Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 135


__ADS_3

"setelah kita di atas nanti, boleh minta sesuatu nggak...?" ucap Vino


"kamu mau apa...? Senggi menggunakan kekuatannya untuk menerangi jalan mereka


"aku lapar" rengek Vino


"aku juga lapar" ucap Leo cepat


"aku juga"


"sama aku juga"


keempat remaja itu merasakan hal sama, kelaparan. bagaimana tidak, sejak mereka memasuki alam lain itu, mereka sudah berhadapan dengan ular Ragin, setelahnya dihajar babak belur oleh makhluk penghuni labirin tersebut. tenaga mereka jelas terkuras.


"kita akan cari makanan tiba di atas nanti" ucap Senggi


mereka kembali bersemangat, harapan untuk mengisi perut yang lapar pada akhirnya akan kesampaian juga.


saat terus berjalan untuk sampai ke atas, Senggi tiba-tiba berhenti. dia yang berada dibarisan terdepan berhenti secara mendadak sehingga membuat keempat remaja itu saling menabrak satu sama lain.


"aduh...kenapa berhenti sih...?" Vino memegang kepalanya yang tertanduk di punggung Senggi


ssssttt....


Senggi mengisyaratkan untuk diam. melihat wanita itu memasang wajah serius, mereka semua merapatkan bibir tanpa ada yang bicara.


hingga terdengar langkah kaki yang banyak dari arah depan. secepatnya Senggi memberitahu keempat remaja itu untuk merayap naik ke langit-langit lorong.


"bagaimana caranya, kita kan bukan cicak" ucap Bara merasa gila dengan ide wanita itu. bagaimana mungkin mereka bisa merayap sampai ke langit-langit lorong


"begini saja" El memberikan ide


El-Syakir dan Vino berdiri ditengah mempertemukan kedua punggung mereka. setelah itu kaki kanan El-Syakir mulai menginjak dinding dan kemudian diikuti kaki kirinya sehingga sekarang tubuhnya tidak menginjak tanah lagi.


Vino melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan El-Syakir. setelahnya keduanya naik ke atas dengan kaki terus menapak di dinding lorong.


"kalian bisa kan...?" El-Syakir melihat kebawah sana


"bisa, ayo Le" ucap Bara


mereka berdua melakukan hal seperti yang dilakukan El-Syakir dan Vino. tepat setelah Bara dan Leo berada di atas, langkah kaki yang terdengar banyak itu mulai mendekati mereka. Senggi sudah berada di langit-langit bersama keempat remaja itu. setelah para jin itu lewat, mereka kembali turun.


"mereka mau ngapain ya...?" ucap Leo


"pasti mereka menjemputku untuk menerima hukuman" jawab Senggi


"sebaiknya kita pergi dari sini. eh tapi, ide kalian tadi lumayan bagus juga. kalian saling bekerjasama. padahal kalian tidak usah repot-repot dan susah payah untuk seperti tadi. cukup tempelkan tangan kalian dan kaki di dinding maka kalian akan menempel di dinding" ucap Senggi


"tangan kami tidak punya perekat lah" timpal Bara


"coba saja" tantang Senggi


Bara dengan ragu menempelkan kedua tangannya dan setelah itu mengangkat kakinya menapak di dinding lorong. hingga akhirnya dia dapat merayap sampai ke langit-langit lorong dan kembali turun.


"lah iya, tau gitu aku ikut saja tadi" Vino kagum dan El-Syakir mengangguk membenarkan ucapan Vino


"begitulah sihir kalau sudah bekerja. sekarang kita tinggalkan tempat ini"


mereka kembali melangkah dan kemudian telah sampai pada tangga yang akan menuju ke atas.


satu persatu mereka naiki tangga itu. tiba di atas, Senggi melihat sekitar untuk memeriksa keadaan. dirasa aman, ia kemudian membuka dengan lebar tingkap tersebut dan keluar diikuti yang lain.


