Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 203


__ADS_3

POV (El-Syakir)


kak Dirga pergi bersama kak Deva, karena tidak mungkin kak Deva ikut bersama kami. untungnya Bagas tidak tau kalau kak Deva adalah anak angkat dari Burhan Sanjaya, dia bilang baru pertama kali melihat Deva dan aku menjelaskan kalau kak Deva adalah temab kak Dirga atau Awan, karena nama itu yang ia pakai sekarang. sehingga saat ini penyamaran kami masih tetap aman.


oeeek.... oeeek


bayi yang berada di dalam gendongan Anggun menangis, entah dia lapar atau semacamnya aku tidak tau. sementara anak usia tiga tahun, duduk bersamaku di kabin tengah.


"Gas, kita singgah di minimarket dulu. Galang lapar, aku ingin membelikan susu untuknya" ucap Anggun


ternyata dugaan ku benar kalau bayi kecil yang bernama Galang itu sedang dalam keadaan lapar.


"di depan sana ada minimarket, kita berhenti di situ" jawab Bagas


karena lampu merah, jelas mobil kami harus berhenti sama seperti kendaraan yang lain. Ghandi ternyata mengantuk sehingga aku langsung mengambil tindakan mengangkatnya di pangkuanku dan meletakkan kepalanya di dadaku agar dia dapat tidur dengan nyenyak.


"Ghandi tidur ya...?" tanya Anggun memutar kepala melihat ke arahku yang sedang memangku Ghandi


"iya tante, Ghandi tidur" jawabku


aku memanggil istri dari dokter Nathan dengan panggilan seperti yang aku panggil ke tante Vania karena aku memprediksi kalau mereka seumuran.


setelah lampu merah berganti dengan lampu hijau, mobil kami kembali bergerak. namun hanya beberapa meter dari lampu merah, kami kembali berhenti di depan minimarket yang dimaksud oleh Bagas.


"biar aku saja yang belikan susu untuk Galang" ucap Bagas


"sekalian dengan Pampers ya Gas, ukuran S" ucap Anggun


"oke" jawab Bagas


Bagas keluar dari mobil menuju ke minimarket dan masuk ke dalam tempat perbelanjaan itu. sementara aku menepuk-nepuk bokong Ghandi yang sempat bangun namun kemudian tertidur kembali.


"apakah kamu anak buah dari Gibran...?" tanya Anggun setelah sekian menit kami diam


"iya, aku Syakir dan yang berambut gondrong tadi adalah Awan, kami berdua bekerja dengan bos Gibran" jawabku


"bukankah berarti kalian adalah anak buah Baharuddin juga...?"


"tante tau siapa bos Baharuddin...?" tanyaku


"dia....manusia licik. andai bukan karena Galang, aku tidak ingin memiliki hubungan apapun dengannya entah itu sebagai kerabat atau sebagai musuh sekalipun"


aku mengernyitkan kening, tentu saja memikirkan apa maksud dari ucapan tante Anggun. memangnya apa hubungannya antara Galang dengan Baharuddin brengsek itu.


"memangnya apa hubungan Galang dengan bos Baharuddin...?" tanyaku yang begitu penasaran


belum sempat menjawab, Bagas telah datang dan duduk kembali di tempat kemudi.


"bisakah kita singgah di warung makan, sebenarnya aku lapar dan juga aku ingin membuatkan susu untuk Galang. kita kan tidak punya air hangat" ucap Anggun


"bagaimana kalau kita ke rumahku saja dulu, di sana di depan sana belok kiri, ada sebuah bengkel bernama bengkel Abi. kita berhenti di situ. rumahku dan kak Abimana ada di belakang bengkel itu" ucapku


jika aku perhatikan sekitar kami, aku baru sadar kalau ternyata tempat kami berada tidak jauh lagi dengan rumah yang aku tempati bersama kak Furqon sehingga aku meminta untuk ke sana saja.


