
malam itu adalah malam kesedihan bagi tim samudera. betapa tidak, sosok yang selalu manja, ceria dan terkadang usil kini telah pergi meninggalkan setiap kenangan yang mereka lewati bersama.
Leo memeluk El-Syakir, Vino memeluk Starla dan Bara memeluk Nisda. mereka terisak karena Adam telah pergi meninggalkan mereka.
hantu yang selalu merajuk saat tidak ada melati, kini sudah tidak ada. hantu yang selalu membuat mereka kesal namun terkadang membuat mereka tertawa, sudah pergi hilang seperti debu.
Melati menghampiri ratu Sundari dan menghambur memeluknya. meski tau Adam mencintai ratu cantik itu namun tetap saja perasaan Melati kepada Adam, tidak pernah berubah.
"kamu harus kuat" ratu Sundari membelai kepala Melati
tidak menjawab namun Melati hanya mengangguk. isakannya semakin terdengar jelas.
arwah yang menjadi tumbal sang iblis pada akhirnya kembali ke sisi Tuhan. Aldiano bertemu dengan arwah istrinya yang selama ini mengikutinya kemanapun dia pergi. itulah mengapa Aldiano selalu wangi melati bagi mereka yang merasakan dan mempunyai mata batin.
Adam tidak dapat melihat arwah istri Aldiano begitu juga tim samudera karena ia sengaja tidak menampakkan dirinya. mereka hanya bisa merasakan kehadirannya namun tidak dapat melihat wujudnya. ia melakukan itu agar sang iblis tidak mengurungnya seperti arwah yang lainnya.
****5 bulan kemudian****
"Bayu, sini dek" Leo memanggil Bayu yang sedang bermain sepeda di halaman rumah
anak itu pada akhirnya di adopsi oleh orang tua Leo. pertama kali melihat Bayu saat Ardi membawanya ke rumah mereka, mama Melisa telah jatuh hati kepada anak tampan itu.
mama Melisa mengusulkan kepada suaminya untuk mengadopsi Bayu dan kini anak tampan itu telah menjadi putra kedua mereka. mama Melisa dan Pak Rahmat sangat menyayangi Bayu seperti anak kandung mereka sendiri. tidak ada perbedaan kasih sayang yang mereka berikan antara Leo dan Bayu, semuanya sama rata tanpa kurang sedikitpun.
"iya kak" Bayu menjawab dan menyimpan sepedanya kemudian menghampiri tim samudera yang sedang duduk di halaman depan rumah
"Bayu mandi ya udah sore nih, mainnya nanti lanjut besok lagi" Leo mengingatkan
"mandi sama kakak tapi ya" ucap Bayu yang sedang duduk di pangkuan Leo
"ok let's go" Leo mengangkat tubuh Bayu ke atas dan mendaratkan di punggungnya
"guys masuk yuk" ajak Leo
"ayo Mel" ajak Nisda kepada Melati, sedang Starla mengapit lengan Alana. gadis itu juga ikut menginap di rumah Leo
setelah kepergian Adam 5 bulan yang lalu, Melati yang tidak punya tempat tinggal lagi pada akhirnya mengikuti tim samudera. gadis itu tinggal bersama Starla. Starla mengajaknya tinggal bersamanya karena dirinya hanya seorang diri, dia anak tunggal dan tidak mempunyai saudara. Rendra, papa Starla tidak keberatan sama sekali. ia senang jika Starla ada yang menemaninya di rumah saat dirinya harus ke luar kota untuk urusan bisnis.
matahari mulai tenggelam di ufuk timur. mereka semua tengah sibuk bersiap untuk sholat magrib.
Bayu sudah tampan dengan baju koko miliknya. Leo selalu saja mencium pipi tembem anak itu karena sangat menggemaskan baginya. Bayu yang dulu kurus kini telah berisi dan memiliki pipi chubby, itu yang membuat tim samudera sangat gemas dengan anak itu.
Pak Rahmat datang bersama mama Melisa. mereka kemudian segera melaksanakan sholat magrib berjamaah dengan di imami pak Rahmat.
selesai sholat, Leo mengajari Bayu mengaji. yang lainnya pun ikut mengaji sambil menunggu sholat isya. kini waktunya isya datang, mereka segera melakukan kewajiban sebagai umat muslim.
