
"Bar, kita kok nggak nyampe-nyampe di ujungnya" ucap Leo
"udah jalan aja, nanti juga sampai" timpal Bara
keduanya terus menyusuri lorong yang gelap itu. seumur-umur baru kali ini mereka memasuki tempat yang menyeramkan seperti itu. mereka sering mengikuti kegiatan sekolah dan terdapat uji nyali di tempat-tempat tertentu untuk menguji keberanian, namun tempat itu tidak semenyeramkan lorong yang mereka masuki itu.
"ratu Sundari membuat labirin seperti ini untuk apa sih, seram banget sumpah"
"fokus dong Le, nggak usah mikirin seramnya, dari dulu kan kita udah sering menghadapi yang serem-serem"
"iya, tapi nggak ke tempat gelap dan mengerikan seperti ini"
"anggap aja kita lagi uji nyali seperti yang kita lakukan saat mengikuti kegiatan outdoor di hutan"
"mending di hutan mah daripada di sini"
Bara tidak lagi meladeni rengekan Leo, dia tetap memfokuskan pendengaran dan penglihatannya hingga beberapa saat ia meminta Leo untuk berhenti.
"kenapa...?" tanya Leo
segera Bara mematikan senter hpnya begitupun dengan Leo.
"gelap Bar"
"jangan berisik, ada banyak jin di depan sana" bisik Bara
"kok gue nggak dengar"
"ya makanya diam"
"okeh"
Bara mendekati dinding lorong tersebut dan mereka berjalan mengikuti arah dinding itu. Leo terus berada di samping Bara, dirinya tidak ingin berada di belakang.
hingga akhirnya mereka tiba dimana banyak jin abdi ratu Sundari yang ditawan di dalam penjara sedang ada dua jin yang berbentuk mengerikan menjaga mereka agar tidak berani melarikan diri.
mereka dapat melihat dengan jelas karena di dalam itu terdapat obor sebagai penerangan. hanya berada di sel tahanan selainnya itu akan terlihat gelap dan mencekam
salah satu yang ditawan adalah prajurit kerajaan karing-karing yang pernah membawa mereka berkeliling di istana dan bahkan membawa mereka ke pasar untuk melihat apa saja yang dijual oleh para jin di alam yang berbeda dengan alam manusia.
ada dua sel tahanan di lorong itu. satu di sebelah kiri yang dijaga oleh makhluk bebadan besar dan tinggi dengan taring tajam, mata merah dan bulu hitam yang memenuhi tubuhnya.
kemudian sel tahanan yang satunya berada di sebelah kanan yang dijaga oleh manusia ular. setengah badannya adalah manusia dan setengahnya adalah bentuk ular.
"kita harus bebaskan mereka" ucap Bara
"gimana caranya...? penjaganya aja pada serem begitu" jawab Leo
"gue pancing keduanya untuk meninggalkan tempat ini setelah itu elu bergegas membebaskan mereka semua" usul Bara
"elu yakin...? mereka mengerikan banget loh Bar, kalau elu kenapa-kenapa gimana...?"
"gue juga ragu sih sebenarnya, tapi kita nggak punya cara lain"
"nggak gue nggak setuju sama ide gila lu itu. gue nggak mau ya mengorbankan sahabat gue hanya untuk menyelamatkan orang lain" Leo menolak keras
"ya terus kita harus gimana sekarang...?"
"gini aja deh, kita kembali dan menyusul El dan Vino di lorong satunya. mungkin di sana Senggi ditawan. kalau sudah membebaskan Senggi, akan lebih mudah untuk membebaskan mereka juga. Senggi kan punya kekuatan nggak seperti kita, seenggaknya ada El juga yang mempunyai keris larangapati" usul Leo
"jadi kita kembali lagi nih...?" tanya Bara
"elu mau mati konyol di sini...?" kesal Leo
"ya nggak lah, enak aja"
"makanya ayo balik"
keduanya berbalik arah, mereka kembali melangkah untuk keluar dari lorong tersebut dan akan menyusul kedua sahabat mereka yang entah bagaimana keadaan mereka sekarang.
sementara itu di lorong satunya, El-Syakir dan Vino telah menemukan keberadaan Senggi. wanita itu siksa oleh jin abdi ratu Sri Dewi dengan kedua tangan dan kakinya terikat.
benar apa yang dikatakan oleh Bara dan Leo kalau ratu Sri Dewi berada di tempat itu dan sekarang wanita itu sedang memaksa Senggi untuk memberitahu dimana tempat persembunyian ratu Sundari.
