
"Bayu mau makan apa dek...?" Starla bertanya, kini mereka telah berada di warung makan
"mau makan nasi" jawabnya polos
"nasi goreng apa nasi ayam, atau nasi pecel...?" kini Nisda yang bertanya sambil membuka menu yang ada di tangannya
"nasi goreng, Bayu suka nasi goreng. kak Melani sering membuat nasi goreng untuk Bayu" Bayu menunjuk nasi goreng di dalam buku menu dengan jari telunjuknya
"oke, Bayu nasi goreng ya. kalian apa gais...?" Nisda melihat teman-temannya
"gue nasi pecel" jawab El
"gue nasi ayam deh" ini Vino
"gue samain aja sama kamu yank" ucap Bara
"aku melati ya" Adam pun menimpali
"nggak ada melati di sini dam, yang ada tuh minuman, teh pucuk melati" Vino menunjuk minuman yang ada di dalam pendingin
"nggak mau, aku maunya melati" Adam mulai merajuk
"El, mau melati" lanjutnya yang mulai manja
"ya udah ayo kita cari melati" El memang tidak bisa menolak kemauan Adam
"yeeeeeeiiii.... makasih adikku ganteng" Adam dengan cepat memeluk El-Syakir
" kalian tunggu gue di sini ya" El berdiri dari tempat duduknya
"lah terus makanannya gimana...?" Bara bertanya
"simpan lah sampai gue datang. ayo kak" ajak El
"emang elu udah sanggup bawa motor...?" Vino bertanya
"sanggup, udah baikan gue. La, kunci motor gue mana...?"
"nih" Starla memberikan kunci motor kepada El-Syakir, karena dirinya dan Nisda yang membawa motor itu
"oke, thanks"
El dan Adam berlalu keluar dari warung makan, mereka mengendarai motor dan membelah jalan raya. sementara Nisda mulai memesan makanan yang mereka inginkan.
"kakak tadi mau kemana...?" Bayu bertanya karena sejak tadi ia penasaran
"kakak tadi mau membeli sesuatu di luar" Vino menjawab pertanyaan anak itu
Bayu manggut-manggut dan kembali diam. matanya terus berputar melihat setiap orang yang keluar dari warung makan karena mereka telah selesai makan dan ada juga yang baru saja masuk dan mencari tempat duduk.
"kamu sekarang kelas berapa dek...?" Bara bertanya
"masih TK kak, kata kak Melani tahun depan aku masuk SD karena umurku sudah 7 tahun" Bayu menjawab dengan sopan
"eemmmm.... ibu yang tadi datang di rumah kamu, itu siapa...?" Kini Vino yang bertanya
"itu tante Moni, dia kakak dari mama. rumah tadi itu rumahnya tante Moni. Bayu dan kak Melani tinggal di situ karena rumah kami sudah di jual"
"siapa yang jual...?" ini Starla
"tante Moni" jawab Bayu
"sudah ku duga. untungnya dia sudah ditangkap polisi, sekalian dia membusuk aja dipenjara" Vino terlihat geram
"namanya Moni, sama kayak kucing gue" Bara terkekeh mengingat kucing gembulnya yang berada di rumah
"kamu sering dipukul ya sama tante Moni...?" Starla bertanya karena dirinya melihat tanda memar di bagian bahu, dan lengan anak itu
"iya" Bayu mengangguk pelan "tante Moni sering main pukul. Bayu dan kak Melani sering dipukul kalau ada sedikit kesalahan. kemarin Bayu dan kak Melani nggak dikasih makan sampai hari ini, makanya Bayu lapar"
"Allah, tega banget sih itu ibu. pengen gue tenggelamkan di sungai" Nisda geleng kepala mendengar cerita anak usia 6 tahun itu
"sekarang Bayu tenang ya, nggak ada lagi yang akan marahin Bayu dan mukul Bayu. ada kami yang akan melindungi Bayu" Starla memeluk anak itu
siapa yang tidak merasa kasihan, anak sekecil itu harus menanggung lapar dari malam sampai siang hari. orang dewasa saja akan tidak sanggup jika tidak makan seharian, apalagi anak seusia Bayu.
makanan mereka pun datang, Bayu melahap nasi gorengnya, sangat terlihat bahwa anak itu memang sangat kelaparan.
"pelan-pelan dek, nanti keselek" Vino mengingatkan
"iya kak" jawabnya dengan mulut yang penuh nasi goreng
El dan Adam sudah berkeliling mencari toko bunga namun ternyata sampai sekarang mereka tidak menemukan toko tersebut. bahkan mereka sudah jauh berada dari warung makan tadi.