"baiklah, kasian Galang kalau dia terus menahan lapar" ucap Bagas yang setuju dengan usulanku


mobil kami kembali bergerak meninggalkan minimarket. kemudian Bagas mengambil jalur kiri seperti yang aku katakan dan beberapa meter ke depan, bengkel yang aku maksudkan telah terlihat hingga kini mobil kami berhenti tepat di depan bengkel.


sebelum aku turun dari mobil, aku mendengar percakapan paman Edward dan paman Helmi kalau paman Zidan kondisinya sudah lebih baik. namun kini paman Zidan menanyakan keberadaan tante Vania dan anaknya yang mungkin sudah tidak tidak bisa di selamatkan.


aku membiarkan Bagas dan Anggun turun dari mobil terlebih dahulu, karena aku ingin menanyakan sesuatu.


"bukankah kak Furqon sudah mengirimkan alamat dimana tante Vania berada, kalian bisa langsung ke sana dan menculik tante Vania dari kami paman" ucapku


"kami memang sedang menyusun rencana untuk ke sana. malam ini juga, kami akan ke vila itu" jawab paman Helmi


"Randi, bagaimana keadaan Zidan...?" aku mendengar suara ayah yang sepertinya baru saja tiba di rumah sakit


"tadi dia sempat mengamuk karena Vania diculik. untungnya dokter memberikan obat penenang dan sekarang dia sedang tidur" jawab paman Randi


"aku dan kak Furqon akan menunggu kalian di vila itu paman" ucapku


tok... tok


aku terkesiap karena dikagetkan dengan suara ketukan kaca mobil dari luar. Bagas yang melakukannya, karena mungkin aku sejak tadi belum juga turun dari mobil.


aku membuka pintu mobil dan keluar sambil menggendong Ghandi di dekapanku.


"kamu ngapain belum turun juga dari tadi" tanya Bagas


"sedang menghubungi kak Abi, dimana dia menyimpan kunci rumah" jawabku berbohong


aku melangkah berjalan lebih dulu ke samping bengkel. karena sudah malam, maka bengkel tidak lagi di buka kecuali pagi sampai sore hari. setelah sampai di depan rumah, aku menyerahkan Ghandi kepada Bagas karena aku ingin membuka pintu.


klap

__ADS_1


klap


cek lek


pintu rumah aku buka dengan lebar dan mempersilahkan tante Anggun dan Bagas untuk masuk ke dalam. Galang semakin rewel karena pasti dia sudah sangat kelaparan.


"baringkan saja Ghandi di dalam kamar, aku akan menyiapkan air hangat dulu" ucapku kepada Bagas kemudian berlalu menuju ke dapur


untung saja di termos masih ada air panas, itu karena Hamdan, adik sepupu Abimana yang asli sering minum kopi sehingga air panas tidak boleh habis.


aku membawa termos air panas itu dan mengambil air dingin di gelas, karena yang dibutuhkan adalah air hangat maka keduanya harus dicampur terlebih dahulu untuk menciptakan air hangat yang dibutuhkan.


"ini tante airnya" ucapku meletakkan di meja termos dan gelas yang berisi air putih


aku mengambil alih tubuh mungil Galang dan meminangnya seperti yang aku lakukan dulu disaat Alana masih kecil. waktu itu aku yang masih kecil begitu senang menimang Alana, tentu saja dengan pantauan dari ibu.


tante Anggun dengan cekatan membuat susu sedangkan aku menatap dengan intens wajah mungil Galang.


semakin aku perhatikan aku semakin merasa kalau Galang mirip sekali dengan seseorang yang sangat aku kenal. bukankah bayi ini adalah anak dari dokter Nathan dan tante Anggun, tapi kenapa wajahnya sangat mirip dengan.


astaga....


apakah jangan-jangan Galang adalah anak paman Zidan dan tante Vania. bukankah Aris pergi ke rumah dokter Nathan untuk mengambil Galang.


"harusnya kamu nggak sakit seperti ini Gib, kalau sudah seperti ini keadaan mu...lalu bagaimana aku bisa melindungi anak itu"


aku teringat dengan ucapan dokter Nathan sebelum aku dan Bagas akan berangkat untuk menyelamatkan tante Anggun.


aku yakin dan sangat yakin sekarang kalau Galang adalah anak dari paman Zidan dan tante Vania. bahkan Bagas enggan untuk memberitahu pada saat kak Furqon bertanya tentang anak dari tante Vania.


cek lek


pintu rumah terbuka, Hamdan baru saja pulang. keningnya mengkerut melihat aku yang sedang menggendong bayi dan juga matanya tertuju kepada tante Anggun.


