
"dam"
"hmmm"
"apa kesepakatan kita masih berlanjut...?"
Adam menghentikan langkahnya dan menurunkan lengannya di bahu Melati. ditatapnya dalam-dalam mata gadis itu begitu juga dengan Melati.
"apa yang sedang mereka bahas...?" Leo bertanya saat Adam dan Melati tertinggal di belakang mereka
"merencanakan masa depan" jawab Vino asal
"kak Dirga sudah kembali mengingat ratu Sundari, apalagi yang mau direncanakan sama Melati. gue yakin saat ini hati kak Dirga sudah penuh dengan nama ratu Sundari. wanita itu sepertinya nggak akan ada yang bisa menggantikan posisinya di hati kak Dirga" ucap Bara tatkala dirinya menoleh untuk melihat ke arah dua orang yang berada di belakang sana
"benar banget. bahkan kemarin itu Adam enggan untuk melepaskan pelukannya dari ratu Sundari. hanya saja karena rasa kecewa, Adam terpaksa mulai menjauh" Nisda membenarkan ucapan Bara
"biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. untuk masalah ini, kita nggak bisa ikut campur. biar kak Dirga saja yang mengambil keputusan" timpal El-Syakir
"memangnya ada hubungan apa antara Dirga dengan ratu yang bernama Sundari itu...?" tanya Deva penasaran
Zahra, Seil dan Wulan berada di barisan paling depan, sementara untuk tim samudera dan Deva, mereka berada di belakang kedua gadis itu.
"kak Deva kenal kak Dirga...?" Alana bertanya sambil menatap wajah Deva dengan lekat
"hah...?" Deva bingung
"iya, soalnya kak Deva manggil kak Dirga dengan panggilan Dirga, bukan panggilan Adam yang dia perkenalkan kepada orang lain" Alana melanjutkan ucapannya
"emmm itu...." Deva menggaruk kepala
"kenapa kalian lama sekali, ayo kak" Wulan memanggil mereka semua
"ayo" tanpa menjelaskan kepada Alana dan mereka semua, Deva berjalan terlebih dahulu
sebenarnya Deva bingung harus memulai cerita darimana bahwa dia dan Adam adalah adik kakak angkat, dimana dulu pak Burhan dan bunda Ayu mengangkat Deva sebagai anak mereka.
"tingkah kak Deva kok aneh ya" Alana masih memperhatikan Deva
"kak Deva lebih tampan ya dari aku sampai segitunya kamu liatin terus" Leo menggerutu tidak suka
"cih, tampan juga gue daripada elu" Vino menyombongkan diri
"wajah udah kayak ulat bulu dilindas becak begitu, tampan darimananya" Leo mencibir sambil mengayunkan kakinya berjalan mendahului mereka
"kejar Lana, dia ngambek tuh" Starla mendorong pelan bahu Alana agar pergi mengejarnya Leo dan gadis itu melangkah cepat
Adam dan Melati masih saling menatap satu sama lain tanpa ada yang mulai untuk berbicara. hingga kemudian Adam mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"maaf Mel, kamu tau bagaimana hatiku. aku tidak ingin menyakitimu" ucap Adam
"apa permintaan maaf mu ini pertanda bahwa tidak ada lagi kesempatan untukku...?" Melati menatap sendu Adam
"Melati, sejak dulu aku sudah menganggap kamu seperti yang lainnya. maaf kalau dulu aku memberimu harapan. itu karena aku yang tidak bisa mengingat ratu Sundari"
"sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik untuk ke depannya. kamu akan lebih sakit lagi jika aku menerimamu hanya karena kasihan. jangan buang waktumu hanya untuk mengejarku. meskipun kita tidak memiliki hubungan khusus tapi kita adalah sahabat. suka dukamu adalah masalah dan kebahagiaan kami juga. kita semua tim samudera"
air mata Melati tidak dapat ia bendung lagi. gadis itu menangis dan hal itu adalah yang paling dibenci oleh Adam jika ada seorang perempuan yang menangis karenanya.