"nggak ada toko bunga disekitar sini kak, gimana dong...?" El berhenti di pinggir jalan
__ADS_1
"yaaah terus gimana, aku kan lapar" Adam mengusap perutnya
"eh tunggu" El-Syakir memperhatikan wilayah tempat mereka sekarang "kayaknya kita ke kebun melati saja deh, kebun melati yang pernah dibeli Leo untuk kakak" lanjutnya
"emang dekat...?" tanya Adam
"dekat, gue baru sadar dimana kita sekarang. tempatnya nggak jauh lagi dari sini. kita ke sana sekarang ya"
"ya udah ayo" Adam bersemangat
El kembali menyalakan mesin motornya dan melaju menuju tempat tujuan mereka. benar saja, hanya beberapa menit mereka sampai di sebuah rumah dimana di samping rumah terdapat bunga melati.
rumah itu adalah rumah dimana jiwa Leo pernah terjebak di dalam lukisan yang ada di dalam rumah tersebut. El turun dari motornya dan melangkah mendekati pintu masuk.
tok tok tok
"assalamu'alaikum" El mengucapkan salam
"assalamu'alaikum" kembali El mengucapkan salam
seorang ibu tergopoh gopoh dari arah samping, ibu tersebut terlihat keluar dari rumah sebelah, tetangga rumah yang El dan Adam datangi. ibu itu mendekati El yang sedang berdiri di depan pintu.
"assalamu'alaikum bu" sapa El dengan senyuman ramah dan mencium tangan ibu itu
"wa alaikumsalam, masha Allah sudah lama kamu tidak ke sini" ternyata itu ada si pemilik rumah yang baru saja datang dari rumah tetangga
"iya bu. ibu apa kabar, sehatkan kan...?"
"alhamdulillah sehat. ayo duduk, ibu buatkan minuman dulu" El dipersilahkan untuk duduk di kursi yang ada di teras
"nggak usah repot-repot bu, makasih. saya hanya datang sebentar, mau petik melati"
"oalah, petik saja sebanyak-banyaknya. kedua teman kamu tidak datang ya"
"nggak bu, mereka ada urusan jadi saya yang datang ke sini"
"ya sudah, kamu ke samping rumah saja petik semau yang kamu inginkan"
"terimakasih bu, saya boleh minta kantung bu...?"
"kantung ya, tunggu sebentar"
si ibu masuk ke dalam rumah dan tidak berapa lama ia kembali lagi dengan kantung plastik yang ada di tangannya. El mengambil kantung itu dan pergi ke samping rumah. di sana sudah ada Adam yang sedang menikmati makanannya itu.
"aku mau banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer ya" Adam mendekati El-Syakir
"kalau tumpah tinggal di pungut lagi lah, apa susahnya" Adam menjawab santai
"serah kakak aja lah"
setelah di rasa cukup, mereka kembali menghampiri ibu tadi yang sedang menunggu di teras rumahnya.
"sudah...?"
"sudah bu, maaf ya saya jadi merepotkan dan mengganggu ibu
" sama sekali tidak, ibu senang kamu datang. kapan-kapan ajak teman-teman mu main ke sini"
"iya bu, in shaa Allah. kalau gitu saya pamit ya bu"
"iya, hati-hati di jalan"
El-Syakir kembali mencium tangan ibu itu dan mereka pun segera meninggalkan rumah tersebut dengan kendaraan yang ia bawa.
saat akan hampir sampai di warung makan yang mereka tuju, di depan jalan sana sudah ramai kendaraan yang berhenti dan mengakibatkan jalanan mulai macet.
"ada apa ya...?" ucap El
"sepertinya kecelakaan" Adam menjawab
El menyelinap untuk bisa sampai di depan sana. dirinya penasaran, apa yang sebenarnya terjadi. dengan penuh kesusahan karena macetnya jalan, pada akhirnya ia sampai juga di tempat kerumunan banyak orang.
"pak, ini kenapa ya...?" El-Syakir bertanya kepada seorang bapak yang ada di sampingnya
"kecelakaan dek, mobil mini bus menabrak pengendara bermotor" jawab si bapak
(Allah, kasian sekali) batin El
El dan Adam tetap berada di tempat itu. dua orang mayat di masukkan ke dalam kantung jenazah dan tiga orang lagi diangkat menggunakan tandu dan di bawa masuk ke dalam mobil ambulan.
tempat titik kecelakaan diberi garis polisi. kedua mayat itu di bawa ke rumah sakit begitu juga tiga orang yang kritis tadi. setelah para korban dievakuasi, semua orang yang berkerumun mulai bubar dan meninggalkan tempat, jalan yang macet mulai normal kembali.
"ayo kak" ajak El-Syakir untuk kembali ke motor mereka
"tunggu" Adam menahan El-Syakir
__ADS_1
"ada apa...?"
"lihat"
El-Syakir membalikkan badannya dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Adam. di tempat kecelakaan itu, dua orang gadis seumuran Starla dan Nisda dengan pakaian yang berlumuran darah sedang berdiri seperti orang yang linglung.
"mereka yang meninggal tadi...?" tanya El
"sepertinya begitu, kita hampiri mereka"
Adam melayang dan El mengikutinya. kedua gadis itu tersenyum saat saat Adam dan El berjalan ke arah mereka berdua.
