
kriiiiing.... kriiiiing
"aduh berisik banget sih"
tak
cek lek
"ya ampun anak gadisnya orang, belum bangun juga udah siang" wanita paruh baya menghampiri Starla dan Melati yang sedang meringkuk di bawah selimut
"non Starla, non Melati, bangun non udah siang. kalian tidak sekolah...?" bi Neli membangunkan kedua gadis itu
"bangun non, udah siang"
euughh
keduanya mengerang dan merenggangkan otot-otot mereka.
"emang udah jam berapa sih bi...?" Melati bangun lebih dulu
"tuh lihat, sudah jam berapa...?" bi Neli menunjuk jam yang berbunyi tadi yang ada di atas nakas dengan kedua matanya
"mampus...." Melati langsung membuka matanya lebar dan berlari ke kamar mandi
"bi tolong bangunin Starla" Melati berteriak di dalam kamar mandi
di rumah Leo, dia sedang menemani Bayu untuk mandi. adiknya itu setiap hari sangat bersemangat untuk ke sekolah termasuk hari ini namu Leo yang masih mengantuk, duduk di atas closed dan memejamkan matanya.
"kak Leo nggak mandi...?" Bayu bertanya
"kak...kak Leo" Bayu terus memanggil namun kakaknya itu tidak menyahut sama sekali
byuuur
"banjir banjir eh banjir" Leo kaget seketika dan berucap Lata
"hahahaha" Bayu tertawa terbahak-bahak melihat kakaknya seperti orang baru saja sadar dari mimpi
"nakal kamu ya"
"habisnya kakak dipanggil malah ngorok, Bayu siram saja sekalian. hehehe"
"ck, untung adik kesayangan" Leo mencebik
di rumah Vino, dia sedang dijewer oleh bi Marni. anak majikannya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu, terus merengek-rengek tidak ingin mandi. dirinya masih sangat mengantuk dan ingin tidur kembali namun bi Marni memukul bokongnya dengan sapu ijuk.
buuuk
buuuk
"ampun bi, iya iya Vino mandi nih" Vino bangun dengan wajah yang manyun
"bibi lapor sama tuan nanti biar nggak dikasih jajan sekalian" bi Marni mengancam
"tega amat sih sama anak sendiri. berasa punya ibu tiri" gerutu Vino
"iya, baru tau kamu kalau bibi ini ibu tiri yang jahat. mau tak jewer lagi telinganya atau bibi tenggelamkan kamu di bak mandi, hah pilih yang mana" bi Marni siap siaga di belakang Vino
"mau tidur lagi" jawab Vino yang langsung mendapat lemparan sapu dari bi Marni sedangkan Vino langsung kabur masuk ke kamar mandi
"dasar anak bujang, udah besar masih saja seperti bayi" bi Marni geleng kepala
bi Marni membereskan tempat tidur Vino kemudian meninggalkan kamar itu. Vino hanya susah dibangunkan namun setelah bangun dia akan mengurus dirinya sendiri.
Nisda yang biasa bangun pagi kali ini mama Marlina harus turun tangan. anak gadisnya itu masih meringkuk di dalam selimut. dengan penuh kelembutan mama Marlina membangunkan Nisda.
"anak gadis kok bangunnya siang, gimana kalau nikah nanti" ucap mama Marlina
"masih lama Nisda nikahnya mah" Nisda menjawab dengan mata terpejam
cek rek
mama Marlina memotret Nisda yang sedang menguap dengan mulut terbuka lebar dan rambut yang agak.
"kira-kira kalau mama kirim sama Bara, reaksinya gimana ya...?" mama Marlina menggoda Nisda
dengan cepat Nisda mengambil hp mama Marlina untuk melihat hasil gambar yang diambilnya.
"ih mama.... amit-amit deh. bisa malu setengah mati Nisda kalau mama kirim foto ini sama Bara" Nisda cemberut, kedua orang tua remaja itu memang sudah mengetahui hubungan anak mereka
"ya makanya mandi kalau tidak mama kirim foto ini sama Bara" mama marlina mengancam, ia kembali mengambil HP-nya dari tangan Nisda
"iya Nisda mandi, tapi hapus fotonya"
"iya, itu mah gampang tinggal hapus doang. udah mandi sana"
mama Marlina mengusap kepala Nisda kemudian meninggalkan kamar putrinya.
"Bara bangun, astaga nih anak tidur kok sampai segini banget" Pram geleng kepala melihat Bara
Bara itu tidur di kamar Pram, memang kadang seperti itu saat dirinya rindu dengan Pram, Bara akan menempeli Pram kemanapun dia pergi.