Adam menarik Melati dan memeluknya. ia usap dengan lembut punggung gadis itu untuk menenangkannya.
"jika bukan aku maka akan ada yang lain yang lebih dari aku. percayalah" ucap Adam
Melati melepas dirinya dari pelukan Adam. ia kemudian menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum.
"aku paham, kamu tidak perlu meminta maaf. ratu Sundari memang tidak akan ada yang bisa menggeser posisinya"
Melati menghela nafas mencoba mengatur kegundahan hatinya. ia pun tersenyum ke arah Adam dan kembali memapahnya untuk kembali melangkah karena yang lainnya sudah semakin jauh dari mereka berdua.
"apa kamu tidak penasaran dengan rahasia yang aku katakan tadi...?" ucap Melati
"tentang wanita gaibku...?" tanya Adam
"cieeee, udah manggil wanitaku. padahal tadi ada yang kecewa tuh" Melati meledek mencoba untuk menerima kenyataan meskipun sebenarnya ia harus berusaha keras
"aku memang sedang cekewa padanya"
"kecewa kelles"
"sama saja, ada wa wa-nya juga"
"terserah kamu lah"
"memangnya rahasia apa...?"
"cih, tadi katanya nggak mau membahas dia"
"itu tadi karena kepalaku sedang koslet"
"woi....elu berdua lama banget sih kayak cacing baru saja melahirkan. cepat dikit Napa" belum Melati memberitahu, Leo sudah meneriaki mereka
"iya iya bawel" Adam menggerutu
hari itu suasana desa Boneng sudah seperti desa biasanya. terlihat anak-anak yang berpakaian sholat hendak akan ke masjid. pintu rumah sudah mulai terbuka lebar, sudah banyak aktivitas yang warga lakukan daripada sebelumnya.
menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, mereka semua tiba di rumah Wulan. gadis itu membuka pintu dan mempersilahkan semuanya untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
"silahkan siapa yang mau mandi duluan. ada kamar mandi dan ada juga sumur di belakang rumah. bisa untuk digunakan mandi juga, airnya jernih dan lumayan segar apalagi siang-siang begini" ucap Wulan
"gue mandi di sumur sajalah, udah gerah banget kalau masih nunggu antrian" ucap Vino
"kalau begitu perempuannya di kamar mandi saja. setelah ini kita sholat di masjid saja, dekat kok dari sini" ucap Wulan
Wulan mengarahkan semua laki-laki untuk ke kamar Amran jika ingin berganti pakaian. mereka hanya membutuhkan celana pendek untuk membungkus bagian bawah beda halnya dengan perempuan.
untuk perempuan, mereka akan berganti pakaian di kamar Wulan. semua laki-laki sudah menuju ke arah sumur yang berada di belakang rumah. sementara perempuan kini mulai mengantri satu persatu untuk membersihkan diri.
"ambilkan baskom besar itu untung tempat menampung air" Deva menyuruh Leo
"nih" Leo mengambil baskon besar itu dan memberikannya kepada Deva
"woaaaah kak, sudah beberapa tahun tidak bertemu ternyata kamu semakin bohai ya" Adam memperhatikan Deva dari ujung kepala sampai ujung kaki
"makin bohai makin bohai. kamu pikir kakak cewek jadi-jadian" Deva mencebik sambil menimba air mengunakan timba yang telah disediakan
"kalian ini saling kenal ya...?" tanya Bara
"kak Dirga sudah kenal sama kak Deva...?" tanya El-Syakir
"dia kakak aku" Adam menjawab santai sambil mengguyur tubuhnya dengan air yang telah ditimba oleh Deva
"kakak...?" mereka mengulang dengan nada pertanyaan
(kok gue seperti mengingat sesuatu ya) Bara menggaruk kepalanya yang sedang mengingat-ingat sesuatu
(oh iya benar) Bara menjetikkan jarinya setelah mengingat
"kenapa lu...?" tanya El-Syakir melihat Bara seperti menemukan uang 5 ribuan di tengah jalan
"kak Dirga kan dulu memang punya kakak yang bernama Deva, apakah....." Bara melihat Deva yang juga sedang menatapnya
"tapi.... dulu kak Deva kan hitam ya, kok sekarang malah putih. berarti bukan" ucap Bara lagi
"ngomong apa sih lu, nggak jelas banget. bukannya Adam anak tunggal ya di keluarga Sanjaya kenapa ini tiba-tiba dia punya kakak" Vino nampak bingung
semua orang terkecuali Deva menatap Adam yang tanpa tidak peduli dengan percakapan mereka.
