Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 52


__ADS_3

grrrrrrr.....


"ggaaaaaaaggghh"


Adam yang biasa melucu kini dia tak ubahnya seperti makhluk yang mengerikan. Furqon yang mempunyai mata batin langsung bergidik melihat Adam berubah layaknya monster yang siap mencabik-cabik lawannya.


dor


dor


suara tembakan terus bersahutan, itu yang membuat Adam tidak dapat menahan dirinya. hantu itu membentur-benturkan kepalanya di pohon kayu tempat El berlindung, sebelum remaja itu dilempar El ke batang pohon yang lain


"kenapa dia...?" Vino kaget bukan main melihat Adam. ini baru pertama kalinya ia melihat hantu itu mengamuk karena saat pertama Adam mengamuk saat menyelamatkan Andri, hanya El dan Leo yang menyaksikan itu karena pada saat itu Vino sedang sibuk membawa Andri ke rumah sakit bersama starla.


sedangkan starla, gadis itu meringis menahan sakit di lututnya dan juga menatap pilu ke arah Adam yang sedang mengamuk layaknya seseorang yang sakit jiwa.


bugh


bugh


kraaaak


"aaaaggghhhh, tanganku"


Adam yang sudah tidak bisa dikendalikan menghajar semua pasukan anak buah Rudi. ia membanting, melempar dan bahkan mematahkan tangan mereka.


bukan hanya itu, hantu itu bahkan menghajar pasukan pengawal Zidan, tidak peduli mana lawan dan mana kawan, semuanya ia sapu rata.


yang tidak memiliki mata telanjang melihat dengan tatapan tidak percaya dan takut, mahkluk apa yang sedang menyerang mereka. hal itu yang dialami oleh Bara dan Nisda, kedua pasangan itu dengan mata melotot melihat kejadian mengerikan yang ada di depan mereka.


"Adam hentikan" El berteriak agar hantu itu mendengarkannya namun teriakannya sia-sia


anak buah Rudi bahkan ada perutnya yang tertancap di ranting kayu yang tajam, darah mengucur deras di perutnya. saat melihat darah itu, Adam seperti seorang musafir yang berada di Padang pasir dan baru saja mendapatkan air untuk pengobat hausnya.


"Adam stop" teriak El lagi saat melihat hantu itu menghampiri anak buah Rudi yang tertusuk


berkali-kali hantu itu menjilat bibirnya, air liurnya bahkan mungkin akan menetes saat melihat darah yang begitu banyaknya yang telah mengubah warna baju pria tersebut.


semakin dekat dan tak terkendali, Adam meloncat ke arah pria itu namun satu tendangan mendarat di perutnya sehingga hantu itu mendarat di tempat lain.


grrrrrrrr....


dengan marahnya dan tatapan mata merahnya, Adam menatap tajam seseorang yang telah menendangnya itu. dialah Furqon, pengawal itulah yang menendang jauh Adam agar tidak mendekati pria yang sudah tidak berdaya tadi.


"dia bisa melihat Adam" ujar Leo menatap tidak percaya


"apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku nggak bisa melihat siapa lawannya" ucap Bara yang melihat Furqon


"aku pun nggak bisa lihat" timpal Nisda yang sangat penasaran


Adam melayang cepat dan mengarahkan pukulan ke wajah Furqon namun laki-laki itu menahannya dengan kedua tangannya sehingga ia terseret beberapa meter akibat pukulan Adam yang sangat kuat.


tidak sampai di situ, Adam menajamkan kuku-kukunya dan kembali menyerang Furqon dengan membabi buta.


sraaak...


Adam berhasil mengenai lengan kanan Furqon sehingga baju pria itu sobek dan kuku tajam itu berhasil menggores kulitnya.


sraaak


kembali Adam menyerang namun bukan Furqon yang kena melainkan El yang sekarang berada di depan tubuh pengawal itu.


bughhh


satu pukulan El mendarat di perut hantu itu hingga ia mundur beberapa langkah. Adam telah hilang kendali dan El tidak akan bisa menghentikannya hanya dengan teriakannya, itu sama sekali tidak berguna.


"kita harus menghentikannya" ucap Vino


"tapi bagaimana caranya...?" tanya Leo yang sekarang benar-benar tidak tau apa yang harus mereka lakukan


sementara itu El menatap sayu mata Adam yang juga sedang menatapnya. hantu itu, seakan tidak berani untuk menyerang El padahal tadi dirinya sangat marah saat teman satu kamarnya itu memukul perutnya. namun amarah itu hilang saat menatap mata El yang teduh dan berkaca-kaca.


