Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 204


__ADS_3

POV (El-Syakir)


setelah aku dulu mengalami kecelakaan hingga kemudian mata batin ku terbuka dan bertemu dengan arwah kak Dirga, saat itu hidupku sudah penuh dengan tantangan. entah gaib atau bahkan dunia nyata.


pertarungan bukan hal biasa lagi bagiku. bagi kami tim samudera, pertarungan sudah seperti makanan sehari-hari untuk kami semua. namun saat ini aku sedang tidak bersama dengan timku, aku hanya bersama Hamdan yang entah dia lihai bela diri ataukah tidak karena aku belum melihatnya secara langsung dan mungkin kali ini aku akan bisa memprediksikan bagaimana kemampuannya.


"kamu siapa Ham...?" tanyaku tanpa menoleh


"sudah dari tadi aku siap" jawab Hamdan begitu percaya diri


dua orang yang ada di depan kami memanggil teman mereka untuk melawan kami. lima orang datang itu berarti tentu saja perkelahiannya yang tidak akan seimbang. aku bisa saja menghadapi tiga orang sekaligus, tapi bagaimana dengan Hamdan.


"Ham, mereka banyak, apa kamu sanggup melawan mereka...?"


"kamu sangat tidak mempercayainya kemampuanku Syakir, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mereka" jawab Hamdan menggulung lengan baju kemeja yang ia pakai


"hajar mereka" perintah laki-laki yang menangkap tante Anggun


"siap Ham, aku tiga kamu dua" ucapku


aku sudah dikelilingi tiga orang laki-laki yang berbadan besar. sepertinya semua anak buah Baharuddin dipilih dengan melihat postur tubuh, wajah bringas dan pastinya lihai dalam berkelahi.


Hamdan pun sudah di kepung dari dua arah, kanan dan kirinya.


"anak ingusan, MATI KAMU"


aku mulai diserang dan tentu saja aku menghindar kemudian melompat ke atas dan


bugh


aku memukul salah satunya dengan mengarahkan siku kanan ku di kepalanya. jelas dirinya langsung ambruk di tanah dan pingsan.


"bocah ingusan. bos Baharuddin akan mencincangmu menjadikan makanan peliharaannya"


"nggak usah banyak bacot, ayo maju" aku menggoyangkan jari telunjuk memanggil keduanya untuk menghadapi ku


kini satu lawan dua, sama seperti Hamdan. namun Hamdan sudah melumpuhkan satu orang lawannya sehingga dirinya seimbang, satu lawan satu.


kembali aku di serang, kali ini mereka menggunakan senjata tajam. pisau tajam yang sepertinya selalu mereka bawa dan digunakan untuk menghabisi lawan.


aku melihat sekeliling siapa tau aku bisa mendapatkan benda sebagai senjata dan aku melihat sebuah besi panjang sampai di bahu, tergelatak di pot bunga yang ada di teras rumah.


mereka menyerang dengan berniat menusukkan pisau itu ke arahku. aku menahan salah satu tangan dari mereka berdua dan memelintir ke belakang kemudian satu orangnya lagi aku melompat dan menendang kepalanya hingga ia jatuh tersungkur bersama dengan lawan Hamdan yang berhasil ia lumpuhkan.


buaaaak


aku memukul tengkuk lawanku kemudian menendang punggungnya setelah itu aku berlari mengambil besi yang aku lihat tadi


"Hamdan tangkap" teriakku dan melempar besi itu ke arahnya


Hamdan melompat dan menangkap besi itu kemudian menghajar orang-orang tadi dengan besi yang aku berikan.


tante Anggun akan dibawa pergi oleh dua orang tadi, tentu saja aku tidak akan membiarkan itu terjadi.


Jan sarikan lungurtum Kris larangapati


aku membaca mantra mengeluarkan keris milikku, cahaya putih yang menyilaukan mata membuat semua orang menutup mata. kesempatan itu aku ambil berlari ke arah tante Anggun dan menariknya membawanya berlindung di belakangku.


saat cahaya putih yang dikeluarkan keris larangapati padam, aku sudah berada tepat di depan keduanya.


