Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 175


__ADS_3

saat menginjakkan kaki di hutan belantara itu, udaranya terasa sangat berbeda pada saat mereka masih berada di di desa Boneng. suasananya nampak seperti bukan pada pagi hari.


hutan itu tidak terang namun juga tidak gelap. hanya berwarna kelabu dan dipenuhi kabut. aura mistis begitu terasa saat sudah berada di dalam hutan.


"merinding gue" Starla mengusap tengkuknya


"iya, gue juga sama. ini baru masuk di perbatasannya loh belum lagi di dalam sana pasti lebih menyeramkan" Nisda menimpali


"jangan biarkan pikiran takut memenuhi kepala kalian. kita kan sudah biasa menghadapi hal semacam ini. anggap saja ini adalah petualangan kita untuk kesekian kalinya" ucap El-Syakir


"hemm, petualangan mistis....memang nggak akan pernah bisa hilang dari kehidupan kita" Vino menambahkan


"berhati-hatilah, semua setan mempunyai tipu daya untuk membuat kita terlena dan tertipu" pak Zainal memberi nasihat


"baik pak" mereka menjawab serempak


semakin masuk ke dalam hutan maka mereka akan semakin jauh dari desa Boneng. seperti yang dikatakan Starla, aura mistis begitu jelas mereka rasakan. bahkan kini mereka merasa banyak pasang mata yang sedang mengintai gerak-gerik mereka semua.


"kita lupa bawa sesuatu" ucap Leo


"memangnya apa yang kita lupa kak...?" tanya Alana


"obor, kita lupa membawa obor" timpal Bara


"ah iya benar, harusnya tadi kita membawa obor. mereka kan takut sama yang namanya api" ucap Melati


"yang kita butuhkan sekarang adalah kekompakan dan kerjasama anak-anak. meskipun kita membawa obor, tidak menutup kemungkinan kita akan menghadapi mereka menggunakan tenaga dan kekuatan. obor tidak bisa diandalkan untuk melindungi kita" pak Zainal memberitahu


"benar apa yang dikatakan pak Zainal. obor tidak selamanya bisa menghalau mereka" El-Syakir setuju dengan ucapan laki-laki baya itu


"baiklah, kalau begitu siapkan senjata kalian semua teman-teman. sepertinya kita akan mulai bertarung, gue merasakan energi jahat disekitarnya sini" Vino mengeluarkan cambuk miliknya


yang lainnya pun mengeluarkan senjata mereka. benar saja, dari arah kabut yang tebal di depan sana. arwah-arwah itu datang dengan jumlah yang banyak. mereka mencium kedatangan manusia dan tentu saja mereka dapat merasakan itu.


melihat beberapa manusia yang datang sendiri ke tempat mereka, tentu membuat mereka begitu ingin segera menghisap energi tim samudera dan pak Zainal.


"mereka banyak banget" ucap Alana


wajah-wajah mengerikan itu semakin mendekat ke arah mereka. ada yang mengelupas, wajah tidak utuh, isi perut yang keluar semuanya tampak menjijikkan ditambah lagi tubuh mereka yang gosong.


mata para arwah itu menatap tajam ke arah tim samudera. mereka seperti melihat makanan yang lezat siap untuk disantap.


grrrrr


para arwah itu bergerak cepat siap untuk menyerang. tim samudera melayani mereka tanpa rasa takut sedikitpun. pak Zainal pun ikut bertarung melawan arwah-arwah itu.


"hindari serangan dari kuku mereka. mereka mempunyai racun yang dapat mengakibatkan kelumpuhan seperti yang dialami Leo" pak Zainal mengingatkan anak-anak itu


"siap" mereka semua menjawab


satu persatu arwah-arwah mengerikan itu lenyap setelah mengerang kesakitan akibat terkena tusukan dari keris yang dimiliki oleh El-Syakir. untuk makhluk gaib, keris itu adalah ancaman bagi keselamatan mereka.


"AWAS KAK" Alana teriak saat Leo lengah sedang menghadapi arwah yang menyerangnya sedang dari belakang ada yang ingin menusuk menggunakan kuku tajam miliknya


jleb


tepat saat itu, Leo menggorok salah satu lawannya kemudian memutar badan dan menusuk arwah itu dengan pedangnya hingga tembus di bagian belakang.


erangan kesakitan melengking dari mulut arwah itu kemudian lenyap seketika.


