
"jauh banget ya" ucap Vino pelan
mereka masih terus mengikuti dayang yang akan memberikan makanan kepada Senggi, abdi jin setia ratu Sundari.
"namanya tawanan jelas di kurung di tempat sepi, nggak mungkin di tahan di dalam kamar istana" El menjawab
"sembunyi" Vino menarik Leo dan El menarik Bara. karena gerakan refleks Leo dan Bara kepala Leo dan Bara tertanduk tiang besar tempat persembunyian mereka. ada beberapa penghuni istana yang berjalan melewati mereka
buuuk
buuuk
karena kesal Bara dan Leo menggeplak kepala El dan Vino.
"sakit bambang" kesal Bara mengelus kepalanya
"hehehe, sorry nggak sengaja" El-Syakir cengengesan
"lama-lama bisa geger otak gue" Leo memberenggut
"nggak apa-apa, siapa tau elu langsung insyaf" jawab Vino tanpa dosa
plaaak...
"doa lu jelek banget" sungut Leo dan Vino hanya nyengir kuda
"ayo, ajak El
mereka mulai bergerak, dan dayang tadi sudah tidak terlihat oleh mata mereka. namun meskipun begitu mereka tetap melangkah mengikuti insting, hingga beberapa langkah di depan mereka terbuka sebuah tingkap saat mendekat terdapat tangga untuk ke bawah sana.
"gila, rupanya para jin ada juga ruangan rahasianya ya" Vino berdecak kagum
"emang dayang tadi masuk ke dalam sini ya, kalau kita nyasar gimana...?" Bara ragu untuk turun ke bawah sana
"gue yakin, sekarang kita turun" ajak El
"takut gue" Vino menggeleng
"sama, malah kita nggak bawa senter lagi" ucap Leo
"kan ada senter hp, mau ikut atau nggak...?"
"kita bagi kelompok aja deh. El dan Vino yang masuk sementara gue dan Leo yang berada di atas sini untuk berjaga-jaga jangan sampai pintunya tertutup, kami bisa membukanya untuk kalian. kalau kita semua masuk terus pintunya tertutup gimana...?" Bara memberikan ide
"ide bagus, gue setujui" Leo mulai mengangguk
"nggak ah, gue nggak setuju. gue nggak berani turun ke bawah" Vino menggeleng cepat
"ya udah, gue turun sendiri aja. kalian banci semua, nggak ada yang mau ikut" El mengejek ketiga temannya
"enak aja, okelah gue turun siapa takut coba" Vino yang dianggap banci tidak terima dan menerima usulan Bara sedang Leo dan Bara mengedipkan mata ke arah El-Syakir, berhasil memanasi Vino
"kalian hati-hati" ucap Leo saat kedua temannya mulai turun ke bawah
"jangan kemana-mana kalian ya" Vino memperingati
"iya, kami akan berjaga di sini" jawab Bara
dengan sangat hati-hati El dan Vino turun ke bawah. di bawah sana sangat pengap dan gelap, mereka kemudian menyalakan senter hp untuk menerangi jalan.
"dayang tadi kok bisa ya masuk di sini tanpa penerangan" ucap Vino menerangi sekitarnya
"dia kan jin, tempat gelap seperti ini tidak ada apa-apanya untuk mereka" timpal El
"ayo jalan" ajak El
mereka berdua mulai melangkah, mata dan telinga keduanya terpasang fokus untuk mendengarkan dan melihat jikalau nanti ada sesuatu di tempat yang mereka anggap menyeramkan itu.
sedangkan di atas, Bara dan Leo bersembunyi di tempat yang tidak jauh dari tingkap untuk menuju ke bawah. tidak mungkin mereka terus berdiri di depan tingkap itu, tentu saja mereka berdua akan dilihat oleh para jin yang ada di tempat itu.
kembali ke ruang bawah tanah, El-Syakir dan Vino masih terus menyusuri ruangan gelap itu. Vino mengapit lengan El-Syakir karena takut dan juga dirinya mulai merinding.
