
"sudah beberapa hari kita tidak ke sekolah, sepertinya hari ini kita harus pergi. masa iya mau bolos terus" Starla berucap setelah mereka sarapan pagi
Furqon dan Deva serta keempat pengawal sedang melaksanakan rencana yang telah di susun rapi.
"sudah jam 8 lewat, jelas pagar sekolah sudah di tutup. besok saja kita pergi, sekalian besok adalah mata pelajaran ibu Zalina. hari ini kita kerjakan tugas penelitian kita di desa Boneng kemarin" Leo menjawab
"kalian saja yang kerja, aku harus mengikuti kak Furqon dan kak Deva kemana mereka pergi. meskipun ada para pengawal yang siap siaga tapi tetap saja aku tidak tenang. aku takut kak Deva akan ketahuan karena dirinya di tau oleh Baharuddin" ucap Adam
"gue ikut kak, gue juga nggak tenang kalau nggak melihat sendiri keduanya aman" ucap El-Syakir
"kalau begitu kita semua pergi, tapi jangan sampai ketahuan sama kak Pram dan yang lainnya" Bara setuju dengan perkataan Adam
"berangkat sekarang saja mumpung mereka belum jauh" ucap Nisda
"aku di rumah saja ya, kalian kan tau aku nggak bisa bela diri" ucap Seil saat semuanya tengah bersiap
"biar elu diantar pulang saja, ayahmu pasti sudah menunggu di rumah" El-Syakir melihat ke arah gadis itu
"tapi kak Deva akan baik-baik saja kan...?" tanya Seil
"kami semua tidak akan tinggal diam jika kak Deva dalam bahaya. akan gue panggilkan pengawal untuk mengantar elu pulang"
Seil mengangguk patuh. mereka melangkah ke luar rumah. El-Syakir memanggil salah satu pengawal untuk mengantar Seil ke rumahnya sementara itu setelah Seil diantar, tim samudera bergegas masuk ke dalam mobil untuk mengikuti Deva dan beberapa pengawal yang sedang bersamanya.
"itu dia orangnya. bersikap yang natural dan jangan gugup. mengerti" Randi memperingatkan Furqon dan Deva
"terus orang-orang suruhan paman dimana...?" tanya Deva saat melihat belum ada tanda-tanda laki-laki yang mereka intai akan di serang
"sebentar lagi mereka datang" jawab Helmi melihat ke jam tangannya
"kenapa kita tidak tangkap saja dia dan menahannya di ruang bawah tanah. kita buat dia membuka mulut dimana persembunyian Baharuddin" Ardi mengutarakan ide yang lain
"anjing yang setia kepada tuannya tidak akan segampang itu untuk ditekan Ardi, meskipun makanan lezat kamu berikan untuknya" Randi menjawab sambil mengetukkan jarinya di setir mobil karena dirinya yang mengemudi
"itu mereka" ucap Pram saat orang suruhan mereka telah datang
dua mobil warna hitam datang menghadang mobil seorang laki-laki. karena telah di kepung dari dua arah, laki-laki itu keluar dari mobilnya sementara sepuluh orang dari dua mobil hitam itu keluar dengan kayu yang mereka pegang.
"apa saya punya masalah dengan kalian semua...?" laki-laki yang bernama Gibran itu bertanya dan dengan santai bersandar di mobilnya
"sepertinya dia jago bela diri. terlihat dirinya hanya menanggapi orang-orang kita dengan santai" Helmi memperhatikan Gibran
mereka berada di dalam mobil yang terparkir sedikit jauh sedangkan Furqon dan Deva telah keluar dari mobil dan mencari tempat untuk bersembunyi hingga waktu yang tepat mereka akan keluar.
tanpa menjawab orang suruhan dari pengawal Sanjaya grup langsung menyerang Gibran. Gibran meloncat naik ke atas mobil kemudian menendang beberapa orang yang hendak akan menyerangnya.
ia kemudian melompat turun dan memukul kepala salah satunya menggunakan sikunya hingga orang tersebut pingsan seketika.
