Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 156


__ADS_3

setelah jam istirahat berikutnya, El-Syakir pergi ke ruang guru untuk menghadap ibu Zalina guna memberitahu terkait wisata yang akan mereka pilih.


"assalamualaikum" ucap El sebelum masuk


"alaikum salam, ada apa El...? l" ibu Rani bertanya


"saya mau bertemu ibu Zalina Bu" jawab El sopan


"ya sudah sana"


ibu Rani meninggalkan El-Syakir sementara El-Syakir melangkah mendekat meja ibu Zalina.


ibu Zalina yang sedang duduk di kursinya saat merasa ada yang mendekat ke arah mejanya ia langsung mengangkat kepalanya untuk melihat. El-Syakir sudah berdiri di hadapannya dengan dihalangi oleh meja guru di depannya.


"ada apa El...?" tanya ibu Zalina


"boleh saya duduk Bu...?" tanya El. dia meminta izin untuk duduk karena sangat tidak sopan baginya jika mengutarakan niatnya dalam keadaan berdiri


"boleh, silahkan duduk" ibu Zalina mempersilahkan El


"jadi, ada apa...?"


"saya ke sini ingin menanyakan sesuatu bu"


"menanyakan apa...?"


"begini bu. apa boleh kalau kami memilih tempat wisata di luar kota ini...?"


"memangnya kenapa dengan wisata yang ada di kota ini...?"


"nggak kenapa-kenapa bu. hanya saja di sini sudah banyak teman-teman yang memilih apalagi tempat wisata yang baru saja dibuka. jangan sampai kami memilih salah satunya terus sudah ada yang mengambilnya. jadi untuk kami kelompok kami kalau bisa kami memilih tempat wisata di kota lain"


"ya sudah kalau memang seperti itu. tidak apa-apa, asalkan tugas kalian tetap dikerjakan dan kalian terjun langsung di tempatnya" ibu Zalina memberikan izin


"benar bu...?"


"iya, dimana pun itu tempatnya tidak jadi masalah"


"syukurlah. terimakasih banyak bu atas izinnya. kalau begitu saya pamit dulu"


"iya, silahkan"


El-Syakir meninggalkan meja ibu Zalina dengan perasaan lega. dia kemudian menuju kelasnya untuk memberitahukan teman-temannya.


"bagaimana...?" Vino langsung mengajukan pertanyaan saat El masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya


"ibu Zalina mengizinkan" jawab El


"baguslah, itu berarti kita akan mempersiapkan semuanya apa yang perlu kita bawa" ucap Leo


"bawa diri sajalah, memangnya mau bawa apa lagi" ucap Adam yang sedang sibuk menggambar di bukunya


"bawa pakaian ganti juga kali dam, nggak mungkin langsung pulang kan, apalagi jaraknya yang lumayan jauh. 5 jam perjalanan barusan sampai di kota, belum lagi ke tempat tujuannya pasti memakan waktu juga" ucap Leo menjelaskan


"ohooo benar juga ya. kalau gitu pulang nanti kita belanja yuk, beli baju baru, sepatu baru, celana baru, cd baru, pokoknya semuanya harus baru" Adam menutup bukunya dan sangat antusias


"pakaian di lemari saja masih banyak yang baru loh kak, masih mau belanja juga. heran banget gue" El mencebik, kakaknya itu begitu suka dengan berbelanja


"yaaa aku kan mau yang baru lagi. pokoknya kita harus belanja titik nggak pakai koma" Adam menekan ucapannya


"haishh.... pusing gue" El memegang kepalanya


"sini aku toki kepalamu pakai palu, biar pusingnya hilang" ucap Adam tanpa dosa


"kakak pikir gue paku main palu aja" El menatap Adam dengan kesalnya


"hehehe...piiiiis" Adam mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya


El-Syakir memutar bola matanya. Melati terkekeh melihat kelakuan Adam, sedang Leo dan Vino nampak menggelengkan kepala. tiada hari tanpa kelakuan Adam yang kadang membuat mereka jengkel.


hari ini setelah pulang sekolah, mereka akan ke rumah Seil untuk memberitahu bahwa mereka akan ke kecamatan Boneng Gunu, tempat yang dikatakan oleh Seil bahwa di sana terdapat tempat wisata yang tak kalah indah dengan wisata lain.


sebenarnya mereka akan memberitahu gadis itu setelah pulang sekolah nanti namun ternyata Seil telah lebih dulu pulang sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke rumahnya.


bisa saja mereka memberitahu lewat panggilan telpon atau pesan namun menurut mereka itu sangat tidak sopan. mereka yang membutuhkan Seil, sudah jelas mereka harus bertemu langsung dengannya.