"ayo bangun dek, udah siang"
"pelan-pelan sayang, nanti sakit" gumam Bara dalam keadaan tidur
"lah, apanya yang pelan-pelan...?" Pram bingung
"Bara"
"iya sayang"
plak
plak
plaaaak
"aduh, kamu kok main pukul sih sayang, kasar banget" Bara bangun dan duduk
"heh, kamu mimpi apaan pakai sayang-sayangan" Pram menarik telinga Bara
"aduh aduh aduh, sakit kak"
"mandi sana, masih pagi otaknya sudah ngeres"
dengan langkah gontai Bara masuk ke dalam kamar mandi, namun bukannya mandi dia hanya meringkuk di sudut dan tidur kembali.
"kok nggak ada percikan air ya" Pram menggaruk kepala. dia masuk ke kamar mandi untuk melihat Bara
__ADS_1
" ya ampuuuun, nih anak-anak benar-benar deh"
byuuur
"aaaa hujan, basah basah" Bara berdiri dan mengusap wajahnya
"kak Pram, tega benar sama adiknya" Bara menggerutu
"mau aku tenggelamkan di bak mandi" ancam Pram
"hehehe nggak kak, bercanda. jangan marah dong, kita kan besti" Bara nyengir kuda sedang Pram mencebik
"Lana mana kedua kakakmu...?" ibu Arini bertanya saat melihat putrinya turun ke bawah
saat ini ibu Arini sedang menemani ayah Adnan di ruang tengah yang sedang meminum kopi bersama dengan Zidan dan Vania. perut istri dari Zidan itu sudah terlihat membesar dan bahkan Vania sering mengeluhkan sakit pinggang. Zidan dengan sabar dan perhatian mengurus istrinya.
"masih tidur Bu. udah serak suara aku bangunin mereka tapi kak Dirga sama kak El nggak bangun-bangun" Alana duduk bersama mereka
"sudah kamu sarapan sana, biar ibu yang urus mereka"
"iya Bu" Alana menuju meja makan.
"awas saja kalian ya, dari semalam bikin ulah sekarang ibu geprek kalian seperti ayam geprek" ibu Arini menggulung bajunya dan mengambil sapu ijuk
"kok pegang sapu segala Bu...?" tanya ayah Adnan
"anak-anak ayah itu harus dikasi pukulan manis biar kapok. ibu mau kasi mereka pelajaran" ibu Arini menaiki anak tangga menuju kamar kedua putranya
"ibu Arini kalau lagi marah galak juga ya mas" ucap Zidan
"the power emak-emak" ayah Adnan terkekeh
ibu Arini terus mengomel sepanjang anak tangga hingga dirinya tiba di kamar kedua putranya. El-Syakir dan Adam satu kamar, itu atas permintaan El-Syakir yang tidak ingin berpisah tidur dengan kakaknya. perpisahan yang membuat mereka kehilangan waktu tumbuh bersama membuat El-Syakir ingin terus berada di dekat Adam.
cek lek
saat masuk ibu Arini sebenarnya ingin marah-marah namun hatinya seketika tersentuh saat melihat kedua putranya itu sedang berpelukan. mereka seperti anak-anak kecil yang begitu pulas di dalam mimpi.
"Dirga, El.. bangun sudah siang"
"satu menit lagi Bu" El-Syakir memeluk gulingnya
"bangun El, Dirga. anak perawan kok bangunnya siang" ucap ibu Arini
"aku perjaka Ting Ting ya Bu, sejak kapan jadi perawan tong tong" jawab Adam
ibu Arini terkekeh, dirinya memang salah anak perjaka dibilang anak perawan, jelas putra sulungnya akan protes keras.
"udah jam 8, kalian nggak sekolah...?" bohong ibu Arini
"APA....JAM 8...?" Adam dan El langsung bangun seketika. mereka bahkan berebut untuk masuk ke kamar mandi
"aku dulu, udah kebelet kencing" ucap Adam
"gue dulu kak, kak Dirga mah mandinya lama kayak cewek" El tidak ingin kalah
"pan harus luluran dulu biar kinclong. kamu harus ngalah sama yang kakak, udah minggir sana"
"nggak mau, harusnya kakak yang mengalah sama adiknya. kakak aja yang minggir"
keduanya saling tarik-menarik, ibu Arini menepuk jidat dan memijit pelipisnya.
plaaaak
ibu Arini memukul bokong kedua anaknya. mereka tampak meringis dan melompat karena sakit.
