
di jalan pulang, mereka tidak hentinya berpapasan dengan jin yang entah sedang ke pasar atau ke tempat lain. ternyata di alam itu ramai seperti di alam manusia. Furqon dan pengawal istana berjalan beriringan di belakang para remaja itu.
"elu nggak beli apa-apa...?" tanya Vino kepada Bara
"ada kok" jawab Bara
"mana, gue nggak liat" ucap Vino
"nih" Bara menunjukkan sepasang anting yang cantik dan juga tombak yang kanan kirinya runcing
untuk tombak jelas mereka tidak merasa heran namun untuk anting, Leo bertanya-tanya.
"anting...?" tanya Leo mengernyitkan keningnya
"elu mau jadi waria, wanita pria...?" Vino bertanya dengan wajah polosnya
puuuuk
Bara menggeplak kepala Vino sedang Leo melompat ke samping El jangan sampai dirinya terkena sasaran juga.
"sembarangan itu mulut kalau ngomong" cebik Bara
"sakit Bara Bere" ringis Vino
"ayang... sakit" Vino mengadu kepada Starla
"ulu ulu.... sini aku peluk" Starla merentangkan tangan dan tentu saja Vino langsung di peluk
"cih najis" cibir Leo melihat keuwuan Vino dan Starla
"bilang aja iri" ucap Vino meledek
"ogah" elak Leo
(haduuuh nasib jomblo memang mengenaskan) batin Leo menjerit
"antingnya untuk siapa...?" El bertanya
"kalau bukan untuk mantan ya pasti untuk gebetan" timpal Adam
"kak Dirga sok tau" ucap Bara menyimpan kembali anting itu ke tempatnya
"lah memang aku tau kok. jawabannya hanya ada dua, untuk mantan atau untuk gebetan. untuk Nisda atau untuk Nabila" ucap Adam
"elu udah pdkt sama kak Nabila Bara...?" tanya Starla
"dekat seperti halnya gue dekat sama elu dan Nisda" jawab Bara
"kedekatan elu sama Starla dan kedekatan elu sama Nisda itu beda kali. apalagi kedekatan elu sama kak Nabila yang jelas-jelas suka sama elu" ucap Vino
"betul betul betul" timpal Adam manggut-manggut sambil mengunyah melati
"kalau elu masih sayang sama Nisda maka perbaiki hubungan kalian. jangan biarkan kalian berdua tersiksa hanya karena ego kalian masing-masing" ucap El
"bukan Nisda yang egois tapi kamu" Adam menunjuk Bara
"kok aku" tanya Bara
"jelas kamu lah. Nisda jelas-jelas masih sayang sama kamu tapi kamu memberikan jarak sama dia. aku tau Nisda bersalah dengan hubungan kalian yang lalu, tapi yang namanya manusia jelas punya kesalahan kan. Nisda seperti itu juga sepenuhnya bukan salah dia. kamu yang terlalu cemburuan sehingga membuat dia merasa dikekang dan dipenjara oleh sikap posesif kamu" ucap Adam
"aku tanya sama kamu, kamu sayang sama Nisda atau hati kamu sudah berpaling ke Nabila...?" tanya Adam
"nggak tau" jawab Bara
"haduuhh... benar-benar nggak punya prinsip kamu ini" ucap Adam
"elleh.... kayak elu punya prinsip aja. sekarang gue yang tanya sama elu. elu pilih Melati atau ratu Sundari...?" ucap Leo
"dua-duanya aja gimana" jawab Adam dengan muka tengilnya minta di sleding
"huuuuuuu maunya" semuanya menyoraki hantu itu yang menjawab seenak jidatnya
sesampainya mereka di istana, mereka langsung menuju kamar peristirahatan. saat masuk, Ardi dan Nisda sedang tertawa entah apa yang mereka bicarakan namun terlihat jelas kalau Nisda begitu nyaman berada di samping pengawal itu.
"panas nggak... panas nggak... ya panaslah masa nggak" bisik Adam di telinga Bara yang sedang memperhatikan kedekatan Nisda dan Ardi
"cemburu tanda sayang, marah tandanya lope lope" celetuk Adam yang melewati Bara begitu saja
"kak Ardi, Nisda, kalian udah baikan...?" tanya Starla
"iya La, gue sudah merasa lebih baik" jawab Nisda
"iya, aku juga sudah lebih baik" ucap Ardi
"syukurlah, kalau kalian udah sembuh itu artinya kita bisa pulang secepatnya" Starla terlihat sangat senang
Bara melangkah mendekati Nisda dan duduk di sampingnya.
