
suara tembakan saling bersahutan dari dalam vila. sejak ratu Sundari menghancurkan tabir pelindung yang dibuat oleh Sri Dewi maka Zidan serta para pengawal dapat menemukan jalan untuk bergegas ke vila milik keluarga Sanjaya yang berada di pulau itu.
beberapa orang yang berjaga di luar telah berhasil di lumpuhkan oleh Randi dan Pram. namun sepertinya anak buah Baharuddin begitu banyak sehingga tidak ada habisnya mereka datang dan menyerang para pengawal Sanjaya grup.
"Fur, arah jam 9" teriak Helmi
Furqon yang sedang adu jotos dengan salah satu anak buah Baharuddin langsung menendang kepala laki-laki itu dan ia melompat bersembunyi di balik sofa sehingga tembakan yang dilesatkan ke arahnya hanya mengenai dinding.
"makan nih peluru"
Furqon berguling ke samping dan menembak orang tadi hingga tepat menembus di kepalanya.
dor
dor
Zidan menembak setiap orang yang datang. dirinya bersama dengan Helmi yang terus memuntahkan isi pistol mereka.
"Furqon, kamu ke ruang bawah tanah. lindungi anak-anak, mereka tidak membawa pistol" teriak Zidan
"siap" jawab Furqon
Furqon keluar dari persembunyiannya dan melesat ke arah samping dimana tempat menuju dapur. di tempat itulah ruang bawah tanah berada. baru saja Furqon membuka tingkap, seseorang meletakkan pistol di belakang kepalanya.
"angkat tanganmu atau aku ledakkan kepalamu"
Furqon bangkit dan mengangkat kedua tangannya. pistol miliknya diambil oleh laki-laki itu. kini kedua tangannya telah berada di belakang punggungnya.
"jalan"
Furqon menuruti perintah membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan kaki kanannya. namun tepat saat itu juga ia membenturkan kepalanya di hidung orang itu sehingga laki-laki itu terjungkal ke belakang dan pistol yang ia pegang terlepas jatuh ke lantai.
"aaaggghh, kurang ajar"
baru hendak menyerang Furqon melayangkan pukulan tepat di rahangnya. bukan hanya itu, ia juga melompat melayangkan tendangan hingga laki-laki itu tersungkur ke lantai dan pingsan.
"beruntung kamu cuma pingsan" gumam Furqon mengambil kembali pistol miliknya
tingkap ruang bawah tanah terbuka. pertama yang keluar adalah El-Syakir, di susul Adam yang sedang menggendong Zulfan setelah itu Melati dan terakhir Deva dan Alana.
"tuan muda" Furqon mendekat
"dia...."
"dia Zulfan" jawab El-Syakir saat Furqon menunjuk Adam sedang menggendong seseorang
"dia sangat lemah, jangankan melayang, membuka matanya saja tidak bisa" ucap Deva
"kita bawa ke luar saja" ucap Melati
"tim samudera yang lain dimana...?" tanya Adam
"mereka tidak kami izinkan masuk, bisa bahaya karena semua orang memegang pistol. hanya kalian saja yang berani masuk ke tempat ini. sekarang kalian keluar saja lewat pintu samping, di depan masih berperang" jawab Furqon
kelima remaja itu mengikuti Furqon melewati pintu samping. pengawal itu berada di depan mereka jangan sampai ada yang menyerang mereka dari arah depan. setelah merasa aman, Furqon membuka pintu dan menelisik sekitar.
"keluarlah dan cari tempat persembunyian"
"lalu bagaimana dengan Baharuddin, apa dia sudah di temukan...?" tanya Deva
"sampai saat ini baru anak buahnya saja yang kami hadapi. keluarlah dan berkumpul bersama teman-teman yang lainnya"
Furqon menutup pintu setelah anak-anak itu keluar dan ia melangkah akan kembali ke depan.
