Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 147


__ADS_3

"paman Zidan sama tente Vania belum pulang juga ya...?" Adam membawa piring ke dapur sedang El membawa gelas-gelas kotor bekas minuman mereka


"mungkin mereka mau nginap di hotel" jawab El menyimpan gelas kotor itu ke tempat cuci piring


"harusnya kita juga nginap di hotel hari ini" ucap Adam


"mau saingan sama pengantin baru...?" ledek El


"saingan ngapain...?" kening Adam mengkerut


"saingan....emm...apa ya, gue juga bingung mau saingan apa" El menggaruk kepala


"his...otak kamu kenapa jadi mesum begitu" cibir Adam


"lah emang kakak tau gue lagi mikirin apa...?"


"gaosah sok polos deh" Adam meninggalkan El-Syakir sedang El mengekor di belakangnya


"bu, Alana gimana...?" tanya Adam saat melihat ibu Arini


"sudah membaik. kalian mandi sana, udah mau magrib ini" jawab ibu Arini


"ayah belum pulang...?" tanya El


"lagi di jalan pulang, mungkin sebentar lagi sampai" jawab ibu Arini


"kirain ayah tidur di hotel" timpal Adam


"yang pengantin kan bukan ayah, ngapain tidur di hotel" ucap ibu Arini


"siapa tau mau bulan madu lagi sama...."


"sama siapa...? udah naik sana tidak usah provokasi ibu. tak jewer kalian berdua, mau...?"


"lah kak Dirga yang bilang kok aku juga kena"


"hehehe, maapkan diriku bu" Adam cengengesan dan menarik El-Syakir naik ke kamar mereka


ayah Adnan dalam perjalanan pulang bersama Edward dan juga Cecil. mobil mewah itu memasuki halaman rumah dan berhenti di depan pintu masuk. ketiganya keluar dari mobil sedangkan Furqon memakirkan mobilnya di garasi.


"Zidan dan Vania mana...?" tanya ibu Arini menghampiri mereka saat ketiganya masuk di ruang tengah


"masih di hotel. Vania ingin tidur di sana" jawab ayah Adnan


"perutnya tidak kram lagi kan...?"


"tidak bu, dia baik-baik saja"


"pak Adnan, ibu Arini kami ke kamar dulu" Edward pamit meninggalkan mereka bersama Cecil


"iya Edward, silahkan" jawab ayah Adnan


Edward dan Cecil pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. ayah Adnan dan ibu Arini pun ke kamar mereka sendiri.


setelah bersih-bersih waktu magrib pun tiba. Adam dan El sholat magrib berjamaah bersama Alana yang kini sudah membaik. mereka sholat di kamar Adam dan El-Syakir.


ting


pesan masuk di hp Adam, dia yang masih memakai pakaian sholat langsung bergegas mengambil hp-nya dan membaca pesan tersebut.


Melati : Hay Adamnya aku, lagi ngapain...?


Adam tersenyum tipis membaca pesan itu. dia merasa geli dengan pesan yang dikirim gadis itu namun dia juga merasa lucu dan gemas.


Adam pun menggerakkan dua jempolnya untuk membalas pesan Melati


Adam : habis sholat, kamu udah sholat belum...?


Melati : aku juga baru selesai sholat dan sekarang lagi mikirin kamu. Melati meninggalkan gambar emot tersenyum


"ada-ada saja dia ini" gumam Adam


Adam : kalau begitu belajar, supaya pintar


Melati : kamu juga harus belajar, belajar menerima aku, hehehe


"lagi berbalas pesan sama siapa sih kak...?" Alana merapat ke arah Adam


"kepo" Adam mencubit pelan hidung Alana


"pasti sama dia, iya kan" ucap El yang duduk di kursi belajar


"dia siapa, nggak usah sok tau deh" Adam meletakkan hp-nya dan tidak lagi membalas pesan Melati


"sama calon yayang yang pasti, benar apa benar....?" goda El


"kak Melati ya...?" Alana langsung to the point


"kepo" Adam mengambil komik kesukaannya dan bersandar di ranjang


"ih kak Dirga, benaran kak Melati kan...?" tanya Alana


"daripada kamu penasaran mending belajar sana, anak kecil belum waktunya untuk tau" jawab Adam


"malas, mending aku berbalas pesan sama kak Leo" Alana mengambil hp-nya dan berbaring di paha Adam dengan satu bantal di kepalanya


"Lana, kakak mau bicara" El-Syakir beranjak dari kursinya dan menghampiri Adam serta Alana. dia duduk di ranjang bersama kedua saudaranya