"mandi berdua saja, atau kalian mau ibu panggilkan ART untuk memandikan kalian berdua"
"Dirga udah gede, masa iya mau dimandikan. apa kata akhirat" celetuk Adam
"ini masih di dunia kali kak" jawab El
"mau mandi berdua atau ibu panggil ART...?" ancam ibu Arini
"iya iya, kami mandi"
braaaakkk
"astaghfirullahaladzim" ibu Arini hampir melompat dari tempatnya karena kaget pintu kamar mandi di tutup seketika
"sabun wajah aku mana...?"
"pake aja kak yang ada, udah telat nih kita"
"iw...masa iya pakai sabun mandi. nggak level" Adam mencebik
"ya udah pakai sabun cuci sana"
"wah, bisa menghilangkannya noda membandel kan ya. kalau gitu kita berdua harus pakai"
"kakak aja, gue mah ogah"
selesai mandi dengan terburu-buru mereka memakai seragam sekolah.
"wajah aku kurang kinclong nih, pulang sekolah belanja dulu ya" Adam sedang memperhatikan wajahnya di depan cermin
"belanja apaan...?" tanya El yang sedang mengatur bukunya
"lidah kadal dan minyak goreng zaitun" jawab Adam
"lidah kadal...?" El-Syakir mengerutkan kening
"itu loh gel yang bisa dipakai di wajah dan di kepala. itu aja kamu nggak tau" cibir Adam
"ya ampun.... itu mah lidah buaya, ya kali lidah kadal. gel aloevera kali kak namanya" El-Syakir tidak habis pikir, bagaimana bisa kakaknya itu menyebut lidah kadal
"sama saja, kadal dan buaya kan saudara" Adam tidak mau kalah
"bapak emaknya siapa...?" tanya El
"mana aku tau, mereka kan nggak punya kartu keluarga" Adam memakai kos dan sepatunya
El-Syakir terkekeh dengan jawaban Adam. kakaknya itu memang tidak pernah mau kalah dan ada saja jawaban yang akan dia lontarkan.
"pak....pak, jangan tutup pak" teriak Adam
El-Syakir dan Adam baru sampai di sekolah. mereka telat dan bukan hanya mereka, tim samudera yang lainnya pun ternyata telat. mereka baru juga sampai.
"ini sudah lewat jam apel pagi, kalian kenapa baru datang. Sudah telat, tidak bisa masuk lagi" ucap satpam penjaga
__ADS_1
"baru juga lewat beberapa menit pak, bukain lah pak, nanti bapak tambah ganteng" ucap Adam merayu
"dari lahir saya sudah ganteng" jawabnya
(lah, dia malah sombong) batin Adam kesal
"tolong dong pak, baru juga lewat lima menit" El-Syakir mendekat
"tidak bisa" jawabnya tegas
dengan terpaksa mereka meninggalkan sekolah dan pergi ke tempat lain. tidak mungkin untuk pulang ke rumah, bisa-bisanya panci dan segala isi dapur melayang di kepala.
"kemana nih kita...?" tanya Melati saat mereka berhenti di pinggir jalan
"gue juga bingung kita mau kemana" El-Syakir menggaruk kepala
"ikuti saja jalan yang ada, kalau udah mentok balik lagi aja" jawab Adam enteng
"elu pikir kita pengukur jalan" cebik Vino
"ini kan masih pagi, kita jalan-jalan aja yuk. gimana kalau kita ke tempat jauh yang nggak ada kebisingan kendaraan" usul Nisda
"ke hutan maksudnya...?" tanya Leo
"ya bukan ke hutan juga kali Le" jawab Nisda
"kita ke kampung aja gimana kak, mumpung masih pagi jadi kita tiba paling siang. pulangnya nanti sore aja" Alana memberikan ide
"kampung siapa...?" tanya Starla
"kampung nenek sama kakek, kampung ibu" jawab Alana
"emang perjalanan berapa jam...?" tanya Melati
"emmm kalau nggak salah 4 jam, paling cepat 3 jam" jawab El-Syakir
"perjalanan 4 jam jauh itu loh, mending ke tempat yang dekat-dekat aja deh" Bara menolak
"El, kita pulang saja ke rumah yang dulu" ucap Adam
"ah iya, kita ke rumah aja. Lana kangen suasana rumah yang dulu" Alana setuju
yang dimaksud Adam adalah rumah yang mereka tempati dulu sebelum pindah ke rumah keluarga Sanjaya. di rumah itu juga pertama kalinya Adam dan El-Syakir bertemu saat Adam masih dalam berwujud arwah.
