Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 102


__ADS_3

"jangan menangis" Helmi menghapus air mata Sisil dengan tangannya


Sisil mengambil tangan kekar itu dan menyimpannya di wajahnya. ia mencium tangan Helmi berkali-kali dan terus mengucapkan maaf untuk kesekian kalinya.


"maafkan aku.... maafkan aku" isak Sisil


dengan susah payah Helmi bangun, Sisil membantunya dan bersandar di dinding. Sisil merobek ujung gaunnya dan mengikat tangan Helmi yang terluka dan sudah mengeluarkan banyak darah.


tidak ada yang bisa mereka lakukan keadaan Helmi yang sangat lemah dan juga handphone mereka di sita oleh orang yang mengurung di tempat yang pengap dengan cahaya lampu yang tidak begitu terang.


semuanya berawal saat mereka menghadiri pesta pernikahan.


flashback


"kamu kenapa...?" tanya Helmi melirik sekilas ke arah Sisil yang sedang meremas handphonenya


"aku tidak kenapa-kenapa" jawab Sisil mencoba untuk bersikap tenang


setelah beberapa menit mereka sampai di hotel tempat dimana diadakannya acara pesta pernikahan putri pengusaha terkenal Wisnu Angguna.


sudah banyak tamu undangan yang datang. Helmi dan Sisil keluar dari mobil. Helmi mengulurkan tangannya ke arah Sisil dan dengan tersenyum Sisil menyambut tangan kekar pria itu.


"banyak sekali ya tamu undangannya" ucap Sisil melihat ruangan yang luas sesak di penuhi tamu undangan


"jelas banyak, yang datang pasti kolega pak Wisnu" jawab Helmi


mereka berdua langsung berjalan ke arah pria yang sedang menyambut tamu undangannya, siapa lagi kalau bukan Wisnu Angguna.


"pak Wisnu" sapa Helmi


pak Wisnu langsung menoleh dan tersenyum menyambut kedatangan Helmi. pria itu memeluk Helmi dan bersalaman dengan Sisil.


"lama tidak berjumpa pengawal Helmi. kamu semakin tampan saja" ucap pak Wisnu menepuk pundak Helmi


"bapak juga tidak kalah tampan malam ini" timpal Helmi


"aku memang harus tampan untuk menyambut para tamu ku yang ribuan banyaknya"


"oh ya apa kabar dengan Zidan, aku dengar dia sudah menikah. maaf sekali tidak bisa hadir ke pernikahannya" sesal pak Wisnu


"tidak mengapa pak Wisnu. pak Zidan saat ini sedang menikmati indahnya pengantin baru. dia menitip salam kepada bapak dan juga permintaan maaf karena tidak hadir diacara pernikahan putri bapak"


"ya ya, pengantin baru memang tidak bisa dipisahkan" timpal pak Wisnu


"aku di sini mewakili bapak Adnan Rasyid, direktur Sanjaya grup, mengucapkan selamat atas pernikahan putri bapak"


"begitukah. sangat disayangkan, padahal aku ingin sekali bertatap muka langsung dengan pimpinan baru Sanjaya grup"


"mungkin lain kali pak, beliau sedang dalam keadaan sibuk saat ini"


"ya aku mengerti. seorang pengusaha memang persoalan sibuk adalah hal biasa. silahkan menikmati hidangan kami Helmi, aku harus menyambut para tamu yang lain"


"terimakasih pak, silahkan"


pak Wisnu meninggalkan mereka untuk menyambut para tamunya yang lain. Helmi dan Sisil lebih memilih menuju tempat dimana makanan telah disediakan di atas meja.


mereka mengambil makanan dan minuman kemudian mengambil tempat di kursi yang telah di sediakan untuk tamu undangan dengan meja bundar dilapisi taplak berwarna putih.


"aku ke toilet sebentar" ucap Helmi


"iya" jawab Sisil


setelah Helmi meninggalkan dirinya, Sisil membaca pesan yang masuk di handphone miliknya.


