
"sembunyi" El-Syakir menarik Vino dan Bara untuk bersembunyi di balik pohon jambu air di belakang rumah penduduk
rupanya beberapa arwah mereka sedang berusaha mendobrak pintu dapur salah satu rumah penduduk.
aaaaa
teriakan dari rumah itu mengusik ketiganya. ingin segera pergi namun pemilik rumah itu dalam keadaan bahaya. mereka masih punya rasa kemanusiaan sehingga tanpa pikir panjang ketiganya keluar dari persembunyian berniat untuk membantu pemilik rumah itu.
arwah yang berada di belakang rumah tentu saja langsung melihat mereka. dengan cepat mereka diserang namun tentu saja tidak segampang itu menaklukkan tim samudera. ketiganya mengeluarkan senjata masing-masing dan menghajar satu persatu arwah-arwah itu.
"bapak tolong pak" suara anak kecil meminta tolong
"kalian berdua ke depan biar gue sendirian di di sini" ucap Bara yang terus menghunuskan tombaknya kepada arwah-arwah itu
"elu nggak apa-apa kita tinggal...?" El-Syakir terlihat ragu
"percaya sama gue, cepat tolong pemilik rumah ini" jawab Bara
El-Syakir dan Vino segera menuju ke halaman depan. di sana seorang anak kecil yang seumuran dengan Bayu, anak laki-laki yang diangkat anak oleh mama Melisa dan pak Rahmat dan menjadi adik Leo, sedang menjadi bahan perebutan antara orang tuanya dan makhluk-makhluk itu.
ayahnya berusaha menyelamatkan anak itu namun kekuatan makhluk mengerikan itu lebih besar dari mereka. anak itu berhasil didapatkan.
"ADI" sang ibu histeris anaknya berhasil diambil oleh setan-setan itu
Vino menebas cambuknya di tanah kemudian ia menebas cambuk itu ke arah salah satu arwah yang menggendong akan membawa lari anak kecil itu. cambuk Vino berhasil menglilit satu kaki makhluk itu kemudian Vino menariknya dengan kuat hingga makhluk itu terjatuh dan anak itupun ikut terjatuh.
untungnya Vino segera menyabet cambuknya sehingga cambuk itu terlilit ditubuh anak kecil itu kemudian Vino menariknya sehingga anak tidak itu melayang ke arah mereka. saat itu juga El-Syakir segera menangkap tubuh anak itu.
"Adi" kedua orang tuanya keluar dari rumah dan berlari menghampiri anaknya
"ibu, bapak" anak yang bernama Adi itu menangis sesegukan
"terimakasih, terimakasih banyak" kedua orang tua Adi mengucapkan rasa terimakasih kepada El-Syakir dan Vino
"masuk ke dalam pak, bu. tutup rapat dan kunci pintunya. jangan keluar meskipun mendengar suara seseorang yang kalian kenal" El-Syakir memerintahkan orang tua Adi untuk masuk kembali ke dalam rumah
Adi digendong oleh ayahnya dan mereka segera masuk ke dalam rumah kemudian mengunci pintu.
"Vin nyalakan obornya" ucap El-Syakir
Vino mencari korek gas di saku celananya dan kembali menyalakan obor yang tadi sempat mati karena melakukan perlawanan. melihat Vino dan El-Syakir menyalakan obor, makhluk-makhluk itu tidak berani untuk maju. mereka melangkah maju saat El-Syakir dan Vino melangkah mundur.
"kita nggak mungkin melawan mereka, mereka terlalu banyak" ucap El-Syakir
"kita terjebak di sini" ucap Vino
Bara yang berada di halaman belakang berlari ke halaman depan untuk bergabung bersama El-Syakir dan Vino.
"bagaimana ini...?" tanya Bara
"arahkan obor kita ke arah mereka, mereka akan menghindar dan perlahan-lahan kita terus maju" El-Syakir menjawab
obor yang mereka pegang diarahkan ke depan. arwah-arwah itu menghindar karena takut dengan api obor. mereka membuka jalan untuk ketiga remaja tim samudera itu.
