
"bagaimana keadaannya Edward...?" ayah Adnan bertanya. saat ini Edward sedang memeriksa Alana. sebagai seorang dokter untungnya Edwar membawa perlengkapan medis di dalam mobilnya
"dia hanya shock saja, hanya butuh istirahat. tidak ada luka yang serius, hanya luka di bagian pelipisnya" Edward menjawab setelah memeriksa Alana
"syukurlah" ibu Arini mencium kening Alana
"sebaiknya Alana dibawa pulang saja mas" ucap Zidan
"iya lebih baik seperti itu, biar dia istrahat di rumah" Cecil menimpali
"baiklah, biar Alana di bawa pulang" jawab ayah Adnan
"ayah di sini saja bersama paman Zidan, biar El, ibu dan kak Dirga yang menemani Alana di rumah" ucap El-Syakir
"ada kami juga om, kami akan ikut pulang" ucap Bara
"iya ayah, masih banyak kolega ayah di luar. nggak enak juga meninggalkan mereka. lagipula kondisi Alana baik-baik saja" ibu Arini meyakinkan ayah Adnan yang terlihat bimbang
"ya sudah, kalian hati-hati" ayah Adnan akhirnya setuju
Adam menggendong Alana, mereka keluar dari kamar dan meninggalkan hotel bersama tim samudera yang lain.
"Seil boleh ikut nggak...?" gadis itu datang menghampiri mereka saat mereka akan masuk ke dalam mobil
"tapi kakakmu harus tau" jawab El
"kak, aku boleh ya ikut ke rumah Alana...?" Seil melihat ke arah laki-laki yang sedang berdiri di tangga hotel
"iya, nanti kakak jemput" ucapnya mengiyakan
"makasih kak"Seil berlari memeluk kakaknya kemudian kembali lagi dan masuk ke dalam mobil
setelah itu dua mobil meninggalkan hotel berbintang tersebut. sedangkan kakaknya Seil pun meninggalkan hotel menggunakan sepeda motornya. mereka bukan orang berada namun saat di mall waktu bertemu dengan jin yang menyerupai Alana, mereka diundang untuk ke pesta pernikahan itu. Pram, Helmi dan Randi pun mengundang Seil dan kakaknya karena mereka teman Alana.
sementara di dalam hotel, seseorang yang sedang memegang gelas minumannya menghubungi seseorang.
π bagaimana bos, apa kita hanya melihat saja tanpa membuat rencana...?"
πjangan, biarkan saja mereka menikmati acara itu, ada saatnya kita akan bergerak
πbaik bos
setelah mematikan panggilannya, dia menghabiskan minuman itu dan meninggalkan pesta tersebut.
"Seil, tadi itu kakakmu...?" tanya Melati
saat ini Seil berada di dalam mobil Bara yang menjadi tumpangan tim samudera. untuk Adam dan El-Syakir, berada di mobil yang lain.
"iya, dia kakak aku. kenapa...?" tanya Seil
"nggak, gue hanya tanya saja" jawab Melati
"mau beralih haluan kah Mel...?" tanya Leo
"nggak lah, Adam tetap yang utama" jawab Melati, dia sudah tidak sungkan lagi mengatakan itu. lagipula semua anggota tim sudah tau termasuk juga Adam namun mantan hantu itu sampai sekarang belum juga memperlihatkan ketertarikannya. entah sudah atau dia sedang jual mahal
"semangat Mel, jangan berhenti sampai mendapatkan hatinya" Vino memberi semangat
"kak Melati suka sama kak Adam ya...?" tanya Seil
"bukan suka lagu Seil, tapi sudah ter Adam Adam tuh hatinya" timpal Starla
"oh ya. tapi kak Adam sama kak Melati cocok kok. semoga cepat berhasil memperjuangkan cinta" Seil tersenyum
"makasih Seil" timpal Melati
setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai juga di rumah mewah Sanjaya grup. Seil sampai ternganga di buatnya, baru kali ini dirinya pertama kali datang di rumah tersebut.
