
menikmati pemandangan pantai di sore hari sangatlah romantis untuk bagi yang bersama pasangan. melihat matahari yang mulai tenggelam dan akan digantikan dengan bulan yang dimana cahayanya dapat menggantikan cahaya matahari menyinari bumi.
"pulang nanti, aku akan mengenalkan mu kepada kedua orang tuaku" ucap Adam yang memeluk Airin dari belakang
saat ini tim samudera sibuk dengan pasangan mereka masing-masing. ada yang bercengkrama, berlarian, bermain pasir dan duduk sambil bercerita. sementara Adam dan Airin, mereka kini yang paling romantis menikmati indahnya momen di sore hari itu.
"kalau mereka tidak menerimaku bagaimana...? Airin pesimis
"tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak mu"
"tapi aku sudah tidak punya keluarga lagi dam, aku tidak mempunyai orang tua. nanti kalau mereka tanyakan itu bagaimana...?"
"hei... kenapa kamu malah tidak semangat seperti itu" Adam membalikkan tubuh Airin agar dapat menghadap ke arahnya
"aku takut mereka..."
"sssttt" Adam menempelkan jari telunjuknya di bibir merah muda Airin "percaya padaku, mereka pasti menerimamu. terlebih lagi paman Zidan dan para pengawal telah mengenalmu, jelas mereka akan mensuport kita. tidak perlu khawatir tentang penolakan karena itu tidak akan terjadi" Adam mengelus lembut wajah Airin
keduanya saling tatap bahkan semakin dalam. perlahan Adam mendekatkan wajahnya ke wajah Airin. semakin lama semakin dekat. Airin menutup mata sementara Adam memiringkan kepalanya berniat untuk mencium wanita itu. sayangnya belum juga bibirnya menempel di bibir Airin, Leo dan Vino datang mengacau. keduanya menggendong Adam tanpa permisi.
"woooi...apa yang kalian lakukan, turunkan aku" Adam memberontak
"elu harus diberi pelajaran. belum sah udah main nyosor aja" Leo menjawab
"kak Deva, El... tolong"
"maaf kak, aku lagi sibuk" El-Syakir menjawab, saat ini dirinya sedang duduk santai bersama Seil
"aku alergi air laut" jawab Deva asal
"lempar Le, Vin, lempar yang kuat" Bara bersorak dari jauh
"kampret kalian semua. turunkan aku woooi"
tidak ada yang mengindahkan ucapan Adam. bahkan Airin hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah para remaja itu.
"hitung Le" ucap Vino
"oke"
satu....
tubuh Adam mulai diayun oleh keduanya
dua....
bahkan mereka berputar-putar seperti komedi putar membuat Adam semakin histeris.
tiga....
byuuur
Adam dibuang ke air, tentu saja tubuhnya basah kuyup. dengan wajah kesal dan di tekuk, Adam menatap tajam tim samudera. detik berikutnya semua orang lari kalang kabut karena Adam mencari mangsa untuk ia ceburkan ke dalam air.
"huwaaa sayang tolongin" Starla memberontak di gendongan Adam
"woi pacar gue dam, yaelah" Vino berlari mengejar namun sayangnya Starla telah diceburkan ke dalam air
"sayang" Starla cemberut dan menatap kesal ke arah Vino yang kini hanya cengeng menggaruk kepala
"masuk nggak" ucap Starla penuh penekanan
"nggak yang, aku nggak mau mandi" Vino menggeleng dan perlahan menjauh
"masuk nggak kamu" ucap Starla lagi dengan memolototi Vino
"lariiiiiiiiii"
"sayang...awas kamu ya"
Starla keluar dari dalam air dan mengejar Vino yang kalang kabut karena pacarnya telah menjadi mode singa yang siap untuk menerkamnya.
malam harinya mereka bersantai di belakang vila. berbagi makanan, cemilan dan minuman telah tersedia di tengah-tengah mereka. mereka membuat lingkaran dan tentunya duduk dengan pasangan masing-masing.
