Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 84


__ADS_3

para tamu undangan pulang ke rumah masing-masing. Zidan meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang terjadi. dirinya menyesal telah membuat semua tamunya berada dalam situasi yang menegangkan dan berbahaya.


pria yang membuat onar tadi sudah dibawa ke kantor polisi oleh pengawal yang lain. dia sempat memohon kepada ayah Adnan untuk mengampuninya karena semua yang dia lakukan adalah untuk anak dan istrinya yang sudah sengsara berbulan-bulan karena dirinya yang belum juga mendapatkan pekerjaan setelah ia dipecat dari pekerjaannya.


"dimana alamatmu...?" tanya ayah Adnan


"di jalan xxx indekos Anandi kamar nomor 5" jawab pria itu


"saya akan membantu memenuhi kebutuhan istri dan anakmu selama kamu dipenjara. perbuatanmu harus kamu tanggung konsekuensinya" ucap ayah Adnan


"siapa namamu...?"


"Riki pak. terimakasih atas kemurahan hati bapak" pria yang bernama Riki itu bersimpuh di kaki ayah Adnan


"minta maaf padaku karena kamu sudah mengacaukan acara pernikahannya" ayah Adnan menunjuk Zidan


pria itu berjalan menggunakan lututnya dan bersimpuh di kaki Zidan. sontak Zidan memegang bahu Riki dan membantunya untuk berdiri.


"tidak perlu bersimpuh seperti itu. aku bukan Tuhan untuk kamu sembah" ucap Zidan


"maafkan saya pak"


"semoga setelah ini kamu sadar dan tidak mengulangi lagi kebodohan seperti ini" ucap Zidan dan Riki mengangguk


pria itu di bawa ke kantor polisi meninggalkan mereka semua.


kini tinggal tim samudera serta orang tua mereka di tempat itu. ayah Adnan menghampiri mereka begitu juga dengan Zidan.


"saya minta maaf yang sebesar-besarnya telah menempatkan anak-anak kalian dalam situasi yang berbahaya" ucap ayah Adnan


"tidak perlu meminta maaf pak Adnan, yang penting kita semua selamat. saya tidak menduga rupanya El-Syakir adalah seorang anak dari pengusaha kaya seperti bapak" timpal pak Wira papa Vino


"iya, selama ini yang kita tau orang tua El-Syakir adalah pemilik toko dan laundry namun ternyata jauh di luar dugaan, dia anak orang kaya" ucap pak Rahmat papa Leo


"jangan memuji seperti itu pak Rahmat, ini semua juga bukan serta-merta milik saya tapi milik yang berhak dan saya hanya menggantikan saja" jawab ayah Adnan


"pak Adnan memang dari dulu selalu merendah. semoga kerjasama antara kita terus berjalan pak Adnan. saya sangat bangga bisa bekerja sama dengan pimpinan Sanjaya grup yang berwibawa seperti bapak" ucap pak Wira


"saya juga merasa terhormat bisa bekerjasama dengan orang-orang hebat seperti kalian" timpal ayah Adnan


Adam tersenyum melihat ayahnya begitu rendah hati. sama sekali tidak berubah dari sejak dia dan El-Syakir masih kecil.


setelah tidak ada lagi yang harus dilakukan, para orang tua itu meminta undur diri untuk pamit dan mengajak anak-anak mereka.


"papa sama mama duluan saja, Leo masih ingin bertemu El-Syakir"


"aku juga masih ingin bertemu El mah" ucap Vino saat mama Nifa mengajak putranya pulang


"ya sudah. mama tunggu di rumah ya"


"iya mah"


mama Nifa mengecup kening Vino kemudian meninggalkan mereka semua bersama suaminya, pak Wira.


orang tua para remaja itu telah pergi, tinggal mereka, ayah Adnan, Zidan dan para pengawalnya.


"dimana El-Syakir dan Vania dibawa...?" tanya ayah Adnan


"di tempat yang tidak akan mereka datangi. kita ke sana sekarang" jawab Zidan


"Pram, Hemi, tolong urus kekacauan tadi. ganti dengan jumlah yang lebih besar atas semua kerusakan yang ada" lanjut Zidan


"baik bos" jawab kedua pria itu


"sekalian, cek di alamat yang dikatakan Riki tadi. apakah benar dia tinggal di alamat itu atau tidak. kalau memang iya, maka bantu istri dan anaknya. jangan katakan kalau suaminya sedang berada di penjara" ucap ayah Adnan


"kenapa pak...?" tanya Helmi


"kalian tau apa alasanku. cari cara agar dia bisa menerima bantuan kita tanpa ia merasa dikasihani atau direndahkan" jawab ayah Adnan


"baik pak" jawab kedua pria itu


"kita pergi sekarang" ucap Zidan


"paman, kami ikut boleh...?" tanya Leo


"ikutlah" jawab Zidan


mereka semua masuk ke dalam mobil dan meninggalkan hotel yang menjadi saksi pernikahan Zidan dan Vania dengan hadiah kericuhan yang ada.


