Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 141


__ADS_3

saat tiba, rumah tersebut masih sama seperti dulu. halaman rumah tampak bersih tanpa sampah. sepertinya ibu Arini mempercayakan seseorang untuk tetap merawat rumah yang penuh dengan kenangan itu.


mereka segera turun dari motor dan melangkah menuju teras. sedangkan Adam menyapa kedua teman gaibnya di atas pohon mangga.


"mas poci....mba Kun" Adam melambai-lambaikan tangannya


kedua makhluk itu melihat ke bawah. mereka berdua saling pandang dan mengangkat bahu. keduanya tidak mengenal Adam. jelas saja tidak kenal, wujud Adam kini telah menjadi manusia bukan lagi arwah seperti dulu.


"nggak pindah-pindah yah mereka di situ" El-Syakir membuka pintu dengan kunci yang dipegangnya


"sejak kapan ada hantu di pohon mangga itu kak...?" Alana bertanya


"sejak dulu" jawab El


"kok Lana nggak liat ya" ucapnya


"mau liat gimana, kamu kan belum seperti sekarang" jawab El


"ayo masuk" ajaknya


mereka masuk ke dalam rumah sedang Adam sibuk memanggil mas poci dan mba Kun namun kedua makhluk itu tidak menghiraukannya.


"sombong sekarang kalian ya" ucap Adam yang berada di bawah


"kalian nggak kenal aku...?" tanya Adam. mas poci dan mba Kun menggeleng kepala


"haih...apa karena aku saking gantengnya sampai mereka tidak mengenaliku lagi" ucapnya dengan percaya diri


"tunggu di situ ya, aku mau naik" Adam mendekat batang pohon mangga


"ribet banget sih, enak juga jadi arwah kemana-mana tinggal terbang" gumamnya


Adam berusaha naik ke atas pohon. kantung plastik yang berisi melati ia gigit agar tidak terjatuh. setelah sampai, dirinya ngos-ngosan karena tidak pernah memanjat pohon setinggi itu.


"demi persahabatan aku rela panjat mangga demi kalian" Adam mengatur nafas


"masih nggak ingat sama aku...? kalau masih nggak ingat kalian memang sungguh terlalu" ucap Adam bersandar di batang pohon


"kakakaka" mas poci manggut-manggut dan tersenyum lebar, sepertinya dia sudah mengingat Adam


"hihihihihi" mba Kun cekikikan, masih pagi tawa wanita berdaster itu melengking di sekitar rumah


"udah ingat sekarang...?" tanya Adam dan keduanya mengangguk


"baguslah. nih aku bawakan makanan. enak tau" Adam memberikannya melati dan dengan senang hati keduanya menerima dan langsung memakan


"enak kan...?" tanya Adam, mas poci dan mba Kun hanya mengangguk


"aaaa kangen" Adam merentangkan tangan memeluk kedua makhluk itu. tanpa risih dan takut Adam merasa sangat senang bisa bertemu kembali dengan kedua makhluk penghuni pohon mangga


"woi....mau reunian terus di situ lu...?" Leo memanggil Adam


"ada apa sih, ganggu aja" jawab Adam


"ayo masuk, mau makan nggak"


"oh mau makan, okeh"


"aku turun dulu ya" ucap Adam


kedua makhluk itu mengangguk. Adam kembali turun kemudian masuk ke dalam bersama Leo.


"udah reuninya kak...?" tanya El


"udah" Adam duduk di samping Alana


"makan yuk, udah lapar nih. tadi nggak sempat sarapan karena takut telat, eh ujung-ujungnya malah telat benaran" ucap Vino


"yah, kita nggak beli air minum" Nisda memeriksa kresek belanjaan mereka dan benar saja mereka lupa membeli air minum


"biar gue yang pergi beli" El-Syakir beranjak dari duduknya


"aku ikut" Adam ikut berdiri dan mengikuti El-Syakir


mereka jalan kaki karena warung tidaklah jauh dari rumah dan juga ada di samping laundry ibu Arini yang sampai sekarang masih beroperasi.


mereka melewati laundry itu dan menuju kios yang berada di sampingnya, tidak terlalu jauh dari laundry.


"permisi" El-Syakir memanggil namun tidak ada jawaban dari dalam


"permisi" El-Syakir kembali memanggil


"kok nggak ada orangnya ya" ucap El


"biar aku saja" Adam maju ke depan


"ekhem...ekhem. beli........wahai pemilik kios, beli......." Adam berteriak keras


satu teriakan Adam, seketika seseorang datang menghampiri mereka. seorang gadis menatap keduanya dengan wajahnya yang pucat.