"dalam hitungan ketiga, kita harus berlari menjauh" ucap El-Syakir
"mereka pasti akan mengejar kita" timpal Bara
"bagaimana kalau kita berpencar, dengan begitu mereka akan terbagi untuk mengejarnya kita dan saat itu juga, salah satu dari kita berlari ke arah rumah ibu Tantri" Vino memberikan usul
"mereka ada dimana-mana, bisa celaka kalau kita berpencar. sebaiknya tetap seperti ini. jalan satu-satunya, matikan obor dan melarikan diri mencari tempat persembunyian" El-Syakir tidak setuju dengan usulan yang utarakan oleh Vino
"kita pakai ide El-Syakir saja. sekarang gue akan hitung sampai tiga, saat angka tiga maka kita harus kabur dari tempat ini. kalian siap" Bara menatap satu persatu kedua temannya
"siap" jawab El-Syakir dan Vino
1.....
2.....
3.....
"LARI"
sebelum melarikan diri, Vino masih sempat menyabet cambuknya ke arah makhluk-makhluk itu sehingga beberapa dari mereka terkena sabetan cambuk dan mereka terlempar menindih makhluk yang lainnya. itu adalah kesempatan yang bagus untuk ketiganya. mereka bertiga mematikan obor dan mengambil jalan melewati belakang rumah-rumah penduduk desa Boneng.
jika mereka melewati jalan depan tentu saja semakin banyak yang akan melihat mereka. itulah mengapa mereka mengambil jalan di belakang rumah warga karena banyak tempat persembunyian jika mereka melihat makhluk-makhluk itu.
grrrrrr
grrrrr
tiga arwah berada di pintu belakang rumah warga. El-Syakir mengajak kedua temannya untuk bersembunyi. sebenarnya memang benar jika mereka menyalakan obor maka makhluk-makhluk itu tidak akan berani mendekati mereka. namun dengan nyala obor itu juga, akan mengundang makhluk-makhluk itu mendekat ke arah mereka. mereka tidak ingin itu terjadi sehingga ketiganya mematikan obor mereka agar tidak mengundangnya perhatian para arwah yang sedang mencari mangsa itu.
"tunduk tunduk" El-Syakir memberikan perintah agar mereka menunduk
satu-satunya cara untuk melewati arwah-arwah itu adalah dengan merayap di tanah, di balik semak-semak di belakang rumah. jika tidak seperti itu maka mereka tidak akan bisa pergi dari tempat itu.
"stop...gue pengen bersin" Bara mengucek hidungnya yang gatal
"jangan"
haaachi
"tunduk"
suara bersin dari Bara mengundang perhatian makhluk-makhluk itu. mereka melihat ke segala arah seperti mengintai mencari sumber suara.
haaaa hmmmpph
baru saja Bara akan bersin untuk kedua kalinya, El-Syakir segera menutup hidung dan mulutnya sehingga Bara tidak jadi mengeluarkan suara kembali.
sssttt
__ADS_1
El-Syakir menempelkan telunjuknya di bibir pertanda agar Bara tidak bersuara dan Bara mengangguk patuh.
"mereka ke arah sini" Vino memberitahu saat melihat dua arwah berjalan ke arah mereka
mereka bertiga mulai bersiap jikalau keberadaan mereka akan diketahui oleh setan-setan itu. namun ternyata kedua arwah itu hanya sampai separuh jalan dari atap rumah terdengar suara yang begitu keras bunyinya.
arwah-arwah itu berbalik arah menghampiri rumah itu. ketiganya bernafas lega saat mereka tidak lagi diintai.
"siapa yang melempar kayu ke atap rumah...?" Bara bertanya
"nggak tau, ayo jalan lagi" El-Syakir memerintahkan kedua temannya untuk bangun dan berjalan jongkok bukan lagi merayap di atas tanah
setelah ketiganya tidak akan dapat dilihat lagi, mereka kembali berdiri dan mengawasi sekeliling. mata ketiganya menyapu setiap sudut memastikan keadaan tetap aman dan mereka kembali melangkah.
"ke kanan" El-Syakir memberitahu saat Vino sedang menimbang-nimbang jalan mana yang harus mereka ambil
sesuai perkataan El-Syakir, mereka mengambil arah jalan kanan. sudah banyak rumah mereka lewati tentunya dengan dikelilingi oleh para makhluk-makhluk yang mengerikan yang mencari mangsa manusia.
saat ini mereka berada di belakang rumah salah satu warga. di dalam rumah terdengar teriakan seseorang yang menjerit kesakitan dan ada juga suara yang berusaha untuk menenangkannya.
"aaaaa sakit mas, aku nggak kuat" suara seorang wanita menjerit kesakitan
"ya Allah bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan" suara seorang laki-laki terdengar begitu frustasi
"aaaaa, tolong mas, carikan bidan" suara wanita yang menjerit terdengar lagi
dugh
dugh
pintu depan dan pintu belakang rumah berusaha di terobos oleh makhluk-makhluk mengerikan itu.
