Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 42


__ADS_3

"gimana Ran, Zidan dan pak Adnan sudah menuju ke sini kan" tanya Pram


"iya. tadi aku telepon mereka masih singgah di restoran, dan sekarang dalam perjalanan ke sini" jawab Randi


"tidur dulu lah aku. capek banget, dari kota S langsung terbang ke sini. dari kemarin aku tidak tidur" Pram membaringkan tubuhnya di sofa empuk nan besar


"habis ngapain sampai tidak tidur segala" tanya Helmi


"kalian tau lah pekerjaan aku apa. harus stay 24 jam, itupun istrahat kecuali makan siang, sholat dan makan malam" jawab Pram dengan mata terpejam


"tapi sejauh ini keluarga pak Adnan baik-baik saja kan...?" Randi ikut bertanya


"iya, dan semoga sampai seterusnya akan terus baik-baik saja, kalau tidak, bisa tidak tidur aku" jawab Pram


"udah ah jangan tanya mulu Napa. aku mau tidur, kalau mereka datang, bangunin ya" Pram langsung masuk ke alam mimpi


Randi dan Helmi membiarkan saja Pram untuk istrahat sebentar sebelum bos mereka datang. kedua pria itu akhirnya hanya memainkan handpone mereka.


"Hel, menurut mu dia cantik tidak...?" Randi menunjukkan foto seorang wanita


"siapa nih, pacar kamu...?" Helmi bertanya balik


"masih pdkt sih, gimana menurutmu...?"


"emm...cantik sih, tapi emang dia orangnya baik...?" lagi-lagi Helmi kembali bertanya


"kalau itu aku juga tidak tau, kami belum pernah bertemu, hanya komunikasi lewat Instagram saja dan WhatsApp" jawab Randi


"orang mana...?"


"kota S juga"


"lah, satu kota tapi tidak pernah bertemu...gimana sih kamu"


"ya elah...kamu kan tau sendiri pekerjaan kita gimana. seperti yang dikatakan Pram, harus stay 24 jam...gimana mau kencan coba"


"iya juga sih. lama-lama kita jadi perjaka tua tau nggak saking tidak ada wanita yang kita kencani" timpal Helmi


"siapa yang ingin berkencan...?" Zidan datang bersama ayah Adnan


"dia"


"dia"


Randi dan Helmi saling tunjuk, membuat Zidan menyipitkan matanya ke arah mereka berdua.


"emang ada wanita yang mau sama kalian...?" goda Zidan


"sialan kau" Helmi melemparkan bantal sofa ke arah Zidan dan dengan cepat pria itu menghindar


"bukan masalah wanitanya, tapi masalah kami yang tidak punya waktu untuk berkencan" ucap Randi


"kalau begitu, kalian bisa menyuruh pengawal lain untuk menggantikan kalian berdua mengawal saya agar kalian punya waktu untuk berkencan" ayah Adnan ikut menimpali


"serius pak...?" tanya Randi


"tentu saja"


"asiiiik... Hel, jadi kencan kita woi" girang Randi


"kamu mah punya gebetan. nah aku, mau kencan sama siapa coba" ucap Helmi


"sama lekong yang kerja di salon mau...?" lagi-lagi Zidan menggodanya


"ish...kurang ekor kau" Helmi kembali melempar Zidan dengan bantal sofa


"sama Vania saja boleh...?" kali ini Helmi yang menggoda Zidan


"mau ku gantung di tiang listrik" ancam Zidan


"cih... kemarin-kemarin sok jual mahal, sekarang mau ditikung malah ngancam" cibir Helmi


karena Zidan dan ayah Adnan sudah datang, mereka membangunkan Pram yang masih terlelap dalam tidurnya.


pria itu merenggangkan otot-ototnya kemudian bangun dan mengambil posisi duduk.


"jadi apa rencana kita sekarang...?" tanya ayah Adnan


"seperti rencana kita dari awal, kita akan menculik Dirga kembali dan membawanya ke LN untuk menjalani perawatan yang lebih baik" jawab Zidan


setelah peristiwa penyerangan yang dialami oleh ayah Adnan dan kedua pengawalnya, Zidan pada akhirnya mengambil keputusan untuk menculik Zidan dari tangan musuh mereka.


pria itu berpikir, Dirga tidak boleh menjadi umpan dari semua ini. anak remaja itu harus dirawat dengan baik agar dia cepat bangun dari komanya dan untuk urusan lain jika nanti musuh kembali melawan maka dengan siap mereka akan melawan balik.


