
ting...
pesan masuk di handphone Zidan, pria itu baru saja menutup matanya karena lelah seharian bekerja di depan laptopnya. Mita mengirimkan beberapa pekerjaan di email-nya untuk segera di kerjakannya.
dia masih berada di luar negeri bersama dengan ayah Adnan. saat ini Zidan berada di apartemen dan ayah Adnan berada di rumah sakit menemani Dirga. ayah Adnan menggunakan waktunya sebaik mungkin untuk menemani sang anak sebelum dirinya pulang kembali ke tanah air.
π±sudah fix pulang besok...? pesan dari Randi
π±iya, bagaimana...sudah temukan manusia licik itu...? balas Zidan
π±tidak bagus bercerita lewat pesan. setelah kamu datang baru kita bahas
π±ok
setelah membalas pesan Randi, Zidan menyimpan handphonenya kembali namun seketika ia teringat dengan seseorang.
Vania. wanita itu, setelah mendapatkan pesan dari Zidan untuk tidak menghubunginya, ternyata benar-benar ia lakukan, sampai sekarang tidak ada panggilan atau pesan masuk darinya.
Zidan kembali menyimpan handphonenya dan mematikan laptopnya. setelahnya, ia ke kamar mandi membersihkan dirinya karena rencananya ia akan ke rumah sakit menyusul ayah Adnan.
"kalau kita pulang, siapa yang akan menjaganya...?" tanya ayah Adnan yang membelai sayang kepala putranya itu
"pengawal telah aku persiapkan dan juga dokter Edward, adalah kenalan baikku. dia adalah teman masa kuliahku dulu. dia yang akan menjaga Dirga dan akan terus memberikan kabar kepada kita" Edward adalah dokter yang menangani Dirga
"apa dia akan bangun...?" kali ini suara ayah Adnan serasa tertahan di tenggorokan
"percaya keajaiban mas, jika Allah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin bagiNya" jawab Zidan yang sebenarnya dirinya juga sangat mempertanyakan apakah keponakannya itu akan bangun
"cepatlah sadar sayang, kami semua menunggu kamu bangun" dengan lembut ayah Adnan mencium kening Dirga
cek lek
"kamu sudah di sini...?" Edward masuk ke dalam
"belum lama. bagaimana perkembangannya...?" ucap Zidan
"sejauh ini, baik-baik saja. kita hanya berharap kuasa Tuhan untuk segera membangunkannya. aku pun akan melakukan yang terbaik" Edward memeriksa keadaan Dirga
"setelah aku pulang, aku percayakan dia padamu untuk menjaganya" ucap Zidan
"tenang saja, aku akan merawatnya dengan baik. sejauh yang aku kenal, Dirga adalah anak yang kuat dan hebat...dia pasti akan dapat melalui semua ini" ternyata dokter itu sudah mengenal Dirga
"oh ya, kapan kalian akan kembali ke Indonesia...?" lanjutnya
"besok. namun demikian aku akan sering datang untuk menjenguknya. aku harap disini tempat yang aman untuknya" Zidan melihat ke arah Dirga yang terbaring
"selama tidak ada yang membocorkan dimana dia, maka tentu saja dia akan baik-baik saja. aku juga akan menjaganya dan terus mengawasinya. jangan khawatir" balas Edward.
"terimakasih dokter, aku sangat berharap banyak padamu" timpal ayah Adnan
"sama-sama pak. oh ya, bagaimana kalau hari ini kita keluar jalan. kalian kan akan pulang besok, selama di sini kita belum pernah keluar untuk jalan-jalan, apalagi pak Adnan yang baru pertama kali datang ke sini" ajak Edward menatap Zidan dan ayah Adnan
"boleh juga, bagaimana mas...?" Zidan beralih melihat ayah Adnan
"lalu siapa yang akan menjaga putraku...?" tanya ayah Adnan
"ada pengawal yang telah aku siapkan dan juga perawat yang akan memantau keadaannya" jawab Zidan mengerti kekhawatiran pria itu
"baiklah" ucapnya
setelah Edward menyelesaikan pekerjaannya, ketiga pria itu meninggalkan rumah sakit dan meluncur di sebuah cafe yang cukup terkenal di di tempat itu.
"kapan kamu menikah Ed, selama aku bolak balik ke sini kamu selalu sendiri terus. kamu tidak menyimpang kan...?" tanya Zidan menikmati minumannya
"menyimpang pun harus ada yang srek di hati. lagi pula aku masih nyaman sendiri seperti ini" balas Edward
"kamu sendiri bagaimana...?" Edward melirik Zidan
"dia sudah punya calon, tinggal atur tanggal mainnya" timpal ayah Adnan
"oh ya. wah, siapa yang berhasil meluluhkan pria kutub es seperti kamu ini. aku jadi penasaran siapa wanita yang berhasil melelehkan bongkahan es yang besar itu" Edward terlihat terkejut
"kamu tau siapa orangnya" jawab Zidan
"memangnya siapa, katakan saja. jangan buat aku penasaran" ucap Edward
belum sempat menjawab, handphone Zidan bergetar. Pram melakukan video call dengannya.