"jangan menghayal wanita iblis, mulutku akan selalu tertutup rapat" Senggi yang sudah babak belur tidak gentar dengan siksaan yang diberikan oleh ratu Sri Dewi
"tangguh juga rupanya kamu. tapi kita lihat saja nanti, apakah kamu masih tetap ingin menutup mulut atau tidak" senyuman ratu Sri Dewi terbentuk di bibirnya
"apa yang harus kita lakukan...?" Vino bertanya dengan suara yang sangat pelan
"tetap diam, biarkan dia pergi setelah itu baru kita beraksi" jawab El dengan suara nyaris tidak terdengar
"kamu, beritahu para jin yang lain untuk menyiapkan pembakaran tubuh wanita ini" ratu Sri Dewi melihat ke arah dayang yang akan memberikan makanan kepada Senggi
"d-di bakar...?" dirinya sangat terkejut. pupus sudah harapan mereka untuk bisa lepas dari wanita iblis itu jika Senggi yang mereka harapkan akan dibakar hidup-hidup
__ADS_1
"kenapa, kamu keberatan...? apa perlu kamu ikut dibakar juga bersamanya...?"
"t-tidak ratu, ampun. baik akan saya laksanakan"
dengan gemetar dayang itu meninggalkan mereka. El dan Vino merapatkan tubuh mereka di dinding agar tidak terlihat oleh dayang tersebut.
"kamu tidak ingin membuka mulut kan. maka aku akan menutup mulut mu untuk selamanya. jin seperti mu pantas untuk dilenyapkan" ratu Sri Dewi mencengkeram kuat wajah Senggi
namun bukannya takut Senggi malah tersenyum sinis kemudian tertawa mengejek wanita yang ada di depannya.
"lakukan apapun yang kamu mau, tapi ingat sebentar lagi kamu pun akan lenyap bersamaku. oh atau kamu sendiri yang akan dilenyapkan" ucap Senggi
"hahahaha" ratu Sri Dewi tertawa dengan kerasnya
"tidak ada yang bisa melawan ku Senggi. ratu mu saja bahkan tidak mampu menghabisi ku, dia sudah ku buat menderita dan tinggal menghitung hari dirinya akan menjadi wanita yang menyedihkan"
"cih, harusnya aku mengatakan seperti itu. karena kamu tidak sanggup melawan ratu Sundari maka kamu merencanakan sesuatu yang licik. kamu pantas disebut pengecut"
"diam kau"
bughhh
bughhh
braaaakkk
ratu Sri Dewi menghajar Senggi dengan selendangnya. ia mengikat tubuh Senggi dan membenturkan tubuh wanita itu ke dinding kemudian jatuh tersungkur menghantam obor yang berada di dalam sel tahanan.
"siksa dia" perintah ratu Sri Dewi kepada kedua makhluk yang menjaga Senggi
"baik ratu"
ratu Sri Dewi menghilang dari tempat itu. kedua makhluk itu mulai menyiksa Senggi dengan mencambuk tubuh wanita itu. meskipun sakit Senggi tidak berteriak, wanita itu hanya menggigit bibir untuk merasakan setiap cambukan yang ia terima.
saat salah satu cambuk mendarat di tubuh Senggi, cambuk itu ditangkap oleh El-Syakir dan Vino menahan cambuk yang lainnya.
"halo" El-Syakir melambaikan tangan ke arah makhluk yang menatapnya dengan tajam
"hai...boleh kenalan manis...?" Vino merayu dan bahkan dengan santai bersandar di besi sel tahanan namun seketika dirinya melompat-lompat meringis sakit karena besi itu sangat terasa panas
"panas panas panas"
Vino melompat mengelilingi makhluk yang sedang ikut berputar melihat Vino. tanpa sadar ternyata Vino melilit tubuh makhluk itu dengan cambuk yang ia pegang.
bughhh
karena kesal kepala makhluk itu menghantam hidung Vino sehingga Vino terhuyung ke belakang dan hidungnya mengeluarkan darah.