"sepertinya mereka butuh bantuan" ucap Bara yang kini bersembunyi di balik pohon mangga dibelakangnya rumah itu bersama kedua temannya
"dia meminta bidan. apa dia mau melahirkan" ucap Vino
"gawat ini, kalau mereka berhasil menerobos masuk bisa-bisa bayi dan ibunya nggak selamat. kita coba bantu. alihkan perhatian setan-setan itu" ucap El-Syakir
"kita hajar saja, lagian mereka nggak banyak" usul Bara
"simpan tenaga kita, tunggu gue cari sesuatu dulu" Vino mencari kayu atau semacamnya untuk melempar ke semak-semak agar arwah-arwah itu teralihkan dan meninggalkan pintu belakang
swing....
swing....
braaaakkk
praaaaaang
grrrrrr....
suara kayu yang Vino lemparkan mengenai atas rumah yang lain dan juga salah satu pot bunga. arwah-arwah itu meninggalkan pintu belakang rumah menuju ke rumah yang satunya. setelah mereka pergi, kesempatan itu diambil ketiganya untuk keluar dan mendekat ke pintu.
El-Syakir mengeluarkan kerisnya dan menggunakan sihir dari keris itu sehingga pintu terbuka dan mereka segera masuk ke dalam.
"aku nggak kuat mas, tolong"
"mas nggak bisa keluar sayang, di luar banyak makhluk itu, mas bisa ditangkap"
"ibu bantu kamu melahirkan ya nak, coba atur nafas dan tarik nafas pelan-pelan" wanita baya mendekat menantunya
"sakit bu"
"melahirkan memang sakit tapi kamu harus bisa, ibu akan mengambil perlengkapan"
"bu, memangnya ibu bisa membantunya melahirkan...?"
"kita tidak mungkin membiarkan istrimu berjuang sendirian Gandi, bisa mati dia"
baru saja hendak keluar dari kamar itu, El-Syakir, Bara dan Vino masuk ke dalam kamar dan mengucapkan salam.
"siapa kalian, bagaimana kalian bisa masuk...?" ibu itu bertanya
"maaf bu kami tidak berniat jahat, kami hanya akan membantu untuk menjemput bidan dan membawanya ke rumah ini" El-Syakir berbicara hati-hati
"bisa mati kalian jika menjemputnya, di luar berbahaya" laki-laki yang bernama Gandi itu berbicara
"mas sakit"
"dimana rumahnya biar kami jemput" ucap Vino
"bagaimana caranya, di luar....."
"katakan saja dimana rumahnya, atau mas mau melihat istri mas mati melahirkan" Bara memotong cepat ucapan Gandi
mereka tidak punya banyak waktu karena Leo sedang menunggu mereka di rumah untuk diobati.
"AAAA AWAS" si ibu teriak histeris saat makhluk-makhluk mengerikan itu sudah masuk ke dalam rumah dan bahkan di dalam kamar
jleb
jleb
El-Syakir menusukkan kerisnya hingga dua arwah hilang menjadi debu, sementara Vino dan Bara menggunakan cambuk dan tombak untuk melawan.
"KATAKAN DIMANA RUMAH BIDANNYA" El-Syakir teriak
"d...di depan rumah, di depan rumah ini" Gandi menjawab gugup karena takut dan kaget
"Bara, Vino, kita bagi tugas. gue dan Vino akan menjemput bidang itu sementara elu Bar, berjaga di sini" ucap El-Syakir
"pergilah kita harus bergerak cepat, kasian Leo sudah lama menunggu" Bara menjawab
__ADS_1
kesepakatan terjadi, El-Syakir dan Vino akan menjemput bidan di depan rumah yang hanya dipisahkan jalan sementara Bara berjaga-jaga di rumah itu.
"aku nggak kuat mas, sakit"
"sabar sayang, mereka sedang menjemput bidan Tika untuk kesini" Gandi melap keringat istrinya yang bercucuran di keningnya
sementara si ibu ke dapur untuk mengambil segala keperluan agar jika bidan datang maka menantunya langsung dibantu untuk melahirkan.
"serang setiap yang datang Vin" ucap El-Syakir
"baik" jawab Vino
mereka berlari menuju ke jalan, di sebrang jalan adalah rumah bidan yang dimaksud oleh Gandi. melihat El-Syakir dan Vino, arwah-arwah itu mengejar mereka.