"hei Mel...kapan elu di lamar oleh kak Deva. kenapa kami semua nggak tau. jahat banget sih lu, nggak ngasih tau sama saudara sendiri" Starla cemberut karena baru mengetahui fakta itu sore tadi
pak Rendra ayah dari Starla telah mengangkat Melati sebagai anaknya. maka dari itu kini gadis itu telah bersaudara dengan Starla, bahkan Melati telah masuk di kartu keluarga mereka. semua itu dilakukan karena pak Rendra merasa kasihan kepada Melati yang tidak lagi mempunyai saudara dan juga gadis itu begitu dekat dengan putrinya, maka dari itu pak Rendra mengangkat gadis itu sebagai anaknya. meskipun begitu pak Rendra tidak membedakan kasih sayangnya kepada keduanya. ia tidak membedakan mana anak kandung dan mana hanya anak angkat.
"aku tadinya mau ngasih tau elu sama papa nanti saja. sekalian kak Deva pergi melamar secara resmi" jawab Melati
"cepat di segerakan saja, kalau perlu kak Deva sama Adam menikah barengan aja, pasti seru tuh" ucap Nisda yang kini sedang bersandar di dada Bara
"lah iya, mending gitu aja kak. supaya nggak ribet berulang kali. ibu pasti senang langsung dapat dua menantu yang cantik-cantik" timpal Alana yang setuju dengan usulan Nisda
"nantilah kita pikirkan hal itu kalau sudah balik dari pulau ini. besok harus pulang ya, banyak pekerjaan yang menanti di kantor" ucap Deva
"yah kok pulang sih, baru juga dua malam di sini" Starla mengeluh
"kita juga harus kuliah loh sayang, katanya mau cepat-cepat di lamar setelah lulus kuliah" Vino menoel hidung gadis itu
"ya udah kalau gitu, kita pulang" dengan wajah yang lesu Starla menjawab
Vino hanya tersenyum menanggapi kekasihnya itu. ia kemudian merengkuh bahu Starla dan membawanya ke pelukan.
El-Syakir bangkit ke ruang tengah mengambil sesuatu dan ia kembali lagi dengan sebuah gitar yang ada di tangannya.
"siapa yang mau sumbang lagu...?" tanya El, tangannya bergerak memetik gitar
__ADS_1
"elu ajalah, elu kan jago nyanyi" ucap Leo
"kemarin kan waktu di perkemahan El yang main gitar Bara yang nyanyi" timpal Adam
"lah iya. ayo Bar, keluarkan suara emasmu" Vino melepaskan pelukannya dari tubuh Starla dan dirinya kemudian berbaring di paha gadis itu
"aku sajalah yang menyanyi, suaraku tidak kalah bagus dengan si Bara Bere" Adam menawarkan diri
"kamu bisa nyanyi...?" Airin seakan ragu dengan kemampuan kekasihnya itu
"gampang itu mah, menyanyi mah kecil"
dengan percaya diri Adam bangkit dari tempat duduknya mendekati El-Syakir. Seil pindah posisi bergeser ke arah Airin. kedua wanita yang beda usia itu saling merangkul satu sama lain.
"sini gitarnya" Adam mengambil gitar yang dipegang oleh El-Syakir "tes tes" ia pun mengambil ancang-ancang untuk melakukan aksinya
semua orang fokus menatap Adam, bahkan kini mereka telah mengambil posisi ternyaman untuk menikmati nyanyian CEO muda itu.
jreng... jreng
"ku hamil duluan sudah tiga bulan"
"uhuk...uhuk"
byuuur
"anjir...Le, gue udah mandi ya"
Leo seketika langsung menyemburkan minumannya dan mengenai El-Syakir. hal itu membuat semua orang tertawa terlebih lagi nyanyian Adam dimana suaranya seperti bebek kejepit tetap percaya diri membawakan lagu yang menurut mereka aneh. Airin bahkan tidak bisa menahan tawa melihat tingkah konyol kekasihnya itu.
kini keadaan semakin tidak karuan. Adam berdiri dan memetik gitar seperti orang yang kesurupan. anehnya laki-laki tim samudera ikut bangkit dan joget-joget, kecuali El-Syakir dan Deva. mereka berdua memijit pelipis merasa pusing dengan kekonyolan sahabat-sahabat mereka itu.
