
pagi harinya mereka sarapan pagi untuk mengisi tenaga karena akan menjelajahi hutan di sekitar itu.
"Nis, La, kalian lihat Dian nggak...?" tanya Indri
"dari bangun tadi gue belum lihat Dian. gue pikir dia ke kamar mandi atau kemana gitu" jawab starla
"iya, gue juga belum lihat Dian sejak bangun tadi" ucap Nisda
"gue dari sungai, ke kamar mandi tapi Dian nggak ada" Indri mulai khawatir
"coba deh kita tanya teman-teman yang lain, siapa tau mereka melihatnya"
mereka bertiga keluar dari tenda dan menghampiri siapa saja menanyakan tentang Dian namun jawaban mereka sama, tidak melihat gadis itu.
"gimana dong ini, Dian nggak ada udah kita tanya teman-teman" ucap Indri yang lesu
"kita beritahu para guru saja, siapa tau mereka melihatnya" usul starla
"iya lebih baik seperti itu. ayo kita ke tenda para guru" ucap Nisda
mereka bertiga berjalan menuju tenda para guru. tiba di sana, semua guru lengkap sedang menikmati sarapan mereka. ibu Rina, ibu Zalina, pak Lisman dan pak Ali tengah berbincang sambil menikmati makanan mereka.
"ada apa Nisda...?" tanya ibu Rina melihat mereka mendekat
"Dian hilang Bu" jawab Nisda
"hilang, kok bisa...?" timpal ibu Zalina
"kami sudah mencari dan bertanya kepada teman-teman yang lain Bu, tapi mereka tidak melihat Dian" jawab Indri
"di sungai mungkin, di kamar mandi" ucap pak Lisman
"sudah aku periksa juga pak tapi Dian tidak ada" jawab Indri
"bagaimana ini pak Lisman, pak Ali...?" tanya ibu Rina yang mulai khawatir
(anak itu sejak kemarin gelagatnya sudah aneh. semoga tidak terjadi apa-apa padanya) batin pak Ali
pak Ali dan pak Lisman mengarahkan semua peserta kemah untuk mencari Dian. mereka mencari di sekitar tempat perkemahan.
"ada apa, kok pada ngumpul...?" tanya Leo. mereka di kumpulkan di tengah lapangan
"nggak tau, kita hanya di suruh ngumpul" jawab salah satu siswa
"perhatian semuanya" ucap pak Ali
"ada yang melaporkan bahwa salah satu peserta kemah hilang, dia adalah Dian. mungkin dari kalian semua ada yang melihatnya dia pergi kemana" lanjut pak Ali
"Dian hilang, kok bisa sih" ucap Vino
"nggak mungkin diculik kan, kita di hutan seperti ini mana ada penculik" ucap Bara
"mungkin diculik Wewe gombel gimana"
"hush....jangan sembarang bicara. kita di hutan ini, banyak makhluk yang tidak terlihat" timpal El
"tapi kita bisa melihat mereka" ucap Vino
dari pertanyaan pak Ali, semua peserta kemah menggeleng kepala sebagai jawaban bahwa mereka tidak melihat gadis itu.
mereka semua berunding dan terjadi kesepakatan untuk mencari gadis itu di dalam hutan.
"tetap bersama dan jangan ada yang saling meninggalkan. kalau kalian sudah menemukan Dian maka secepatnya beritahu yang lain. paham" ucap pak Lisman
"paham pak" jawab semuanya
mereka mulai memasuki hutan dan berpencar untuk mempercepat penemuan. tim samudera ke arah barat bersama beberapa kelompok yang lainnya.
"Dian"
"Dian"
mereka semua berteriak memanggil nama gadis yang mereka cari. berharap gadis itu mendengar teriakkan mereka dan menghampiri mereka.
"tunggu tunggu" El menahan langkah teman-temannya
"ada apa...?" tanya starla
"Adam mana...?" El menatap teman-temannya satu persatu
"eh iya. dari tadi hantu itu nggak bersama kita. baru sadar gue" ucap Vino
"sejak tadi pagi dia udah nggak ada. apa jangan-jangan....."