"ucapkan selamat datang kepada malaikat maut" ucapku dengan seringai di bibirku


jleb


jleb


ku tancapkan keris larangapati ke perut keduanya dengan begitu dalam setelah itu aku meninju ulu hati keduanya hingga mereka memuntahkan darah dan langsung ambruk di tanah.


"Syakir, kamu membunuh mereka...?" Hamdan datang dengan mulut yang menganga, tidak menyangka aku akan membunuh lawanku


"aku tidak punya pilihan Ham, kalau bukan mereka yang terbunuh maka kita yang akan dibunuh" jawabku melap darah yang melekat di keris milikku


Bagas berhasil menghajar satu persatu orang-orang itu, dan kini mereka semua tergelatak di tanah. ada yang sudah meregang nyawa dan mungkin ada yang hanya pingsan saja.


"kita tinggalkan tempat ini" ucap Bagas


"tidak semudah itu meninggalkan tempat ini" jawab seseorang


saat aku berbalik, paman Helmi dan yang lainnya tengah berada di belakang kami. dan bahkan kini ada juga paman Zidan yang masih dengan wajah pucatnya serta tim samudera yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan mereka, para perempuannya karena laki-lakinya baru saja kami bertemu.


"paman Zidan" aku begitu senang dan berlari memeluk dirinya


"kamu baik-baik saja...?" tanya paman Zidan


"aku baik paman, mereka telah berhasil kami kalahkan" ucapku menunjuk orang-orang yang tergeletak di tanah

__ADS_1


"apa-apaan ini Syakir" Bagas kaget dan melotot


"jadi selama ini kamu adalah orang dalam dari Sanjaya grup" ucap Bagas lagi


"dia adalah tuan muda El-Syakir, anak dari pak Adnan pemimpin Sanjaya grup" jawab paman Randi


"jadi selama ini kamu menipu kami...?" tanya Bagas


"dimana anakku...?" tanya Zidan


"anakmu sudah meninggal" jawab Bagas


"kamu bohong, Galang adalah anak dari paman Zidan kan. tante Anggun, Galang bukan anak tante kan, tapi anak seorang wanita yang ditolong oleh dokter Nathan dan wanita itu adalah tante Vania, istri dari paman Zidan Sanjaya" ucapku


tante Anggun memeluk Galang dengan erat dan bersembunyi di belakang Bagas.


"tante Anggun, apakah tante tega memisahkan Galang dengan orang tua kandungnya. aku tidak tau bagaimana cerita tante Anggun bisa mengambil Galang, tapi tolong jawab kalau Galang bukan anak tante kan" ucapku


tante Anggun menatap Galang yang sedang tertidur di dekapannya. kemudian ia mendekat namun Bagas menahannya.


"Galang akan lebih aman jika dia bersama orang tuanya Gas, tugasku dengan Nathan sudah selesai untuk melindungi anak ini dari incaran Baharuddin yang akan dijadikan tumbal" ucap tante Anggun


"jadi benar dia anakku...?" paman Zidan mulai berkaca-kaca


"iya, dia adalah anakmu. anak dari seorang wanita yang diselamatkan oleh suamiku. namun karena anaknya laki-laki, maka Gibran menyuruh aku dan suamiku untuk membawa Galang pergi agar tidak dijadikan tumbal oleh Baharuddin dan kemudian Gibran memberitahu Baharuddin bahwa anak itu meninggal tidak bisa diselamatkan. sayangnya semuanya telah terbongkar, nyawa Galang dalam bahaya begitu juga dengan Gibran" ucap tante Anggun


paman Zidan mulai meneteskan air mata dan mendekat Anggun kemudian mengambil Galang dari gendongan tante Anggun.


"anak papa" paman Zidan mencium seluruh wajah Galang


aku begitu terharu begitu juga yang lainnya. paman Zidan begitu bahagia bisa bertemu dengan anaknya.


"dia mirip sekali denganmu" ucap Pram


"iya, dia sangat mirip denganmu" timpal paman Edward


Bagas menghela nafas panjang dan memijit pelipisnya, ia kemudian mengambil hpnya yang berdering yang berada di kantung celananya.


"halo Abi, ada apa...?"


Bagas memanggil nama Abi, itu berarti dia adalah kak Furqon.


