Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 77


__ADS_3

setelah sarapan, mereka menuju ke sungai untuk membersihkan diri. jelas saja di sungai karena di hutan seperti itu tidak ada kamar mandi untuk dijadikan tempat membersihkan diri dan membuang hajat.


Nisda dan starla tentu tidak bersama para lelaki, kedua gadis itu bersama Dian dan Indri pergi ke tempat yang dijadikan para wanita untuk mandi.


mereka membuat semacam kamar mandi dadakan, dari kayu dan berdindingkan terpal tanpa atap. wanita memang memelurkan kamar mandi meski hanya seadanya.


dua kamar mandi seadanya untuk peserta kemah perempuan, dan para lelaki jelas bisa mandi di tempat yang terbuka.


"ini apa...?" tanya Adam mengambil produk yang dipakai oleh Vino


"sabun wajah" jawab Vino yang telah merendamkan dirinya di sungai


"membersihkan wajah dari jerawat dan kulit berminyak. wah....aku mau aku mau" ucap Adam saat telah membaca kegunaan dari produk itu


"ngapain pakai begituan, emang hantu bisa pakai" tanya Leo


"bisa lah. memangnya kalian pikir hanya manusia yang bisa perawatan, hantu juga bisa kelles" jawab Adam


hantu itu segera menuang sabun itu di telapak tangannya dan membasahinya dengan air, menggosok sampai mengeluarkan busa. setelahnya ia balurkan di wajahnya.


"hihihihi....aku harus memakai ini setiap hari agar kulitku kinclong bebas jerawat" tampak Adam menggosok wajahnya


hyaaaaaa


byuuurrr


Adam melompat terjun ke dalam air membuat percikan air langsung mengguyur wajah El dan Bara.


"kampret lu" teriak El dan Bara mengusap wajah mereka


"kenapa, mau marah. kualat nanti kalian mengumpat orang yang lebih kakak dari kalian" ucap Adam berenang-renang seperti bebek


"yang ada kakak yang kualat, dasar" gerutu Bara


"eh...melawan, mau jadi maling kandang kamu" ucap Adam


"maling Kundang, iya kali aku jadi maling kandang" kesal Bara


"sama saja, ada kata dang dangnya juga" timpal Adam yang kembali menuang sabun Vino ke tangannya


"aku suka sabun ini, buat aku aja ya" lanjut Adam


"terus gue pakai apa kalau elu ambil" jawab Vino


"pakai sabun rinso, dijamin wajahmu makin putih bersih terbebas dari noda membandel" jawab Adam asal


"elu kate gue cucian. gue Gibas juga lu lama-lama" ucap Vino geleng kepala


Adam tidak menghiraukan ocehan Vino yang mulai menggerutu karena sabun wajahnya sudah berapa kali dipakai oleh hantu itu.


hiyaaaaaa


byuuurrr


"adaaaaaam"


El dan Bara mengejar hantu itu yang sedang berusaha melarikan diri dari kejaran keduanya. mereka bermain air seperti anak kecil yang senang bermain air. tawa mereka terdengar keras di sungai itu. mereka memilih tempat yang sedikit jauh dari tempat peserta lain yang sedang mandi di sungai itu.


Nisda dan starla yang sudah selesai mandi langsung menuju tenda mereka. sedangkan Dian dan Indri baru saja menggantikan mereka masuk ke kamar mandi.


di jalan menuju tenda mereka berpapasan dengan Nabila dan Zahra, gadis yang disebutkan oleh Dika tadi pagi.


Nabila dan Zahra tersenyum ramah kepada mereka berdua, kedua gadis itu membalas senyuman mereka.


"mau mandi kak...?" tanya starla. ia memanggil keduanya dengan sebutan kakak karena kedua gadis itu adalah kakak kelas mereka


"iya, kalian sudah...?" tanya Zahra


"sudah kak" jawab starla


Nisda bersikap ramah dan sopan kepada keduanya, gadis itu teringat dengan perkataan Adam tadi pagi.


"kalau nggak ingin tersingkir maka rebut kembali hati Bara"


"Bara nggak akan tergoda sama cewek lain karena dia cuman sayang sama gue"


"seyakin itu...?