"Pram" panggil Mita bersama Sisil, ia menghampiri kedua pria itu


"lah kalian belum pulang...?" ucap Pram


"belum. bagaimana apakah sudah aman...?" tanya Mita


"sudah. tinggal mengurus semua kerugian akibat kekacauan tadi" jawab Pram


"kalian berdua sebaiknya pulang saja, akan aku panggilkan taxi" ucap Helmi


"aku ingin pulang bersamamu" ucap Sisil menatap Helmi


"aamm... baiklah. tunggu kami di lobi hotel, nanti kami akan menyusul kalian" jawab Helmi


Helmi menyeret Pram untuk pergi dari tempat itu, sedang Mita dan Sisil ke lobi hotel.


"kenapa kamu tegang seperti itu...?" tanya Pram


"siapa yang tegang, aku biasa saja" jawab Helmi mengelak


"sepertinya Sisil menyukaimu, kenapa kamu tidak mencoba mendekatinya" ucap Pram


"kamu kalau bicara suka ngaco" jawab Helmi


"bukan ngaco tapi memang seperti itu yang aku lihat. dia baik loh Hel, meskipun janda tapi dia tetap cantik dan kalian cocok"


"tau ah, aku belum kepikiran sampai ke arah situ" jawab Helmi acuh


setelah menyelesaikan pembayaran kerugian hotel, kedua pria itu bergegas ke lobi hotel untuk menemui dua wanita yang sedang menunggu mereka.


"sudah...?" tanya Mita saat melihat kedua pria itu mendekat


"sudah. ayo aku antar pulang" jawab Pram

__ADS_1


"sil, aku duluan yah" pamit Mita


"iya hati-hati" jawab Sisil


setelah Pram dan Mita pergi, kini Helmi dan Sisil keluar meninggalkan hotel. sepanjang jalan keduanya hanya diam tanpa ada yang memulai percakapan.


"bolehkah kita singgah makan dulu. aku lapar" ucap Sisil


"kamu tidak makan tadi...?" Helmi melihat sekilas Sisil


"bagaimana mau makan kalau keadaannya seperti tadi" jawab Sisil


"baiklah, kita berhenti di depan sana"


Helmi menghentikan mobilnya di sebuah warung makan. keduanya masuk ke dalam dan memesan makanan yang mereka inginkan.


"sepertinya Sisil menyukaimu, kenapa kamu tidak mencoba mendekatinya"


"bukan ngaco tapi memang seperti itu yang aku lihat. dia baik loh Hel, meskipun janda tapi dia tetap cantik dan kalian cocok"


Helmi terpikir dengan ucapan Pram tadi. ia tatap wanita yang ada di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"apa wajahku ada nodanya sampai kamu melihatku seperti itu...?" tanya Sisil membuyarkan lamunan Helmi


"tidak, kamu tetap cantik" jawab spontan Helmi membuat Sisil tersipu


setelah pesanan mereka datang, dengan lahap mereka menyantap makanan itu. selesai dengan urusan kampung tengah, Helmi melajukan mobilnya untuk mengantar Sisil pulang.


"terimakasih Hel" ucap Sisil


"sama-sama. salam sama Azam" jawab Helmi tersenyum


"akhir-akhir ini Azam sering nanyain kamu, sepertinya dia senang bisa diajak ngobrol denganmu"


"oh ya. bilang padanya kapan-kapan aku akan mengajaknya keluar. dia anak yang baik dan pintar"


"Azam pasti senang mendengarnya. nanti aku sampaikan" ucap Sisil dan Helmi mengangguk


"aku masuk dulu ya, kamu hati-hati di jalan"


"iya"


Sisil keluar dari mobil Helmi dan setelahnya pria itu meninggalkan rumah kediaman Sisil.


(segitu susahnya untuk mendapatkan mu Hel. apa aku tidak pantas untukmu sehingga kamu tidak tertarik padaku) batin Sisil masih menatap mobil Helmi sampai tidak terlihat


di tempat lain, mobil yang membawa ayah Adnan dan tim samudera telah sampai ditujuan. mereka semua keluar dari mobil.


"ini rumah paman juga...?" tanya Bara melihat rumah mewah yang ada di depan mereka


"iya. ayo masuk" ucap Zidan


sebenarnya itu adalah markas untuk Zidan dan pengawalnya. bahkan di tempat itu ada ruang bawah tanah dimana dulu Rudi dan Thalita di sekap.


