
POV (El-Syakir)
mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah gedung. banyak orang-orang yang berpakaian hitam yang berjaga di luar. mereka pasti orang-orang semalam yang menyerang kami.
"ini adalah markas mereka" kak Furqon berbisik di telingaku
"ayo turun" ucap kak Furqon
kak Furqon turun lebih dulu dan aku menyusul. markas mereka ini jauh sekali dari keramaian. mungkin mereka sengaja mencari tempat tersembunyi agar tidak mudah dilacak oleh kami. sama halnya seperti kediaman Gibran, jauh dari keramaian. mungkin dia suka dengan kesunyian dan tidak suka bergaul dengan orang-orang. apakah dia seorang introvert...?
"Syakir, ngapain melamun saja. ayo" kak Furqon melambaikan tangannya padaku
aku melangkah mendekati kak Furqon dan kami masuk ke dalam. setelahnya, kami duduk di sebuah sofa panjang sambil menunggu Gibran yang katanya sedang dalam perjalanan saat kak Furqon mengubunginya.
"luas banget tempat ini" ucap ku
"tuan muda. bersikaplah yang cool, jangan sibuk memperhatikan nanti mereka curiga" ucap kak Furqon
"oke" jawabku pelan
"aku ke toilet dulu" ucap kak Furqon
kak Furqon meninggalkan aku seorang diri di tempat ini. aku yang penasaran pada akhirnya beranjak untuk melihat-lihat sekitar. siapa tau kan aku mendapatkan petunjuk dimana bos mereka berada.
ruangan demi ruangan aku terlusuri. sampai akhirnya aku sudah berada di dapur. desain tempat ini begitu kelam, warna dan suasana di tempat ini juga sangat tidak membuat nyaman. namun untuk orang yang suka menyendiri, mungkin tempat seperti ini akan terasa nyaman bagi mereka.
"aku haus" ucap ku pelan
aku melangkah mendekati tempat air minum dan menuangnya di gelas. satu gelas aku habiskan karena tenggorokan ku yang memang terasa kering.
aku masih melihat-lihat sampai mataku tertuju di sebuah lukisan yang begitu menyeramkan. seorang wanita berpakaian hitam dan memiliki seekor ular yang melilit tubuhnya. jika aku perhatikan dia adalah.....
"ratu Sri Dewi" gumamku
jadi selama ini Baharuddin ternyata sudah berkomplotan dengan wanita itu. apa jangan-jangan Baharuddin adalah abdi ratu Sri Dewi. apa dulu dirinya tidak pernah kami temukan karena ratu Sri Dewi ikut campur maka dari itu dia menyembunyikan Baharuddin agar tidak ditemukan oleh kami.
pantas saja setiap kali paman Helmi dan yang lainnya mendapatkan jejaknya, dia selalu saja menghilang. rupanya ada kekuatan sihir yang ikut campur.
aku mendekati lukisan itu dan berdiri tepat di depannya. sangat mirip dengan ratu Sundari hanya saja tentu hati mereka sangat berbeda jauh. padahal dia dan ratu Sundari adalah seorang manusia sama seperti kami. hanya saja ratu Sundari kini berpisah dengan tubuhnya dan di sembunyikan oleh wanita yang ada di lukisan ini.
tapi tunggu, jika memang keduanya adalah manusia berarti sekarang ini ratu Sri Dewi tetap memiliki tubuhnya dan hanya ratu Sundari yang berpisah dengan tubuhnya.
bagaimana caranya agar keduanya dapat bertemu. jika ratu Sundari ikut serta dalam misi ini, pasti secepatnya akan kami temukan jalan keluar. apakah....kami harus menyiapkan tubuh yang baru untuk ratu Sundari.
"hei, sedang apa kamu di sini" seseorang menegurku
aku menoleh dan melihat dua orang laki-laki datang menghampiriku namun yang satunya berjalan mengarah ke arah tempat kulkas berada.
"kamu sedang apa di sini...?"
"aku tadi haus makanya datang ke tempat ini dan saat akan kembali aku melihat lukisan ini" jawabku. kali ini tidak ada kebohongan yang aku katakan
"wanita ini siapa...?" tanyaku. sengaja berpura-pura bertanya agar terkesan kalau aku memang tidak berbohong dan ingin tau padahal sebenarnya aku sudah mengenal wanita ini
"ratu kegelapan" jawabnya sambil menatap lukisan ini
"hahaha"
tawaku meledak seketika, aku sengaja melakukan itu. menjadi seseorang yang pertama kalinya mendengar ada seorang ratu kegelapan.
"apakah ada yang lucu...?" dia menatapku dingin
"jelas saja lucu. zaman sekarang masih percaya saja dengan hal seperti itu. mana ada ratu kegelapan di zaman modern seperti sekarang ini" ucapku masih terkekeh pelan
"sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya" ucap laki-laki ini
jika dia mengatakan hal ini berarti memang benar kalau Gibran akan mempertemukan kami dengan Baharuddin dan ratu Sri Dewi.