"dia ikut menghilang bersama Dian, begitu menurutmu...?" Leo memotong ucapan El
"kita pikirkan secara rasional. sejak di temukan pingsan di pinggir sungai, Dian menjadi aneh. dia kerasukan dan bahkan memakan bangkai. pastinya kita sudah tau dia mengalami gangguan mistis. sekarang dia hilang begitu saja. apa kalian tidak berpikir kalau sebenarnya Dian pergi karena sedang dirasuki, dia meninggalkan tenda tanpa sadar" ucap El
"benar juga. tapi kenapa hanya Dian saja. Nisda kan ditemukan pingsan bersamanya, harusnya Nisda juga mengalami hal seperti Dian" ucap Bara
"iya, tapi Nisda sekarang baik-baik saja. apa yang menjadi target dari makhluk itu adalah Dian saja" timpal starla
"coba panggil Adam, biasanya saat elu panggil dia akan langsung muncul" ucap Vino
El memanggil Adam beberapa kali namun hantu itu tidak memunculkan batang hidungnya.
"kita cari saja Dian sampai ketemu. mungkin Adam tidak pergi bersama Dian, dia mungkin sedang berjalan-jalan berkenalan dengan penghuni hutan di sini" ucap Leo
mereka melanjutkan pencarian. kegiatan menjelajahi hutan sepertinya akan dibatalkan karena tidak mungkin hal itu dilakukan sementara salah satu peserta yang lain hilang entah kemana.
langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung. Awan hitam menutupi sinaran mentari membuat bumi menjadi gelap dan sepertinya hujan akan turun menyapa.
meskipun begitu, mereka semua tetap mencari Dian bahkan kini mereka telah memasuki hutan yang sudah jauh dengan perkemahan.
"pakai ini" Vino memakaikan jaketnya ke tubuh starla
"terus sayang gimana...?" tanya starla
"nggak apa-apa. aku pakai lengan panjang. gue nggak mungkin membiarkan elu kedinginan"
suhu di hutan itu semakin ke dalam semakin dingin. padahal hujan belum turun tapi udara sudah membuat tubuh kedinginan, apalagi kalau hujan turun, pastinya semakin dingin saja udaranya.
Nisda yang ingin buang air kecil diantar oleh starla sedikit jauh dari dari teman-teman mereka. gadis itu melangkah ke depan di balik pohon sedang starla menunggunya tidak jauh dari balik pohon itu.
__ADS_1
selesai dengan hajatnya Nisda kembali namun ia melihat seseorang berdiri tidak jauh darinya. dia adalah Dian yang berdiri mematung menghadap gadis itu.
Dian berbalik dan pergi. Nisda mengikutinya dan bahkan ia lupa untuk memberitahu starla yang sedang menunggunya.
"Di, syukurlah elu ketemu. elu kemana aja" Nisda menghampiri gadis itu namun Dian melangkah menjauhinya
"Dian mau kemana, ayo kita pulang" ucap Nisda yang terus mengikuti langkah Dian
"Dian"
bughhh
"aaaw"
Nisda terjatuh karena licin. hujan sudah turun dan membasahi pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Nisda berusaha bangun dan melihat sekelilingnya, ia tidak lagi melihat Dian di disekitarnya. hujan yang turun dengan lebatnya membuat penglihatannya sedikit kabur karena air hujan yang terus mengguyur wajahnya.
"Dian, elu dimana...?" teriak Nisda
kini ia sadar telah jauh dari teman-temannya. meski berteriak sekeras apapun tidak akan ada yang mendengarnya karena suara hujan yang begitu lebatnya.
gadis itu mulai takut. ia melangkah dengan cepat bahkan beberapa kali terjatuh karena jalan yang begitu licin.
hap
satu tangan memegang bahunya, saat berbalik badan Nisda berteriak keras dan berlari sekencang mungkin.
bughhh
dirinya terjatuh lagi karena tersandung akar kayu yang besar. saat hendak berdiri tubuhnya di seret membuat gadis itu memberontak namun tidak dapat mengalahkan kekuatan sosok yang menyeretnya.
starla yang sudah lama menunggu Nisda akhirnya berjalan ke balik pohon dan di sana tidak ada gadis itu.
