Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 160


__ADS_3

"jadi apa pantangannya...?" tanya Adam menatap Deva


"pertama kalian tidak boleh memakai baju warna merah, kedua kalau ada diantara kalian yang sedang datang bulan lebih baik tidak usah ikut, ketiga...."


"laki-laki mana ada datang bulan, mau lewat mana coba" belum Deva melanjutkan ucapannya Adam sudah memotongnya


plaaaak


"aduh, kok aku dipukul sih" Adam meringis karena Melati memukul lengannya


"yang dimaksudkan kak Deva itu perempuan bukan kalian laki-laki" Melati geleng kepala, bisa-bisanya Adam berkata seperti itu


"oooh perempuan toh, bilang kek dari tadi agar otakku nggak melalang buana kesana kemari seperti setrika" ucap Adam


"kak Dirga polos atau gimana sih" ucap Alana


"bukan polos, dia itu memang rada-rada aneh" Leo mengejek


"heh ikan lelel...berani kamu ngatain aku, nggak aku kasih restu kamu ya" Adam memicingkan matanya ke arah Leo


"hehehe maaf adik ipar, mulut gue kepeleset" Leo cengengesan


Zahra tertawa kecil melihat tingkah Adam, tidak menyangka baginya kalau Adam ternyata humoris orangnya.


"terus, apa pantangan selanjutnya kak...?" El bertanya


"ketiga tidak boleh membuang hajat sembarangan, keempat dilarang keras berkata-kata kasar dan yang terakhir harus kalian ingat di atas puncak tidak ada satupun orang yang berjualan jadi jika kalian melihat ada seseorang yang menjual dagangan apa saja atau melihat orang-orang yang menjual, jangan sekali-kali membeli"


"pedagang yang menjajakan dagangannya ada di bawah puncak pertama kali kita sampai di tempat itu, setelah naik ke atas bahkan telah sampai di puncaknya, tidak diizinkan lagi untuk berjualan"


"kok banyak banget sih pantangannya, apa tempat yang kita tuju ini daerah terlarang ya atau ada penghuninya...?" tanya Bara


"itu hanya pantangan saja kak, lagi pula kan jin dan manusia memang hidup berdampingan. asal kita tidak mengganggu mereka saja mereka juga nggak akan ganggu kita" Seil menjawab pertanyaan Bara


"iya itu memang benar, tapi kebanyakan banyak dari mereka yang iseng mengganggu manusia. jadi kalau memang itu adalah tempat mereka, kita harus berhati-hati" ucap El


"kayak nggak punya pengalaman aja, kita bahkan pernah dari alam mmmm" secepat kilat Melati membekap mulut Adam agar tidak melanjutkan ucapannya


"kenapa mulut kak Adam dibekap kak...?" Zahra tidak suka melihat pemandangan itu


"kak Adam pernah dari alam mana memangnya...?" tanya Seil


"yang lebih menantang dari tempat kita menuju besok. bukan begitu Adam" Deva melihat ke arah Adam


"iya, Deva benar" jawab Adam membalas tatapan Deva


"udah clear sekarang ya. jadi lebih kita istrahat saja, besok kita membutuhkan tenaga untuk mendaki ke puncak tertinggi" Deva beranjak dan masuk ke dalam kamar


"tidur yuk, udah ngantuk gue" Nisda mengajak Starla dan yang lain


"ayuk, gue juga udah ngantuk" ucap Starla


para perempuan masuk ke dalam kamar begitu juga laki-laki. malam semakin larut, obor di setiap rumah warga masih terus menyala. dari kejauhan yang berjarak beberapa meter dari desa, satu sosok sedang mengintai desa tersebut. dia hanya bisa melihat dari jarak jauh karena dirinya dihalangi oleh obor-obor yang pasang oleh para warga di ujung desa tersebut.


rupanya selain memasang di setiap sudut rumah, warga desa juga menyalakan obor di ujung desa, mereka mengikat tiap obor yang menyala itu di pagar kayu yang menjadi pembatas desa mereka dengan hutan belantara di belakang desa tersebut.


El-Syakir terbangun karena haus. dia keluar dari kamar dan menuju dapur untuk mengambil air minum. lampu di ruang tamu di matikan begitu juga di ruang tengah, hanya menyisakan lampu di dapur yang menyala. tiba di dapur rupanya ada Adam juga di dapur, ia sedang duduk di kursi meja makan.


"gue kira kakak tadi lagi ngorok" ucap El membuka kulkas dan mengambil air dingin


"aku kebelet kencing makanya bangun. nggak mungkin kan aku ngompol di tempat tidur, apa kata akhirat" celetuk Adam memakan satu bungkus roti yang ia ambil di kulkas


"kak Dirga lapar ya...?" tanya El duduk di hadapannya


"nggak, tapi karena aku melihat roti ini yang sepertinya enak jadi aku makan saja" jawab Adam dengan mulut yang penuh


"El"


"hemm"


"aku merasa desa ini sedikit aneh"


"aneh bagaimana kak...?"