"APA, DI KEPUNG...?"


"sial. bertahanlah, aku akan ke sana"


Bagas mematikan panggilannya dengan raut wajah tegang dan emosi.


"kenapa Gas...?" tanya Anggun


"vila milik Gibran di kepung, mereka sudah tau persembunyian kita. aku harus ke sana menolong mereka" jawab Bagas


"paman, tante Vania ada di sana juga" ucapku panik jangan sampai terjadi sesuatu dengan tante Vania


"kita ke sana semua" jawab paman Zidan dengan sorot mata penuh amarah


"lalu Galang bagaimana...?" tanya paman Randi


Paman Zidan melihat ke arah Anggun kemudian memberikan kembali bayi mungil Galang kepada tante Anggun.


"aku percaya kamu bisa menjaganya. aku titipkan dia sebentar, kalian akan dibawa ke kediaman Sanjaya agar aman dari kejaran Baharuddin" ucap paman Zidan


"Ardi, Edward... tolong antar mereka ke rumah" paman Zidan memerintah


"kami akan menemani mereka" ucap Alana


"iya, kami akan pergi bersama mereka...biar laki-laki saja yang memburu Baharuddin" ucap Starla


Melati dan Nisda mengangguk, setuju dengan ucapan Starla. jika sudah ada mereka, maka tentu aku merasa lega.


"hati-hati, kamu belum sepenuhnya sembuh" paman Edward menepuk pelan bahu paman Zidan


"jika aku kenapa-kenapa, aku mengandalkanmu" ucap paman Zidan tersenyum


"pulanglah dalam keadaan baik-baik saja, kalian semua harus pulang tanpa lecet sedikitpun" tegas paman Edward


"kami tidak bisa berjanji untuk lecet paman, tapi kami berjanji untuk menjaga diri" ucap Leo


kami semua akhirnya meninggalkan rumah Abimana asli. aku mengajak Hamdan untuk ikut bersama tante Anggun jangan sampai rumah ini kembali di serang namun Hamdan menolak dan berkata akan ke tempat tinggal Abimana asli, dan aku tidak bisa memaksa.


Ghandi digendong oleh Ardi, mereka masuk ke dalam mobil bersama tante Anggun, paman Edward dan perempuan tim samudera. sementara aku dan yang lainnya akan ke vila untuk menyelamatkan orang-orang yang berada di sana.


aku serta laki-laki tim samudera berada di mobil bagas sedang paman Zidan dan para pengawalnya berada di mobil yang lain.


di perjalanan menuju vila, aku mendengar suara kak Dirga bersama dengan kak Deva.

__ADS_1


"sialan, kemana perginya wanita ular itu" umpat kak Dirga


"kenapa kak...?" tanyaku yang penasaran


kak Dirga tidak menjawabku namun dirinya dan kak Deva sepertinya masih mengejar jejak Baharuddin.


"Zulfan dimana kak...?" tanya kak Dirga


"aku menyuruhnya untuk mengikuti mobil tadi, kita tunggu saja informasi darinya" jawab kak Deva


"kalian dimana tuan muda Dirga...?" tanya paman Helmi


"kami juga tidak tau berada dimana paman, kami sedang berusaha mencari tempat persembunyian Baharuddin" jawab kak Dirga


"hati-hati kak, ratu Sri Dewi bukan tandingan kita" ucapku


"bukan tandingan kita tapi ratu Sundari, adalah tandingannya. lihat saja apa yang akan dilakukan ratu Sundari kepada wanita ular itu" ucap kak Dirga


"kamu berbicara dengan siapa...?" tanya Bagas menoleh ke arahku karena aku yang duduk di sampingnya


aku memperlihatkan headset yang ada di telingaku sementara Bagas tentu saja terkejut.


"jadi selama ini kamu berhubungan dengan mereka dan mengelabui kami...?" tanya Bagas


aku hanya tersenyum tanpa berniat menjawab pertanyaan Bagas. toh nanti juga semua akan terungkap. saat ini mungkin penyamaan kami tidak lagi berarti karena pasti Baharuddin sudah tau, ataukah memang dia belum tau karena anak buahnya tadi sudah kami habisi. mungkin memang dia belum tau, yang ia tau bahwa Gibran ternyata menghianatinya.