"Nisda"
"Nis, elu kemana...?" teriak starla
"kemana sih itu anak. katanya mau kencing, kok malah hilang"
"astaga, apa...."
dengan tubuh yang telah basah kuyup. starla berlari menghampiri yang lainnya. di sana Vino mulai menggigil karena memang anak itu tidak bisa terkena oleh hujan. tapi sekarang tubuhnya telah terlanjur basah, Vino mulai lemah dan di papah oleh Leo.
"Nisda mana La, kok elu sendirian...?" tanya El dengan suara keras. memang harus berbicara dengan keras karena hujan yang begitu lebatnya
"itu dia yang gue mau bilang. Nisda hilang. di tempatnya dia buang air kecil nggak ada, gue udah periksa. gimana dong ini" jawab starla panik
"kok bisa nggak ada. elu nggak lihat dia pergi kemana, kan elu yang temani dia" ucap Bara
"nggak, gue berdiri nungguin dia keluar tapi sampai beberapa menit dia nggak keluar. pas gue cari dia nggak ada. gimana ini, gue takut Nisda ikut menghilang seperti Dian" jawab starla
"gini aja. starla dan Vino kembali ke perkemahan. biar gue, Bara dan Leo yang cari mereka. kasian Vino, tubuhnya sudah lemah. dia nggak bisa lama-lama dibawa guyuran air hujan
mereka akhirnya sepakat dengan rencana El. starla membuka kembali jaketnya dan memakaikan ke tubuh Vino. gadis itu memapah Vino untuk kembali ke tenda sementara El dan kedua temannya melanjutkan pencarian.
"sayang, kamu masih kuat kan...?" tanya starla
"aku nggak kuat lagi" jawab Vino dengan suara lemah
laman berjalan akhirnya mereka sampai di perkemahan. namun saat tiba Vino langsung ambruk tidak sadarkan diri.
beberapa peserta kemah yang memilih pulang karena tidak ingin mandi hujan, segera berlari dan mengangkat tubuh Vino dan dibawa ke tenda UKS.
ibu Zalina segera memerintahkan siswa laki-laki untuk mengganti pakaian Vino agar remaja itu tidak kedinginan dan masuk angin. setelah mengganti pakaiannya, Vino diselimuti dengan selimut yang hangat. sementara starla ke tenda dapur untuk membuatkan minuman hangat.
"kita sudah lama mencari tapi mereka belum ketemu juga" ucap Leo mengusap wajahnya yang diguyur air
"iya, kita bahkan sudah sangat jauh dari perkemahan" timpal Bara
mereka berhenti di sebuah pohon besar dan duduk istrahat di pohon itu. sepatu mereka penuh dengan lumpur. saat matanya melihat ke bawah, ia menemukan sesuatu, sebuah gelang yang sangat ia kenal.
"apa itu...?" tanya Bara saat melihat El memegang sesuatu
"ini kan gelang tim samudera" ucap El
"gelang tim samudera...?" Bara mengambil gelang itu dari tangan El
"kenapa gue nggak ada" lanjut Bara
"jelas nggak ada, kita beli itu waktu di pasar malam. elunya nggak ada" timpal Leo
"hanya tim samudera yang mempunyai gelang seperti ini. itu artinya gelang ini milik Nisda karena kalau Dian, jelas nggak mungkin" ucap El
"itu artinya Nisda pernah lewat sini, tapi pertanyaannya kemana dia perginya" ucap Leo
"eh tunggu, apa itu" Bara menunjuk apa yang dilihatnya, mereka mendekat
"ini sepatu Nisda" Bara mengambil sepatu warna putih itu
"berarti ada yang nggak beres dan pasti ada yang membawa Nisda pergi. kita harus cari sampai ketemu" ucap El
"akan ku patahkan lehernya kalau dia berani menyentuh Nisda" Bara mengepalkan tangannya
mereka mulai berjalan kembali mencari kedua gadis yang hilang. sampai akhirnya mereka mendapatkan sebuah gubuk yang cukup besar di tengah hutan itu.