"waaah segarnya. aku langsung sehat setelah mandi. boleh masuk di dalam baskom tidak...?" Adam malah sibuk bermain air
"jangan" semua orang berteriak tatkala Adam sudah siap masuk ke dalam baskom besar itu
"huh, kalian tidak asik sekali" Adam mencebik
"kalau mau, elu terjun ke dalam sumur sana. di sana lebih segar dan dingin" ucap Vino yang mulai memakai sabun wajahnya. untuk sementara itu mereka melupakan pembahasan tentang Deva
"apa itu...?" tanya Adam memperhatikan apa yang dipakai oleh Vino
"bisa untuk memutihkan wajah...?"
"sangat bisa, tambah kinclong malah"
"kalau begitu aku mau"
Adam mendekati Vino dan mengambil sabun wajah itu. ia membaca terlebih dahulu sebelum akhirnya menuang ke telapak tangannya.
"huuumm harum sekali, buat aku saja ya"
"ck, anak sultan kenapa malah porotin orang terus sih. heran gue" Vino kesal sabun wajahnya telah diambil oleh Adam
"bapak aku namanya bukan sultan, sembarangan kamu ganti-ganti nama orang tua" Adam menjawab sambil menggosok wajahnya dengan lembut
"ck, begonya kebangetan" Vino menepuk jidat
karena air sumur yang begitu menyegarkan badan mereka. anak-anak itu bahkan mandi berjam-jam dan selesai setelah bunyi azan di masjid terdengar.
"bagaimana kita mau ke masjid, kita kan nggak bawa mukenah" Seil baru saja ingat kalau mereka tidak membawa peralatan sholat
"iya juga, berati kita nggak usah ke masjid, biar laki-lakinya saja yang pergi" timpal Zahra
"sholat di rumah saja kalau begitu. aku punya mukenah, nanti kita gantian saja untuk memakainya" ucap Wulan
para laki-laki berpamitan ke masjid yang tidak jauh dari rumah Wulan. sementara perempuan, mereka sholat di rumah karena tidak mempunyai perlengkapan sholat.
di masjid ternyata banyak bapak-bapak yang ikut sholat berjamaah. anak-anak pun banyak yang berdatangan. begitu juga remaja yang hadir beberapa orang.
sholat di mulai dengan khusyuk. imam masjid melantunkan ayat-ayat Allah dengan begitu merdunya sehingga para jamaah pun begitu khusyuk mendengarkan dan mengikuti.
setelah sholat, rupanya anak-anak itu tidak langsung pulang. mereka mulai mengambil Al-Qur'an dan duduk rapi melingkar. sementara salah satu remaja duduk di depan mereka.
saat remaja itu melihat Deva, dirinya langsung melambaikan tangan dan berdiri mendekat mereka.
"masha Allah Deva, lama tidak bertemu" ia memeluk Deva kemudian melepasnya
"apa kabar Iwan, kamu tambah gagah saja" Deva tersenyum ramah
"hahah, aku malah tambah hitam Dev. tadi aku ke rumahmu mengantar paman Ujang ke tempat terakhirnya tapi aku tidak melihatmu"
"aku di dalam kamar. oh ya perkenalkan mereka semua teman-teman ku" Deva memperkenalkan tim samudera kepada remaja itu
remaja yang bernama Iwan itu pun berjabat tangan satu persatu dengan tim samudera dan mereka saling menyebutkan nama.