Mas Aris : lakukan


Sisil meneguk ludahnya antara takut dan tidak tega jika ia menuruti kemauan mantan suaminya.


Mas Aris : lakukan kalau kamu masih ingin Azam baik-baik saja


dengan tangan gemetar, Sisil mengambil sesuatu di dalam tasnya. botol berukuran kecil, sepertinya itu adalah obat tidur. ia menuang isi botol itu ke dalam gelas minuman Helmi dan kemudian kembali menyimpannya di dalam tas.


Helmi kembali dan duduk di samping Sisil. ia melihat Sisil yang begitu tegang dan bahkan terlihat tidak tenang.


"ada apa. aku lihat sejak tadi kita datang kamu seperti tidak tenang" ucap Helmi


"tidak apa-apa. aku hanya lapar" bohong Sisil


"kalau begitu makanlah, setelah itu kita pulang"


Helmi meraih gelas minumannya dan meminumnya tanpa tau sama sekali kalau di dalam minuman itu sudah dicampurkan dengan obat tidur.


setelah beberapa menit Helmi merasa mulai tidak nyaman. dia segera memberitahu Sisil agar mereka kembali ke hotel. Helmi sekuat tenaga berjalan mempertahankan keseimbangannya. Sisil memapahnya dan berjalan ke arah mobil. saat masuk ke dalam mobil, Helmi mulai tidak sadarkan diri.


drrrrt....... drrrrt


📞Sisil


halo


📞Mas Aris


bawa ke tempat yang telah aku beritahu


setelah mengatakan itu, Aris mematikan panggilannya. Sisil menatap nanar ke arah Helmi, sebelum berangkat dia mengirimkan pesan kepada Zidan.


Sisil : cepatlah, aku harap kalian cepat datang


mobil yang dikemudikan Sisil meninggalkan parkiran hotel menuju tempat dimana penderitaan Helmi akan di mulai. setelah sampai, Helmi di papah dua orang yang berbadan besar dan membawanya masuk. tubuh Helmi di letakkan di lantai dingin berwarna putih.


"bravo sayang. kamu melakukannya dengan baik" Aris datang dan bertepuk tangan

__ADS_1


"mana Azam, kamu bilang akan mengembalikannya padaku" Sisil langsung menanyakan keberadaan anaknya


"tenang sayang, dia baik-baik saja. bagaimanapun juga dia adalah anakku. aku tidak akan setega itu untuk menyakiti penerus ku" Aris membelai wajah Sisil, namun wanita itu menepisnya dengan kasar


"kamu itu iblis mas" ucap Sisil dengan tatapan tajamnya


"tapi iblis ini yang dulunya pernah membuatmu jatuh cinta dan mungkin sampai sekarang kamu masih mencintaiku"


"simpan saja khayalanmu itu" Sisil membuang muka


"bos, dia sadar" lapor salah satu pria


Aris langsung masuk ke dalam gudang untuk melihat Helmi. Sisil ikut masuk untuk melihat bagaimana keadaan pria itu.


"hanya pengecut yang menggunakan obat tidur untuk melumpuhkan lawannya" ucap Helmi yang baru saja bertarung dengan orang-orang suruhan Aris


"itu bukan pengecut, tapi taktik. sayang sekali ya. harusnya yang berada di tempat ini adalah direktur Sanjaya grup, tapi karena dia malah menyuruh kamu yang menghadiri pesta pernikahan, jadi dengan terpaksa kami meringkus mu untuk memancing bos mu keluar" ucap Aris


"berkat wanita cantik ini semua yang aku kerjakan terselesaikan. terimakasih sayang" Aris merengkuh pinggang Sisil yang tidak berani melihat ke arah Helmi


Helmi menatap sendu wanita itu. tidak habis pikir olehnya kalau Sisil akan melakukan hal seperti sekarang yang dapat mengancam keselamatan ayah Adnan.


