
perjalanan pulang kali ini cukup menegangkan. bagaimana tidak, Adam, El-Syakir, Deva dan Alana kini tengah memikirkan bagaimana keadaan Zidan dan Vania. bukan hanya mereka, tim samudera yang lainnya pun ikut khawatir.
Deva mengemudi dengan kecepatan sedang, meskipun dalam keadaan panik dan khawatir namun tetap saja mereka tidak bisa tidak memikirkan keselamatan dalam berlalu lintas.
sementara Bara mengikuti mobil Adam dari belakang. ia mencoba menghubungi nomor Pram namun kakaknya itu tidak mengangkat panggilannya.
sepanjang perjalanan pulang Adam hanya diam membisu tanpa bicara sepatah katapun. tidak ada yang bersuara, kali ini mereka seperti orang asing yang tidak saling mengenal.
Alana menangis dipelukan El-Syakir, ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Zidan dan Vania apalagi tantenya itu sedang mengandung.
"kak lebih cepat lagi, kenapa lelet sekali" akhirnya Adam bersuara
"di jalan ini yang berkendara bukan hanya kita Ga, keselamatan kita dan pengendara lain itu lebih penting. kakak tau kamu cemas, sama kami pun cemas tapi tidak dengan melakukan sesuatu yang dapat menyelakai kita nantinya. yang ada bukannya kita selamat sampai tujuan tapi kita malah menambahkan beban ayah Adnan dan ibu Arini. apa kamu mau mereka jantungan melihat ketiga anaknya tewas dalam kecelakaan" Deva berbicara panjang lebar agar Adam bisa mengerti bahwa sekalut bagaimanapun pikiran kita, kita tetap harus bertindak sebaik mungkin
Adam tidak menjawab, ia hanya melihat ke luar jendela dan mengepalkan tangannya dengan erat. perasaan marah, benci dan dendam yang sudah lama ia pendam kini seakan ingin meledak seperti bom yang dapat menghancurkan semuanya.
"dek" Deva memegang tangan Adam yang ia kepalkan
Adam menoleh dan menatap sayu mata Deva. sudut matanya mulai berair dan perlahan air mata itu jatuh membasahi pipinya.
"paman akan baik-baik saja kan kak...?" tanya Adam menahan tangis
Deva menepikan mobilnya kemudian mematikan mesinnya. setelah itu ia menarik Adam dan memeluknya. di situlah tangis Adam tumpah seketika, bahkan ia yang selalu tengil dan membuat onar kini bagaikan anak kecil yang dipeluk dan ditenangkan oleh kakaknya.
El-Syakir serta Alana pun ikut menangis. Seil dan Melati pun ikut menjatuhkan air mata kala melihat kesedihan yang ketiga saudara itu alami.
"percayalah, paman akan baik-baik saja begitu juga dengan tante Vania. kamu harus kuat karena kita harus menuntaskan permasalahan ini sampai ke akarnya. kakak dan kamu akan membalas perbuatan paman Baharuddin, kita akan membuat dia membayar semuanya" Deva mengelus punggung Adam
"menangislah kali ini tapi nanti kakak tidak ingin melihat air mata tumpah dari matamu. perlihatkan pada musuh kita bahwa kamu, pewaris Sanjaya grup tidak akan dapat di luluh lantak kan begitu saja. sekarang beban berat akan kamu pikul, perusahaan besar akan kamu ambil alih karena sudah tiba waktunya kamu menjadi pemimpin. tegakkan kepalamu dan jangan sekali-kali tunduk kepada musuh hanya karena gertakan permainan licik yang ia lakukan seperti empat tahun yang lalu"
Deva melepas pelukannya dan menangkup wajah Adam.
"Dirga Sanjaya, kita akan berjuang bersama" ucap Deva dengan suara lantang
Adam mengangguk kemudian kembali memeluk Deva. setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga beberapa jam kemudian mereka telah masuk di perkotaan.
"El coba hubungi ayah kamu, dimana mereka sekarang" ucap Deva
"El mendapatkan pesan, mereka di rumah sakit" jawab El-Syakir
tanpa berpikir panjang Deva segera tancap gas menuju rumah sakit besar di kota itu. tiga puluh menit mereka sampai. langkah kaki mereka begitu cepat masuk ke dalam. El-Syakir menanyakan keberadaan Zidan di salah satu perawat dan setelah mendapatkan jawaban mereka segera pergi untuk melihat keadaannya.
