Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 148


__ADS_3

setelah mobil itu menabrak pohon, salah satu penumpang yang duduk di samping kemudi langsung pingsan seketika akibat benturan keras di kepalanya.


Adam, El dan Alana tidak menyia-nyiakan kesempatan. mereka segera keluar dari mobil tersebut.


"ayo lari" Adam menarik El-Syakir dan Alana untuk meninggalkan mobil itu


"jangan kabur woi, anak sialan. sakit sekali leherku"


"kejar, ngapain diam saja" salah satu dari mereka memerintah


Lima orang pria itu mengejar mereka. Alana merasakan pusing di kepalanya akibat terbentur di kaca mobil. dia tertinggal di belakang kedua kakaknya.


"ayo, dek cepatan" El-Syakir menunggu Alana sedang Adam langsung menghampiri adiknya itu


"kenapa...?" tanya Adam


"Lana pusing kak" jawab Alana memegang kepalanya


"aku gendong. ayo cepat naik" Adam jongkok di depan Alana dan segera Alana naik ke atas punggung Adam


mereka kembali berlari, sementara kelima orang itu sudah semakin dekat dengan mereka.


"lebih baik kita sembunyi kak" ucap El


"sembunyi dimana, nggak ada tempat persembunyian" jawab Adam. sesekali dia berhenti dan mengangkat tubuh Alana


"kak kayaknya ini wilayah yang dekat dengan rumah lama" ucap El saat dia memperhatikan sekitar


"lihat baik-baik lagi, kalau iya berarti kita harus ke rumah lama" timpal Adam masih terus berlari walau sebenarnya sudah lelah begitu juga dengan El-Syakir


"woi berhenti kalian. cepat sedikit, masa kita kalah sama bocah"


"turunkan Lana kak, kak Dirga sudah sangat lelah pasti" Alana menghapus keringat yang ada di kening Adam


"sebelum kita aman, kakak nggak akan menurunkan kamu" jawab Adam


"kak ini benaran di dekat rumah lama. di pertigaan sana kita belok kiri" El-Syakir meyakinkan Adam


"gantian, biar aku lagi yang gendong Alana" ucap El


ciiiit


tanpa mereka sadar sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Adam yang tidak bisa menghentikan larinya langsung tertabrak oleh mobil tersebut bersama dengan Alana.


"kak Dirga, Alana"


El-Syakir menghampiri keduanya. Adam dan Alana terpental mendarat di aspal. siku dan lutut Alana terluka sedang Adam kepalanya terbentur tiang listrik. darah segar mengalir dari kepala Adam.


"mau lari kemana...? beberapa orang keluar dari mobil dan menghampiri mereka


"lama banget sih kalian. kami sampai kelelahan mengejar mereka" orang-orang yang mengejar mereka tadi datang dengan nafas ngos-ngosan


"bawa masuk ke dalam mobil dan antar ke gudang. bos sudah menunggu di sana" ucap salah seorang


"baik"


dengan kasar mereka menarik paksa ketiganya. Adam tidak dapat melawan begitu juga El-Syakir. mereka dibawa masuk ke dalam mobil dan kemudian meninggalkan tempat itu. tujuan mereka malah searah dengan rumah lama ayah Adnan, bahkan rumah itu mereka lewati dan hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah yang paling ujung, jauh beberapa meter dari rumah yang lain.


ketiganya dibawa keluar dan di bawa masuk ke dalam rumah. rumah yang masih terlihat bagus namun seperti tidak terurus. rumah itu sepertinya sudah lama ditinggal pergi pemiliknya.


"bos, ini mereka" ketiganya di dorong dan tersungkur ke lantai


"halo putra-putri Sanjaya, kita bertemu lagi" seorang pria yang seumuran dengan ayah Adnan sedang duduk di sofa dan mengisap rokoknya


"cih, sudah aku duga akan ada pembalasan dendam seperti ini" Adam tersenyum sinis menatap pria yang ada di depannya itu


"apa yang kalian lakukan pada anakku dan juga usahaku, akan aku balas. kira-kira seperti apa nanti reaksi pak Adnan jika ketiga anaknya dalam keadaan bahaya" dia mematikan api rokoknya


"aku tidak kaget darimana Freya mendapatkan sikap licik seperti itu. ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" cibir El-Syakir


"DIAM KAMU"


plaaaak


"kak El"


Alana kaget saat tangan besar pria itu mendarat keras di pipi El-Syakir. El menutup mata, tamparan itu membuat hidungnya mengeluarkan darah.