π² Zidan
halo Pram, ada apa
π² Pram
sepertinya kamu sedang berada di luar
π² Zidan
aku memang berada di luar bersama mereka
Zidan mengarahkan handphonenya ke arah Edward dan ayah Adnan. keduanya melambaikan tangan menyapa Pram.
π² Zidan
halo Pram, lama tidak berjumpa. sapa Edward
π² Pram
woi Ed.... waaah makin tampan saja kau. teriak Randi mengambil alih handphone Pram
π² Zidan
__ADS_1
oh ya. itu karena aku perawatan memakai lidah buaya dan minyak zaitun. kelakar Edward
π² Pram
cih, setelah sekian purnama tidak bertemu...ke edananmu ternyata tidak hilang-hilang. cibir Randi membuat Edward tertawa
π² Zidan
kalian hanya berdua saja. mana Helmi...? tanya Edward
π² Pram
dia sedang berusaha meluluhkan hati seorang bidadari. bahkan kami dilupakannya hari ini. awas saja kalau dia pulang, ku cincang jadi sate dia. Pram terlihat kesal
π² Zidan
lah...kalian dikalahkan oleh Helmi. kenapa tidak pergi mencari juga daripada kalian berdua terus. aku jadi curiga apa kalian jangan-jangan. ayah Adnan merapatkan kedua jari telunjuknya.
π² Pram
cih, kami masih waras pak. ogah banget aku sama dia. Randi melirik sinis ke arah Pram.
kamu pikir aku mau sama kamu, nggak usah kepedean tingkat Dewi. cibir Pram. Edward, Zidan dan ayah Adnan hanya terbahak melihat kedua pria itu di layar handphone.
"kalian sudah sampai. maaf ya lama. tadi macet" ucap seorang wanita menghampiri Pram dan Randi
deg.....
seketika dada Zidan bergemuruh, ia sangat tahu persis siapa pemilik suara itu.
"hai Van. nggak kok, kami juga belum lama. oh ya, kami sedang menelpon dengan pacarmu di LN sana" Randi mengarahkan handphone ke arah Vania
saat itu juga, tatapan Zidan dan Vania bertemu dibalik layar handphone itu. tatapan lembut nan teduh menenangkan hati. wanita itu tersenyum manis ke arah Zidan sedangkan Zidan, hatinya tidak karuan. jantungnya berdegup kencang melihat wanita yang beberapa hari ini tidak memberikan kabar.
karena merasa kenal dengan suara wanita itu, Edward mengambil handphone Zidan.
π² Zidan
hai Van....lama tidak bertemu. ucap Edward
π² Pram
Masha Allah Ed....kamu kah itu...? tanya Vania
π² Zidan
iya. kenapa, apakah aku semakin tampan sampai kamu tidak mengenaliku lagi...?" tanya Edward
π² Pram
hahahaha....kenarsissanmu tidak pernah hilang ya. tawa Vania
"iya... sepertinya dia akan bertambah gresek" timpal Pram
π² Zidan
percakapan mereka terus berlanjut, gelak tawa memenuhi masing-masing ruangan yang berbeda tempat dan terbentang jarak yang sangat jauh itu. perbedaan waktu di Indonesia dan LN sangatlah beda jauh. di Indonesia sekarang dalam keadaan malam bertabur bintang dan sedangkan di tempat Zidan dan ayah Adnan, mereka dalam keadaan siang.
*********************************************
"kita akan cari kemana El, disini sangat ramai orang" starla terus mengikuti langkah kaki El
"gue juga bingung mau cari kemana mereka" El berhenti dan menggaruk kepalanya
"udah ah, mending kita nikmati saja dulu waktu yang ada. urusan itu nanti lagi kita bahas. sekarang kita ke sana ya" starla langsung menarik tangan El untuk mendekat ke arah pertunjukan yang lain
"kamu kedinginan...?" tanya Leo melihat Alana memeluk dirinya sendiri
"lumayan kak. Lana lupa bawa jaket, padahal malam begini itu pasti dingin" jawab Alana.
tanpa pikir panjang, Leo segera melepas jaketnya dan memakaikan di tubuh Alana membuat gadis itu mendongak menatap Leo.
"pakai jaket kakak, biar kamu hangat"
"terus kakak gimana...?"
"kakak nggak apa-apa, yang penting kamu nggak masuk angin" Leo tersenyum simpul
mereka terus berjalan menyusuri pasar malam itu, sampai akhirnya Alana meminta untuk mencari tempat duduk agar mereka beristirahat sejenak.
Leo membawa gadis itu ke tempat yang tidak terlalu ramai akan manusia, di sana ada bangku yang telah disediakan.
"duduk di sini saja ya" ucap Leo
"iya" jawab Alana
keheningan menyapa mereka, baik Leo dan Alana sama-sama terdiam.