"ayah" Adam memanggil ayah Adnan dari jauh
ayah Adnan, Pram dan Ardi ada di rumah sakit. Alana segera berlari dan memeluk ayah Adnan sementara Adam lunglai ketika ternyata pamannya sedang berada di ruang IGD.
"kak" Bara mendekati Pram dimana baju pria itu penuh dengan darah
Pram merangkul Bara dan memeluknya. mata laki-laki itu begitu sembab, begitu juga ayah Adnan dan Ardi.
"kenapa bisa seperti ini yah...?" tanya Adam yang langsung jatuh menangis di pelukan ayah Adnan
ayah Adnan tidak dapat menjawab. bibirnya seakan terkunci rapat tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"hiks...hiks...paman" Adam menangis sejadi-jadinya
sejak kecil saat dimana dirinya berpisah dengan El-Syakir dan ayah Adnan dan mengikuti pak Burhan serta bunda Ayu, hanya Zidan yang dapat mengerti perasaannya saat itu. laki-laki itulah yang selalu menemani Adam jika dirinya dalam keadaan sedih mengingat adik dan ayahnya.
menurut Adam, Zidan adalah paman yang paling baik yang pernah ia temui. bahkan setelah dewasa pun, mereka berdua begitu dekat. Zidan telah mengikuti pertumbuhan Adam dari umur delapan tahun hingga menginjak dewasa.
sekarang laki-laki yang baik hati itu terbaring di rumah sakit dan sedang berjuang melawan maut. betapa Adam tidak bersedih, ia benar-benar takut Zidan akan pergi untuk selamanya seperti halnya pak Burhan dan bunda Ayu yang meninggalkan dirinya.
"lalu bagaimana dengan keadaan tante Vania om, dede bayinya bagaimana...?" Vino bertanya
"iya, tante Vania dimana yah. apa ada di dalam juga...?" Alana akhirnya bertanya
ayah Adnan menghela nafas dan menghembuskan dengan susah. wajah laki-laki baya itu seakan mempunyai beban yang begitu menghimpit dadanya.
"ayah, tante Vania bagaimana...?" kini Adam yang bertanya
"dia dibawa kabur oleh anak buah Baharuddin. kini Helmi, Randi dan Furqon sedang mengejar keberadaan mereka" jawab ayah Adnan
"KURANG AJAR"
bughhh
Adam meninju dinding rumah sakit kemudian hendak pergi dari tempat itu namun Deva segera menahannya. Deva memeluk Adam membuat Adam memberontak meminta dilepaskan.
"lepasin kak, aku mau mencari si tua bangka itu"
"tidak untuk sekarang Dirga"
"aku bilang lepasin kak" Adam mengamuk namun Deva tetap menahannya
buuaak
Adam memukul perut Deva menggunakan sikunya, Deva kesakitan dan melepaskan pelukannya. Adam berniat kabur namun Deva mengait kaki Adam sehingga Adam jatuh ke lantai.
setelah itu Deva mengukung Adam menggunakan lengannya.
"sadar Dirga" ucap Deva
__ADS_1
"lepaskan" Adam teriak keras
plaaaak
plaaaak
dua tamparan mendarat di wajah Adam. Ardi ingin melerai mereka namun Pram menahannya.
"biarkan saja, dia tau apa yang harus dia lakukan" ucap Pram dan Ardi pun mundur
"apa dengan kamu pergi dapat menemukan paman Baharuddin. yang ada kamu yang celaka karena mengantar nyawa dengan cuma-cuma"
"Deva" Leo ingin menjauhkan Deva dari Adam namun Deva menatap Leo dengan tajam
"jangan mendekat" peringatan Deva membuat tim samudera tidak dapat berbuat banyak
"kamu pikir hanya dirimu yang khawatir. nggak, kakak juga khawatir, semua yang ada di sini tentu khawatir. tapi bukan berarti kita harus bertindak bodoh tanpa persiapan dan perencanaan"
"nggak usah sok peduli kak. kakak akan membiarkan paman Zidan mati seperti yang kakak lakukan empat tahun yang lalu. membiarkan ayah Burhan dan bunda merenggang nyawa sementara kak Deva hanya menjadi penonton. kakak sama saja seperti Baharuddin brengsek itu"
bughhh
satu pukulan keras mendarat di lantai. semua orang terkejut. Deva meninju lantai rumah sakit sehingga tangannya terluka.
