Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 127


__ADS_3

selama berada di LN, Adam terus berusaha untuk bisa berjalan. dirinya sudah lama koma dan tentu saja hal itu yang membuat dirinya susah untuk berjalan. namun semangat Adam yang ingin bertemu keluarganya sangat besar sehingga dirinya terus berusaha setiap hari.


hingga setelah Adam benar-benar pulih, akhirnya mereka kembali ke Indonesia dan di sinilah Adam sekarang, di rumah sakit dimana El-Syakir di rawat.


flashback end


"jadi gitu ceritanya" ucap Adam sambil meminum minuman melati yang dibelikan oleh ayah Adnan tadi


"kak El seperti orang gila tau nggak kak, dia bahkan kadang nangis kadang juga tertawa. Lana sampai khawatir jangan sampai kak El menjadi depresi karena kehilangan kakak" ucap Alana


"benar begitu...?" Adam menatap El-Syakir


"hummm, kehilangan kakak merupakan hal terberat dalam hidupku. jadi El mohon untuk sekarang dan seterusnya, kak Dirga harus tetap di samping aku, Alana, ayah dan ibu" jawab El


"dan juga elu harus terus bersama kami semua" Vino menimpali


"thanks banget ya, kalian memang teman terbaik" Adam terenyuh mempunyai tim seperti mereka


"ada satu lagi yang ingin aku tanyakan kak" ucap El


"apa...?" tanya Adam


"kakak masih ingat kan malam dimana kita menghadapi iblis pemakan tumbal...?" tanya El


"iya aku ingat. memang kenapa...?" Adam bertanya balik


"apa yang kakak ingat pada kejadian malam itu...?"


El-Syakir sengaja bertanya seperti itu karena dirinya penasaran mengapa sekarang Adam tidak mengingat ratu Sundari, padahal wanita itu yang menyelamatkan mereka dan juga dia adalah wanita alam jin yang dicintai oleh Adam.


pertanyaan El-Syakir mewakili semua teman-temannya. mereka juga penasaran dengan jawaban Adam.


"kenapa bertanya seperti itu, kalian semua kan menyaksikan bagaimana aku bertarung dengan iblis itu dan aku babak belur bahkan sampai hampir tidak kembali lagi ke tubuhku" jawab Adam menjelaskan


"kakak tau siapa yang menyelamatkan kita...?" tanya El


semua mata tertuju kepada Adam, mereka sangat ingin mendengar jawaban dari mulutnya.


"aku sendiri yang mengalahkan iblis itu dengan keris larangapati dan sampai akhirnya aku tumbang. kamu ini aneh, kan kamu juga ada di sana bahkan melihatku melenyapkan iblis itu, kenapa malah bertanya lagi" Adam merasa heran dengan El-Syakir. bagaimana bisa El menanyakan hal itu padahal sudah jelas dia melihatnya, itulah yang ia pikirkan


tim samudera saling pandang, apa sebenarnya yang terjadi kepada Adam sehingga dia tidak mengingat ratu Sundari. tidak mungkin tidak terjadi sesuatu padanya dan dia lupa begitu saja.


(kenapa bisa jadi seperti ini) batin El-Syakir


El mulai mengingat-ingat kejadian di malam itu. yang dia ingat tidak ada yang di lakukan ratu Sundari malam itu. ia juga bingung kenapa Adam bisa melupakan wanita yang bahkan saat dia skarat Adam meminta untuk bertemu dengan ratu Sundari lagi dikemudian hari.


"r-ratu, apakah kita akan bertemu lagi...?" tanya Adam


"tentu, tentu saja kita akan bertemu lagi. aku akan menunggumu untuk datang menemuiku kembali. jika saat bertemu nanti semuanya akan berubah. aku, kamu dan semuanya akan berubah"


(apa maksud dari ratu Sundari semuanya akan berubah adalah ini, Adam tidak lagi mengingatnya) batin El


sementara Melati, merasa pasti malam itu ratu Sundari melakukan sesuatu sehingga Adam melupakannya. tidak mungkin Adam amnesia dan hanya melupakan wanita itu saja, kalau Adam amnesia, seharusnya mereka juga tidak diingat oleh Adam.


(aku harus menemui ratu Sundari) batin Melati


"kalian semua kok malah diam...?" tanya Adam


"nggak kenapa-kenapa. kami hanya heran aja ternyata meskipun elu kembali menjadi manusia tapi sepertinya elu nggak bisa jauh dari melati. buktinya, sekarang elu nggak bisa makan bunga melati malah sekarang mencari minuman yang rasa melati" Nisda menjawab. ia menjawab seperti itu untuk mengalihkan pikiran Adam agar tidak memikirkan kejadian malam itu


"aku kan pernah bilang, melati itu separuh hidup aku. ibarat garam tanpa sayur" jawab Adam


"kebolak bego....." cibir Vino


"elu juga sama aja. kebalik bukan kebolak" cebik Bara


"oh iya. hehehehe, ucapan refleks" Vino cengengesan


menjelang pukul 11 malam, mereka semua memutuskan untuk istirahat. besok mereka harus masuk ke sekolah, jangan sampai mereka telat hanya karena begadang.


untungnya mereka telah menyediakan peralatan untuk tidur sehingga mereka tidak akan tidur di lantai. namun ada sebagian yang tidur di sofa, Bara dan Leo.


sedangkan yang lain tidur di kasur yang mudah mereka bawa kemanapun. untuk perempuan mereka memiliki kasur lain begitu juga laki-laki, sedang El tentu tidur di ranjang miliknya.


saat semuanya sedang tertidur, Adam masih belum memejamkan matanya. ia terus memikirkan wanita yang bernama ratu Sundari itu.