"hey...mau kemana...?" Senggi memanggil keempat remaja itu dengan sangat pelan saat mereka mengambil jalan arah yang lain


"ke dapur lah, kita lapar" ucap El


"jangan lewat di situ. ikut aku" ucap Senggi


"memangnya ada jalan lain ya...?" tanya Leo


"iya, ikuti saja aku" jawab Senggi


mereka mengikuti saja jalan yang diambil oleh Senggi. wanita itu sudah tinggal di tempat itu begitu lama, jelas dia tau semua lika-liku yang ada di dalam istana tersebut.


hingga beberapa saat kemudian mereka tiba di dapur istana. di sana banyak dayang yang sedang menyiapkan makanan untuk sang ratu.


melihat Senggi datang, tiga orang dayang merasa senang karena jin kepercayaan ratu Sundari telah terbebas. namun dua dayang lainnya pengikut ratu Sri Dewi dengan segera berlari ke arah pintu untuk melapor kepada sang ratu. sayangnya belum mencapai pintu, mereka sudah ambruk di lantai. Senggi mematahkan kedua leher dayang itu tanpa disentuhnya.


"hebat" Vino mengangkat dua jempolnya


"Senggi" ketiga dayang itu berlari memeluk Senggi


"kami senang kamu telah bebas. tolong keluarkan kami dari tempat ini. kami tidak sanggup lagi berada di sini dengan ratu iblis yang kejam itu"


"tenanglah. kalian akan dibebaskan tapi tidak sekarang. untuk sekarang tetaplah mengabdi kepada Sri Dewi. aku harus mencari penawar racun untuk ratu Sundari yang diracuni Sri Dewi dengan racun ular Ragin" ucap Senggi


"kalau kamu ingin penawarnya, berarti kamu harus mengambil darah ular Ragin dan mencampurnya dengan mustika hijau yang ada dimahkota ratu Sundari" jawab salah satu dayang


"mustika hijau...? kenapa harus mencampurnya dengan itu...?" tanya Senggi mengerutkan keningnya


"kamu lupa ya. mustika yang dimiliki oleh ratu Sundari itu kekuatannya sangat sakti. hanya mustika itu yang dapat menyembuhkan ratu kita tapi harus dicampur dengan darah ular Ragin. karena bagaimanapun, ular itu yang mempunyai racun maka tentu penawarnya ada pada ular itu sendiri. mustika hijau akan mempercepat penyembuhannya"

__ADS_1


"tapi mustika itu telah diambil oleh Sri Dewi" ucap Senggi


"berarti kita harus mengambilnya kembali" kini El-Syakir bersuara


"kalian bukannya yang pernah datang waktu itu ya. kenapa bisa ada di sini lagi...?" tanya dayang


"mereka datang untuk membantu kita" jawab Senggi


"dan untuk membantu kalian, kami harus punya tenaga ekstra. sudikah memberikan kami makan agar tenaga kami pulih kembali...?" Vino mengusap perutnya


"kalian lapar...?"


"sangat" jawab Leo mengangguk cepat


"akan aku buatkan makanan. kebetulan ratu Sundari menyiapkan begitu makanan dari alam manusia. entah untuk apa karena kami tidak memakan makanan kalian tapi sang ratu menyiapkan itu. mungkin dia tau kalau kalian akan datang ke tempat ini" salah satu dayang mulai memasak untuk mereka


"itu apa...?" El-Syakir menunjuk salah satu makanan yang berada di atas meja


"itu untuk ratu Sri Dewi" jawab dayang


"aneh sekali makanannya, apakah itu...?" tanya Vino. makanan itu adalah daging mentah yang masih berdarah.


"daging bayi yang dijadikan tumbal oleh manusia pengikutnya" jawab dayang


"hueeek.... hueeek"


seketika keempat remaja itu muntah-muntah saat mengetahui makanan ratu Sri Dewi. hanya air yang keluar karena belum ada makanan yang masuk ke dalam perut mereka. meskipun begitu, mereka terus mengeluarkan cairan kuning dan bahkan mata mereka mulai berair.


"minumlah" para dayang itu memberikan minuman kepada mereka saat telah selesai


gluk....gluk....gluk


tanpa tesisa air itu dihabiskan dan keempatnya lemas seketika.


"bawa pergi makanan menjijikkan itu" ucap Senggi


"baik"


sementara dayang lain membawakan makanan untuk ratu Sri Dewi, dayang yang satunya menyiapkan minuman untuk keempat remaja itu dan dayang satunya lagi menyiapkan makanan.


