Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 139


__ADS_3

mereka telah sampai di jalan raya, tempat dimana kendaraan mereka disembunyikan. satu persatu kendaraan itu dikeluarkan dan mereka bersiap untuk pulang. namun Vino menahan mereka.


"gue nggak PD pakai pakaian seperti ini terus memakai helm. akan sangat lucu dilihat orang" ucap Vino


"lalu elu nggak mau pulang...?" tanya Bara


"ya pulang lah. maksud gue gimana kalau kita tunggu sampai malam tiba, kalau malam kita bisa mencari jalan pintas untuk sampai di rumah" Vino memberi usul


"masa iya harus nunggu sampai malam, masih lama juga, dua jam lagi" El melihat jam tangannya


"kita jalan aja lah, kalau melihat toko pakaian langsung singgah saja untuk beli baju dan celana" El-Syakir menyarankan


"iya, lebih baik jalan saja daripada menunggu sampai malam. ini hutan loh, banyak demitnya" timpal Leo


"kak Leo takut...?" Alana menggoda


"bukan takut tapi malas berurusan dengan mereka" jawab Leo


"berangkat sekarang aja, ayo" Bara mulai naik di atas motornya


yang lainnya pun sama, mereka meninggalkan hutan timur untuk pulang ke rumah. hingga beberapa kilo meter membelah jalan raya, terlihat sebuah toko penjual pakaian. Adam memberikan kode kepada mereka untuk berhenti di toko tersebut.


"untung dapat toko pakaian. gue udah nggak nyaman memakai baju ini" ucap Starla


"Lana juga, sesak aja gitu" jawab Alana


"masuk yuk" ajak Nisda


saat mereka tiba di toko pakaian itu, semua mata yang ada di tempat itu mengarah kepada mereka semua. bagaimana tidak, pakaian anak-anak remaja itu sangat aneh dan bahkan menurut mereka sangatlah lucu. tentu saja aneh, di zaman modern seperti sekarang sudah tidak ada baju seperti yang dikenakan oleh tim samudera.


pegawai toko pun melihat mereka dengan aneh. baju yang mereka kenakan hanya ada pada zaman kerajaan dulu, di zaman sekarang mana ada yang masih memakai pakaian seperti itu. namun mereka cuek dan tidak ambil pusing. daripada memakai daun seperti yang Adam usulkan lebih baik tetap memakai pakaian aneh itu.


"kenapa mba, tersepona ya dengan ketampanan aku sampai melihat aku gitu banget" Adam menaik turunkan alisnya saat seorang pegawai toko kepergok terus memperhatikan dirinya


"i-iya, eh...ng-nggak" gadis itu salah tingkah


"iya juga nggak apa-apa mba, tapi kedip juga matanya. awas nanti bola matanya jatuh" Adam tersenyum manis membuat gadis itu semakin salah tingkah dan malu


"ekhem" Melati yang melihat ada bibit pelakor, langsung menghampiri Adam. meskipun saat ini mereka belum mempunyai hubungan khusus apalagi Adam masih bersikap seperti biasanya tapi gadis itu tidak akan membiarkan siapapun mendekati Adam apalagi ingin menggodanya


"batuk ya...?" Adam bertanya polos


"iya, sampai-sampai gue pengen nelan orang" Melati melotot ke arah pegawai toko yang sedang bertingkah agar Adam memperhatikannya


melihat Melati melotot ke arahnya membuat gadis pegawai toko itu menunduk takut. gadis itu pergi ke tempat lain karena tidak berani melihat Melati yang menatapnya dengan tajam


"lihat, aku cocok pakai yang mana...?" Melati menunjukkan baju dan celana yang akan dikenakannya. dia tidak ingin Adam akan terus mengobrol dengan gadis pegawai toko tadi


"cantik dua-duanya, apa saja yang kamu pakai kamu akan tetap cantik" Adam berkata apa adanya


"apa menurut kamu, aku itu cantik...?" tanya Melati


"semua perempuan cantik, kalau ganteng berarti dia waria" celetuk membuat Melati kesal sebab dirinya bertanya serius namun Adam malah menjawab dengan bercanda


Adam mengerutkan kening saat melihat Melati mengerucutkan bibirnya beberapa centi. ia tersenyum gemas melihat tingkah gadis itu.


