
"kami pulang dulu ya Seil" ucap Alana saat mereka hendak akan pamit pulang
"iya, hati-hati di jalan" jawab Seil
mereka pun meninggalkan rumah Seil. setelah semuanya tidak terlihat lagi, Seil masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
dalam perjalanan handphone Adam bergetar, dia dapat merasakannya karena berada di saku celananya. Adam menepikan motornya untuk menerima panggilan masuk. yang lainnya pun ikut berhenti.
📞 Adam
iya paman, ada apa...?
📞 Zidan
lagi dimana...?
📞 Adam
di jalan pulang paman
📞 Zidan
paman minta tolong ya, belikan manisan kedondong tantemu
📞 Adam
baik paman, nanti Dirga carikan
📞 Zidan
ya sudah, hati-hati di jalan kalau pulang
📞 Adam
iya paman
"cari dimana ya" Adam menggaruk kepalanya, handphone miliknya ia simpan kembali di saku celananya
"kenapa dam...?" tanya Vino
"paman Zidan meminta dibelikan manisan kedondong untuk tante Vania. cari dimana ya" jawab Adam
"kalau manisan di pertigaan jalan menuju rumah gue sih ada, di situ banyak yang jual manisan" Nisda memberitahu
"ya sudah kita ke situ aja, sekalian aku antar kamu pulang" Bara menimpali ucapan Nisda
mereka pun sepakat untuk menuju ke rumah Nisda. benar apa yang dikatakan gadis itu, di pertigaan itu ada yang menjual manisan. mereka singgah di tempat itu sementara Bara langsung mengantar Nisda pulang dan hanya beberapa menit dia kembali lagi.
"kayaknya enak deh, Lana juga mau deh" Alana tergiur
"kamu mau...?" tanya Adam
"mau kak" Alana mengangguk
"gue juga mau" Melati mendekat dan berdiri di samping Adam
"ya udah, pilih aja sendiri nanti aku biarkan" ucap Adam
"ck, pelit banget sih" cebik Melati
Adam hanya tersenyum, setelah memilih dan dibungkus kan, Adam pun membayar.
setelah mendapatkan manisan, mereka hendak pulang namun El-Syakir menahan karena ia melihat seseorang yang ia kenal sedang di kepung beberapa orang.
"itu bukannya kak Deva ya" El menunjuk laki-laki yang dilihatnya
"lah iya, waduh dia dalam bahaya kayaknya" Leo memperhatikan Deva dalam keadaan terjepit
"kita ke sana"Adam segera melesat menghampiri Deva, begitu juga yang lain
"benar-benar nggak ada akhlak. hanya pecundang yang main keroyokan seperti ini" ucap Adam
mereka yang mengepung Deva melihat ke arah Adam, begitu juga dengan Deva sendiri.
"heh bocah, mending kalian pulang sana. mandi, minum susu terus tidur. nggak usah ikut campur urusan orang dewasa" ucap salah satunya
"aku nggak suka susu, sukanya melati" jawab Adam santai
"nggak usah hiraukan mereka. habisi saja dia ini agar tugas kita cepat selesai" ucap yang lainnya menunjuk Deva
"woi, kalau kalian jentel satu lawan satu dong, masa keroyokan. dasar banci" Vino mengejek orang-orang itu
"ngelunjak kalian ya. jangan salahkan kami kalau kalian kami buat babak belur" mereka mulai emsoi
kini Adam, El-Syakir, Leo, Bara dan Vino berjejer bersiap menghadapi orang-orang itu. sementara Deva pun mempunyai seseorang yang akan menjadi lawannya.
