
"di luar sudah tidak ada lagi kegaduhan makhluk-makhluk itu. apakah sekarang desa Boneng sudah aman...?" tanya pak banu,
setelah mengobati Leo, mereka semua masih tetap berkumpul di ruang tengah. saat ini tidak terdengar lagi suara ricuh dan kegaduhan di luar sana. namun tetap saja, warga desa Boneng belum ada yang berani untuk keluar dari rumah, apalagi masih dalam keadaan gelap.
"sudah jam berapa sekarang...?" tanya pak Zainal
"sebentar lagi akan menjelang subuh pak" El-Syakir menjawab ketika melihat jam di pergelangan tangannya
"lebih baik sekarang kita bersiap untuk menunggu waktu sholat subuh sebentar lagi" perintah pak Zainal
mereka semua mengangguk. satu persatu beranjak dari tempat duduk untuk ke tempat wudhu dan ada juga yang akan ke kamar. namun langkah mereka terhenti tatkala terdengar suara teriakan seseorang yang histeris di luar sana.
"aaaaa bapak"
"astaghfirullah, ada apa lagi itu" ibu Murni merapatkan badan di dekat suaminya dan merangkul anaknya, Amran.
"bapak....ya Allah pak"
suara itu adalah suara seorang wanita yang sepertinya sedang menangisi seseorang
"itu seperti suara ibu Susi" ucap ibu Nurul
"iya, itu ibu Susi. ada apa dengannya" timpal ibu Nurma
karena penasaran, pak Firman melangkah ke ruang tamu dan mendekati ke arah jendela untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.
yang lain ikut menyusul dan Vino serta Bara ikut melihat di jendela. mereka belum berani membuka pintu, takutnya itu adalah arwah-arwah gentayangan tadi yang menyamarkan suaranya menjadi mirip seperti wanita yang mereka kira.
"bagaimana pak Firman, ada apa di luar sana...?" tanya pak Samsul
"ada seorang ibu dan seorang gadis yang menangis di depan rumah mereka" Vino yang menjawab pertanyaan pak Samsul
"itu benar-benar ibu Susi. kita keluar untuk melihatnya" ucap pak Firman
pak Firman memutar anak kunci dan membuka pintu. segera mereka menghampiri ibu Susi bersama anak gadisnya yang bernama Sukma, sedang menangisi seseorang.
"astagfirullahaladzim" pak Banu memalingkan wajahnya saat melihat seseorang yang telah menjadi mayat tergeletak di tanah
"hiks... hiks... bapak" Sukma menangis tersedu-sedu melihat mayat ayahnya
mayat suami ibu Susi begitu mengerikan. tubuh yang gosong dengan lidah yang menjulur keluar, matanya melotot seakan melihat hal yang mengerikan sebelum dirinya sakaratul maut.
"innalilahi wainnailaihi Raji'un" pak Zainal mengucapkan ungkapan duka begitu juga yang lain
laki-laki itu berjongkok di dekat mayat suami ibu Susi dan menutup matanya dengan tangan kanannya. barulah mata suaminya ibu Susi tertutup.
"bapak-bapak, tolong angkat mayatnya dan bawa masuk ke dalam rumah mereka" perintah pak Zainal
pak Samsul, pak Banu dan pak Firman mulai mengangkat mayat itu. bau gosong begitu tercium di hidung mereka. laki-laki tim samudera ikut membantu. perlahan-lahan mereka membawa mayat suami ibu Susi di dalam rumah dan membaringkannya di atas tikar di ruang tengah.
"ambilkan kain untuk menutup tubuhnya" ucap pak Zainal
Sukma masuk ke dalam kamarnya mengambil kain panjang dan kembali lagi kemudian menutup tubuh ayahnya.