"entahlah, aku juga belum mempunyai gambaran aneh seperti apa tapi perasaanku mengatakan ada yang tidak beres di tempat ini"


"kak jangan berpikir aneh-aneh deh. kalau masalah obor kan udah dijelaskan sama pak Firman dan ibu Nurma tadi sore. lagian hanya menyalakan obor apanya yang aneh"


"terserah kamu sajalah, aku mau kembali tidur lagi. masih ngantuk, hoaaaam"


"tidur di kasur ruang tamu enak kayaknya nih" Adam meninggalkan dapur


"kakak mau tidur di ruang tamu...?" El mengikutinya


"memangnya kenapa, ada yang salah...?"


"ya nggak, tapi di kamar kan lebih nyaman, ngapain tidur di ruang tamu"


"dimana-mana saja boleh asal jangan tidurin anaknya orang"


plaaak


El-Syakir memukul pantat Adam saat kakaknya itu berbicara ngawur.


"kalian kenapa sih suka sekali memukul diriku. apa salah dan dosaku. pantatku ini berharga tau. kalau tepos, sudah tidak aduhai lagi diriku ini" Adam mengomel dan mengelus pantatnya yang telah dipukul oleh El-Syakir


"makanya kalau ngomong itu di saring juga jangan asal ceplos, kebiasaan itu mulut" El pun ikut mengomel


"memangnya apa yang salah dari bicaraku. memang benar kan tidur dimana saja boleh asal jangan tidurin anaknya orang, bisa bahaya kalau di grebek lagi nganu di sofa. nggak keren banget, masa di grebeknya di sofa" celetuk Adam panjang kali lebar


"itu otak mesum banget sih kak. memangnya kakak berniat tidurin anaknya orang...?"


"kamu pikir aku laki-laki mahalan, sekate-kate kalau ngomong" cebik Adam


"gue aduin ayah ya, kakak mau tidurin anak orang"


"siapa yang bilang aku mau tidurin anak orang...?" Adam mulai melempar batu sembunyi tangan

__ADS_1


"nah tadi itu apa coba kalau nggak ngomong gitu. mulai lagi mau ngeles"


"itu bukan aku tapi mulutku yang berbicara, kalau marah, marahin mulut aku aja nih. aku hanya manusia polos yang mengikuti gerakan bibir" Adam tetap tidak mau kalah


"oh jadi mulut kakak ya yang jadi biang keroknya. benar-benar itu mulut ya sembarangan kalau bicara. sini gue kasi pelajaran tuh mulut"


El-Syakir mengangkat kedua lengan bajunya dan memicingkan mata ke arah Adam.


gleg


(waduh, bahaya dua belas pas nih)


"hehehe" Adam nyengir kuda memperlihatkan gigi-giginya


"apa hehehe....jangan coba-coba berniat kabur ya"


"rasakan ini...hiyaaaa"


"kyaaaaaa"


Adam melarikan dari kejaran Adam, mereka kini berputar-putar di ruang tamu itu. bahkan kini El-Syakir naik di punggung Adam dan menarik-narik rambut kakaknya itu. lelah bergulat akhirnya keduanya tertidur di sofa dengan saling berpelukan.


"ya ampun, kak Dirga sama kak El cute banget sih. Alana foto ah" Alana masuk ke dalam kamar mengambil handphonenya dan mengambil gambar Adam dan El-Syakir yang masih tertidur pulas saling berpelukan


"lagi ngapain kak...?" Zahra datang menghampiri Alana


saat itu sudah waktunya sholat subuh, mereka keluar untuk berwudhu.


"lagi mengabadikan momen romantis" jawab Alana


"Lana, ayo wudhu kok malah berdiri di situ" Nisda memanggil


"iya, ayo Zahra" ajak Alana


para perempuan menuju dapur untuk berwudhu, di sana sudah ada ibu Nurma dan pak Firman yang juga baru selesai wudhu.