Vino menyabet dengan cambuk sementara El-Syakir mengeluarkan sihir dari kerisnya hingga arwah-arwah itu terpental dan lenyap.
braaaakkk
braaaakkk
"bu bidan, tolong bu bidan" Vino menggedor pintu saat mereka tiba di rumah bidan
"bu bidan tolong, ada yang mau melahirkan" teriak Vino lagi
"Tika, ada orang yang memanggil di depan"
"jangan dibuka mas, itu pasti setan yang menyamar"
"tapi dia bilang ada yang mau melahirkan" ucap suaminya
"bu bidan, istrinya pak Gandi mau melahirkan bu bidan. tolong"
"Tika, Ambarini mau melahirkan, itu bukan setan. ayo kita ke depan"
"mas Danu, jangan"
Tika berusaha menghentikan suaminya namun karena rasa penasaran suaminya hingga keduanya kini berada di depan pintu yang terus digedor oleh Vino.
Danu membuka tirai jendela untuk melihat di luar. dilihatnya Vino yang sedang menggedor pintu dan El-Syakir yang menghalau arwah-arwah itu untuk tidak mendekat mereka.
"gimana Vin...?" teriak El-Syakir
"nggak dibuka El"
cek lek
Danu membuka pintu, hampir saja Vino terjungkal karena suami bidan Tika itu membuka pintu dengan cepat.
"mas, mba, ada yang mau melahirkan, tolong" ucap Vino
"kita ke sana sekarang"
Tika masuk ke dalam mengambil peralatannya dan kembali lagi. Danu mengunci pintu kemudian mereka mencari jalan untuk bisa ke rumah Gandi.
"Vin, bakar obor" ucap El-Syakir
Vino membakar obor dan mengarahkan ke arah arwah-arwah itu. mereka menjauh namun tidak pergi. El-Syakir dan Vino di depan sedangkan Tika dan Danu di belakang keduanya. semakin mereka melangkah ke depan maka arwah-arwah itu akan mundur dan memberikan jalan.
mereka semakin dekat dengan rumah Gandi. saat tiba di pintu, El-Syakir memanggil penghuni rumah. Bara segera berlari untuk membuka pintu dan mereka semua masuk ke dalam.
braaaakkk
pintu ditutup satu kali tatkala arwah-arwah itu berlari akan menerobos masuk.
Tika diantar ke kamar Ambarini. semua orang keluar terkecuali Gandi suami dari Ambarini
"El, melati" Bara mengingatkan bahwa mereka harus segera mengambil melati itu
"bu kami harus segera pergi" El-Syakir berpamitan kepada ibunya Gandi
"kalian mau kemana, di luar berbahaya" ibunya Gandi menjawab
"kami mencari bunga melati bu. kami harus pergi sekarang" ucap El-Syakir
"bunga melati untuk apa, kebetulan ibu punya bunga melati" ucap ibunya Gandi
mendengar ucapan ibunya Gandi, ketiganya saling pandang dan tersenyum lega.
"bolehkah kami memetiknya bu, kami sangat membutuhkannya" Bara meminta izin
"tentu saja boleh, tapi ada di halaman depan rumah"
"terimakasih bu, kami akan mengambilnya. setelah kami keluar, ibu langsung tutup pintunya" ucap El-Syakir
"kalian akan baik-baik saja...?" Danu khawatir dengan anak-anak itu
"kami akan baik-baik saja mas, ayo El, Bar" ajak Vino
sebelum keluar, mereka menghela nafas karena akan bertarung lagi melawan arwah-arwah gentayang itu.
"siap...?" El-Syakir menatap Vino dan Bara bergantian
"siap" jawab Vino dan Bara
"baiklah, kita keluar" ucap El-Syakir
pintu dibuka dan ketiganya keluar kemudian Gandi menutup kembali pintu dengan cepat. di luar rumah, ketiga tim samudera itu mulai bertarung lagi.
Bara melihat bunga melati yang ada di samping rumah. ia berlari untuk ke mendekat namun dirinya dihadang.
akhirnya El-Syakir yang berlari dan membuat pagar gaib dari kerisnya hingga mereka tidak dapat menggapai El-Syakir. ia memetik bunga melati kemudian memanggil Vino dan Bara agar bersiap meninggalkan tempat itu.
"Vin, Bar, ke depan" teriak El-Syakir
__ADS_1
Vino dan Bara berlari menuju ke jalan begitu juga El-Syakir. mereka berlari sekencang mungkin agar tidak dapat ditangkap oleh arwah-arwah itu