
POV (El-Syakir)
kaget melihat keadaan Gibran....?"
tentu saja, karena tadi beberapa jam sebelum kami datang ke vila ini, dirinya baik-baik saja namun sekarang tubuh kekarnya tidak berdaya.
dokter Nathan berlari ke luar rumah dengan sangat tergesa-gesa setelah itu semenit kemudian dirinya datang lagi dengan satu buah tas perlengkapan alat medisnya.
"Bagas, tolong buka bajunya" pinta dokter Nathan kepada Bagas
Bagas menuruti perintah dokter Nathan. ia membuka setiap kancing baju Gibran kemudian melepaskan kemeja abu-abu itu dari tubuhnya.
di perutnya terus saja mengeluarkan darah. dokter Nathan mengambil kain untuk menahan setiap tetesan darah yang keluar.
"sebenarnya apa yang terjadi padanya...?" tanyaku karena sejak tadi lidahku sudah begitu gatal ingin bertanya
"dia terkena tembak" jawab dokter Nathan
dokter Nathan memasangkan infus ke tangan Gibran setelah itu, ia akan menyuntikkan obat pereda rasa sakit karena sepertinya dirinya akan melakukan hal ekstrim sebagai seorang dokter.
"kenapa kita tidak membawanya ke rumah sakit saja...?" tanya kak Furqon yang memiliki pemikiran yang sama denganku
"tidak bisa, kalau keadaannya sudah seperti ini berarti dia dalam keadaan bahaya" ucap dokter Nathan
aku dan kak Furqon saling pandang, sungguh saat ini aku begitu sangat sangat dan sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi kepada laki-laki yang kini terbaring di ranjang dengan luka tembak di perutnya.
bukankah Gibran tidak akan mempunyai musuh, kalau bukan ada, pasti dari orang-orang Sanjaya grup karena hanya kami lah musuh mereka, sementara dirinya adalah tangan kanan Baharuddin dan juga anak kandungnya.
apa iya Gibran terluka seperti ini karena dirinya berusaha menculik paman Zidan namun dihadang oleh kak Ardi dan yang lainnya sehingga terjadi saling tembak-tembakan.
kami semua tidak meninggalkan dokter Nathan seorang diri. mungkin saja ada yang bisa kami lakukan untuk membantunya sehingga aku, kak Furqon serta Bagas tetap berada di dalam kamar ini.
dokter Nathan dengan cekatan melakukan pertolongan kepada Gibran. satu buah peluru telah dikeluarkan dari perut Gibran dan tidak berselang lama, satu peluru lagi berhasil diangkat sehingga total peluru yang mengenai perutnya ada dua peluru.
"tolong tekan lukanya" ucap dokter Nathan
aku bergegas mengambil kain dan menekan perut Gibran yang terluka. dokter Nathan mengambil beberapa botol yang entah apa isinya kemudian kembali duduk di tempatnya semula.
berbagai kabel yang entah apa aku juga tidak tau menempel di tubuh Gibran. bahkan alat monitor kecil juga sudah terpasang. rupanya banyak peralatan medis di tempat ini. sepertinya dokter Nathan telah menyediakan semuanya sebelum kami datang ke tempat ini.
dokter Nathan akan menjahit luka yang ada di perut Gibran namun kemudian kegiatannya itu terhenti karena hp miliknya berbunyi di atas nakas.
"siapa Gas...?" tanya dokter Nathan
"Anggun dok" jawab Bagas
"istriku...?"
Bagas mengangguk dan kemudian menggeser tombol hijau karena atas perintah dokter Nathan dan memperbesar speaker agar dokter Nathan dapat mendengar suaranya.
"halo sayang, ada apa. aku sedang sibuk"
"Nathan, aku harus bagaimana...aku harus bagaimana, aku takut"
kami semua mendengar suara ketakutan di sebrang sana. sontak saja dokter Nathan bangkit dari duduknya dan merampas hp miliknya yang ada di tangan Bagas.
"ada apa sayang, kamu kenapa...?"
"mereka....mereka mengepung rumah kita Nathan. mereka memaksa untuk masuk ke dalam. aku takut, mereka akan mengambil Galang"
"kamu tenang ya. sekarang dengarkan aku baik-baik. masuk ke dalam kamar dan bersembunyi di ruang bawah tanah. jangan takut, aku akan segera menjemputmu"
"hiks.... hiks....aku takut Nat"
"sayang kamu harus bisa...harus berani. Ghandi dan Galang membutuhkan kamu saat ini. sekarang masuk ke tempat persembunyian, jangan pernah keluar sebelum aku yang akan menjemputmu. mengerti"
"oeeek.... oeeek"
kami semua mendengar suara bayi yang sedang menangis, mungkin itu adalah anak mereka.
