Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 118


__ADS_3

pria yang berparas tampan itu mendekati tim samudera dan berhenti tepat di depan mereka semua.


"pak Al di sini juga...?" El-Syakir bertanya


"iya, kalian ngapain di sini...?"


"kami datang di pemakaman teman kami pak" jawab El-Syakir


pria itu melirik ke arah kuburan yang masih basah dan banyak taburan bunga di atasnya. ia hanya menyunggingkan senyum dan kembali menatap anak-anak remaja yang ada di depannya.


"kalau bapak ngapain ke sini, mengunjungi makam keluarga ya pak...?" kali ini Vino yang bertanya


"aku datang karena kalian" ucapnya melirik Starla dan Nisda


"hah, maksud bapak...?" Bara bertanya


tidak ada jawaban dari pria itu, ia hanya tersenyum penuh arti dan sesekali melirik ke arah Starla dan Nisda. sedang El-Syakir merasakan ada yang hilang dari pria yang ada di depan mereka itu.


(aneh....dia nggak wangi melati lagi) batin El menatap pria yang ada di depannya


entah apa yang dilakukan namun pria itu membaca sesuatu, mulutnya komat kamit dan kemudian ia mengeluarkan angin dari mulutnya. pria itu meniup pelan ke arah tim samudera membuat para remaja itu hilang akan kesadaran mereka.


"ikuti perintah ku" ucapnya


El-Syakir dan yang lainnya mengangguk dengan tatapan kosong. mereka seperti robot yang dikendalikan oleh penciptanya.


"kalian bertiga pulang ke rumah dan bawa anak kecil itu" ia menunjuk El-Syakir, Vino dan Bara


ketiganya mengikuti perintah pria itu. mereka meninggalkan TPU bersama dengan Bayu sementara Nisda dan Starla masih tetap berada di tempat itu.


"kalian berdua, dengarkan yang aku katakan" ucapnya lagi. Nisda dan Starla mengangguk pelan


sementara Adam masih berada di rumah Aldiano. ia masih mendengarkan cerita yang keluar dari mulut guru baru itu.


"dimana kita bisa menemukan saudara kembar mu itu...?" tanya Adam


"aku juga tidak tau dimana dia tinggal sekarang. aku sangat berharap kamu bisa membantuku"


tok tok tok


"Al" suara panggilan terdengar di luar kamar


Aldiano berjalan ke arah pintu dan membukanya. ternyata itu adalah tantenya yang memberitahu bahwa jasad Evi telah di kafankan dan akan di kuburkan sekarang.


"baik tante" ucap Aldiano


"biarkan saja mamamu istrahat, ada bibi nanti yang akan menjaganya"


"iya tante"


wanita itu meninggalkan Aldiano dan turun ke bawah.


"aku harus pergi" ucap Adam


"mau kemana...?"


"perasaan ku tidak enak, aku kepikiran adik dan teman-temanku"


"kalau kamu menemukan Albian, hubungi aku"


tanpa menjawab Adam menghilang dari tempat itu sementara Aldiano keluar kamar dan turun ke bawah untuk mengantar sang adik ke rumah terakhirnya.


El, Vino dan Bara berjalan lurus ke depan masih dengan tatapan kosong. begitu juga Bayu yang di gandeng oleh El. keempatnya mengikuti jalan yang ada di tempat itu.


mereka telah berada jauh di pemakaman tadi dan bahkan mereka sudah berada di jalan raya yang padat kendaraan. tanpa menghiraukan kendaraan yang ada mereka akan menyebrang jalan.


"woi... cari mati kalian ya" supir taxi meneriaki mereka karena hampir saja ia menabrak keempatnya jika ia tidak menginjak rem secara mendadak


kendaraan yang lalu lalang dengan kecepatan tinggi membuat mereka bisa saja celaka dan ditabrak. untungnya satu tangan menarik mereka semua dan membawa mereka ke tempat yang aman.