"bodyguard Baharuddin, bukanlah kaleng-kaleng" Pram terus memperhatikan pertarungan itu
Gibran menghajar mereka satu persatu. tapi kemudian dirinya terkapar karena seseorang memukul kepalanya dengan kayu balok. kepala Gibran meneteskan darah, dan dirinya mulai oleng.
saat hendak akan diserang kembali, Furqon datang dan menahannya. ia memukul mundur orang tersebut sementara Deva menendang kepala mereka satu persatu.
"kalian semua banci, bisa-bisanya main keroyokan" Furqon memperbaiki posisi kacamata miliknya
rambutnya yang ikal berwarna coklat ia sisir ke belakang. dirinya juga tengah mengunyah permen karet sebagai ciri khas perannya saat ini. sementara Deva dengan mata birunya yang tentu saja itu adalah soflen menatap satu persatu orang-orang itu.
"hajar mereka semua" perintah yang menjadi bos dari orang-orang itu
Gibran bangun dan berdiri tepat dibelakang keduanya. ia merasa bingung siapa dua orang yang datang menolongnya itu.
"kalian mau menghajar kami dengan kayu rongsokan itu. hhh, sama sekali tidak bermerek" Deva bersandar di mobil Gibran sementara Furqon menaikkan kakinya di mobil mahal itu
"hei..."
sssttt
Furqon menyimpan jari telunjuknya di bibir, memperingati agar Gibran diam dan tidak bicara. sementara Gibran sudah kesal dengan kelakuan keduanya namun ia tidak bisa berbuat banyak karena saat ini dirinya berhutang budi pada mereka.
"ternyata kak Furqon bisa jahil juga ya" ucap Vino terkekeh
"iya, padahal dia itu adalah laki-laki yang biasa dipanggil kulkas 12 pintu. dingin dan kaku, apalagi sama wanita" Alana berucap
"darimana kamu tau...?" Leo memicingkan matanya ke arah Alana
"dari para fans kak Furqon yang ada di sosial media. mereka mengomentari foto yang di upload kak Furqon di IG" jawab Alana cengengesan kepada Leo
"gue juga sebenarnya fans sama kak Furqon" ucap Starla tanpa dosa sementara Vino langsung menatap tajam ke arahnya dengan wajah dinginnya
"hehehe, tetap kamu yang di hati kok yang" Starla mengedip-ngedipkan matanya sementara Vino memutar bola matanya dengan malas
"kalau gue...."
"yang, jangan bilang kamu juga ngefans sama kak Furqon ya" Bara memotong cepat ucapan Alana
"siapa juga yang ngefans sama kak Furqon. aku nggak ngefans sama dia yang"
"Alhamdulillah, berarti kamu idaman banget" Bara tersenyum lega
__ADS_1
"tapi gue ngefans sama kak Deva" ucap Nisda nyengir kuda
"sayang" Bara cemberut dan begitu kesal sementara Nisda hanya cengengesan menggaruk kepalanya
"ngambeknya di pending dulu Napa, lagi seru tuh" Melati tidak menggubris dua sejoli yang sedang pasangannya sedang ngambekkan itu
orang-orang itu mengelilingi Furqon, Deva dan Gibran. mereka saling memunggungi dengan punggung yang bertemu.
"kamu di kiri, aku di kanan" Furqon memberikan arahan kepada Gibran
"terus aku...?" tanya Deva
"hajar yang ada di depan kamu"
buaaaak
dugh
Deva yang belum siap sudah dilayangkan pukulan di wajahnya.
(gila nih orang, udah tau aku bosnya...pake mukul kencang banget lagi) Deva meringis sakit dan memegang wajahnya yang terkena pukulan
"elu ngapain mukul dia goblok, dia itu orangnya bos kita. pelan-pelan aja mukulin mereka" salah satunya berbisik pelan kepada seseorang yang memukul Deva
"sorry, kelepasan gue" laki-laki itu menunduk takut karena Deva menatapnya dengan tajam
"woi, jangan main kasar dong...yang lembut aja Napa" Furqon membuang permen karetnya kemudian ia mengambil lagi di kantung celananya
"kamu pikir ini permainan anak SD harus penuh kelembutan" Gibran mencibir
"serang mereka"
hiyaaaaaa
perkelahian kembali terjadi. baik Furqon, Deva dan Gibran sama-sama menghajar lawan mereka yang banyak itu.