"stop stop stoooooop"
teriakan Deva membuat semua orang diam, bahkan yang membuat keributan seketika duduk di sofa dan berhimpit-himpitan seperti robot mainan Galang. semuanya mengerjapkan mata seperti boneka dan menelan ludah saat melihat wajah Deva yang sedang menatap mereka dengan tatapan tajam seakan hendak membuang mereka satu persatu di luar jendela vila.
"menyanyi yang benar kek jangan seperti ulat bulu dilindas becak. panas kuping tau" Deva bersidekap seperti sedang memarahi adik-adiknya yang nakal
"nggak usah nyanyi deh, mending kita dansa aja mau nggak. kebetulan rembulan malam ini sangat cocok untuk bermesraan" Starla memberikan ide
"aku nggak tau dansa sayang, mending DJ aja deh" timpal Vino
"nggak ada dansa ataupun DJ, sekarang waktunya tidur" El-Syakir bangkit dari duduknya dan meninggalkan semua orang
"Seil, pacar kamu memang benar-benar es balok. sebelas dua belas sama kak Furqon, mas kulkas 12 pintu" Nisda berbisik di telinga Seil
"tapi aku tetap sayang" ucap Seil tersenyum manis
"ckckck, memang kalau sudah cinta...buta mata buta huruf" Adam berdecak menggeleng kepala
"kayak kakak nggak aja, bahkan sampai kerasukan macam orang gila" Alana mencebik sedang Adam hanya memperlihatkan gigi-giginya
keesokan harinya, kini mereka tengah bersiap-siap untuk pulang. semua barang bawaan telah diangkut oleh orang-orang Sanjaya grup yang bertugas menjaga pulau itu. saat ini mereka memutuskan untuk memakai kapal pribadi milik Sanjaya grup dikarenakan Adam tidak ingin ribet dengan orang banyak.
untuk menuju ke dermaga, mereka memilih berjalan kaki menikmati udara pagi yang begitu sejuk masuk ke dalam paru-paru.
sepanjang perjalanan, Adam tidak pernah melepaskan genggaman tangannya di tangan Airin. ia seakan tidak ingin wanita itu jauh darinya dan mungkin bahkan andai bisa, dirinya akan mengekor kemanapun wanita itu pergi bahkan ke kamar mandi sekalipun.
"kapan lagi ya kita akan ke sini" ucap Alana, sebenarnya ia masih ingin berlama-lama di pulau nan indah itu
"kalau libur sekolah nanti kita ke sini lagi" ucap Leo sambil berjalan bergandengan tangan
"aku ingin bulan madu di tempat ini kalau nanti kita menikah" Alana menatap mesra Leo yang berjalan di sampingnya
"kamu ingin menikah denganku...?" Leo menahan senyum
"memangnya kakak tidak mau menikah dengan Alana...?"
"siapa bilang, jika boleh hari ini maka tentu aku akan menikahimu hari ini juga. tapi kamu kan masih kecil, masih perlu lulus sekolah dulu dan juga lulus kuliah barulah aku akan pergi melamarmu"
"Lana ingin menikah muda, bagaimana nanti jika setelah Lana lulus sekolah, kita menikah"
"kebelet ingin bersamaku terus kamu ya" Leo menarik pelan hidung Alana
"Lana memang tidak ingin kehilangan kak Leo, pokoknya kak Leo harus jadi jodoh Alana"
"kalau misalnya nggak jodoh bagaimana...?"
"ya pokoknya harus jadi"
"misal jodohku orang lain...?"
"matikan saja dia, ganti dengan aku"
"wah sadis juga gadis kecil ini" Leo mengacak rambut Alana
Alana cemberut rambutnya dibuat berantakan oleh Leo. Leo pun berhenti sejenak dan memperbaiki penampilan rambut gadisnya itu.