"kak Deva" Seil ingin mendekat namun Nisda menahan
"baik, baiklah" Deva melepas Adam dan berdiri. Adam pun berdiri dibantu oleh Vino
"aku akan membayar nyawa ayah Burhan dan bunda Ayu" Deva berucap dengan mata menatap Adam
"nyawa harus dibayar nyawa kan. maka aku akan memberikan nyawaku kepada paman Baharuddin dan menyelamatkan tante Vania"
"kak" panggil Seil
"Deva" Pram mendekat Deva
"aku yang akan menghadapinya paman Pram. harusnya dulu aku berani dengan begitu ayah Burhan dan bunda Ayu masih ada sampai sekarang"
Pram memeluk Deva dan mengelus punggungnya.
"aku akan pergi" Deva melepaskannya pelukan Pram dan melangkah namun Seil menghalangi jalannya.
"nggak, kakak nggak boleh pergi. Seil nggak izinin" Seil merentangkan tangannya
"minggir dek, kakak harus menebus semua kesalahan kakak"
"nggak, nggak boleh" Seil tetap tidak memberikan jalan untuk Deva. sementara Adam terdiam mematung
"kak Deva, jangan pergi. dia berbahaya dan juga licik kak. kita harus mengatur siasat terlebih dahulu" ucap El-Syakir
"kejar dia, dia bisa mati kalau pergi sendirian tanpa persiapan" ayah Adnan memerintahkan tim samudera
bergegas semua tim samudera mengejar Deva begitu juga dengan Seil. sementara Adam tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
"Dirga" ayah Adnan memegang kedua bahu Adam
"aku sudah mendengar cerita dari Zidan siapa Deva sebenarnya"
"kenapa kamu mengatakan hal semacam tadi. apa dulu Deva berada di tempat kejadian empat tahun yang lalu...?"
Adam mengangguk kecil menjawab pertanyaan ayah Adnan.
"lalu apakah dia sudah menjelaskan alasannya...?"
Adam mengangguk lagi menjawab pertanyaan ayahnya itu.
"apa yang dia katakan...?"
"dia....tidak berani melawan karena memikirkan keluarganya yang ada di kampung. ia takut keluarganya akan dibunuh seperti ayah Burhan dan bunda Ayu. makanya itu dia pergi jauh karena mendapatkan ancaman"
"kamu sudah mendengar alasannya tapi kamu saat ini secara tidak langsung membuka luka yang menganga yang tidak pernah sembuh dalam dirinya"
"maksud ayah...?
"tentu saja Deva kala itu merasa sangat bersalah. kalau bukan karena keluarganya mungkin dia akan melawan. siapapun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya"
"seandainya kamu yang ada waktu itu, bukankah kamu akan memilih ayah dan adikmu aman daripada melawan"
Adam terdiam dan menunduk, ia tidak berani menatap ayah Adnan.
"empat tahun pasti adalah masa-masa tersulit bagi Deva. perasaan bersalahnya itu ia bawa sampai sekarang. jika tidak, mana mungkin ia rela memberikan nyawanya untuk menyelamatkan tante mu"
"pergi dan minta maaf padanya"
Adam mengangkat kepalanya dan menatap ayah Adnan. ayah Adnan mengangguk kemudian Adam melesat berlari untuk mengejar Deva.
"dulu mereka sangat dekat, bahkan Dirga begitu lengket dengan Deva" ucap Pram melihat Adam sudah hilang dibalik dinding
"jadi dia tadi yang bernama Deva, anak angkat dari pak Burhan...?" tanya Ardi
"iya. dia adalah kakak kesayangan Dirga Sanjaya" ucap Pram
__ADS_1
tim samudera mengejarnya Deva sampai di halaman rumah sakit. mereka mengelilingi Deva agar ia tidak bisa pergi kemanapun.