"dam, ini gue... El" ucap El dengan lirih


"gue pernah bilang kan kalau elu harus lawan itu semua, ada gue yang selalu akan memelukmu saat elu lemah"


"elu haus darah, maka ini gue berikan darah gue untuk elu minum jika hanya dengan itu bisa menenangkan mu"


"dia bicara sama siapa...?" tanya Nisda yang melihat El berdiri lurus ke depan seperti berhadapan dengan seseorang

__ADS_1


"aku juga nggak tau" jawab Bara bingung dengan keadaannya sekarang


"Adam yang gue kenal bukan Adam seperti ini, yang menyakiti orang lain. Adam yang gue kenal adalah yang selalu membantu orang lain, termasuk arwah yang meminta tolong"


"arwah...?" kening Bara dan Nisda berkerut, mereka berdua saling tatap


"gue akan mengganti darah itu dengan melati yang banyak serta dengan tokonya, karena Adam yang kami kenal hanya makan melati bukan darah manusia" kali ini Leo yang berbicara


"dam, kami tim samudera selalu ada buat elu. plis demi kami, lawan rasa takut dan hausmu akan darah" ucap Vino


"kalau elu nggak lawan, gue akan rebut perhatian El dari elu dan membuat dia semakin jauh dari elu" kini starla yang bersuara, gadis itu sudah berdiri di belakang Adam


mendengar pernyataan starla, Adam menggeleng cepat. entah kenapa dia sangat takut kalau harus terpisah jauh dengan El, anak manusia tempat ia mengeluh, bermanja dan bahkan merengek seperti anak kecil saat meminta sesuatu.


"Adam siapa sih, jadi bingung gue" Bara menggaruk kepalanya


perlahan El melangkah mendekati hantu itu. Adam kembali ke wujudnya semula.


"El" panggilnya lirih


"gue di sini, akan selalu disisi elu"


"aku...aku" Adam melihat lengan El yang terluka akibat cakarannya


"hiks hiks, aku telah melukaimu. aku telah menyakitimu. m-maafkan...maafkan aku"


dengan cepat El menarik Adam dan memeluknya. hantu itu, terisak di pelukan anak manusia yang entah berapa lama mereka telah menjalin hubungan persahabatan.


"maafkan aku"


"lihat gue" El menangkup wajah Adam


"bahkan lebih dari ini, gue akan melakukan apapun itu agar elu baik-baik saja. sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan saat gue harus melihat elu tersiksa seperti tadi. gue mohon, kendalikan rasa takutmu dan rasa hausmu akan darah"


tatapan teduh El membuat Adam semakin tidak kuasa menahan tangis. dengan cepat ia mengangguk dan kembali menghambur memeluk remaja itu.


"huufftt... akhirnya, Adam Hawa takluk juga sama pawangnya" Leo langsung terduduk lesu


Vino segera menghampiri starla, gadis itu tersenyum manis dan dengan cepat Vino memeluk erat starla membuatnya terkesiap kaget.


"gue bisa gila tau nggak mikirin keadaan elu" ucap Vino masih memeluk tubuh mungil gadis itu


"kangen ya..?" godanya


di tempat lain, Vania yang terus menerus berlari berhenti di sebuah pohon besar karena tubuhnya tidak mempunyai tenaga lagi walau hanya selangkah. dengan nafas terengah-engah, wanita itu duduk berselonjor di tanah dan bersandar di batang pohon.


(ya Allah, selamatkan aku) batinnya menutup mata


"Vania" suara teriakan memanggil namanya


"Vania"


segera wanita itu berdiri dan mendengar dari arah mana suara itu berasal. lama menunggu namun suara itu tidak juga terdengar.


"apa aku salah dengar" ucapnya


"Vania"


"Zidan" senyum Vania merekah


tanpa menjawab teriakan Zidan, Vania bergegas menghampiri kekasihnya itu namun baru saja keluar dari persembunyiannya, suara tembakan terdengar dan hampir saja mengenai dirinya kalau seandainya ia tidak cepat menghindar.


"di sana Zidan" ucap Helmi


tanpa banyak kata, pria itu kembali berlari menuju suara tembakan tadi di susul yang lainnya.


"kamu tidak akan bisa kemana-mana lagi wanita ******" ucap Rudi yang berdiri tidak jauh dari pohon dimana Vania bersembunyi


"jangan macam-macam kamu, Zidan sedang dalam perjalanan ke sini. dia akan menghabisimu dan juga seluruh antek-antek mu" teriak Vania


"bermimpi lah sepuasmu untuk diselamatkan karena nyatanya tidak akan ada yang dapat menyelamatkan mu. om, aku ingin membereskan segera wanita itu" ucap Thalita


"kalau kamu menghabisinya sekarang, kita tidak akan mendapatkan apa-apa Thalita. tangkap saja dan bawa kembali ke markas" jawab Rudi


meski tangan Thalita sudah gatal ingin membuat Vania menderita namun semua itu harus ia tahan demi tercapainya tujuan awal mereka.


