Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 162


__ADS_3

"bagaimana ini, kita nggak bisa pulang kalau hujannya awet banget seperti ini" Nisda mengeluh


"pasti reda kok sayang, sini dekat sama aku" Bara menarik Nisda dan memeluknya agar gadis itu dapat merasakan hangat dan tidak begitu kedinginan


untung saja tempat mereka berteduh cukup luas sehingga dapat menampung mereka semua yang lebih dari sepuluh orang.


Adam melirik Melati yang sedang menggigil kedinginan. tidak mempunyai jaket untuk menghangatkan badan, Melati mengusap kedua tangannya dan menempelkan ke wajahnya. hal itu ia lakukan agar wajahnya terasa hangat.


"sini" Adam menarik Melati agar lebih dekat dengannya


"dingin ya...?" tanya Adam


"banget, kayak di dalam kulkas" Melati memeluk dirinya sendiri


"maaf ya, aku nggak punya selimut untuk membuat badan kamu hangat. aku hanya bisa melakukan ini" Adam mengusap tangannya dan mengambil tangan Melati untuk digenggamnya


"apa sudah lebih hangat...?"


"iya, lebih dari hangat. perlakuan kecil seperti ini saja sudah membuat hati aku menghangat. terimakasih" Melati tersenyum haru atas perlakuan Adam


"aku pernah melihat ayah Burhan melakukan hal ini kepada bunda" Adam menatap lembut mata Melati


Adam menatap dalam mata gadis itu. Melati membalas senyuman itu dengan penuh haru, baru kali ini dirinya mendapat perlakuan istimewa seperti itu dari Adam.


tim samudera yang lain melihat kedekatan Adam dan Melati merasa lega. setidaknya dibandingkan kemarin-kemarin, sikap Adam sudah jauh lebih terbuka kepada Melati.


Adam terus mengusap tangannya kemudian mengambil tangan Melati untuk menghangatkannya. hal itu membuat Melati begitu senang dan terharu, Adam yang dulunya cuek kini perlahan mulai berubah.


"aaa so sweet" ucap Seil saat melihat Adam dan Melati


"cieee... romantis bener pak" ledek Vino


"udah ya" Adam melepaskan tangan Melati karena dirinya tidak ingin terus diperhatikan oleh yang lainnya.


sementara itu Alana berada di pelukan El-Syakir, Leo ingin sekali memeluk gadis itu namun ia tahan karena masih ada bahu yang lebih nyaman untuk tempat Alana bersandar yaitu di bahu kedua kakaknya.


"kok gue merasa kita seperti kurang seseorang ya" Starla yang sedang bersandar di bahu Vino memperbaiki posisi duduknya dan memperhatikan mereka semua


"kurang gimana La, dari tadi kan kita di sini terus nggak pernah pisah" timpal Leo


"tunggu, gue hitung dulu" Starla mulai menghitung berapa jumlah mereka semua.


"nah tuh kan, tadi kita 14 orang...kenapa sekarang hanya 13 orang" ucap Starla


"astaghfirullah, Wulan kak... Wulan" pekik Zahra yang baru saja teringat dengan temannya itu


"nah iya Wulan nggak gue liat sejak tadi" timpal Vino yang memang sejak berteduh tadi, ia tidak melihat gadis itu


"kak Deva, Wulan tadi izin mau buang air kecil tapi sampai sekarang belum datang juga. bagaimana ini, jangan-jangan dia tersesat lagi" Zahra nampak mulai panik


"kita harus mencari Wulan kak, Zahra takut dia kenapa-kenapa sampai sekarang belum datang juga"


"kita nggak mungkin mencari sekarang dek, hujannya masih sangat deras, bisa bahaya" ucap Deva


cuaca yang ekstrim saat itu memang tidak memungkinkan untuk mencari Wulan. selain mereka akan basah, penglihatan juga akan terganggu karena air hujan yang akan terus mengguyur wajah mereka.