"semuanya sudah siap kan...?" tanya Zidan


"sudah, mereka tinggal menunggu perintah darimu" jawab Pram


"bagus. kita tinggal berangkat saja. pastikan mereka tidak mengetahui kita masuk ke pulau itu" ucap Zidan


"semuanya telah diatur, orang yang berjaga di penyebrangan sudah kita ganti dengan orang suruhan kita" jawab Helmi


"perfect. oh ya Pram, penjagaan untuk keluarga mas Adnan aman-aman saja kan...?" Zidan menatap Pram


"aman, aku menyuruh banyak pengawal untuk menjaga mereka namun tidak diketahui oleh keluarga pak Adnan. tapi ada satu hal yang ingin aku sampaikan" jawab Pram


"apa itu...?" semuanya menatap pria itu


"kamu tau kan, para remaja yang hampir kita tabrak saat mengejar penculik Dirga...?" tanya Pram


"iya, aku masih ingat. memangnya kenapa dengan mereka...?"


"ternyata salah satu dari mereka adalah anak dari pak Adnan"


"oh ya, siapa...?" Zidan penasaran


"anak saya...? kalian kenal dengan anak saya...?" kali ini ayah Adnan yang bertanya


"iya pak, kami pernah bertemu dengannya saat mengejar Dirga yang dibawa lari oleh penculik itu. kalau tidak salah namanya El-Syakir kan" ucap Pram


"iya betul, dia anak saya" jawab ayah Adnan


(El-Syakir....jadi anak itu adalah anaknya mas Adnan dan adik dari Dirga) batin Zidan.


"ternyata kalian sudah saling kenal dengan anak saya. dunia ini memang sempit ya" lanjut ayah Adnan


"aku tadi bertemu dia dengan teman-temannya di restoran tadi" ucap Zidan


"di restoran tadi, di kota ini maksudnya...?" ayah Adnan nampak kaget


"iya. memangnya mas Adnan tidak tau kalau mereka ada di kota ini...?" tanya Zidan


"sama sekali tidak. kemarin dia hanya pamit untuk ke rumah temannya. sedang apa mereka di kota ini. ya ampun El, apa yang kamu lakukan di sini nak" ayah Adnan mulai gelisah


"kalian...sedang apa kalian di sini. itu juga pakaian kalian berdua kenapa seperti orang kantoran begitu...?"

__ADS_1


"kami sedang menjalankan misi paman"


(sepertinya dia anak yang cerdas, tentu saja mas Adnan tidak diberitahunya, rupanya mereka datang kemari karena ada maksud dan tujuan penting) Zidan tersenyum kecil


"tenang saja mas. tadi aku bertemu mereka, dan mereka dalam perjalanan untuk kembali pulang ke kota S. ada orang dewasa juga teman mereka, sepertinya dia adalah salah satu orang tua dari temannya" Zidan berbohong agar ayah Adnan tidak khawatir meskipun ternyata benar ada orang dewasa yang menemani mereka yaitu pak Doni


"syukurlah, semoga mereka benar-benar pulang dan selamat"


mereka bersiap untuk ke pulau milik keluarga Sanjaya. namun sebelum itu ayah Adnan berpamitan untuk ke toilet sebentar.


"sebenarnya ada hal lain yang ingin aku sampaikan" ucap Pram


"kamu sepertinya punya banyak rahasia Pram" timpal Helmi


"apa itu, cepat katakan" ucap Randi tidak sabaran


"kalian tau kan aku tidak bisa mengawal keluarga pak Adnan semuanya. maka dari itu setiap dari mereka aku mengirim dua orang pengawal untuk menjaga mereka dari jauh. kecuali istri pak Adnan, aku sendiri yang mengawalnya" ucap Pram


"terus...?


"pengawal suruhan ku melaporkan setiap apa yang dikerjakan oleh yang mereka kawal dan kalian tau apa yang dilakukan El anak dari pak Adnan dan teman-temannya...?"


"apa...? tanya ketiga pria itu


"mereka membantu arwah yang meminta tolong kepada mereka" jawab Pram


"ngaco kamu" ucap Randi


"aku serius. El-Syakir anak pak Adnan mempunyai mata ketiga"


"mata ketiga, Dajjal dong' timpal Zidan


"ck... Dajjal pala kau" cebik Pram


"berani kamu ya sama aku. bulan depan gajimu dipotong 50%" ancam Zidan


"eh jangan dong...tega amat kamu sahabat sendiri" Pram memasang wajah sedih


"lanjut...lanjut" desak Helmi


"jadi El itu sebenarnya anak indigo. bukan hanya dia tapi semua teman-temannya dan yang lebih mengejutkan lagi, mereka sepertinya mempunyai teman gaib"