"kok lama ya, dari tadi kita nggak nyampe-nyampe diujungnya" ucap Vino
"mungkin sebentar lagi, fokus Vin jangan terlalu banyak pikiran lu" timpal El
"gue merinding El"
"fokus, jangan lepasin pegangan lu ke gue"
tap...tap...tap
suara langkah terdengar di telinga mereka. keduanya berhenti untuk memastikan dan saat mereka berhenti saat itu juga suara langkah kaki itu tidak terdengar lagi.
"mungkin kita salah dengar" ucap El
mereka kembali melangkah dan saat itu juga suara langkah kaki itu terdengar lagi, persis berada di belakang keduanya.
"di belakang kita El" Vino mulai takut
"tetap jalan, jangan lihat dan jangan lepaskan peganganmu"
__ADS_1
ruangan yang seperti labirin itu tentu saja mempunyai penghuni apalagi mereka berada di dunia jin, sangat tidak mungkin kalau tempat seperti itu sama sekali tidak berpenghuni.
kraaaak kraaaak
suara seperti tulang patah terdengar ngilu di telinga keduanya. Vino yang penasaran berbalik untuk melihat dan saat itu juga dirinya berteriak keras lantaran panik dan takut.
"aaaaa.... El, lariiiii"
tanpa aba-aba Vino menarik tangan El-Syakir dan hampir saja El terjatuh. untungnya keseimbangan tubuhnya dapat ia kendalikan kemudian ia mengikuti Vino yang terus memegang tangannya.
"ada apa Vin...?" tanya El saat keduanya dalam keadaan berlari
"ada setan'" jawab Vino yang tidak ingin berhenti
setelah terus berlari, keduanya telah sampai di tempat yang dimana ditengah berbentuk lingkaran dan kemudian banyak lorong yang entah akan tembus kemana.
"kemana nih kita...?" Vino mulai panik
belum sempat bersembunyi, makhluk yang mengejar mereka telah berada tempat di belakang keduanya. El dan Vino mundur secara perlahan.
"mati kita El"
makhluk itu adalah perempuan dengan wajah hitam dan mata merah menyala. kakinya berbentuk seperti kaki kuda dan.
grrrrrr
dia tampak marah saat melihat El-Syakir dan Vino. tidak punya pilihan lain, mereka harus melawan makhluk tersebut.
tanpa aba-aba makhluk itu menyerang keduanya. ia menendang El dan Vino dengan kaki kudanya sehingga kedua remaja itu tersungkur di tengah-tengah labirin.
saat hendak menyerang lagi, El-Syakir berpegangan di kaki makhluk itu namun tentu dirinya dibenturkan ke dinding labirin sehingga El-Syakir melepaskan pegangannya.
"El, keluarkan senjatamu" teriak Vino
makhluk itu melihat ke arah Vino depan tatapan marah dan tajam.
gleg....
"mampus gue" Vino menelan ludah dengan kasar
makhluk itu kembali menyerang Vino, dengan sigap Vino menghindar sehingga serangan makhluk itu hanya mengenai dinding labirin.
saat akan kembali menyerang, El-Syakir melempar keris larangapati tepat di jantung makhluk itu. matam perempuan berwujud seperti kuda itu membelalakkan matanya sehingga beberapa detik kemudian makhluk itu lenyap seperti debu.
"huufffttt...hampir saja" Vino melap keringatnya di dahi
mereka berdua duduk dan mengatur nafas, meskipun selalu berhadapan dengan makhluk gaib namun tetap saja manusia pasti mempunyai rasa takut.