"mau bicara apa kak...?" Alana bangkit dan duduk


"kakak bukannya mau melarang kamu untuk bersama Leo. kakak hanya mengingatkan saja padamu, ada batasan untuk dalam suatu hubungan, dan kakak harap kamu tau batasan-batasan itu"


"meskipun kakak tau Leo nggak akan berani macam-macam sama kamu, tapi kakak harap kalian dalam hubungan yang sewajarnya dan saling menjaga sikap"

__ADS_1


"iya kak, Lana tau itu. lagipula selama ini kak Leo nggak pernah macam-macam sama Lana. bahkan dia menjaga Lana dengan baik seperti halnya kak Dirga dan kak El yang menjaga Lana" timpal Alana


"kalau Leo berani macam-macam, bilang saja sama aku biar aku sikat dia pakai sikat panci" Adam menimpali


"emang kak Leo panci apa. kak Dirga sama kak El nggak usah khawatir, Alana dan kak Leo akan menjaga batasan-batasan itu"


"Lana senang banget punya dua kakak yang sayang sama Lana" Alana merangkul lengan Adam dan Dirga


"foto yuk, Alana mau posting di sosmed" ucap Alana


"malas ah, nanti banyak yang naksir sama aku" Adam menolak


"nggak berfoto juga udah banyak yang naksir kak, sampai-sampai Lana jadi korban atas perbuatan fans kak Dirga dan kak El" sungut Alana


"eh tapi ngomong-ngomong, itu benaran mereka mau di penjara...?" lanjut Alana


"apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai" jawab Adam


dari jawaban Adam Alana sudah dapat menebak apa yang terjadi dengan kedua gadis itu.


tanpa terasa adzan isya pun terdengar dari masjid yang tidak jauh dari rumah mereka. setelah selesai adzan, ketiganya pun berwudhu kembali dan melaksanakan sholat isya.


setelah sholat mereka turun ke bawah untuk makan malam. di meja makan sudah ada ibu Arini, ayah Adnan, Edward, Cecil, Ardi dan Furqon. sebelum pulang, ayah Adnan menyuruh kedua pengawal itu untuk makan terlebih dahulu.


Furqon dan Ardi akan pulang pada malam hari. lagi pula masih banyak pengawal yang lain yang sedang berjaga di setiap sudut rumah. baik di depan, di samping bahkan halaman belakang untuk mengantisipasi jangan sampai ada serangan mendadak dari luar. mengingat sampai sekarang Baharuddin masih belum juga mereka temukan.


"gimana rumah kita yang lama El, masih terawat kan...?" tanya ibu Arini


"masih sangat terawat kok bu, masih nampak seperti dulu saat kita tinggali" jawab El


"ibu jadi rindu sama rumah kita" ucap ibu Arini


"kalau ibu mau, kita bisa sesekali menginap di sana" timpal ayah Adnan


"maaf pak tapi sebaiknya jangan dulu meninggalkan rumah ini. diluar untuk keluarga bapak masih tidak aman. bisa saja Baharuddin menyerang dalam keadaan kita tidak siap sama sekali" Furqon menimpali


"itu juga masalahnya. kalian kalau kemanapun harus hati-hati ya, pokoknya jangan saling berpisah. ibu nggak mau kalian celaka karena ulah manusia itu" ibu Arini mengingatkan ketiga anaknya


"iya bu. kami tentu akan saling menjaga" jawab El


"apa perlu Furqon dan Ardi kembali mengawasi kalian...?" ucap ayah Adnan


"nggak usah yah, lagian kan di hp kami sudah di simpan alat pelacak. kalau kami kenapa-kenapa, ayah dan yang lain bisa tau" Adam menolak. bukannya tidak ingin namun dia merasa tidak bebas saat terus dibuntuti oleh pengawal


setelah makan malam, Ardi dan Furqon berpamitan untuk pulang. sementara Edward mengajak Cecil untuk jalan-jalan. selama berada di Indonesia, keduanya sangat jarang untuk jalan berdua biasanya mereka akan keluar bersama tiga pengawal andalan Sanjaya grup. namun karena ketiganya tengah menikmati suasana malam pengantin maka dari itu Edward menggunakan kesempatan untuk berkencan dengan Cecil.


"paman Ed, kalau pulang belikan minuman melati ya" Adam mereques


"nggak sekalian ikut aja biar kita rame" Cecil mengajak


"sayang kita kan mau...."