"kenapa...?" tanya Helmi. pertanyaan itu ia ajukan untuk Sisil


"aku tanya kenapa Sisil" teriak Helmi dengan emosi


"maaf" satu kata itu yang keluar dari mulut Sisil


"cih, maafmu tidak berguna" ucap Helmi dengan sinis


"oh ayolah, aku tidak ingin melihat drama pertengkaran kalian. sekarang juga hubungi pak Adnan dan suruh dia ke sini" ucap Aris


"jangan mimpi" jawab Helmi


"perlu aku paksa rupanya. kalian, hajar dia"


anak buah Aris langsung menyerang Helmi. pria itu mengambil kayu di dekatnya sebagai senjatanya untuk melawan anak buah Aris yang jumlah mereka sangatlah banyak.


"hentikan mas, jangan sakiti dia" ucap Sisil


"diam kamu. tetap duduk manis disampingku" bentak Aris


bughh


bughh


Helmi menendang dan bahkan memukul mereka. namun sayang tanpa ia sadari seseorang tanpa ia ketahui menyuntikkan cairan ke dalam tubuh Helmi, membuat penglihatannya kabur dan kepalanya menjadi pusing.


bughh


bughh


"lepaskan mas, aku bilang hentikan" Sisil mulai menangis


Helmi sudah tidak berdaya. seorang pria datang menyerangnya dengan sebilai pisau. dia berniat menusuk Helmi.


"Helmi" Sisil berteriak histeris


sreeeet.....


Helmi menangkap pisau itu dengan tangannya.


bughh


dengan sisa tenaganya Helmi menendang pria yang akan menusuknya dan mengarahkan pisaunya ke arah mereka yang masih ingin memukulinya.


"selama aku masih bernafas, aku pastikan akan mencongkel mata kalian dengan pisau ini jika kalian berani menyentuh ku lagi" ucap Helmi dengan nafas yang memburu


hidung dan mulutnya sudah berdarah, tubuhnya penuh dengan memar dan luka akibat dari pengeyorokan yang dilakukan anak buah Aris.


prok.... prok.... prok


Aris bertepuk tangan dan tertawa melihat Helmi yang sudah tidak berdaya namun masih mengancam anak buahnya.


"hubungi pak Adnan sekarang juga" Aris jongkok di depan Helmi


"jangan harap" ucap Helmi


bughh


bughh


bughh


"uhuk... uhuk" Helmi muntah darah akibat tendangan Aris di perutnya


"aku katakan sekali lagi. hubungi pak Adnan" ucap Aris dengan mata tajamnya


"aku lebih baik mati"


"brengsek"


Aris dengan marah menginjak tangan Helmi yang terluka. pria itu berteriak kesakitan saat tangannya diinjak oleh Aris dengan sepatunya.


"aaaaggghhh"


"Helmi, lepaskan mas"


Sisil mendorong Aris dan duduk memeluk Helmi yang sudah tidak berdaya. Sisil begitu tersayat dan ngilu melihat kondisi Helmi sekarang.


"aku yang akan mengubungi pak Adnan" ucap Sisil

__ADS_1


Sisil mengambil handphone milik Helmi dan menghubungi pak Adnan. setelah tersambung, Helmi merampas handphone itu dari tangan Sisil.


📞ayah Adnan


halo Helmi bagaimana


📞Helmi


jangan keluar dari kamar pak


📞ayah Adnan


ada apa, kamu dimana sekarang


📞Helmi


jangan keluar dari kamar pak, tetap berada di dalam kamar. beritahu pihak hotel bahwa nyawa bapak terancam. beritahu mereka untuk menghubungi polisi


Aris yang mendengar Helmi tidak menyuruh ayah Adnan datang langsung meradang. pria itu menarik paksa Sisil dan kemudian menendang Helmi berkali-kali.


"Helmi.... lepaskan keparat" teriak Sisil dengan isak tangisnya


📞ayah Adnan


Helmi....


📞Helmi


kalau anda mau pengawal mu dan sekretaris mu selamat, maka datang ke tempat ini sekarang juga


📞ayah Adnan


aku akan datang. tolong jangan sakiti mereka


📞Helmi


bagus. aku tunggu kedatangan mu


Aris mematikan panggilan dan kemudian merampas handphone milik Sisil agar keduanya tidak menghubungi siapapun yang akan menggagalkan rencananya.


