
"apakah kamu tidak mengenaliku...?" ucap Adam dengan tatapan sayu
"bagaimana aku bisa mengenalmu, sedangkan nama kamu saja gue nggak tau"
"kamu benar-benar tidak tau siapa aku...?"
"memangnya siapa kamu sebenarnya...?" keduanya masih saling beradu tatap
"ck, bahkan kamu yang memberikanku nama dan sekarang kamu nggak tau siapa aku. aneh sekali kamu ini" cibir Adam mengalihkan pandangannya
"maksud gue nama elu sebelum mati Sukijang" kesal El yang dari tadi dag dig dug menunggu jawaban teman hantunya itu
"nggak penting nam aku sebelum aku mati. lagi pula nama itu sudah dianggap nggak ada oleh orang lain"
"cukup kamu dan yang lainnya tau kalau namaku adalah Adam. karena dengan nama itu aku merasa diriku masih hidup meskipun aku hanya hidup di antara kalian saja yang dapat melihatku"
"tapi gue penasaran. apakah elu memang sudah tau siapa nama elu sebenarnya...?"
"kenali diriku, maka kamu akan tau siapa aku"
"dari kemarin-kemarin gue udah kenal elu kali"
"kalau kamu kenal lalu kenapa kamu tidak tau siapa aku...?"
"yaaa maksud gue kenal dengan nama Adam bukan yang lain"
"aku berharap kamu akan tau siapa aku sebelum aku benar-benar pergi" Adam melihat sekilas dan tersenyum
"elu akan pergi meninggalkan gue yang sudah terbiasa denganmu...?" kali ini El mulai terbawa suasana
"siapapun pasti akan pergi El. esok atau lusa aku yang duluan pergi dan kalian akan menyusul. tinggal waktunya saja kapan kita nggak tau itu"
"gue penasaran sebenarnya apa yang membuatmu sehingga elu masih di dunia ini yang seharusnya sudah berada di tempat lain"
"dulu mungkin aku nggak tau kenapa Tuhan masih membiarkan aku berada di dunia ini. dan setelah aku pikir Tuhan pasti punya takdirnya untukku yang masih gentayangan di muka bumi dan sekarang aku tau apa alasan dari takdir itu semua"
"memangnya apa alasannya...?" El menunggu dengan wajah tegang
"mencari siapa pembunuhku" jawab Adam dengan wajah serius dan rahang yang keras
"elu mati dibunuh...?" kali ini El sungguh dibuat terkejut
"kepingan demi kepingan ingatan itu sedikit demi sedikit muncul di kepalaku dan akhirnya membawaku ke peristiwa dimana aku meregang nyawa"
"boleh gue tau dengan cara apa kamu di bunuh...?"
dor
Adam mengarahkan tangannya ke arah El yang membentuk pistol dan mengagetkan remaja itu dengan suaranya dan gerakannya yang refleks
"seperti itu" ucap Adam kembali menurunkan tangannya
"di tembak...?" tanya El dan Adam mengangguk
(apa karena itu dia menjadi tidak terkendali saat mendengar suara tembakan...?) batin El
"kalau ingatan elu sudah kembali, berarti elu juga tau siapa orang yang telah membunuhmu...?"
"dia....."
"dia siapa...?"
"yang pasti dia manusia" jawabnya asal
"iya gue tau memang manusia, tapi siapa...?" El merasa gemas dengan jawaban hantu yang satu ini
"aku juga nggak tau siapa karena wajahnya ia sembunyikan namun satu hal yang aku tandai darinya. dia mempunyai tato di tangan kanannya. tato yang bergambar ikan paus dan satu lagi"
"apa, cepat katakan apa. jangan buat gue penasaran dari tadi" desak El
"dua jari tidak ia miliki di tangan kanannya, jari manis dan jari kelingking"
"bagus. itu bisa menjadi patokan kita untuk mencarinya. meskipun kita nggak tau bagaimana bentuk wajahnya tapi dengan kedua hal tadi itu akan mempermudah kita" ucap El bersungguh sungguh
"kamu akan membantuku mencarinya...?"