"aku kira bibi masih tidur" ucap Seil


"ini waktunya subuh loh Seil, masa bibi mau melewatkan waktunya sholat" ibu Nurma menjawab lembut


"hoaaaam, jam berapa nih...?" Vino bangun dan memeriksa handphonenya


"sudah subuh, bangunkan mereka" ucap Deva


"loh, Adam sama El kemana...?" Deva bertanya saat melihat di kasur kakak beradik itu kosong tidak ada orang


"udah keluar duluan mungkin" jawab Vino


"Le, Bara... bangun" Vino membangunkan kedua temannya


"masih ngantuk" Leo menarik selimut dan menutupi tubuhnya


"bangun woi, udah subuh" Vino menarik paksa Leo dan Bara


"ck, iya iya..." dengan malas Bara bangun dan menguap


"Adam sama El kemana, kok nggak ada...?" tanya Leo yang tidak melihat keberadaan keduanya


"di masih ngorok di ruang tamu" jawab Alana


"bangunkan mereka, sudah waktunya sholat. kenapa mereka tidur di ruang tamu" ucap ibu Nurma


"biar aku yang bangunkan mereka" Leo melangkah ke ruang tamu. di sana dilihatnya kedua saudara itu masih terlelap dalam mimpi


"gue kerjain ah" terlintas pikiran licik di kepala Leo


"dulu kalian berdua ya yang ngerjain gue, sekarang waktunya balas dendam, hihihi"


Leo kembali ke dapur mengambil wajan dan juga panci, ibu Nurma mengernyitkan keningnya melihat Leo.


"mau ngapain nak Leo...?" tanya ibu Nurma


"mau ngerjain si tukang tidur yang kayak kebo. maaf ya bu, aku buat keributan sejenak, nggak apa-apa kan" Leo meminta izin jangan sampai aksinya itu dirinya kena marah oleh tuan rumah


"asal jangan melukai yang lain ya nak" pinta ibu Nurma


"siap bu, dijamin halal eh aman maksudnya" segera Leo berlari ke ruang tamu. karena penasaran apa yang akan dilakukan oleh Leo, yang lainnya pun ikut menyusul ke ruang tamu


"kak Leo mau ngapain sih...?" tanya Alana


"lihat saja sayang" jawab Leo tersenyum licik


satu.....


dua.....


tiga.....


"maling maliiiiiiiiing"


praaaaaang.... praaaaaang


"maliiiiiiiiing"


praaaaaang praaaaaang


Adam dan El-Syakir yang masih tidur nyenyak seketika langsung bangun dan panik. Adam bahkan mengambil gaya silat seakan hendak menyerang lawan di atas sofa, matanya masih dalam keadaan tertutup.


"maling maling mana maling" Adam melompat dari sofa kemudian ke atas meja, begitu seterusnya dengan gaya silatnya


"maliiiiiiiiing, woi mana malingnya" El-Syakir berteriak dengan kayu balok di tangannya yang ia ambil di dapur. mendengar Leo berteriak maling, tanpa aba-aba El-Syakir bangun dan berlari ke arah dapur mencari sesuatu untuk dijadikan senjata


sayangnya niat ingin mengerjai malah kini Leo yang kena imbasnya.


"kamu malingnya ya, wah kurang ekor. rasakan ini, hiyaaaaaaa" Adam yang masih setengah sadar saat melihat Vino, langsung menuduh kalau Vino adalah maling. ia pun berniat menendang Vino namun sayangnya keseimbangannya goyah dan dia jatuh ke lantai.


gubraaaaak

__ADS_1


seeeet


saat jatuh, Adam terjatuh di dekat Leo dan yang lebih sialnya adalah tanpa sengaja Adam jatuh dan memegang celana Leo sehingga celana Leo melorot ke bawah, kini Leo hanya memakai celana boxer saja.


"aaaaa"


"kyaaaaaa"


para perempuan teriak menutup mata, sedangkan Leo histeris dan memegang bagian depannya.


"hihihi...halo joni" Adam cekikikan melambai ke arah tangan Leo yang ia gunakan untuk menutup si joni


senjata makan tuan, niat hati ingin mengerjai Adam kini malah dirinya yang dikerjai. Leo melompat-lompat seperti pocong meninggalkan ruang tamu, dengan tangannya yang ia tutupi di bagian bawah depan. dua kali sudah Leo di buat seperti itu. pertama saat Adam masih menjadi arwah dan kedua kalinya adalah hari ini.


"hahaha, oi Le...mau kemana, ampuuuun gemoy banget daaah si Joni" Vino tertawa ngakak


"astaghfirullah kak Leo" Alana menutup wajahnya merasa lucu dan malu melihat Leo


bodohnya Leo. bukannya mengangkat celananya, dia malah kabur sambil melompat seperti pocong. melihat itu, Adam pun bangun dan mengejar Leo kemudian ikut melompat seperti yang dilakukan oleh Leo.