"Syakir" panggil Hamdan


"sini bawa Galang padaku" ucap tante Anggun


aku menyerahkan Galang kepada tante Anggun untuk memberinya susu. sementara aku menyapa Hamdan yang masih berdiri di depan pintu.


baru pulang Ham...?" tanyaku


"iya" jawabnya dan mendekatiku


belum ku jawab, Bagas keluar dari kamar yang baru saja menidurkan Ghandi. kami berdua melihat ke arahnya.


"ini siapa...?" tanya Bagas menunjuk Hamdan


"sepupu aku, namanya Hamdan" jawabku


Hamdan tersenyum kepada Bagas dan mengulurkan tangan, Bagas menyambutnya dan menyebutkan namanya.


"kalau begitu aku mau cari makan dulu untuk kita" ucap Bagas


"nggak usah, biar aku saja. kamu di sini saja menjaga tante Anggun, biar aku dan Hamdan yang keluar. ayo Ham"


tanpa meminta persetujuan Hamdan, aku menarik tangannya untuk ikut bersamaku. bahkan tasnya pun belum ia simpan.


kami berjalan ke arah depan dan menyebrang jalan karena warung makan yang kami tuju ada di depan bengkel.


"bu, nasi ayam empat ya, di bungkus" ucapku


"baik den" jawab si ibu


aku mencari tempat duduk yang berada dipojokan sambil menunggu pesanan siap.


"kamu belum jawab pertanyaan aku loh Syakir, mereka itu siapa...?" tanya Hamdan


"aku bingung mau menjelang bagaimana Ham, tapi yang pasti mereka adalah wanita tadi dan bayinya harus kami lindungi serta anak kecil yang berada di dalam kamar" jawabku


"masih ada anak kecil lagi...?"


"iya, di dalam kamar, sedang tidur" jawabku


"apa mereka sedang dikejar penjahat...?"


"lebih tepatnya mereka adalah buronan bagi penjahat" jawabku


"paman, apa kalian bisa mendengarku...?" tanyaku kepada paman pengawal


"kamu sedang berbicara dengan siapa...?" tanya Hamdan


jelas dirinya akan bertanya-tanya karena aku tidak sedang menelpon namun seakan berbicara dengan seseorang.


sssttt....

__ADS_1


ku tempelkan jari telunjuk dibibirku agar Hamdan tidak bicara dan untungnya dia paham kemudian mengangguk.


"ada apa tuan muda...?" tanya kak Ardi


"ada yang ingin aku beritahu...ini tentang anak dari paman Zidan dan tante Vania" ucapku dengan mimik wajah serius meskipun mereka tidak dapat melihatku


"apakah anak itu masih hidup...?" tanya paman Pram


"ada seorang wanita yang sedang bersamaku dengan dua orang anak laki-laki. satu masih bayi dan satunya berumur tiga tahun. wanita ini adalah istri dari dokter Nathan teman dari Gibran. saat kami menyelamatkan mereka, ternyata Aris yang akan mencelakakan mereka, dia ingin mengambil bayi yang bernama Galang itu. dan tadi aku baru saja memperhatikan kalau bayi itu sangat mirip dengan paman Zidan"


"kalau kita analisa, ngapain coba Aris mau mengambil anak dari dokter Nathan kalau bayi itu tidak ada hubungan apapun dengannya. aku yakin, kalau bayi itu adalah anak paman Zidan. aku belum bisa memberikan bukti yang pasti, namun aku akan cari tau"


"kalian berada di rumah Abimana kan...?" tanya paman Helmi


"iya paman" jawabku


"maka tunggu kami di sana. tuan muda harus mencari cara untuk mengulur waktu sebelum kami tiba. satu-satunya cara adalah menanyakan hal itu kepada wanita itu, namun biarkan kami nanti yang melakukannya" ucap paman Helmi


"tapi kalau kalian datang, tentu penyamaranku akan terbongkar paman" ucapku


"itu gampang, kita tinggal meringkus yang bernama Bagas itu agar tidak ketahuan. kami ke sana sekarang"


"baiklah, tapi setelah dari sini paman akan menyematkan tante Vania kan...?"