"setan...?" tanya ketiganya


"yah kalau teman gaib, jelas setan lah" jawab Pram


"informasi kamu ini, aktual tidak...?" ucap Zidan


"ck, sangat aktual dan tajam melebihi silet" jawab Pram serius


"kami sedang menjalankan misi paman"


(apa maksud dari misi mereka yaitu seperti yang dikatakan Pram ya) batin Zidan


"nanti kita lanjutkan yang itu. yang jelas sekarang tetap suruh pengawal untuk mengawasi mereka" ucap Zidan


"tenang saja, dua orang pengawal selalu menjaga mereka dimanapun mereka berada. kali ini pengawal suruhan ku sedang mengawasi El dan teman-temannya yang berada di rumah seorang sepasang suami istri setelah El dan teman-temannya membantu arwah putri sepasang suami istri itu kembali dengan tenang


"pengawal suruhan mu seperti indigo saja, sampai tau mereka membantu arwah" timpal Randi


"kalian tau Furqon kan...?' tanya Pram


"taulah...dia kan pria alim. aku suka berteman dengannya. dia belum lama bekerja dengan Zidan namun pembawaannya menyenangkan. mudah akrab dengan orang lain" jawab Helmi


"satu hal yang kalian tidak tau darinya" ucap Pram


"mana mungkin Furqon *******... ngaco kamu Ran" ucap Zidan


"terus apa dong"


"Furqon itu sama dengan El dan teman-temannya" jawab Pram


"sama-sama laki-laki maksudnya...?" ucap Helmi


puuukkk


"aw...sakit tau" ringis Helmi karena kepalanya di geplak oleh Zidan


"lelet banget sih otak mu... Furqon itu sama dengan El dan teman-temannya, maksudnya dia juga indigo, bisa melihat hal gaib" cebik Pram


"bilang dong dari tadi, nggak usah mutar-mutar segala, bikin bingung" ucap Helmi


"apa yang mutar-mutar...?" tanya ayah Adnan yang baru saja kembali dari toilet


"otak Helmi yang mutar-mutar pak, tingkat kehaluannya di atas rata-rata' ucap Randi


"kampret kau"


mereka semua meluncur ke pulau yang akan di tuju. tiba di penyebrangan, mereka menggunakan jet pribadi untuk menyebrangi lautan agar sampai di pulau tersebut.


"sembunyikan jet itu, agar mereka tidak melihatnya" ucap Zidan


"baik bos" Randi segera membawa jet tersebut ke tempat yang aman dan kemudian ia kembali lagi


mereka berjalan menuju ke tempat dimana pengawal mereka telah menunggu.


"kalian siap kan...?" tanya Zidan


"siap bos" jawab mereka semua


"bagus. sekarang kita ke sana. kita masuk ke dalam dan tembak siapa saja yang datang melawan. mengerti"


"mengerti bos" jawab semuanya


"jalan sekarang" Zidan memberikan arahan


mereka semua berjalan pelan ke rumah target. Zidan dan ayah Adnan serta ketiga pengawal mereka, berada di depan.


"ambil ini sebagai perlindungan" Zidan memberikan pistol ke ayah Adnan


dengan ragu ayah Adnan mengambil pistol itu dan memegangnya dengan erat.


cek lek


pintu di bobol dan di buka dengan pelan. semuanya masuk ke dalam dan berpencar untuk mencari keberadaan Dirga.


ayah Adnan bersama Zidan dan Randi, sedangkan Pram bersama Helmi.


"woi, siapa kalian. penyusup...ada penyusup' teriak seseorang yang melihat mereka


dor....


hanya satu tembakan membuat orang tersebut bungkam untuk selamanya.


Namum seketika suasana menjadi aksi saling tembak-menembak, karena para musuh yang mendengar suara tembakan langsung mengambil tempat dan menyerang.

__ADS_1


dor


dor


dor


Zidan dan Randi terus menembak siapa saja yang menghalangi jalannya. ayah Adnan berada di belakang dan mulai menembak musuh.


"Zidan, arah jam 3" teriak Pram


dor...


Randi langsung menembak target yang diteriaki oleh Pram.


"good job" Zidan menepuk bahu Randi


braaakkk...


setiap kamar yang mereka dapati di dobrak untuk melihat ke dalam, namun sampai sekarang Dirga belum juga mereka temukan.