"Nilam, apa kabar...?" El-Syakir menyapa ramah


"baik El. kamu tumben keliatan, bukannya udah pindah ya" gadis yang bernama Nilam itu bertanya


"iya, tapi sengaja jalan-jalan aja ke sini. kamu kok pucat gitu, lagi sakit ya...?" El-Syakir memperhatikan wajah Nilam, gadis itu tampak kurus dari sebelumnya


"aku....."


"Nilam" belum sempat menjawab, teriakan dari dalam rumah terdengar. wanita paruh baya datang dengan menatap tajam ke arah Nilam


"pagi tante, apa kabar" sapa El-Syakir


"siapa yang suruh kamu keluar, masuk sana" wanita itu tidak membalas sapaan El-Syakir dan malah membentak Nilam kemudian mendorong gadis itu dengan sedikit kasar


Adam dan El-Syakir hanya memperhatikan, gadis itu dengan tatapan sendu melihat ke arah mereka berdua kemudian menghilang di balik tembok.


"beli apa...?" wanita itu bertanya ketus


"Aqua botolnya yang besar, tiga" jawab El


"aku mau frestea melati satu" ucap Adam


wanita itu mengambil Aqua botol dan juga minuman pesanan Adam. kemudian menyerahkan kepada El-Syakir.


El-Syakir mengambil beberapa roti dan cemilan lainnya kemudian memasukkan ke dalam kantung.


"Nilam sakit ya tante, kok nggak sekolah" El-Syakir memberanikan diri untuk bertanya


"dia baik-baik saja" jawab wanita itu dengan suara dingin


Adam menyenggol lengan El-Syakir dan menyimpan telunjuknya di bibir, memberitahukan agar El-Syakir tidak banyak bertanya. mengerti dengan isyarat Adam, El-Syakir akhirnya diam tanpa bersuara lagi.


"terimakasih tante" ucap El saat menerima kembalian uangnya dari tangan wanita itu


tidak ada jawaban, wanita itu melenggang masuk ke dalam meninggalkan Adam dan El-Syakir.

__ADS_1


mereka berdua pun meninggalkan kios tersebut. sebelum pulang ke rumah, El-Syakir dan Adam singgah di laundry ibu Arini. melihat El-Syakir datang, Dian dan Sinta pegawai ibu Arini kaget seketika.


"loh El, kok di sini...?" Dian menghampiri mereka. dia melihat ke arah Adam dan tersenyum ramah


"jalan-jalan aja kak di rumah lama. oh iya, ini aku belikan cemilan untuk kak Dian dan kak Sinta" El memberikan cemilan yang dibelinya tadi


"wah, makasih banget loh. lama nggak ketemu udah langsung traktir aja" Dian mengambil kantung tersebut


"kebetulan lewat di sini jadi sekalian traktir. kak Sinta mana kak...?"


" di atas lagi angkat jemuran. duduk yuk, kita ngobrol dulu. ibu Arini apa kabar...?"


"Alhamdulillah ibu baik. maaf banget ya kak soalnya kita mau langsung pulang"


"kalian pindah lagi ke rumah lama...?"


"nggak, aku sama Alana cuman datang jalan-jalan aja"


Adam hanya mendengar dan memperhatikan keduanya berbicara. setelah itu mereka berdua berpamitan untuk pulang.


"nyasar ya pak, beli minuman kok lama banget" Starla mencibir


"nyasar di hati kamu" Adam mengedip-ngedipkan matanya


"heh, pacar gue ya ini. nggak osah kegenitan" Vino menatap kesal Adam


"baru juga pacar, masih bisa ditikung" jawab Adam enteng dan duduk di samping Alana


"dam, berantem yuk" ucap Vino yang kesal


"nanti saja, aku masih mau isi bensin" Adam membuka kotak makanannya dan langsung melahapnya


mereka menikmati makanan itu dengan tanpa suara. setelah selesai makan, mereka beristirahat di ruang tengah.


"gimana kalau malam ini kita tidur di sini...?" ucap Leo


"cuman kita doang loh, om Adnan sama tante Arini nggak ada" Melati menimpali


"lah terus kenapa. dulu aja kami tidur bertiga dengan Alana, saat El-Syakir di rawat di rumah sakit" ucap Leo


"kalian tidur bertiga...?" tanya Bara


"iya, kita temani Alana waktu itu" jawab Vino


"satu kamar...?" tanya Melati


gleg....


Leo dan Vino menelan ludah. keduanya saling tatap. waktu itu memang mereka satu kamar bahkan terjadi insiden di luar kendali. namun sampai sekarang El-Syakir belum tau tentang hal itu.


"kok diam sih, kalian bertiga satu kamar...?" tanya Melati lagi


"iya, Alana satu kamar sama kak Leo dan kak Vino" jawab Alana polos


(*mampus) batin Leo


(alamak.... sepertinya alarm bahaya mulai berbunyi) batin Vino*


Adam dan El-Syakir menatap tajam ke arah Vino dan Leo. Adam memicingkan matanya ke arah keduanya.