"kalian bisa melihat kami berdua...?" tanya salah satu dari mereka
"iya. bagaimana bisa kalian kecelakaan dan berakhir tragis seperti ini...?" Adam menjawab
"kami tidak ugal-ugalan tapi mobil itu dengan kecepatan tinggi datang dan menabrak kami"
"kasian sekali, kalian harus meregang nyawa seperti ini" El menimpali
"hiks... hiks... aku masih ingin bertemu ibu dan ayah. aku belum meminta maaf kepada mereka" salah satunya sudah menangis sesegukan
"siapa nama kalian...?" tanya Adam
"aku Imel dan temanku Evi" Imel menjawab
"kami bisa membantu kalian bertemu dengan orang tua kalian sebelum kalian pulang dengan tenang" ucap Adam
"bagaimana caranya...?" Evi menghapus kasar air matanya
belum sempat menjawab, portal yang entah darimana tiba-tiba saja muncul di tempat itu. arwah Imel dan Evi tertarik ke dalam portal tersebut.
"tahan mereka El" Adam menahan Imel sedang El-Syakir menahan Evi
"gue nggak kuat kak" El berteriak
Imel dan Evi terus meminta tolong, keduanya berpegangan di tangan Adam dan El. sayangnya arwah mereka seolah seperti magnet yang terus ditarik untuk masuk ke dalam portal. sampai akhirnya Adam dan El tidak dapat menahan mereka lagi hingga Imel dan Evi tersedot masuk ke dalam portal dan setelah itu portal tersebut menghilang tanpa jejak.
"brengsek" Adam semakin marah karena kejadian Melani terulang lagi kepada Evi dan Imel
"aku semakin yakin kalau mereka di tumbalkan" Adam sangat geram dan mengepalkan tangannya
"lalu apa yang harus kita lakukan...?" El bertanya
dalam keadaan marah, Adam mencium wangi yang sangat dikenalnya, seketika Adam menghilang begitu saja meninggalkan El-Syakir.
"kak... kak Dirga" El memanggil namun Adam tidak kunjung datang
El-Syakir pun mencium wangi yang dikenalnya, matanya berputar melihat sekeliling namun tidak dilihatnya sosok yang ia cari, sampai pada akhirnya wangi itu menghilang dari indra penciumannya.
(apa tadi dia ada sini, tapi dimana, aku tidak melihatnya) batin El yang masih terus mencari bahkan berjalan ke arah kanan untuk mencari sosok yang ia tau wangi itu dari siapa
bughh....
karena tidak hati-hati, El-Syakir menabrak seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.
"maaf Pak, maafkan saya" El-Syakir merasa bersalah
seseorang yang ia tabrak memakai topi koboi, kaca mata hitam, jaket kulit warna hitam, celana jeans dan sepatu fantofel. senyumannya tersungging ke arah El namun sayang El tidak dapat mengetahui wajah pria itu karena kacamata hitamnya.
"hati-hati" ia menepuk bahu El-Syakir
El-Syakir melirik tangan yang ada di bahunya itu, kemudian pria tersebut menarik tangannya dan meninggalkan El-Syakir yang masih terus memperhatikannya. El berbalik kembali berniat mencari seseorang yang dicarinya namun kemudian langkahnya seketika berhenti.
"tunggu.... tangan itu..... "
"elu tau wajahnya pembunuh itu...?"
"aku nggak tau tapi satu hal yang aku tau. dia mempunyai tato di tangan kanannya dan juga dua jari tidak ia miliki, jari manis dan jari kelingking"
"tato apa...?"
"ikan paus"
saat tangan pria itu berada di bahu El-Syakir, ia dapat melihat terdapat tato di tangannya itu, sama persis yang pernah Adam katakan dan El-Syakir sangat melihat jelas kalau dua jari ditangan pria itu tidak ia miliki. sama seperti yang Adam katakan, jari manis dan jari kelingking.
"dia orangnya"
El berbalik lagi untuk mengejar pria tadi namun pria itu telah hilang. pria itu telah menghilang dari pandangan El-Syakir.
"aneh sekali, padahal baru beberapa menit masa iya dia udah nggak ada" El menyusuri tempat itu namun dirinya tidak lagi melihat pria tersebut
El semakin bingung, harusnya pria itu masih ada di sekitar itu namun sayangnya El tidak menemukannya. mungkin pria tersebut masuk ke dalam mobil sehingga dengan cepat dirinya menghilang.
"sialan, harusnya gue cepat peka tadi" El mengumpat dengan kesal
__ADS_1
sudah dua kali El-Syakir bertemu dengan pria tersebut. pertama pada saat dirinya berada di toko ayah Adnan, toko yang lama yang pernah terjadi ledakan dan kedua kalinya adalah hari ini. El begitu kesal kenapa dirinya tidak cepat respect dengan tangan dan tato pria tadi.