"apakah sudah waktunya sholat subuh...?" tanya pak Zainal
"sudah pak" jawab pak Samsul
"kalau begitu kita sholat dulu, besok pagi kita akan mengurus mayat ini" ucap pak Zainal
hampir menjelang pukul 5 pagi, mereka semua melaksanakan sholat subuh di rumah ibu Susi. di dekat mayat itu mereka bersujud menghadap sang pencipta. karena hanya di ruang tengah satu-satunya ruangan yang luas untuk menampung mereka semua.
pagi harinya, semua warga desa Boneng mulai keluar dari rumah. pak Firman memberitahu semua warga bahwa pak Rusli suami dari ibu Susi meninggal dunia.
"di bagian atas ada juga yang meninggal pak Firman" ucap salah seorang warga
"innalilahi, siapa...?" tanya pak Firman kaget
"si Danang anaknya ibu Farida. mayatnya sangat mengerikan, gosong dan matanya melotot"
"mulutnya juga keluar, menakutkan sekali"
"pasti korban dari setan-setan semalam"
rupanya hari itu yang meninggal bukan hanya satu orang tetapi dua orang. pak Rusli dan anak muda yang bernama Danang.
__ADS_1
warga desa Boneng mulai terbagi melayat di dua tempat. warga yang rumahnya dibagian atas akan melayat di rumah ibu Farida sedang di bagian bawah yang ada di lorong, akan melayat di rumah ibu Susi.
untuk tempat pemakaman, pak Zainal memerintahkan agar kedua mayat dikuburkan di tempat yang sama agar warga dapat berbondong-bondong menggali kuburan untuk keduanya.
sebagian warga laki-laki akan menggali kuburan sedang yang lain tetap menetap di rumah ibu Farida dan ibu Susi.
para ibu-ibu sibuk memasak untuk makanan orang-orang yang melayat. kebiasaan di desa memang seperti itu adat yang mereka lakukan.
"kamu sudah menghubungi kakakmu nak...?" tanya ibu Susi kepada Sukma
"sudah bu, kak Aulia sedang dalam perjalanan pulang ke sini" Sukma menjawabnya dengan suara parau dan mata yang sangat sembab
mayat pak Rusli sudah dimandikan dan akan dikafani, begitu juga dengan mayat Danang. acara pemakaman harus segera dilakukan agar cepat selesai.
setelah membungkus mayat pak Rusli dengan kain kafan, salah satu anaknya batu saja datang. Aulia berlari cepat masuk ke dalam rumah. melihat ayahnya yang sudah dibungkus dengan kain, Aulia menghambur memeluk mayat ayahnya dan menangis sejadi-jadinya.
para pelayat meneteskan air mata melihat hal itu. Aulia bahkan jatuh pingsan karena tidak sanggup melepaskan kepergian ayahnya.
"angkat bawa di kamar" perintah pak Banu kepada para pelayat
tubuh Aulia diangkat dan dibawa ke dalam kamarnya. kini pak Rusli akan dibawa di tempat pemakaman yang ada di desa itu. tidak ada TPU di tempat itu. mereka menggunakan lahan milik keluarga untuk dijadikan rumah terakhir bagi kedua si mayat.
pukul 8 pagi, mereka siap untuk menguburkan pak Rusli dan Danang. hari itu cuaca tidak seterik kemarin-kemarin. hari itu langit hanya menunjukkan kemendungan dengan rintik-rintik hujan yang turun membasuh bumi.
setelah kedua mayat dimasukkan ke liang lahat, maka selanjutnya akan ditimbuni dengan tanah. sanak keluarga menangis pilu melepaskan orang yang begitu mereka sayangi.
setelah selesai, semua yang ikut ke pemakaman pulang ke rumah duka. ibu-ibu menyiapkan makanan untuk di santap oleh pelayat.
"beritahu semua warga agar setelah ini mereka pulang ke rumah masing-masing dan jangan keluar dari rumah" ucap pak Zainal
"apakah setan-setan itu akan datang lagi pak...?" tanya Leo
"semoga saja tidak tapi kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya ditambah lagi dengan cuaca yang mendung seperti ini. rintik-rintik hujan ini membuat kita tidak dapat membakar obor" pak Zainal melihat di luar dimana rintik-rintik hujan masih juga belum berhenti
pesan pak Zainal tadi disampaikan oleh pak Samsul kepada semua orang yang ada di rumah duka. kini warga yang tadinya mulai tenang kembali menjadi tegang. mereka berpikir hal mengerikan yang terjadi semalam akan terjadi pagi itu.