Bagas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, kami memang harus segera sampai di vila. karena disana hanya ada kak Furqon dan Nathan sementara Gibran tentu tidak bisa melawan karena dalam keadaan kritis.


kami sudah memasuki wilayah perkebunan teh, di atas sana sebuah vila berdiri kokoh. Bagas menghentikan mobilnya kemudian keluar. aku dan yang lainnya pun keluar.


mobil paman Zidan yang berada di belakang kami ikut berhenti dan mereka semua keluar dari mobil.


"kenapa berhenti...?" tanya Bara


"kita harus sembunyi-sembunyi dan tiba di atas langsung menyerbu mereka. kita tidak tau apa yang terjadi di sana, jangan sampai Gibran dan yang lainnya sudah ditawan. maka jika secara terang-terangan memperlihatkan diri, mereka akan mengancam kita dengan sandera mereka namun kalau kita sembunyi-sembunyi, kita masih bisa menyelamatkan mereka" jawab Bagas


"ide yang bagus, kalau begitu kita jalan kaki saja menuju ke atas sana" ucap paman Zidan


kami tidak memilih jalan utama namun memilih jalan masuk ke dalam perkebunan teh dan berjalan dengan cepat seperti ninja di malam hari sayangnya hanya pakaian kami saja yang tidak terlihat seperti ninja.


kami semakin dekat dengan vila namun kemudian Bagas yang berada di depan berhenti dan mengangkat tangan kiri mengepal seperti tinju pertanda kami harus berhenti.


"kenapa berhenti...?" tanya Vino


"vila rupanya benar-benar dikepung, lihat ada penjaga di sana" ucap Bagas menunjuk ke arah dimana dua orang sedang berjaga dari arah samping


"aku akan mengatasinya" jawab Leo


Leo meraba-raba sesuatu di dekat kami hingga kemudian ia menemukan empat buah batu. Leo berdiri mengambil ancang-ancang dan melempar batu besar yang ia pegang ke arah dua orang tadi.


swing


swing


dua buah batu telah mengudara dan mendarat tepat di kepala keduanya hingga mereka teriak kesakitan.


kembali Leo melempar batu dan mengenai lagi kepala mereka hingga keduanya jatuh pingsan akibat ulah dari Leo


"hebat lu Le" Vino mengangkat jempol memuji Leo


"bergerak sekarang" ucap paman Helmi


kami kembali bergerak semakin maju ke depan hingga akhirnya kami sampai di pekarangan samping vila.


aku mengintip untuk melihat siapa yang berjaga di belakang dan ternyata ada beberapa orang yang sedang siap siaga


"di depan ada lima orang dan bisa jadi di dalam mereka ada lagi, sepertinya mereka sudah tau kalau kita akan datang" ucap Bagas mendekati kami setelah melihat keadaan di depan


"biar aku yang atasi" ucap paman Randi


paman Randi mengeluarkan sebuah benda yang berbentuk granat, apakah dia akan meledakkan tempat ini.


"paman, kita bisa ketahuan kalau tempat ini meledak" ucapku


"renang saja, benda ini hanya akan membuat mereka pingsan" jawab paman Randi


paman Randi membuka penutupnya dan melemparkannya ke arah belakang. aku pikir akan meledak namun ternyata benda itu hanya mengeluarkan asap yang banyak sehingga orang-orang itu terbatuk-batuk dan aku lihat mereka satu persatu berjatuhan.


"sekarang giliran yang di depan" ucap paman Randi


benda seperti tadi dilemparkan lagi di halaman depan dekat orang-orang Baharuddin. mereka semua terbatuk-batuk dan tidak lama pingsan di tempat.


"waktunya masuk" ucap paman Pram


kami berpencar menjadi dua kubu. aku dan tim samudera bergerak menuju ke arah belakang sementara paman Zidan dan yang lainnya ke halaman depan. siapapun yang berada di dalam tentu harus kami hadapi untuk menyelamatkan tante Vania, kak Furqon, Gibran, dokter Nathan dan dua orang pekerja yang mungkin juga di tawan oleh mereka.

__ADS_1


__ADS_2