"benar kalian satu kamar...?" tanya Adam


"i-itu.... anu...eh anu" Leo tergagap


"lu kira gue nggak pernah cuci sampai harus gatal segala" cebik Leo


"ya terus anu apa...?" tanya Nisda


"sayang, ayo jawab" Starla melihat Vino


"Alana waktu itu takut tidur sendirian, makanya tengah malam Lana pindah ke kamar kak El yang ditempati kak Leo dan kak Vino" Alana memberi penjelasan


"ha iya betul. benar seperti itu" ucap Vino cepat


"dan kalian tidur satu ranjang...?" tanya El menatap keduanya


gleg....


(aduuuuh, mampus) Leo mulai was-was


"ya....i-iya...tapi...."


"apa yang kalian telah lakukan kepada adikku. wah benar-benar kalian ya, minta di sunat ya" Adam mulai mengomel


"kita nggak ngelakuin apa-apa, Alana masuk pas kami berdua udah tidur dan ikut berbaring di dekat kami" jawab Vino


"wah wah wah, nggak bisa dibiarkan nih. mana gunting, aku mau sunat mereka berdua" Adam mulai berdiri


"kita nggak lakuin apa-apa loh dam. Lana, ayo dong jelasin" Leo meminta pembelaan kepada Alana


"iya, kita nggak ngelakuin apa-apa kok kak. Alana hanya peluk kak Leo aja dan kak Leo peluk Lana, itu saja nggak lebih" jawab Alana polos


"APA.....? KALIAN BERPELUKAN...?" semuanya tampak kaget


"iya, so sweet banget kan" Alana bahkan mengompori


(ya ampun alanaaaaaaa) Leo seketika lemas


"Leo Sebastian" El-Syakir memanggil dengan nada terdengar menakutkan di telinga Leo


1.....


2....


3....


"kabooooor"


Adam dan El-Syakir mengejar Leo, mereka berputar-putar di ruang tengah itu dan bahkan kini Adam sudah dengan sapu ijuk di tangannya. dia kini menjelma menjadi emak-emak berdaster yang garang.


"kok kak Leo di kejar...?" tanya Alana polos


"jelaslah di kejar dan itu semua karena elu Lana....." Vino tidak habis pikir, Alana dengan entengnya mengatakan itu semua


"emang ada yang salah ya, kan kak El tanya jadinya Lana jawablah" ucap Alana


"terserah elu dah, sekarang hanya elu yang bisa menyelamatkan Leo dari amukan kedua kakakmu" ucap Vino


"udah nggak usah di bantu, seru liat mereka main kejar-kejaran" Starla bahkan bertepuk tangan


"woi ampun woi" Leo berteriak


Adam dan El berhasil menangkapnya dan bahkan kini dirinya ditindih oleh kedua temannya itu.


"ngapain elu main peluk adek gue" ucap El

__ADS_1


"dia yang peluk gue duluan anjir... ampun.... patah pinggang gue kampreeeet"


""jangan bohong kamu, nanti aku sihir jadi nenek sihir baru nyaho" ucap Adam


"gue cowok kelles.... ngapain jadi nenek sihir. turun woi, kalian berat tau"


"hah, nggak akan" Adam menarik rambut bahkan telinga Leo


"elu nggak sampai cium adek gue kan...?" tanya El


"kalian pikir gue sebajingan itu. Alana itu adik gue, nggak mungkinlah gue apa-apain dia"


"turun wooooi....bisa kempes gue ini" Leo memukul lantai dengan cepat. dia sudah tidak sanggup lagi menahan berat tubuh kedua temannya


"benar kamu nggak melakukan hal lebih...?" tanya Adam


"benar, suwer deh" Leo mengangkat kedua jarinya


"bohong" Alana menghampiri mereka bertiga


"nah kan, elu bohong" El-Syakir melompat-lompat di atas tubuh Leo


"bisa mati gue woi" Leo meringis


"kak, Lana bisa jelaskan. kasian kak Leo, turun dari punggungnya kak" Alana memohon


yang lain hanya menjadi penonton, mereka tidak ikut campur karena memang tidak terlibat dalam kejadian itu. lagi pula mereka tau Adam dan El tidak akan melakukan hal yang akan melukai Leo.