"hajar mereka" teriak salah satunya
buaaaak
buaaaak
bughhh
bughhh
kraaaak
"aaaaa"
__ADS_1
jebret
"kurang ajar"
"bunuh saja mereka sekalian"
"kak El, kak Dirga hati-hati"
"aduh gimana nih, masa kita nonton saja" Melati mulai panik
"tetap tenang Mel, mereka pasti bisa mengalahkan orang-orang itu" ucap Starla
"tapi mereka bawa pisau tajam"
"Mel, bahkan kita pernah melawan lebih dari cunguk itu loh, elu kok panik banget" ucap Nisda
sementara para laki-laki masih terus bertarung dengan orang-orang itu. tidak butuh waktu lama, mereka telah menumbangkan orang-orang itu. dengan sudah babak belur orang-orang itu pergi meninggalkan tempat itu dengan motor mereka.
"kamu nggak apa-apa...?" tanya Adam
"aku baik-baik saja, terimakasih sudah menolongku" ucap Deva
"mereka siapa sih kak, kok niat banget mau habisi kakak" tanya Alana
"hanya orang iseng yang memalak minta uang" jawab Deva
(dia ini seperti orang misterius saja) batin Adam memperhatikan Deva
"Deva" seorang gadis datang menghampirinya
"kamu nggak apa-apa kan, nggak terluka kan...?" dia nampak khawatir dengan kondisi Deva
"aku baik-baik saja Nadila, mereka membantuku" ucap Deva
"terimakasih sudah membantu kami" ucap gadis yang bernama Nadila itu
"sama-sama, kalau begitu kami pamit pulang dulu. kak Deva, kami pergi dulu" ucap El
"iya, sekali lagi terimakasih" jawab Deva
mereka meninggalkan Deva dan Nadila, namun untuk Adam, dirinya berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya ke samping, dia melihat keduanya dari ekor matanya. setelah itu dia pergi meninggalkan keduanya.
Deva menghela nafas panjang dan mendesah berat, ia memijit kepalanya yang terasa pusing.
"kamu baik-baik saja...?"
"aku antar kamu pulang" Deva tidak menjawab dan melangkah mendekati motornya
"Deva" Nadila memanggil dengan pelan
"Nadila, aku sedang tidak ingin membahas apapun. sebaiknya aku antar kamu pulang sekarang" Deva memakai helmnya
Nadila pun mendekat dan memakai helm, setelah itu dia naik di atas motor Deva dan melingkarkan tangannya di pinggang Deva.
Adam, El-Syakir dan Alana baru saja tiba di rumah menjelang magrib. harusnya mereka tiba sejak tadi, namun karena insiden pertarungan, mereka akhirnya pulang terlambat.
Alana ke dapur untuk menyimpan manisannya di dalam kulkas. ia juga memberikan manisan pesanan Vania kepada ART untuk memberikan manisan itu kepada Vania karena dirinya harus bersih-bersih untuk sholat magrib.
tepat tiga hari berlalu mereka merencanakan keberangkatan ke Boneng Gunu, hari ini adalah hari dimana mereka akan melakukan perjalanan ke tempat itu.
Deva dan Seil ikut bersama mereka, selain mengantar, mereka juga bisa dibilang pulang kampung ke tempat dimana mereka tumbuh dulu.
"kalian hati-hati di sana ya, jangan buat aneh-aneh di kampung orang" ibu Arini memberikan nasihat
"iya bu, kami akan bersikap sopan dan santun" jawab El
"berapa lama di sana...?" tanya ayah Adnan
"paling dua hari yah" jawab El
"jangan kangen aku ya, soalnya aku mau menjelajah dulu" Adam bermanja di lengan ibu Arini
"Alhamdulillah, rumah akan aman selama tidak ada kamu" ucap ibu Arini menggoda
"sungguh terlalu, memangnya aku pemberontak apa" sungut Adam memanjangkan bibirnya
setelah berpamitan, mereka menuju ke rumah Seil untuk menjemput gadis itu dan Deva. ayah Seil telah memberikannya izin, itu karena Deva ikut serta dalam perjalanannya mereka itu. ayahnya Seil akan merasa tenang kalau Deva terus mendampingi Seil.
mereka membawa dua mobil, milik Adam dan juga mobil Bara. perjalanan mereka memakan waktu cukup jauh sehingga sangat tidak mungkin untuk menggunakan motor.
kini kedua mobil itu telah terparkir di halaman rumah Seil. nampak Seil dan seorang pria baya menunggu di teras rumah. itu adalah ayahnya Seil.
