
El-Syakir berjalan melewati beberapa kelas untuk bisa sampai di kantor. banyak siswi yang terus memperhatikannya dan bahkan terang-terangan memuji dirinya saat ia melewati mereka.
Alana yang melihat kakaknya itu langsung berlari memanggil dirinya.
"kak El" panggil Alana
El-Syakir berhenti dan berbalik, Alana sedang melambaikan tangan padanya. Freya dan Anggi yang melihat Alana tersenyum manis ke arah El membuat mereka semakin benci terhadap gadis itu.
"Seil, aku ke kakakku dulu ya" Alana pamit kepada Seil
"mau aku temanin...?" Seil menawarkan diri
"nggak usah deh. pergi dulu ya"
Alana meninggalkan Seil dengan teman-teman mereka yang lain. Seil sedikit kecewa karena Alana tidak mengajaknya, ia sebenarnya menemani Alana agar bisa berdekatan dengan El-Syakir.
"cih, nih cewek nggak tau diri banget ya" Freya begitu tidak suka Alana dekat El
"harus kita kasih pelajaran dia supaya nggak dektain calon pacar gue" Anggi menimpali
"calon pacar lu dari hongkong, nggak usah mimpi deh. El itu punya gue, elu mah nggak bisa tandingan sama gue. secara gue cantik dan berkelas" Freya melirik Anggi dengan sinis
"nggak usah ke PD-an gitu deh Fre, daripada kita yang ribut mending kita kasi pelajaran sama siswi baru itu" Anggi menunjuk Alana yang sedang berlari ke arah El
"gue ada ide" Freya tersenyum licik
Freya dan Anggi menunggu Alana untuk lewat di depan mereka. karena kalau gadis itu menghampiri El-Syakir, dia harus melewati kelas kedua gadis yang kini sedang merencanakan sesuatu padanya.
semakin dekat Alana dengan kedua gadis itu. saat itu juga Freya mengait kaki Alana agar Alana terjatuh di lantai. sayangnya yang terjadi malah sebaliknya. tanpa sebab kenapa, Freya berteriak kesakitan saat ia merasakan seseorang menendang kakinya dan akhirnya ia tersungkur di lantai.
Alana yang hampir saja terjatuh karena ulah Freya berhenti dan menatap bingung kakak kelasnya itu.
"Fre, lu kenapa...?" Anggi merasa bingung kenapa tiba-tiba Freya kesakitan dan jatuh
Alana mendekat ke arah Freya berniat membantu gadis itu berdiri namun El memanggilnya dan akhirnya Alana meninggalkan kedua gadis itu.
sementara di dekat Freya dan Anggi berdiri sosok yang mereka tidak lihat. ia menatap tajam ke arah dua gadis itu, dia adalah Adam. dialah yang menendang kaki Freya hingga gadis itu tersungkur ke lantai.
"lu kenapa sih Fre...?" Anggi membantu Freya untuk berdiri
"kaki gue sakit" ringis Freya
"sakit gimana. perasaan cewek tadi belum sampai mengenai kaki elu deh"
"nggak tau, gue merasa ada yang menendang kaki gue"
"jangan ngaco deh Fre, di sini nggak ada orang hanya kita berdua. yang lain ada di dalam kelas" Anggi geleng-geleng kepala
"sumpah Nggi, gue nggak bohong. kalau nggak ngapain gue teriak kesakitan" ucap Freya
"ya udah gue bantu elu masuk kelas. kali ini cewek sialan itu bisa lolos namun lain kali nggak akan gue biarkan dia tersenyum genit seperti itu" Anggi menatap Alana yang sedang merangkul lengan El-Syakir dan berjalan ke arah kantor
Freya dan Anggi masuk ke dalam kelas mereka. sementara Adam yang menyelamatkan Alana langsung menghilang.
