
Vino masuk ke dalam kamarnya ibunya. ia ingin memastikan keadaan wanita yang telah melahirkannya itu, apakah sudah membaik atau panasnya tetap tinggi.
mama Nifa dalam keadaan terlelap, Vino dengan pelan duduk di samping ibunya itu dan memegang keningnya.
"syukurlah panasnya sudah turun"
di tatapnya wajah cantik ibunya yang masih tetap terlihat muda meski sudah memiliki dua orang putra yang sudah dewasa dan remaja.
"andai wajah ini sekali saja tersenyum padaku" ucapnya dengan mata yang nampak mulai berair
setiap hari dirinya harus terus mendengar cacian dan makian dari ibu kandungnya sendiri. melihat wajah Vino saja sudah sangat membuat mama Nifa benci dengan anak itu, itulah sebabnya Vino selalu tidur di rumah El ataupun di rumah Leo.
dengan hati-hati Vino menyentuh tangan mama Nifa, merasakan bagaimana sentuhan tangan wanita itu yang selalu ia lakukan kepada Rain namun tidak dengan dirinya.
cup
satu kecupan ia daratkan di kening ibunya sebelum akhirnya dirinya keluar dari kamar. setelah pintu tertutup rapat, mama Nifa membuka matanya dan menatap pintu yang sudah tertutup.
"istrahatlah, aku keluar sebentar" ucap Randi setelah menyuapi Thalita dan wanita itu meminum obat
"kamu mau kemana...?" Thalita menahan tangan Randi yang bersiap untuk beranjak dari duduknya
"ada yang harus aku urus. kamu istirahat saja, atau tidur" ucap Randi melepas tangan wanita itu
"tapi kamu akan ke sini lagi kan. aku bosan sendirian"
"kalau urusanku sudah selesai aku akan kembali"
Randi beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu. sebelum membuka pintu, Thalita mengucapkan sesuatu.
"aku menunggumu"
Randi hanya berbalik sekilas kemudian membuka pintu dan melenggang pergi mencari El-Syakir yang sendirian di rumah sakit.
pegawai toko ayah Adnan semuanya berjumlah enam orang. tiga wanita dan tiga laki-laki. Galang mendapatkan perawatan insentif akibat lukanya yang cukup serius sedang kedua temannya hanya mendapatkan luka ringan, namun tentu saja tetap mendapatkan pengobatan.
cindi menangis histeris saat melihat mayat temannya Sintia yang dibawa ke kamar mayat. wanita itu tidak menyangka akibat ledakan itu dirinya harus kehilangan teman rekan kerja yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.
Sintia yang melihat cindi hanya tergugu tanpa bisa memeluk temannya itu. El menenangkannya cindi dan membawanya duduk jangan sampai wanita itu pingsan karena shock.
"minum dulu kak" El memberikan botol air minum kepada cindi
"makasih" cindi mengambilnya dan meminum sampai setengah airnya
"kasian Sintia. aku harus bilang apa kepada suami dan mertuanya" ucap cindi yang masih terus mengeluarkan air mata
"kakak kenal dengan keluarganya...?"
"dia sudah nggak punya orang tua. dia yatim piatu, kemudian menikah dengan suaminya dan sekarang tinggal bersama mertuanya" jawab cindi. Sintia hanya mampu mendengarkan di samping wanita itu
"Sintia baru saja beberapa bulan bekerja, mungkin baru sekitar sembilan bulan. dia datang ke kota agar bisa membantu suaminya mencari uang. setiap gajian, uangnya akan ia kirimkan ke suaminya untuk pembeli susu anaknya"
"tapi kenapa harus di kota. maksud aku kenapa dia yang harus merantau ke kota bukan suaminya...?"
"kakak juga nggak tau. sekarang aku bingung harus bagaimana, karena Sintia tinggal satu kos sama aku"
"kita tunggu ayah dulu kak, baru mengambil keputusan"
El juga bingung harus bagaimana sekarang. ia menatap Adam, hantu itu membalas tatapannya tanpa ekspresi. El ingin menceritakan apa yang ia lihat di toko tadi tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. ia beranjak untuk mengurus administrasi namun seseorang memanggilnya
"El" Randi memanggilnya dan mendekat
"paman"
"kamu sendirian...?"