"kebetulan kalian di sini, bagaimana kalau kalian membantu aku mengajar anak-anak mengaji...?" ucap Iwan
__ADS_1
"boleh, dengan senang hati" El-Syakir mengangguk
Iwan tersenyum lebar mendengar jawaban dari El-Syakir. ia pun meminta mereka untuk mendekat ke arah anak-anak itu. setelah mereka diperkenalkan oleh Iwan, anak-anak itu dibagi menjadi beberapa kelompok untuk diajar mengaji oleh tim samudera.
bahkan anak-anak itu begitu antusias ketika tim samudera mengajari mereka. awalnya mereka malu-malu namun karena tim samudera memulai pendekatan dengan memberikan rasa nyaman dan mengeluarkan kata-kata yang humoris, anak-anak itu kini mulai dekat dengan mereka.
mereka mengaji sampai waktu ashar datang. Iwan mulai melantunkan azan kemudian beberapa menit masjid mulai ramai di datangi mereka yang ingin beribadah.
kini tim samudera dalam perjalanan pulang setelah melaksanakan sholat ashar. saat tiba di depan pintu, Alana memberitahu El-Syakir bahwa Zidan menghubunginya. segera El-Syakir ke kamar Amran dan mengambil hp-nya kemudian menghubungi Zidan kembali.
namun saat terhubung Adam datang dan mengambil alih hp El-Syakir.
paman Zidan
halo El
El-Syakir
paman, ini Dirga
paman Zidan
ada apa Dirga, tadi kamu mengirim pesan memakai nomor El-Syakir. memangnya hp kamu kemana
El-Syakir
hilang paman, nanti pulang belikan yang baru ya
Paman Zidan
kenapa bisa hilang. ya sudah nanti paman belikan. sekarang apa yang ingin kamu katakan.
El-Syakir
aku menemukannya paman
El-Syakir yang masih berada di dalam kamar mulai penasaran dengan pembahasan Adam dan Zidan.
(menemukan siapa maksudnya...?) batin El-Syakir
paman Zidan
menemukan siapa Dirga, paman tidak mengerti
El-Syakir
kak Deva, aku telah menemukan kak Deva
"kak Deva...?" El-Syakir spontan bertanya namun Adam hanya meliriknya dan kembali fokus berbicara dengan Zidan
paman Zidan
Deva Pradipta...?
El-Syakir
iya paman, Deva Pradipta kakak aku
paman Zidan
kamu serius Dirga
El-Syakir
aku serius paman, dua rius malah
paman Zidan
mana, mana Deva paman mau bicara. cepat berikan hpmu padanya
El-Syakir
video call saja paman agar paman dapat melihat wajahnya
paman Zidan
baiklah
tuuuuuuut
Zidan segera mematikan panggilannya sementara El-Syakir memasak wajah dengan penuh kebingungan.
"akan aku ceritakan, sekarang ayo kita ke depan" ucap Adam menuju ke ruang tengah
hp El-Syakir kembali berbunyi, Zidan melakukan video call dan Adam segera mengangkatnya.
"kak Deva" Adam memanggil Deva yang sedang bercerita dengan Leo, Vino dan Bara
seketika Deva menoleh dan saat itu juga Deva dapat melihat wajah seseorang yang ada di layar hp El-Syakir.
"masha Allah Deva" Zidan memanggil Deva dengan linangan air mata
"p-paman" Deva kaget sekaligus bahagia dapat melihat Zidan lagi
sementara yang lainnya menatap heran, bingung dan penuh tanda tanya. ada hubungan apa Deva dengan Zidan.
__ADS_1
"jadi benar, kakak adalah kak Deva yang hilang itu...?" ucap Bara seketika