
"sayang bangun udah siang loh, kamu nggak kerja" Mita sedang berusaha membangunkan Pram
"bentar lagi yank, masih ngantuk" Pram menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya
"udah jam 7 loh yank, bangun ah. aku nggak enak sama mama, kita bangunnya kesiangan mulu"
"mau yang enak-enak nggak...?" Pram membuka selimutnya dan tersenyum menaik turunkan alisnya
"ish, dari kemarin juga udah aku kasih yang enak-enak. udah ah bangun, aku juga kan mau kerja" Mita beranjak dari kasur namun Pram menahannya dan duduk kembali
"boleh nggak kalau nggak usah kerja" ucap Pram memperbaiki anak rambut istrinya
"emang kenapa...?" Mita menatap mata suaminya itu
"kan udah ada aku yang kerja, kamu sekarang tanggung jawab aku. aku maunya kamu di rumah aja nunggu aku pulang, siapin sarapan. kamu hanya perlu duduk manis di rumah saja, biar aku saja yang cari nafkah buat kamu" Pram memeluk istrinya dari belakang
"tapi aku bosan nanti kalau nggak ngapa-ngapain" keluh Mita
"kamu bisa bantu-bantu bibi sama mama masak, atau kamu bisa cari kegiatan yang nggak buat kamu bosan"
"emang kenapa sih mas kalau aku kerja, lagian kan bagus kita bakalan bareng terus"
"kalau aku pulang, kita akan bareng terus juga kan. mau ya, aku janji bakalan penuhi semua kebutuhan kamu"
"terus siapa yang mau gantiin aku nanti...?"
"tinggal buka lowongan aja untuk yang bisa menggantikan kamu. banyak pasti yang akan melamar"
Mita memicingkan matanya ke arah Pram membuat pria itu bertanya-tanya.
"kenapa kok liatnya gitu banget...?"
"mas nggak bakalan macam-macam kan"
"ya ampuuuun, pikiran kamu kok malah ke sana sih. ya nggak mungkinlah"
"ya abisnya kamu suruh aku berhenti kerja"
"sayang dengar ya. aku bukan laki-laki brengsek yang sudah mengikat wanita dalam ikatan pernikahan terus meninggalkannya begitu saja setelah melihat wanita di luar sana. kalau aku hanya mau macam-macam, ngapain aku nikahin kamu"
"aku maunya kalau aku pulang kerja, ada kamu di rumah yang menyambut aku dengan senyuman manis. menyiapkan semua keperluan aku tanpa dikejar waktu karena kita sama-sama kerja"
"ya udah"
"ya udah apa...?"
"aku mau berhenti kerja"
"nggak terpaksa kan...?"
"nggak, benar kata kamu. aku mau ngurus kamu sendiri tanpa ada campur tangan dari ART"
"pintarnya, istri siapa sih ini" Pram mencubit hidung istrinya
"istri pria tampan Pramudya Anggara" jawab Mita tersenyum manis
cup
"mandi bareng yuk" ajak Pram
"ayuk"
dengan cepat Pram menggendong istrinya menuju ke kamar mandi.
"pagi mah" sapa Randi dan Thalita saat baru saja turun dari kamar mereka
"pagi sayang" Jawa ibu Endang
"kamu ke kantor Ran...?" tanya pak Agung
"iya pah, cuti Randi kan udah selesai" jawab Randi
ibu Endang melayani pak Agung mengambilkan makanan begitu juga Thalita yang sedang melayani suaminya.
"aku mau itu sayang" Randi menunjuk lauk kesukaannya dan Thalita mengambilkannya
"kalau kamu Tha, kamu mau kerja...?" tanya ibu Endang
"nggak mah, Thalita berhenti kerja. lagipula nona Vania sudah banyak yang menjaganya" jawab Thalita
pak Agung dan ibu Endang memang tau kalau menantu mereka itu adalah pengawal khusus Vania Larissa istri dari Zidan Sanjaya.
"mama setuju, kalau kamu bosan di rumah. kamu bisa kelola butik mama aja, supaya kamu punya kegiatan" ucap ibu Endang
"ya itu namanya Thalita tetap kerja mah" timpal Randi
"kan supaya Thalita ada kegiatan dan nggak bosan di rumah terus. lagian hanya memantau saja, ada karyawan yang bekerja. lokasinya juga nggak terlalu jauh dari rumah" jawab ibu Endang
"lagipula kalau kamu udah mau pulang, tinggal hubungi Thalita saja supaya dia pulang duluan dan menunggu kamu di rumah. jangan terlalu mengekang istri Ran, nanti lari baru tau rasa kamu"
"ish, mama kok ngomongnya gitu sih" sungut Randi
"papa setuju sama mama" ucap pak Agung
"gimana mas...?" Thalita melihat suaminya
"ya udah, tapi kamu harus pulang duluan sebelum aku pulang ya"
"tentu saja" Thalita tersenyum senang mendapatkan izin dari suaminya
"Randi, kamu kapan mau bergabung di perusahaannya papa, papa udah tua, harusnya kalian sudah menggantikan papa" ucap pak Agung
__ADS_1
"kan ada mas Rangga pah"
"kamu kan sudah tau sendiri, mas mu itu sudah mempunyai usaha sendiri, dia tidak mau"
"masih ada Rifki" ucap Randi
"nggak ya, Rifki masih sekolah...nggak mau pusing sama namanya urusan bisnis" anak bungsu pak Agung baru saja datang bergabung bersama mereka
"sambil belajar dek"
"hafalin rumus matematika aja susah loh kak. kakak ajalah yang handel, nanti Rifki bantu kalau udah udah lulus" jawab Rifki menyendok nasi
"hanya kamu satu-satunya harapan papa, pikirkan baik-baik Randi. papa ingin istirahat dari dunia bisnis, papa ingin menghabiskan masa tua papa dengan bersantai di rumah" ucap pak Agung
"nanti Randi pikir lagi pah" jawab Randi
sementara itu di tempat lain Helmi, Sisil dan kedua orang tua Helmi masih berada di apartemen milik Helmi beserta juga Azam. mereka kini sedang menikmati pisang goreng dan secangkir teh.