"iya. aku sedang menemani para pegawai toko ayah yang baru mengalami musibah"
"sudah kamu urus administrasinya...?"
"belum om, ini aku baru saja mau pergi"
"tidak usah, biar om saja. kamu di sini saja"
Randi meninggalkan El yang sedang terbingung-bingung sendiri. darimana Randi tau kalau dirinya di rumah sakit dan juga Randi seakan sudah tau keadaan yang menimpa anak itu.
ting
pesan masuk di handphone El. ia merogoh benda itu dari kantung celananya dan melihat pesan siapa yang masuk.
grup tim samudera :
Leo : jadi keluar nggak...?
starla : gue sih ok
Vino : jadi, kebetulan kak Rain sudah pulang jadi sudah ada yang jagain nyokap gue
El : kayaknya nggak bisa deh, gue baru saja ngalamin musibah
__ADS_1
starla : musibah apa, elu kenapa...?
Leo : elu kenapa El...?
El : toko bokap gue baru saja mengalami ledakan, semuanya hancur rata dan sekarang gue sedang di rumah sakit
Vino : kok bisa, bagaimana ceritanya...?
Leo : terus elu nggak kenapa-kenapa kan, elu baik-baik aja kan...?
El : gue baik, cuman pegawai ayah aja yang jadi korban dan ada yang meninggal
Vino : innalillahi, gue ke rumah sakit sekarang
Leo : gue otw
starla : jemput aku sayang
Leo : ok yayang
Vino : ke gue itu woi, main ok aja lu 😡😡
Leo : 🤪🤪🙏
ayah Adnan datang bersama Zidan, dan juga Helmi. pria baya itu langsung menghampiri El-Syakir yang sedang duduk bersama cindi.
"bagaimana El...?" tanya ayah Adnan
"sudah di tangani dokter yah. bang Galang sudah di pindahkan ke ruang perawatan, kak Azam dan kak Dani juga. tinggal mayat kak Sintia yah, bagaimana...?"
"eh tunggu, ayah kok bisa datang bersama paman Zidan paman Helmi...?" kening El mengkerut
"mereka kan rekan" ucap Adam di samping cindi bersama Sintia
(*rekan, apa maksudnya...?) batin El bingung
(apa ayah juga telah saling kenal dengan paman Randi karena pria itu tiba-tiba saja sudah ada di sini*...?)
"nanti ayah jelaskan, sekarang kita harus urus terlebih dahulu mayat Sintia. cindi kamu mempunyai nomor keluarganya karena yang saya tau Sintia tinggal bersamamu...?"
"ada pak, tunggu aku carikan"
cindi mengambil handphonenya dan mencari nomor suami Sintia di handphonenya karena waktu itu Sintia pernah menghubungi suaminya memakai handphone cindi.
ayah Adnan mencatat nomor itu di handphonenya dan mulai melakukan panggilan namun tidak tersambung. berulang kali ayah Adnan menghubungi namun lagi-lagi tidak tersambung.
"apa ada nomor keluarganya yang lain...?" tanya ayah Adnan
"tidak tersambung. kamu tidak memiliki nomor keluarganya yang lain...?"
"tidak pak, aku hanya punya nomor itu, nomor suaminya" jawab cindi
"lalu bagaimana kita akan mengabari mereka kalau tidak bisa dilihat hubungi" ayah Adnan menghela nafas
"sebaiknya di kuburkan saja di sini mas, untuk keluarganya nanti dihubungi lagi dan diberikan penjelasan" ucap Zidan memberi solusi
"kamu nggak tau nomor mertuamu ataukah mungkin nomor lain suamimu...?" tanya Adam kepada Sintia
"suami aku hanya Mempunyai satu nomor, nomor yang disebutkan cindi tadi. kalau nomor mertuaku aku juga nggak tau. mau cari handphone ku, benda itu sudah hancur dengan tanah" jawab Sintia
"bawa saja jasadku ke kampung, aku akan memberitahu alamat rumahku di sana" ucap Sintia
El yang mendengar percakapan dua hantu itu mengusulkan untuk membawa mayat Sintia di kampung namun ayah Adnan menolaknya.