"lantai dua" teriak Zidan


"siap" jawab Pram dan Helmi


"kyaaaaaaaa" dua orang berbadan besar menyerang Helmi dan Pram dan untungnya keduanya dapat menghindar dengan cepat


"kalian ke atas sekarang, biar kami yang mengatasi di bawah sini" teriak Helmi


"baik" jawab Zidan


Zidan, ayah Adnan dan Randi naik ke lantai dua. para pengawal mereka yang lain masih terus saling tembak-menembak dengan musuh.


"cih, maju kalian berdua" tantang Pram


dia dan Helmi sudah bersiap untuk melawan dua orang yang ada di depan mereka.


"buang senjata kalian. kita adu otot, tanpa senjata apapun. kita bertarung sampai mati" ucap salah satu dari mereka


"baik, siapa takut"


Pram dan Helmi membuang senjata mereka di tempat jauh.


"hiyaaaaaa...mati kalian" dua orang itu dengan semangat berapi-api menyerang Pram dan Helmi


braaakkk


braaakkk...


"Dirga" panggil ayah Adnan melihat anaknya terbaring di ranjang


Ayah Adnan dengan cepat menghampiri Dirga. ia peluk putranya itu dengan linangan air mata.


"nak, ini ayah" ayah Adnan membelai wajah Dirga yang terbujur kaku


Zidan melangkah mendekati jendela kamar. ia mendapati kain panjang yang menjuntai ke bawah dan ia melihat seseorang yang kabur di bawah sana.


"dasar pengecut" geram Zidan, melihat musuhnya melarikan diri


"aku akan mengejarnya" ucap Randi


"tidak perlu. suruh pengawal yang lain untuk menyiapkan helikopter dan menjemput kita di sini. siapkan tanah yang luas tanpa pepohonan"


"baik"


Randi segera menghubungi orang kepercayaan mereka untuk menyediakan transportasi yang mereka butuhkan.


"sudah bos, kita tinggal ke tanah lapang yang luas di belakang rumah ini" ucap Randi


"aku akan menggendong Dirga, siapkan tempat ternyaman untuknya selama kita menunggu" ucap Zidan


"baik"


ketiganya segera keluar dari kamar itu dengan Zidan menggendong Dirga. Randi dan ayah Adnan melindungi mereka dan menembak siapa saja yang berusaha mencelakakan mereka.


hyaaaaa


bughhh


bughhh


bughhh


"rasakan ini... bughhh'


Pram dan Helmi yang sudah babak belur pada akhirnya dapat mengalahkan dua orang yang berbadan besar tadi.


wajah mereka berdua sudah bengkak bahkan bibir mereka penuh dengan darah. baju Pram sudah koyak lantaran di robek oleh lawannya.


"Pram, Helmi...kita ke halaman belakang" teriak Zidan


"baik" jawab keduanya


kedua pria itu berjalan mendekat Zidan dan yang lainnya, namun kemudian Randi berteriak memanggil nama Helmi.


"Helmi awaaas" teriak Randi yang melihat seseorang berlari ingin menusuk Helmi dengan pisau tajamnya


dor


satu tembakan mendarat di kepala orang tersebut.


bughhh....


orang tersebut tumbang dengan darah kental mengalir dari kepalanya membasahi lantai.


ternyata ayah Adnan yang menembak pria itu. ia berhasil melindungi Helmi dari bahaya.


"terimakasih pak" ucap Helmi


"sama-sama, kita memang harus saling melindungi. kita pergi sekarang" jawab ayah Adnan


mereka pergi ke halaman belakang yang luas. hanya menunggu beberapa menit, helikopter yang di pesan Zidan datang menjemput mereka.


semua lawan mereka di tempat itu telah mereka habisi. Zidan memerintahkan pengawalnya yang lain untuk mengurus kekacauan di tempat itu dan menguburkan semua mayat di tempat itu.


"persiapkan pesawat pribadi, aku akan langsung membawa Dirga ke LN" ucap Zidan


"saya ikut" ucap ayah Adnan


"bagaimana dengan keluarga mas Adnan, istri mas bagaimana...?"


"saya dapat mengurus itu, yang jelas saya harus ikut dan saya tidak terima penolakan" jawab ayah Adnan dengan tegas


"baiklah, mas Adnan boleh ikut. dan untuk kalian bertiga...cari manusia brengsek itu sampai ketemu. kita tidak perlu berpura-pura lagi untuk tidak mengetahui perbuatan kejinya. dia harus membayar semua yang telah dilakukannya kepada kakak ku dan istrinya"


"baik bos" jawab ketiganya

__ADS_1


(akan aku habisi kamu mas Rudi. kamu harus membayar semuanya. nyawa harus dibayar nyawa) batin Zidan


__ADS_2