"cepatlah datang, kami menunggumu".
"iya, aku akan segera ke sana"
panggilan terputus, dokter Nathan menjambak rambutnya karena begitu frustasi.
"harusnya kamu nggak terluka seperti ini Gib, sekarang bagaimana aku bisa melindungi anak itu" dokter Nathan
"aaaggghh, brengsek" teriak dokter Nathan
"aku akan menjemput mereka, dokter di sini saja menangani Gibran" ucap Bagas
"rumahku telah dikepung Gas, aku bingung bagaimana caranya untuk bisa masuk ke dalam" jawab dokter Nathan
"serahkan itu padaku dokter, aku bisa menerobos masuk ke dalam. aku dan Bagas akan ke sana menjemput anak dan istri dokter" ucapku
"baiklah, aku memang tidak bisa meninggalkan Gibran. kalian berdua jemput istriku dan anak-anakku kemudian bawa mereka ke tempat ini. aku mengandalkan kalian" dokter Nathan menatap aku dan Bagas
"percayakan kepada kami berdua" ucapku
"ayo" ajakku kepada Bagas
"kalian berhati-hatilah" ucap kak Furqon
"iya kak" jawabku
aku dan Bagas bergegas meninggalkan vila ini. sudah dalam keadaan gelap karena memang sudah malam. di dalam mobil aku mendengar suara kak Ardi yang teriak memanggil dokter.
"ada apa Ardi...?" tanya paman Edward
"Zidan.... bos Zidan sadar, dia sadar" jawab kak Ardi
"Alhamdulillah" aku mengucap syukur
__ADS_1
bukan hanya aku tapi kami semua yang dapat mendengar suara kak Ardi, begitu senang dan bersyukur akhirnya paman Zidan bangun juga dari komanya.
"ada apa...?" Bagas yang sedang menyetir melihat bingung ke arahku karena aku dengan refleks mengucapkan syukur saat mendengar paman Zidan telah sadar.
"tidak...tidak apa-apa" aku menggeleng cepat
Bagas melihatku dengan tatapan menyelidik dan kemudian ia kembali fokus untuk menyetir.
"Randi, kita kembali....tuan muda Dirga dan Deva telah berhasil menangkap Jacob berkat teman hantu mereka" ucap paman Helmi
"sekarang mereka dimana...?" tanya paman Pram
"paling mereka sedang bersenang-senang dengan si Jacob itu. ayo, kita harus ke rumah sakit" jawab Helmi
"ayo Vin" paman Randi memanggil Vino
satu urusan telah selesai, sekarang tinggal fokus ke urusan yang lain. aku merasa tenang, setidaknya kak Dirga akan bergabung kembali bersama kami.
Bagas menyetir dengan kecepatan tinggi, aku sampai harus berpegangan erat agar kepala tidak terbentur saat dirinya berusaha menyelinap mobil yang ada di depan kami.
diriku begitu was-was dan takut jangan sampai kami bukannya sampai ditujuan tapi malah mengalami hal yang tidak diinginkan. mungkin ini juga yang dirasakan Leo dan Bara saat aku menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.
ciiiiiit
Bagas membanting stir mobil ke kanan karena hampir saja menabrak seorang anak kecil yang berlari ke arah tengah jalan. Bagas menginjak rem dan mobil kami berputar seperti gasing.
untungnya kami berada bundaran perempatan, sebagian pengendara masih terjebak lampu merah sehingga mobil kami tidak menabrak pengendara lain karena Bagas dengan cepat menginjak rem sehinga mobil kami segera berhenti.
"sial, anaknya siapa sih itu" Bagas menggerutu
"huufffttt... hampir saja" aku mengelus dada merasa lega
"pegangan" ucap Bagas
ia kembali menjalankan mobil meninggalkan bundaran perempatan jalan mengambil jalur lurus. kecepatan tinggi masih tetap berlaku, bahkan aku terus beberapa kali meneguk ludah.
"bisa pelan-pelan saja nggak, nanti kalau kita menabrak pengendara lain atau pejalan kaki bagaimana" ucapku
"aku tidak punya waktu untuk menjalankan mobil seperti siput" jawab Bagas
aku memilih diam daripada mendapatkan semprot dari Bagas. mobil kami masuk ke area kompleks perumahan elit. di depan sana, sudah banyak orang-orang yang ingin menerobos masuk.
"itu rumah dokter Nathan...?" tanyaku
"iya. sekarang keluar, kita habisi mereka satu persatu" ucap Bagas
"eh tunggu tunggu" aku menarik tubuh Bagas agar masuk kembali ke dalam mobil
"ada apa...?"
