih membenci namun ia lebih memilih hidup mandiri tanpa bergantung kepada orang lain.


tepat saat tim samudera meninggalkan rumah, sebuah mobil putih datang dan berhenti di halaman rumah. Zidan dan Vania yang ingin masuk ke dalam rumah berhenti untuk memastikan siapa yang datang. ayah Adnan dan ibu Arini telah lebih dulu masuk ke dalam.


"Galang" seorang laki-laki yang keluar dari mobil langsung berlari menghampiri keduanya dan mengambil alih Galang di gendongan Vania


"mobil baru Gib...?" tanya Zidan


"iya paman, hasil keringat aku sendiri" Gibran tersenyum dan mencium pipi gembul Galang


setiap datang ke rumah maka Gibran akan bermain bersama Galang bahkan kadang mereka tertidur bersama di dalam kamar.


"tinggal nyonya Gibran yang mesti dicari ini. gimana, sudah ada calon belum...?" tanya Vania


"hehehe" Gibran cengengesan. Galang yang melihat Gibran hanya memperlihatkan gigi-giginya, membuat bayi itu tertawa dan bertepuk tangan. mungkin Galang berpikir jika Gibran mengajaknya bermain


"pasti masih jomblo" Zidan masuk ke dalam rumah meraih pinggang Vania. sedang Gibran mengikut menggendong Galang. mereka menghampiri ayah Adnan dan ibu Arini yang berada di ruang keluarga


"aku masih betah seperti ini paman. lagian aku juga kan masih muda" Gibran duduk di sofa dan Galang berada di pangkuannya


"kamu sama saja dengan Furqon dan Ardi, memang lah kalian cocok dipanggil trio jomblo. udah kemana-mana selalu bersama, jomblonya pun ikut nular"


"Galaaaaang....uncle ganteng datang" Furqon berlari dari pintu masuk terobos masuk ke dalam rumah"

__ADS_1


"panjang umur dia" ibu Arini tertawa pelan


"loh Gib, kamu di sini" Furqon duduk di samping Gibran dan akan mengambil alih tubuh gembul Galang


Ardi yang datang bersama Furqon memilih duduk di sofa lain.


"bos, aku minta kenaikan gaji dua kali lipat ya. semua laporan dan segala macam berkas aku yang kerjakan, Pram malah enak-enak di rumah. pecat saja dia" Ardi tanpa bernafas langsung mengeluarkan uneg-unegnya


"istrinya kan lagi hamil Ar, mengerti aja kenapa sih. lagian makanya cepat cari bini, supaya bisa merasakan yang enak-enak"


"elleh...kamu aja masih jomblo" cibir Ardi


"siapa bilang, aku udah punya calon" Furqon memberitahu dengan bangga


"ceileeeeh...mas kulkas 12 pintu udah punya calon. benar apa hoax nih" Gibran tidak percaya


"hoas" Galang bersuara dan bertepuk tangan


spontan semua orang tertawa karena yang menjawab pertanyaan Gibran adalah Galang. melihat semua orang tertawa, bayi berumur satu tahun itu ikut tertawa dan menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"hahaha, Galang aja tau kalau itu hanya hoax" Ardi terbahak-bahak


"benar sudah punya calon Fur...? jangan lama-lama menjomblo, nanti jadi perjaka tua" ucap ayah Adnan


"masih pdkt sih pak. doakan saja semoga dia wanita baik-baik" jawab Furqon malu-malu


"cih, kamu nggak cocok memasang wajah seperti itu. nggak nyambung dengan julukan yang kamu dapatkan dari para kaum hawa, mas kulkas 12 pintu" Gibran geli sendiri melihat ekspresi Furqon sekarang


"banyak komen kau" Furqon bangkit dan mengajak Galang bermain di taman belakang rumah. tidak mau ketinggalan, Gibran dan Ardi ikut bangkit dan menyusul Furqon


"sepertinya Galang sudah bisa punya adik lagi, banyak yang mengurus dia" ucap Zidan


"nggak usah aneh-aneh deh mas, Galang masih satu tahun, masih kecil" Vania memukul lengan suaminya


"kalau rejeki, ya jangan di tolak" ibu Arini menimpali dengan lembut


"gimana kalau kita produksi adik untuk ketiga anak kita bu" ayah Adnan tersenyum nakal


"ayah...malu ih" ibu Arini mencubit perut suaminya sementara Vania dan Zidan hanya tertawa melihat keromantisan suami istri yang tidak lagi muda itu


saat ini tim samudera telah berada di dermaga tempat penyeberangan untuk ke pulau wisata. sebuah kapal telah siap untuk mengantar mereka semua. satu persatu mereka naik ke dalam kapal. mereka lebih memilih kapal yang mengangkut penumpang lain. padahal kapal pribadi telah di siapkan untuk mereka namun mereka menolak dengan alasan ingin merasakan bagaimana berada dalam satu kapal bersama penumpang lain.


