
"apakah namamu adalah Devano Yudharma...? tanya Adam dengan menatap Deva
tatapan keduanya saling bertemu, terasa dingin dan menampakkan aura yang tidak biasanya. Deva diam dengan menampilkan wajah dinginnya sedang Adam tatapannya begitu menusuk sampai ke jantung. kilatan matanya begitu juga tajam seperti mata pisau yang siap menusuk lawannya.
"aku tanya sekali lagi, apakah kamu Devano Yudharma...?" kali ini nada pertanyaan Adam begitu penuh penekanan dan terasa dingin
"benar, namaku Devano Yudharma. apa kabar Dirga Sanjaya, ternyata dugaan ku benar, kamu ternyata adik angkatku" ucap Devano
"cuih, jangan pernah memanggil gue adik brengsek. sampai kapanpun elu nggak akan pernah gue anggap sebagai kakak" kilatan amarah begitu jelas di mata Adam
"sampai kapan elu akan membenci gue Dirga, sudah bertahun-tahun lamanya dan elu belum membunuh dendam itu di hati elu. apa segitu besarnya kesalahan gue sampai elu begitu benci padaku"
"sampai gue masuk di liang lahat, kebencian terhadap lu akan tetap ada"
"Dirga, gue...."
dugh....
dugh....
perseturuan mereka terhenti saat merasakan tanah seakan bergoyang dan membuat mereka hilang keseimbangan.
"ada apa ini, gempa kah...?" ucap Adam dengan tubuh bergetar karena tanah yang terus bergerak seperti gempa
"astaga, kenapa ini" Deva pun tersungkur ke tanah saat tanah terus menggulung mereka
dugh
dugh
dugh
suara dentuman keras menghantam tanah. setiap kali terdengar dentuman itu maka saat itu juga tanah ikut bergetar dan membuat Adam serta Devano kehilangan keseimbangan tubuh mereka.
grrrrrr
suara makhluk berbadan besar menggema di hutan itu. Adam dan Deva bahkan menganga tidak percaya ada makhluk besar seperti itu di dalam hutan.
seekor kera yang berbadan besar, sangat besar bahkan tingginya melebihi pohon-pohon yang menjulang tinggi di hutan itu.
anehnya makhluk besar itu diselimuti api yang menyala. tubuhnya membara dengan api yang menyala-nyala namun tidak membuat dirinya terbakar.
"kingkong" ucap Adam bersamaan dan mereka saling tatap
"sembunyi Dirga" Deva menarik Adam untuk bersembunyi di balik pohon tatkala kera yang berbadan besar itu menunduk dan melihat ke bawah
Deva menutup mulut Adam agar tidak bersuara, kera tersebut mengendus-endus seperti mencium sesuatu dan matanya melihat ke arah pohon tempat Adam dan Deva bersembunyi
"mati kita" ucap Deva saat tangan besar kera itu akan menyingkap pohon-pohon yang menghalanginya untuk melihat ke arah pohon tempat persembunyian Adam dan Deva
grrrrrr
kera itu semakin marah saat melihat Adam dan Deva. tangan besarnya menyapu keduanya hingga mereka terpental dan menghantam batang pohon.
tidak sampai di situ, kaki besar kera itu bersiap untuk menginjak mereka namun untung saja kedua menghindar dan melarikan dari tempat itu.
meskipun berlari sejauh mungkin, tidaklah sepadan langkah kaki mereka dengan kaki besar sang kinkong. hanya satu langkah saja dirinya sudah sampai kepada kedua remaja itu.
lagi-lagi keduanya dihantam oleh tangan besar kera itu. keduanya terpental dan bahkan banyak pohon yang makhluk besar itu dicabutnya kemudian melempar ke arah Adam dan Deva. jika tidak dapat menghindar, sudah pasti mereka kehilangan nyawa saat ditindis pohon-pohon itu.
kera itu menangkap Adam. ia mengajak Adam memegang salah satu kakinya. kini posisi Adam dalam keadaan terbalik. saat Adam akan dimasukkan ke dalam mulut kera itu, saat itu juga Deva menggunakan tenaga dalamnya untuk menyelamatkan Adam. Deva berlari dan memanjat tubuh kera tersebut. kemudian ia menusuk salah satu mata kera itu dengan kedua tangannya.
kera itu teriak kesakitan, ia melempar Adam sehingga Adam jatuh ke tanah dan menghantam batu besar. untungnya Deva menjadi tameng baginya sehinga kepala Adam tidak terbentur batu.
mendapat kesempatan, mereka berdua kabur dari tempat itu. di depan sana, adalah sebuah jurang. kini mereka bagai memakan buah simalakama. jika berbalik maka kera itu semakin dekat namun jika terus berlari, mereka akan langsung terjun ke jurang.
"bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan...?" tanya Deva yang panik
"kita terjun" jawab Adam
__ADS_1
"elu gila, itu jurang sialan. kalau elu mau mati, mati aja sendiri" Deva menolak untuk terjun ke jurang
"gue memang bermaksud untuk membuat elu mati Devano Yudharma" ucap Adam dengan senyuman sinis
Deva terpaku ditempatnya, ia menatap dalam-dalam mata Adam.