"tenang semuanya, in shaa Allah kita berlindung dan meminta pertolongan kepada Allah agar terus memberikan perlindungan dan keselamatan. sekalian bapak-bapak dan ibu-ibu sebaiknya pulang saja. ingatlah jangan keluar rumah jika bukan hal yang mendesak" ucap pak Samsul
setelah makan, semua pelayat kembali ke rumah masing-masing. bahkan sebagian berlari kecil agar bisa cepat sampai di rumah mereka.
"ibu Susi, tidak apa-apa kan kalau kami tinggal...?" ucap ibu Nurul
"jangan sungkan kalau ingin meminta bantuan bu. kalau begitu kami pulang dulu. ingat ya bu, turup pintu rapat-rapat begitu juga jendela-jendela dan jangan keluar rumah"
"iya bu"
tim samudera dan juga yang lainnya pulang ke rumah pak Firman. setelah kepergian mereka, ibu Susi menutup pintu dan menguncinya kemudian menutup semua jendela rumahnya.
"lalu apa rencana kita selanjutnya pak...?" tanya El-Syakir kepada pak Zainal
"kita akan ke hutan itu" pak Zainal menjawab
"kalian benar-benar akan pergi ke sana...?" tanya ibu Murni
"jika itu memang satu-satunya cara untuk menemukan mereka, kami akan lakukan" El-Syakir menjawab mantap
"Lana ikut kak, Lana ingin ikut mencari kak Dirga" ucap Alana
"kak Dirga itu siapa...?" tanya Zahra yang memang belum tau
"Dirga adalah nama asli Adam, Dirga Sanjaya" Melati menjawab
"Dirga Sanjaya...?" pak Firman dan ibu Nurma berucap bersamaan dan kemudian saling tatap
"iya, dia kakak saya dan Alana" timpal El-Syakir
"pak, bukannya Dirga Sanjaya itu adalah...."
"belum tentu bu, mungkin hanya nama saja yang sama. lagipula Deva juga tidak membahas itu saat pertama mereka datang" pak Firman memotong ucapan istrinya
"kalian semua akan ikut bersamaku" pak Zainal menatap satu persatu tim samudera
di hutan belakang desa Boneng, dua anak manusia masih terus menyusuri lorong yang mereka masuki.
Deva dengan korek gas miliknya menjadi penerang dalam perjalannya. harusnya ia takut berada di tempat itu seorang diri namun sepertinya ketakutan itu tidak berlaku bagi Deva. hal mistis seperti itu bukan lagi hal yang membuat dirinya merinding.
__ADS_1
"tempat apa sebenarnya ini" gumamnya
semakin ke dalam maka dirinya akan semakin jauh dari pintu masuk yang ia masuki tadi. entah apakah di ujung sana ada pintu lain, masih belum ia ketahui.
sesekali ia mengarahkan korek gas miliknya ke belakang karena dirinya merasa ada yang mengawasi.
"perasaan ku saja mungkin" ucapnya kembali melanjutkan langkahnya
namun semakin ia melangkah maka semakin ia merasa kalau memang ada yang mengawasi dirinya. saat ia berbalik, kepalanya langsung dihantam oleh sesuatu hingga akhirnya Deva ambruk dan pingsan.
"membereskan anak seperti kamu, itu sangat mudah bagiku" orang itu tersenyum menyeringai melihat Deva tidak sadarkan diri karena perbuatannya
"temanmu yang satunya, biarlah dia menjadi santapan penghuni di dalam sana. hahaha"
"dasar anak-anak bodoh. begitu bodoh sampai datang mengantarkan nyawa di tempat ini"
pak Ujang adalah orang yang memukul kepala Deva sampai tidak sadarkan diri. ia kemudian menyeret tubuh Deva dan membawanya ke tempat lain.
sementara Adam yang berada di lorong kedua, tidak peduli dengan banyaknya mata yang mengintai dirinya.