"assalamualaikum" El mengucapkan salam
"wa alaikumsalam" Seil dan ayahnya menjawab
"sudah siap Se...?" tanya Alana saat menghampiri temannya itu
"sudah Lana, tinggal menunggu kak Deva yang sedang keluar sebentar" jawab Seil
sambil menunggu Deva, Adam berbincang dengan ayahnya Seil. hingga kemudian Deva datang dengan motornya.
"maaf aku terlambat, aku harus mengurus sesuatu tadi" ucap Deva
"nggak apa-apa kak. kalau begitu kita berangkat sekarang" ucap Leo
mereka pun setuju. barang-barang Deva dan Seil dimasukkan ke dalam bagasi mobil. setelah berpamitan kepada ayahnya Seil, mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu.
Adam, El-Syakir, Melati, Alana, Seil dan Deva, mereka satu mobil. sedangkan yang lainnya berada di mobil satunya yang dikemudikan oleh Bara.
__ADS_1
Melati dan Alana lebih memilih duduk di kursi paling belakang, sementara Seil dan Deva di kabin tengah dan untuk El-Syakir berada di samping Adam.
yang tadinya ramai sekarang mulai sepi, ketiga gadis itu sudah tertidur begitu juga dengan El-Syakir. hanya Adam dan Deva yang masih terjaga, tentu saja Adam tidak akan tidur karena dia yang mengemudikan kendaraan.
"boleh aku bertanya...?" ucap Deva yang tiba-tiba bersuara saat sejak tadi hening tanpa suara
"mau bertanya apa, kalau aku bisa jawab maka akan aku jawab" ucap Adam masih fokus menyetir
"nggak, nggak jadi" Deva mengurungkan niatnya
(mungkin bukan dia) batin Deva
saat di rest area, Adam menghentikan mobilnya. mereka semua turun hanya untuk sekedar melepas lelah dan juga mengisi perut yang sudah meminta di isi.
"Se, kamu sudah memberitahu bibimu kan kalau kita akan ke sana" Alana membuka percakapan saat mereka di salah satu warung makan
"sudah, aku sudah menelpon semalam dan bibi Nurma senang kita bisa ke sana apalagi anaknya akan pulang" Seil menjawab
"anak...?"
"iya, bibi Nurma itu ibunya kak Deva adik dari ayah"
"pulang kampung berarti ya kak"
"iya" Deva menjawab dengan pandangan ke arah lain
"kak Deva jarang pulang, makanya saat dengar kak Deva pulang, bibi Nurma senang banget"
(aku yakin pernah melihatnya, tapi dimana ya) Adam begitu penasaran dimana dia pernah melihat Deva sementara Deva pun sangat yakin kalau pernah bertemu dengan Adam sebelumnya
saat itu juga pandangan keduanya saling bertemu. baik Adam maupun Deva tidak memalingkan wajah mereka, keduanya saling beradu tatap dengan lekat dan saling menelisik.
hingga akhirnya handphone Deva bergetar, dia segera memeriksa siapa yang menghubunginya kemudian keluar menjauh untuk mengangkat telpon dari seseorang.
"kenapa kak...?" El bertanya saat Adam hanya diam terpaku
"nggak, nggak ada apa-apa" jawab Adam
setelah makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. hari yang menjelang siang membuat mereka berhenti di salah satu masjid untuk menunaikan sholat dzuhur.