"Deva, bersiap" ucap Pram
di telinga Deva dan Furqon sudah di pasangkan alat yang dapat membuat mereka berkomunikasi dengan para pengawal itu. tentunya dengan rapi dan tersembunyi agar tidak terlihat oleh orang lain. rambut panjang mereka menutupi alat itu yang masing-masing ada di telinga keduanya.
salah satu dari orang-orang itu akan menusuk Gibran. saat itu juga Deva mendorong Gibran dan dirinya yang terluka terkena tusukan itu.
"kak Deva" Adam teriak namun mulutnya langsung dibekap oleh El-Syakir
"kita bisa ketahuan kak" ucap El-Syakir
"dam, elu akan merusak rencana kalau elu tiba-tiba nongol di sana" ucap Leo
"tapi kak Deva terluka" Adam begitu khawatir kepada Deva
"itu adalah adegan yang sesuai rencana dam. kak Deva akan baik-baik saja, percayalah" Vino mencoba menenangkan Adam
Adam akhirnya mengalah dan memperhatikan dari jarak jauh. sementara orang-orang itu yang telah melukai Deva, mereka langsung kabur masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Nabil, bertahan....aku akan membawamu ke rumah sakit" Furqon mengganti nama Deva menjadi Nabil, itu adalah nama samaran untuk Deva sementara Furqon memakai nama samaran Abimana
"sakit kak" Deva meringis sakit, perutnya terus mengeluarkan darah
"bantu aku membawanya ke rumah sakit" ucap Furqon kepada Gibran
"di sini tidak ada rumah sakit. kalaupun ada, butuh waktu satu jam untuk sampai
"daerah apa ini, kenapa kamu tinggal di daerah terpencil seperti ini. sunyi sekali, lalu bagaimana dengan temanku ini" Furqon pura-pura panik
"bantu dia, kita bawa ke tempatku" ucap Gibran yang tidak punya pilihan lain
Furqon membantu Deva bangun dan masuk ke dalam mobil Gibran. mereka meninggalkan tempat itu. hanya sekitar beberapa menit, tibalah mereka di sebuah rumah yang cukup besar untuk satu orang penghuninya. di tempat itu tidak ramai dan padat penduduk. seperti yang dikatakan Furqon tadi, tempat itu seperti tempat terpencil.
Furqon membantu Deva keluar, mereka masuk ke dalam rumah. Deva segera di bawa masuk ke dalam kamar sementara Gibran menghubungi seseorang.
"ikat perutnya dengan kain agar darahnya tidak terus keluar. sebentar lagi dokter akan segera datang" ucap Gibran
"kamu bilang di sini tidak ada rumah sakit, bagaimana tiba-tiba saja ada dokter yang datang" tanya Furqon yang duduk di samping ranjang Deva
"tidak perlu banyak bertanya kalau temanmu ingin diselamatkan" Gibran menjawab dengan dingin dan keluar dari kamar
Furqon mengaktifkan kamera yang ada di kacamatanya. kamera tersebut langsung terkoneksi dengan laptop yang ada di pangkuan Helmi.
"rapi juga kamarnya" ucap Helmi
"lalu apa yang harus kami lakukan sekarang...?" tanya Furqon
"apakah luka Deva begitu dalam...?" tanya Randi
Furqon melangkah mendekati Deva dan membuka ikatan kain diperutnya.
"lumayan, untungnya tidak begitu dalam" ucap Furqon
para pengawal itu dapat melihat keadaan luka Deva melalui kacamata yang dipakai oleh Furqon.
__ADS_1
cek lek
pintu kamar terbuka, Gibran datang bersama seorang wanita yang sepertinya adalah dokter yang dimaksudkan olehnya tadi.
Furqon mundur beberapa langkah agar wanita itu dapat melihat keadaan Deva. setelah itu keduanya di suruh untuk keluar dari kamar sementara ia akan mengobati luka Deva. mereka berdua duduk di ruang tengah rumah tersebut.
"terimakasih sudah menolongku" ucap Gibran menatap Furqon
"sama-sama, hal yang berbahaya seperti itu memang sudah menjadi makanan kami sehari-hari" Furqon menjawab santai
"kalian berdua preman...?"