"elu benar-benar udah baikan...?" tanya Bara
"iya" jawab Nisda
"lukamu bagaimana...?" Bara memegang lengan Nisda
"nanti juga sembuh. terimakasih"
"untuk apa...?" Bara menatap Nisda
"terimakasih telah perhatian padaku meskipun nantinya perhatian itu akan berubah lagi menjadi rasa dinginnya sikapmu" jawab Nisda
"kalau dingin, tinggal dipanasi lagi aja" timpal Adam asal ceplos
__ADS_1
"elu kira makanan" cebik Vino
karena Ardi dan Nisda sudah lebih baik keadaan mereka, Adam keluar untuk memberitahu ratu Sundari bahwa Ardi dan Nisda telah pulih.
Adam mencari-cari keberadaan ratu Sundari namun ia tidak menemukan wanita cantik itu. hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada dayang istana.
"apakah ratu Sundari sedang keluar, aku tidak melihatnya sejak tadi"
"ratu sedang bersiap-bersiap" jawab dayang
"bersiap-bersiap...?"
"iya, sebentar lagi putra kedua dari raja Ranangraya akan tiba. ratu sedang mempercantik diri untuk menyambut kedatangan putra raja, Ragiman"
"jadi dia benar-benar datang" gumam Adam
merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, dayang itu pergi meninggalkan Adam yang berdiri mematung di tempatnya. Adam begitu penasaran bagaimana rupa putra dari seorang raja itu sehingga ratu Sundari dengan begitu sibuk mempercantik dirinya.
saat berbalik kembali, Adam melihat Senggi. hantu itu menghampiri wanita yang sedang berbicara dengan pelayan istana.
"Senggi" panggil Adam dan wanita itu menoleh
"kamu boleh pergi"Senggi memerintahkan pelayan untuk meninggalkan dirinya dengan Adam
"baik" pelayan itu langsung menuju dapur istana
"ada apa...?" tanya Senggi
"apa benar putra kedua dari raja Ranangraya akan datang...?" tanya Adam
"benar, mungkin sebentar lagi" jawab Senggi
"bisakah aku bertemu ratu...?"
"tidak bisa, ratu sedang tidak bisa ditemui" tolak Senggi
"aku hanya ingin mengatakan kalau kedua temanku telah sadar dan mereka telah pulih" Adam memang ingin memberitahu tentang hal itu dan dirinya berharap bisa bertemu dengan ratu Sundari
"akan aku sampaikan, sekarang kembalilah ke tempatmu"
Senggi melangkah pergi namun terhenti saat mendengar ucapan Adam.
"apakah aku benar-benar tidak bisa menemui ratu...?"
Senggi berhenti dan berbalik menghadap Adam.
"ada yang ingin kamu sampaikan selain kabar kedua temanmu. jika ada maka katakan padaku, aku akan menyampaikannya kepada ratu" ucap Senggi
"aku hanya ingin menyampaikan kalau aku.... aku.... "
"kamu kenapa, cepat katakan. waktuku tidak banyak"
"tidak... tidak ada yang ingin aku sampaikan selain tadi. mohon beritahu ratu tentang keadaan kedua temanku"
Senggi pergi meninggalkan Adam yang serba salah dengan perasaannya sekarang. disatu sisi dirinya ingin kembali ke alam manusia namun di sisi lain dia ingin tetap berada di dekat ratu Sundari.
"aku kenapa sih" Adam membenturkan kepalanya di dinding
Adam terbayang wajah ratu Sundari yang tersenyum padanya namun saat itu juga ia terbayang wajah Melati yang telah menyatakan perasaannya padanya dan akan mencarinya di alam manusia nanti.
"aaagghh... aku bisa gila" Adam berteriak
Adam memutuskan untuk kembali ke teman-temannya. pergantian siang dan malam begitu cepat. tidak terasa pangeran Ragiman akan segera datang.
tim samudera di hidangkan dengan berbagai makanan enak. Senggi mengatakan agar mereka tidak keluar dari kamar dan tetap berada di dalam. itu adalah pesan dari ratu Sundari.
ratu Sundari tidak ingin mereka dilihat oleh rombongan pangeran Ragiman. entah apa alasannya hanya ratu Sundari yang tau.