"kok aku seperti pernah mendengar namanya tapi dimana ya" gumamnya pelan dan nampak berpikir

__ADS_1


"bukannya wanita yang bernama ratu Sundari itu, kekasih kakak ya...?"


Adam teringat dengan ucapan Alana yang mengatakan kalau ratu Sundari adalah kekasihnya.


"haduuuuuh jadi pusing aku. tau ah, mending tidur" Adam mencari posisi ternyaman kemudian memejamkan mata dan tidak lama dirinya sudah menyusul yang lainnya


pagi setelah sholat subuh, mereka semua langsung pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap-siap ke sekolah terkecuali El-Syakir. dirinya akan pulang setelah mendapatkan izin dari dokter yang menanganinya kemarin.


"kakak pulang juga...?" tanya El melihat Adam keluar dari kamar mandi


"iya, kakak ada bisnis. kamu nggak apa-apa kan kakak tinggal, ayah dan ibu akan kesini nanti untuk meminta izin agar kamu bisa pulang" Adam duduk di samping El-Syakir


"nggak apa-apa. tapi emang kakak bisnis apa sih, kakak kan baru tiba kemarin, masa udah mulai bisnis" ucap El


"nanti juga kamu tau" Adam tersenyum


mereka semua meninggalkan El-Syakir, Adam telah menghubungi ayah Adnan dan mereka sedang dalam perjalanan akan ke rumah sakit. Adam dan Alana dijemput oleh Furqon, sedang Ardi mengantar orang tua mereka ke rumah sakit.


saat tiba di rumah besar nan mewah, keduanya turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Alana langsung berlari menaiki anak tangga, sedang Adam menghampiri Zidan dan yang lainnya yang sedang berada di meja makan.


"wah kalian para paman, makan nggak ngajak-ngajak" Adam duduk di samping Randi


"monggo atuh, silahkan tuan muda" ucap Randi sopan dan lembut


"paman nggak cocok jadi lembut seperti itu, macam lekong aja" ucap Adam


"sembarangan. gentleman gini dibilang lekong" Randi mencebik


"bagaimana keadaan mu Ga, udah sembuh total kan kamu...?" tanya Helmi


"alhamdulillah aku udah baik paman. untuk lebih jelasnya, tanyakan sama paman dokter saja, biar lebih rinci dan jelas" jawab Adam


"Dirga sudah pulih, tinggal hanya mengontrol dirinya saja. aku sedang memantau keadaan kepalanya, bagaimana pun yang lalu itu kepalanya yang cedera parah" Edward menimpali


"jadi kamu jangan terlalu memikirkan hal yang berat dulu ya Ga, karena itu akan berpengaruh dengan kondisi kepala kamu" lanjut Edward


"iya paman" jawab Adam


"mau yang mana mas...?" tanya Vania kepada Zidan


"itu saja, udang dan cumi" jawab Zidan menunjuk lauk yang ia inginkan


"aku juga mau cumi aunty" Adam menyerahkan piringnya


"udang nggak mau...?" tanya Vania saat mengambilkan cumi-cumi untuk Adam


"aunty lupa ya, aku kan alergi udang" jawab Adam menarik kembali piringnya


"oh iya. aunty lupa. padahal dulu aunty yang bikin kamu babak belur setelah makan udang"


dulu sebelum Adam koma, Vania sempat makan bersama dengan Adam dan Zidan di rumah Vania. waktu itu Zidan masih membenci Vania dan enggan untuk makan bersama namun Adam terus memaksa karena dirinya sudah lapar.


sayangnya Adam memakan sesuatu yang dicampur dengan udang sehingga membuat dirinya gatal-gatal dan bahkan sesak nafas hingga Adam masuk ke rumah sakit.


"nggak apa-apa aunty, aku juga udah maafin" jawab Adam


"oh iya paman, yang aku inginkan udah jadi kan...?" tanya Adam kepada Zidan


"udah, semua di urus sama paman Pram" jawab Zidan


"terimakasih paman Pram" Adam melihat ke arah Pram


"Sama-sama, tapi kamu yakin mau masuk kembali ke situ...?" jawab Pram


"memangnya kenapa paman...?"