El-Syakir menjaga dari arah belakang sementara dari depan ada Deva dan Melati. mereka mencari tim samudera yang lain yang ternyata berada di samping rumah vila itu, bersembunyi di balik pohon.
dengan tergesa-gesa mereka menghampiri yang lainnya. Adam menurunkan Zulfan dan menyandarkan tubuh laki-laki itu di batang pohon.
"kenapa dengannya...?" tanya Leo saat melihat keadaan Zulfan
"disiksa oleh para lelembut Baharuddin" jawab Adam
"kasian sekali" Starla menatap iba
"lalu apakah paman Zidan dan yang lain telah menemukan Baharuddin...?" tanya Vino
"entahlah, kata kak Furqon mereka masih menghadapi para anak buah Baharuddin yang begitu banyak" jawab Alana
buuuuuum
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
__ADS_1
suara dentuman keras dan juga ledakkan yang begitu dahsyat membuat mereka memutar kepala untuk melihat ke arah timur pulau itu. kembali tanah bergetar seperti tadi bahkan angin bertiup kencang dari arah timur pulau itu.
"sebenarnya apa yang terjadi di sana, sejak tadi gue mendengar seperti ada yang sedang bertarung" ucap Bara
"apa itu ratu Sri Dewi dan...." Nisda menggantung ucapannya dan melirik ke arah Adam
"jangan-jangan itu ratu Sundari dan ratu Sri Dewi, atau bisa saja itu Baharuddin dan ratu Sundari. apa perlu kita melihat ke sana" Vino melihat semua teman-temannya
ddduuuaaaar
belum hilang rasa penasaran mereka, semuanya di kejutkan dengan suara ledakan dari dalam vila. atap yang kokoh serta dinding yang kuat roboh seketika karena ledakan itu.
nafas Adam memburu melihat vila itu hancur lebur sementara Zidan dan yang lainnya masih berada di dalam sana.
"PAMAN"
Adam berlari ke arah depan, yang lain ikut berlari meninggalkan Zulfan seorang diri. namun kemudian El-Syakir kembali lagi dan membuat pagar gaib dari keris miliknya untuk melindungi Zulfan dari siapa saja yang ingin mencelakainya. setelahnya ia berlari menyusul tim samudera yang sudah berada di dalam vila.
baru hendak masuk, semua orang keluar berlari menjauhi vila.
"AWAS, LARI"
teriakan Pram bersamaan dengan meledaknya kembali vila itu. semua orang terhempas dengan keras ke depan. debu berterbangan membuat penglihatan mereka semua kabur. vila yang kokoh itu hancur lebur rata dengan tanah. banyak pengawal Sanjaya grup serta anak buah Baharuddin yang tidak bisa menyelamatkan diri akibat dari ledakan itu.
uhuk...uhuk
uhuk... uhuk
"paman...paman Zidan" Adam berusaha bangkit berteriak memanggil nama Zidan
"paman Zidan"
semua orang terkulai di tanah akibat ledakan itu. mereka berusaha bangun dengan menghirup begitu banyak oksigen agar sesak tidak menghimpit dada.
"kamu nggak apa-apa...?" Leo membantu Alana untuk berdiri
"Lana nggak apa-apa. kak Leo baik-baik saja kan...?" Alana memeriksa lengan serta wajah Leo
"aku baik-baik saja sayang" Leo merengkuh tubuh mungil Alana, ia bersyukur gadis itu tidak terluka
mendengar suara Adam yang terus memanggil namanya membuat Zidan menjawab dengan suara lirih. laki-laki itu dibantu oleh Pram untuk berdiri.
"paman"
Adam datang dan langsung menghambur memeluk Zidan. ia pikir Zidan masih berada di dalam vila karena yang Adam lihat hanya keempat pengawal, namun ternyata Zidan ada diantara mereka.