"bentar lagi kamu bakalan lulus ya...?" tanya Leo
"iya kak, hanya dua bulan lagi" jawab Alana
"mau sekolah dimana...?"
"tempat kak Leo dan kak El menuntut ilmu. Alana ingin bersama kalian, terutama...."
"terutama apa...?" Leo menatap gadis itu
(terutama aku ingin bersama kak Leo, melihat kakak setiap hari) batin Alana
"Lana"
__ADS_1
"ya"
"terutama apa...?" Leo masih penasaran
"terutama Lana nggak mau naik angkot lagi tiap hari kalau harus beda sekolah dengan kak El"
"ooh...kakak kira apa"
"emang kakak kira apaan...?"
"nggak...bukan apa-apa"
Leo mengarahkan pandangannya ke tempat lain.
"kak"
"hummm"
"kakak nggak punya pacar...?"
mendengar pertanyaan itu, Leo melihat sekilas ke arah Alana kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Kenapa bertanya begitu...?"
"yaaa Lana penasaran saja. kak Vino sama kak Nisda, kak El dekat dengan kak starla, tapi Alana nggak pernah liat kakak dekat dengan cewek"
"kakak dekat kok dengan seseorang"
"oh ya, siapa...?" mendengar itu, Alana merasa sedikit kecewa
"yang jelas dia spesial bagi kakak. dia manis dan cantik, hatinya juga baik. melihat dia, ada rasa ingin terus bersamanya" Leo tersenyum
"beruntung sekali gadis itu" Alana berucap lirih
"bukan dia yang beruntung, tapi kakak yang beruntung kalau bisa mendapatkan hatinya"
"memangnya kakak belum mengungkapkan rasa...?"
Leo menggeleng pelan dan menghela nafas. ia mengangkat kepalanya ke atas, menatap bintang yang bertaburan di langit yang gelap sana tanpa mentari yang kini sedang bersembunyi sampai waktunya ia memunculkan diri kembali.
"kenapa...?" Alana tidak dapat menyembunyikan penasarannya
"kakak menunggunya dua bulan lagi, kalau untuk sekarang belum pantas kakak mengungkapkan rasa karena dia...."
"dia kenapa...?"
Leo melihat ke arah gadis itu dan tersenyum manis.
"kamu kepo banget"
"yah...Lana penasaran saja"
"penasaran sama orangnya...?"
gadis itu mengangguk cepat dan kemudian ia menggeleng lagi membuat Leo terkekeh.
"kamu kenal kok siapa orangnya, bahkan kamu sangat mengenalnya"
"siapa...?
"mau tau aja atau mau tau banget...?" goda Leo
"ish kakak, Lana serius tau" Alana mengerucutkan bibirnya
"nanti akan kakak beritahu kalau sudah tiba waktunya"
sementara itu di tempat lain, Vino sedang mengoleskan salep ke lengan Nisda yang terkena tumpahan mie ayam tadi.
"sudah" Vino menutup kembali salepnya
"makasih" ucap Nisda
"humm" jawab Vino lembut
"Vin"
"ya"
"kamu masih marah sama aku...?"
"marah untuk apa...?"
"kamu tau maksudku. aku benar-benar minta maaf, waktu itu Bara mengancam ku untuk menyakitimu kalau seandainya aku berhubungan denganmu. kamu tau kan Bara orangnya seperti apa, makanya itu aku menyuruh kamu untuk tidak menghubungiku lagi" Nisda menatap Vino dengan sendu
Vino menghela nafas panjang kemudian mengjembuskannya dengan pelan.
"harusnya kamu bicara padaku soal itu. bukan setelah jarak kita menjauh seperti ini. bukan hal baru bagiku untuk menerima kelakuan kasar Bara padaku"
"apa kita tidak bisa memperbaiki jarak itu kembali dekat lagi seperti dulu...?" Nisda memegang tangan Vino
"entahlah Nis, setelah penolakan mu kemarin, aku sudah tidak memikirkan itu lagi"
"aku bukannya menolak, tapi aku hanya ingin tidak terjadi sesuatu padamu"
"sesuatu itu sudah terjadi Nisda. bahkan aku sudah babak belur karena mempertahankan mu, namun kamu dengan gampangnya mematahkan semua itu" Vino menarik tangannya
"lalu, apa sudah tidak ada kesempatan untukku lagi...?" suara gadis itu terdengar parau
"kita kembali ke yang lainnya, mereka mungkin mencari kita karena tadi tanpa pamit kita meninggalkan mereka" tanpa menjawab Vino berdiri dan memakai helmnya
"ayo" ajaknya saat Nisda tidak bergeming
__ADS_1
gadis itu berdiri dan memakai helm, ia naik di atas motor Vino dan melingkarkan tangannya ke pinggang laki-laki itu. sekilas Vino melirik tangan gadis itu, lalu kemudian ia menjalankan motornya untuk kembali ke pasar malam.