"wah boleh boleh boleh, ayuklah jalan. kita ke alun-alun kota ya, disana biasanya ramai" belum sempat Edward melanjutkan ucapannya, Adam sudah memotongnya terlebih dahulu


"kalau kamu El bagaimana...?" tanya Cecil


"emmm nggak deh. kak, Lana mending kita lain kali aja keluarnya. lebih baik kita nonton saja di kamar" El sebenarnya tau kalau Edward ingin berkencan dengan Cecil. maka dari itu El-Syakir menolak dan mengajak kedua saudaranya untuk di rumah saja


"nah betul tuh, mending kalian di rumah aja. kasian pak Adnan dan ibu Arini kalian tinggalkan" Edward setuju dengan ucapan El-Syakir


"emang kenapa sih sayang kalau mereka ikut. kan biar seru" ucap Cecil


"ho'oh...nggak enak tau jalan berdua. nanti yang ketiga jadi setan" timpal Adam


"dan kamu setannya" cebik Edward


"pokoknya aku dan Alana ikut. kamu kalau pengen nonton ya udah ke kamar aja El, kita mau jalan dulu. ayo tante Cecil, Lana" Adam bahkan sudah menggandeng tangan keduanya


"heh, pacar aku itu. main gandeng aja kamu" Edward menarik baju Adam untuk berhenti dan menarik Cecil


"ck, dasar posisil" cebik Adam


"posesif kak, sejak kapan pula ada kata posisil" El meralat


"udah ah nggak usah ribut. mending jalan sekarang aja. El kalau kamu nggak mau ikut, kami pergi dulu ya" Cecil menarik tangan Edward dan pergi bersama Adam dan Alana


"he aku ikut, main tinggal aja" El segera berlari mengejar mereka


dengan berat hati Edward akhirnya setuju mengajak ketiga remaja itu. karena telah makan malam di rumah, mereka akhirnya singgah di pasar malam. kebetulan sekali jalan yang mereka lalui terdapat pasar malam di tempat itu.


"cari baju yuk" ajak Alana


"cari sepatu aja" ucap El


"daripada ribet mendingan satu kali jalan aja. dapat penjual baju ya beli, dapat penjual sepatu ya beli. gitu aja kok repot" timpal Adam


"eh tapi tunggu dulu" Adam menghentikan langkah mereka semua


"kenapa sih Dirga...?" tanya Edward


"kita kan nggak bawa uang" Adam memberitahu kedua adiknya


"astaga iya" El menepuk keningnya


"yah terus gimana dong, masa iya nggak jadi belanja" ucap Alana


Adam dan El-Syakir pada akhirnya melihat ke arah Edward yang sedang memperhatikan mereka.


"ngapain liat paman kayak gitu...?" tanya Edward


"hehehe, paman malam ini ganteng deh" puji Adam mengedipkan matanya


"iw, berhenti bersikap seperti itu Dirga. paman jijik tau" Edward merinding

__ADS_1


"minta duit" Adam mengadahkan tangannya ke arah Edward


"ya ampun, masa iya tuan muda dan nona muda Sanjaya grup nggak punya uang datang ke pasar malam" Edward meledek


"bukan nggak punya uang paman, tapi lebih tepatnya lupa bawa uang" jawab Adam


"kasih aja sih sayang, lagian kan uang kamu banyak" Cecil malah mendukung ketiganya


Edward kemudian merogoh dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang merah kepada Adam.


"itu satu juta, belanja sana sepuas kalian. paman sama tante Cecil mau ke tempat lain. nanti paman akan menjemput kalian di sini" ucap Edward saat memberikan mereka uang


"kok kita ditinggal paman...?" tanya Alana


"bukan ditinggal Lana, paman hanya ingin jalan berdua dengan tante Cecil. nanti kalau kalian sudah bosan, hubungi saja paman untuk menjemput kalian" jawab Edward


"memangnya kita mau kemana Ed...?" tanya Cecil


"rahasia sayang" jawab Edward


"nggak apa-apa paman, nanti kami bisa pulang naik taksi atau ojek" timpal El


"kalau gitu tambah lagi uangnya. ini kurang tau" Adam kembali menengadahkan tangannya ke hadapan Edward


"ya ampun, ini kenapa paman malah di pajak seperti ini"


"kak, udah banyak itu. udah ah" El-Syakir tidak enak hati


"nih, aku tambahin satu juta lagi. udah ya, paman jalan sekarang. nanti hubungi paman lagi" Edward menarik Cecil untuk meninggalkan mereka


"makasih paman, selamat berkencan" ucap Adam tersenyum


setelah kepergian Edward dan Cecil. ketiganya mulai mencari apa yang akan mereka beli.


mereka berhenti di tempat penjual sepatu. Adam mencari sepatu yang diinginkannya begitu juga dengan El-Syakir. sedangkan Alana, hanya memperhatikan saja karena memang dirinya tidak berniat untuk membeli sepatu.