"sudah dikirimkan alamatnya padamu...?" El menanyakan alamat Seil kepada Alana


"sudah kak. apa kita berangkat sekarang...?" tanya Alana


"selesai sholat ashar saja, kalau sekarang masih sangat panas. kita juga belum lama pulang dari sekolah"


"ya sudah aku mau turun ke bawah, mau makan eskrim sama kak Dirga"


"makan nasi dulu dek, nanti baru makan eskrim" El mengikuti Alana turun di lantai bawah


"udah kak, tinggal kak El yang belum makan. Lana sama kak Dirga mah udah tadi" mereka ke ruang keluarga


"kok nggak tunggu kakak sih"


"tunggu apa...?" Adam bertanya saat mereka telah tiba di ruang keluarga


"makan, kalian malah makan berdua" sungut El


"siapa suruh lelet" Adam tampak menikmati memakan es krimnya


"Alana mau dong kak"


"di kulkas banyak" jawab Adam


segera Alana menuju dapur, El-Syakir pun ikut ke dapur dan duduk di meja makan sementara Alana membuka kulkas dan mengambil eskrim kemudian kembali ke ruang keluarga.


"wah kalian makan apa, enak kayaknya tuh" Vania yang baru saja keluar dari kamar datang menghampiri Adam dan Alana


"tante mau...?" tanya Alana


"boleh" angguk Vania

__ADS_1


"Lana ambilkan ya. tante mau rasa apa...?"


"coklat saja"


"sebentar ya" Alana meninggalkan mereka


"dedek bayi kapan lahir sih tante, nggak nongol-nongol" Adam memperhatikan perut Vania yang sudah semakin besar


"kan belum waktunya dam"


"aku kok heran ya" Adam menggaruk pipinya dan terus melihat perut Vania


"heran kenapa...?"


"dia kok bisa anteng di dalam perut ya, di dalam kan sempit" Adam layaknya seperti anak kecil yang tampak sedang berpikir


"itulah kuasa Tuhan, kadang nggak masuk dilogika" Vania mengelus perutnya


"boleh pegang nggak tante, aku pengen rasain dia nendang"


"boleh, sini" Vania menepuk sofa di sampingnya


Adam pun beralih ke samping Vania dan saat itu juga Alana dan El-Syakir datang.


"nih tante eskrimnya" Alana memberikan satu bungkus eskrim rasa coklat kepada Vania


"makasih ya Lana"


"iya. eh kak Dirga mau ngapain...?" Alana kaget melihat Adam mendekatkan telinganya ke perut Vania


"kok nggak ada suara...?" Adam menatap Vania menunggu jawaban


"ya ampun dam" Vania terkekeh geleng kepala


"dia di dalam perut loh dam, gimana mau bersuara" ucap Vania


"tapi aku lihat paman Zidan sering ajak dede bayi bicara, aku kira di juga ikut bicara" ucap Adam begitu polos


memang Adam selalu melihat Zidan mengajak bayinya bercerita. hal itulah yang membuat Adam berpikir kalau anak di dalam kandungan Vania bisa bersuara.


"memang harus seperti itu kak supaya dede bayi kalau lahir nanti dekat sama orang tuanya. tapi bukan berarti mereka juga ikut bicara, dia hanya mendengar apa yang dibicarakan oleh kita" ucap El gemas sekali dengan tingkah kakaknya kali ini


"ooooh..." Adam manggut-manggut dan memegang perut Vania


"aku mau request adik aku boleh ya. pokoknya yang lahir harus laki-laki supaya bisa aku ajak traveling ke alam gaib" ucap Adam antusias


(*astaga) El-Syakir menepuk jidat


(ya ampun dek, kasian sekali hidupmu kalau kamu lahir) Alana memikirkan nasib anak itu jika ia lahir nanti*


"alam gaib...?" Vania mengerutkan keningnya, bisa-bisanya Adam akan mengajak anaknya ke alam gaib