"itu bibir kenapa, minta dicium...?" goda Adam


"berani aja nggak" cibir Melati


mendengar ucapan gadis itu, seketika Adam menarik tangan Melati membuat gadis itu tersentak ke depan dan kini wajah mereka semakin dekat.


"m-mau apa...?" Melati gugup. baru kali ini dirinya berdekatan sangat intim dengan Adam


tidak menjawab Adam memajukan wajahnya dan perlahan Melati memundurkan wajahnya. Adam meraih pinggang gadis itu agar Melati tidak terjatuh ke belakang. Melati semakin gugup dan ia menutup mata.


fuuuuuh


Adam meniup wajah gadis itu membuat empunya kaget dan membuka mata. wajah Adam sudah sangat dekat dengan wajahnya. terlihat jelas bagaimana ketampanan pewaris tunggal Sanjaya grup itu.


"kenapa tutup mata, berharap dicium ya...?" goda Adam


bluuuussshh....


seketika wajah melati memerah seperti kepiting rebus. dia sangat malu telah menutup mata dan berharap Adam benar-benar menciumnya.


Melati mendorong tubuh Adam dan pergi dari tempat itu. Adam terkekeh dan geleng kepala. kemudian ia kembali mencari pakaian yang cocok untuknya.


di dalam tempat ganti, Melati mengipas wajahnya dengan kedua tangannya. terasa panas dan jantungnya hampir melompat dari tempatnya.


"aaaaa Melati..... malu-maluin banget sih kamu" Melati menutup wajahnya dengan kedua tangannya


"ck, dasar. aku kira mau cium benaran, aku kan udah siap tadi"


"aduh apaan sih kamu Mel, belum apa-apa udah minta dicium. ganjen banget" Melati mencibir dirinya sendiri


setelah mendapatkan baju dan celana yang cocok, mereka mulai mengganti pakaian. setelah itu mereka membayar dan kembali melanjutkan perjalanan. masih jauh tempat yang akan mereka tuju, karena memasuki waktu magrib, mereka berhenti di sebuah masjid untuk melakukan ibadah sholat magrib.


"lapar nih, cari makan yuk" ucap Vino


"iya, gue juga lapar" timpal Nisda


"di depan mungkin ada warung makan, nanti kita singgah setelah menemukan warung makan" ucap El-Syakir


mereka kembali membelah jalan raya. tidak lama mereka menemukan warung makan. segera mereka menepi dan masuk ke dalam.


saat sedang menunggu makanan yang dipesan, seseorang memanggil Alana dari jauh.


"Lana" panggil seorang gadis


"Seil" Alana tampak kaget melihat teman satu kelasnya itu


"kamu kok disini, ngapain...?" tanya Seil datang menghampiri mereka


"makanlah Se, apalagi" jawab Alana


"hehehe iya" Seil menggaruk kepala


gadis itu melihat ke arah El-Syakir, keduanya sama-sama tersenyum saat saling bersitatap.

__ADS_1


"kamu kok bisa ada di sini, kalian darimana. bukannya lagi sibuk mengurus pernikahan pamanmu ya" ucap Seil


"pernikahan...?" mereka semua tampak shock dan menatap lekat ke arah Seil


"k-kenapa melihat aku seperti itu...?" Seil tidak nyaman


"pernikahan siapa Se...?" tanya El-Syakir


"pernikahan paman kalian. paman Helmi, paman Randi dan paman Pram. waktu itu kan kita ketemu di mall Lana, mereka sedang mencari cincin pernikahan. masa iya kamu sudah lupa" Seil menjawab