"hahaha....Abang ini ada-ada saja" jawabku yang langsung pergi begitu saja
aku tersenyum menyeringai. kita semakin dekat saja Baharuddin. detik-detik Kematian mu tidak akan lama lagi. aku tidak peduli jika harus menjadi pembunuh yang telah membunuh ibuku.
"darimana saja kamu...?" tanya kak Furqon
dia bersikap seperti ke adik sendiri karena ada orang lain yang sedang bersamanya.
"dari dapur, tadi aku haus" jawabku dan mendaratkan bokongku di sofa
"apakah kamu rabun...?" orang itu bertanya kepada kak Furqon
gawat....
kalau dia mengambil kacamata yang kak Furqon kenakan maka tamat sudah riwayat kami.
"tidak, tapi aku suka memakai kacamata. memangnya kenapa apakah aku tidak tampan. karena setahuku aku terlihat semakin tampan jika memakai kacamata" kak Furqon memperhatikan wajahnya menggunakan hp miliknya
"aku kira kamu rabun. bagaimana bisa melawan sasaran nanti jika ternyata kamu rabun" jawab orang itu
"kamu mau memakai kacamata seperti ini...? aku punya banyak stok, aku bisa membawakan untukmu" ucap kak Furqon
"boleh aku coba...?" ucapnya
mampus.....
aku semakin deg-degan sementara kak Furqon terpaku dan menatapku sejenak. sepertinya dia tau kalau aku kini sedang dalam keadaan khawatir.
"tidak usah tegang tuan muda" aku mendengar suara paman Randi
kenapa mereka berbicara seperti itu, apakah kami tidak akan ketahuan nantinya. aku tau paman Randi dapat melihatku karena Furqon yang sedang melihat ke arahku.
"tentu saja bisa, nih" kak Furqon melepaskan kacamatanya dan memberikan kepada orang itu
__ADS_1
laki-laki yang duduk di sofa lain mengulurkan tangannya dan mengambil kacamata yang ada di tangan kak Furqon. segera ia memakainya sedangkan aku mulai bersiap mengambil ancang-ancang jika kami akan ketahuan.
"tidak begitu buruk" ucapnya saat melihat wajahnya di kamera hp-nya
aku melongo, tentu saja iya. apa iya kami tidak akan ketahuan.
"dipakai oleh siapapun mereka tidak akan tau kalau kacamata itu terpasang kamera. mereka akan tetap merasakan kalau itu adalah kacamata biasa" ucap paman Helmi
"wah hebat kali lah paman ini. aku juga mau satu dong paman" ucap Vino
"mau ngapain, kamu kan tidak sedang menjalankan misi" ucap paman Pram
"ternyata kamu bertambah tampan" ucap kak Furqon memuji orang ini
laki-laki itu melepaskan kacamata dan memberikannya kembali kepada kak Furqon.
huufffttt....
aku bernafas lega, sejak tadi aku merasa tegang. jika kami ketahuan di sini sudah pasti kami akan kewalahan melawan mereka yang begitu banyak atau bahkan mungkin akan mati di tempat ini.
tak
tak
tak
suara langkah kaki terdengar mengarah ke arah kami. aku mengarahkan pandangan ke depan. di sana dua orang laki-laki sedang berjalan menghampiri kami. satu dari laki-laki itu begitu aku kenal. dia mengedipkan mata ke arahku saat mata kami bertemu.
dasar, genitnya tidak pernah hilang. namun aku sangat bersyukur dia baik-baik saja setelah semalaman aku dan yang lainnya mengkhawatirkan dirinya.
kak Furqon menatap lekat ke arah kak Dirga, bagaimana tidak. kak Furqon baru pertama kali melihat kak Dirga. saat mereka menyerang kami tadi malam, kak Furqon tidak bertemu dengan kak Dirga dan juga belum tau tentang penyamaran seperti apa yang dilakukan kak Dirga sehingga dia menatap kak Dirga penuh tanda tanya.
"bagus, tuan muda Dirga sudah masuk ke dalam" ucap kak Ardi
"hah...?" kak Furqon kaget seketika dan menganga
"kenapa Abi...?" tanya Gibran penuh selidik
"tidak...tidak apa-apa. aku kaget saja bos membawa waria di sini" jawab kak Furqon
bbbfff....
tawaku hampir saja meledak jika aku tidak menahannya. sementara aku mendengar tawa tim samudera dan yang lainnya seketika penuh di telingaku.