"tentu saja. bukan hanya gue tapi kita semua yang termasuk tim samudera akan ikut membantumu"
"baiklah. bantu aku mencari siapa pembunuhku dan aku akan membantu kalian memulangkan mereka yang meminta bantuan. deal....?" Adam mengulurkan tangannya
"deal" El menyambut hangat tangan Adam
mereka berdua memutuskan untuk pulang karena tanpa mereka sadari rupanya hari sudah akan menjelang malam.
saat beranjak, El mendapat pesan dari Alana. adiknya itu menitip ingin dibelikan batagor coklat keju. karena tidak mungkin mereka berkeliling mencari batagor sementara magrib sudah menghampiri, akhirnya El mencari masjid terdekat untuk ia ibadah dan Adam menunggunya di luar.
"ini bukan jalan pulang" ucap Adam yang mulai hafal jalan pulang ke rumah El
"kita cari batagor dulu, Alana memesan itu" jawab El
Beberapa menit berkeliling mencari penjual batagor, akhirnya mereka menemukan juga. Adam segera melayang menghampiri penjual di susul oleh El.
belum lama El tiba, sudah ada juga pembeli yang datang. seorang laki-laki remaja yang seumuran dengannya
"pak, batagor coklat keju satu" ucap El
"baik den"
"aku batagor telur ya pak" ucap remaja itu
"baik"
"aku juga mau pesan" ucap Adam di samping El
"pesan batagor juga...?" tanya El yang sangat pelan
"iya" jawab remaja yang berdiri di samping El karena berpikir bahwa El bertanya padanya
merasa tidak enak, El hanya tersenyum ke arah remaja itu dan anak laki-laki itu menyambut ramah senyuman El.
"bukan batagor, tapi melati" ucap Adam
__ADS_1
"pan melatinya sudah tadi" timpal El yang membuat remaja disampingnya mengernyitkan keningnya
"melati...?" tanyanya merasa bingung
"eh ini kak, lagi bicara di telepon pakai headset" jawab El kikuk
"oooh" jawabnya manggut-manggut
"aku mau cari melati coklat keju, siapa tau ada"
"bahlul, mana ada melati coklat keju Maemunah"
El tidak habis pikir, terbuat dari mana otak hantu itu sehingga ada-ada saja yang dia inginkan yang sangat tidak masuk akal.
"ini kak batagornya" seorang gadis memberikan pesanan El
"oh iya. ini uangnya. terimakaaa......sih" El mematung di tempatnya melihat siapa gadis yang berada di depannya
"El" sapanya dengan manis
"kamu. kamu kok bisa ada di sini...?"
"aku temani ayah menjual batagor. nggak nyangka ya kita bisa bertemu lagi" Seil tersenyum manis
Adam yang sedari tadi fokus dengan kendaraan yang lalu lalang, kini hantu itu mengernyitkan keningnya melihat gadis yang bersama mereka.
"oh jadi dia ayahmu. setelah kejadian waktu itu, kamu tinggal dimana sekarang...?" tanya El
"kenapa tanya-tanya, mau mampir kah...?" ucap Adam menyipitkan matanya ke arah El namun El tidak menanggapi
"setelah berhasil kabur dari rumah tanteku, aku sama bapak sekarang ngekos tidak jauh dari sini" jawab Seil
Seil adalah gadis yang pernah menumpahkan Nisda kuah mie ayam dan juga gadis yang pernah di tolong oleh El saat kedua pria membawanya untuk di serahkan kepada bos mereka sebagai tebusan dari semua utang tantenya Seil.
"syukurlah kalau kamu nggak tinggal lagi di tempat itu" ucap El tersenyum
keduanya saling tatap dan membalas senyum, membuat Adam memutar bola matanya sinis.
"sepertinya bunga-bunga cinta akan mekar dan bersemi" celetuknya namun lagi tidak di gubris oleh El
"duduk di situ yuk, aku traktir kamu makan batagor. kesukaan kamu apa...?"
"eh nggak usah, aku udah mau pulang" tolak El
"ayolah. anggap saja rasa terimakasih ku karena telah menyelamatkan ku waktu itu. ya ya ya, Ayuk duduk. aku buatkan batagor spesial untuk kamu"
Seil membawa El duduk di kursi yang ada, kemudian gadis itu pergi membuat batagor untuk El. Adam menghampiri dan duduk di sampingnya.
"El"
"apa...?"
"mau melati coklat keju" rengeknya
"nggak ada Adam, mau cari dimana melati yang begituan. ada-ada saja elu"
"tapi aku mau"
"pan bisa beli coklat sama...."