El-Syakir membeli sedangkan Adam tidak. dia tidak menemukan sepatu yang cocok untuknya. mereka melangkah lagi ke stand berikutnya. di sana adalah tempat penjualan baju.


Alana mencari-cari baju yang menurutnya bagus. di pasar malam harga barangnya memang sangat jauh berbeda dengan yang ada di mall.


Alana membeli jaket untuk di pakainya karena dia kedinginan. Adam dan El pun membeli juga dan mereka langsung memakainya. mereka datang tanpa persiapan bahkan membawa dompet pun tidak, hanya langsung mengikuti Edward begitu saja tanpa bersiap terlebih dahulu.


Adam juga membeli dompet untuk tempat penyimpanan uangnya, yang diberikan oleh Edward tadi. mereka terus berkeliling dan membeli apa saja yang mereka suka.


"beli cemilan yuk, tuh ada telur gulung" Alana menunjuk penjual telur gulung


"boleh. ayo pergi" El lebih dulu berjalan dan mereka mengikuti


"pak, telur gulungnya 20 rb" El memesan


"baik den" jawab penjual


bapak tersebut mulai menggoreng, sambil menunggu mereka duduk di bangku yang telah di sediakan. selesai membeli terlur gulung, mereka mencari tempat yang nyaman untuk makan dan juga istrahat.


"coba kalau yang lain juga ikut, pasti seru" ucap Adam memakan telur gulung


"kita kan nggak rencanakan kak" jawab El


"kapan-kapan kita datang bersama" ucap Alana


" habis ini pulang ya, udah jam 10 nih" El melihat jam tangannya


"cepat banget ya, perasaan tadi kita datang jam 7 lewat deh" timpal Adam


"karena kita lagi sibuk belanja makanya waktu nggak kerasa" jawab El


"ya sudah ayo pulang" ajak Adam


merekapun berjalan keluar dari pasar malam. mereka tidak lagi menghubungi Edward karena mereka tau pria itu pasti sedang menyiapkan sesuatu yang romantis untuk Cecil makanya itu mereka tidak ingin mengganggu.


El-Syakir memesan taksi online di benda pintarnya. mereka menunggu di bawah pohon yang cukup jauh dari pasar malam. tempat tersebut lumayan sepi namun karena mereka bertiga jadi tidak ada masalah.


hingga menunggu beberapa menit sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka.


"cepat banget, perasaan baru beberapa menit deh" El merasa taksi online yang dipesannya sangat cepat datangnya


di dalam mobil turun tiga orang yang entah siapa. mereka menarik paksa ketiganya dan memasukkan ke dalam mobil hitam itu.


"woi lepasin nggak, main asal culik aja kalian" Adam begitu marah


"DIAM ATAU SAYA BUAT KAMU TIDAK AKAN BISA BICARA SELAMANYA" salah satu dari mereka membentak Adam


di dalam mobil terdapat lima orang pria yang mereka tidak kenal. mereka memakai topeng agar wajah mereka tidak terlihat.


"aku bilang lepaskan kami atau kalian akan menyesal" ucap Adam yang mengepalkan tangannya sangat erat


"tidak usah banyak bicara kamu, sebentar lagi kalian bertiga akan menjadi mayat"


"kak, Lana takut" Alana memeluk El-Syakir


musuh mereka sekarang bukan para jurig yang memiliki wajah hancur dan tidak utuh. mereka adalah manusia, yang sepertinya akan jauh lebih susah daripada menghadapi para demit yang selama ini mereka lawan.


Adam melirik ke samping kanannya, ada sebuah tali di dekatnya. tanpa basa-basi Adam mengambil tali itu dan mengikatnya ke leher sang sopir dan menariknya dengan kuat.


"woi lepasin, cari mati kamu ya"


mereka berusaha menarik tubuh Adam namun Adam terus bertahan dan menarik kuat tali yang menjerat leher salah satu penjahat itu.


El-Syakir tidak tinggal diam. dia menghantam kepala salah satunya ke kaca mobil dan kemudian dia memberikan tendangan kepada seseorang yang duduk di dekat sopir. mobil sudah oleh tidak beraturan, hingga akhirnya


braaaakkk


mobil tersebut menabrak pohon besar yang berada di pinggir jalan.

__ADS_1


__ADS_2