"lalu bagaimana, kalau Wulan kenapa-kenapa gimana kak" Zahra sudah mulai menangis


"tenangkan dirimu dek Zahra, setelah hujan redah kita akan mencari Wulan. mencari dalam keadaan hujan seperti ini dapat membahayakannya kita juga jika kita tidak sangat berhati-hati. benar kata kak Deva, sangat bahaya" ucap Adam menimpali


Zahra tidak lagi berbicara, dia hanya pasrah saja sambil menunggu hujan redah. tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu hujan berhenti mengguyur bumi.


"ya Allah, hujannya kok nggak berhenti-henti" Wulan sedang berteduh di salah satu gazebo kecil yang jauh dari yang lainnya


saat setelah buang air kecil, Wulan akan kembali. namun karena hujan seketika turun dengan derasnya membuat gadis itu berlari menjauh ke arah lain menghampiri sebuah gazebo kecil yang ia lihat dari kejauhan


"dingin banget lagi" Wulan menggigil dan memeluk dirinya


"apa aku telpon mereka saja ya"


Wulan mengambil handphonenya untuk menghubungi Zahra namun tidak tersambung bahkan handphone itu tidak mendapat signal.


"haduuuuh, perasaan dulu ada signal deh. kenapa malah sekarang nggak ada" Wulan mengangkat tangannya berharap handphonenya mendapatkan signal namun hasilnya nihil tidak berhasil


ddduuuaaaar


"Allahuakbar"


Wulan melompat ke atas saat guntur dan kilat saling bersahutan. ia pun merasakan takut akan sendirian di tempat itu.


"terobos aja deh hujannya, basah kuyup nggak apa-apa" Wulan berniat hujan-hujanan asalkan dirinya sampai kepada yang lainnya

__ADS_1


hap


baru saja melangkahkan kakinya, satu tangan memegang bahunya. refleks dirinya berbalik untuk melihat siapa yang ada dibelakangnya. seseorang yang ia tidak kenal tersenyum ke arahnya.


"beli jagung rebusnya nak" seorang kakek tua tersenyum ke arahnya


sementara di tempat lain, saat suara Guntur yang menggelegar tadi, semua orang kaget dan bahkan refleks berteriak keras.


"astaghfirullahaladzim, hampir copot jantung gue" Leo mengusap dadanya


"sudah dua jam kita terjebak hujan, apa tidak sebaiknya kita mencari Wulan. jangan sampai benar apa yang dikatakan Zahra, sesuatu terjadi padanya" ucap El masih memeluk Alana


"benar kak, kalau menunggu hujan redah masih akan lama, Zahra benar-benar khawatir sama Wulan. ayo kak Deva, cari Wulan" Zahra merengek agar temannya itu dapat segera dicari


"baiklah, kami laki-laki saja yang mencari, untuk kalian tetap di sini dan jangan kemana-mana" Deva akhirnya memutuskan


"maaf kak Deva, gue nggak ikut. gue nggak bisa terkena hujan lebih lama" ucap Vino saat mereka telah bersiap


"nggak apa-apa, kamu di sini saja menjaga mereka. pastikan kalian tetap di sini sampai kami kembali" jawab Deva


mereka mulai menerobos hujan itu, dan meninggalkan tempat perteduhan. langkah kaki mereka membawa semuanya di area hutan yang terlihat menyeramkan, apalagi dalam keadaan gelap tanpa cahaya matahari.


"Wulan" El mulai berteriak memanggil nama gadis itu


"astaga, percuma saja kita berkoar-koar kalau suara hujan lebih besar dari suara kita" ucap El


"nggak usah teriak, kita mencari dengan memeriksa sekitar. kita berpencar saja. aku dan Deva ke arah kiri dan kalian bertiga ke arah kanan" Adam memberikan ide


"iya sebaiknya seperti itu saja, kita berpencar agar lebih cepat menemukannya. jangan terlalu masuk ke dalam hutan karena di dalam sana ada jurang, kita berada di puncak, jelas saja ada jurang untuk mengarah ke bawah" Deva menjelaskan