"apa kami terlihat seperti preman...?"
Gibran tidak menjawab namun mata tajamnya menatap dan menelisik Furqon yang duduk di depannya itu. mereka hanya terhalang oleh meja yang panjang
"sepertinya orang-orang tadi ingin membunuhmu. apa kamu punya masalah...?"
"bukan urusanmu"
"ck, aku sebenarnya tidak ingin kepo tapi melihat seseorang yang dalam bahaya aku hanya merasa kasihan" Furqon meniup permen karetnya itu menjadi balon dan kemudian memasukkan lagi ke dalam mulutnya
"aku tidak selemah yang kamu pikirkan"
"ya ya, maaf maaf" Furqon manggut-manggut
"boleh aku bertanya sesuatu...?" tanya Furqon
"asal bukan ke ranah yang pribadi"
"apakah kamu tau tentang perusahaan Sanjaya grup...?"
mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Furqon, Gibran terdiam sekian detik menatap Furqon yang juga sedang menatapnya.
"apa ada yang salah dengan pakaianku...?" Furqon menelisik pakaian yang ia kenakan
"kenapa kamu menanyakan perusahaan itu...?"
"aku hanya bertanya saja. siapa tau mungkin kamu mengetahui sesuatu tentang perusahaan itu. karena...."
"karena kenapa...?"
"bukan apa-apa" Furqon memilih untuk tidak menjawab padahal memang itu tujuannya
dokter wanita tadi keluar dari kamar dan menghampiri keduanya.
"bagaimana dokter, teman saya lukanya tidak parah kan...?"
"dia akan baik-baik saja. sekarang saya telah memberikan obat pereda rasa sakit dan obat penenang agar dia bisa beristirahat" dokter itu menjawab
"terimakasih Mel" ucap Gibran
"aku obati kepalamu"
"tidak perlu, ini hanya luka kecil"
"jangan banyak membantah. sini" dokter yang bernama Amelia itu menarik tangan Gibran untuk duduk di dekatnya
"kalian pacaran...?" tanya Furqon tanpa dosa
uhuk...uhuk
Gibran terbatuk-batuk sementara Amelia tersenyum kikuk.
"oh, dari ekspresi kalian berdua... sepertinya tidak ya" ucap Furqon begitu tidak merasa berdosa
"astaga, apakah hal konyol seperti itu kamu perlu menanyakannya Fur" Pram mencebik kesal karena Furqon menanyakan hal yang sangat tidak penting bagi mereka
"aku....masuk ke dalam dulu ingin melihat keadaan Nabil" Furqon meninggalkan Gibran dan Amelia berdua saja di ruang tengah
"kamu terlalu tergesa-gesa menanyakan tentang Sanjaya grup Furqon. harusnya maju perlahan-lahan saja" ucap Ardi saat Furqon sudah masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Deva
"justru dengan seperti itu dia akan penasaran dengan kami berdua. oh ya, jangan lupa buatkan kami data tentang nama samaran kami. Nabil Pramana dan Abimana Aryasatya
"sudah, itu sudah beres tinggal menunggu hasilnya" Helmi menjawab dan terus mengotak-atik laptop yang ada di pangkuannya
sementara tim samudera kini sedang mengubungi Furqon. mereka penasaran apa yang kedua orang itu lakukan di dalam rumah tersebut, namun sayangnya tidak tersambung.
"kak Furqon dan kak Deva kan sedang menyamar, jelas mereka akan memakai nomor baru" ucap Alana
"benar juga...lalu apa yang harus kita lakukan sekarang...?" El-Syakir berhenti menghubungi Furqon
"kalau mereka menjalankan tugas dengan cara seperti ini berarti yang harus kita lakukan adalah melindungi Sanjaya grup dari dalam. biarkan kak Deva dan kak Furqon yang bekerja dari luar" Adam menjawab setelah sekian detik termenung terus menatap lurus rumah itu
"kalau begitu kita pulang, karena di rumah banyak orang yang harus kita lindungi" ucap Vino
"putar mobilnya dam" ucap Leo
Adam menyapa mesin mobil dan memutar kendaraan roda empat tersebut. mereka meninggalkan tempat yang jauh dari keramaian itu.
__ADS_1