"minumlah, ini minuman dari alam kalian" dayang itu memberikan sebuah gelas berwarna hijau


dengan ragu mereka meminum air di dalam gelas itu. saat lidah sudah merasakan, mereka kembali meneguk dan terus meneguk agar rasa pahit yang dirasa hilang terganti dengan rasa manis.


"ini madu dan jahe" ucap El-Syakir


"iya, ini enak" timpal Leo kembali meneguk minumannya


"dari dulu itu memang sudah ada, sebelum Adam pergi dan kembali lagi" timpal Senggi


"emm aku mau menanyakan sesuatu" El-Syakir menatap Senggi


"katakan saja" timpal Senggi


mendapatkan lampu hijau, ini kesempatan bagi El-Syakir untuk menanyakan sesuatu yang sangat membuat dirinya penasarannya.


"kenapa setelah kak Dirga kembali, dia tidak mengingat ratu Sundari...?" tanya El


"nah iya betul, kenapa seperti itu" Vino mengangguk cepat begitu juga Bara dan Leo. mereka sangat penasaran dengan hal itu


"yaaa mungkin sudah seperti itu, dia tidak mengingat orang yang dicintainya karena lama terbaring dan tidak bangun" jawab Senggi


"tapi kenapa hanya ratu Sundari saja yang dia tidak ingat. harusnya kami juga tidak diingatnya" jawaban Senggi tidak membuat mereka puas


Senggi menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar. sebenarnya dia tidak ingin membahas ini, karena masih ada yang lebih penting dari pada itu.


"nanti saja kita bicarakan. ada yang lebih penting yang harus kita lakukan daripada membahas percintaan segitiga" ucap Senggi


"cinta segitiga...?" mereka kompak bertanya


"kalian pasti tau. sekarang makanlah, setelah itu kita harus mencari mustika hijau dan juga menghabisi ular Ragin untuk mengambil darahnya" jawab Senggi


"diperjalanan kami kesini, kami dikejar oleh ular hitam itu dan saat kami pergi Adam yang menghadapinya. sekarang kami nggak tau apakah Adam baik-baik saja atau telah mengalahkan ular itu" ucap El


"kalau seperti itu, kita harus berpencar. kalian kembali menemui Adam dan aku akan mencari mustika hijau" ucap Senggi


"bagaimana mau pergi lagi sementara Adam tadi menyuruh kami untuk pergi. bagaimana kalau Adam sudah tidak ada di sana" ucap Vino


"makanlah dulu baru setelah itu kembali berpikir" makanan untuk mereka telah tersedia


dengan raut wajah gembira mereka mulai menyantap makanan itu. serasa seperti puasa seminggu, mereka seperti orang yang tidak pernah diberi makan.


namun belum juga mereka benar-benar menikmati santapan itu, dayang yang mengantar makanan untuk ratu Sri Dewi membuka pintu dengan keras dan menutup serta menguncinya.


"ada apa Nuri...?" salah satu dayang bertanya


"gawat Geni, Nirum. ratu Sri Dewi ngamuk karena Senggi melarikan diri. sekarang mereka akan mengeledah seluruh istana. karena jangan sampai Senggi masih berada di dalam istana" ucap dayang yang bernama Nuri


"kalian harus sembunyi" ucap dayang Geni


"sembunyi dimana...?" keempat remaja itu mulai panik masih dengan mulut yang dipenuhi makanan

__ADS_1


"dimana saja asal tidak terlihat oleh penjaga" jawab dayang Nirum


"sebagian cari di dapur" teriak di luar sana


di dapur keempat remaja itu mulai mencari tempat persembunyian. karena terlalu tegang bukannya bersembunyi keempatnya malah berputar-putar mengelilingi Senggi dan ketiga dayang itu .


Senggi menggunakan kekuatannya. ia mengarahkan telapak tangan kanannya ke atas meja dan muncullah kain putih yang panjang dan lebar.


"kalian pakai ini, dan pergi di pojokan sana. cepat" perintah Senggi


"masa iya sembunyi dibalik kain ini, tentu mereka akan menemukan kami" Leo meragukan


"mau di sini lalu ditangkap dan dipenggal hidup-hidup atau ikuti perintahku" ucap Senggi


mendengar kata dipenggal, mereka memegang leher dan menggeleng cepat.