"kalian kenapa jalan di tengah-tengah seperti tadi...?" Adam yang baru saja datang bertanya namun tidak ada respon dari mereka


"El" panggil Adam namun El-Syakir hanya menatap lurus tanpa menjawab


"Vino, Bara, Bayu" lagi Adam memanggil mereka namun tidak ada reaksi apapun dari ketiganya


"gendam" Adam memperhatikan mereka semua dan benar saja ketiganya terkena gendam.


pria yang ada di pemakaman tadi membuat mereka terkena gendam dan akhirnya mereka tidak sadar dan hanya melakukan perintah dari si pria yang menggendam mereka.


"kurang ajar siapa yang melakukan ini" tangan Adam mengepal


Adam kemudian membaca sesuatu dan mengusap wajah keempatnya. mereka semua tersadar dari pengaruh gendam dan kaget saat tau dimana mereka sekarang.


"lah kok kita bisa ada di sini" Vino menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"iya, tadi kan kita masih di pemakaman. kapan kita ke sininya" Bara pun ikut bingung


"terus mana Starla dan Nisda...?" El bertanya karena tidak melihat kedua teman mereka


"kalian ini sebenarnya kenapa sih. kenapa bisa sampai terkena gendam dan hampir saja kalian ditabrak oleh kendaraan. apa yang telah terjadi sebelumnya...?" Adam bertanya

__ADS_1


"terkena gendam...?" El bertanya menatap ke arah Adam


"iya, seperti dihipnotis. sebenarnya apa yang terjadi...?"


"kita nggak tau apa yang terjadi. tadi itu kan kita di pemakaman, setelah menguburkan Melani kita akan pulang terus....... "


"terus pak Aldiano datang menghampiri kita" Vino melanjutkan perkataan El


"Aldiano...?" Adam mengernyitkan keningnya


"iya, dia ada di pemakaman itu juga. katanya dia mengunjungi kuburan keluarganya" jawab Vino


Bara mengambil Bayu dan menggendongnya karena anak itu terus memperhatikan mereka. ia kasian anak itu selalu mengangkat kepalanya untuk dapat melihat mereka.


"pak Aldiano ada di rumahnya, dia sedang berduka karena adiknya baru saja meninggal. kamu tau El, adik pak Aldiano adalah Evi yang menjadi korban kecelakaan tadi dan kemudian hilang masuk ke dalam portal" Adam menjelaskan


"gue nggak ngerti" Bara berucap


"kecelakaan yang terjadi di dekat warung makan tadi salah satu korbannya adalah adiknya Aldiano yang bernama Evi. aku tadi dari rumah mereka. bahkan aku berbicara dengan Aldiano, jadi bagaimana bisa dia ada di pemakaman itu" Adam kembali menjelaskan


"kak Dirga jangan bercanda deh kak, jelas tadi yang kami lihat adalah pak Aldiano. iya kan El, Vino" ucap Bara


"iya benar, dia pak Aldiano kak. kalau benar apa yang kakak ucapkan terus siapa yang bersama kami" ucap El


"dia bukan Aldiano, dia Albian kembaran Aldiano. dalang dari semua jatuhnya korban tumbal dan arwah mereka yang menghilang masuk ke dalam portal" Adam menjawab


"Albian...?"


"kembar...?"


"iya. Aldiano sudah menceritakan semuanya. kita harus mencari Starla dan Nisda, mereka dalam bahaya" ucap Adam


"kalau dia bukan pak Aldiano, pantas saja tadi dia tidak wangi melati" timpal El


"eh iya benar. tadi gue sama sekali nggak mencium wangi melati" Vino membenarkan


" sama gue juga" kali ini Bara


"itu karena dia bukan Aldiano melainkan Albian"


"woi... kalian ngapain di sini...?" Leo yang melihat mereka dari jauh menghampiri


"Le, elu bisa di sini" ucap El


"nyokap gue pengen makan bubur kacang makanya gue keluar beli. kalian ngapain berkumpul di sini...?"


"elu udah sehat...?" tanya Vino


mereka pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama Leo tidak ikut bersama mereka. mendengar cerita temannya hati Leo teriris dan menatap nanar ke arah Bayu namun hatinya juga marah karena kedua teman mereka sepertinya di culik.