"ayah" panggil El


"sayang" Vania berlari dan memeluk Zidan


"kamu baik-baik saja...?" tanya ayah Adnan menghampiri anaknya


kini semuanya telah berada di ruangan yang besar dengan sofa yang empuk. di rumah mewah itu rupanya ada juga seorang ART, yang bertugas membersihkan dan memasak.


banyak pengawal di tempat itu. di depan berjejer pengawal mengawasi sekitar. di rumah utama Sanjaya grup yang ditinggali Zidan, juga di penuhi dengan pengawal yang berjaga karena sekarang bisa saja tiba-tiba serangan dari seseorang datang menyerang.


"yah sebenarnya apa yang terjadi, dan pekerjaan ayah sebenarnya apa...?" tanya El memulai percakapan


"sudah waktunya dia harus diberitahu mas" ucap Zidan


"beritahu apa yah. apa yang ayah sembunyikan dari El, Alana dan ibu...?" tanya El


Adam tidak tertarik dengan percakapan mereka. hantu itu berkeliling ke ruangan yang lain dan sekarang dia telah masuk di ruangan bawah tanah.


"kalau aku ajak mas poci dan mba Kun kesini pasti seru bisa main petak umpet" ucap Adam melayang menyisir setiap lorong yang ada


krruuuukkk krruuuukkk


"aduh perut, kamu memang tidak bisa diajak berpetualang. aku kan masih ingin jalan-jalan" ucapnya memegang perutnya


"ya sudahlah, aku cari melati dulu. hidupku memang tidak pernah sempurna tanpa melati"


Adam melayang meninggalkan ruang bawah tanah sambil bersiul.


"jawab dong yah, sebenarnya ada apa...?" ucap El


tim samudera pun menanti-nanti penjelasan dari ayah Adnan. dari pesta pernikahan tadi saat ayah Adnan di sebut sebagai pemimpin perusahaan besar, mereka semua mulai kepo dan ingin mengetahui kebenarannya.


"ayah akan ceritakan semuanya" ucap ayah Adnan


"ayah sekarang adalah pimpinan di perusahaan Sanjaya grup, perusahaan keluarga Zidan" lanjut ayah Adnan


" perusahaan keluarga paman Zidan...?" tanya El


"iya" jawab ayah Adnan


"lalu kenapa harus ayah yang menjadi pimpinannya, kenapa bukan paman Zidan sendiri...?" tanya El


"kamu masih ingat kan saat kita terpisah dengan bunda dan kakakmu, Dirga...?"


"ingat yah, sampai sekarang aku ingin sekali bertemu dengan bunda dan kak Dirga" jawab El


"setelah perpisahan ayah dan bunda, bundamu menikah lagi dengan sahabat ayah, Burhan namanya. kakak dari Zidan"


semuanya membulatkan mata, kaget dengan ucapan dari Ayah Adnan. Vania pun sama kagetnya karena selama ini ia tidak tau bagaimana dan darimana asal ayah Adnan. yang ia tau bahwa ayah Adnan adalah keluarga dari suaminya.


"bunda selingkuh...?" tanya El


"bukan, bundamu bukan wanita seperti itu" jawab ayah Adnan


"lalu kenapa setelah berpisah bunda menikah dengan sahabat ayah...?"


"mungkin karena mereka berjodoh. setelah perpisahan kita tidak pernah bertemu lagi dengan mereka selama bertahun-tahun"


"terus...?"

__ADS_1


"beberapa bulan lalu, Zidan datang menemui ayah dan memberi tahu bahwa sahabat ayah dan istrinya yaitu bundamu dibantai oleh orang yang dengki dengan keberhasilan mereka sehingga mereka....." ayah Adnan menggantung ucapannya


"mereka Kenapa yah...?"


"mereka di bunuh"


deg


deg


deg


tubuh El-Syakir lemas mendekati Kenyataan pahit itu. jantungnya berpacu dengan cepat, kepalanya sakit luar biasa hingga akhirnya ia jatuh pingsan.


"El kamu kenapa nak" ayah Adnan panik begitu juga yang lainnya


"bawa ke kamar mas, dia pasti shock dengan kenyataan yang menyakitkan ini" ucap Zidan


ayah Adnan menggendong El-Syakir dan membawanya ke dalam kamar. Zidan meminta minyak kayu putih atau balsem untuk dibalurkan ke hidung remaja itu.


"aku punya minyak telon paman" ucap Nisda


"berikan padaku"


Nisda memberikan minyak telon miliknya kepada Zidan. pria itu menuang minyak telon ke tangannya dan membalurkan ke hidung El-Syakir agar remaja itu dapat menghirupnya dan cepat sadar.