"hehehe... maksud aku traveling melihat pemandangan indah, pemandangannya alam" Adam nyengir kuda


"kamu ini kalau ngomong ada-ada saja dam. lagian mana bisa request, emangnya kayak mau request lagu" Vania tidak habis pikir jalan pikiran pewaris tunggal Sanjaya grup itu


saat tiba waktu ashar, mereka kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat wajib itu. seperti biasa mereka akan sholat berjamaah dan Adam yang menjadi imam.


pukul 4 sore, semua tim samudera berkumpul di rumah itu. mereka akan berangkat ke rumah Seil bersama-sama.


"kalian mau kemana...?" ibu Arini yang baru saja pulang bersama ayah Adnan bertanya kepada mereka


"ibu sama ayah darimana...?" bukan menjawab Adam malah balik bertanya. memang sejak mereka pulang sekolah, orang tua mereka tidak ada di rumah bahkan tidak memberitahu kemana mereka pergi


"dari pernikahan teman bisnis ayah. jawab ibu, kalian mau kemana...?" saat ini mereka sedang berada di halaman rumah bersiap untuk pergi


"ke rumah teman bu" jawab Adam


"kalau begitu hati-hati, jangan ngebut bawa motornya" ayah Adnan memperingatkan


"iya yah"


setelah berpamitan kepada ayah Adnan dan ibu Arini, tim samudera meninggalkan rumah Sanjaya grup menuju ke rumah Seil. jaraknya cukup lumayan jauh hingga memakan waktu setengah jam mereka sampai di tujuan.


"benar kan ini rumahnya...?" tanya El kepada Alana


"yang Seil kirimkan sih sudah benar yang ini" jawab Alana


mereka semua turun dari motor, El-Syakir mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


"wa alaikumsalam" jawaban salam dari luar menandakan kalau pemilik rumah ada di dalam


cek lek


saat pintu dibuka, seorang laki-laki yang seusia Adam berdiri di depan pintu, melihat siapa yang datang, dia membuka lebar pintu rumahnya.


"kak Deva" Alana maju depan


"Alana, ada apa kalian kemari...?" tanya Deva


"kami mau bertemu Seil. Seil ada nggak kak...?"


"ada, ayo silahkan masuk" Deva mempersilahkan mereka masuk ke dalam


rumah cat warna putih cukup luas untuk ditinggali tiga orang. terdapat tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, dapur dan kamar mandi yang letaknya berada di dapur.


"tunggu sebentar ya aku panggilkan Seil dulu" Deva meninggalkan mereka semua


"kakaknya Seil ganteng juga ya" ucap Starla


"yank" Vino menatap tajam kala Starla memuji laki-laki lain


"kamu tetap di hati kok yank, nggak akan terganti" Starla merangkul lengan Vino agar pacarnya itu tidak ngambek hanya karena dirinya memuji Deva


"aku nggak suka ya kamu muji cowok lain di depan aku" ucap Vino kesal


"berarti kalau di belakang kamu boleh" goda Starla

__ADS_1


"apalagi itu, nggak boleh titik" Vino semakin kesal


"iya iya, maaf ya" Starla mengelus lengan Vino, pacarnya itu kalau sudah ngambek akan membuat Starla kewalahan untuk membujuknya


"tau ah" Vino melepas tangan Starla dari lengannya dan berpindah tempat


(ya ampun....tugas berat lagi nih) batin Starla pusing


"hihihi, kasian deh Lo" Adam mengejek Starla


"ck" Starla mencebik dan mencubit lengan Adam


sementara mereka menunggu, akhirnya Seil datang juga bersama Deva. dengan nampan berisi minuman dan cemilan Seil meletakkan di atas meja dan menyimpan minuman itu di depan mereka masing-masing.


"ya ampun Seil, maaf ya udah merepotkan" ucap Alana


"nggak apa-apa Lana, lagian baru kali ini kan kamu datang di rumah aku. tapi maaf ya suguhannya seadanya saja" ucap Seil


"ini lebih dari cukup" ucap El


sementara Deva terus melihat ke arah Adam, dia seperti melihat Adam namun entah dimana dirinya juga tidak tau. wajah Adam seakan familiar baginya.