"iya lah, Bara itu sayang banget sama gue, dia nggak pernah dekat dengan cewek lain selain gue"


"hummm gitu ya, tapi kenapa di bus kemarin Bara mutusin kamu"


"elu kok bisa tau"


"aku kasi tau ya, tidak selamanya perasaan itu akan sama apalagi jika sudah pernah disakiti, meskipun rasa itu masih ada tapi nggak akan sebesar dulu. kamu pernah menyakiti hati Bara dengan memutuskan dirinya secara sepihak dan mengejar Vino. daripada mengharapkan dirimu yang masih mengharapkan cowok lain, lebih baik dia putuskan kamu. bukan karena dia nggak sayang lagi sama kamu tapi karena dia nggak ingin perhatiannya sia-sia"


"jelas sekarang dia akan berpikir untuk mencari cewek yang bisa memberikan kasih sayang untuknya dan membalas perasaannya. dan sepertinya Nabila cocok untuk Bara"


"elu mendukung cewek itu dekat dengan Bara, jahat banget sih lu"


"makanya tunjukkan kepada Bara kalau kamu masih pantas untuk terus bersamanya. jangan lihat sisi buruknya saja, lihat juga kebaikannya selama ini"

__ADS_1


"terus gue harus apa dong...?"


"bersikap biasa saja, tunjukkan keramahan mu kepada gadis yang bernama Nabila itu dan juga tunjukkan perhatian mu kepada Bara"


Nisda terus mengingat perkataan Adam, meski ia merasa tidak suka dengan Nabila tapi ia tetap harus bersikap ramah. ia tidak ingin karena sikap juteknya membuat Bara enggan untuk bersamanya lagi. dirinya harus bersaing elegan untuk merebut kembali mantan pacarnya itu.


pukul 9 pagi, mereka mulai menerima materi kembali dari para pembina, guru mereka di sekolah. semua peserta kemah berkumpul dalam satu tenda yang dijadikan untuk tempat mereka menerima ilmu dari perkemahan itu.


pukul 11 siang, mereka semua istrahat dan menunggu waktu dzuhur. setelahnya mereka makan siang dan kemudian mengistirahatkan diri di tenda masing-masing karena sore nanti mereka akan mencari kayu bakar di dalam hutan untuk membuat api unggun.


"Di, dari tadi pagi elu diam-diam terus, nggak seperti biasanya. ada apa...?" tanya Indri


"nggak kenapa-kenapa" jawab Dian yang duduk membelakangi mereka


"ya sudah, gue mau bikin kopi nih. kalian mau nggak...?" tanya Indri


"mau dong" jawab starla


"gue juga mau" ucap Nisda


Indri keluar tenda menuju dapur umum mereka untuk membuat kopi. sementara Indri pergi, Dian belum juga membalikkan badan menghadap ke arah mereka.


"Dian, elu lagi makan ya...?" tanya Nisda karena mendengar Dian sedang mengunyah makanannya dengan suara keras


"Di, elu makan apa...?" tanya Nisda lagi


"dia kok jadi aneh sih. suka ngelamun sendiri terus kalau ditanya nggak jawab" bisik starla


"lagi malas ngomong mungkin" jawab Nisda dengan berbisik pula


"hihihihihi"


"nyam...nyam...nyam"


starla dan Nisda saling pandang mendengar suara tertawa gadis yang ada di depan mereka, suaranya mirip tertawa mba kunti. bahkan Dian begitu menikmati makanan yang mereka tidak tau apa yang dimakannya.


"Dian" starla memegang bahu gadis itu


Dian refleks berbalik. namun saat berbalik betapa kagetnya starla dan Nisda saat melihat mulut Dian yang dipenuhi oleh darah. matanya tajam menatap keduanya, di tangannya gadis itu memegang bangkai binatang yang sudah membusuk, bahkan isi di dalam perutnya telah berceceran di tikar alas mereka.


"grrrrrrrr... hihihihi" Dian tertawa dan tersenyum menyeringai


"hueeek... hueeek" starla dan Nisda keluar dari tenda dan memuntahkan semua isi perut mereka


El dan kawanannya yang baru saja pulang dari sungai langsung menghampiri keduanya saat melihat kedua gadis itu muntah-muntah.


"sayang...kamu kenapa...?" Vino menghampiri starla dan memijit tengkuknya


"kalian kenapa bisa muntah seperti ini. habis makan apa...?" tanya Leo


"d-di dalam....D-Dian" starla berucap gagap, dirinya terduduk lemas di rerumputan


"kenapa dengan Dian, ada apa...?" tanya El


segera Adam masuk ke dalam tenda untuk melihat apa yang terjadi dengan Dian. gadis itu terlihat membelakangi pintu masuk.