"sebaiknya titip Bayu dulu ke kak Furqon dan kak Ardi, tidak aman jika dirinya ikut" Leo membelai kepala Bayu


"eh iya mereka berdua kemana ya, harusnya kan mereka di dekat kita terus" El baru menyadari kalau kedua pengawalnya tidak ada


"lagi di rumah, gue titip nyokap gue karena dia sakit dan di rumah nggak ada orang, bibi lagi pulang kampung sedang bokap gue di kantor. gue telpon deh" Leo merogoh handphone miliknya


"sakit apa tante Melisa Le...?" tanya Vino


"nggak tau gue, demam aja kayaknya" jawab Leo sambil menghubungi salah satu pengawal


setelah menghubungi Ardi, mereka menunggu dan beberapa menit mobil hitam terparkir di samping mereka. Ardi keluar dan menghampiri remaja-remaja itu.


"Bayu sekarang ikut om itu dulu, kakak sama yang lainnya mau pergi dulu sebentar" Bara menunjuk Ardi yang sedang melambaikan tangan ke arah Bayu


"nggak mau" Bayu menggeleng dan memeluk leher Bara dengan erat


"om itu nggak jahat kok sayang, dia teman kami semua. ikut dia dulu ya nanti kami jemput Bayu lagi" Bara berusaha membujuk Bayu


"om ini mau bawa kamu ke rumah kakak, di sana Bayu bisa main sepuasnya karena banyak mainan" kali ini Leo yang membujuk


"Bayu mau dijual ya...?" mata anak itu mulai merah


Allah


betapa teriris hati mereka, melihat Bayu menatap mereka satu persatu dengan air mata yang mulai keluar.


"nggak sayang, kamu adik kakak semua, mana mungkin kakak mau jual kamu. kami harus mencari kedua kakak perempuan yang bersama kita tadi. nanti kalau sudah ketemu kami semua akan menjemput Bayu. nggak usah takut, omnya baik kok" kini El yang membujuk


Ardi mendekat ke arah Bara dan merentangkan tangannya agar anak itu mau digendong olehnya. namun Bayu hanya diam tanpa ingin melepaskan pelukannya dari Bara


"mau mainan ini nggak...?" Ardi memperlihatkan gambar mainan mobil besar di handphonenya


"emang boleh...?" tanya Bayu polos


"boleh dong. ayo ikut om, kita cari mainan yang kamu suka"


"om nggak jahat kan...?"


"emang wajah om seperti penjahat ya...?"


"nggak" jawab Bayu menggeleng pelan

__ADS_1


"ya sudah, ayo sama om" Ardi tersenyum hangat


dengan ragu Bayu meraih tangan Ardi dan pria itu mengambil alih menggendong anak itu.


"nanti Bayu dijemput kan...?" tanyanya dengan wajah sendu


"iya... Bayu tunggu kita ya" jawab Leo


"aku pergi dulu, Furqon akan menyusul kalian nanti untuk mengawal kalian semua" ucap Ardi


"nggak usah kak, kak Ardi dan kak Furqon tolong jaga Bayu saja. kami semua akan baik-baik saja" El menjawab


"tapi kami bisa dimarahi oleh Zidan"


"nggak akan kak, percaya sama aku"


"baiklah. dimanapun kalian berada berhati-hati lah. kalau perlu apa-apa hubungi kami"


"iya kak, pasti"


"Bayu dijemput kan...?" tanya Bayu lagi menatap mereka semua


"iya sayang" jawab El membelai kepala Bayu


Ardi dan Bayu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan mereka semua.