"batagor spesialnya sudah jadi. ayo cicipi" Seil darat dengan sepiring batagor di tangannya
El mulai berbincang dengan Seil tanpa memperdulikan Adam yang sedang menggerutu kesal. bahkan El sama sekali tidak melirik hantu itu
"ini uangnya. terimakasih ya" El memberikan kembali uang sebagai bayarannya
"nggak usah, anggap saja sebagai balasan atas rasa terimakasih ku karena telah menyelamatkan ku waktu itu" tolak Seil
"jangan, ambillah. kan kamu sudah membuatkan aku batagor spesial tadi. lagi pula waktu itu aku ikhlas membantu. kamu sedang berdagang, aku nggak mungkin hanya mengambil gratis begitu saja"
El memberikan uang itu di tangan Seil karena tidak enak hati mengambil tanpa membayar dagangan yang sudah pasti Seil dan ayahnya harus banting tulang untuk berjualan.
"aku pergi dulu ya. terimakasih. semoga kedepannya kita bisa bertemu lagi" ucap El
"elleeeeh....ucapan basi" cibir Adam
"hati-hati" jawab Seil dan tersenyum
sepanjang perjalanan pulang, Adam terus bernyanyi. bahkan ia sesekali menyindir El yang dugaannya ada benih-benih asmara di hatinya.
"mba kuuuuun" sapa Adam melambaikan tangan
"mau nongkrong di atas pohon lagi...?" tanya El
"setidaknya dia nggak mengabaikan aku seperti dirimu tadi yang menganggap diri ini nggak ada setelah bertemu gadis cantik pada pandangan kedua" cibir Adam
"gue nggak maksud gitu. nanti kalau gue jawab elu, dikiranya gue orang gila karena...."
"ssssttt" telunjuk Adam ia simpan di bibir El
"apa karena aku tidak penting lagi El...?" ucap Adam yang penuh dengan drama
"tidak Adam" El memegang bahu Adam namun ditepis oleh hantu itu
"ataukah karena engkau tidak membutuhkanku lagi"
"bukan begitu Adam"
"cukup Ani" Adam mengangkat tangannya di depan wajah El
"ini kenapa kita kayak film Roma irama gini sih" ucap El menggaruk kepalanya
prok...prok..prok
tepuk tangan mba Kun di atas pohon sana mengakhiri drama keduanya. mas poci hanya tertawa-tawa karena tidak bisa bertepuk tangan.
"kamu tega, kamu jahat tau nggak" mata Adam nampak mulai berkaca-kaca
"lah gue ngapain lagi coba...?"
"tadi aku bicara panjang lebar tapi nggak kamu gubris, malah asyik bicara sama gadis itu. hatiku perih tau, sangat perih" hiks...hiks... sroooot.
__ADS_1
"kan gue udah bilang alasannya tadi. udah ah, kita kayak pasangan yang lagi ngambekan tau nggak"
"ember aku lagi ngambek. katanya aku harus tetap sama kamu, nggak boleh pergi. lah ini kamu malah mau cari pengganti aku, sadis banget caramu. huaaaaaa mba Kun, aku di duakan" Adam melayang ke atas pohon dimana mba Kun sudah merentangkan tangannya untuk memeluk Adam
El melongo mendengar kekesalan yang diluapkan oleh Adam. ia tidak menyangka kalau hantu itu akan sekesal itu padanya.
"ini kenapa gue kayak cowok yang menyakiti hati pasangannya sih" ucap El saat melihat Adam di atas sana yang ditenangkan oleh mba Kun dan mas poci yang lagi ngambekkan
"masih mau melati nggak...?" teriak El dari bawah sana
"nggak, aku kan lagi ngambek" jawabnya ketus
(ngambek pake bilang segala) batin El
"benar nih udah nggak mau sama melatinya...?"
"iya ish....nanya mulu"
"oh ya sudah. kalau gitu melatinya gue buang aja ya"
"eh jangan" tahannya cepat
"tunggu bentar" lanjutnya lagi
"ngambek nggak, ngambek nggak, ngambek nggak. jawabannya nggak mba Kun" ucapnya melihat ke arah mba Kun
(ya salaaaam, perkara melati harus rapat dulu sesama lelembut) El menepuk jidatnya melihat Adam sedang berkompromi dengan kedua temannya
hantu itu akhirnya turun dan mendekat dengan wajah yang ditekuk. sementara El menahan tawa agar hantu itu tidak bertambah lagi kekesalannya.