"kampret... bilang-bilang dong kalau mau nyerang, gue kan belum siapa" Vino memegang hidungnya yang berdarah
sedang El-Syakir, dirinya sedang menangkis setiap serangan yang diluncurkan oleh makhluk yang menyerangnya.
kedua makhluk itu adalah perempuan. pantas saja Vino berusaha merayu walau pada akhirnya dirinya di serang. meskipun perempuan namun wujud mereka sangat mengerikan. kuku tajam dan tanduk yang panjang. telinga melebar dan bola mata yang keluar.
Senggi hanya menatap keduanya. dirinya masih tidak percaya kalau para remaja itu akan menemukan dirinya. setelah ditangkap dan di tawan, Senggi sudah tidak berharap untuk bebas namun ternyata dirinya masih diberi keberuntungan dengan dikirimkan remaja-remaja yang berani dan tangguh.
Vino melap darah hidungnya dan bersiap menerima serangan. makhluk itu mengarahkan cambuknya ke arah Vino namun dengan sigap Vino menahan dan lagi dirinya harus melompat-lompat karena sakit yang luar biasa.
"woi El, elu kok nggak bilang kalau cambuknya sakit...kampreeeet" teriak Vino
"ngapain gue bilang, harusnya elu udah tau sendiri. terkena sabetan cambuk jelas sakit lah" El-Syakir masih sempat menjawab padahal dirinya sedang bertarung
"huh...huh sakit banget lagi" Vino mengibas-ngibaskan tangannya
"apa lu liat-liat, elu nggak punya perasaan ya main cambuk anak remaja seperti gue" Vino membentak lawannya
"dasar nggak punya perikejinnan" cebik Vino
Senggi terkekeh melihat tingkah Vino. dalam keadaan seperti ini masih saja remaja itu ingin beradu mulut.
El-Syakir yang masih terus bertarung pada akhirnya dapat memenangkan pertarungan. erangan lawannya terdengar memilukan saat keris larangapati tepat menusuk di jantungnya.
melihat temannya telah dimusnahkan, makhluk yang menjadi lawan Vino mulai kalang kabut. ia pun berniat kabur namun Vino segera menendangnya hingga terjungkir dan membentur dinding.
"mau kemana lu, jangan berani-berani kabur lu ya. sekarang buka kunci selnya" Vino membentak dengan tatapan tajam
"ayo buruan" teriak Vino memiliki makhluk itu dengan cepat membuka kunci sel Senggi
setelah kuncinya di buka, El-Syakir menyabet cambuknya ke rantai yang mengikat kedua tangan dan kaki Senggi. kini wanita itu telah bebas berkat bantuan dari kedua remaja itu.
"terimakasih" ucap Senggi dengan tulus
"kita pergi dari sini" El dan Vino memapah wanita itu
makhluk itu dibiarkan tetap berada di tempat itu. Senggi membuat makhluk itu berada di dalam sel tahanan menggantikan dirinya. tidak lama Bara dan Leo datang menyusul mereka. keduanya dengan nafas terengah-engah dan duduk berselonjor.
__ADS_1
"kenapa kalian...?" tanya El
"haduh, hampir ketangkap sama ratu Sri Dewi kami. untung aja dia belum liat kita" ucap Bara mengatur nafas
"di lorong sebelah banyak yang ditawan olehnya. kita harus membebaskan mereka semua" ucap Leo
"kalian melihat mereka...?" Senggi sangat senang bisa menemukan rakyat ratu Sundari yang ditawan oleh ratu Sri Dewi
"iya. tapi penjaganya serem banget, manusia ular sama genderruwo" jawab Bara
"aku yang akan hadapi mereka" ucap Senggi
"tapi kamu belum pulih total, apa sanggup mengalahkan mereka...?" El terlihat ragu
"tubuhku memang sakit tapi kekuatanku tidak hilang. kita ke sana" jawab Senggi
mereka meninggalkan lorong tersebut dan masuk ke lorong yang berada di sebelah kanan lorong itu. setelah lama berjalan mereka sampai juga di tempat yang diberitahukan oleh Bara dan Leo.