"itu bukannya Aris...?" aku menunjuk ke arah laki-laki yang sedang bersandar di sebuah mobil dengan memegang tongkat
"jadi dia biang keladinya" ucap Bagas menahan emosi
"peduli setan dengan penyamaran, lagi pula kita juga sebentar lagi memang akan dicap sebagai penghianat" jawab Bagas
"maksudnya...?" aku mengernyitkan kening
"kamu mau ikut atau tetap di sini. kalau kamu takut, kamu bisa pulang...biar aku sendiri yang melawan mereka"
aku menjadi serba salah. kalau aku ikut, jelas sudah aku akan dicap sebagai penghianat padahal tujuanku bergabung bersama mereka adalah hanya untuk mencari tau keberadaan Baharuddin. tapi kalau aku tidak ikut, Bagas tidak mungkin bisa melawan mereka semua.
Bagas sudah lebih turun dari mobil dan menghampiri Aris sementara aku masih menimbang-nimbang keputusan yang akan aku ambil.
"bagaimana ini paman, apa yang harus aku lakukan...?" tanyaku meminta pendapat kepada paman Randi dan yang lainnya
"jangan keluar El, biar Deva yang akan membantu Bagas nanti. kamu dan aku yang akan masuk ke dalam" ucap kak Dirga
"kak Dirga" aku begitu senang, kak Dirga sekarang dapat mendengar suaraku lagi
"kami berada di belakang mobil kalian" ucap kak Dirga dan aku spontan menoleh ke belakang
aku melihat kak Deva turun dari mobil dan berjalan melangkah kemudian menghampiri Bagas dan Aris. sementara aku melihat di sekitar kemudian membuka pintu mobil dan keluar mengendap-endap menghampiri kak Dirga.
"kak" panggilku dengan pelan
kak Dirga keluar bersama dengan seseorang, namun dirinya keluar tanpa membuka pintu melainkan hanya menembus pintu mobil.
"dia Zulfan, laki-laki yang dibunuh oleh ratu Sri Dewi" ucap kak Dirga
Zulfan tersenyum ke arahku dengan wajahnya yang pucat.
"aku panggil kakak atau paman...?" tanyaku kepada arwah yang sedang bersama kami ini
"kakak sajalah supaya terlihat awet muda" jawabnya
"oke" aku mengangguk kecil
"Zul, sementara Deva dan teman El tadi menghadapi anak buah Aris. kita sebaiknya langsung masuk ke dalam. kamu buat satu persatu anak buah Aris menjadi pingsan, lalu kami akan mengikutimu. aku sedang malas berkelahi, capek" ucap kak Dirga
"itu adalah hal yang mudah" jawab kak Zulfan
kak Zulfan melayang menjauh dari kami sementara aku dan kak Dirga menunggunya bersembunyi di samping mobil.
"bagaimana kakak tau kalau aku ada disini...?"
"kita kan mempunyai ikatan batin"
"cih, gue nanya serius tau kak"
"kamu lupa tubuh kamu ada alat penyadap dan terkoneksi dengan hp aku. makanya aku tau keberadaan kamu ada dimana"
"dam, ayo" kak Zulfan memanggil kami berdua dengan pelan
__ADS_1
kami menghampiri kak Zulfan yang sedang berdiri di dekat pot bunga.
"ngapain manggilnya kayak bisik-bisik gitu" tanya kak Dirga
"takut ketahuan lah" jawab kak Zulfan
"kamu kan setan markonah" ucap kak Dirga
"hehehe iya ya, aku lupa" kak Zulfan menggaruk kepala
kami bertiga masuk ke dalam, sementara anak buah Aris sudah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.
"jadi mereka sembunyi dimana...?" tanya kak Dirga
"dokter Nathan memberitahu mereka untuk bersembunyi di ruang bawah tanah, tapi aku nggak tau dimana tempat itu berada" jawabku
"kalau begitu hubungi yang bernama dokter Nathan itu" ucap kak Dirga
"aku belum sempat meminta nomornya" jawabku
"biar aku yang mencari dimana ruangan itu" ucap kak Zulfan
dia menghilang begitu saja, hal yang sering kak Dirga lakukan saat dirinya masih menjadi arwah. terkadang aku rindu dengan suasana itu, namun aku tetap bersyukur seperti ini, kak Dirga bersamaku dalam wujud manusia.
"aku mendapatkannya" kak Zulfan datang dengan tiba-tiba
"ya amsyong....kaget aku" kak Dirga mengelus dada karena kak Zulfan tiba-tiba sudah berada tepat di depannya
"ayo cepat" kak Zulfan menarik tanganku dan juga tangan kak Dirga. kami dibawa di sebuah kamar yang luas.