"elu kesal Roma...?" goda El
"ili kisil Rimi...?" kesalnya mengikuti ucapan El
Zidan dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk Vania. ia mendapat kabar dari Randi bahwa wanita itu telah siuman sejak kemarin.
untuk ayah Adnan, pria itu langsung pulang ke rumahnya. setelah melihat kondisi Dirga baik-baik saja, keduanya kembali terbang ke tanah air karena tidak mungkin meninggalkan pekerjaan begitu saja.
braaakkk
pintu terbuka lebar, di dalam Vania sedang di suapi oleh ibu Maya sedangkan Pram dan Randi berada di sofa. untuk Helmi, pria itu masih berkutat di kantor karena ayah Adnan tentu saja belum langsung masuk kantor setelah pulang dari LN.
Vania tersenyum lebar siapa yang berdiri di depan pintu. wanita itu berkaca-kaca sambil merentangkan tangannya. dengan cepat Zidan berjalan dan langsung memeluk wanita itu.
"aku kangen" ucap Vania
"kamu baik-baik saja kan...?"
Vania mengangguk dan tersenyum. ia sangat senang Zidan terlihat mengkhawatirkan dirinya.
"karena kamu sudah datang, tante titip Vania ya. tante mau pulang istrahat di rumah. tante merasa sangat lelah sekali" ucap ibu Maya
"tentu saja tante. biar Pram yang mengantar tante pulang. Pram antar tante Maya pulang"
"baik"
"mama pulang dulu ya sayang, nanti mama datang lagi"
"iya mah. Vania udah nggak apa-apa kok. mama istrahatlah dengan nyaman di rumah"
setelah mencium kening Vania ibu Maya dan Pram meninggalkan ruangan rawat Vania. karena merasa menjadi obat nyamuk, Randi pun pamit untuk kembali menemui Helmi yang sedang meminta bantuannya atas pekerjaannya.
"aku suapin ya" ucap Zidan
"iya"
Zidan menyuapi Vania dengan telaten. sesekali ia menghapus makanan yang ada di bibir wanita itu. namun lambat laun Zidan mendekatkan wajahnya ke wajah Vania. tau apa yang akan dilakukan kekasihnya, Vania menutup matanya.
cup
kecupan lembut mendarat dibibir ranum Vania. bersamaan dengan itu pintu kamar rawatnya terbuka lebar dan sudah pasti yang membuka pintu terkejut dan hampir jantungan.
"ondeh mandeeeeeh, mataku ternoda" ucap Vino menutup matanya
semua yang ada di depan pintu langsung menutup pintu. Adam pun ikut menutup mata namun ia masih mengintip di sela jemarinya.
"ck, dasar nakal" El menutup langsung mata hantu itu
melihat siapa yang datang, Vania mendorong Zidan agar menjauh. Vania nampak salah tingkah namun tidak dengan Zidan yang biasa saja.
"halo kak, kami sepertinya datang di waktu yang nggak tepat ya" ucap starla merasa canggung
"kita malah sudah datang diwaktu yang tepat tau. bisa melihat adegan romantis secara live, nyata, dan real" timpal Adam membuat El meliriknya sinis
"ah nggak kok. ayo masuk, ngapain berdiri di situ aja" ucap Vania
"masuklah, jangan berdiri di jalan" ucap Zidan
mereka semua masuk dan duduk di sofa bersama Zidan sementara starla duduk di samping Vania.
"gimana kabarnya kak...?" tanya El
"sudah membaik. makasih ya kalian sering datang jengukin kakak"
"paman Zidan apa kabar...?" tanya Leo
"paman baik. kalian bagaimana. luka mu sudah sembuh El...?" ucap Zidan
"sudah paman. terimakasih waktu itu telah menyelamatkan kami" jawab El
"paman tidak berbuat apa-apa" timpal Zidan
"tapi pengawal paman yang membantu kami menyelamatkan starla dan itu karena arahan dari paman kan" ucap El lagi
"sebentar. Zidan, kamu mengenal mereka...?" tanya Vania
"iya, mereka anak-anak yang hebat" puji Zidan tersenyum hangat
"melihat kalian, paman jadi teringat keponakan paman. dia persis seperti kalian, ditambah lagi dengan sifat ketengilannya, paman jadi sangat merindukannya lagi" wajah Zidan berubah sendu
Adam hanya terus menatap Zidan sejak dari tadi dengan tatapan sendu. El melihat hantu itu tidak lepas matanya dari pria tampan itu.
__ADS_1