"bajingan"


"aaaggghh, brengsek"


tidak terima adiknya ditampar, Adam berdiri dan membenturkan kepalanya di hidung pria itu. pria itu teriak kesakitan dan hidungnya pun berdarah.


"kurang ajar. habisi mereka dan kirim mayat ketiganya ke orang tua mereka" pria itu memerintah dengan amarah yang menggebu


blitzzz


blitzzz


baru hendak menyerang, lampu tiba-tiba saja menjadi eror. kadang mati setelah itu hidup lagi dan begitu seterusnya hingga kemudian lampu tersebut mati seketika.


keadaan sekarang menjadi gelap gulita. anak buah papa Freya mengambil hp masing-masing dan menyalakan senternya. saat itu juga ketiga sandera mereka sudah tidak ada di tempat itu.


"kurang ajar, kemana mereka pergi" papa Freya begitu emosi


"cari mereka sampai ketemu"


"baik bos"


buaaak


kraaaak


"aaaggghh"


baru selesai memerintah, salah satu anak buahnya teriak kesakitan.


"kenapa kamu...?" temannya mendekatinya


"tanganku patah, sakit sekali"


jebret


kraaaak


"aaaggghh...bangsat"

__ADS_1


kini yang menghampiri itu menjadi korban selanjutnya. pukulan keras mendarat di perut mereka dan tangan kanan keduanya patah.


buaaak


buaaaak


seketika mereka langsung tidak sadarkan diri. lampu masih belum juga menyala. suasana yang gelap membuat mereka waspada dengan serangan yang mendadak.


"hmmm...hmmm...hmmm"


senandung kecil terdengar di sudut ruangan. mereka mengarahkan senter ke arah suara namun tidak ada siapapun di sana.


"ANAK-ANAK SIALAN, BERANINYA KALIAN MEMPERMAINKAN KU" papa Freya berteriak marah


aaaggghh


buaaaak


praaang


satu persatu anak buah papa Freya dihajar oleh Adam dan El-Syakir. gelapnya ruangan membuat mereka lebih leluasa untuk bergerak karena tidak terlihat.


"yang berdiri di sebelah kanan bos kalian. silahkan memilih, leher yang patah atau....kaki kanan buntung"


gleg


pria yang berdiri di sebelah kanan papa Freya langsung meneguk ludahnya dengan susah. dia secepat kilat berpindah tempat ke sisi kiri.


"ck ck ck, dasar panci"


"banci kak. panci mah yang buat masak"


"Lana suka masak, apalagi daging manusia pasti heeemmm enak deh kayaknya"


"bos, kita kabur saja. sepertinya mereka bukan anak-anak yang harus diremehkan" salah satu dari mereka mulai merinding tatkala mendengar Alana ingin memasak daging manusia


"dasar bodoh. mereka hanya anak-anak sialan. bagaimana bisa kalian takut dengan mereka. saya sudah membayar mahal kalian. sekarang cari dan tangkap anak-anak kurang ajar itu" papa Freya memukul wajah anak buahnya itu


"yuhuuuu...kami di sini" teriak Adam


mereka mengarahkan senter ke arah suara. di sana Adam dan El sedang berdiri dan tersenyum manis ke arah mereka.


"hai, kalian mencari kami...? kangen ya...?" ejek El


"tangkap mereka" teriak papa Freya


dengan langkah panjang mereka mendekati Adam dan El untuk menghajar keduanya. sayangnya belum sampai di keduanya, kaki mereka malah dikait dengan tali hingga akhirnya mereka jatuh tersungkur ke lantai. rupanya mereka memaksa perangkap, Alana yang menarik tali itu.


"hajar El" teriak Adam


buaaaak


buaaaak


kraaaak


aaaggghh


Adam dan El-Syakir menghajar mereka dengan kayu balok. anak buah papa Freya teriak kesakitan bahkan kini mereka sudah tidak berdaya lagi. kini tinggal papa Freya seorang diri. semua anak buahnya telah menjadi bulan-bulanan ketiga putra-putri Sanjaya grup.


blitzzz


blitzzz


lampu kembali menjadi seperti lampu di diskotik hingga akhirnya ruangan itu kembali terang seperti sebelumnya.


papa Freya kaget semua anak buahnya sudah tidak sadarkan diri di lantai. bahkan ada yang saling menindih akibat ulah dari ketiga remaja itu.