"apakah masih jauh...?" tanya Starla
"kita sudah memasuki kota, paling tidak butuh beberapa jam lagi untuk sampai di Boneng Gunu dan ke desa Bone, di rumah ibuku" Deva menjawab setelah mereka keluar dari masjid
"sebelum kita lanjut perjalanan, bagaimana kalau kita singgah di minimarket untuk membeli buah tangan. masa iya kita pergi nggak bawa apa-apa untuk tuan rumah" Nisda mengusulkan
"boleh juga tuh, sekalian beli Snack untuk cemilan kita di sana, makanan dan sebagainya" Alana setuju
"nggak usah, nggak usah repot-repot membawa makanan, kalian datang untuk sebuah tugas bukan untuk memberikan sembako kepada ibuku" ucap Deva melarang
"maaf kak Deva kalau kami membuat kakak tersinggung, namun niat kami baik. hanya sekedar membelikan buah atau makanan lainnya sebagai rasa syukur kami. ibunya kak Deva mau menumpang kami di rumahnya" El meluruskan jangan sampai terjadi kesalahpahaman
"benar kak, kami nggak punya niat apapun. memang kami seperti ini, selalu membeli makanan apapun untuk cemilan dan sekalian saja untuk orang tuanya kak Deva di rumah" Leo menambahkan
"ya sudah" Deva akhirnya setuju
merekapun mencari minimarket terdekat di tempat itu, beberapa meter di depan sana terdapat perbelanjaan yang mereka cari. segera mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam
"jangan lupa minuman melati ya" ucap Adam, dia tidak ikut masuk dan hanya menunggu di dalam mobil
Deva dan El-Syakir pun sama, yang masuk belanja adalah para perempuan saja sementara laki-laki menunggu mereka di mobil.
setelah selesai belanja, semua belanjaan mereka di simpan di dalam mobil kemudian mereka melanjutkan perjalanan. hingga akhirnya mereka melihat tulisan selamat datang di Boneng Gunu, yang artinya mereka telah sampai di tujuan. tinggal melaju ke desa Bone yang jaraknya sekitar setengah jam lagi.
"di depan sana belok kiri" ucap Deva
Adam tidak menjawab namun tentu ia mendengar ucapan Deva. setelah dekat dengan jalan yang masuk ke lorong, Adam membelokkan mobilnya masuk ke jalan itu.
"mana desanya...?" tanya Melati
"beberapa meter ke depan" jawab Deva
benar saja, setelah beberapa meter maka terlihat rumah-rumah warga yang saling berdekatan. mereka di sambut dengan anak-anak yang sedang bermain di tengah jalan dan juga beberapa ibu-ibu yang duduk bercengkrama di gazebo di depan rumah, di bawah pohon ketapang.
melihat dua mobil mewah masuk ke perkampungan, anak-anak itu berlarian mengejar mobil Adam dan Bara.
Adam pun berhenti dan menurunkan kaca mobilnya begitu juga dengan Bara.
"hai adik-adik" sapa Adam dengan ramah dan lembut
anak-anak itu tidak menjawab, mereka hanya diam karena baru pertama kali itu mereka melihat wajah Adam.
"mau roti nggak...?" tanya Adam
"mau... mau" anak-anak itu mengangguk cepat
"tadi beli rotinya banyak nggak...?" Adam beralih ke Alana dan Melati
"banyak, tapi ada di mobil Bara" Melati menjawab
"kakak ternyata nggak punya roti, tapi kakak kasi ini saja ya" Adam mengeluarkan dompetnya dan memberikan anak-anak itu masing-masing uang 50 rb satu lembar
"waaah makasih kakak baik" mereka semua bersorak dan senang
Bara pun melakukan hal yang sama kepada anak-anak yang mengerumuni mobilnya. setelah mendapatkan uang dari Adam dan Bara, anak-anak itu berlari menyerbu orang tua mereka dan memperlihatkan yang dikasi tadi.
"kak Adam baik banget, padahal mereka tadi banyak loh kak" Seil kagum melihat Adam
"tenang aja, kalau habis tinggal porotin uang El saja" Adam menjawab santai dan kembali menyalakan mobilnya
__ADS_1
"ujung-ujungnya gue juga yang jadi pelarian" cebik El dan Adam hanya cengengesan
Deva melihat ke arah anak-anak itu, betapa senangnya mereka mendapatkan uang tersebut. dia pun melihat Adam yang sedang menyetir, dia kagum Adam begitu royal kepada anak-anak itu.