"ayo" Leo mengulurkan tangannya dan dengan senang hati Alana menyambut tangan itu
tiba di dermaga, satu persatu mereka naik di dalam kapal. perlahan kapal itu bergerak dan mulai menjauh dari dermaga pulau samudera.
di dalam kapal itu Adam mengubungi orang tuanya bahwa dirinya akan membawa seseorang untuk ia perkenalkan kepada mereka. sedangkan Deva, dirinya menghubungi pak Firman dan ibu Nurma bahwa ia akan membawa seseorang untuk bertemu dengan keluarganya.
"memangnya kita pergi hari ini juga yang...?" tanya Melati
"nggak, mungkin besok atau lusa. aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu sebelum kita ke desa Boneng" Deva menatap lembut kekasihnya itu
__ADS_1
"kak Deva, kalau pulang langsung bawa dengan Zahra ya" pinta Alana
Deva menarik nafas sebelum akhirnya membalas tatapan adiknya itu.
"untuk hal itu kakak harus bicarakan dulu sama ibu dan ayah, keputusan itu tidak bisa hanya kakak sendiri yang ambil. kakak harap Lana bisa mengerti ya" Deva memberitahu dengan lembut
"ya sudah nggak apa-apa, tapi Lana berharap Zahra bisa pindah sekolah di sini"
"nanti kakak bicarakan sama ibu dan ayah dulu ya"
"iya kak"
lama mengarungi lautan, kini kapal itu bersandar di tempat tujuan. mereka semua turun dari kapal dan menuju mobil masing-masing. selama di pulau, mobil mereka di jaga oleh pengawal Sanjaya grup yang bertugas di tempat itu.
mereka meninggalkan dermaga menuju ke rumah masing-masing dan akan bertemu esok hari lagi. berkendaraan Beberapa menit, mobil yang disetir oleh Deva telah tiba di rumah kediaman Sanjaya.
mereka semua keluar dari mobil, Alana langsung berlari saat melihat Galang sedang bermain di halaman rumah bersama dengan Gibran dan juga Gandhi, anak dari dokter Nathan.
"Galang" Alana memanggil bocah itu membuat sang empunya bertepuk tangan senang melihat Alana datang
Gandhi yang melihat kedatangan Alana langsung bersembunyi di belakang tubuh Gibran. dasarnya memang Gandhi pemalu, padahal sudah beberapa kali Gibran mengajaknya ke tempat itu namun tetap saja anak berusia empat tahun itu masih malu-malu dengan penghuni rumah tersebut.
"kapan datang kak...?" tanya El kepada Gibran setelah mereka tiba di dekat laki-laki itu
"sejak kemarin, aku nginap di sini" jawab Gibran dan matanya fokus melihat ke arah Airin
"dia calon aku, cantik kan" Adam merengkuh pinggang Airin
"ya ya ya, kamu memang tidak salah memilih pasangan" Gibran manggut-manggut
Galang sudah berpindah tempat di gendongan Alana sedang Gandhi memeluk paha Gibran karena laki-laki itu langsung berdiri ketika melihat Adam dan yang lainnya datang.
"sama om yuk, om punya banyak mainan loh" Adam berjongkok di depan Gandhi
Gandhi semakin bersembunyi di belakang Gibran. terpaksa laki-laki itu menggendong Gandhi.
"malu-malu dia" ucap Deva
"dokter Nathan ada di sini juga...?" tanya Adam
"di rumah sakit dia, aku sengaja membawa Gandhi dan kami menginap di sini. ayo masuk, di dalam lagi berkumpul di ruang keluarga" Gibran melangkah lebih dulu
mereka semua masuk ke dalam rumah, namun saat di ambang pintu Airin menghentikan langkahnya dan hal itu membuat Adam ikut berhenti.