"makanya cepat sembunyi, pakai kain ini" ucap Senggi


"terus kamu bagaimana...?" tanya Bara


"kalian kelamaan"


Senggi mendorong mereka dengan kekuatannya sehingga keempatnya terseret beberapa langkah setelah itu kain putih tadi menutupi seluruh tubuh mereka. setelah itu Senggi mendekati patung yang berada di samping pintu dan berubah menjadi patung ular yang berdampingan dengan patung harimau.


"buka pintunya" teriak suara dari luar


dayang Geni dengan terburu-buru mendekat dan membuka pintu. penjaga istana masuk ke dalam memeriksa setiap sudut bahkan dibawah meja pun mereka periksa.


salah satu dari mereka melewati keempat remaja yang sedang bersembunyi di kain putih. padahal seharusnya mereka dapat dilihat namun penjaga tersebut melewati mereka begitu saja.


"kita aman" ucap Vino


"ssssttt....diam" El memperingatkan Vino


penjaga lainnya mendekati patung harimau dan patung ular yang berada di dekat pintu.


"sejak kapan ada patung ular di sini...?" penjaga itu bertanya


"sejak ratu Sri Dewi datang. patung itu kan patung ular Ragin" dayang Nuri menjawab


"aneh, kenapa aku baru melihatnya" ucapnya bingung


"jelas kamu baru kali ini melihatnya, kamu kan tidak mengurus perdapuran" jawab Nirum


"tapi kemarin aku datang ke sini, belum ada patung ular ini"


"apa yang harus dilakukan ratu Sri Dewi harus melapor dulu padamu...?" Geni seperti mengejek


penjaga itu mulai percaya. patung ular Ragin juga ada di tempat dimana ruang bawah tanah berada. di patung ular itu Bara dan Leo bersembunyi, menunggu kedatangan El-Syakir dan Vino sebelum akhirnya mereka ikut masuk ke dalam ruang bawah tanah.


"kalian tidak melihat buronan di sini...?" tanya penjaga


"daripada mengurusi buronan, lebih baik kami mengurus urusan dapur agar kalian kenyang dan ratu tidak memarahi kami" jawab Nuri


"Senggi tidak ada di sini, kita cari ke tempat lain saja" salah satu penjaga melapor ke penjaga yang mereka anggap ketua


"sudah mencari di berbagai sudut...?"


"sudah, tidak ada tanda dia berada di sini"


(dasar penjaga-penjaga bodoh. Senggi itu bukan tandingan kalian) batin para dayang


"ya sudah kita cari ke tempat lain. kalian bertiga jika melihat Senggi, cepat melapor kepada kami"


"baik"


mereka hendak meninggalkan tempat itu. namun baru akan mencapai pintu, Vino tiba-tiba saja bersin dan bukan hanya satu kali melainkan tiga kali.


"haaachi....haaachi....haaaaaaachi"


para penjaga itu seketika berhenti dan kembali berbalik.


"siapa di sana...?"


"mampus kita" ucap Leo


"mati....mati...kita benar-benar akan mati" Bara mulai was-was


salah satu penjaga memeriksa ke tempat suara. tidak ada apapun yang ia lihat, hanya sebuah patung yang ada tanpa ia tau kalau sebenarnya disamping patung itu ada empat remaja yang tidak terlihat karena ditutupi kain putih milik Senggi.


"siapa...?" tanya penjaga lain.


"tidak ada siapa-siapa" jawabnya


ia berniat kembali namun tanpa sengaja kakinya tersandung oleh kaki Leo yang ia selonjorkan karena lelah. penjaga itu terjatuh ke lantai, Leo segera menarik kakinya. mereka mulai tegang dan bahkan sudah mulai berkeringat.


"aku tersandung dimana tadi" penjaga itu melihat ke lantai namun tidak ada apapun di lantai


ketiga dayang mulai was-was, jangan sampai penjaga itu penasaran dan mencari tau maka keempat remaja itu sudah pasti akan ketahuan.


sementara keempat remaja itu menutup mulut rapat-rapat dan bahkan menahan nafas. mereka begitu tegang dan was-was.

__ADS_1


__ADS_2