"sekarang kita harus kemana...?" tanya Bara


"kita kembali ke pemakaman itu" jawab Adam


karena motor mereka masih ada di pemakaman mereka pun naik taksi sementara Leo yang membawa motor mengikuti taksi itu dari belakang.


hari sudah semakin sore, sejak siang tadi mereka terus berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. mereka semua bahkan di hubungi oleh orang tua masing-masing untuk menanyakan kenapa mereka belum pulang juga padahal hari sebentar lagi akan gelap.


tentu saja dengan satu alasan yang sama, meski tau mereka berdosa telah membohongi orang tua namun tidak ada jalan lain selain berbohong.


tiba di pemakaman motor El, Vino dan Bara masih ada di tempat itu namun Starla dan Nisda sudah tidak ada. bahkan tidak ada seorangpun di tempat itu selain mereka makhluk gaib yang berkeliaran di kuburan. hari yang akan mulai gelap menambah tempat itu semakin mistis dan menyeramkan.


"mereka nggak ada" ucap Vino yang khawatir dengan kedua temannya terutama Starla


"bagaimana ini, kemana kita harus cari mereka" Bara pun terlihat sangat gusar


(aku bahkan tidak bisa mencium jejak mereka) batin Adam


"kalian tetap di sini, aku harus menemui Aldiano"


tanpa menunggu jawaban mereka, Adam menghilang meninggalkan mereka semua.


"yang benar aja kita mau nunggu di kuburan" Leo berucap


"elu takut...?" tanya Vino


"emang elu nggak...?" Leo bertanya balik


"gue lebih takut kehilangan Starla. gue harap mereka berdua nggak kenapa-kenapa" wajah Vino sangat terlihat gusar


"gue juga berharap mereka baik-baik saja" Bara menimpali


sementara Adam datang kembali di rumah Aldiano. malam sudah menghampiri, di rumah itu sedang sibuk untuk mengadakan yasinan. Aldiano menyambut para tamu yang datang. saat melihat Adam yang berdiri di sudut ruangan, Aldiano meninggalkan tempatnya dan menuju tempat yang sepi.


"ada apa...?" tanya Aldiano


"dua temanku di culik oleh Albian. katakan dimana dia tinggal, aku harus menemukannya sebelum dia menjadikan temanku tumbal selanjutnya" Adam menjawab


"kamu sudah bertemu dengannya...?"


"bukan aku tapi adik dan teman-temanku. beritahu aku dimana dia tinggal"


"aku sudah katakan kalau aku tidak tau dimana dia tinggal. dia datang dan pergi seperti jelangkung. dia mendatangi ku saat aku membutuhkan pertolongan, dia tiba-tiba saja datang dan membantuku


"dia datang saat kamu membutuhkan pertolongan...?" Adam menaikkan alisnya


"iya. sudah beberapa kali dia datang saat aku dalam keadaan akan celaka, saat itu juga dia datang. terakhir kali saat dimana seorang wanita ditabrak sebuah truk di dalam apotik. saat itu aku juga hampir tertabrak kalau seandainya aku belum keluar dari tempat itu. aku melihatnya dan mendatanginya. karena aku tau dia adalah pelakunya, dia mengancamku untuk tetap diam"


(jadi karena itu aku mencium wangi melati waktu itu, bukan dia pelakunya tapi hampir menjadi korban) Adam membatin


"aku merasa saat itu dia bukan Albian tapi jiwa iblisnya yang berbicara padaku. matanya bahkan sangat menakutkan saat di tatap. mata itu sama seperti saat dia datang menolongku dan Evi. tatapan matanya kepada Evi membuatku merinding. aku pikir dia tidak akan menumbalkan Evi namun ternyata aku salah, dia bukan lagi Albian tapi iblis sehingga tidak ada rasa kasihan saat menumbalkan adiknya"


"bukannya anak orang tuamu hanya kamu dan Albian...?" tanya Adam


"Evi adalah anak adopsi" jawab Aldiano


"baiklah, kalau begitu sekarang kamu harus ikut denganku untuk mencari Albian"


"aku tidak mungkin pergi begitu saja sementara keluargaku masih berduka"


"kalau kamu ingin agar aku menangkap Albian maka kamu harus ikut. kamu akan menjadi pancingan untuk dia keluar"


"bagaimana caranya...?"


"kamu akan tau nanti bagaimana caranya" Adam tersenyum penuh arti

__ADS_1


__ADS_2