"siapa kamu...?" tanya Adam dengan dingin


"hihihihihi" Dian tertawa cekikikan


"aku tanya siapa kamu" teriak Adam


grrrrrrrr


Dian berbalik menghadap ke arah Adam, mulutnya penuh dengan darah bangkai binatang yang ia makan tadi. Dian tersenyum menyeringai menunjukkan gigi-giginya yang berubah warna menjadi merah.


"astaghfirullah, Dian kenapa bisa jadi begitu" El yang masuk ke dalam tenda kaget melihat Dian


grrrrrrrr...


Dinda melompat menyerang El-Syakir, membuat keduanya terjatuh di tanah di depan tenda. gadis itu mencekik El, dengan cepat Adam menarik kuat Dian dan menghempasnya jauh.


"eh kenapa tuh" seorang siswa menunjuk Dian yang terlempar


"kita lihat ayo" ajak teman yang lainnya


grrrrrrrr


Dian melompat lagi menyerang Adam namun hantu itu menendang Dian sehingga gadis itu mengenai tenda peserta kemah yang lain.


semuanya berteriak keras, mereka melihat Dinda melompat namun kemudian terpental padahal itu semua karena Adam yang menendangnya.


"loh, Dian kenapa...?" tanya Indri yang baru saja datang dengan dua gelas kopi di tangannya


"sepertinya dia kesurupan" ucap Bara


"kesurupan...?" Indri nampak kaget


"jangan ikut campur kamu makhluk sialan" tunjuk Dian ke arah Adam yang ada di depan El-Syakir, berdiri menjadi tameng bagi remaja itu.


saat Dian menunjuk Adam, semua orang melihat bahwa gadis itu menunjuk ke arah El-Syakir.

__ADS_1


"kamu menyakiti adikku, tentu aku akan ikut campur" jawab Adam


deg


deg


jantung El-Syakir berdetak kencang saat mendengar ucapan yang keluar dari teman hantunya. darahnya berdesir, rasa hangat menjalari perasaannya. ada rasa yang tidak bisa ia ungkapkan. bukan perasaan jatuh cinta kepada lawan jenis tapi lebih ke perasaan kasih sayang sesama saudara.


"gadis ini milikku, dia akan segera menjadi milikku" ucap Dian


"gadis siapa yang dia maksud...?" tanya Bara


"dirinya sendiri. yang bicara itu adalah sosok yang merasuki Dian" jawab Leo


"hihihihihi..... dengar kalian semua, gadis ini akan menjadi milikku dan juga gadis yang berdiri di depan sana" Dian menunjuk Nisda yang sedang ketakutan


"g-gue takut" Nisda bergetar takut menatap mata Dian yang sedang menatapnya tajam


Bara menariknya dan memeluknya sehingga gadis itu tidak saling tatap dengan Dian yang sedang kerasukan.


semua siswa-siswi telah berkumpul satu tempat, ibu Rina, pak Lisman dan dua orang guru lainnya tengah menyaksikan kejadian itu.


"dia kerasukan pak. apa yang harus kita lakukan...?" tanya ibu Rina


pak Ali menyuruh siswa laki-laki untuk memegang paksa tangan Dian. Riki dan Wandi maju ke depan dan mendekati Dian. mereka memegang kedua tangan Dian meskipun gadis itu memberontak.


"aaaggghh" Riki berteriak saat Dian menggigit tangannya hingga berdarah, namun remaja itu tetap bertahan tidak melepaskan pegangannya.


"lepaskan aku.... kalian akan tau akibatnya jika berani kepadaku" teriak Dian memberontak


"elu nggak mau berbuat sesuatu...?" tanya El kepada Adam. ia merasa Adam harus membantu menyadarkan Dian


"pria itu bisa menyelesaikannya" jawab Adam. pria yang ia maksud adalah pak Ali yang menghampiri Dian dengan segelas air putih di tangannya


air itu dipercikkan ke tubuh Dian sehingga gadis itu teriak kesakitan hingga akhirnya tubuhnya lemah dan jatuh pingsan.