"paman baik-baik saja...?" El-Syakir serta yang lainnya datang menghampiri
"paman baik-baik saja" Zidan mengulas senyum
"apa kalian tidak menemukan mas Bahar di dalam semua kamar itu...?" Zidan menoleh ke arah pengawalnya
"tidak ada, semua kamar telah kami periksa namun dia tidak berada di kamar manapun" Helmi menjawab
"sial, kemana lagi dia pergi manusia iblis itu" Zidan mengusap kasar wajahnya dan mengumpat dengan kesal
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
kembali terdengar suara dentuman dan ledakan yang begitu keras. semua orang melihat ke arah timur pulau, api yang tadinya padam kini kembali menyala.
"hahaha.... hahaha"
suara tawa seseorang yang tidak menampakkan wujudnya menggema di pulau yang tidak berpenghuni itu. semua orang menelisik ke segala arah mencari-cari dimana penampakan orang tersebut namun sampai ke segala marah mereka tidak melihat siapapun.
"kalian mencari ku...?"
"mas Bahar... KELUAR KAMU MAS" Zidan dengan emosi yang menggebu-gebu berteriak
"hahaha, kamu ingin sekali bertemu dengan aku adikku sayang. segitu inginnya kamu ingin membunuhku. padahal dulu aku yang selalu menimang mu saat kamu menangis"
"persetan dengan semua itu. tunjukkan dirimu BRENGSEK, jangan jadi pengecut. keluar kamu mas"
Zidan semakin menggila bahkan mencari ke sana kemari keberadaan bahari namun ia tidak menemukan laki-laki itu. hanya ada reruntuhan vila yang baru saja roboh dan pohon-pohon besar yang serta tanaman hias yang telah hancur berantakan.
"Zidan.... Zidan, apa kamu tidak takut jika bertemu dengan ku, aku bisa saja membunuhmu seperti yang aku lakukan kepada mas Burhan dan anak sialan itu"
"bedebah kamu Baharuddin, keluar kamu" kali ini El-Syakir yang bersuara dengan tangan yang mengepal kuat. andai Baharuddin ada di dekatnya sudah pasti ia akan melayangkan pukulan kepada laki-laki itu
"hahaha... hahaha"
hanya tawa yang terdengar tanpa ada wujud dari laki-laki itu. Adam semakin kesal dan memendam amarah yang menggebu. ia mempertajam penglihatan dan memusatkan telinga dimana suara itu berasal.
__ADS_1
matanya memicing ke segala arah hingga seketika ia melesatkan pukulan tenaga dalam ke arah beberapa meter di depan sana.
ddduuuaaaar
pohon yang terkena kekuatannya meledak dan tumbang, saat itu juga seseorang keluar dengan tangan yang bertepuk tangan.
prok... prok...prok
seorang laki-laki muncul dengan wajah tersenyum lebar seakan begitu bahagia melihat orang-orang yang ada di depannya. dengan topi koboi yang ia pakai serta celana jeans dan baju kemeja. ia berdiri tidak jauh memandangi satu persatu wajah-wajah semua orang.
"mas Bahar" Zidan maju selangkah mengepal kuat tangannya
Adam dan El-Syakir maju ke depan sejajar dengan tubuh Zidan. para pengawal bersiap dengan pistol mereka masing-masing.
(jadi dia yang bernama Baharuddin) batin El-Syakir
"kalian semua berada di sini lalu siapa yang akan menjaga istri dan keponakanmu Zidan..?"
pertanyaan itu membuat Zidan tersentak kaget. ia teringat dengan Vania dan Gibran yang ada di rumah sakit.
"tenang bos, ada Ardi dan Edward di sana. serta pengawal kita yang lain. Bagas juga ada di rumah sakit menjaga Gibran" Helmi memberitahu Zidan tentang keamanan istri dan keponakannya
"rupanya kalian menjaga mereka dengan ketat ya" Baharuddin tersenyum simpul
Baharuddin menatap lekat semuanya dan matanya terhenti memandang Deva yang sedang menatapnya tajam.