"heh, markonah sikonah sikonah....enak aja kalau ngomong" kak Dirga begitu kesal di panggil waria oleh kak Furqon sementara kak Furqon hanya nyengir kuda
kak Dirga ternyata meskipun sudah berpenampilan dewasa namun sikap tengilnya tidak pernah berubah. masih selalu saja memanggil nama orang dengan panggilan lain jika ia merasa jengkel.
"tuan muda El, nanti tuan muda ke tempat sepi dan memasangkan alat penyadap di tubuh tuan muda Dirga kemudian pasangkan headset di telinganya" ucap paman Pram
aku mendengar tapi tidak menjawab, namun paman Pram pasti tau kalau aku mendengar ucapannya. sebelum aku akan menemui kak Furqon, mereka menyiapkan alat-alat itu untuk kak Dirga dan menitipkannya padaku.
"dia adalah Awan sekarang dia akan bergabung bersama kita" ucap Gibran
karena Gibran adalah tangan kanan Baharuddin, maka semua bawahannya memanggil dirinya bos. semua yang dikerjakan oleh Baharuddin akan diambil alih oleh Gibran dan Baharuddin tinggal menunggu hasilnya saja
Gibran mengangguk dan mereka mencari tempat untuk bicara sementara kak Dirga langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
"kenapa melihatku seperti itu kak Furqon. mau di tusuk matanya" ucap kak Dirga dengan kesal. mungkin dirinya masih tidak terima dipanggil waria oleh kak Furqon tadi
"kalau berpenampilan seperti ini, tuan muda cocoknya menjadi preman atau mafia" ucap kak Furqon
"aku sengaja seperti ini agar nanti Baharuddin itu bisa yakin kalau aku bisa diandalkan" ucap kak Dirga
"lalu bagaimana dengan Aris kak, bukannya kakak mengejar dia semalam...?" tanyaku
"dia di rumah sakit" jawab kak Dirga
percakapan kami terhenti karena Gibran datang bersama laki-laki tadi.
"kita berangkat sekarang" ucap Gibran
"kemana...?" tanya kak Dirga
"menjalankan tugas sebelum bertemu bos" jawab Gibran
"tugas apa...?" tanyaku
"nanti juga kalian akan tau" jawab Gibran
Gibran beranjak lebih dulu. saat itu aku menarik kak Dirga ke tempat sepi untuk melakukan apa yang disuruh oleh paman Pram tadi.
"kenapa sih...?" tanya kak Dirga
"paman, aku simpan dimana alat penyadapnya" tanyaku
"di belakang daun telinga tuan muda Dirga" jawab paman Helmi
aku beralih posisi ke belakang kak Dirga dan memasang alat yang sangat kecil itu. kemudian tidak lupa memasangkan headset di telinga kak Dirga.
"sudah paman" ucapku
"apa yang kamu tempel di telingaku...?" tanya kak Dirga
"itu alat penyadap tuan muda, agar kami bisa tau dimana keberadaan kalian dimana pun kalian pergi" ucap paman Randi
"hei....kalian ngapain di situ"
kami berdua dikejutkan dengan munculnya salah seorang laki-laki yang tiba-tiba.
"kami mencari toilet" jawab kak Dirga
__ADS_1
"nyari toilet kok malah datang ke sini. toilet mah di belakang" jawabnya kemudian berlalu pergi
"ayo kak" ajakku
aku menarik tangan kak Dirga untuk meninggalkan tempat ini. kami telah di tunggu di mobil oleh yang lain.
aku begitu penasaran tugas apa yang akan kami lakukan. semoga saja bukan tugas membahayakan nyawa orang lain. kalaupun iya, tentu saja aku tidak akan tinggal diam dan mencari cara untuk menggagalkan rencana mereka.
setelah lama berada di dalam mobil, kami tiba di sebuah dermaga. karena semua orang turun dari mobil maka aku pun ikut turun.
"sebenarnya kita akan kemana...?" tanyaku pelan kepada kak Furqon
"aku juga tidak tau" jawabnya
"bukankah ini dermaga tempat kita akan menyebrang ke pulau yang pernah dibeli oleh pak Burhan atas naman tuan muda Dirga" ucap paman Helmi
"iya, waktu itu kita pernah ke sana untuk menyelamatkan tuan muda Dirga kan" timpal paman Pram
"pulau...?" tanya ayah
"iya pak, pulau. pulau ini adalah milik tuan muda Dirga. tidak ada yang bisa masuk ke sana selain orang-orang dari Sanjaya. apalagi tidak ada yang bisa menjangkau pulau itu karena pak Burhan menutupinya dari orang banyak" jawab paman Randi
"kenapa kita tidak berpikir ke arah pulau itu ya" ucap kak Ardi
"apa jangan-jangan, Baharuddin...."
"Baharuddin bersemangat di pulau itu" jawab semuanya
"itu bisa saja. karena Baharuddin bisa masuk kan memang masih keluarga Sanjaya bahkan keturunan dari tuan Sanjaya" ucap ayah
aku melihat kak Dirga menghindar dan ke tempat sepi. kemudian tidak lama aku mendengar suaranya.