"baiklah, kalau dalam waktu sejam kita tidak menemukannya, sebaiknya kita hentikan pencarian dan turun ke bawah meminta pertolongan" Bara setuju dengan usulan Adam


"ya sudah, aku dan kak Deva akan ke kiri kalian ke kanan. kita akan bertemu dititik ini lagi dalam waktu satu jam ke depan. ayo kak Dev" ajak Adam yang mulai melangkah ke arah kiri dan El-Syakir, Leo serta Bara mengambil jalur kanan


Deva dan Adam terus menyusuri hutan itu, baju yang basah kuyup tidak mengurungkan niat mereka untuk mencari Wulan. 30 menit pencarian, hujan mulai reda hanya menyisakan rintik saja.


"Wulan" Leo memanggil nama gadis itu, karena hujan telah redah otomatis teriakan mereka pasti akan di dengar oleh gadis itu


"Wulan, kamu dimana" Bara ikut memanggil


"apa iya dia masuk sejauh ini ke dalam hutan. masa buang air kecil saja jauh banget" ucap Leo


"stop...stop" El menghentikan langkah mereka semua


"kenapa El...?" tanya Bara bingung, mengapa El-Syakir menghentikan langkah mereka


"jurang" El menunjuk ke arah depan


hanya beberapa langkah lagi hampir saja mereka jatuh di jurang itu, untung saja El-Syakir dapat melihat dengan cepat bahaya yang ada di depan mereka.


"kalau kita dapat jurang itu berarti kita sudah jauh banget masuk ke dalam hutan. sebaiknya kita kembali, siapa tau Adam dan kak Deva sudah menunggu kita di tempat tadi" ucap Leo


"ya sudah, kita kembali saja" timpal El


ketiganya balik badan untuk kembali ke tempat mereka berkumpul tadi. namun saat melangkah, ekor mata El-Syakir menangkap seseorang di balik pohon besar yang jauh beberapa meter dari mereka.


"kenapa El, kok berhenti...?" tanya Bara


"gue melihat ada orang di sana" El menunjuk pohon di samping kanan mereka


"mana, nggak ada siapa-siapa" Leo melihat pohon yang ditunjuk oleh El-Syakir


"salah liat kali, nggak orang di sini selain kita bertiga" ucap Bara ikut melihat ke pohon besar itu


"ya sudah, ayo" ajak El mereka meninggalkan tempat tempat itu


sementara Deva dan Adam yang masih terus melakukan pencarian pada akhirnya mereka berhenti karena di depan sana yang jaraknya hanya beberapa meter, seekor monyet hitam menghadang jalan mereka.


"monyet...?" gumam Adam saat ia melihat kucing hitam itu.


matanya yang menyala menatap Adam dan Deva dengan begitu tajamnya.


"jangan mendekat dam" Deva melarang Adam untuk mendekati monyet itu


"aku hanya ingin mengusirnya" jawab Adam tetap mendekati monyet itu


tanpa di sangka monyet itu seketika melompat ke arah Adam dan mencakar lengannya.


"Adam" Deva kaget Adam diserang secara tiba-tiba


saat monyet itu akan kembali menyerang, Adam menendangnya dengan kuat hingga monyet itu menghantam pohon kemudian jatuh di tanah.

__ADS_1


"hati-hati kak Deva, dia bukan monyet biasa" ucap Adam yang saling tatap dengan monyet itu


"dam, tidak usah hiraukan monyet itu. kita pergi dari sini sekarang juga. kita sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan"


sayangnya tidak segampang itu untuk kembali, monyet tadi kembali menyerang mereka berdua. bahkan kini lengan Deva dan Adam sudah penuh cakaran monyet hitam itu.


"cari mati kamu" Adam mencari sesuatu, ia melihat sebuah batu di dekatnya. diambilnya batu tersebut dan mulai mengambil posisi saat monyet itu kembali menyerang.


satu lemparan Adam dengan batu yang cukup besar itu, mengenai monyet itu dan langsung mati seketika tidak bergerak lagi.