"makan yang banyak sayang" mama Melisa menyendokkan nasi untuk Bayu
"makasih mah" ucap Bayu dengan sopan
"mau lauk apa...?" tanya mama Melisa
"yang itu" Bayu menunjuk ikan bakar yang ada di depan pak Rahmat
"biar papa yang ambilkan" pak Rahmat memberikan satu ekor ikan bakar di piring Bayu
"suka banget sama ikan bakar sih dek" ucap Leo
"enak kak" jawab Bayu yang langsung memasukkan nasi ke dalam mulutnya
"ayo makan" ucap mama Melisa
"iya tante" jawab tim samudera
mereka makan dengan lahap. Leo memberikan udang goreng kepada Alana karena ia tau gadis itu sangat suka dengan yang namanya udang. Alana tersenyum manis dan Leo membalas senyuman itu tak kalah manisnya.
(aish... kak Leo bikin aku meleleh) batin Alana terus memperhatikan Leo
"makan dulu Lana, Leo nggak akan kemana-mana kok" bisik Melati di telinga Alana membuat Alana salah tingkah dan malu
setelah makan, tim samudera menemani Bayu untuk belajar. mereka saling bercanda dan sesekali tawa mereka terdengar di ruang keluarga.
"Le, mama sama papa keluar bentar ya" mama Melisa dan pak Rahmat datang menghampiri mereka
"mama sama papa mau kemana...?" tanya Bayu saat melihat orang tuanya telah berpakaian rapi
"mau keluar bentar sayang, anak mama jangan tidur larut malam ya" mama Melisa mengelus kepala Bayu
"ikut boleh...?" tanya Bayu. ia menatap kedua orang tuanya dengan mata bulatnya
"nggak bisa sayang, besok aja gimana, kita jalan-jalan" pak Rahmat mengusulkan
"nanti batal lagi" ucap Leo, karena ia tau kalau papanya itu sangatlah sibuk
"nggak, besok papa free. besok kita semua jalan-jalan, mumpung hari minggu" ucap pak Rahmat
"horeeeeeeee" Bayu bertepuk tangan dan berloncat kegirangan
"benar ya pah...?" tanya Bayu
"iya" jawab pak Rahmat
"ke pantai ya pah" Bayu mulai request
__ADS_1
"siap anak gantengnya papa. sekarang papa sama mama pergi dulu, jangan nakal oke" pak Rahmat menggendong Bayu
"oke" jawab Bayu memperlihatkan gigi kecilnya
setelah mencium pucuk kepala kedua putra mereka, pak Rahmat dan mama Melisa meninggalkan rumah menuju ke tempat tujuan.
"Lana jadi kangen ayah. kak, ayah kapan sih pulang dari LN...?" Alana bertanya kepada El-Syakir
"kakak juga nggak tau, kerjaan ayah masih banyak di sana. sabar aja ya, kan ayah sering telepon kita" El-Syakir merangkul adiknya itu
sudah 5 bulan ayah Adnan dan Zidan berada di LN. sampai saat ini mereka belum juga pulang. alasan mereka adalah karena pekerjaan.
semua keluarga mengetahui kalau Dirga sudah tidak ada, sejak kepergian Adam dan tubuhnya kritis, sejak saat itu Zidan dan ayah Adnan langsung terbang ke LN dan tiba di sana, mereka langsung mengabarkan kalau Dirga sudah pergi.
ibu Arini pingsan beberapa kali, sedang El-Syakir menangis seperti orang yang tidak waras. dirinya benar-benar kehilangan Adam, bahkan di malam itu ia telah menyakiti hati Adam dan belum sempat meminta maaf, sayangnya sebelum maaf terucap, Adam telah pergi.
5 bulan El-Syakir lalui harinya dengan kehampaan, bahkan semua teman-temannya tidak mengenalnya. ia banyak diam dan kadang selalu menangis tanpa sebab. tim samudera selalu menghibur El-Syakir hingga lambat laun ia dapat menerima keadaan.
"sama kayak papa aku, dia kerja terus bahkan ke LN sampai satu minggu. meskipun begitu aku nggak pernah kekurangan kasih sayang, papa selalu meluangkan waktu untuk aku. kadang aku iri sama kalian yang masih punya ibu" ucap Starla
"elu masih mending La, lah gue udah nggak punya siapa-siapa. bersyukur dengan apa yang kalian punya, kebanyakan di luar sana banyak anak yang masih ingin merasakan kasih sayang entah itu ibu atau ayah" Melati menimpali
"betul kata Melati, setiap yang kita punya harus kita syukuri" Bara membenarkan
"kak, minum susu boleh...?" Bayu menatap Leo
"boleh, bentar ya kakak buatkan" Leo beranjak dari duduknya dan menuju dapur
Leo kembali dengan satu gelas susu coklat di tangannya. Bayu sangat menyukai susu coklat, makanya itu mama Melisa selalu menyediakan susu coklat untuk putranya itu.