"besar banget rumahnya" Seil takjub dan kagum
"namanya juga sultan" jawab Vino
mereka keluar dari mobil. Adam kembali menggendong Alana dan masuk ke dalam rumah. Alana sudah sadarkan diri sejak di perjalanan tadi. Leo menatap sendu ke arah gadis itu. meskipun dirinya ingin menjadi yang pertama namun tetap saja dia tidak bisa melangkahi Adam dan El-Syakir sebagai kakak dari Alana.
"kamu mau makan sayang...?" tanya ibu Arini
"iya bu, Alana lapar" jawab Alana. memang sejak tadi mereka belum sarapan dan di pesta pun mereka hanya mencicipi beberapa kue
"ya sudah, ibu siapkan dulu makanan. kalian juga makan ya, ayo ikut ibu ke meja makan" ucap ibu Arini kepada mereka semua
__ADS_1
"iya tante, kebetulan aku memang lapar" ucap Vino
"ya sudah, ayo. Alana biar sendiri dulu, nanti ibu datang bawakan makanan untuknya" ucap ibu Arini
mereka semua ke meja makan, ibu Arini di bantu oleh ART menyiapkan makan siang. setelah siap mereka langsung menyantap makanan itu. ibu Arini membawakan makanan ke kamar Alana.
"makan yang banyak Seil, jangan malu-malu" ucap Adam
"iya kak" jawab Seil tersenyum
El-Syakir ingin mengambil perkedel di depannya namun ternyata Seil pun juga ingin mengambil makanan itu sehingga kini tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. tangan Seil berada di atas tangan El-Syakir.
mereka berdua saling pandang. Seil begitu terpana dengan tatapan El-Syakir. bahkan dia belum juga mengangkat tangannya.
"ekhem, romantis bener" ucap Nisda membuyarkan lamunan mereka
"m-maaf" Seil seketika menarik tangannya
El-Syakir mengambil perkedel itu dan menyimpannya di piring Seil. setelah itu dia mengambil untuk dirinya sendiri. Seil tersenyum tipis mendapat perhatian kecil seperti itu.
setelah selesai makan, mereka ke ruang keluarga sementara meja makan di bereskan oleh ART di rumah itu.
"nggak nyangka banget loh gue, Freya sama Anggi bisa senekad itu" Starla memulai percakapan
"dibutakan oleh cinta, ya sudah seperti itu jadinya" timpal Leo
"dan yang lebih nggak masuk akal, mereka cemburu sama Alana yang jelas-jelas adik dari Adam dan El. gila banget kan" ucap Nisda
"mungkin mereka belum tau kalau Alana adik kak Adam dan kak El" timpal Seil
"dan sekarang mereka harus berada di penjara untuk sekian tahun ke depan" ucap Bara
"itu pantas mereka dapatkan. tapi kak apa nggak keterlaluan, kakak meminta ayah untuk memutuskan kerjasama dengan perusahaan orang tua mereka dan menarik investasi yang ayah berikan" El mulai bersuara
"memangnya kenapa, biarkan saja. aku nggak peduli pada orang yang sudah membuat orang yang aku sayang terluka. mereka harus membayar dua kali lipat dari apa yang Alana rasakan" Adam menjawab dengan santai
"tapi....orang tua mereka nggak tau apa-apa loh kak"
"dunia bisnis itu kejam El, salah langkah maka kamu akan habis. lagipula mereka tidak akan jatuh bangkrut setelah ayah memutuskan kerjasama dengan mereka. paling ya, kehidupan mereka berubah drastis. dari kaya menjadi sederhana" Adam tidak mengatakan miskin karena itu menurutnya ucapan yang tidak baik
"habisnya kalian berdua ganteng sih, makanya punya wajah itu jangan terlalu ganteng supaya nggak jadi rebutan cewek-cewek" ucap Vino
"yang suka sama elu udah ada kali dam, elunya aja yang nggak merespon sama sekali" timpal Leo melirik ke arah Melati
"aku mau ngambil cemilan, kalian mau nggak...?" Adam mengalihkan pembicaraan dan beranjak dari duduknya
"boleh boleh, minumnya yang dingin ya dam" ucap Vino mereques
Adam meninggalkan mereka menuju dapur. dia membuat minuman sendiri karena tidak mendapati ART di dapur. dirinya juga malas untuk teriak.