"astaga dam, apa yang kamu lakukan" Deva kaget monyet itu tidak bergerak lagi


segera Adam dan Deva mendekati monyet itu, Adam berusaha membangunkan monyet itu namun nihil, monyet itu sudah mati tidak bernafas lagi.


"dia mati dam, ini bahaya...bahaya" Deva tampak mulai cemas


"kalau tidak membuatnya mati, dia akan terus menyerang kita. aku tidak punya pilihan lain. sudah ku katakan, ini bukan monyet biasa"


"dia memang bukan monyet biasa, dan sebentar lagi kita pasti akan terkena masalah. sebelum itu terjadi dan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya kita pergi dari sini, ayo cepat" Deva menarik Adam untuk meninggalkan monyet yang sudah mati itu


mereka berdua berjalan cepat untuk keluar dari hutan itu. jalanan yang licin membuat Adam dan Deva hampir terjatuh.


"ayo dam, cepat"


"jangan terlalu cepat jalannya kak, kita bisa jatuh berkali-kali kalau seperti itu"


bughhh


baru saja menyelesaikan ucapannya, Adam benar-benar terjatuh karena kakinya yang tersandung oleh akar pohon.


"aduh, apa aku bilang" Adam meringis karena bokongnya mendarat lebih dulu di tanah


"astaga, kamu ceroboh sekali" Deva membantu Adam untuk berdiri namun saat itu juga terdengar suara seperti monyet dari jarak yang masih cukup jauh.


"kamu mendengar itu...?"


"dengar kak, dan sepertinya mereka mengarah ke sini" ucap Adam


suara sahutan monyet-monyet itu semakin terdengar jelas. dari jauh mereka dapat melihat banyaknya monyet yang menggelantung di pohon sedang menuju ke arah mereka. Adam dan Deva saling pandang, sesuatu yang buruk akan terjadi kepada mereka jika terus saja berdiri di tempat itu.


"LARI" teriak Deva menarik tangan Adam


keduanya berlari kencang untuk terbebas dari kejaran monyet-monyet itu. sayangnya masalahnya tidak sesimpel itu. ratusan monyet bahkan ribuan mengejar mereka berdua. ada yang mengejar mereka di tanah dan ada juga yang menggelantung dari pohon ke pohon.


mereka yang sudah jatuh bangun karena jalanan yang licin tetap berlari tanpa memperdulikan rasa sakit yang mereka alami. dibandingkan dengan kaki panjang mereka yang berlari melangkah jauh, monyet-monyet itu ternyata lebih cepat dari keduanya. tidak membutuhkan waktu lama, Adam dan Deva sudah terkepung oleh monyet-monyet itu.


"tamat sudah riwayat kita" ucap Deva yang melihat betapa banyaknya monyet-monyet itu


"kak Deva tidak mempunyai apapun untuk melawan mereka...?" tanya Adam


"mau punya apa, kita hanya bawa diri tanpa senjata atau semacamnya"


Deva salah mengartikan, yang di maksud Adam adalah apakah Deva mempunyai kekuatan seperti dirinya untuk bisa melawan ribuan monyet itu.


"maksud aku...."


"AWAS DAM"


bughhh


satu monyet melompat menyerang, untung saja Deva melihat dan melayangkan tendangan sehingga monyet itu menubruk monyet yang lainnya.


karena hal itu, Deva semakin membuat monyet-monyet itu marah. tatapan tajam mereka begitu menusuk, siap mencabik-cabik tubuh keduanya.


"dam, sepertinya kita akan babak belur hari ini"


"aku tidak ingin babak belur kak, hanya karena monyet-monyet sialan itu"


"kita lawan mereka"


"kakak punya senjata...?"


"dengan tangan kosong saja, itu pilihannya sekarang"


keduanya saling membelakangi dengan punggung yang bertemu.


"kak Deva siap...?"


"siap"


mereka berdua mulai mengambil posisi bersiap untuk melawan ribuan monyet itu.

__ADS_1


__ADS_2