"segitu benci kah kamu padaku dek...?" kini nada bicara Deva telah berubah. dirinya menatap Adam dengan sendu
"kakak minta maaf, waktu itu....kakak, kakak..."
"diam, gue nggak butuh penjelasan dari lu" Adam memalingkan wajah ke arah lain
"baiklah, kalau itu yang dapat membuat elu senang. gue siap mati demi membalas kesalahan gue" Deva berkata lirih dan dirinya berdiri di sisi jurang
Adam melirik Deva, terlihat Deva menarik nafas berulang kali.
dugh...
dugh...
sedangkan suara kaki kingkong itu semakin terdengar jelas. saat Adam melihat ke arah belakang, saat itu juga Deva terjun ke bawah.
"KAK DEVA" teriakan Adam begitu keras melihat Deva ternyata benar-benar terjun ke jurang
Adam langsung melompat untuk menyelamatkan Deva. mereka terjun dengan bebas. jurang yang sangat dalam begitu menakutkan dan pastinya saat tiba di bawah siapapun tidak akan ada yang selamat.
Adam berhasil menangkap tubuh Deva, keduanya berpelukan erat. sayangnya tubuh mereka tetap terjun bebas ke bawah. keduanya menutup mata dan bersiap menerima jika hari itu adalah hari terakhir mereka di dunia.
namun hingga lama kedua mata mereka terpejam, tubuh mereka belum juga mendarat di tanah. saat membuka mata, ternyata mereka mengambang di udara, hanya beberapa jengkal tubuh keduanya mengenai tanah. saat ini mereka masih dalam berpelukan, kaki keduanya tidak menyentuh tanah, mereka melayang. hingga kemudian pada akhirnya kaki mereka menyentuh tanah dengan pelan.
"apa yang terjadi, kenapa bisa kita.... melayang" Deva bertanya penasaran
di depan sana, seorang wanita cantik sedang tersenyum manis ke arah Adam. tentu saja Adam mengenal wanita itu, dia adalah wanita yang telah menyelamatkan keduanya. namun Deva tidak dapat melihat wanita itu.
(terimakasih ratu) batin Adam saat wanita cantik itu masih berdiri menatap ke arahnya. Adam yakin kalau wanita itu mendengarkan ucapan terimakasihnya meskipun dalam hati
setelahnya wanita itu menghilang perlahan dan tidak terlihat lagi di mata Adam. Adam berbalik dan menatap jengkel ke arah Deva.
"bukannya itu yang elu mau, mati menyusul ayah Burhan dan bunda Ayu. paling kalau gue mati, gue bisa berkumpul bersama mereka dan meminta maaf. seandainya gue bisa memutar waktu, gue akan lebih berani untuk melawan. sayangnya gue juga terjepit, dan karena itu elu membenci gue tanpa tau apa alasan gue sehinga harus berbuat seperti itu" Deva menatap dalam mata Adam yang juga sedang menatapnya
Adam memalingkan wajah dan menggigit bibir. mengingat Burhan dan bundanya, hati Adam terasa begitu sakit bagai dihujam mata pisau yang tajam tepat menusuk jantungnya. tanpa terasa air matanya membasahi wajahnya, kerinduan yang teramat dalam kini ia rasakan kembali.
betapa rindunya Adam pada kedua sosok yang sangat ia sayangi itu. yang bisa ia lakukan hanya mendoakan agar mereka tenang di atas sana.
"dek" Deva memegang pundak Adam
"aku rindu ayah Burhan sama bunda" suara Adam tercekat, pundaknya naik turun
"aku tau, akupun sama" Deva membalikkan tubuh Adam dan memeluknya
"maaf...maafin kakak, maafin kakak" hanya itu yang dapat Deva ucapkan. dirinya pun sangat merasa bersalah dan kini air matanya tumpah mengingat orang tua angkatnya yang telah menjadikannya anak pergi untuk selamanya sementara dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menyaksikan saja kejadian mengerikan itu
namun selanjutnya Adam mendorong tubuh Deva untuk menjauh darinya.
"gue tetap membencimu" ucap Adam meninggalkan Deva begitu saja
Deva menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. ia pun kemudian mengikuti Adam, mereka harus mencari cara untuk keluar dari hutan yang kini keduanya masih terjebak di dalamnya.
sementara itu di lain tempat, El-Syakir, Leo dan Bara masih begitu shock dengan apa yang mereka lihat. gadis cantik yang menyapa mereka tadi kini berubah menjadi siluman ular. dari kepala sampai dada, adalah tubuh manusia dan selebihnya berbentuk tubuh ular.
sssssss
gadis bertubuh ular itu mendesis dan tersenyum menyeringai ke arah mereka. meskipun cantik namun kini penampakannya terlihat menakutkan apalagi gigi taringnya yang siap mengigit mangsanya.
