Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 165


__ADS_3

"apa kita hanya akan melihatnya saja tanpa membantunya...?" Bara bertanya saat melihat El-Syakir masih bertarung melawan ratu ular


"biar gue yang bantu, elu di sini saja" Leo berdiri memegang pedangnya dengan erat dan menghampiri temannya juga siluman ular itu


"perlu bantuan El...?" Leo hanya berdiri menonton saja


"nggak usah nanya bego, buruan bantu. udah capek nih gue" El menghindari setiap serangan sang ratu ular


Leo yang hendak menyerang ditahan oleh ratu ular. lidahnya yang panjang ia lilitkan di tangan Leo sehingga Leo tidak bisa menggunakan pedangnya.


melihat hal itu, El-Syakir tidak tinggal diam. ia melesat secepat kilat dan memotong lidah ular itu dengan keris saktinya.


lidah panjang itu terpotong dan jatuh di tanah. sang ratu ular berteriak, begitu melengking bahkan membuat telinga mereka sakit. namun yang terjadi selanjutnya, lidah itu menghilang dan seketika lidah sang ratu kembali utuh seperti semula.


"mustahil" Leo terperangah


"kenapa keris gue nggak mempan" El juga merasa heran


sssssss


"hahahaha, kamu pikir bisa memusnahkan ku dengan keris kecil mu itu. jangan mimpi anak muda"


"bagaimana ini El, kalau dia nggak mempan dengan kerismu, kita harus bagaimana. bisa celaka nih kita" Leo mulai cemas


(*kalau dia tidak mempan dengan sayatan kerisku, pasti ada kelemahannya untuk membuat keris ini melukai dirinya. tapi apa kelemahannya itu) El-Syakir terdiam menelisik siluman ular itu


(mikir El mikir, apa kelemahan siluman ular ini*)


"AWAS EL, LEO" Bara menerikaki mereka


bughhh


bughhh


El-Syakir dan Leo terkena sabetan ekor dari siluman ular itu. keduanya menghantam pohon dan mendarat kasar di tanah.


tidak sampai di situ, siluman ular itu menjulurkan lidahnya ke arah Leo dan melilit tubuhnya sedangkan ekornya melilit tubuh El-Syakir. lagi-lagi keduanya di lempar ke sembarang arah dan menghantam pohon kembali.


Bara yang sudah mulai pulih tenaganya langsung masuk ke arena pertarungan. ia membantu El-Syakir dan Leo untuk bangun. keduanya meringis menahan sakit. menghantam batang pohon yang besar jelas membuat tubuh siapapun merasakan sakit luar biasa. apalagi bukan hanya sekali tapi lebih dari itu.


"kita harus cari kelemahannya. perhatikan dimana titik lemahnya untuk kita serang" El-Syakir memegang dadanya yang terasa sakit


"sebaiknya kita kabur dulu dan bersembunyi, memeriksa kelemahannya dalam keadaan bertarung itu sama saja bohong" Bara memberi saran


sssssss


"aku sudah sangat tidak sabar untuk melahap kalian bertiga" lidahnya sesekali keluar


ratu ular itu kembali menjulurkan lidahnya, ketiga remaja itu menghindar. Leo bahkan menebas lidah panjang itu dengan pedangnya namun seperti kejadian tadi, lidah itu akan utuh kembali.


El-Syakir membaca mantra, keluarlah sinar cahaya putih dari kerisnya. ia menyerang siluman ular itu dengan sihir dari keris saktinya. satu serangan dari El-Syakir membuat ratu ular itu kesakitan. cahaya dari keris larangapati membuat tubuh ular itu terluka sepatu luka bakar di dadanya. masih meringis dengan kesakitannya, tiga remaja tim samudera itu melarikan diri dan bersembunyi untuk menyusun rencana.


sssssss


"aku akan benar-benar mencabik-cabik tubuh kalian dengan gigi tajam ku. beraninya anak-anak ingusan itu mempermainkanku" ratu ular begitu marah. luka bakar di lengannya ia sembuhkan sendiri. hanya hitungan detik, luka bakar itu hilang tanpa bekas.


siluman ular itu merayap di tanah mencari keberadaan ketiga remaja itu. sementara kini ketiganya bersembunyi di atas pohon.


"apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Leo


"berpikir" jawab El-Syakir


"otak gue mumet, buntu nggak bisa mikir" Bara sesekali memantau di bawah sana


"bantu gue berpikir, organ tubuh mana yang kalau kita lukai siluman ular itu nggak akan bisa menyambungnya kembali, seperti lidah yang kita potong tadi" El-Syakir meminta kedua temannya untuk berpikir


"bagaimana kalau kita potong ekornya" timpal Bara


"paling dia bisa menyambungnya kembali seperti hal yang ia lakukan kepada lidahnya" jawab Leo


"jangan memotong atau mengiris, tapi menusuk. menusuk sampai sedalam-dalamnya" ucap El-Syakir


"gue tau, kalau seperti itu kita serang jantungnya" Leo memberikan ide


"jantung...?" tanya Bara


"iya jantungnya. jika kita tidak bisa melukainya dengan sayatan keris larangapati, maka tancapkan keris itu tepat di jantungnya. jantung adalah organ tubuh makhluk hidup yang sangat berharga termasuk ginjal. hanya saja kalau ginjal kan ada dua, rusak satu maka satunya masih bisa berfungsi. berbeda dengan jantung, terluka jantungmu maka habis sudah hidupmu" Leo menerangkan


"ide bagus, kita serang jantungnya" El-Syakir setuju


"elu yang akan mengincar jantung siluman itu sedang gue dan Bara hanya bantu menyerang. saat dia lengah maka gunakan kesempatan itu untuk menusuk jantungnya" Leo menjelaskan strategi yang harus mereka lakukan

__ADS_1


sssssss


"dia datang" Bara berucap pelan. di bawah sana, siluman ular itu sedang mencari keberadaan mereka


"bersiap" El memberikan aba-aba untuk menyerang


"satu....."


"dua....."


sssssss, siluman ular melihat ke atas


"tiga, serang"


ketiganya meloncat dan menyerang. pertarungan kembali terjadi. tiga remaja tim samudera begitu bersemangat menyerang ratu ular itu.


ratu ular mengibaskan ekornya, Bara yang terkena dan menghantam pohon, El-Syakir dan Leo berhasil menghindar. Bara dililit menggunakan lidah panjang dari siluman ular itu, kemudian tubuhnya ditarik untuk mendekat di depan sang ratu ular.


"kali ini kamu santapan pertamaku"


ratu ular berubah menjadi sosok seekor ular yang sangat bersar. Bara bahkan sampai terperangah melihat ular besar itu. saat itu juga, Bara yang masih di lilit oleh lidah dari siluman ular, tubuhnya di lempar ke atas kemudian mulut ular itu menganga begitu besar untuk melahap Bara.


"BARA" Leo histeris melihat Bara akan ditelan oleh ular besar itu


El-Syakir menggunakan kerisnya untuk menyerang, cahaya putih melesat bertubi-tubi menyerang ular itu. ular itu kesakitan dan menghindari serangan dari El-Syakir. alhasil Bara mendarat di tanah bukan di perut siluman ular.


merasa marah karena El-Syakir menggagalkan rencananya untuk memakan Bara, ular itu menyerang El-Syakir. ia melilit tubuh El-Syakir hingga El-Syakir tidak dapat bergerak.


kesempatan kedua datang, ular itu membuka mulut untuk memakan El-Syakir, saat itu juga tongkat dari Bara ia lempar ke arah ular itu dan mengenai matanya. El-Syakir terlepas dari lilitan siluman ular. tidak menyia-nyiakan kesempatan, El-Syakir berlari dan memanjat ular besar itu, dan


"hiyaaaaaa"


jleb


jleb


jleb


tiga kali El-Syakir menghujam keris larangapati tepat di jantung si ular. seketika ular itu berubah menjadi seorang gadis kembali. ia memuntahkan darah segar dan akhirnya musnah menghilang. mereka berhasil mengalahkan ratu ular.


"El, Bara, Leo" Vino memanggil ketiganya


mereka bertiga berbalik, teman-teman mereka yang lain datang mencari mereka karena khawatir. ketiganya tersenyum dan jatuh ke tanah, mereka sangat lelah.


Alana memeluk El-Syakir, ia begitu khawatir dengan kakaknya itu. Leo, dipeluk oleh Vino. kemudian Alana berpindah mendekati Leo dan memeluknya.


"Lana takut banget kak Leo dan kak El kenapa-kenapa" Alana menangis di pelukan Leo


"kami baik-baik saja" Leo mengusap kepala Alana


mereka dibantu berdiri dan kembali ke tempat mereka semula. saat tiba di gazebo, ketiganya bersandar melepaskan lelah.