"siapa yang membangun gubuk di tengah hutan seperti ini...?" tanya Leo
"kita ke sana. gue merasa Nisda dan Dian ada di dalam gubuk itu" ucap El
mereka mendekati gubuk itu dan mencari celah untuk melihat ke dalam. di dalam, mereka melihat Dian sedang terbaring tidak sadar di sebuah tikar dan di kelilingi lilin yang menyala. ada keris, dan juga dupa serta ayam cemani di dekat dupa.
tidak jauh dari tempat Dian terbaring, seorang gadis di ikat dengan tali dalam keadaan tidak sadar juga. dialah Nisda, gadis itu sudah penuh dengan lumpur karena tadi dirinya di seret oleh seseorang.
namun yang membuat mereka tak kalah terkejutnya adalah sosok yang selalu bersama mereka kini dalam keadaan terikat dengan posisi berdiri. sosok itu di rantai kedua tangannya, dan bahkan tubuhnya sudah babak belur.
"Adam" ucap mereka bertiga
"brengsek" El sudah tidak bisa menahan amarahnya
braaakkk
pintu gubuk di robohkan, kakek tua yang berada di dalam terkejut karena persembunyiannya telah ditemukan.
__ADS_1
sepertinya kakek tua itu akan melakukan pemujaan terhadap kedua teman mereka yang diculiknya. di samping Dian, terbaring juga seorang gadis yang memakai pakaian gaun putih.
"dasar tua Bangka. lepaskan mereka" teriak El menahan emosi
"kalian rupanya anak-anak yang tidak bisa dianggap remeh" ucap si kakek tua
"apa yang mau kakek lakukan terhadap teman-teman kami...?" ucap Bara
"aku membutuhkan kedua gadis ini untuk membangkitkan putriku kembali"
"dasar gila, kalau putrimu sudah mati jelas tidak bisa hidup kembali" ucap Leo
"tentu saja bisa. aku akan. melakukan pertukaran jiwa. sisa dua tumbal lagi maka putriku akan bangkit kembali. jangan halangi aku. lihat teman gaib kalian, bahkan dia saja tidak mampu melawanku"
El melihat Adam yang tidak berdaya dengan rantai yang melilit tubuhnya dan mengikat kedua tangannya. air mata El-Syakir tidak dapat ia tahan. betapa sakit melihat hantu yang menganggapnya sebagai adik dalam keadaan lemah dan tidak berdaya.
Leo menyerang si kakek tua namun dirinya terpental bahkan sebelum ia menyentuh kakek tua itu.
"hahahaha, sudah ku bilang kalian tidak akan bisa melawanku"
ketiganya berusaha melawan namun mereka terpental bahkan sampai muntah darah. kakek tua itu mengambil posisi duduk memulai ritualnya. ia menyiram tubuh Dian dan tubuh putrinya dengan air yang berisi bunga melati. mulutnya mulai mengucap mantra dan mengambil keris kemudian memotong kepala ayam cemani. darah ayam itu ia balurkan ke tubuh Dian dan putrinya kemudian.
si kakek tua membaca mantra kembali dan mengangkat kerisnya dan bersiap menancap keris itu ke jantung Dian. sayangnya keris itu terjatuh karena El-Syakir melempar tangannya dengan kayu, membuat si kakek murka.
"bedebah. tamat riwayat kalian bertiga"
kakek tua merapatkan kedua tangannya dan membaca mantra. tiga mahluk halus datang dan ia memerintahkan untuk menghabisi ketiga remaja itu.
meski tidak mempunyai kekuatan, namun El, Leo dan Bara tetap melawan namun pada akhirnya mereka tumbang dengan darah yang terus keluar dari mulut ketiganya.
saat makhluk besar dan bermata menyala mendekati El untuk menghabisinya, saat itu juga kuku-kuku tajam tertancap dan menembus perutnya membuat makhluk itu membelalakkan matanya.
jleb....
"jangan pernah berani untuk menyentuhnya lagi" ucap sosok yang menancapkan kuku ke perut makhluk itu
sosok itu menggorok leher makhluk itu dengan kuku tajamnya sehingga makhluk besar itu mati mengenaskan dan menghilang seperti debu.