"kamu senang sayang...?" tanya Deva yang berdiri di samping Melati


"senang banget. makasih ya udah ajak aku berlibur" Melati merangkul lengan Deva sedang Deva mengangguk dan tersenyum


semua orang menikmati pemandangan yang indah dari kapal tersebut. satu jam lamanya mereka telah sampai di dermaga pulau tersebut. semua orang mulai berbondong-bondong untuk turun. dari dermaga itu saja mereka sudah disuguhi dengan pemandangan yang begitu menakjubkan.


kini pantai yang dulu belum terjamah oleh tangan-tangan manusia, telah di sulap menjadi pantai yang indah. banyak orang-orang yang sedang bersantai di pantai itu.


tepat akan menginjakkan kaki di pasir putih yang lembut, sebuah tulisan menyambut kedatangan mereka. selamat datang di pulau samudera. tulisan yang berukuran besar dan berwarna-warni. samudera, nama yang diambil dari tim samudera. pulau itu Adam sendiri yang memberikan nama karena memang pulau itu adalah miliknya.


jika dulu hanya ada satu vila di tempat itu, maka sekarang sudah banyak vila penginapan yang tersedia. bahkan restoran pun ada di pulau itu. pemiliknya adalah Gibran Sanjaya.


bukan hanya restoran namun tempat bersantai dan untuk menikmati keindahan alam, juga tersedia di pulau itu.


beberapa orang telah menunggu mereka di dermaga dan mengantar mereka ke sebuah vila tempat mereka untuk menginap.


vila dengan halaman yang luas, dan juga sudah terhubung dengan pantai membuat mereka bebas terjun ke dalam air kapanpun mereka mau. bahkan di vila itu ada kolam renangnya.


"luar biasa pulau milik lu dam, amazing" Leo takjub luar biasa


mereka berkumpul di belakang rumah. dimana di tempat itu mereka dapat melihat pemandangan laut yang luas dan juga orang-orang yang sedang berenang dan menikmati indahnya liburan di pantai. ada sebuah jembatan yang dibangun untuk menghubungkan vila itu dengan air laut. mereka duduk di teras menikmati sapuan angin alam yang begitu sejuk.


setelah makan siang mereka memilih untuk istrahat karena malam nanti sudah pasti mereka tidak akan tidur.


setelah magrib, tim samudera memilih untuk makan di restoran milik Gibran. banyak orang yang sedang menikmati hidangan makan malam mereka di tempat itu. karena ingin menikmati makan di luar, mereka lebih memilih gazebo yang ada di luar dengan disuguhkan pemandangan malam dari arah pantai.


"dingin ya...?" El-Syakir melihat Seil memeluk dirinya


"iya, padahal udah pakai lengan panjang" keluh Seil


El-Syakir melepaskan jaketnya dan memakaikan di tubuh gadis itu.


"jangan protes" ucap El saat Seil hendak menolak


"terus kakak bagaimana...?"

__ADS_1


"aku lebih suka seperti ini" jawabnya sambil tersenyum


(ternyata cara romantisnya seperti ini) Seil senyum-senyum sendiri


semua makanan yang mereka pesan telah tersedia di atas meja. Adam merasa ada yang kurang dengan sajiannya dan ternyata ia tidak membawa minuman melati miliknya.


"aku ke vila sebentar ya" Adam bangkit dari duduknya


"mau ngapain dam...?" tanya Starla


"ambil minuman melati" Adam menjawab dan berlalu pergi


"aku ikut kak" El-Syakir melompat dari tempat duduknya dan menyusul Adam


"kenapa kamu malah mengikutiku"


"hanya ingin memastikan kalau kakak nggak akan meratapi nasib ditempat ini" El-Syakir berjalan di samping Adam


"ck, kamu pikir aku serapuh itu" Adam mencebik


mereka sampai di vila, El-Syakir menunggu Adam di halaman vila sementara Adam masuk ke dalam mencari minumannya yang memang ia bawa dan ia simpan di dalam kulkas. setelahnya ia kembali menyusul El-Syakir.


namun di ruang tengah, Adam menghentikan langkah karena dirinya merasa ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. ia pun menelisik ke segala arah, tidak ada sosok makhluk gaib satupun yang ia lihat.