"mah, yang antar Azam siapa...?" tanya Azam yang kini telah siap dengan seragam sekolahnya
"biar papa yang antar" Helmi mengambil kunci mobil di dalam kamar kemudian kembali lagi ke ruang tengah
"yah, Bu, Helmi antar Azam sekolah dulu ya"
"iya" jawab kedua orang tua Helmi
"Azam sekolah dulu ya nek, kek. nanti kalau Azam pulang, kita jalan-jalan lagi ya" Azam mencium kedua tangan mereka
"tentu saja. sekolah yang benar biar besok lusa jadi orang sukses" pak Anwar mengelus kepala Azam
mereka berdua pun meninggalkan apartemen dan memasuki lift untuk turun ke lantai bawah.
"nak, kapan Azam libur sekolahnya...?" ibu Rosita bertanya kepada Sisil
"sepertinya tidak lama lagi Bu, ada apa memangnya...?" tanya Sisil
"begini, kalau bisa saat Azam libur nanti, kami ingin mengajaknya ke kampung halaman. ibu suka dengan Azam, dia anak baik dan penurut" ucap ibu Rosita
"Masya Allah, terimakasih sekali bu telah menerima saya dan Azam di keluarga ibu dan ayah" Sisil mulai berkaca-kaca. tidak pernah terfikir olehnya bahwa orang tua suaminya akan menerimanya apa adanya
"justru kami yang berterimakasih kamu telah menerima anak kami yang sama sekali tidak mempunyai apa-apa untuk dibanggakan" ibu Rosita menatap Sisil dengan tatapan sendu
"harta bisa dicari Bu, kami akan berjuang bersama untuk mempunyai kehidupan yang lebih baik lagi"
"Helmi memang tidak salah memilih istri" puji pak Anwar
mereka kemudian bercerita banyak hal, hingga akhirnya Helmi kembali dan akan bersiap untuk ke kantor. Sisil pun masih menjadi sekretaris ayah Adnan, Helmi tidak melarang istrinya untuk tetap bekerja. namun saat tiba waktunya istrinya berbadan dua, dia pasti akan melarang istrinya untuk bekerja dan tetap di rumah saja. itu adalah kesepakatannya yang telah mereka buat.
"sampai di sini materi kita pada hari ini, kita akan bertemu minggu depan. sebelum keluar, ibu akan memberikan kalian tugas per kelompok"
"tugasnya yaitu mencari tempat wisata di kota ini, dan cari tau apa yang membuat pengunjung tertarik dengan wisata itu. daya tarik apa yang membuat orang-orang ingin mengunjungi tempat tersebut. sejarah dibangunnya seperti apa dan apa yang menjadi ciri khas dari tempat tersebut"
"paham yang ibu katakan...?"
"paham Bu"
"baiklah sekarang silahkan membuat kelompok yang masing-masing terdiri dari lima orang. El-Syakir, nanti nama-nama kelompoknya bawa ke meja ibu ya"
"baik Bu" jawab El
setelah ibu Zalina keluar, di dalam kelas mulai riuh dengan pembagian kelompok.
"kita satu kelompok aja ya. Vino berbalik badan"
"biar gue yang tulis" Melati merobek satu lembar kertas dan menulis nama teman-temannya
"nih" kertas itu diberikan kepada El
"terus tempat wisata mana yang kita mau ambil...?" tanya Leo
"danau di istana karing-karing aja gimana" ucap Adam yang duduk santai sambil mengangkat satu kakinya
"mana tau mereka dengan danau gaib itu. elu kalau ngasih saran suka ngadi-ngadi" cebik Vino
"pantai aja, kan ada pantai terdekat di sini" Melati mengusulkan
"pasti banyak yang akan ambil di pantai itu, kan nggak boleh sama" jawab El
"terus dimana dong...?" tanya Vino
"nanti aja deh kita mikir, sekarang gue kumpul dulu nama-nama kelompok ini di kantor" El beranjak dari tempat duduknya
"kita tunggu elu di kantin ya" ucap Leo
"oke" El yang sudah berada di depan pintu langsung mengangkat jempolnya
"Mel" Starla dan Nisda memanggil, mereka datang menghampiri
"jemput Alana yuk" ucap Nisda"
"ayo"
"kalian duluan aja ya, kami mau ke kelas Alana dulu" ucap Starla
"okeh"
para laki-laki melangkah menuju kantin sementara perempuan ke kelas Alana. El-Syakir yang sudah bertemu dengan ibu Zalina langsung menuju kantin menyusul teman-temannya.