"Helmi...maafkan aku" Sisil duduk dan memeluk pria itu


"aku terpaksa. mas Aris membawa Azam, dia akan menyakiti anakku jika aku tidak melakukan perintahnya. maafkan aku Hel"


Helmi menutup matanya dan membukanya dengan tatapan nanar ke arah Sisil.


"jangan menangis. aku tidak mau melihat wanita yang aku cintai menangis" ucap Helmi dengan lirih


flashback end


ayah Adnan dan dua orang pengawal sedang dalam perjalanan ke tempat dimana Helmi dan Sisil di sekap. tempat itu sangat jauh dari pusat kota bahkan berada di pinggiran kota.


"apakah itu tempatnya...?" tanya pengawal yang mengemudi


"sepertinya iya" jawab pengawal satunya


"pak Adnan, kami akan turun di sini dan bapak sendiri yang akan masuk ke dalam. kami akan berusaha untuk mengeluarkan Helmi dan Sisil. kami juga sudah menghubungi pak Zidan dan mereka dalam perjalanan ke mari"


"kalau menunggu Zidan, itu terlalu lama. selamatkan Helmi dan Sisil. aku akan mencoba mengulur waktu agar mereka tetap fokus padak. lagipula yang mereka inginkan adalah diriku" ucap ayah Adnan


"kami tetap akan bersama bapak nanti tapi setelah membebaskan Helmi dan Sisil terlebih dahulu"


"aku percaya kalian berdua"


kedua pengawal itu keluar dari mobil begitu juga ayah Adnan yang langsung masuk ke kursi depan dan menyetir mobilnya mendekati gudang yang tidak jauh lagi darinya.


setelah ayah Adnan pergi, dua pengawal itu mengendap-endap berjalan pelan agar tidak ketahuan oleh musuh.


mereka mengambil jalan samping menuju belakang gudang. di sana empat orang yang berjaga. ada pintu masuk di belakang itu. untuk bisa masuk ke dalam, mereka harus melumpuhkan empat orang itu terlebih dahulu.


pengawal satu melempar batu di semak-semak agar salah satu dari penjaga itu mendekat ke arah mereka.


"apaan itu...?" tanya salah seorang penjaga


"periksa sana" suruh yang lain


salah seorang dari mereka memeriksa ada apa dibalik semak-semak itu. saat dekat dan ia periksa, tidak ada apa-apa di balik semak itu. ia pun berbalik akan kembali namun mulutnya langsung dibekap dan


kraaaaak


lehernya dipatahkan sehingga pria itu pingsan tidak sadarkan diri. mereka mulai lagi melempar batu ke semak-semak, tiga orang penjaga memanggil teman mereka yang memeriksa tadi namun tidak ada jawaban. jelas tidak menjawab karena pria itu sudah dilumpuhkan.


"kemana sih dia. jangan bilang dia kabur lagi" ucap salah seorang


"periksa sana"


penjaga lain mulai melangkah memeriksa ke semak-semak dan pria itu berakhir sama dengan pria yang pertama.


"sisa dua orang, aku rasa kali ini kita imbang" ucap pengawal satu


"kita habisi mereka berdua" ucap pengawal yang kedua


mobil ayah Adnan berhenti di depan gudang. melihat mobil datang, anak buah Aris segera menghampiri mobil ayah Adnan dan saat ayah Adnan keluar, ia di todongkan dengan pisau agar ayah Adnan tidak melawan.


ayah Adnan mengikuti mereka untuk masuk ke dalam, di dalam Aris duduk di sebuah kursi sedang Helmi dan Sisil di lantai yang dingin.


"Sisil, Helmi" panggil ayah Adnan


betapa sakit hati ayah Adnan melihat Helmi yang terbaring lemah di pelukan Sisil, dan wajahnya penuh luka dan darah


"pak Adnan" Sisil menatap pilu pria itu

__ADS_1


__ADS_2