"boleh juga tuh, ya sudah kita ke sana saja" ucap Starla
"kuncinya ada nggak...?" tanya Leo
"ada, gue selalu bawa. ya udah, kita ke sana saja. tapi sebelum itu kita beli makan dulu dan cemilan untuk ngemil, di rumah pastinya nggak ada makanan. udah lama ditinggal pergi" jawab El-Syakir
"ayuklah, gue juga penasarannya bagaimana rumah El yang dulu" timpal Melati
"aku malah penasan, mas poci sama mba Kun masih ada nggak ya" ucap Adam
"eh, singgah beli melati ya" lanjut Adam
"ngapain, elu kan udah nggak makan melati" ucap Vino
"oleh-oleh untuk mas poci sama mba Kun, kami kan udah lama nggak reunian" jawab Adam
"ck, reunian kok sama makhluk astral" cibir cibir Bara
"daripada reunian sama mantan" timpal Adam yang lagi-lagi selalu ada jawaban dari setiap ucapan yang dilontarkan temannya
mereka kini sepakat untuk pergi ke rumah El-Syakir. seperti yang dikatakan El, mereka terlebih dahulu membeli makanan dan juga beberapa cemilan untuk di rumah nanti. tidak lupa Adam singgah di toko bunga untuk membeli melati.
"mba, bunga melatinya yang banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer ya" Adam memesan
"baik mas, mohon ditunggu ya" ucap penjual bunga
Melati masuk ke dalam menyusul Adam, dia berdiri di samping Adam dan melihat-lihat begitu banyaknya aneka bunga.
Adam melihat bunga mawar putih di sampingnya, dia kemudian mengambil satu tangkai dan memberikannya kepada Melati.
"buat kamu" ucap Adam
"mawar putih...?" tanya Melati
"iya, kenapa, kamu nggak suka...?" tanya Adam
"mawar putih melambangkan kesucian persahabatan" Melati menatap mawar yang masih berada di tangan Adam
"oh ya, bagus kalau seperti itu. aku mau persahabatan kita selalu suci dan tidak ternodai oleh hal apapun. ambillah" Adam memberikan bunga itu
"dam" panggil Melati pelan
"hummm" jawab Adam
"apa kamu hanya menganggap aku sebagai sahabat saja...?" Melati menatap lekat mata Adam
"maksud kamu...?" Adam membalas tatapan teduh Melati
"apa aku hanya sebatas sahabat buat kamu, apa tidak ada perasaan lebih sedikit saja untuk aku, perasaan melebihi sahabat" ucap Melati
Adam diam tidak menjawab, lidahnya tiba-tiba saja terasa kelu. matanya masih terus menatap Melati yang juga sedang menatapnya.
"permisi mas, ini bunganya" penjual bunga tadi menghampiri dan memberikan bunga melati yang di pesan Adam
keduanya tersadar dan Adam merasa tidak nyaman dengan keadaannya sekarang. entahlah, perasaannya tiba-tiba saja begitu sulit untuk ia ungkapkan.
setelah membayar Adam mengajak Melati untuk keluar, tidak lupa Adam menyimpan kembali mawar putih yang diambilnya tadi ke tempatnya semula.
Adam telah melangkah keluar namun Melati masih terpaku di tempatnya melihat punggung Adam yang menghilang di balik pintu.
(apakah perasaan mu terhadapnya masih begitu besar meskipun kamu tidak mengingatnya lagi. apakah hanya pikiranmu yang tidak mengingatnya tapi cintamu tidak pernah berubah padanya)
(tidak peduli seberapa besar kamu mempunyai perasaan terhadap ratu Sundari, aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu dam)
(kenapa rasanya sulit sekali untuk menggantikan posisi ratu Sundari dihati kamu padahal kamu sudah lupa tentangnya)
Melati menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar. setelahnya dia keluar dan menghampiri yang lain yang tengah bersiap untuk berangkat ke rumah El-Syakir.
matanya tidak pernah lepas dari Adam yang sedang berbicara dengan El-Syakir. setelah Melati datang, semuanya bergegas untuk melanjutkan perjalanan.
Melati bonceng di motor Adam, dalam pikirannya untuk mendapatkan Adam maka dia harus berani menunjukkan perasaannya. dengan ragu Melati mengangkat tangannya untuk memeluk pinggang Adam namun tangan itu hanya tertahan dan kembali turun.
"bukankah cinta butuh perjuangan, maka aku akan memperjuangkan cintaku sampai dia melihatku dan tidak akan pernah melihat gadis lain" gumam Melati.
dia bertekad akan tetap mendekati Adam bagaimana pun caranya. sudah sejauh ini bahkan ratu Sundari sudah memberikannya jalan dengan menghilangkan ingatan Adam tentang kebersamaan mereka, Melati tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
__ADS_1