Deva sering menjemput Seil di sekolah, dia juga melihat Adam namun dirinya tidak begitu memperhatikan wajah Adam. dan saat ini, saat mereka datang ke rumahnya, dia benar-benar merasa kalau Adam pernah dilihatnya di tempat lain tapi entah dimana dirinya pun tidak tau.


"kalian hanya berdua saja tinggal di sini...?" tanya Adam melihat ke arah Deva


"dengan ayahnya Seil, paman aku" jawab Deva


(seperti pernah berjumpa, tapi dimana ya) batin Adam menatap lekat wajah Deva


"jadi apa yang membuat kalian datang ke sini...?" tanya Seil


"begini, pembicaraan kita tadi di sekolah sekarang mendapatkan hasil. ibu Zalina memberikan kami izin untuk memilih wisata di tempat lain. jadi kami datang ke sini untuk meminta kamu ikut bersama kami karena hanya kamu yang tau lokasi tempatnya" El menjelaskan tujuan mereka


"aku sih mau saja, tapi aku harus izin dulu sama ayah" ucap Seil


"nggak masalah, kami akan menunggu kabar darimu. kamu memang harus meminta izin kepada ayahmu" ucap El tanpa memaksa


"memangnya kalian mau kemana...?" Deva yang penasaran akhirnya bertanya


"mau ke Boneng Gunu kak, mereka mau mencari wisata yang akan dijadikan tempat penelitian untuk mereka. itu tugas dari sekolah" Seil menjawab


"wisata di sini kan banyak, kenapa harus ke Boneng Gunu...?" ucap Deva lagi


El-Syakir menjelaskan apa alasan sehingga mereka harus memilih tempat di luar kota tempat mereka tinggal sekarang.


"kalian yakin mau ke Boneng Gunu...?" tanya Deva memastikan


"yakin kak, kami semua sudah setuju" Leo menjawab


"kalau kalian mau pergi ke sana, ikut bersama aku saja. kebetulan aku juga mau ke tempat itu. biar aku yang antar kalian mencari tempat wisata yang bagus" ucap Deva


"kalau seperti itu ya lebih baik sama kak Deva saja, lagian siapa tau Seil nggak diizinkan oleh ayahnya" ucap Bara


"aku akan meminta izin dulu, kalau diizinkan aku tetap akan ikut. sekalian pulang di kampung halaman menjenguk saudara ayah di sana" timpal Seil


"boleh juga seperti itu, ambil keputusan mana baiknya saja" ucap Adam


"kalau begitu silahkan di minum tehnya" Seil mempersilahkan


"ini teh melati...?" tanya Adam


"iya, itu teh melati. ada apa, apa kak Adam nggak suka...? tanya Seil


"aku suka, sangat suka banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer" Adam sumringah dan langsung meminum teh melati itu


sedang menikmati hidangan, handphone Deva tiba-tiba bergetar. dia segera mengangkat panggilan yang masuk di benda pipih itu.


📞 Deva


halo


📞 Deva


sekarang...?


📞 Deva


ya sudah, aku berangkat sekarang


"maaf, aku harus pergi. ada urusan yang harus diselesaikan" ucap Deva setelah selesai menerima panggilan


"kak Deva mau ke kampus...?" tanya Seil


"nggak, kakak mau ketemu teman" jawab Deva


"Nadila...?" tanya Seil lagi


"aku pergi dulu ya" tanpa menjawab Deva keluar dari rumah meninggalkan mereka dengan motornya


melihat Deva pergi, Seil hanya menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.


"ada masalah Seil...?" tanya Melati saat melihat raut wajah gadis itu berubah


"nggak ada kak" Seil tersenyum


"kakak kamu kuliah dimana...?" tanya Adam


"kampus Tridharma, jurusan ekonomi. tapi selain kuliah kak Deva juga sambil kerja, dia ngajar bela diri" jawab Seil


"wah jago dong berarti" puji Starla


set


Vino langsung menatap tajam Starla, gadis itu merapatkan bibirnya seketika saat melihat perubahan di wajah Vino. memang sejak tadi Vino hanya diam tanpa ikut bersuara, dia masih kesal karena pujian Starla tadi kepada kakak sepupu Seil itu.


(sangat tampak tidak asing menurutku) batin Adam saat mendengar jawaban Seil

__ADS_1


__ADS_2