"waduh pada K.O semua" ucap Alana


"giliran bosnya yang sekarang dibuat K.O" ucap Adam tersenyum menyeringai ke arah papa Freya


"cih, anak bocah seperti kalian bukan tandingan ku"


papa Freya mengambil pistol di balik bajunya kemudian bersiap menembak salah satu dari mereka. Alana yang kaget langsung memeluk El-Syakir. namun saat menarik pelatuk pistolnya, tidak terjadi apapun. peluru pistol itu tidak keluar dari sarangnya.


"ada apa ini, kenapa begini" papa Freya bingung. pasalnya dia mengisi peluru pistol itu dengan penuh tadi


rupanya Adam menggunakan kekuatannya untuk menahan agar pistol itu tidak berfungsi.


"ck payah. kayaknya pistol mainan tuh" ledek Adam


Alana yang mendengar ucapan Adam langsung menoleh ke arah kakaknya itu.


"mau aku ajari cara menggunakan pistol yang baik dan benar om" ucap El maju selangkah


"begini caranya" El-Syakir langsung mengarahkan pistol yang dipegangnya ke arah papa Freya. sontak membuat pria itu kaget dan dia pun langsung mengarahkan pistolnya kembali ke arah El


"ck, pistol om nggak berfungsi lagi loh. yakin masih mau melawan" ejek El-Syakir


"banyak bacot kamu anak kecil" papa Freya kembali menarik pelatuk pistolnya namun lagi-lagi pistol itu tidak berfungsi


"sialan" dia melempar pistol itu dan mengambil pistol yang ada di lantai milik anak buahnya namun dengan refleks El-Syakir menembak lantai sehingga terdengar suara tembakan yang cukup keras


"astaghfirullahaladzim, astoge astoge astogeeee...." Adam kaget seketika begitu juga dengan Alana. terlebih lagi papa Freya yang sekarang sedang meringkuk di lantai dan mengangkat tangan ke atas


"heh Maemunah, markonah sikonah sikonah. kalau mau nembak bilang-bilang Napa. hampir copot jantung aku" Adam mencebik ke arah El


"tau nih kak El, Alana kaget tau" Alana pun ikut memarahi El-Syakir


"ya maaf, gerakan refleks mah tadi" El-Syakir cengengesan dan menggaruk kepala. sebenarnya dia pun tidak menyangka akan berani menarik pelatuk pistolnya


melihat mereka sibuk berdebat, papa Freya menggunakan keseimbangan itu merampas pistol yang ada di tangan El-Syakir. namun rupanya El-Syakir dengan cepat menendang kaki pria itu kemudian dia memukul tengkuknya hingga papa Freya pingsan seketika.


"waduh, kak... mati dia" ucap Alana


El-Syakir duduk dan memegang hidungnya memeriksa apakah pria itu masih bernafas atau tidak.


"aman" ucap El dan berdiri


"terus kita apakan mereka...?" lanjut El


"ditinggalin aja, pulang aja yuk" ajak Alana kepada kedua kakaknya


"tunggu sebentar, kita ikat mereka agar tidak kabur. besok kita beritahu Furqon dan Ardi untuk mengurus mereka semua" timpal Adam


Adam mengambil tali kemudian mereka mengikat semua orang-orang itu termasuk papa Freya. setelah itu mereka meninggalkan rumah tersebut.

__ADS_1


sudah larut malam, hawa dingin mulai menusuk kulit. untungnya mereka memakai jaket yang mereka beli di pasar malam.


"nginap di rumah lama aja yuk, Alana udah nggak kuat jalan" ucap Alana


"ya sudah, aku juga sudah sangat lelah" timpal Adam


"tapi kita belum memberi tahu ayah sama ibu" ucap El


"kita tinggal memberitahu paman Edward, ayo aku sudah mengantuk sekali" Adam bukan hanya mengantuk namun juga dirinya lelah seharian berlari hingga harus melawan orang-orang suruhan papa Freya meskipun dirinya dibantu oleh El-Syakir


"kalau begitu suruh saja paman Edward datang menjemput kita di rumah lama" ucap Alana


"iya, seperti itu saja. kalau begitu kita ke rumah sekarang" timpal El


larut malam itu, mereka masih berada di luar. malam ini mereka hanya bertiga tidak bersama tim samudera yang lain. untungnya Adam dan El-Syakir memiliki kemampuan bela diri kalau tidak mungkin sampai sekarang mereka masih di sekap di rumah yang tidak berpenghuni itu.