"tangkap wanita ****** itu" ucap Thalita memerintahkan anak buah mereka


"berhenti di tempat atau aku ledakkan kepala kalian"

__ADS_1


Zidan berdiri tepat berhadapan dengan Rudi dan Thalita meski jarak mereka lumayan jauh. Vania sangat senang bisa melihat Zidan pasang badan untuknya.


"sayang" teriak Vania


"kamu tidak apa-apa..?" Zidan menatap sendu wanita itu. Vania mengangguk dengan berlinang air mata


Rudi dan Thalita begitu sangat terkejut melihat Zidan sudah berada di depan mereka. mereka tidak menyangka pria itu dapat dengan mudah menemukan persembunyian yang jauh dari hiruk-pikuk kota.


"tangkap wanita itu" ucap Thalita lagi yang sepertinya tidak takut dengan ancaman Zidan


"melangkah selangkah, aku ledakkan kepalamu wanita ******" ucap Zidan yang mengarahkan pistolnya ke arah Thalita


"cih, tembak mereka semua" teriak Rudi


dor


dor


baru saja Rudi berteriak nyatanya malah pasukannya yang kena tembak. rupanya para pengawal Zidan yang menolong El dan kawanannya telah datang membantu. sepertinya, kekacauan yang dilakukan Adam telah diselesaikan.


"bangsat" umpat Rudi


Rudi dan Thalita bersembunyi di balik pohon, keduanya membalas menembak pengawal Zidan. rupanya wanita yang bernama Thalita itu lihai dalam menggunakan pistol.


sementara Pram, Randi dan Helmi terus maju menembak satu persatu anak buah Rudi. Vania yang tidak bisa menahan diri langsung berlari ke arah Zidan untuk memeluk pria itu. sayangnya, Thalita melihatnya dan dengan cepat mengarahkan pistolnya ke arah Vania.


dor


"ugh"


"vaniaaaa"


teriakan Zidan menggema di hutan itu. ia berlari menangkap tubuh kekasihnya yang hampir saja jatuh di tanah. untungnya Zidan segera menangkapnya dan memeluknya erat.


melihat Vania tertembak, Pram tidak dapat menahan emosinya.


"bunuh Rudi dan semua pasukannya, habisi mereka semua" teriak Pram dengan marahnya


Randi dan Helmi menembak tanpa ampun, sedangkan Rudi dan Thalita semakin tersudut karena pasukan mereka telah banyak yang gugur.


"bagaimana ini om, kita harus kabur dari sini sebelum kita dihabisi" Thalita mulai panik


"kalian tidak akan bisa kemana-mana" kepala keduanya telah ditodongkan olehnya pistol Randi dan Helmi. Rudi dan Thalita tak berkutik lagi,


"s-sayang"


"iya, aku disini...aku di sini" Zidan mulai menangis


"a...a-aku r-rindu" tangan wanita itu mengelus wajah tampan Zidan yang sekarang ini dalam keadaan tegang dan takut


"aku juga, aku juga. bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit"


"a-aku tidak k-kuat lagi. uhuk... uhuk" Vania terbatuk dan darah keluar dari mulutnya


"jangan banyak bicara, kamu harus bertahan. Pram, Randi, Helmi ikut denganku" teriak Zidan


baru saja Zidan akan menggendong Vania, wanita itu menolak dan mengatakan sesuatu.


"a-apakah k-kamu mencintaiku...?"


"diamlah, kalau kamu bicara terus darah akan semakin keluar" Zidan menahan luka tembak di bagian belakang wanita itu


"aku ingin m...m-mendengar kata itu darimu. a-apakah k-kamu mencintaiku. tolong j-jawab agar aku bisa p-pergi dengan tenang"


"tidak akan, aku tidak akan membiarkan kamu pergi. kamu harus bertahan, kamu sudah janji untuk terus menemaniku sampai kita tua. iya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. jadi aku mohon, bertahanlah untukku"


mata Zidan sudah sangat merah, ia berusaha menahan tangis namun nyatanya hari ini ia adalah pria yang cengeng.


"terimakasih"


senyuman terukir di wajahnya. satu ucapan itu keluar dari bibir Vania yang akhirnya perlahan matanya sayu dan lambat laun mata itu terpejam.


"Vania"


"Vania" Zidan terus menepuk pipi Vania namun wanita itu sudah tidak merespon lagi


"tidak....tidak....tidak, jangan tinggalkan aku, aku mohon buka matamu. buka matamu sayang" Zidan terus menepuk pipi wanita itu


"hiks...hiks...jangan tinggalkan aku. aku mohon buka matamu"

__ADS_1


"aaaaaaaaggggghhhhhhh"


Zidan berteriak dengan kerasnya yang masih memeluk tubuh kaku Vania. semua yang ada ditempat itu tidak dapat menyembunyikan kesedihan mereka. ketiga pengawal andalannya meneteskan air mata kecuali Thalita dan Rudi, mereka tersenyum menyeringai karena telah menghabisi wanita yang sangat berarti di hidup Zidan.


__ADS_2