"iya, tuan muda Dirga sudah dalam perjalanan ke vila itu. aku menyuruhnya ke sana"


"jadi kak Dirga sudah pergi ke vila itu, bukannya dia bilang mau mengembalikan mobil...?"


"mereka sudah dari sana. dia baru saja berhasil melumpuhkan Jacob. jika kita akan menyerang Baharuddin, orang-orang kita akan semakin banyak karena Jacob bersedia membantu kita. ingat tuan muda, jangan meninggalkan rumah itu sebelum kami datang"


"baik paman"


"paman, aku menemukan jejak Baharuddin. sepertinya aku belum bisa ke vila, aku dan Zulfan harus mencari tau siapa tau kali ini kita berhasil menemukan dimana dia bersembunyi" ucap kak Dirga


"hati-hati tuan muda" ucap kak Furqon


aku menghela nafas, semoga saja masalah yang kami hadapi ini akan segera berakhir. aku ingin sekali hidup normal seperti dulu tanpa adanya berbagai macam masalah yang datang.


"kamu seperti seorang detektif, keren" Hamdan mengangkat dua jempolnya di depanku


"ayo" ajak Hamdan


"kemana...?" tanyaku melihat Hamdan berdiri dari tempat duduknya


"pulanglah, kemana lagi. tuh, pesanan kita sudah jadi" ucap Hamdan


aku mengikuti Hamdan dari belakang. setelah membayar nasi ayam yang kami pesan, kami berdua keluar dari warung makan untuk pulang ke rumah. tepat saat kaki kananku menginjak aspal, aku melihat dua mobil hitam berhenti di depan bengkel. orang-orangnya keluar dari mobil dan bergerak cepat menuju ke arah samping bengkel.


astaga


mereka pasti akan ke rumah untuk mencari tante Anggun dan mengambil Galang. aku tentu tidak akan membiarkan itu terjadi. aku berlari menyebrang jalan dan bahkan aku hampir ditabrak oleh motor.


"woi...cari mati lu ya"


pengendara motor itu meneriakiku karena aku membuatnya terjatuh mencium aspal. namun aku tidak memperdulikan dirinya yang bersungut-sungut dengan emosi yang mungkin sudah di ubun-ubun karena bukannya aku berhenti untuk meminta maaf, aku malah mengabaikan dirinya.


"Syakir, tunggu" Hamdan memanggilku


aku tidak berhenti dan tidak juga menoleh. yang aku pikirkan sekarang adalah cepat sampai di rumah untuk membantu Bagas menghadapi orang-orang itu.


saat aku tiba di depan rumah, Anggun tengah di seret oleh dua orang laki-laki sedang Galang masih dalam gendongannya.


"Syakir, hentikan mereka" teriak Bagas yang tengah bertarung dengan orang-orang itu


aku menghalang jalan kedua orang itu. Hamdan baru saja datang dengan nafas ngos-ngosan karena berlari mengejarku.


"minggir kau, kami tidak punya urusanmu Syakir" ucap salah satunya


mereka mengenalku karena memang mereka adalah orang-orang Baharuddin, kami sudah bertemu di markas.


"langkahi dulu mayatku, sebelum membawa mereka" ucapku dengan tatapan tajam


"kamu ingin menjadi pembelot rupanya"


"Syakir" tante Anggun menatapku dengan sendu, aku jadi teringat dengan tante Vania yang sekarang masih koma


"Ham, minggir, aku harus menghadapi mereka" ucapku melirik ke arah Hamdan


"aku bantu, aku bisa beladiri" ucap Hamdan melepaskan tasnya dan berdiri sejajar denganku


"setelah ini, kamu akan jadi buronan oleh bos Baharuddin Syakir"


"aku tidak peduli, lepaskan tante Anggun dan bayinya" jawabku


aku dan Hamdan memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang sementara dua orang itu saling pandang dan menganggukkan kepala. mereka sepertinya tidak mempunyai cara lain selain untuk menghadapi kami berdua dan memang itu yang aku inginkan. melumpuhkan keduanya dan mengamankan tante Anggun dan juga Galang.

__ADS_1


__ADS_2