"berani menghalangi jalanku, maka tamat riwayat kalian semua" Adam mengancam
tidak ada lagi wajah tengilnya saat ini, yang ada dirinya menunjukkan wajah yang begitu serius dan mencekam seakan mengintimidasi setiap makhluk di tempat itu.
namun ada sebagian dari mereka yang tidak peduli dengan ancaman Adam. dua makhluk mengerikan menghadang jalannya. satu berwujud kepala buntung, kepalanya ia pegang di tangan sedangkan makhluk satunya berwajah hancur dan tidak mempunyai bola mata.
"wajah kayak ondel-ondel dan nggak punya kepala masih juga mau cari lawan. bisa melihat kaliann ini...? coba tebak ini ada berapa jari...?" Adam mengangkat satu tangannya, ia seperti seorang guru yang mengajar anak muridnya
kedua makhluk itu hanya diam tanpa menjawab ocehan Adam.
"nah kan, melihat aja nggak bisa bagaimana mau melawan"
saat itu juga kedua makhluk itu menyerang Adam. tentu saja Adam tidak tinggal diam. makhluk-makhluk yang lain hanya melihat saja dan akan menyerang jika mempunyai kesempatan.
bukan hal yang sulit bagi Adam untuk melawan keduanya. baru beberapa menit saja salah satu dari lawannya lenyap seperti debu. itu adalah setan yang tidak mempunyai kepala.
kini tinggal satunya, dan Adam sekarang sedang mencekik leher makhluk itu.
"mati kau".
kraaaak
kraaaak
suara tulang patah terdengar. Adam mematahkan leher makhluk itu dan melenyapkannya seperti debu.
jleb
ugh
kuku tajam salah satu makhluk yang lain tertancap di perutnya. bahkan makhluk itu mencabut kembali dan akan menusuk Adam lagi namun Adam mengeluarkan energinya hingga keluar cahaya warna biru dari tubuhnya dan makhluk itu terpental jauh menghantam dinding lorong.
Adam meringis sakit. dari perutnya keluar darah segar membasahi bajunya.
"kurang ajar" wajah Adam berubah merah menahan amarah
amarah itu mengubah wujudnya. Adam berubah sama seperti saat berada di dalam hitan untuk menyelamatkan Vania dan Starla dari penyekapan yang dilakukan oleh Rudi. dan juga saat dirinya akan menyelamatkan Andri dari seorang psikopat bersama El-Syakir dan Leo.
mata Adam merah menyala,, dan semua jarinya mengeluarkannya kuku panjang yang begitu tajam. bahkan dikepalanya mengeluarkannya dua tanduk kecil.
"MAJU KALIAN SEMUA, AKAN AKU MAKAN ISI PERUT KALIAN SATU PERSATU"
perubahan wujud Adam ada yang membuat para makhluk di tempat itu ketar-ketir dan melarikan diri. namun ada juga yang masih menantang untuk melawan.
__________________________________________
catatan :
karena kesibukan di kehidupan nyata membuat aku drop dan jatuh sakit. episode ini saja aku paksakan mengetik karena teringat sudah lama nggak update.
dan aku lebih sakit lagi saat mendengar kabar sahabat aku semasa kuliah telah berpulang kepada Tuhan. sakit banget rasanya, mengingat dia adalah yang begitu peduli padaku dimana aku nggak punya apa-apa dan malu meminta kepada orang lain.
makasih banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer untuk kalian pembaca setia PTM. kalian semua adalah penyemangat ku untuk tetap melanjutkan cerita. tanpa kalian pembaca apalah gunanya novel yang aku tulis.
untuk yang membaca novel Fatahillah, saat ini aku belum akan update. mungkin setelah Novel PTM tamat atau novel MPB tamat baru aku akan melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
terimakasih sekali lagi untuk kalian. doakan aku cepat sembuh ya.
saranghae 🥰🥰🥰