"sepertinya dia begitu terguncang dengan apa yang didengarnya. kita tunggu sampai dia sadar, kalau ternyata dalam satu jam dia tidak sadarkan diri, kita bawa ke rumah sakit" ucap Randi


"inilah yang aku takutkan kalau aku mengatakan yang sebenarnya. aku takut El tidak bisa menerima kenyataan" ucap ayah Adnan dengan perasaan sedih


"sabar mas, lambat laun El akan ikhlas dengan kepergian bundanya" ucap Zidan


mereka meninggalkan kamar dan hanya ayah Adnan dan El-Syakir yang berada di dalam. Zidan menyarankan untuk menjemput ibu Arini dan Alana ke tempat itu karena Alana juga harus tau kenyataan yang sebenarnya bahwa dirinya masih mempunyai kakak yang satunya lagi.


ayah Adnan menelpon ibu Arini dan mengatakan bahwa mereka akan dijemput. ibu Arini sempat bertanya dan berpikir negatif namun suaminya menenangkannya bahwa semuanya baik-baik saja.


📞 Zidan


halo Ed


📞 Edward


woi pengantin baru. selamat atas pernikahan mu.


📞 Zidan


terimakasih. harusnya kamu datang menyaksikan pernikahan ku yang begitu ekstrim


📞 Edward


aku juga ingin pergi namun aku berpikir dua kali. bagaimana kalau Dirga kritis lagi saat aku tidak ada. aku tidak mau itu terjadi lagi. sudah dua kali dia mengalami kritis, aku harus siap siaga


📞 Zidan


terimakasih atas kerja keras mu Ed. aku sangat mengandalkan mu


📞 Edward


sudah tugasku sebagai seorang dokter. oh iya maksud mu dari pernikahan ekstrim itu apa..?"


📞 Zidan


pernikahan ku kacau. karena pengacau yang ingin mendapatkan jabatan direktur Sanjaya grup. untung aku sudah ijab qobul


📞 Edward


miris juga pernikahan mu. untung betul kamu sudah ijab qobul kalau enggak bisa mati puasa lagi si Joni mu. Edward tertawa di sebrang sana


📞 Zidan


sialan kau. mereka berdua sama-sama tertawa


tim samudera sedang berkumpul di ruang tengah, hanya mereka tanpa ada orang lain.


"kasian sekali El. sudah bertahun-tahun dia merindukan bundanya dan setelah mendengar berita ternyata yang didengarnya berita kematian bundanya" ucap Vino


"El pasti terguncang dengan semua ini. tidak mudah untuk menerima kenyataan pahit seperti ini" timpal starla


"kita harus tetap bersamanya dan menghiburnya nanti" ucap Leo


"tentu saja, kita kan tim. sesama tim tidak boleh saling meninggalkan apapun keadaannya" ucap Bara


mereka semua termenung dengan apa yang terjadi hari ini. hampir mati karena bom dan sekarang salah satu teman mereka harus menerima kenyataan yang menyakitkan. namun disaat sedang melamun, Bara tersentak kaget dan berdiri.


"apa sih Bara. bikin kaget lu" ucap Vino


"astaga astaga astaga" ucap Bara menutup mulutnya


"kenapa sih Bara, ada apa...?" tanya Leo


"kalian dengarkan kalau om Adnan bilang tadi bahwa bunda El menikah dengan sahabatnya yaitu kakak dari paman Zidan" ucap Bara yang duduk kembali


"ya terus...?" ucap Nisda


"om Adnan bilang kalau dia dan El berpisah dengan bunda dan kakaknya"


"lalu...?" tanya Vino


"Om Adnan sempat menyebut nama kakak El tadi, masa iya kalian nggak dengar sih" kesal Bara


"dengar kok dengar. om Adnan menyebut Dirga, iya kan" timpal Leo


"iya betul dan kalian tau dia siapa...?" Bara menatap mereka dengan serius


"ya taulah, Dirga itu kakaknya El" ucap Vino


"aduh bukan itu bego. masa kalian nggak ngerti sih. paman Zidan mempunyai keponakan yang sedang koma yang bernama Dirga Sanjaya biasa dipanggil Dirga. kakak El yang bernama Dirga, sudah jelas pasti menjadi keponakan paman Zidan saat bunda El menikah dengan kakak paman Zidan" Bara menjelaskan


"kalian tau maksudku kan" lanjut Bara


sontak mereka semua kaget dan saling pandang setelah mendengar penjelasan dari Bara.


"berarti.... berarti...." starla gagap

__ADS_1


"kakak El yang sebenarnya adalah....."


"Adam" ucap mereka serentak dan menutup mulut tidak percaya


__ADS_2