"apa hanya perasaanku saja ya" gumamnya


Adam kembali melangkah dan saat itu ia merasa ada seseorang yang berada di belakangnya refleks dirinya menoleh. Adam menjatuhkan minumannya saat melihat siapa yang ada di depannya. sayangnya sosok itu perlahan-lahan menghilang seperti yang ia pernah temui sebelumnya. bahkan belum sempat Adam memegang tangan sosok itu namun sosok itu sudah lenyap seperti buih.


"aaaggghh"


perasaan kecewa, marah dan sedih berkumpul menjadi satu. El-Syakir yang kaget mendengar teriakan dari dalam vila langsung melesat masuk ke dalam.


"kak kamu kenapa...?" El-Syakir kaget melihat Adam meninju dinding sampai tangannya berdarah


El-Syakir menarik Adam untuk menjauh dari dinding namun Adam malah menyerang adiknya itu. kepalan tangan Adam El-Syakir tahan dengan tangannya dan kemudian memeluk kakaknya itu.


"sampai kapan kakak akan seperti ini terus"


"lepaskan, harusnya aku bisa menyelamatkannya bukan pasrah dan membiarkan wanita ular itu menghabisi jiwanya" Adam memberontak dan sekuat tenaga El-Syakir menahannya


"kak Dirga dengarkan aku" El melepaskan pelukannya


"pergi kamu, aku tidak butuh kamu"


"KAK DIRGA"


El-Syakir membentak dan seketika Adam terdiam. ia jatuh ke lantai dalam keadaan menangis pilu. El menghela nafas dan ikut duduk kemudian memeluk Adam.


"hilangkan perasaan bersalah itu kak, semuanya sudah takdir Tuhan. kakak sudah membunuh Sri Dewi, ratu Sundari pasti bangga sama kakak karena mengalahkan wanita itu. sampai kapan kakak akan seperti ini terus, ratu Sundari pasti tidak ingin kakak terpuruk terus seperti ini. hidup itu harus tetap dijalani kak"


El-Syakir mengelus punggung Adam mencoba menenangkan kakaknya itu. tim samudera yang merasa dua orang itu telah pergi terlalu lama, pada akhirnya ikut pulang namun mereka membawakan makanan untuk keduanya. tiba di vila, Adam telah terlelap di kamar sementara El-Syakir berada di ruang tengah.


"kenapa nggak balik lagi, ada masalah kah...?" tanya Deva


"dia kambuh lagi" jawab El


semua orang saling menatap dan hanya bisa menghela nafas. tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyembuhkan hati sahabat mereka itu.


"kakak makan dulu, nih kami bawakan makanan" Seil mendekat dan memberikan kotak makanan kepada El-Syakir


"terimakasih" dengan lesu El-Syakir mengambil makanan itu


pagi hari tepatnya pukul 8 pagi, Adam tengah bersiap untuk menemui klien yang akan bekerjasama dengan perusahaan Sanjaya grup. Adam pergi seorang diri, karena klien mereka itu tidak ingin ditemani oleh siapapun. dia ingin bertemu dengan Adam hanya berdua saja tanpa ada yang menemani mereka.


di pinggir pantai dengan angin sejuk yang menerpa wajahnya. Adam menunggu di tempat duduknya. lamunannya mengarah dimana dirinya begitu merindukan seseorang. berkali-kali Adam menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. pulau itu adalah saksi dimana dirinya harus berpisah dengan wanita yang ia cintai.


perasaan bersalah terus menghampiri setiap ia mengingat wanita itu. sudah setahun lamanya namun perpisahan itu masih membekas dihatinya sampai saat ini.


sudah hampir 30 menit menunggu namun klien yang ia tunggu tidak kunjung datang. Adam mendesah berat dan beranjak dari duduknya untuk meninggalkan tempat. hal yang paling ia benci adalah menunggu, apalagi sudah terlalu lama. namun langkahnya terhenti tatkala mendengar suara seseorang yang tidak jauh darinya.


"apakah kamu akan pergi tanpa ingin menemuiku...?"


langkah Adam terhenti, perlahan tubuhnya berbalik untuk melihat siapa kini yang sedang berbicara dengannya. jarak yang hanya terkisar satu meter, seorang wanita sedang tersenyum manis ke arahnya.


tubuh Adam menegang dan bahkan lidahnya kelu, sulit untuk mengeluarkan sepatah katapun.


wanita itu megikis jarak diantara mereka dan berdiri tepat dihadapan Adam. tatapannya berubah menjadi teduh dan senyuman hangatnya berubah menjadi sendu.

__ADS_1


"maaf telah membuatmu menunggu lama. kamu....masih menungguku kan...?"


__ADS_2