"setelah pangeran Ragiman pergi, ratu akan datang menemui kalian" ucap Senggi
"ingat jangan keluar dan tetap berada di dalam kamar" Senggi memperingatkan kembali
"siapa pangeran Ragiman...?" tanya El setelah Senggi pergi
"mungkinkah dia adalah pangeran yang akan datang melamar ratu Sundari...?" ucap Leo
"bisa jadi itu" ucap Bara
"gue penasaran bagaimana rupa pangeran itu" ucap Nisda
"cukup kalian penasaran dan jangan berpikir untuk keluar melihat" timpal Ardi
"benar kata kak Ardi, kita harus tetap di dalam kamar ini. itu adalah perintah ratu Sundari" ucap Starla
mereka memakan makanan yang telah tersaji. namun tidak dengan Adam, hantu itu hanya diam tanpa melirik sedikitpun ke arah melati yang ada di depannya.
pikiran Adam saat ini sedang melalang buana entah kemana. saat ini yang memenuhi kepalanya hanyalah bayangan ratu Sundari namun anehnya setiap wajah wanita itu terbayang olehnya maka wajah Melati pun akan ikut hadir.
merasa tidak baik-baik saja, Adam beranjak untuk keluar dari kamar itu.
"mau kemana kak...?" tanya El
"aku suntuk di kamar ini, aku ingin keluar sebentar" jawab Adam
"tapi kita diperingatkan untuk tidak boleh keluar kak"
"jangan khawatir, aku akan hati-hati tanpa terlihat oleh jin asing"
Adam pergi begitu saja tanpa mendengarkan panggilan El-Syakir.
"dia kenapa...?" tanya Vino
__ADS_1
"patah hati mungkin karena ratu Sundari akan dilamar" jawab Leo
"biarkan saja dia pergi. dia tidak akan ceroboh untuk melangkah" timpal Furqon
Adam menyusuri istana yang luas itu hingga ia menghentikan langkahnya di danau yang sangat indah. sinar rembulan begitu menerangi, angin malam tampak sejuk menusuk kulit.
Adam berjalan lagi untuk keluar dari pagar istana namun langkahnya terhenti karena dirinya melihat wanita yang sejak tadi ingin ditemuinya sedang duduk bersama seorang pria yang tidak dapat ia lihat wajahnya karena pria itu membelakangi dirinya.
Adam sebenarnya tidak ingin mengganggu namun ia begitu penasaran dengan pembahasan ratu Sundari dan pangeran Ragiman. karena rasa penasarannya yang kuat, Adam bersembunyi di balik pohon yang tidak jauh dari tempat ratu Sundari dan pangeran Ragiman.
"aku senang melihatmu setelah sekian lama kita tidak bertemu" ucap pangeran Ragiman
"iya, memang sudah lama sekali kita tidak bertemu. bagaimana perjalanan mu mencari ilmu di berbagai belahan alam jin yang lain...?" tanya ratu Sundari
"banyak pengalaman pastinya" jawab pangeran Ragiman
"dan pastinya banyak wanita cantik" ratu Sundari tersenyum simpul
"tidak secantik dengan wanita yang bersamaku sekarang" Ragiman menatap ratu Sundari dengan lembut
"elleh.... modus" cebik Adam yang sedang menguping
"kamu terlalu memuji Ragiman"
"pujian itu memang pantas kamu dapatkan Sundari. kamu seorang ratu yang cantik jelita, akan bodoh sekali jika ada seorang pria dari kalangan jin yang mendapatkan hatimu lalu menyianyiakanmu"
"tapi aku penasaran. apakah saat ini sudah ada yang dapat mencuri hatimu Sundari, karena sepengetahuan ku kamu terus menolak lamaran yang datang untukmu"
"entahlah, aku juga penasaran siapa yang dapat meluluhkan hatiku" jawab ratu Sundari
"kamu belum bisa melupakannya...?" tanya Ragiman
(melupakannya, siapa dia) batin Adam yang jiwa keponya meronta-ronta
"dia selalu ada di sini Ragiman, sampai kapanpun" Sundari memegang dadanya
"yah tentu saja di selalu ada di situ. dia adalah pria beruntung yang telah mendapatkan cintamu tapi sayangnya karena keserakahan Sri Dewi, Pramanda menjadi korbannya" ucap Ragiman
"dan sejak saat itu Sri Dewi menyalahkan ku kalau aku penyebab kematian kanda Pramanda" ucap Sundari
"sudah jelas dia sendiri yang menusuk Pramanda dengan bisa ularnya, bagaimana bisa dia malah menyalahkanmu. dia memang wanita gila" Ragiman terlihat emosi
"dia membenciku karena Pramanda lebih memilihku daripada dirinya dan kebenciannya semakin besar saat Pramanda rela mengorbankan dirinya ditusuk Sri Dewi hanya untuk menyelamatkan ku. andai waktu bisa ku ulang, aku bersedia mati asal bukan laki-laki yang aku cintai" air mata ratu Sundari jatuh di wajahnya
"itu sudah takdirnya, jangan di sesali. aku yang akan menjadi pengganti Pramanda untuk terus menjaga dan melindungi mu" Ragiman menarik tubuh langsing ratu Sundari dan memeluknya
Adam yang bersembunyi di balik pohon merasa kepanasan melihat adegan yang ada di depan matanya.