"kakak nggak apa-apa...?" Alana menghampiri Leo untuk memastikan keadaannya


"aku baik-baik saja, terimakasih sudah memberitahuku" Leo memegang bahu Alana dan gadis itu mengangguk


Nisda dan Starla melilit tubuh yang gosong itu menggunakan selendang milik mereka dan melempar arwah-arwah itu ke batang pohon hingga beberapa dari mereka saling menindih.


Melati melawan dengan kampak berukuran sedang miliknya. satu persatu ia tebas punggung bahkan kepala arwah-arwah itu sampai mereka menghilang.


Jan sarikan lungurtum Kris larangapati


cahaya putih keluar dari keris milik El-Syakir. saat itu juga El-Syakir memutar tubuhnya dan mengarahkan cahaya itu ke arah arwah-arwah gentayangan itu.


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


ledakan hebat terjadi. tubuh dari arwah-arwah itu meledak saat terkena cahaya keris larangapati. kini tempat itu kembali sunyi setelah mereka melewati pertarungan yang sengit.


"huufffttt, capek juga bertarung" Vino duduk di tanah dan bersandar di salah satu pohon. Bara ikut duduk bersamanya


pak Zainal menelisik sekitar hutan. ia pun berjongkok dan memegang tanah kemudian menutup mata. sedang tim samudera diam di tempat namun tetap berjaga-jaga jangan sampai mereka diserang lagi seperti tadi.


sekian menit menutup mata, pak Zainal membuka matanya dan langsung berdiri.


"mereka tidak ada di sini" ucap pak Zainal. maksud dari ucapannya adalah bahwa Adam, Deva dan Wulan tidak ada di sekitar hutan itu

__ADS_1


"berarti kita harus masuk lebih dalam lagi" timpal Leo


"apakah tidak bisa kita istrahat sejenak. gue capek" ucap Nisda


"sebaiknya memang kita istrahat dulu dan mengisi tenaga. di depan sana masih banyak lagi yang harus kita hadapi" pak Zainal setuju dengan usulan Nisda. ia pun ikut duduk bersama Vino dan Bara


"kalau begitu kita makan saja dulu" Starla mengambil bekal mereka dan membawanya di tengah-tengah


mereka semua menikmati makanan yang dibuat oleh ibu Nurma, ibu Nurul dan ibu Murni.


setelah makan dan istirahat sebentar, kini mereka melanjutkan perjalanan. mereka tidak boleh terlalu lama mengistrahatkan diri. ketiga teman mereka harus segera ditemukan jangan sampai mereka terlambat dan terjadi sesuatu dengan ketiganya.


setelah lama pingsan akhirnya Adam sadar juga. saat dirinya sadar, ia telah berada di tempat lain. bukan lagi di air terjun melainkan dirinya terbaring di sebuah batu besar memanjang. cukup hanya untuk satu orang. di batu yang lain ada Deva dan juga Wulan yang sejak lama mereka cari.


Adam mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi sampai akhirnya ingatannya tertuju pada kejadian yang dirinya alami di air terjun. dimana ia ditipu oleh tim samudera KW.


"brengsek, beraninya mereka menipuku" Adam berusaha untuk bangun namun ternyata dirinya tidak bisa bergerak. kedua tangan dan kakinya terikat dengan mantra


semakin ia menggunakan kekuatannya untuk melepaskan diri maka tenaga Adam akan semakin lemah. akibat air yang diminumnya membuat tubuhnya tidak bertenaga.


"ada dengan diriku, kenapa aku jadi lemah begini" Adam merasakan sakit di bagian lehernya


euughh


saat itu, Deva pun baru sadar. dirinya kaget saat mengetahui ia tidak lagi di lorong yang ia masuki.