"Senggi" para jin tawanan sangat senang melihat Senggi datang
"lepaskan mereka" Senggi berbicara dengan kedua penjaga itu
"tidak akan, kecuali perintah dari ratu Sri Dewi" jawab jin yang berbentuk setengah ular
"kalian memang tidak tau diri. harusnya dulu ratu Sundari menghabisi kalian berdua" Senggi begitu marah
"sayangnya ratu Sundari tertipu dengan kami berdua dan sekarang kami yang menghabisimu" ucap genderruwo
"cih, dulu saja aku bisa membuat kalian hampir mati dan sekarang masih sok berani untuk melawanku. baiklah, akan aku ladeni kalian berdua" Senggi bersiap untuk melawan
"mundur kalian" Senggi memberitahu El-Syakir dan yang lainnya
"aku bantu. aku akan melawan jin ular ini dan kamu melawan genderruwo itu" El-Syakir maju selangkah berdiri di samping Senggi
"kamu yakin...?" tanya Senggi menatap El-Syakir
"hummm. mari melawan mereka" El mengangguk
Bara, Leo dan Vino mundur beberapa langkah, mereka tidak punya senjata apapun untuk membantu. sedangkan Senggi dan El-Syakir sudah mulai bertarung. kedua lawan mereka terlihat tangguh namun tidak membuat Senggi dan El-Syakir akan mundur begitu saja
buuuk
Senggi memukul dada genderruwo itu sehingga makhluk besar itu terseret beberapa langkah dan dadanya terasa panas. ia terluka akibat pukulan dari Senggi, jin tangguh abdi ratu Sundari.
bughhh
El-Syakir terpental saat ekor lawannya menghantam tubuhnya. jin ular itu mengeluarkan lidahnya untuk melilit El-Syakir namun yang terjadi
sreeet...
lidahnya putus karena El-Syakir memotongnya dengan keris larangapati. lidah yang panjang itu menggelepar di tanah sedang pemiliknya mengerang kesakitan.
tidak ingin hilang kesempatan, El-Syakir berlari dan menghunuskan keris itu di dada jin tersebut sehingga pada akhirnya jin jelmaan ular itu musnah seperti debu.
"temanmu sudah dihabisi, masih mau melawan...?" Senggi mengejek lawannya
"aku akan melaporkan kalian kepada sang ratu" ucapnya
dia berniat untuk kabur namun Senggi segera menghabisinya dan makhluk besar itupun dikalahkan.
"Senggi, akhirnya kamu datang juga" mereka sangat bersyukur kini bisa dibebaskan
"kalian mundurlah" ucap Senggi
mereka mundur beberapa langkah dan Senggi membuka tahanan itu dengan kekuatannya. setelahnya mereka keluar dari terbebas.
"lah rupanya kamu bisa membebaskan mereka. tau gitu kamu buka sendiri saja sel tahanan mu tadi" ucap Vino
"kalian tidak bertanya dan kamu malah marah-marah kepada penjaganya" jawab Senggi tanpa dosa
"sungguh t e r l a l u" Vino mencebik
"sekarang kalian semua dengarkan aku. setelah kita keluar dari lorong ini dan berada di pusat titik lingkaran, kalian harus meninggalkan tempat ini. ada jalan keluar selain untuk naik kembali ke atas"
"dimana kami harus menemukan jalan itu...?"
"cukup ikuti saja lorong paling sebelah kanan. itu adalah lorong yang tembus di hutan. saat tiba di hutan, pergilah ke gua Sima, di sana ratu Sundari berada dalam keadaan tidak sadarkan diri. aku minta kalian menjaganya dan menunggu kami kembali" jawab Senggi
"lalu kalian bagaimana...?"
"kami akan naik ke atas untuk mencari penawar racun. ratu Sundari harus segera disembuhkan dari racun Ragin yang sudah menjalar di tubuhnya" jawab Senggi
"baiklah, kalian hati-hati"
setelahnya, mereka keluar dari lorong itu dan masuk ke lorong yang telah diberitahu oleh Senggi. sedangkan Senggi dan keempat remaja itu akan naik ke atas untuk mencari penawar racun dari ular Ragin. sampai saat ini mereka belum tau bagaimana keadaan Adam. mereka berharap Adam segera datang untuk membantu mereka karena biasanya laki-laki itu selalu punya banyak cara untuk menemukan sesuatu.
__ADS_1