"sekarang jelaskan, bagaimana kejadiannya" ucap Adam. mereka telah turun dari punggung Leo namun mereka tetap mengukung Leo di tengah-tengah keduanya


"waktu itu Alana tidur di kamar. kak Vino dan Leo tidur di kamar kak El. tengah malam Alana terbangun, karena takut akhirnya Alana pindah ke kamar kak El dan tidur bersama kak Vino dan kak Leo" ucap Alana


"terus kenapa sampai ada adegan peluk-pelukan...?" tanya El


"itu..... karena Alana yang nggak sadar langsung peluk kak Leo duluan" jawab Alana pelan


"nah tuh kan, gue nggak macam-macam sama Alana" Leo membela diri


"mana mungkin gue berani macam-macam sama gadis yang gue suka" Leo kelepasan


"APA...?" mereka semua terkejut terutama Alana


"elu suka sama adek gue...?"


"kak Leo suka sama Lana...?" mata Alana berbinar


"elu benaran suka sama Alana Leo...?"


mereka semua mencerca Leo dengan pertanyaan yang sama.


(aduuuuh....kenapa bisa keceplosan sih) batin Leo


"heh, Udin... jawab. kamu suka sama Alana...?" tanya Adam


"emang tadi gue ngomong kayak gitu ya...?" Leo cengengesan


"yaelah, baru juga satu detik yang lalu, udah insomnia aja kamu" Adam menjitak kening Leo


"amnesia Maemunah" Leo masih sempat-sempatnya mengoreksi


"kak Leo benar suka sama Lana atau nggak...?" tanya Alana


"itu....itu tadi gue hanya....maksud gue gadis yang gue sayang sebagai adik" jawab Leo. dia malu mengakuinya apalagi ketahuan karena dirinya keceplosan


"hanya sebagai adik...?" tanya Alana


"iya, kita kan memang adik kakak kan" jawab Leo


"kak Leo jahat banget" Alana meninggalkan mereka semua


"lah, kok" Leo bingung melihat Alana pergi begitu saja


Nisda, Starla dan Melati menyusul Alana ke kamarnya.


"wah parah lu Le. kalau suka bilang aja Napa, nggak usah gengsi. dari dulu elu emang udah suka kan sama Alana" Vino mendekati mereka bersama Bara


"kamu sudah membuat adik aku kecewa. mulai hari ini, nggak ada restu buat kamu. titik nggak pakai koma" ucap Adam


"yah kok gitu....gue kan cuman....cuman"


"cuman mau permainkan adek gue, iya...?" timpal El


"aduuuh bukan gitu. ck, gimana cara jelasinnya sih" Leo menggaruk kepala


"pokoknya mulai hari ini, kamu masuk daftar buku merah calon ipar aku dan El" ucap Adam


"jangan gitu dong dam. tega benar sama teman sendiri. tadi gue hanya nggak enak aja buat ngaku"


"jadi kamu benar suka sama Alana...?" tanya Adam


"i-iya" Leo menjawab gagap


"terus kenapa tadi bilang nggak suka" Adam membentak Leo


"kan gue bilang tadi nggak enak buat ngaku, malah ketahuan karena keceplosan lagi" jawab Leo


"ya kalau nggak enak dienakin aja, pakai gula biar manis" ucap Adam


"kak Dirga ngomong apaan sih, nggak nyambung" timpal Bara


"gue bukannya nggak mau elu suka sama adek gue Le. tapi kan elu tau dia masih kecil, dia masih terlalu muda untuk menjalin hubungan melebihi kakak dan adik" ucap El bijak


"gue tau, makanya itu gue nggak berani ungkapin perasaan gue karena itu penyebabnya" jawab Leo lesu


"tapi kalau elu benar-benar sayang sama dia, gue harap elu bisa menjaga dia dengan baik"


"gue sebenernya dari dulu udah tau kalau Alana juga suka sama kamu. hanya saja waktu itu dia masih sangat kecil untuk mengenal hal seperti itu. makasih sudah mau bertahan menahan perasaan elu demi memikirkan Alana" El menepuk bahu Leo


"selama di hal yang wajar, aku setuju saja" Adam bersuara


"jadi elu merestui gue...?" Leo berbinar


"belum 100%, ingat ya, kalian berdua dalam pengawan aku. Alana masih kecil namun aku yakin kamu laki-laki yang bisa menjaganya setulus hati. aku berikan izin namun ingat, kamu tetap dalam pengawasan aku" Adam menunjuk mata Leo kemudian menunjuk matanya sendiri


"aaaaaa.....makasih kakak ipar" Leo seketika memeluk Adam


"heh, gue nggak setuju ya" El bersuara


"yaaaah, elu mah tega bener sama gue" ucap Leo


"buktikan dulu kalau elu benar-benar bisa menjaga Alana, baru gue pikirkan lagi" ucap El


"semangat Le, demi mengejar masa depan" ucap Vino


"gue bukan cowok brengsek yang suka mainin hati cewek. akan gue buktikan kalau gue benar sayang sama Alana dan akan menjaganya" Leo berucap dengan sungguh-sungguh

__ADS_1


__ADS_2