"yaa harusnya kan kamu nggak di situ lagi. kalau ditanya kenapa kamu masuk lagi, kita harus memberikan alasan apa...?" ucap Pram


"itu biar menjadi urusanku nanti, akan aku temui pimpinannya" timpal Zidan


"sebenarnya sih gampang saja, tinggal katakan kalau aku amnesia setelah bangun dari koma dan bilang saja kalau yang aku ingat sekarang adalah, aku masih di tempat itu" Adam memberikan ide


"masuk akal juga, biar nanti paman yang urus" ucap Zidan


"makasih paman, berarti aku bisa pergi sekarang kan...?"

__ADS_1


"kakak mau kemana sih, mau pergi jauh lagi ya. nggak boleh ya, Lana nggak izinin" Alana yang sejak tadi membisu kini angkat suara


"kakak nggak kemana-mana, lagian juga nanti kita akan bertemu setiap jam menit dan detik" jawab Adam yang membuat Alana mengerutkan keningnya


setelah sarapan, Alana di antar ke sekolah oleh Furqon. Adam menuju kamarnya, dimana dulu ia tempati sebelum dirinya koma.


kamar itu masih tertata rapi sama seperti saat dirinya keluar kamar 4 tahun yang lalu untuk menyelamatkan bundanya yang di sandera orang-orang yang membantai mereka. Adam menghela nafas panjang dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


di sekolah SMA xxx, tim samudera baru saja tiba di parkiran. kebetulan sekali mereka datang bersamaan padahal mereka tidak datang bersama. kini Melati sekolah di tempat itu dan dia masuk di kelas El-Syakir, Leo dan Vino.


"fuhh, untuk nggak telat" ucap Bara membuka helmnya


"tinggal 10 menit lagi apel pagi, ke kelas yuk simpan tas" ajak Starla


"ayuk"


mereka semua menuju kelas masing-masing untuk menyimpan tas mereka dan tidak lama bel apel pagi berbunyi.


seperti biasa mereka akan mendengarkan pengarahan dari guru piket dan hari ini pak Ali yang berbicara di depan mereka. setelah mengikuti apel pagi, bel pelajaran pertama berbunyi dan semua siswa masuk ke dalam kelas masing-masing.


"Mel pinjam tugas lu dong, gue belum selesai soalnya" Vino berbalik ke meja Melati


karena El-Syakir tidak masuk maka Melati lah yang duduk di kursinya yang satu tempat duduk dengan Leo. sedang di depan mereka ada Vino dan Aldo.


"nih" Melati memberikan buku tugasnya kepada Vino


"makasih cantik" ucap Vino


"makanya kalau ada tugas itu dikerjakan bukannya di simpan" Leo meledek


"eleh.... sok bijak lu. kemarin-kemarin juga elu minjam tugas gue" skak Vino


"oh begitu ya, hehehehe lupa gue" Leo hanya nyengir kuda


"dasar" Melati menggeleng kepala


setelah beberapa menit menunggu akhirnya guru yang mengajar telah datang. yang tadinya ribut kini kelas menjadi hening tanpa ada yang bersuara.


"selamat pagi semuanya" sapa pak Salman


"pagi pak" jawab semua siswa


"bagaimana kabar kalian hari ini, baik ya...?"


"baik Pak"


"alhamdulillah. nah sebelum kita masuk ke pembelajaran, di kelas kalian telah kedatangan siswa baru"


"siswa baru....?" tanya sebagian siswa


"iya. sebetulnya ibu Rani wali kelas kalian yang akan mengantarnya ke sini namun berhubung beliau mengajar di kelas lain jadi ibu Rani menyerahkan kepada saya"


"terus siswa barunya dimana pak...?" tanya Siska yang celingukan melihat ke arah luar


"penasaran ya Siska...?"


"hehehehe, bapak tau aja" ucap Siska malu


"bisa kalian tebak siapa siswa barunya...?"


"pasti cowok ganteng" jawab siswi yang bernama Merli


"itu otak lu kayaknya isinya cuman cowok ganteng aja deh Mer" ucap Falen


"iyalah, masa mau diisi cowok jelek, nggak banget" ucap Merli


"sok kecantikan" cebik Naya pelan


"sssttt, nanti dia dengar jadi masalah lagi nanti. udah diam aja" Falen memperingati Naya


"ya sudah daripada kalian penasaran kalau begitu bapak akan persilahkan siswa barunya untuk masuk" ucap pak Salman


"kamu yang berada di luar, silahkan masuk" lanjut pak Salman


dengan rasa penasaran semua siswa menantikan siswa baru itu. seorang siswa laki-laki muncul di depan pintu. ia berjalan ke arah pak Salman dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. semua siswi nampak ternganga melihat dirinya. siswa baru itu menurut mereka sangatlah tampan bahkan mengalahkan ketampanan El-Syakir. bisa dibilang mereka sebelas duabelas.


namun selain siswa yang lain, ada yang lebih ternganga melihat siswa baru itu. mereka adalah Leo, Vino dan Melati. mereka sangat mengenal siapa yang berdiri di depan sana bersama pak Salman. sungguh tidak percaya bahwa dia akan masuk di sekolah mereka dan menjadi siswa baru.

__ADS_1


__ADS_2