"sabar Adam sabar.... haaaah huuuuuf.... haaaah huuuuuf" Adam menarik nafas dan membuangnya
"terimakasih Ragiman, kamu selalu membantuku dalam keadaan tersulit ku" ratu Sundari menarik kembali tubuhnya
"jangan sungkan padaku. bukankah kamu juga selalu membantuku di saat aku membutuhkan bantuanmu" Ragiman tersenyum hangat
"apakah sampai sekarang belum ada wanita yang menarik perhatian mu Ragiman...?"
"aku tertarik dengan wanita yang ada di sampingku ini"
"aku sedang tidak bercanda Ragiman"
"aku juga sedang tidak bercanda Sundari"
kedua mata mereka beradu tatap dan setelahnya Ragiman mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"aku pernah mendengar kabar pernikahanmu dengan arwah seorang pria"
"pernikahan kami batal"
"mengapa...?"
Adam yang tau kalau mereka membicarakan dirinya hanya mampu mendengar tanpa bisa menimpali.
"sepertinya dia tidak mencintaiku"
"apa...?" Ragiman kaget
"sepertinya mata pria itu rabun sehingga tidak bisa melihat wanita cantik seperti dirimu" ucap Ragiman
"enak aja aku dibilang rabun. mataku masih normal ya. hiiiiiiiii pen jitak palanya deh. kesal aku" Adam mengomel di balik pohon
"tapi bagaimana dengan dirimu Sundari, apakah kamu memang mencintai arwah pria itu...?" Ragiman begitu menantikan jawaban wanita yang ada di sampingnya itu
"dia laki-laki yang baik. bahkan dia rela musnah dan tidak kembali ke tubuhnya demi menyelamatkan teman-temannya. siapapun pasti jatuh hati padanya" jawab ratu Sundari
"termasuk kamu...?"
"iya.... termasuk aku. tapi cinta yang dipaksakan tidak akan baik bukan. aku merelakannya untuk seseorang yang berhak mendapatkan cintanya"
"siapa...?"
"dia Melati..... dia pantas bersama laki-laki yang baik seperti Adam"
"jadi namanya adalah Adam...?"
"iya"
"hatimu tidak pernah berubah Sundari, aku berharap suatu saat nanti kamu akan melihatku"
ratu Sundari hanya tersenyum. pria yang ada di sampingnya itu memang sangat baik namun ratu Sundari belum bisa membuka hati untuknya. persahabatan mereka membuat ratu Sundari enggan untuk menghancurkannya hanya karena percintaan mereka nanti yang mungkin berujung perpisahan.
sedangkan Adam, hantu itu bersandar di pohon tempat ia bersembunyi. keadaan hatinya sekarang tidak baik-baik saja. jujur saja sekarang ini hatinya lebih respek kepada sang ratu yang cantik jelita namun dirinya juga teringat dengan Melati yang mungkin saja sekarang sedang mencari keberadaannya.
__ADS_1
"apakah aku harus mengorbankan perasaan ku demi gadis yang pernah menolongku" ucapnya dengan lirih