"loh, kenapa aku ada disini"


"kak"


"Dirga. loh, kamu juga ada disini" Deva berusaha bangun namun seperti yang terjadi pada Adam, ia juga tidak bisa bergerak


"sialan. siapa yang melakukan"


"kak, gunakan kekuatan mu untuk melepaskan diri dari mantra ini"


"akan aku coba"


Deva menutup mata memusatkan energinya di tangan kanan dan kirinya. kemudian ia berusaha melepaskan diri namun sayangnya usahanya sia-sia saja tidak mendapatkan hasil.


"mantranya kuat banget, aku nggak sanggup" Deva kelelahan


"hihihihihi.... hihihihihi"


"suara siapa itu...?"


"hihihihihi...hmmm banyak juga makananku hari ini. kamu benar-benar bisa diandalkan Ujang"


(dia masih hidup, bukannya ratu Sundari memusnahkannya waktu itu) batin Adam


kuntilanak merah datang bersama pak Ujang. setan yang berpakaian merah itu, dengan wajah yang hancur sebelah dan kuku tajam miliknya, ia terbang mengelilingi calon tumbal yang telah disediakan untuknya.


"paman Ujang" Deva melihat laki-laki yang ia kenal ada di tempat itu


"hahaha, kenapa Deva. kamu kaget...? harusnya kamu tidak datang di tempat ini. kalian berdua datang mengantarkan nyawa sendiri


"keterlaluan, paman benar-benar biadab"


"diam kau. sudah mau mati masih juga ingin melawan"


(gawat ini benar-benar gawat. dengan keadaan ku seperti ini bagaimana bisa aku melawan. aku harus bagaimana ini) Adam mulai khawatir


"dua anak laki-laki ini mempunyai kekuatan luar biasa merah. apalagi anak laki-laki di ujung sana, kekuatannya bahkan berlipat-lipat dari yang satunya ini. dengan menghisap jiwanya, kamu akan kembali kuat" ucap pak Ujang


"aku memang membutuhkan jiwa manusia yang sakti untuk dapat memulihkan tenagaku. akibat ratu sialan itu, aku jadi seperti ini"


"untung saja aku berhasil kabur. sekarang waktunya memulihkan diriku untuk bisa melawan ratu Sundari yang sombong itu"


(jadi dia melarikan diri) batin Adam


"hei pak tua" Adam memanggil pak Ujang


"kurang ajar, apa kamu tidak punya sopan santun" pak Ujang geram dirinya dipanggil pak tua


"lah memang kamu sudah tua kan, masa aku harus panggil pak muda" cerocos Adam


"kamu tau tidak kalau setan yang kamu sembah ini, setelah dia menghisap jiwa kami maka giliran dirimu yang akan menjadi tumbalnya" Adam mencoba merecoki pikiran pak Ujang


"hahaha, tidak usah membual kamu. saya sudah lama menjadi pengikut kuntilanak merah" pak Ujang menertawai Adam


"hhh tidak percaya sekali. ibunya Nilam saja dia bunuh setelah mendapatkan apa yang dia mau"


"ibunya Nilam...?" pak Ujang bertanya


"hihihihihi, kamu lebih percaya anak kecil daripada aku Ujang" kuntilanak merah yang berwana mengerikan itu menatap Ujang dengan tajam


"maafkan aku. lebih baik kamu mulai menghisap jiwa mereka semua" jawab pak Ujang yang tidak percaya dengan ucapan Adam

__ADS_1


(sial, nggak mempan lagi. apa yang harus aku lakukan sekarang)


Adam mencoba membebaskan diri dari mantra yang mengikat tubuhnya.


"aaaaagghhh"


uhuk...uhuk


"Dirga"


Adam terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. ia tidak bisa menggunakan kekuatannya. bahkan semakin ia gunakan semakin dirinya lemah dan kesakitan.


"hahaha, racun yang aku berikan perlahan-lahan akan merusak organ tubuhmu dan membuat kamu mati dengan tersiksa. tapi tenang saja sebelum racun itu membuat mu mati, kuntilanak merah yang akan membawamu bertemu malaikat pencabut nyawa" pak Ujang begitu bahagia melihat Adam menderita


"hihihihihi... waktunya aku makan" kuntilanak merah mendekati Adam


"energimu benar-benar kuat anak muda. kamu adalah makanan terlezatku hari ini"


"hhh, jangan berharap bisa untuk menyentuhku" Adam tersenyum simpul


kuntilanak merah hendak memegang kepala Adam untuk menghisap jiwanya namun setan itu terpental dan mundur beberapa langkah. rupanya Adam memasang pagar gaib untuk dirinya sendiri agar kuntilanak merah tidak dapat menyentuhnya.