"kalau kita bawa tanpa pemberitahuan, bisa-bisa mereka shock dan menuntut kita. sebaiknya kita makamkan saja di TPU dan setelahnya nanti ayah yang akan ke kampungnya untuk memberitahu suaminya" ucap ayah Adnan
akhirnya mereka semua menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman jasad Sintia. Randi yang baru saja datang langsung ikut serta. Tim samudera pun ikut turut serta mengiringi Sintia ke rumah terakhirnya.
Sintia tergugu di pusaranya sendiri, wanita itu memegang batu nisan yang bertuliskan namanya sendiri.
cindi duduk dan memegang batu nisan itu namun tangannya ia tarik seketika karena merasakan hawa dingin saat menyentuh batu nisan itu. bagaimana tidak, ia bersentuhan dengan tangan Sintia.
"aku pulang ya Sin, kapan-kapan aku datang menjenguk kamu lagi" ucap cindi serak dan mata yang bengkak
semuanya meninggalkan kuburan Sintia. ayah Adnan kembali ke rumah sakit bersama Zidan dan Helmi. El dan juga sahabatnya kembali ke rumah bersama dua hantu Adam dan Sintia.
"toko melatiku mana. kamu ini hanya membuai belaka, dasar buaya" cebik Adam yang kesal karena Leo tidak menepati janjinya. hantu itu lebih memilih di boncengan Leo karena ingin menagih janji
"kadal sekalian"
"sama aja, mereka adek kakak. saudaramu" cebik Adam
"elu bilangin gue buaya kayak gue mainin hati lu aja" timpal Leo melirik Adam di kaca spion motornya
"ember kamu mainin hati aku. sekarang aku sedang tersakiti tau nggak. ku menangiiiiis membayangkan" Adam mulai lagi dengan dramanya memasang wajah sedihnya yang tersakiti
"nanti gue perlihatkan toko melati yang elu mau tapi bukan sekarang, karena sekarang kita punya tugas lagi" ucap Leo
"benar ya, nggak bohong kan. kalau bohong di gigit kambing ompong" celetuk Adam
__ADS_1
"nggak kok nggak bohong. apa sih yang nggak buat elu"
"hehehehe, sayang kamu banyak-banyak" Adam memeluk leher Leo membuat si empunya teriak
"jangan kencang juga kali dam, elu mau gue mati"
"mati aja, biar aku punya teman. Ayuk mati yuk. mau mati dengan cara apa. mata melotot, lidah keluar, kejang-kejang, gantung diri, ditindas mobil atau......." jawabnya enteng
"stop.... stop, ngeri gue dengarnya" Leo menggeleng kepala. ngeri ia mendengar celotehan hantu yang bonceng di belakangnya
"oh atau, aku......."
"stop adaaaaam. gue batalin ya toko melatimu" ancam Leo
"iya iya, aku diam" Adam menutup rapat mulutnya
esok harinya ayah Adnan akan pergi ke kampung Sintia. El dan para sahabatnya memaksa ikut dengan alasan ingin melihat pemandangan perkampungan padahal tujuan mereka sebenarnya jelas bukan itu.
Randi dan Helmi sebagai pengawal ayah Adnan turut ikut. mereka tidak ingin sesuatu hal terjadi di perjalanan karena saat sekarang adalah situasi yang tidak aman untuk mereka. untuk Thalita, Randi telah menyuruh pengawal lain untuk menjaganya, lagipula dia berpikir tidak ada yang akan mengincar wanita itu.
El tentu saja merasa heran melihat Helmi dan Randi yang datang ke rumahnya. banyak pertanyaan yang terlintas di kepalanya namun ia akan menanyakan itu semua setelah kembali dari kampung Sintia.