"kakak mau ngapain ke kantor...?" tanya Alana
"kumpul tugas sama pak Aldiano" jawab El
"ooh" Alana manggut-manggut
sesampainya mereka di kantor, Alana menunggu di luar sedangkan El-Syakir masuk ke dalam. ia langsung menghampiri pak Aldiano di meja pria tersebut.
"permisi pak"
"ya"
pak Aldiano mengangkat kepalanya dan melihat El yang sedang berdiri di depannya.
"ini pak tugas dari teman-teman yang lain" El-Syakir memberikan buku tugas teman-temannya kepada guru baru itu
(wangi melati lagi) batin El yang telah mencium lagi harum bunga melati
"terimakasih El-Syakir" pak Aldiano menerima buku-buku itu dari tangan El
"kalau begitu saya permisi pak"
"iya, silahkan"
El-Syakir meninggalkan meja pak Aldiano dan keluar dari kantor. di pintu, El-Syakir berhenti dan berbalik melihat guru baru itu, entah mengapa ia ada sesuatu dengan guru baru itu.
"kak" panggil Alana
__ADS_1
"iya" El mendekati adiknya
"kok melamun di pintu sih, ada apa...?"
"nggak apa-apa, ayo pergi" El merangkul pundak Alana
Alana kembali ke kelasnya dan El-Syakir pun kembali ke kelas. pukul 14.00 bel panjang berbunyi, tanda pelajaran hari telah berakhir dan di lakukan esok hari lagi.
El dan kedua sahabatnya memasukkan buku-buku di dalam tas mereka. sebagai ketua kelas, El-Syakir menunggu semua teman-teman satu kelasnya untuk keluar dari ruangan. setelah itu ia menutup gorden dan juga menutup pintu tanpa menguncinya karena yang memegang kunci adalah orang kepercayaan kepala sekolah untuk menjaga keamanan sekolah.
"Adam kok dari tadi nggak keliatan ya" ucap Vino
"iya, kemana sih tuh hantu. biasanya nggak kayak gini" Leo menimpali
"woi, pulang yuk" Bara yang berada di depan kelasnya bersama Nisda memanggil mereka
"kuy pulang" Leo merangkul bahu Vino dan El kemudian meninggalkan kelas mereka
Starla pun ikut bergabung bersama mereka dan menuju ke parkiran.
"Adam mana...?" tanya Bara
"hadir pak" Adam datang tiba-tiba dan mendarat di punggung El-Syakir
reflek El memegangi Adam agar kakaknya itu tidak terjatuh dari punggungnya. maka saat ini Adam berada di punggung El.
"kakak darimana saja, dicariin nggak ada" tanya El
"habis jalan-jalan, kenalan sama penghuni yang lain" jawab Adam
"banyak dam penghuni sekolahnya...?" Starla bertanya
"banyak, tumpah-tumpah lumer-lumer" jawab Adam
"ck, elu kira minuman sampai harus tumpah-tumpah" ucap Leo
sampai di parkiran mereka bersiap untuk pulang, saat itu juga pak Aldiano datang dan memasuki mobilnya. Adam yang melihat pak Aldiano terus menatap guru baru itu sampai mobilnya tidak terlihat.
"wangi melati" ucap Starla
"hah wangi melati...? Alana kok nggak cium apa-apa ya" Alana berucap
"kamu benar-benar nggak cium wangi bunga melati...?" El bertanya kepada Alana
"nggak kak, emang kakak cium harum bunga melati ya...?" Alana menatap El
"Bara, Nisda, elu berdua bagaimana...?" El melihat kedua temannya itu
"gue sama dengan Starla" jawab Nisda
"gue juga, bahkan sangat tercium di hidung gue" timpal Bara
"ada apa sih kak...?" Alana bingung apa yang mereka bahas
"nggak. ya udah pulang yuk" ajak El
Leo memberitahu Alana untuk bonceng di motornya saja dan Adam akan bonceng di El-Syakir. pertama Alana menolak namun kemudian akhirnya ia mau juga saat El mengizinkannya. ia juga senang karena bisa berboncengan dengan Leo. sebenarnya Adam bisa saja langsung menghilang dan sampai lebih awal di rumah namun ia harus tetap berada di dekat adik dan teman-temannya untuk melindungi mereka jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. meskipun ia tau Furqon dan Ardi selalu memantau mereka dari jauh.