"jelas kita harus periksa satu-satu, atau kita berpencar saja" usul El
"nggak ah nggak mau gue. elu punya keris larangapati nah sedangkan gue, nggak punya senjata apapun" Vino menolak
"ya udah kita mulai dari yang paling kanan, ayo" El-Syakir berdiri dan kemudian membantu Vino
ditempat persembunyian Bara dan Leo, mereka sama sekali tidak keluar karena takut akan dilihat oleh jin abdi ratu Sri Dewi. mereka berdua bersembunyi di balik patung ular yang besar yang berada di pojok ruangan. hanya di situ tempat aman untuk mereka bersembunyi.
"kita sampai kapan di terus Bar...?" tanya Leo yang sudah mulai pegal karena duduk terus
"sampai El dan Vino kembali" jawab Bara
"daripada kita di sini terus lebih baik kita mencari penawar racun itu"
"mau cari gimana Le, kita nggak tau penawar racun itu dimana dan bentuknya bagaimana. kita tunggu El dan Vino saja untuk membebaskan Senggi. hanya dia yang tau dimana kita akan mendapatkan penawar racunnya"
"iya juga sih, tapi gue lapar loh Bar" Leo mengelus perutnya
"sama, gue juga lapar. apa kita kembali ke dapur untuk mencari makanan...?"
"tapi memangnya ada gitu yang bisa kita makan di sana, mereka kan jin jahat nggak seperti ratu Sundari"
"iya juga sih, terus gimana dong...?"
saat sedang memikirkan nasib perut mereka, keduanya dikagetkan dengan para jin yang berbondong-bondong berlari, entah kemana mereka akan pergi. karena rasa penasaran, Bara dan Leo mengikuti mereka.
rupanya semua jin itu berkumpul di suatu tempat dimana ratu Sri Dewi sedang duduk di singgasana yang seharusnya itu adalah milik ratu Sundari.
"siapa yang melihat ularku...?" ratu Sri Dewi menatap mereka dengan tatapan tajam
"maaf ratu, kami tidak melihatnya" para dayang istana menunduk takut
"kalian semua banyak di sini, masa tidak melihat dimana ularku pergi" bentak ratu Sri Dewi
"kami tidak melihatnya ratu" jawab jin yang lain
Bara dan Leo saling pandang. ular hitam itu saat mereka kabur, masih berhadapan dengan Adam, kini mereka khawatir bagaimana dengan keadaan Adam sekarang.
"belum juga mendapatkan Sundari sekarang Ragin pergi entah kemana" Sri Dewi begitu marah
"kerahkan semua pasukan untuk mencari Sundari, cari di semua tempat. aku yakin dia tidak akan pergi jauh karena keadaannya yang sedang memburuk"
"baik ratu"
__ADS_1
"pergilah, aku tunggu kabar dari kalian"
semua jin laki-laki melaksanakan tugas yang diberikan oleh ratu mereka, sementara yang lain masih setia berada di tempat.
"sepertinya aku harus memaksa Senggi untuk jujur, dimana dia menyembunyikan ratu sialannya itu" ucap ratu Sri Dewi
seketika ratu Sri Dewi menghilang dari singgasananya, mereka para abdinya kembali untuk melakukan tugas masing-masing.
sementara Bara dan Leo dengan cepat kembali ketingkap itu dan masuk ke dalam. mereka harus memberitahu El dan Vino kalau ratu Sri Dewi akan menemui Senggi.
"gelap banget Le" Bara menerangi di depan mereka dengan senter hp
"ini kita ikut turun, nanti kalau pintunya di tutup bagaimana...?" tanya Leo
"mending ketutup pintu daripada ketahuan sama ratu Sri Dewi. kita bisa dibunuh olehnya karena dengan berani menyusup ke wilayahnya" timpal Bara
"terus sekarang kita harus kemana nih, malah banyak lorong gini"
mereka telah tiba di tempat dimana terdapat lorong yang entah akan membawa mereka kemana jika mereka masuki. kini mereka berada di lingkaran yang dikelilingi oleh lorong yang gelap.