"harusnya dulu aku bukan hanya mengancam mu tapi membunuh mu sekalian" Baharuddin tersenyum menyeringai
"simpan hayalanmu itu. hari ini kamu yang akan mati di tangan kami" Deva sama sekali tidak gentar berhadapan dengan laki-laki itu
"well... well... well, sudah punya keberanian ternyata kamu ya. ngomong-ngomong Dirga Sanjaya, apakah kamu tidak ingin menyelamatkan wanitamu. dia pasti sudah babak belur di hajar habisi oleh Sri Dewi"
"apa yang kamu lakukan brengsek" Adam melangkah ke depan berniat menyerang namun El-Syakir menahannya
"hahaha, cinta memang membutakan ya ternyata. apakah kamu tidak dengar suara ledakan beberapa kali di arah timur. itu adalah efek pertarungan dari Sundari dan Sri Dewi. aku yakin wanitamu pasti sudah...m a t i"
"BRENGSEK"
swing
swing
tidak dapat menahan amarah, Adam melesatkan serangan. Baharuddin menepis serangan itu dengan kekuatan miliknya. tim samudera tidak tinggal diam. mereka maju ke depan mulai berbaris saling berjejer. senjata mereka telah berada di tangan masing-masing.
sementara Zidan dan para pengawalnya melesatkan beberapa peluru ke arah Baharuddin. namun seakan tidak ada apa-apanya, semua peluru itu hanya ia tahan dengan telapak tangannya.
"mustahil" Randi sama sekali tidak menyangka dengan kejadian itu
Baharuddin mengembalikan semua peluru itu. El-Syakir memasang pagar gaib dari keris miliknya hingga semua peluru jatuh ke tanah sebelum menyentuh mereka.
sekali lagi para pengawal menembak Baharuddin dengan beruntun namun Baharuddin menghindar tanpa ada satupun peluru yang mengenai tubuhnya.
tim samudera maju dan mengelilingi laki-laki itu. pertempuran antara laki-laki paruh baya itu dengan anak-anak remaja mulai terjadi. Baharuddin meladeni anak-anak itu.
bugh
bugh
Bara dan Vino mundur beberapa langkah karena terkena pukulan dari Baharuddin. hampir saja mereka terjungkal namun untungnya Leo dan Deva segera menahan tubuh keduanya.
Nisda dan Starla melempar selendang mereka dan melilit tubuh Baharuddin. sayangnya hanya sekali hentakan, selendang itu tercabik-cabik seperti kain yang digunting kecil. selendang kedua gadis itu kembali utuh padahal Baharuddin telah menghancurkannya.
bugh
bugh
Alana dan Nisda terpental terkena pukulan Baharuddin. Leo maju dan menebaskan pedangnya ke leher laki-laki itu. Baharuddin menangkis dan akan memukul dada Leo namun remaja itu melompat dan melayang di atas kepala Baharuddin.
buaaaak
satu tendangan berhasil Leo layangkan di punggung Baharuddin.
swing
Adam mengambil kesempatan melesatkan kekuatannya hingga tepat mengenai Baharuddin dan ia terpental jauh. hampir tersungkur jika ia tidak menggunakan tenaganya untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Baharuddin tersenyum kecut tatkala para remaja itu berhasil menyentuhnya. dadanya terasa nyeri karena terkena serangan tiba-tiba dari Adam.
"ternyata kalian suka main keroyokan ya" Baharuddin bangun dan tersenyum tipis
setelahnya Baharuddin melarikan diri, ia melesat dengan cepat. Adam tidak tinggal diam. ia mengejar Baharuddin dan semua orang pun bergegas mengejar keduanya.
rupanya Baharuddin pergi ke arah timur. laki-laki itu kini telah berdiri di samping Sri Dewi sedang Adam terpaku di tempatnya melihat kejadian di depannya. tim samudera yang baru saja datang menganga dan membekab mulut.
__ADS_1
"ratu" Melati hendak berlari ke dalam kobaran api seketika api yang mengelilingi dua wanita itu menyala dengan tingginya menghalangi Melati
"r-ratu" Adam tergagap dan lemas melihat keadaan wanita yang ia cintai