sampai di rumah, Leo langsung pamit pulang sementara El dan Alana masuk ke halaman rumah. Leo menurunkan Alana sebelum masuk di halaman rumah karena jelas pengawal mereka akan mempertanyakan kenapa Alana tidak bonceng di motor El padahal El tidak ada boncengannya tanpa mereka tau kalau sebenarnya ada Adam.
saat masuk, El sudah melihat ayah Adnan di ruang tamu. Alana langsung berlari menghampiri ayahnya dan memeluknya.
"ayah kapan pulang...?" tanya Alana
"baru sampai sayang. kalian baru pulang...?" ayah Adnan memeluk kedua anaknya
"iya yah. Alana kangen banget sama ayah" Alana bergelayut manja di lengan ayah Adnan
"ayah juga kangen" ayah Adnan mencium pucuk kepala Alana
Adam hanya melihat ayah Adnan tanpa bisa menyentuhnya. ingin rasanya ia memeluk ayah yang selama ini ia rindukan itu namun apa daya itu tidak mungkin. ia tidak ingin ayah Adnan merasa takut saat dirinya tiba-tiba memeluk ayah Adnan yang tidak bisa melihatnya.
"ayah" panggil Adam dengan suara lirih. matanya sudah berkaca-kaca
El yang melihat Adam merasa kasian. ia pun meminta izin kepada ayahnya untuk naik ke kamarnya.
"ayo kak" ajaknya pada Adam dengan berbisik
El menaiki anak tangga dan Adam mengikutinya dengan terisak karena ia tidak bisa memeluk ayahnya walau hanya semenit saja.
cek lek
__ADS_1
El membuka pintu setelah mereka masuk di dalam kamar, El menutupnya dan ia langsung menarik Adam kemudian memeluknya.
"hiks... hiks... hiks, aku kangen ayah" ucap Adam dengan lirih
"aku kangen ayah" lanjutnya dengan suara yang ia tahan
El hanya dapat mengelus punggung kakaknya itu. dirinya pun ikut terisak melihat betapa tersiksanya Adam menahan rindu kepada ayah mereka. puluhan tahun Adam berpisah dengan keluarganya dan saat bertemu takdir mempertemukan mereka dengan keadaan yang sulit. Adam berbentuk arwah terpisah dari tubuhnya yang terbaring lemah di rumah sakit. entah kapan dirinya akan kembali ke tubuhnya ataukah Adam tidak akan bisa lagi kembali ke tubuhnya, hanya Tuhan yang tau.
"aku kangen ayah El" Adam masih terisak
"sabar kak, ayah juga pasti sangat kangen dengan kakak" tidak ada yang bisa El lakukan selain menenangkan Adam
"kita akan berusaha untuk menemukan pembunuh bunda dan yang membuat kakak koma. paman Zidan dan ayah sedang melakukan itu"
"sekarang kakak harus kuat, aku Alana, ayah dan ibu sedang menanti kakak untuk bangun dari koma. jika sudah menemukan pembunuh itu, kakak bisa kembali ke tubuh kakak lagi. bukankah itu yang kakak ucapkan. kakak tidak akan kembali sebelum menemukan pembunuh"
"bagaimana jika nanti setelah aku menemukan pembunuhnya, aku dipanggil Tuhan dan tidak bisa kembali ke tubuhku...?"
"jangan berkata seperti itu kak. El takut, El nggak sanggup kehilangan kakak. jadi El mohon kakak jangan terluka sedikit pun agar kakak bisa kembali ke tubuh kakak" El memeluk Adam dengan erat. ucapan Adam sangat membuatnya takut
Adam melepas pelukannya dan ia menatap El yang sedang menangis karena dirinya.