"kita kemana nih...?" tanya Leo
"paling kanan aja dulu" usul Bara
Leo mengangguk dan keduanya mengambil lorong sebelah kanan. saat akan hendak memasuki lorong itu, terdengar suara teriakan di lorong kedua, di samping lorong yang akan mereka masuki.
"itu suara Vino" ucap Leo
"ayo cepat"
keduanya berlari memasuki lorong kedua sebelah kanan.
sementara di lorong itu, Vino sedang diseret oleh makhluk penunggu lorong tersebut.
"aaaa El tolongin gue"
El-Syakir berlari sekuat tenaga dan hap.... tangannya langsung memegang kaki Vino sehingga dirinya ikut di seret. sudah tidak dipedulikan luka yang mereka alami.
bughhh
bughhh
mereka di lempar ke langit-langit lorong dan
bughhh
bughhh
"aaaggghh"
bukan El dan Vino yang kesakitan melainkan Bara dan Leo. mereka berdua menjadikan tubuh mereka sebagai tempat mendarat kedua sahabat mereka itu.
"sumpah, elu berat banget Vin" Bara menggeser tubuh Vino
"thanks Bar" Vino yang sudah babak belur membantu Bara untuk berdiri begitu juga El-Syakir yang membantu Leo
belum sempat mengatur nafas, makhluk itu sudah merayap dengan cepat di dinding dan hendak menusuk Leo dengan ekornya yang runcing seperti kalajengking namun El-Syakir menarik tubuh Leo ke samping dan ia memotong ekor makhluk itu dengan keris larangapati.
kaaaaaaak....kaaaaaaak
makhluk itu mengerang sakit dan akhirnya lenyap seketika. keris larangapati memang keris yang dapat memusnahkan makhluk halus. namun meskipun begitu belum bisa untuk memusnahkan ratu Sri Dewi yang mempunyai kekuatan luar biasa.
"istrahat dulu deh, gue benar-benar lelah" Vino bersandar di dinding lorong
"kalian kenapa bisa ada di sini...?" tanya El
"kami datang mau memberitahu kalau ratu Sri Dewi ada di tempat ini untuk menemui Senggi" jawab Bara
"kalau kami nggak datang, bisa-bisa kalian ketahuan olehnya. yaa meskipun kami telah membetahu tidak menutup kemungkinan kita akan ketahuan tapi setidaknya kita lebih berhati-hati karena sudah tau kalau dia ada di sini" lanjut Bara
"terus sekarang bagaimana...?" tanya Leo
"sudah dua lorong yang kami masuki, dan tidak ada Senggi di keduanya" jawab El
"nggak ada Senggi tapi kita disambut oleh berbagai makhluk mengerikan. masih tersisa dua lorong lagi. entah makhluk apa lagi yang akan menanti kita di sana" timpal Vino yang sudah sangat merasa lelah
"yang jelas salah satunya pasti lorong dimana Senggi di tawan" ucap El
"kalau gitu kita mencar saja untuk mempercepat pencarian" Bara memberikan usul
"boleh, dan kita harus bertemu di tempat titik dimana kita keluar nanti, di lingkaran itu" El setuju
"nanti kalau salah satu dari kelompok kita bertemu ratu Sri Dewi bagaimana...?" tanya Vino
"yaaa usahakan agar tidak bertemu" jawab El
"elu pikir gampang apa. tapi ya sudah lah. sebaiknya kita bergerak cepat" ucap Vino
mereka berempat keluar dari lorong itu dan menuju lorong selanjutnya. tersisa dua lorong lagi. Bara dan Leo masuk di lorong ke tiga sementara El dan Vino masuk di lorong keempat. lorong kelima adalah jalan keluar menuju pintu untuk naik ke atas.
entah ada makhluk apalagi yang menanti mereka di dalam sana. mereka harus bersiap menghadapi apapun yang menghalangi nanti. namun tentu saja mereka berharap pencarian mereka dapat membuahkan hasil.
__ADS_1