"uhuk...uhuk...." Bara yang mendengar jawaban Seil langsung terbatuk. bagaimana tidak, dirinya kaget saat mendengar kakaknya akan menikah


"hehehe, iya kah...aku lupa. emm itu...kapan ya kita ketemu di mall" Alana cengengesan


"ya ampun Lana...baru aja kemarin loh Lana. lusa adalah pernikahan pamanmu" Seil tidak habis pikir, bagaimana Alana bisa sepelupa itu


"APA....? LUSA...?" Bara kembali shock


"i-iya, kakak pelan-pelan dong kalau bicara, aku kaget tau" Seil memegang dadanya karena kaget Bara berbicara keras


"Seil ayo" seorang remaja laki-laki memanggil gadis itu


"Lana, aku duluan ya. bye...sampai bertemu di pernikahan pamanmu" Seil meninggalkan mereka yang masih tidak percaya ketiga pengawal andalan Zidan akan menikah


"kita pergi nggak cukup satu Minggu loh" Starla memulai percakapan


"eh tapi tunggu, Seil bilang dia bertemu dengan Alana di mall kemarin padahal Alana bersama kita di alam ratu Sundari. terus siapa yang dimaksud oleh Seil tadi...?" El-Syakir bingung


"jin pengganti kita" jawab Adam


"jin pengganti...?" semuanya melihat Adam


"aku meminta jin abdi ratu Sundari untuk menggantikan kita di dunia manusia. mereka yang berlindung di raja Ranangraya kembali ke kerajaan karing-karing untuk membantu ratu Sundari menghadapi ratu Sri Dewi. mereka memutuskan kembali karena tidak akan membiarkan ratu Sundari bertarung sendirian"


"saat itu aku sedang bertarung dengan ular hitam ratu Sri Dewi. mereka menemukan ku dan membantuku menghabisi ular itu"


"pantas saja dia bilang bertemu Alana. sebaiknya kita pulang sekarang, gue penasaran sudah berapa lama kita meninggalkan rumah" ucap Leo


"lihat tanggal di hp saja, kira-kira sekarang sudah tanggal berapa" ucap Nisda


Leo mengambil HP-nya untuk melihat tanggal. saat memeriksa, Leo menganga tidak percaya sudah berapalama mereka berada di alam ratu Sundari.


"tiga minggu, padahal kita di sana hanya tiga hari loh" ucap Leo


"namanya alam jin, jelas berbeda dengan alam kita. lebih baik kita makan kemudian pulang. lusa itu pernikahan" ucap Vino


percakapan terhenti karena seseorang membawa makanan yang mereka pesan. setelah makan, kembali mereka melanjutkan perjalanan.


Vino dan Adam mengantar Starla dan Melati. setelah itu keduanya pamit pulang ke rumah. Bara pun mengantar Nisda kemudian dengan cepat melajukan motornya agar segera sampai di rumah.


"loh den Bara cepat sekali pulangnya, perasaan baru saja tadi Aden pergi sama kedua teman aden" satpam yang berjaga bertanya


"pergi kemana sih pak Endi, orang aku baru pulang kok" Bara memarkirkan motornya


"oooh....den Bara nggak jadi main sama Aris dan Erik...?"


"nggak, aku dari rumah El-Syakir" jawab Bara


"mah....pah" Bara langsung memeluk mamanya. tiga minggu tidak bertemu membuat dirinya merindukan orang tuanya


"kangen banget" Bara mencium pipi mamanya kemudian memeluk papanya


"aneh banget kamu ini, ketemu tiap hari masih bilang kangen" mama Reni geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya


"ya namanya juga kangen kan" Bara bermanja di lengan mama Reni


"cepat sekali kamu pulang, bukannya tadi kamu pergi bersama Aris dan Erik...?" pak Johan bertanya