"kak Adam sama kak Deva mana...?" Zahra bertanya. sejak tadi gadis itu ingin bertanya namun ia tahan karena waktunya yang tidak tepat


"kami nggak tau. saat mencari Wulan kami memutuskan untuk berpencar, kami nggak tau dimana mereka berdua sekarang" El-Syakir menjawab


"terus bagaimana ini, mereka pasti masih di dalam hutan. kita harus mencari mereka" Zahra nampak khawatir dengan keadaan Deva


"tenang dulu Zahra, kita nggak boleh gegabah lagi. sebaiknya kita istrahat dulu setidaknya sampai El-Syakir, Bara dan Leo tenaga kembali terkumpul" Melati menimpali


"tenang gimana, kalau mereka berdua kenapa-kenapa gimana. ini hutan kak, banyak binatang buas dan juga makhluk halus" gadis itu meninggikan suaranya


"iya gue tau, tapi kalau seandainya kita masuk dalam keadaan mereka seperti ini bukannya itu membahayakan diri kita" Melati melihat ke arah ketiga temannya


"benar Zahra. di dalam hutan itu tidak bisa dimasuki sembarang orang. kami saja hampir mati diserang siluman ular" Leo menimpali


"siluman ular...?" Starla bertanya untuk memastikan


"iya, untungnya kami bisa mengalahkannya meskipun sudah babak belur" jawab El-Syakir


"kalian lebih memikirkan diri sendiri daripada kak Deva dan kak Adam. kalian benar-benar nggak punya hati" Zahra mulai emosi


"kalau kami nggak punya hati, untuk apa kami harus bersusah-payah mencari teman elu yang namanya Wulan itu. dia datang nggak diajak tapi mau sendiri. pas hilang kami harus bertanggung jawab. teman-teman kami sudah berusaha mencari. itu yang elu bilang kami nggak punya hati" Nisda meninggikan suaranya, membuat Zahra kaget dan menunduk takut


"bukannya kami nggak mau mencari kak Deva dan Adam, tapi harusnya elu lihat situasi kita juga seperti apa. Wulan saja belum ditemukan, di dalam hutan sana kita bisa mati kapan saja. elu mau yang lain ikut menghilang" Bara menatap Zahra dengan kesal, gadis itu membuat moodnya menjadi buruk


"mohon jangan bertengkar. kalau kita emosian, bagaimana bisa kita menyusun rencana untuk mencari kak Deva, kak Adam dan Wulan" Seil menengahi mereka


"Zahra, yang dikatakan mereka ada benarnya. sebaiknya, kita turun ke bawah dan meminta pertolongan kepada seseorang yang tau tentang seluk-beluk hutan ini" Seil melanjutkan ucapannya


"memangnya ada yang tau seluk-beluk hutan ini...?" tanya El-Syakir

__ADS_1


"ada kak, namanya pak Zainal. dia bisa dibilang orang yang berilmu dan tau tentang dunia gaib" Seil menjawab


"tapi rumahnya jauh, kalau dia nggak ada di rumah bagaimana...?" Zahra mulai merendahkan nada bicaranya


"nggak ada cara lain selain meminta bantuan kepada pak Zainal. urusan rumahnya jauh, kita bisa menjemputnya pakai mobil. sekarang kita turun saja. kek El, kak Bara dan kak Leo juga harus berganti pakaian. mereka bisa masuk angin" ucap Seil


"gue setuju sama Seil, kita turun saja dulu. lihat, hari sudah semakin sore, sudah jam 5 sore" Melati melihat jam tangannya


"ya sudah, kita turun sekarang" timpal El-Syakir


hanya mereka manusia yang berada di atas itu. kini mereka semua kembali turun kebawah tanpa Adam, Deva dan Wulan.