"kalau nanti kakak udah nggak ada dan benar-benar pergi, kamu harus jagain ayah, ibu dan Alana ya"
"nggak... kakak nggak akan kemana-mana, El nggak izinin kakak pergi" El menggeleng cepat dan kembali memeluk Adam dengan eratnya
kini El yang terisak di pelukan Adam. membayangkannya saja sudah membuatnya takut apalagi jika hal itu benar terjadi, ia tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya.
dari awal kedatangan Adam sebelum ia tau kalau hantu itu adalah kakaknya, dirinya sudah sangat nyaman bersama Adam. Adam memberikan kesan tersendiri dalam hidupnya. dirinya benar-benar tidak ingin berpisah dengan kakaknya itu.
di ruang bawah tanah, seorang pria berada dalam sel tahanan. tiga orang pria sedang mengorek informasi dari pria itu.
"dia sama sekali tidak ingin bicara" Pram mulai kesal karena sejak tadi Aris tidak ingin membuka mulutnya
"apa perlu kita melakukannya secara ekstrim agar dia mau berbicara" Randi bersuara
"mungkin memang dia harus merasakan sakit terlebih dahulu baru dia ingin bicara" Zidan menimpali
Aris di ikat berdiri, kedua tangan di ikat dengan rantai yang tidak akan bisa ia buka karena kunci gemboknya ada di tangan Zidan.
"kamu masih tidak ingin berbicara...?" Zidan mendekati Aris yang tersenyum mengejek ke arahnya
"walau kalian melakukan apapun, aku tidak akan mengatakan dimana ayah berada" ucap Aris
"anak sama bapak sama saja" Randi mulai jengah dengan sikap Aris
"aku nggak nyangka bisa mempunyai keponakan seperti kamu. apakah mas Bahar menikah saat umur belasan tahun" Zidan telah memegang cambuk
"kalau aku taksir sepertinya umurnya sama dengan kita hampir kepala tiga. mungkin dia ini anak pungut atau anak angkat" Pram berspekulasi
"sepertinya begitu, wajahnya saja tidak ada miripnya dengan pak Baharuddin" timpal Randi
"aku tidak ingin membuang tenaga untuk menyiksamu, biarlah pengawal ku saja yang memberikan hukuman kecil padamu"
Zidan keluar dari sel dan memberikan cambuk yang ada di tangannya kepada pengawalnya yang lain.
"siksa dia" perintah Zidan
"baik bos"
Zidan dan kedua pengawalnya meninggalkan tempat itu sementara pengawal yang tadi mulai bermain-main dengan Aris.
di dalam kamar, Helmi sedang terbaring tidur. pria itu belum bisa melakukan kegiatan apapun karena tubuhnya yang masih lemah dan butuh istrahat yang cukup.
Sisil dan Azam sedang berada di kamar pria itu. Azam bahkan meneteskan air mata melihat kondisi Helmi yang menurutnya sangat memprihatinkan.
"kenapa dengan paman Helmi mah...?" tanya Azam
"nggak kenapa-kenapa sayang. doakan paman Helmi supaya cepat sembuh ya" Sisil membelai kepala anaknya
"iya mah" jawab Azam
sore hari El bersiap untuk ke rumah Vino. ia meminta izin kepada ayah Adnan dan ibu Arini. Alana yang tadinya ingin ikut sekarang berubah pikiran. dirinya hanya ingin di rumah saja tanpa kemana-mana.
sepanjang jalan Adam hanya diam memandang ramainya kendaraan yang memadati jalan raya. sebelum ke rumah Vino, mereka singgah di toko bunga untuk membeli bunga melati.
saat turun dari motor El dapat mencium sesuatu. wangi yang sejak tadi ia cium di sekolah. bahkan sekarang bau harum melati sangat tercium di hidungnya.
(bau melati) batin El melihat sekeliling
"pergi dari sini" Adam yang tadi tidak bersuara langsung menyuruh El untuk meninggalkan tempat itu
__ADS_1