"mereka ada di dalam sini" kak Zulfan menunjuk tempat persembunyian istri dokter Nathan dan anak-anak mereka
hanya ada rak buku yang menempel di dinding, itu berarti di balik rak buku ini ada sebuah jalan untuk masuk ke ruang rahasia namun kami tidak tau bagaimana cara membukanya"
"bagaimana cara membukanya...?" aku menggaruk kepala
braaaakkk
pintu kamar dibuka dengan lebar, Bagas datang dengan nafas ngos-ngosan.
"kenapa...?" Bagas menunjuk kak Dirga, jelas dia bingung kenapa bisa kak Dirga ada di tempat ini
"simpan pertanyaanmu itu, sekarang temukan cara bagaimana membuka pintu ruangan rahasia ini" ucap kak Dirga
tidak lama kak Deva datang dan segera menutup pintu kamar dengan rapat.
"cepatlah, Aris sedang memanggil banyak pasukan untuk menangkap kita" ucap kak Deva
Bagas mendekati rak buku yang ada di depan kami. ia memiringkan satu buah buku yang berwarna merah hingga tidak lama rak buku ini terpisah dan terbukalah satu pintu rahasia yang sejak tadi kami cari-cari.
"luar biasa. sepertinya dokter Nathan dan Gibran, mereka seperguruan. sama-sama memiliki ruang rahasia" gumamku
Bagas langsung masuk ke dalam, kami semua mengikutinya.
"Anggun..... Anggun" teriak Bagas
kami menuruni satu persatu anak tangga. ternyata di dalam dirancang seperti di dalam rumah. begitu nyaman dan bersih. sama seperti ruang rahasia yang ada di rumah keluarga Sanjaya.
"Bagas" seorang wanita datang bersama seorang bayi yang ia gendong dan anak laki-laki umur tiga tahun
"Nathan mana...?" tanya Anggun
"dia sedang mengurus Gibran, kami di suruh untuk menjemput kalian. sekarang kita pergi dari sini" ucap Bagas
"sini biar Galang aku yang gendong" ucap Bagas mengambil alih bayi mungil itu
"kita akan kembali ke atas...?" jelas sudah kita akan tertangkap oleh mereka" ucap kak Deva
"ada jalan lain selain kembali ke atas. ikuti aku" ucap Anggun
seperti di tempat tadi, hanya memiringkan sebuah buku maka rak buku akan terpisah dan sebuah pintu akan terbuka.
"kita lewat di sini. sebenarnya aku sejak tadi akan lewat di jalan ini tapi aku takut sendirian di tempat seperti ini" ucap Anggun
"ayo, kita harus bergegas" ucap kak Dirga
kami semua masuk ke dalam dan seketika pintu jalan rahasia ini tertutup rapat. untungnya di dalam tempat ini terang benderang sehingga kami tidak perlu menyalakan senter hp sebagai penerangan.
rupanya panjang juga jalan rahasia ini, terbukti kami sudah berada di dalam mungkin sekitar 30 menit.
"apakah masih jauh...?" tanyaku
"kita sampai" ucap Anggun
wanita itu menekan tombol merah yang menempel di dinding sehingga pintu keluar yang aku kira adalah dinding terbuka ke atas.
kami semua keluar dan pintu itu seketika tertutup kembali. jika aku perhatikan, saat ini kami sedang berada di sebuah gudang penyimpanan barang-barang.
Anggun melangkah dan membuka pintu, kami mengikutinya. rupanya saat ini kami sedang berada di sebuah butik, mungkin milik wanita ini.
"mobil kita kan ada di rumah dokter Nathan tadi, sekarang bagaimana kita bisa menuju ke vila jika kita tidak mempunyai mobil" ucapku
"aku sudah memesan mobil" jawab Bagas
kami keluar dari butik yang belum buka ini. di depan butik sebuah mobil hitam telah terparkir.
"aku tidak ikut, aku harus kembali ke rumah tadi" ucap kak Dirga
"ngapain kak, disana masih ada Aris.. bahaya" aku tentu tidak mengizinkan kak Dirga pergi
"aku harus mengambil mobil, mobil itu mobil sewaan, aku harus mengembalikannya. kalian duluan lah, nanti aku menyusul. tinggal kirimkan alamatnya padaku" ucap kak Dirga
tanpa menunggu jawabanku, kak Dirga melesat pergi bersama dengan kak Zulfan. aku hanya dapat menghela nafas menatap kepergian kak Dirga.
__ADS_1
kami masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat ini menuju ke vila dimana dokter Nathan pasti sedang menunggu kami di sana.