"kek kita mau kemana...?" Wulan gadis yang tim samudera cari kini sedang mengikuti kakek tua yang entah akan membawanya kemana


"ke rumah kakek" jawab kakek tua itu. di tangannya memegang dagangannya yang telah ia jajakan kepada Wulan


"apa masih jauh, aku sudah capek jalan" keluh Wulan


"sebentar lagi, saat kita melewati hutan bambu itu, kita akan sampai di kampung kakek"


"ini makanlah lagi agar tenagamu terisi kembali" kakek tua itu berhenti dan memberikan dua bungkus kue tradisional untuk Wulan


"harum sekali, pasti enak. aku makan ya kek"


"iya makanlah, habiskan" Kakek tua itu tersenyum penuh arti


kembali ke puncak Boneng, saat ini El-Syakir dan yang lainnya telah sampai di bawah. suasana di tempat itu sudah sangat sepi, para pengunjung tadi sudah pulang karena memang sekarang waktunya sudah menjelang malam.


warung makan di tempat itu pun sudah tutup, hanya ada satu yang masih terbuka. mereka mendekati warung makan itu.


"assalamualaikum" El-Syakir mengucapkan salam


"wa alaikumsalam" seorang wanita baya menjawab salam mereka


"loh, adek-adek ini kok belum pulang. ini sudah mau malam" wanita itu bertanya


"bu, boleh minta air minumnya...?" ucap El-Syakir


"boleh-boleh, ayo kalian semua duduk dulu. ibu buatkan minuman hangat" ibu itu bergegas ke dapur untuk membuat minuman


dari arah luar, seorang bapak-bapak masuk ke dalam. dia melihat ke arah El-Syakir dan yang lainnya.


"masih ada pelanggan juga bu. ini sudah menjelang malam" bapak itu suami dari ibu tadi bertanya


"iya pak, ini ibu lagi membuatkan minuman hangat" ibu itu membawa minuman jahe gula merah kepada pelanggannya, suaminya mengikutinya


"terimakasih banyak bu, mohon maaf kami merepotkan" ucap El-Syakir


"silahkan diminum"


mereka meneguk minuman jahe itu. terasa hangat saat melewati tenggorokan mereka.


"kalian ini kenapa belum pulang...?" tanya si bapak


"begini pak, kami sedang mengalami masalah" jawab El-Syakir


"masalah apa...?" tanya si ibu


"teman kami hilang di puncak atas sana" Leo menjawab


"astaghfirullah" pasangan suami istri itu mengucap istighfar


"bagaimana bisa hilang, apa yang terjadi...?" si ibu bertanya. nampak raut wajah tegang terlihat di keduanya


El-Syakir menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Wulan teman mereka hilang saat gadis itu izin untuk buang air kecil hingga beberapa jam gadis itu tidak kembali. El-Syakir memberitahu bahwa mereka telah mencari gadis itu ke dalam hutan, namun El-Syakir tidak memberitahu yang sebenarnya apa yang mereka alami di dalam hutan itu. mungkin mereka akan percaya dengan adanya pasar gaib dan siluman ular namun yang El-Syakir pikirkan, keduanya tidak akan percaya kalau mereka berhasil mengalahkannya siluman ular itu.


"begitu pak, bu, kejadiannya. bahkan kakak saya dan teman saya pun ikut menghilang saat mencari teman kami yang bernawa Wulan" ucap El-Syakir


"gawat ini pak, kita harus melakukan sesuatu" si ibu mulai gusar


"apakah teman kalian yang bernama Wulan itu sedang datang bulan...?" si bapak bertanya


"kalau itu kami nggak tau pak" Starla menjawab


"kita temui pak Zainal, sebelum terjadi sesuatu dengan teman-teman kalian. dua orang laki-laki ikut bersama saya yang lainnya tetap di sini"


"pak Zainal itu siapa pak...?" tanya Vino


"akan kalian tau nanti. bu, tutup rapat pintunya, nyalakan obor di sekeliling warung, jangan membuka pintu sebelum kami datang. ingat, jika ada yang datang mengetuk pintu tanpa mengucapkan salam, jangan sekali-kali ibu membukanya" si bapak berpesan kepada istrinya


"iya pak, kalian hati-hati" jawab si ibu

__ADS_1


Leo dan Bara menemani si bapak untuk menemui pak Zainal sementara yang lainnya tetap berada di tempat itu. perlahan mobil pickup yang mereka tumpangi meninggalkan puncak Boneng.


setelah kepergian suaminya bersama Bara dan Leo, si ibu bergegas keluar menyalakan obor di sekeliling rumah. setelah itu ia menutup pintu warungnya dan juga jendela. semuanya ia tutup rapat seperti pesan dari suaminya. menjelang malam, tempat itu semakin sepi, tidak ada seorangpun manusia lagi selain mereka yang masih berada di dalam warung.


__ADS_2