"kenapa...?" tanya Adam
"aku takut" Airin meremas jemarinya
"sejak kapan ratu penguasa hutan timur takut kepada seseorang"
"ih kamu, aku benaran takut tau. nanti kalau aku tidak diterima bagaimana...?"
"nggak akan, percaya sama aku semuanya akan berjalan sesuai keinginan kita. ayo masuk" Adam kembali menggandeng tangan Airin
semakin dekat dengan ruang keluarga maka suara semua orang semakin terdengar. di sana ayah Adnan dan ibu Arini kembali bermain bersama Galang, Zidan dan Vania pun ada di tempat itu. hanya saja Zidan sepertinya akan bersiap untuk ke kantor karena pakaian yang telah rapi dengan jas hitam yang ia kenakan.
"assalamu'alaikum" ucap Adam
"wa alaikumsalam" jawab mereka semua
Zidan yang melihat Airin tentu saja langsung terkejut. namun kemudian ia kembali menetralkan ekspresi wajahnya seperti biasa.
ayah Adnan dan ibu Arini menatap keduanya dengan penuh tanda tanya, apalagi Adam menggandeng tangan wanita yang baru pertama kali mereka lihat itu.
Adam mengajak Airin untuk duduk di sofa. Alana langsung menggendong Galang untuk ke halaman belakang rumah bersama dengan Gandhi. bocah itu mau mengikuti Alana dan berpisah dengan Gibran saat Alana menjanjikan akan memberikan dirinya eskrim.
kepergian Alana membawa Galang dan Gandhi membuat suasana di tempat itu kembali sunyi. hening tercipta beberapa menit sebelum akhirnya Adam mengeluarkan suara.
"ayah ibu, Dirga mau memperkenalkan seseorang seperti yang Dirga katakan tadi di sambungan telepon. dia Airin, calon istri Dirga" Dirga menatap Airin sebelum akhirnya kembali menatap kedua orangtuanya
"apa kabar om, tante" Airin mendekati keduanya dan mencium tangan mereka
"masya Allah, cantiknya calon mantu ibu. sini nak" ibu Arini memanggil Airin untuk duduk di sampingnya
Airin melihat terlebih dahulu ke arah Adam. saat Adam mengangguk barulah Airin berpindah tempat duduk di samping ibu Arini.
"sepertinya akan ada dua pengantin nih. Deva dan Melati dan Adam dengan Airin" Vania terlihat sumringah
"yah, bagaimana kalau kita menikahkan mereka secara bersamaan" ibu Arini menoleh ke arah suaminya
"lah, memangnya mau segera menikah Dirga...?" ayah Adnan menatap anak sulungnya itu
"rencananya begitu yah, makanya itu hari ini Dirga dan Airin ingin meminta restu ayah dan ibu" jawab Adam
"tentu saja kami merestui. apapun untuk kebahagiaan anak ibu, ibu akan lakukan itu. apalagi mendapatkan menantu cantik seperti ini, mana mungkin ibu menolak. iya kan yah"
"asal mereka saling suka, ayah tetap merestui" jawab ayah Adnan
"bulan ini saja langsungkan pernikahan, bagaimana...?" ucap Zidan
Airin melongo dan melihat ke arah Adam. Adam hanya tersenyum saat melihat wanitanya begitu terkejut kalau keluarga Adam menyambut dirinya dengan suka cita.
"aku harus membawa Melati dulu untuk bertemu ayah dan ibu di kampung paman" Deva menjawab
"kalau begitu setelah kalian dari desa Boneng kita akan bicarakan lagi hal itu" ucap Zidan " sayang, aku berangkat dulu ya, takut Ardi semakin ngamuk di kantor nanti karena Pram sudah beberapa hari tidak masuk kerja. Mita tidak ingin ditinggal oleh suaminya" Zidan mencium kening istrinya
"hati-hati mas" Vania tersenyum manis
__ADS_1
kesepakatan telah diambil, setelah Deva dan Melati pulang dari desa Boneng maka pernikahan dua putra dari Sanjaya grup itu akan dibicarakan oleh pihak keluarga.