"halo mba Kun...mas poci" Adam melambai-lambaikan tangan saat mereka telah sampai di depan rumah


kedua makhluk itu membalas lambaian Adam. mereka tersenyum namun senyuman itu akan terlihat mengerikan bagi mereka manusia biasa yang tidak pernah terlibat dalam masalah dunia gaib.


"yah, gue lupa bawa kunci" El-Syakir menepuk jidatnya


tentu saja dirinya tidak membawa kunci rumah itu. mereka keluar mengikuti Edward saja hanya bermodalkan pakaian di badan bahkan tidak membawa uang.


"telpon paman Edward sekarang" ucap Adam


El-Syakir merogoh HP-nya dan mulai mencari nomor Edward. Alana dan duduk di kursi sambil berpelukan. keduanya mulai kedinginan, angin malam tentu akan menusuk ke dalam tubuh.


"malah nggak aktif" gumam El


kembali dia menekan nomor Edward dan menghubunginya lagi, sama seperti tadi nomor pria itu tidak bisa dihubungi.


"nggak aktif, gimana ini" El-Syakir ikut duduk


"masa iya kita tidur di luar begini" Alana merengek


"teman-teman yang lain mungkin masih ada yang belum tidur. coba kirim pesan di grup" ucap Adam


El-Syakir mencari aplikasi pesan dan mulai mengetik di hp miliknya.


grup tim samudera


El-Syakir : masih ada yang belum tidur...?


1 detik


2 detik


3 detik


tidak ada balasan dari teman-temannya. El-Syakir berpikir mungkin mereka telah lelap dalam mimpi


ting


lama menunggu pesan masuk di hp El-Syakir, segera dia memeriksa siapa tau itu adalah salah satu dari teman-temannya.


Bara : gue masih melek nih, kenapa El...?"


El-Syakir : Bar, boleh minta tolong nggak...?


Bara : minta tolong apa...?


El-Syakir : jemput gue, Adam sama Alana di rumah lama gue. kita nggak bisa masuk soalnya


Bara : lah, ngapain kalian di situ larut malam begini...?


Leo : gue yang jemput sekarang


Vino : perlu teman nggak...?


Melati : kalian kok nggak ngajak-ngajak sih


Starla : ayang, aku ikut


Nisda : bebeb, ikut yah


pada akhirnya tim samudera membalas pesan El-Syakir. dia bersyukur teman-temannya itu dapat di andalkan dalam setiap waktu.


ketiganya menunggu kedatangan tim samudera. Alana dan Adam sudah pulas sambil berpelukan di kursi. El-Syakir tidak memejamkan mata, dia tidak ingin sampai terjadi sesuatu saat dirinya ikut terlelap.


dia melihat video di YouTube untuk mengusir rasa bosannya, kemudian masuk sebuah panggilan ke hp-nya.


๐Ÿ“žpaman Edward


El, kalian dimana...?


๐Ÿ“ž El-Syakir


paman kemana aja sih dari tadi El telpon tapi nggak masuk-masuk


๐Ÿ“žpaman Edward


hp paman lobet. sekarang kalian dimana, biar paman jemput


๐Ÿ“ž El-Syakir


di rumah lama paman, paman nggak akan tau. biar teman-teman El yang datang jemput. beritahu ayah sama ibu saja kalau kami berada di rumah lama


๐Ÿ“žpaman Edward


kalian nggak apa-apa kan...?


๐Ÿ“ž El-Syakir


nggak paman, kami baik-baik saja. paman nggak usah khawatir


๐Ÿ“žpaman Edward


ya sudah, paman tutup kalau begitu. langsung pulang kalau teman kalian sudah jemput


๐Ÿ“ž El-Syakir


iya paman


panggilan di matikan. El-Syakir menguap, matanya sudah sangat berat untuk terbuka namun dia harus memaksa diri untuk tidak tidur.


dalam menunggu kedatangan tim samudera, seketika suasana di tempat itu menjadi mistis. dinginnya malam kini semakin bertambah bahkan El-Syakir dapat merasakan hawa dingin yang lain dari biasanya.

__ADS_1


__ADS_2