"Adam" ucap El
Adam berdiri di depan ketiganya. dua makhluk suruhan kakek tua merasa takut saat Adam menatap mereka dengan tajamnya.
"b-bagaimana bisa kamu bisa terlepas dari tali pengikatnya" si kakek tua terkejut melihat Adam berhasil membebaskan dirinya
"kalian berdua, serang dia" kakek tua menyuruh kedua mahkluk itu
"maju kalian, akan aku habisi kalian berdua dengan kuku tajam ku" ucap Adam dengan wujud yang sudah berubah. matanya merah menyala, kukunya tajam dan runcing.
dua makhluk itu ketakutan dan langsung menghilang tanpa mendengar ucapan si kakek tua.
"kini giliran mu tua bangka" ucap Adam tersenyum menyeringai
kakek tua itu mulai takut, apalagi ketiga pesuruhnya telah pergi dan tidak ada lagi yang akan membantunya.
kakek tua melawan Adam dengan kekuatannya, sayangnya tanpa bantuan ketiga makhluk tadi dirinya tidak memiliki kemampuan apa-apa.
jleb
kakek tua menusuk Adam dengan keris yang dipegangnya. keris itu menembus tubuh Adam sehingga hantu itu memuntahkan darah.
"Adam" teriak El. ia ingin membantu hantu itu namun Adam mengangkat tangan agar El berhenti dan tidak ikut campur
"hahahaha, mati kau arwah sialan" si kakek tua tertawa puas
keris itu ternyata bukan keris sembarangan, keris itu memiliki kesaktian untuk menumpaskan makhluk halus. namun tentu saja tidak hanya makhluk halus. saat mengenai manusia, jelas mereka akan terluka juga.
Adam menarik keris itu membuat si kakek terkejut dan akhirnya
jleb
Adam menancapkan balik keris itu ke perut si kakek tua membuat kakek tua itu membelalakkan matanya.
ugh
"uhuk...uhuk"
si kakek terbatuk-batuk, darah keluar dari mulutnya dan akhirnya tumbang menghembuskan nafas terakhirnya.
bughhh
Adam terjatuh, hantu itu sepertinya terluka parah. meskipun hanya roh namun tetap saja mereka bisa terluka dan bahkan musnah lenyap dari muka bumi.
"Adam" El memangku kepala Adam dengan air mata yang terus keluar
Bara melepaskan ikatan Nisda, sedangkan Leo mendekati Dian dan menyelimuti tubuhnya dengan kain.
"jangan menangis" ucap Adam lemah
"bertahanlah, gue mohon" El-Syakir berbicara dengan suara parau
"sepertinya waktuku di dunia sudah tidak banyak lagi"
"nggak...nggak, elu nggak boleh pergi. gue nggak izinin elu pergi" El menggeleng kepala dengan tangis yang tidak berhenti
"keris itu membuat arwahku semakin lemah. aku nggak kuat lagi" wajah Adam semakin tidak bisa menahan sakit
"gue akan mencarikan obatnya. gue mohon, bertahanlah. jangan tinggalin gue. hiks hiks, jangan tinggalkan gue"
Bara dan Leo ikut menangis, begitu juga dengan Nisda yang sudah sadarkan diri. gadis itu tergugu melihat Adam yang kritis.
"El" Furqon datang bersama dengan Ardi
jelas kedua pengawal ini tidak akan jauh-jauh dari El-Syakir karena mereka memang ditugaskan untuk melindungi anak itu dari jauh.
"kak, tolong kak.tolong Adam kak" El-Syakir memohon kepada Furqon
Adam yang tidak kuat menahan sakit akhirnya menutup mata dan itu membuat El-Syakir semakin histeris.
"adaaam...nggak nggak, elu nggak boleh pergi. bangun dam banguuuun" El menggoyang tubuh hantu itu yang sudah tidak merespon lagi
_____________________________________________
hai kakak-kakak, mampir juga ke cerita ku yang lain yuk. mimpi membawa petaka. baru up satu bab sih dan semoga akan bertambah dan banyak yang suka.
__ADS_1
terimakasih 🙏