"nggak jadi, soalnya Bara kangen sama mama dan papa" jawab Bara


"pah, kelakuan anakmu aneh" mama Reni berbisik


"anak kamu juga mah" jawab pak Johan


"mah, kak Pram mana...?" tanya Bara


"di kamarnya" jawab mama Reni


segera Bara bangkit dan berlari menaiki tangga satu persatu.


braaaakkk


"astagfirullahaladzim" Pram terlonjak kaget pintu kamarnya di dobrak keras. dirinya baru saja selesai menelpon dengan Mita


"kak Pram" Bara berlari dan melompat. jadilah adiknya itu memeluk Pram dengan erat


"ya ampun dek, kamu bikin kakak jantungan aja" Pram membalas pelukan Bara


"kakak jahat banget sih, mau nikah nggak bilang-bilang" Bara melepaskannya pelukannya dan menatap tajam Pram


"dek, kamu sehat kan...?" Pram memegang kening Bara


"sehat walafiat kak" jawab Bara ketus


"kamu bahkan kemarin ikut mencoba baju untuk di pernikahan kakak loh, gimana ceritanya kakak nggak ngasih tau coba" ucap Pram


"hehehe...iya kah, kok aku nggak ingat ya" Bara cengengesan. dia lupa kalau ada jin pengganti yang selama ini menyamar menjadi dirinya


"dasar" Pram menjitak kening adiknya itu


"onty Nisda" anak kecil berumur tiga tahun berlari memeluk Nisda saat dirinya masuk ke dalam rumah.


hap


Nisda menangkap anak laki-laki itu dan menggendongnya.


"hummm harumnya keponakan onty, udah mandi ya...?" Nisda mencium leher anak itu


"udah" jawabnya memeluk leher Nisda

__ADS_1


"bunda Aldi mana...?" tanya Nisda berjalan ke arah dalam


"di kamal lagi solat" jawab Aldi dengan bahasa cadelnya


"loh Nis, bukannya tadi di kamar ya, kok udah diluar, katanya sakit" mama Marlina heran melihat anak gadisnya sudah berada diluar


"sakit...?" Nisda mengerutkan keningnya


"iya, kamu bilang sakit makanya mama siapkan bubur untuk kamu makan. tapi kok...kamu sekarang kelihatan baik-baik saja ya" mama Marlina bingung melihat anaknya


"emmm, Nisda sakit kok mah. cuman bosan di kamar aja makanya Nisda keluar" ucap Nisda berbohong


"oh ya sudah, nih dimakan buburnya. sini Al, onty Ida mau makan dulu" mama Marlina mengambil Aldi dari gendongan Nisda


"Al, minum susunya sayang" kakak Nisda baru datang dari dapur


"kok kamu di luar...?" Rizal kakak Nisda bertanya


"bosan di kamar kak" jawab Nisda


"sini sama ayah, Oma capek gendong Aldi seharian" Rizal mengambil alih tubuh mungil anaknya


Nisda berpamitan ke kamar sedangkan Rizal menemani anaknya untuk bermain. Sari istri Rizal menghampiri suami dan anaknya. mama Marlina ke dapur menyiapkan makan malam. kemudian ke kamar memanggil suaminya, pak Amri untuk makan malam


"mama.....Vino pulang" Vino yang melihat mama Nifa berada di meja makan langsung berlari dan memeluk wanita itu


"ya ampun Vin, tumpah nanti supnya" mama Nifa kaget ketika putra bungsunya tiba-tiba berlari dan memeluknya


"kangen banget sama mama" Vino bermanja dipelukan mama Nifa


"tiap hari kita bertemu loh Vin, masih kangen aja kamu" mama Nifa membelai rambut Vino


"ketemu gimana, orang Vino pergi tiga Minggu kok" ucapnya tanpa sadar


"hah...?" mama Nifa mengernyitkan dahinya


(aduh kelepasan) batin Vino


"pergi tiga minggu gimana maksudnya...?" mama Nifa melepaskan pelukannya


belum sempat menjawab, ART mereka datang bersama dengan Vino. ART yang dipanggil bi Marni itu datang dengan menjewer telinga Vino. jin yang menyamar menjadi Vino mengadu kesakitan.