"yang lain mana...?" tanya El saat baru saja tiba
"tuh" tunjuk Adam
__ADS_1
para perempuan datang bersama Alana dan juga Seil. gadis itu ingin bergabung bersama teman-teman Alana.
"mau pesan apa...?" tanya Melati
"teh melati" jawab Adam
"ekhem...ekhem" Alana menggoda
"batuk...? di Baygon aja" ucap Adam tanpa dosa
pluuukk
"sakit dek" Adam mengelus lengannya
"kalau Baygon mah Alana langsung mati" sungut Alana
"emang siapa yang suruh kamu minum Baygon...? ucap Adam
"nah tadi kakak nyebut Baygon"
"aku kan hanya sebut bukan nyuruh"
"sama aja, artinya juga kakak nyuruh Alana minum Baygon"
"aku kan nggak bilang minum Baygon loh tadi, Fatonah itu namanya. jadi Malin kandang kamu"
"Malin Kundang Adam hawa, ya ampun elu kenapa sih neybut itu aja nggak bisa" cebik Vino gemas dengan ucapan Adam
"sama aja, ada dang dang-nya juga" jawab Adam yang tidak mau kalah
"serah elu lah" kesal Vino
Starla dan Melati memesan makanan dan minuman sedang yang lain menunggu hingga kemudian makanan dan minuman mereka pun datang.
"kalian tau tempat wisata yang populer nggak di kota ini...?" tanya El
"banyak lah, kenapa emang...?" tanya Bara yang memakan baksonya
"ada tugas kelompok dari ibu Zalina. di suruh terjun langsung ke tempat wisata untuk meneliti banyak hal di sana" El menjawab sambil memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya
"puncak Moramo aja gimana, itu tempat yang belum lama buka loh. kalau nggak salah banyak yang ke tempat itu dan emang lagi hits sekarang" ucap Nisda
"udah ada yang ambil sama kelompok lain" jawab El
"kalian mau ke tempat wisata...?" tanya Alana
"iya, seru kan" jawab Adam cepat
"jalan-jalan dong berarti. Alana ikut ya" gadis itu menawarkan diri
"boleh, lagian kan kita perginya pas bukan hari sekolah" jawab Leo
"kalau gitu kami juga ikut, siapa tau kan bisa bantu" timpal Bara
"ikut semua aja, tapi lokasinya sekarang belum ada" ucap Adam
"kalau tempat wisata sih, di kecamatan tempat ayah lahir ada" Seil memberitahu
"emang di kecamatan mana...? tanya El
"Boneng Gunu, itu desa tempat kami tinggal dulu sebelum pindah ke kota. di sana ada wisata permandian, pantai, bahkan puncak yang juga banyak di kunjungi orang.
"wah jauh tuh" ucap Leo
"luar kota kayaknya ya" ucap Adam
"tetangga kota. yaaa paling kalau perjalanan hanya butuh waktu 6 jam" ucap Seil
"tapi kan ibu Zalina mengatakan wisata di dalam kota ini saja" ucap Melati
"kita tanya dulu aja. siapa tau bisa ambil wisata di tempat lain" usul Adam
"ide bagus, nanti gue coba tanya sama ibu Zalina" timpal El
"wisata di sini banyak loh ya, ngapain cari yang jauh" ucap Starla
"kalau di sini mah kita udah tau semua, cari yang baru saja sekalian jalan-jalan di desa pasti seru" jawab Vino
"berarti Seil harus ikut karena dia yang tau tempat wisata di tempat itu" ucap Alana
"belum tentu juga bisa, tapi kalau dapat persetujuan dari ibu Zalina ya nggak apa-apa Seil ikut" ucap El
"mau pdkt ya" Adam berbisik di telinga El
"apaan sih kak, ngaco deh" El mencebik
"cih, malu-malu tapi meong" ucap Adam
"kakak juga tuh, diam-diam tapi mau. benar nggak" El berbalik menyudutkan Adam
"nggak tuh" Adam cuek dan kembali memakan makanannya
"gue bilangin Melati ya, kalau kakak benar nggak mau sama dia"
"dan aku akan bilang sama Seil kalau kamu suka sama dia" Adam membalas
"ck, tau ah" El mencebik
sedangkan Seil sesekali melirik ke arah El-Syakir. gadis itu memang mempunyai perasaan kepada El-Syakir saat pertama mereka bertemu ketika El-Syakir membantu dirinya waktu itu.
setelah selesai makan, mereka kembali ke kelas masing-masing untuk menunggu pelajaran selanjutnya.
__ADS_1