"beraninya kamu mempermainkanku" setan merah itu terlihat marah


kuntilanak merah menyerang pagar gaib yang dibuat oleh Adam. ia melayangkan sihir beberapa kali namun tidak pernah tembus.


"Ujang, singkirkan pagar gaib itu" perintah kuntilanak merah


"baik"


pak Ujang maju mendekat dan merapalkan mantra kemudian mengarahkan cahaya yang keluar dari telapak tangannya namun lagi-lagi pagar gaib Adam tidak bisa dihancurkan.


"kurang ajar, beraninya kamu melawan kami" pak Ujang geram


"baiklah, aku akan menyiksa dirimu terlebih dahulu"


pak Ujang duduk bersila dan mulutnya komat kamit. seketika Adam merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya. tangan dan kakinya yang terikat mantra serasa terbakar. dirinya terus terbatuk-batuk bahkan sesak nafas.


"DIRGA" Deva begitu kalut melihat keadaan Adam


"BRENGSEK, BERHENTI KAU PAK TUA"


swing


swing


ddduuuaaaar


"aaaggghh"


Deva melancarkan serangannya ke arah pak Ujang. dari tangannya mengeluarkan sinar biru. ia melesatkan sinar biru itu kepada pak Ujang. pak Ujang terpental dan menabrak pohon. sihir yang dilakukan Deva langsung meledak setelah mengenai pak Ujang.


pak Ujang terluka, bagian dadanya yang terkena sinar biru dari Deva terluka seperti luka bakar.


sedangkan Adam sudah tidak berdaya. tangan dan kakinya terbakar karena mantra penyiksa yang diucapkan oleh pak Ujang. tangan dan kaki Adam memerah dan mengelupas.


karena Adam yang terluka maka pagar gaib yang ia buat mulai melemah. hanya sekali hantam pagar gaib itu langsung hancur seketika.


"hihihihihi, kali ini kamu tidak akan bisa melawanku" kuntilanak merah kembali mendekati Adam


Deva melayangkan serangan kepada kuntilanak merah namun sinar biru yang ia gunakan ditahan oleh setan itu dan mengembalikannya kepada Deva. untungnya Deva dapat menahan serangannya sendiri meskipun pada akhirnya ia terluka karena sihir dari kuntilanak merah.


"tunggu giliran mu" kuntilanak merah menyeringai ke arah Deva yang memuntahkan darah karena serangan setan itu


kuntilanak merah menghisap jiwa Adam. Adam teriak kesakitan bahkan teriakannya lebih keras lagi daripada saat dirinya disiksa oleh pak Ujang. tubuh Adam terangkat ke atas . semua energinya dihisap oleh kuntilanak merah, jiwanya pun ikut dihisap.


"DIRGAAAAA"


wuuuussshhh


bughhh


bughhh


seseorang datang tepat waktu. ia memukul mundur kuntilanak merah hingga setan itu terpental jatuh tersungkur. setelah itu ia meraih tubuh Adam dan memeluknya.


Adam dapat melihat wanita cantik yang sedang memeluk dirinya saat ini. wanita itu merengkuh pinggang Adam dan satu tangannya lagi membelai wajahnya dengan lembut.


"aku datang" ucapnya tersenyum teduh


entah kenapa saat itu juga Adam melihat masa lalu dirinya yang bersama dengan wanita itu. bayangan mereka berdua, berpelukan bahkan Adam yang mencium bibir ranum wanita itu.


Adam juga melihat saat dirinya terluka parah dan dipangku oleh wanita cantik itu.


"a-apa kita akan bertemu lagi...?"


"tentu saja, kita akan bertemu lagi. aku dan kamu akan bertemu lagi. saat itu tiba maka semuanya akan terasa berbeda"

__ADS_1


"aku mencintaimu"


"r....r-ratu" panggil Adam dengan lirih sebelum akhirnya kesadarannya hilang


__ADS_2