Helmi yang mengemudi dan Randi duduk di sampingnya. ayah Adnan berada di tengah bersama El dan Leo sedangkan di tempat belakang Vino dan starla.
mau tau dimana Sintia dan Adam...? kedua hantu itu nangkring di atas mobil karena tidak mendapatkan tempat di dalam.
"kita seperti anak tiri saja yang diungsikan" ucap Adam kesal
"maaf ya, gara-gara aku kamu jadi panas-panasan seperti ini" Sintia tidak enak hati
"nggak apa-apa. pulang nanti aku akan mandi kembang tujuh rupa, pakai lidah buaya dan minyak goreng zaitun"
"minyak zaitun, mana ada minyak goreng zaitun" ralat Sintia terkekeh
"sama aja. yang namanya minyak pan dipakai menggoreng" ucapnya yang terus mengunyah melati
hantu itu mau di atas mobil karena El menyogoknya dengan sekantung melati. kalau sudah melati, tentu dia tidak akan menolak.
hampir sekitar enam jam perjalanan, setelah mereka melewati jalan yang bagus kini akhirnya mereka sampai di kampung Sintia. masih gapuranya yang terlihat karena ternyata masih harus masuk jauh ke dalam lagi.
yang tadinya jalanan lumayan mulus kini mereka harus melewati jalan yang penuh kerikil. hanya beberapa menit saja, terlihatlah rumah warga yang tinggal di ujung kampung.
mobil berhenti di kerumunan bapak-bapak yang sedang bermain catur. Helmi keluar untuk menanyakan rumah Sintia.
"permisi pak, saya mau numpang tanya" ucap Helmi
"tanya apa mas...?"
"rumah Sintia dimana ya...?"
"Sintia yang mana karena ada dua orang yang bernama Sintia" jawab mereka
"tunggu sebentar saya tanyakan dulu Sintia yang mana"
Helmi kembali lagi ke mobil dan menanyakan nama asli Sintia atau nama suaminya agar warga dapat mengenalinya.
"bilang saja Sintia istrinya bang Kumar, menantunya ibu Lilis" ucap Sintia kepada El
"Sintia istrinya bang Kumar paman, menantunya ibu Lilis" ucap El memberitahu Helmi
"tau darimana El...?" tanya ayah Adnan
"cindi yang memberitahu El kemarin yah" bohong El-Syakir
Helmi kembali ke kerumunan bapak-bapak tadi yang ternyata sedang memperhatikannya sejak tadi.
"Sintia istrinya bang Kumar, menantunya ibu Lilis. kira-kira rumahnya dimana ya...?"
mendengar nama yang di sebutkan, bapak-bapak itu saling pandang satu sama lain.
"Sintia pulang ya...?" tanya salah satu bapak yang bermain catur
"eemmm, nggak pak. saya hanya ada perlu sama. kira-kira rumahnya dimana...?"
"lurus saja sampai depan masjid, belok kiri. rumahnya di samping masjid cat warna merah"
"terimakasih pak. mari" Helmi undur diri
"gimana Hel...?" tanya Randi
"samping masjid" jawabnya
Helmi segera menjalankan mobilnya kembali, setelah di depan masjid ia mengambil jalan kiri dan terlihat lah rumah yang dimaksud. namun rumah itu ramai orang di depannya, seperti sedang mengadakan hajatan.
"ada yang menikah kah, rame bener" ucap Randi
mereka semua turun dari mobil. orang-orang yang berada di tempat itu saling berbisik menanyakan siapa yang datang, sepertinya ibu Lilis mengundang tamu dari jauh.
Sintia yang melihat banyak orang di depan rumah mertuanya segera melayang masuk ke dalam. Adam mengikutinya, ingin melihat ada acara apa. tiba di dalam, Sintia mematung melihat suaminya tengah duduk di depan penghulu bersama seorang wanita yang berpakaian pengantin. rupanya suaminya Kumar akan melangsungkan pernikahan.
__ADS_1
"dasar laknat" teriak Sintia dengan kerasnya