"jangan halangi jalanku" ucap Deva
"bukannya kakak tadi yang bilang kita nggak boleh gegabah, harusnya kak Deva memegang ucapan itu bukan malah mengingkarinya" ucap Vino
"Adam seperti itu karena dia lagi emosi kak. siapapun pasti akan tidak terkendali kalau orang-orang yang kita sayangi disakiti orang lain" ucap Nisda, sepupu dari Leo itu berdiri tepat di belakang Deva
"kak Deva, setidaknya pergilah setelah membuat rencana dan kita pergi bersama bukan pergi seorang diri" kali ini El-Syakir yang bersuara
"betul kak, tolong jangan terbawa emosi" ucap Melati
dari kejauhan Adam dapat melihat mereka semua. langkahnya kian mendekati ke arah mereka. saat melihat Adam datang, tim samudera memberikan jalan agar ia masuk kedalam lingkaran mendekati Deva.
"kak" Adam memanggil
Deva tidak berbalik namun ia tau kalau yang memanggil dirinya adalah Adam.
"maaf" satu kata itu keluar dari mulut Adam
"aku minta maaf" ucapnya lagi namun Deva tidak bergeming
"kakak marah padaku...?"
"tidak" jawaban Deva sangatlah singkat
"lalu kenapa tidak berbalik ke arahku...?"
Deva menghela nafas kemudian membalikkan badan menghadap ke arah Adam.
"kalau ayah sama bunda suatu saat nanti sudah tidak ada maka kalian berdua harus saling menjaga"
"aku akan menjaga Dirga yah"
"berjanjilah untuk terus bersama ya. jika terjadi sesuatu hal pada ayah sama bunda, kalian harus bisa selamat".
"jangan bicara seperti itu yah"
"Deva, Adam nanti akan menjadi pemimpin. saat itu tiba maka kamu yang akan terus berada di sampingnya"
"Sanjaya grup membutuhkan kalian berdua"
"masih ingat pesan yang ayah berikan...?"
"tentu saja aku ingat"
"jadi mulai sekarang, mari berjalan bersama-sama. ayah mempercayakan semuanya kepada kita berdua" ucap Adam
"kalian nggak cuma berdua kak, ada kami yang akan selalu bersama kalian" ucap El-Syakir
"iya benar, kami akan selalu bersama kalian" ucap Leo
"berarti kalau begitu kalian mau menyetujui permintaan ku" ucap Adam
"tentu saja" mereka menjawab
"aku akan mengambil alih Sanjaya grup, ayah akan membimbingku. sementara itu, kak Deva akan menjadi asisten ku dan El-Syakir akan menjadi sekretaris ku"
"untuk kalian semua, kalian tim samudera akan menjadi pengawal pribadi Sanjaya grup. bagaimana, apakah kalian mau menerima mandat dariku...?" Adam menatap mereka semua
"tentu saja, kami tim samudera akan mendengarkan perintah dari pemimpin kami" Starla berkata mantap
"pantang mundur mati tak gentar" El-Syakir bersuara lantang
"mati tak gentar" ucap semuanya
Adam langsung memeluk Deva dengan eratnya setelah itu mereka semua berpelukan. Seil begitu terharu melihat pemandangan yang ada di depan matanya itu.
"Seil" panggil Adam
"iya kak" Seil mendekat
"kamu juga punya tugas baru"
"hah, aku...?" Seil menunjuk dirinya
"iya, apa kamu mau...?"
"memangnya tugasnya apa. asal jangan bergulat seperti yang kalian lakukan ya, aku nggak sanggup kak" ucap Seil
"bukan. tugasmu adalah membantu El-Syakir menyelesaikan semua pekerjaannya nanti. bagaimana, kamu siap...?"
"kak Dirga" El-Syakir melotot
"aku tidak terima penolakan. sekarang ayo kita kembali, aku ingin melihat keadaan paman Zidan"
Adam menarik Deva untuk bergegas pergi yang lain mengikut. kini tinggal Seil dan El-Syakir yang ada di tempat itu.
"maaf Seil jangan hiraukan permintaan kak Dirga, dia memang seperti itu"
"kak El nggak mau ya Seil berada di dekat kakak terus...?"
__ADS_1
"kita akan membahas itu nanti, sekarang kita masuk" El-Syakir mempersilahkan agar Seil berjalan lebih dulu dan ia mengikutinya
(ada yang lebih penting dari urusan perasaan. kali ini tim samudera akan mencabik-cabik dirimu Baharuddin) batin El-Syakir