"gue bantu ya" Melati datang menghampirinya
"ambilkan saja kue di kulkas dan simpan di piring" ucap Adam yang sedang membuat minuman
Melati membuka kulkas dan mengambil kue dan juga beberapa cemilan lainnya. setelah itu dia simpan di atas piring.
"dam" panggil Melati
"humm" jawab Adam
"kamu kenapa seperti menghindari aku"
"sejak kapan, aku memang seperti ini" Adam mengambil gula karena minumannya kurang manis
"setelah apa yang aku katakan di toko bunga kemarin, kamu jadi mulai menghindar. apa salah yang aku ucapkan kemarin itu"
"nggak ada yang salah Mel. aku saja yang nggak bersyukur dicintai gadis cantik dan strong seperti kamu"
"terus kalau nggak ada yang salah, kenapa malah menghindar. kenapa nggak jawab pertanyaan aku"
Adam menghentikan kegiatannya dan berbalik melihat ke arah Melati. Melati menatap sendu ke arah Adam.
sebenarnya ratu Sundari dulu pernah menawarkan kepada Melati untuk membuat Adam langsung menerima Melati. ratu Sundari akan mengubah semua ingatan Adam tentang dirinya berubah menjadi ingatan Adam tentang Melati. seakan-akan kenangan Adam yang dia punya tentang ratu Sundari adalah kenangan yang ia punya dengan Melati. namun gadis itu menolak. kalau seperti itu sama saja Adam menerima Melati karena bayang-bayang dari ratu Sundari. Melati tidak ingin itu, dia ingin berjuang sendiri mendapatkan hati Adam.
"kamu cantik Mel, hanya saja aku...."
"kamu kenapa...? apa kamu sudah menyukai gadis lain...?"
"bukan, aku...."
__ADS_1
"jangan katakan kalau itu akan membuat aku terluka. cukup lihat aku, aku akan tetap berjuang sampai suatu saat kamu hanya akan melihat aku dan mengatakan kalau kamu sayang sama aku" Melati mengatakan itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca
perasaan memang tidak bisa dipaksa, namun Melati tidak ingin menyerah begitu saja. bukankah terkadang perasaan manusia bisa berubah-ubah kapan saja. dirinya sudah sejauh ini, bahkan ratu Sundari merelakan Adam untuknya. untuk berhenti sampai di sini, Melati tidak akan pernah melakukannya.
"perasaan itu akan timbul seiring berjalannya waktu, jadi tolong beri aku kesempatan. jangan menghindar dan tetap bersamaku. jika nanti kamu benar-benar tidak bisa menerimaku, maka aku berjanji akan mundur dan tidak akan menggangu kamu lagi" Melati memegang tangan Adam
ada perasaan lain dihati Adam saat melihat Melati bersungguh-sungguh ingin bersamanya. dia tidak bisa melihat seorang gadis menangis hanya karena dirinya, Adam merasa menjadi pecundang saat dia melihat Melati meneteskan air mata dan itu semua karenanya.
sakit hati sudah Melati rasakan saat Adam masih mengingat ratu Sundari dan bahkan menjalin kasih dengan wanita cantik itu. namun perasaan itu tidak bisa dia hilangkan begitu saja. semakin hari semakin besar. dia tau akan seperti ini, namun dia tidak ingin menyerah. pengorbanan ratu Sundari akan sia-sia jika dia berhenti begitu saja.