"nyonya, den Vi..... no, loh kok" bi Marni terkejut saat melihat ada Vino lain bersama mama Nifa


mama Nifa tidak kalah terkejutnya, dia bahkan menutup mulut. bagaimana bisa kini anaknya yang bernama Vino ada dua orang.


"kok....ada dua" bi Marni menunjuk Vino asli dan Vino palsu


"halo" Vino palsu melambaikan tangan ke arah Vino asli


bughhh


bughhh


"alamak...mama" teriak Vino


mama Nifa dan bi Marni seketika jatuh pingsan. Vino palsu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sedang Vino asli kaget ibunya dan bi Marni ambruk tidak sadarkan diri.


"aduh gaswat nih. bantuin woi" Vino memanggil jin tersebut yang masih menyamar menjadi dirinya


mereka berdua mengangkat mama Nifa dan bi Marni ke sofa ruang keluarga yang tidak jauh dari dapur.


"nanti kalau mereka bangun terus menanyakan yang tadi bagaimana...?" tanya Vino


"aku akan membuat mereka tidak mengingat itu" jin itu mengusap wajah mama Nifa dan bi Marni


"karena kamu sudah pulang sekarang giliran aku yang kembali"


"terimakasih" ucap Vino


jin itu mengangguk kemudian menghilang dari pandangan Vino.


"loh Vin, mama sama bi Marni kenapa...?" Rain yang baru saja datang kaget melihat ibunya


"pingsan kak"


"kok bisa pingsan, kenapa...?"


"nggak tau, kita tunggu mereka sadar"


Vino menggenggam tangan mama Nifa dan meminta maaf dalam hati


sedang di rumah Leo, dia langsung menerobos masuk ke kamar Bayu. dirinya sudah sangat rindu dengan adiknya itu. namun saat masuk, rupanya Bayu sedang bermain dengan Leo yang lain.


"loh...kok kak Leo ada dua" Bayu yang masih polos itu melihat bingung ke arah kakaknya yang berdiri diambang pintu


Leo palsu segera mengusap wajah Bayu sehingga anak itu langsung tertidur.


"karena kamu sudah datang, aku pergi ya" jin itu segera menghilang


cek lek


Mama Melisa membuka pintu, dia hampir menabrak tubuh Leo yang masih berdiri di dekat pintu.


"ya ampun Le, kamu ngapain berdiri di sini" ucap mama Melisa


"Bayu tidur mah" ucap Leo


"lah, cepat sekali dia tidur. baru juga mama mau kasi susunya yang dia minta" mama Melisa berjalan ke arah ranjang dan menyimpan susu di atas nakas


dia menyelimuti Bayu kemudian mencium keningnya. setelah itu mereka keluar dari kamar Bayu.


"kamu ini kenapa sih, dari tadi meluk mama terus" mama Melisa heran melihat tingkah Leo


"pengen peluk aja, kangen" ucap Leo


di rumah Starla tidak ada adegan kangen-kangenan. pak Rendra sedang berada di luar kota sehingga dia dan Melati saat tiba langsung masuk dan istrahat.


sementara di rumah besar Sanjaya grup, El-Syakir dan Adam sedang saling memperebutkan ayah Adnan. keduanya tidak ingin lepas dari ayah mereka itu. ibu Arini sampai mengejar mereka berdua dengan sapu ijuk karena sejak tadi mereka tidak berhenti merengek ingin bersama ayah Adnan.

__ADS_1


ayah Adnan sampai dibuat pusing oleh tingkah kedua putranya. padahal setia hari bertemu namun mereka berdua terus mengatakan rindu dan ingin terus memeluk ayah Adnan.


Alana tidak seperti kedua kakaknya. dia hanya ingin bersama ibu Arini karena percuma saja mendekati ayah Adnan, kedua kakaknya tidak ingin melepaskan ayah mereka itu.


__ADS_2