Dian diangkat oleh beberapa siswa dan dibawa ke tenda UKS. Indri segera mengikuti mereka begitu juga dengan El dan yang lainnya.


Dian dibaringkan di tikar seadanya, dan di selimuti. wajahnya yang penuh darah telah dibersihkan, gadis itu terlelap dan dibiarkan untuk istrahat.


"setelah di temukan pingsan, dia jadi aneh dan sekarang malah kerasukan. sebenarnya apa yang terjadi malam itu Nisda...?" tanya Indri


"gue juga nggak ingat apa yang terjadi, gue hanya mengingat sedang menunggu Dian dan setelahnya gue teriak setelah itu pingsan" jawab Nisda


"pasti ada penyebabnya kenapa sampai elu pingsan tapi masalahnya disini kita nggak tau elu melihat apa sampai elu nggak sadarkan diri bersama Dian" ucap El


"kita harus mulai waspada, tentu kalian yang sudah tau tentang hal yang berbaur mistis dapat merasakan kalau ada yang aneh dengan Dian" ucap Adam


"gue takut, tadi Dian bilang kalau gue akan menjadi miliknya. gue benar-benar takut" Nisda tidak merasa tenang


"ada aku yang akan jagain kamu. nggak akan aku biarkan siapapun nyakitin kamu" Bara menenangkan Nisda


"tenang saja, selama aku bersama kalian, nggak akan aku biarkan makhluk manapun yang berusaha mencelakai salah satu dari kalian. tetap tenang dan berdoa meminta perlindungan Tuhan" ucap Adam


"sekarang sebaiknya kalian istrahat agar sebentar malam dapat mempunyai energi yang cukup karena akan ada acara api unggun. kita juga harus mencari kayu bakar di hutan sore nanti." ucap Adam


"terus yang jagain Dian siapa...?" tanya starla


"kalian mau kembali ke tenda...?" tanya Indri


"iya, elu juga balik sana dan istrahat, biar Dian kami para lelaki yang menjaganya" jawab Leo


"baiklah, gue sebenernya ngantuk banget. ayo La, Nis" ajak Indri kepada kedua temannya


setelah ketiga gadis itu pergi, mereka mulai membuat lingkaran dan berlesehan di tikar. Adam duduk disamping Bara dan bersandar di pundaknya. El melirik hantu itu, dirinya merasakan seperti perasaan cemburu saat melihat keduanya begitu akrab.


"kemanapun kita pergi, pasti selalu saja ada masalah yang berbaur mistis. kehidupan kita nggak normal lagi seperti sebelumnya" ucap Vino


"nikmati saja, dengan begitu kalian akan mendapatkan pahala karena telah menolong arwah yang tersesat bahkan menderita" timpal Adam


"gue lebih suka seperti ini. karena menjalani hidup seperti ini lebih menantang dan gue bisa melihat kak Dirga setiap harinya. andai saja paman Zidan dapat melihat kakak, dia pasti akan sangat senang" timpal Bara


"pulang nanti kita main ke pantai lagi yuk, seperti yang pernah kita lakukan dulu saat kamu lulus SMP" ucap Adam tersenyum


"boleh tuh, aku juga pengen banget pergi bersama kakak seperti dulu" jawab bara antusias


"kalian nggak ngajak kita, sungguh t e r l a l u" cebik Vino


"kalau mau, ikutlah. lebih rame lebih bagus" ucap Adam


"iya kalian semua harus ikut. pasti lebih seru" timpal Bara


mereka saling bercengkrama di dalam tenda UKS. Adam bahkan tertawa renyah saat Bara mengingatkan hal-hal lucu yang pernah mereka lalui saat hantu itu belum mengalami musibah yang membuat dirinya terbaring koma di rumah sakit.


El-Syakir semakin cemburu melihat kedekatan Bara dan Adam. padahal ia tau kalau mereka berdua sudah sangat lama mengenal namun entah kenapa perasaannya merasa kecewa saat hantu itu lebih memilih bersenda gurau dengan orang lain dibandingkan dirinya. padahal ia bersama mereka di tenda itu namun El merasa tersingkirkan.


tanpa pamit, El-Syakir berdiri dan keluar meninggalkan mereka.


"El mau kemana...?" teriak Vino


"cari angin" jawabnya datar

__ADS_1


Adam menatap punggung El-Syakir yang menjauh dan tidak terlihat lagi.


__ADS_2