"mau kemana Joni, kita kan belum kenalan. hihihi"


"kampret lu, awas ya lu dam" Leo berhenti dan menggeplak lengan Adam


plaaaaak.... Bara memukul bokong Leo


"angkat celana lu bego" Bara menghampiri Leo dan mengangkat celana temannya itu. Leo yang hanya mengenakan celana boxer membuat bokongnya mencetak


yang lain masih terus tertawa di ruang tamu. Deva menggeleng kepala, merasa lucu dengan tingkah Leo yang lupa bahwa harusnya Leo tinggal mengangkat celananya, bukannya kabur dan melompat seperti pocong.


hari itu menjelang subuh, rumah ibu Nurma dan pak Firman dihebohkan dengan kelakuan Leo dan Adam. sepasang suami istri itu bukannya marah karena anak-anak itu membuat keributan, mereka pun malah ikut tertawa melihat tingkah Leo dan Adam.


pagi harinya setelah sarapan pagi, mereka pun bersiap-siap untuk ke puncak Boneng. persediaan makanan telah mereka masukkan kedalam bagasi mobil. ibu Nurma sengaja membuatkan mereka bekal yang banyak.


Zahra pun ikut bersama mereka, dia ingin juga jalan-jalan keluar rumah karena biasanya gadis itu hanya akan berada di dalam rumah terus.


saat hendak pergi, Wulan teman Zahra baru saja datang. dia sengaja datang ke rumah Zahra untuk bertemu dengan Adam dan juga yang lainnya, dia ingin berkenalan dengan mereka yang dari kota.


"kalian sudah mau pulang...?" tanya Wulan kepada Adam


"belum, kami mau ke puncak Boneng" Adam menjawab


"wah seru dong, aku boleh ikut nggak...?" Wulan menawarkan diri


"ikut aja, semakin rame semakin bagus" jawab Adam


"benaran, makasih kak Adam" Wulan girang dan mendekati Zahra


"kalau ibu kamu cariin bagaimana...?" tanya Zahra


"titip pesan sama bibi Nurma saja, nanti ibumu yang sampaikan. tenang aja, ibu aku nggak akan marah kok" jawab Wulan


"kamu nggak apa-apa nggak minta izin...?" Nisda bertanya kepada Wulan


"nggak apa-apa kak, nanti aku sampaikan sama bibi Nurma saja untuk memberitahu ibu" jawab Wulan


Wulan masuk ke dalam rumah untuk memberitahu ibu Nurma, setelah itu ia kembali lagi bergantung bersama yang lain.


"udah beres" ucap Wulan tersenyum senang


"oke semuanya, karena kita akan segera berangkat jadi aku harap kalau tiba di sana kita jangan saling berpencar dan meninggalkan ya" Deva memberikan arahan


"siap kak, terus siapa yang mau ngambil video kita...?" tanya Vino


"biar aku saja. pakai handphone saja ya, hasilnya pasti bagus kok" ucap Deva


"dimulai dari keberangkatan kita sekarang. sini kalian" Adam memanggil teman kelompoknya


"kalian siap...?" tanya Deva yang akan mulai memvideo


"ok mulai" ucap El


Deva menekan tombol merah di handphonenya, dia mulai merekam.


"hai gays.... perkenalkan kami adalah siswa-siswi dari sekolah SMA xxx yang akan melakukan penelitian di salah satu tempat wisata. sekarang kami berada di kecamatan Boneng Gunu desa Bone. bisa dilihat itu adalah tempat kami menginap di desa yang asri ini"


"sebelum berangkat saya akan memperkenalkan teman-teman saya terlebih dahulu. ada Dirga Sanjaya" El menunjuk Adam, segera Deva mengarahkannya kamera ke arah Adam


"halo ladies and gentleman, pie kabare...?" Adam menyapa dengan gaya tengilnya


"ada Leo Sebastian dan Vino Erlangga"


"hai gays" keduanya melambai ke arah kamera


"dan ada gadis cantik namanya Melati"


"halo" Melati melambaikan tangan


"saya sendiri bernama El-Syakir. hari ini kami akan ke puncak Boneng, ikuti terus perjalanan kami ya"


klik


Deva mematikan rekaman dan melihat hasilnya.


"gimana...?" tanya El mendekati Deva


"bagus, kita berangkat sekarang" ucap Deva


setelah berpamitan kepada ibu Nurma dan pak Firman, mereka pun masuk ke dalam mobil untuk menuju puncak Boneng.


"kamu yang nyetir ya, aku ingin bersantai" ucap Adam


"kak Deva duduk di depan ya, kakak kan mau merekam perjalanan kita" ucap El


"boleh, dimana saja boleh aku duduk" jawab Deva


El-Syakir yang menyetir mobil sedang Deva duduk di sampingnya. Adam duduk di kabin tengah bersama Melati dan Alana sedangkan di belakang Wulan dan Zahra. yang lainnya masuk ke dalam mobil Bara

__ADS_1


__ADS_2