"Dewi ular" ucap Leo berusaha berdiri begitu juga dengan Bara
"selamatkan datang di wilayahku anak-anak tampan. sepertinya kalian begitu lezat untuk disantap" ia menjulurkan lidahnya yang panjang, lidah seekor ular
"apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Bara
__ADS_1
"tentu saja melawan. siapkan senjata kalian" ucap El tanpa gentar menatap tajam manusia ular itu
bara dan Leo mengeluarkan senjata mereka begitu juga dengan El-Syakir yang sudah bersiap dengan keris larangapati di tangannya.
"keris larangapati" ucap manusia ular itu
"bagaimana bisa kamu mempunyai keris sakti itu...?"
"kenapa, kamu takut terluka dengan keris sakti ku ini...?" El-Syakir tersenyum mengejek
sssssss....
"aku tidak takut dengan kerismu. bersiaplah menjadi santapan makan malamku"
pertarungan pun mulai terjadi. bertiga, mereka menghadapi manusia ular itu. ekor ular itu ia kibaskan untuk memukul mereka, namun dengan sigap ketiganya menghindar. beberapa kali manusia ular itu mengeluarkan sihir namun ketiganya menampik dengan senjata mereka masing-masing.
"ternyata kalian tangguh juga rupanya"
"kenapa, kamu kaget...?" ucap Leo
"cih, anak ingusan seperti kalian bukan tandinganku. sebentar lagi kalian akan menjadi santapan terenak di atas meja makanku"
"menghayal lah saja sebelum menghayal itu dilarang" Bara mengejek
"BERANINYA KAMU"
kembali mereka bertarung, kali ini El-Syakir dengan brutal menyerang ular jadi-jadian itu. pertarungan seimbang tanpa ada yang kalah. hingga kemudian beberapa ular besar datang membantu tuan mereka. seperti tuannya, mereka manusia setengah ular. berbaris di belakang gadis itu yang tersenyum menyeringai ke arah mereka.
"ck, menjengkelkan sekali" Bara begitu kesal
bukan hanya sampai di situ, ular-ular kecil yang begitu banyaknya datang menggerogoti mereka. dimana tempat mereka berinjak, maka di situlah ular-ular itu akan pergi.
"menjijikkan" geram El-Syakir
El-Syakir membuat lingkaran menggunakan ujung mata kerisnya. di dalam lingkaran itu mereka berlindung agar ular-ular itu tidak menyentuh mereka.
"bagaimana ini, mereka banyak banget lagi. jijik banget gue" ucap Leo merinding melihat begitu banyaknya ular yang ingin menggapai mereka namun tidak bisa karena mereka dilindungi oleh lingkaran yang dibuat oleh El-Syakir
"biar menjadi urusan gue" ucap El-Syakir
El-Syakir duduk bersila di tanah. ia menutup mata fokus kepada kekuatan sihir yang akan dikeluarkan oleh keris saktinya. hingga kemudian ia berdiri dan mengarahkannya keris itu ke arah ular-ular itu.
cahaya putih keluar dari keris larangapati memusnahkan ular-ular kecil yang kini hancur dan hilang seketika.
"kurang ajar, bunuh mereka" perintah ratu ular kepada pengikutnya
sssssss
beberapa ular jadi-jadian itu merayap cepat untuk menyerang. namun mereka terpental begitu saja karena perlindungan yang dibuat oleh El-Syakir menghalangi mereka. seperti ada dinding tebal yang menghalang mereka.
mereka berusaha menerobos untuk menghancurkan dinding pelindung itu. Bara melempar tombaknya hingga mengenai salah satunya dan menembus tubuhnya. ular yang terkena tombak dari Bara langsung musnah seketika.
Leo pun melakukan hal yang sama. menyerang dengan pedang tajamnya hingga kepala salah satu dari mereka terputus dan menggelinding ke arah sang ratu ular kemudian musnah seketika.
El-Syakir melempar keris larangapati ke salah satu dari ular-ular itu. tepat menghunus jantung dan musnah lenyap seperti debu. keris larangapati kembali kepada tuannya.
sang ratu ular begitu marah. ia menghancurkan dinding pelindung mereka sehingga kini mereka tidak terlindungi lagi.
"bersiap, jangan lengah" ucap El-Syakir memperingati kedua temannya
El-Syakir menghadapi sang ratu ular, Leo dan Bara menghadapi dua pengikutnya yang masih hidup. mereka mempunyai lawan masing-masing.
"aaaaagghhh... LE BANTU GUE" Bara teriak karena tidak sanggup lagi melawan. ular jadi-jadian itu sedikit lagi akan mengigit leher Bara
jleb....
pedang samurai Leo tertancap di dada ular itu, menembus ke punggungnya. matanya melotot dan memegang pedang Leo, hingga akhirnya lenyap seketika.
"elu nggak apa-apa...?" Leo melihat Bara terbaring di tanah dengan nafas terengah-engah
__ADS_1
"thanks" ucap Bara dengan nafas tak beraturan
sementara itu El-Syakir masih bertarung melawan sang ratu ular. Bara dan Leo bersandar di pohon hanya menyaksikan saja. sejujurnya mereka sudah sangat lelah. namun sepertinya tidak dengan El-Syakir. dia begitu lihai meghindari serangan demi serangan yang dilancarkan oleh ratu ular itu.