"jangan menangis, aku nggak suka ada gadis yang menangis hanya karena aku" Adam menghapus air mata Melati
"jangan menghindar. tetap seperti dulu, tetap bersamaku. bagaimana bisa kamu akan merasakan kehadiranku dan menerimaku jika kamu menutup diri untukku" Melati memegang tangan Adam yang berada di pipinya
"baiklah, aku akan membuka diri untukmu. tetap berjuang sampai aku benar-benar bisa menerimamu. mungkin sekarang masih 10%, maka sisanya kamu masih harus berjuang" Adam mengatakan sesuatu yang melegakan hati Melati
"10%...?" tanya Melati
"itu artinya kamu sudah mulai mempunyai perasaan padaku, iya kan...?" Melati terlihat senang
"sedikit" jawab Adam
"mungkin segini" Adam memperlihatkan ujung kukunya
"nggak masalah, 10% bagiku itu sudah sebuah kemajuan. aku akan berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan kamu"
Melati begitu senang, dia segera memeluk Adam. hatinya sangat senang, langkah awal yang baik baginya untuk kembali berjuang.
karena telah mengatakan untuk membuka diri, Adam dengan ragu membalas pelukan Melati. ada perasaan haru saat melihat wajah bahagia di kedua mata gadis itu.
meskipun sebenarnya ada yang mengganjal di hatinya. Adam merasa ada satu kenangan yang dia pernah lalui tapi entah dengan siapa dirinya juga tidak tau. dia terus mengingat itu namun bagaimanapun usahanya dia tidak pernah bisa mengingat.
mungkin kini saatnya Adam melupakan itu karena dirinya juga lelah terus mengingat namun dia tidak pernah bisa. sepertinya dirinya akan membuka hati untuk gadis yang kini sedang memperjuangkan dirinya.
"so sweet banget" ucap Starla. lagi-lagi mereka mengintip
"semoga Adam dapat membuka hatinya. kasian Melati terus berjuang" ucap Bara
"iya, semoga saja" ucap El
"balik yuk, capek juga tau intip orang kasmaran" El berbalik kembali ke ruang keluarga
"Adam sepertinya udah nggak akan jomblo lagi, tinggal elu El yang masih jomblowan aja sampai sekarang" ucap Leo
"malas gue mikirin itu" jawab El bersandar di sofa
"El, elu normal kan...?" tanya Vino
"maksudnya...?" El bertanya balik
"dari dulu elu nggak pernah melirik cewek. jangan-jangan elu suka diantara kami bertiga lagi" Vino menjauh perlahan
"iw amit-amit" Bara merinding
"kampret lu" El melempar Vino dengan bantal sofa
"Seil, elu nggak punya pasangan kan. sama El aja mau nggak...?" Vino malah menjadi mas jomblang
"heh, sembarangan kalau ngomong. jangan dengarkan dia Seil, dia memang rada miring" El semakin dibuat kesal oleh Vino
Seil tidak menjawab. dia hanya tersenyum melihat perseteruan kedua sahabat itu. siapa yang tidak ingin bersama El-Syakir, dia pun pasti mau namun tetap saja dirinya tidak akan bisa menggapai kakak dari teman kelasnya itu. perasaan kagum hanya tersimpan di hatinya.
"minumannya datang" Adam datang bersama Melati
"keliling kemana dulu pak, bikin minuman lama benar kayak setaun" Leo mencibir
"mau minum atau aku ambil kembali" ancam Adam
"eh jangan dong, galak amat pak"
merekapun melewati waktu dengan bersantai di ruang keluarga. sesekali tawa mereka terdengar menggema di dalam rumah yang besar itu.
____________________________________________
bagi kemarin-kemarin yang minta double up, sekarang aku udah kasih ya.
terimakasih banyak sudah membaca petualangan mistis di setiap episode barunya.
sehat-sehat untuk kalian semua. jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya ya, komentar positif dan bila perlu vote juga sekalian biar akunya senang πππ€πππ
__ADS_1