"aku dan El serta kak Furqon akan terus mencari tau. kalau ternyata Baharuddin berada di pulau itu, maka kita siapkan pasukan untuk menguncinya di pulau itu" ucap kak Dirga
memang aku melihat dari jarak yang begitu jauh, ada sebuah pulau di sebrang sana. mungkin itulah yang mereka maksud.
tidak lama kak Dirga datang kembali. rambutnya yang gondrong tidak ia ikat lagi untuk menutupi headset yang ada di telinganya.
di tempat ini memang sangat sepi, mungkin tidak difungsikan untuk khalayak ramai.
kami hanya menunggu di dermaga itu entah apa yang akan kami lakukan, masih menjadi tanda tanya besar di kepalaku.
hingga beberapa jam kami berada di dermaga, sebuah kapal menepi di dermaga tempat kami berada.
aku kira kami akan menyebrang ke sana namun ternyata kami hanya menjadi patung di sini. sebenarnya apa yang direncanakan oleh Baharuddin pak tua ini. benar-benar menjengkelkan.
setelah kapal itu menepi, Gibran menyuruh aku, kak Furqon dan kak Dirga untuk mendekati kapal itu. tentu kami akan patuh karena saat ini kami sedang berkerja untuknya.
"angkat semua kotak kayu itu dan bawa ke sini" perintah Gibran
tanpa bertanya sedikitpun kami masuk ke dalam kapal dan mengangkat satu persatu kotak kayu yang entah apa isi di dalamnya. namun indra penciumanku, aku mencium bau ikan. mungkin di dalam kotak ini isinya adalah ikan.
ada 15 kotak kayu keseluruhan. Gibran menyuruh anak buahnya yang lain untuk membuka salah satu kotak kayu. setelah di buka ternyata benar dugaan ku kalau isinya adalah ikan. namun kemudian mataku membulat tatkala orang itu membelah perut ikan dan mengambil sesuatu di sana. plastik yang berisi bubuk putih ada di dalam perut ikan.
"astaga, apakah itu narkoba" ucap Bara
aku tentu saja kaget, jadi ternyata selama ini Baharuddin adalah seorang pengedar narkoba.
"Abimana, Syakir dan Awan....tugas kalian adalah membawa barang-barang ini ke tempat dimana seseorang telah menunggu kalian di sana" ucap Gibran
"tunggu dulu" ucap kak Dirga
"kenapa harus kami...?" tanya kak Dirga menatap Gibran dengan penuh selidik
"karena bos ingin kalian yang melakukannya" jawab Gibran
"bagaimana kalau nanti kami ketahuan" ucap ku
"maka itu adalah resiko kalian. jika kalian ketahuan dan berani buka mulut maka siap-siap saja.......nyawa melayang" ucap Gibran
gila.....ini benar-benar gila. mereka bahkan tidak segan-segan membunuh orang-orang mereka sendiri jika berbuat kesalahan.
"aku dan dia akan melakukannya tapi jangan dengan Syakir" ucap kak Dirga
Gibran mengangkat satu alisnya, dia pasti bertanya-tanya kenapa kak Dirga mengatakan hal itu.
"dia masih anak-anak, aku tidak mau masa depan dia hancur hanya karena mengirim barang-barang ini. aku dan Abi yang akan melakukannya. aku sudah beberapa kali melakukan hal yang lebih gila dari ini. bukannya aku sudah cerita di rumah sakit" ucap kak Dirga
aku tau kalau kak Dirga melakukan itu semua hanya untuk melindungiku.
"benar bos, tolong jangan libatkan adikku. suruh saja dia yang lain tapi jangan membawa barang-barang ini" ucap kak Furqon
"tidak bisa, dia harus tetap melakukannya. jika tidak, maka dia tidak boleh bergabung bersama kami" ucap Gibran
"tidak apa-apa kak, tidak khawatir...aku bisa melakukannya" ucapku kepada kak Furqon
"setelah tugas kalian selesai maka temui aku. Abimana tau dimana harus menemuiku" ucap Gibran lagi
"aku tidak tau" jawab kak Furqon
"apa kamu sudah lupa tempat dimana kamu bertemu dengan dokter Nathan...?"
"oh, kalau rumah itu aku tau" jawab kak Furqon
"bagus, temui aku di situ. dan kamu Syakir, kamu punya SIM kan...?" Gibran melihat ke arahku
"punya bos" jawabku
"siapkan mereka mobil" Gibran menyuruh anak buahnya
"baik bos"
__ADS_1
aku menghela nafas, semoga saja diperjalanan nanti tidak ada polisi atau rintangan lainnya yang menghalangi ku untuk membawa barang ini.