"abis ini tidur ya" ucap Leo
"iya" jawab Bayu
Bayu meminum susunya sampai habis, setelahnya ia meminta Leo untuk mengantarnya ke kamar karena dirinya sudah mengantuk.
di tempat lain, Helmi masih berkutat dengan banyaknya berkas di atas mejanya. ia menggantikan ayah Adnan untuk meng-handle semua pekerjaannya. begitu juga dengan Pram, ia menggantikan Zidan untuk mengurus semua pekerjaan di perusahaan Zidan.
Randi hanya membantu mereka berdua, namun terkadang pria itu lebih banyak membantu Helmi karena Helmi selalu saja tidak ingin bekerja sendirian.
"aduuuh, 5 bulan jadi bos besar, nggak pernah sekalipun aku tidur nyenyak" Helmi merenggangkan otot-ototnya dan bersandar di kursi
pintu ruangan terbuka, Sisil masuk dan membawa lagi beberapa berkas di tangannya kemudian menyimpan di atas meja Helmi.
"lagi...?" Helmi menatap Sisil dengan mata yang sayu
"iya" jawab Sisil tersenyum
"aku capek sayang" rengek Helmi
"aku temanin biar capeknya hilang. mau di pijit nggak...?" Sisil mendekati Helmi dan memijit bahunya
"aku ngantuk mau tidur" ucap Helmi memegang tangan Sisil yang ada di bahunya. ia mengadahkan kepalanya ke atas
cup....
satu kecupan mendarat di bibir tipis pria itu. Helmi segera menarik Sisil dan duduk di pangkuannya.
"sayang, kita nikah yuk" ucap Helmi yang sedang memeluk Sisil dan menaruh dagunya di bahu wanita itu
"kamu serius...?" Sisil kaget karena tiba-tiba Helmi mengajaknya untuk menikah
"serius lah, ngapain nikah main-main" jawab Helmi
"kamu nggak nyesal pilih janda anak satu seperti aku...?"
"aku sama sekali nggak nyesal. nikahin kamu aku dapat paket komplit, punya istri dan bonusnya langsung punya anak"
"makasih ya kamu udah mau menerima aku apa adanya. tapi.... aku takut nanti setelah kita nikah kamu..... "
"sayang, jangan samakan aku sama mantan suami kamu. hanya pria nggak waras yang akan menyakiti wanita secantik dan sebaik kamu" Helmi tau apa yang ada dalam pikiran Sisil
Aris mantan suami Sisil, kini telah dijebloskan ke dalam penjara. setelah kejadian waktu lalu saat Zidan memberikan racun ke dalam tubuhnya, Aris berjanji akan memberitahu persembunyian Baharuddin namun ternyata pria licik itu setelah Zidan memberikan penawar racunnya, Aris malah berusaha melarikan diri dan melukai satu pengawal.
ketiga pengawal andalan Zidan membuat Aris babak belur dan menjebloskan pria itu ke dalam hotel prodeo. sampai saat ini belum ada tanda pergerakan dari Baharuddin, namun bukan berarti mereka telah aman dari pria licik itu.
"kamu nggak mau ya nikah sama aku...?" Helmi melepaskan pelukannya
"ya maulah nggak mungkin aku nggak mau. tapi sebaiknya kita tunggu pak Adnan dan pak Zidan pulang dari LN dulu, lalu kita bicarakan lagi" Sisil kembali mengambil tangan Helmi untuk memeluknya kembali
"makasih sayang" Helmi memeluk erat tubuh Sisil
Pram menutup laptopnya dan merapikan mejanya, kemudian ia berjalan ke arah pintu dan menuju ke meja Mita.
"yank pulang yuk, udah jam 8 nih" ajak Pram
"tunggu" pinta Mita
wanita itu mematikan komputer miliknya dan mengambil tasnya. Pram mengulurkan tangannya dan dengan senang hati Mita menyambut tangan kekar pria itu.
kantor sudah dalam keadaan sepi, tersisa sebagian orang yang sedang menyelesaikan pekerjaan mereka.
"mau makan dulu nggak...?" tanya Pram saat keduanya sudah berada di dalam mobil
__ADS_1
"boleh deh, kebetulan aku lapar" Mita mengangguk
"di tempat biasa aja ya"
"iya sayang"
mobil Pram perlahan bergerak meninggalkan perusahaan Zidan dan kemudian membelah jaman raya.
"kamu ada waktu nggak minggu depan...?" tanya Pram tanpa menoleh ke arah Mita karena ia sedang fokus menyetir
"ada sih, kenapa memang...?" Mita menoleh ke arah Pram
"aku mau kenalin kamu sama mama dan papa" jawab Pram melihat sekilas ke arah Mita
"aku takut" ucap Mita
"takut kenapa...?"
"kalau mereka nggak suka aku gimana...?"
"belum juga pergi udah su'udzon aja kamu. mereka baik kok, in shaa Allah mereka suka sama kamu"
"aku takut aja mereka nggak suka sama aku"
"kan belum kita coba yank. lagian kamu belum juga ketemu udah pesimis aja. mama sama papa baik kok, siapapun pilihan aku mereka setuju aja"
"semoga aja" ucap Mita
Randi dan Thalita sedang menikmati indahnya pemandangan pantai di malam hari. wanita itu bersandar di bahu Randi sambil menikmati angin malam yang menembus ke pori-pori.
"sayang" panggil Randi, ia sedang memegang tangan Thalita
"humm" jawab Thalita
"kita kan udah sama-sama dewasa, nggak mungkin hubungan kita akan berdiam di tempat seperti ini. kamu nggak mau gitu hubungan kita melangkah ke tahap yang serius" ucap Randi
"nikah...?" tanya Thalita yang mengangkat kepalanya dan melihat Randi
"iya" Randi mengangguk
mereka bukan lagi anak remaja yang sibuk dengan pacaran saja, usia mereka sudah cukup matang untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan Randi menginginkan itu.
"kamu nggak mau ya...?" tanya Randi saat Thalita hanya diam saja
"kamu mah nggak romantis" cebik Thalita
"hah...?" Randi menganga
"masa iya ngajak nikah cuman kayak gini. nggak ada manis-manisnya" ucap Thalita cemberut
Randi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, rupanya kekasihnya itu menginginkan hal yang romantis. dirinya tidak ada persiapan sama sekali untuk melamar Thalita. hanya sebuah cincin yang ia bawa untuk melamar wanita pujaan hatinya
"aku akan berbuat seromantis mungkin setelah kita menikah. aku tidak pandai merangkai kata, aku hanya ingin mengatakan kalau aku mencintaimu sayang. Will you marre me...? Randi pada akhirnya mengajak Thalita berdiri dan ia pun berlutut dengan cincin yang indah berada di tangannya
"terima "
"terima"
"terima"
rupanya banyak yang melihat mereka berdua. suara sahutan yang meminta agar Thalita menerima lamaran Randi terdengar riuh.
" yes... i do" Thalita mengangguk
Randi langsung memeluk Thalita. mereka berdua saling berpelukan. suara tepuk tangan terdengar. Randi memasang cincin itu di jari manis Thalita kemudian mencium kening wanita itu.
di tempat lain seorang pria baya melangkahkan kakinya di tempat yang ramai di kunjungi banyak orang. bukan pasar, mall atau tempat hiburan lainnya melainkan tempat yang sebagian orang tidak ingin masuk ke dalamnya dan bahkan sangat berharap agar mereka dalam keadaan baik-baik saja agar tidak berurusan dengan tempat itu.
tak.... tak... tak....
suara langkah kaki menggema di lorong yang bernuansa warna putih itu. dirinya masuk ke dalam lift menuju lantai empat. kemudian kakinya kembali melangkah menuju salah satu ruangan yang menjadi tujuannya.
cek lek...
pintu terbuka, di dalam sana seseorang sedang duduk termenung melihat ke arah luar jendela. saat mendengar pintu terbuka, ia langsung memalingkan wajah ke arah pintu.
dirinya tersenyum melihat siapa yang datang. pria itu mendekat ke arahnya dan mencium pucuk kepala laki-laki yang berada di dekat jendela itu.
"sudah siap...?" tanya pria itu
"sudah" jawabnya mengangguk
"kamu gugup"
"sedikit. aku sudah tidak sabar ingin bertemu mereka"
"mereka juga pasti sangat senang akan bertemu denganmu"
"kalau begitu kita pergi sekarang"
"iya"
keduanya meninggalkan ruangan itu, menuju lift turun ke bawah dan meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1